BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ MANAJEMEN KEUANGAN USAHA MIKRO. KECIL DAN MENENGAH : PEMBANGUNAN PEDESAAN MELALUI PERAN BADAN USAHA MILIK DESA Angguliyah Rizqi Amaliyah1*. Rezti2 1Universitas Islam Raden Rahmat Malang 2STIMI Banjarmasin *E-mail: angguliyah. r@gmail. ABSTRAK Pembangunan Desa melalui peran badan usaha milik desa (BUMDe. memiliki dampak potifi pada pengembangan usaha mikro kecil dan menengah. Melalui kegiatan pengabdian pada Desa Tempursari bersama pemilik usaha (UMKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang manajemen keuangan, perencanaan anggaran, dan sumber pembiayaan melalui BUMDes dengan mengadakan pelatihan yang meliputi pengenalan manajemen keuangan, pembuatan rencana keuangan, dan pemahaman sumber pembiayaan, peserta diharapkan dapat mengatur usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara lebih efektif. Pengabdian yang dilakukan dapat membantu Pemerintah Desa mengarahkan pemilik uasaha untuk mengidentifikasi strategi yang relevan dalam pengelolaan keuangan. Lebih penting lagi, bukti empiris menunjukkan bahwa pelatihan ini perlu dilakukan oleh guna mengintegrasikan, membangun, memodifikasi, dan menyusun kembali sistem pengendalian internal mereka demi mencapai pengelolaan keuangan yang efektif. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai praktik manajemen keuangan yang baik dan pemanfaatan BUMDes sebagai sumber Capaian kegiatan diharapkan masyarakat dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan dengan memanfaatkan BUMdes yang telah tersedia. Kata kunci: Manajemen Keuangan. UMKM. Pembangunan Pedesaan. BUMDes MICRO. SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES FINANCE MANAGEMENT : RURAL DEVELOPMENT THROUGH THE ROLE OF VILLAGE Ae OWNED ENTERPRISES ABSTRACT Village Development through the role of village-owned enterprises (BUMDe. has a positive impact on the development of micro, small and medium enterprises. Through this service activity in Tempursari Village with business owners (MSME. aims to increase public understanding of financial management, budget planning, and financing sources through BUMDes by holding training that includes an introduction to financial management, financial plan making, and understanding of financing sources, participants are expected to be able to manage micro, small, and medium enterprises (MSME. more effectively. The service carried out can help the Village Government direct the owners to identify relevant strategies in financial management. More importantly, the empirical evidence suggests that this training needs to be undertaken by those who integrate, build, modify, and restructure their internal control systems in order to achieve effective financial management. The results of the service activities showed an increase in participants' knowledge of good financial management practices and the use of BUMDes as a source of financing. The achievements of activities are expected to contribute to improving the welfare of the village community and developing the local economy in a sustainable manner by utilizing the available BUMdes Keywords: Financial Management. UMKM. Rural Development. BUMDes PENDAHULUAN Pembangunan desa merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020Ae2024 (Hilmawan et al. , 2. Pembangunan ekonomi pedesaan menjadi fokus utama para Page | 67 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ pembuat kebijakan, khususnya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu agenda pembangunan Pemerintah Indonesia adalah memperkuat daerah-daerah pinggiran dan pedesaan yang umumnya memiliki tingkat aksesibilitas rendah, migrasi bersaldo negatif, serta tingkat pendidikan yang masih rendah (Naldi et al. , 2. Keterbatasan sumber daya keuangan yang diyakini menjadi salah satu hambatan dalam kemajuan desa mendorong pemerintah Indonesia, sejak tahun 2015, untuk menerapkan kebijakan penguatan kualitas pembangunan desa. Kebijakan ini diwujudkan melalui pengalokasian dana desa secara langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Melalui kebijakan tersebut, program dana desa ditujukan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain mengurangi kemiskinan dan kesenjangan, mendorong pembangunan infrastruktur pedesaan, serta meningkatkan pendapatan desa dan masyarakatnya melalui penguatan lembaga ekonomi lokal (Hilmawan et al. , 2. Kebijakan dana desa bertujuan untuk membiayai pembangunan serta pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, kualitas hidup penduduk, dan menanggulangi Prioritas penggunaan dana desa diatur dalam Peraturan Menteri Desa Nomor 19 Tahun 2017, yang menitikberatkan pada dua sektor utama, yaitu pembangunan desa dan pemberdayaan Sektor pembangunan desa difokuskan pada penyediaan infrastruktur tambahan yang dibutuhkan oleh masyarakat desa. Sementara itu, sektor pemberdayaan masyarakat mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberian dukungan permodalan, serta pengelolaan usaha ekonomi produktif, seperti yang dijalankan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. dan/atau kelompok usaha bersama. Untuk mendukung tujuan tersebut, dibentuklah BUMDes, yang berdasarkan Peraturan Menteri Desa Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2015, diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi masyarakat desa (Hilmawan et al. , 2. Pembangunan sosial dan ekonomi di wilayah pedesaan merupakan salah satu fokus utama Pemerintah Indonesia. Meskipun Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa, bukti empiris mengenai dampak dana desa dan keberadaan BUMDes di negara-negara berkembang masih terbatas (Arifin et al. , 2. Dalam studi ini. Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. dipahami sebagai sebuah program pemberdayaan ekonomi masyarakat desa yang dikembangkan oleh Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan di wilayah pedesaan melalui pemanfaatan potensi sumber daya local (Kania et al. , 2. Jenis usaha yang dimiliki dan dikelola secara lokal memiliki potensi untuk mengatasi berbagai permasalahan masyarakat melalui mobilisasi sumber daya lokal, yang sering kali sulit dilakukan oleh bisnis yang berorientasi pada keuntungan semata. Kewirausahaan berbasis masyarakat lokal juga kerap dipandang sebagai strategi yang menjanjikan dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan di wilayah pedesaan (Naldi et al. Meskipun demikian, pelaksanaan serta dampak dari program BUMDes masih menimbulkan sejumlah pertanyaan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengkaji peran BUMDes dalam mendorong usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di desa dan memperkuat pembangunan ekonomi pedesaan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses implementasi program BUMDes (Kania et al. , 2. Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mendukung perekonomian dan sumber penghidupan telah diakui secara luas, khususnya di negara-negara berkembang. Namun, kajian mengenai faktor-faktor spasial yang memengaruhi UMKM masih sangat terbatas, terutama di Indonesia, di mana UMKM mencakup lebih dari 95% dari seluruh pelaku usaha. UMKM merupakan motor penggerak pembangunan ekonomi dan sosial di berbagai negara, mencakup sekitar 90% dari seluruh perusahaan dan menyumbang sekitar 70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global. Peran UMKM menjadi sangat krusial bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (Low- and Middle-Income Countries/LMIC), termasuk Indonesia. Di negara-negara LMIC, termasuk Indonesia. UMKM memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pembangunan ekonomi dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan tinggi. Hal ini tercermin dari proporsi UMKM yang jauh lebih besar terhadap total jumlah perusahaan. Studi yang dilakukan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) pada tahun 2019 mencatat bahwa UMKM menyumbang sekitar 61% dari PDB Indonesia, dan kontribusi ini cenderung stabil selama satu dekade terakhir (Widita et al. , 2. Page | 68 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Sejumlah studi menunjukkan bahwa praktik manajemen keuangan merupakan salah satu dimensi kunci dalam meningkatkan efisiensi kinerja Usaha Kecil dan Menengah (Hunjra et al. , 2010. Zada et al. Selain itu, berbagai literatur (Boakye, 2020. Nketsiah, 2. juga menegaskan bahwa UKM yang menerapkan praktik manajemen keuangan secara efektif cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik, terutama dalam aspek pencatatan keuangan, alokasi sumber daya, pengelolaan dana, serta peningkatan kinerja usaha. Penerapan praktik tersebut tidak hanya berdampak pada performa bisnis, tetapi juga berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan penyelesaian masalah ketenagakerjaan. Namun demikian, sejumlah studi empiris menunjukkan bahwa terdapat berbagai tantangan yang menghambat kinerja UKM, sehingga menyebabkan tingkat pertumbuhan yang relatif rendah (MangAoana et al. , 2. Tantangan-tantangan tersebut mencakup, namun tidak terbatas pada, keterbatasan akses terhadap pembiayaan, rendahnya tingkat inklusi keuangan, tingginya tingkat persaingan, lemahnya kemampuan dalam mengadopsi teknologi, ketiadaan basis data yang memadai, tingginya biaya transaksi relatif terhadap skala usaha, rendahnya minat dalam berwirausaha, kurangnya keterampilan manajemen bisnis, serta praktik manajemen keuangan yang belum efektif (Yoshino, 2. Lebih lanjut, literatur juga menyebutkan bahwa sebagian besar permasalahan tersebut berakar pada lemahnya praktik manajemen keuangan di kalangan pelaku UKM (Zada et al. , 2. Lebih lanjut, seperti halnya sektor usaha lainnya. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga memerlukan penerapan praktik manajemen keuangan terbaik guna mencapai efisiensi dan meningkatkan kinerja usaha. Menurut (Musah, 2. lemahnya manajemen keuangan dapat mengarah pada pengambilan keputusan keuangan yang tidak tepat, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap kinerja dan bahkan menyebabkan kegagalan di berbagai titik dalam rantai nilai. Sementara itu, (Dwangu & Mahlangu, 2. menegaskan bahwa ketika manajemen keuangan dijalankan secara tidak efektif antara lain karena rendahnya literasi keuangan perusahaan menjadi lebih rentan dalam mengambil keputusan yang berpotensi membahayakan kelangsungan usahanya. METODE Manajemen keuangan merujuk pada proses pengelolaan sumber daya keuangan secara efektif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Nkundabanyanga et al. , 2. praktik manajemen keuangan dioperasionalkan sebagai serangkaian proses yang mencakup perencanaan dan pengendalian keuangan, akuntansi, pengelolaan arus kas, penganggaran atau penilaian modal, serta manajemen modal kerja. Sejalan dengan itu, (SaAoeed et al. , 2. mendefinisikan praktik manajemen keuangan sebagai prosedur operasional standar yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas dalam pelaksanaan akuntansi keuangan, pelaporan, penganggaran, dan tugas-tugas terkait lainnya demi meningkatkan efisiensi teknis Para akademisi di bidang manajemen memandang praktik manajemen keuangan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan pendanaan dan pengelolaan sumber daya keuangan (Dwangu & Mahlangu, 2. (Musah, 2. mengidentifikasi empat komponen utama sebagai variabel operasional dalam praktik manajemen keuangan, yaitu: manajemen modal kerja. akuntansi dan informasi, serta pelaporan dan analisis keuangan. struktur modal atau pembiayaan. penganggaran modal. Pandangan dari (Musah, 2018. SaAoeed et al. , 2. ini diadopsi dalam penelitian ini untuk mengukur tingkat penerapan praktik manajemen keuangan pada UKM. Meskipun sebagian besar penelitian saat ini berfokus pada perusahaan skala besar, masih terbatas pengetahuan mengenai bagaimana berbagai faktor tersebut memengaruhi kinerja perusahaan kecil. Sejumlah studi menunjukkan bahwa bisnis yang mampu mengalokasikan sumber daya secara optimal serta memiliki mekanisme pembelajaran yang kuat cenderung memperoleh keunggulan kompetitif dan mencapai keberhasilan jangka Panjang (Baker et al. , 2. Oleh karena itu pendidikan manajemen keuangan sangat penting bagi pelaku usaha khususnya usaha mikro kecil dan menengah. Pendidikan manajemen keuangan modern masih menghadapi kesenjangan yang signifikan antara teori keuangan yang diajarkan melalui metode pengajaran konvensional dan keterampilan praktis yang dibutuhkan di dunia kerja. Dunia industri cenderung lebih menekankan pada kompetensi terapan, seperti kemampuan memecahkan masalah dan kerja sama tim (Pfeffer & Fong, 2. dibandingkan dengan penguasaan teori semata. Hal ini menjadi semakin relevan dalam menghadapi dinamika lingkungan Page | 69 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ bisnis yang semakin tidak pasti dan kompleks saat ini (Sousa & Wilks, 2018. Thornhill-Miller et al. Sehingga pada kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan melalui pemberian Pendidikan yang dilakukan mengaitkan pembelajaran pada konteks dunia nyata dan menerapkan pendekatan kolaboratif yang berfokus pada rancangan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar (Finney & Pyke, 2008. Volpe, 2. Pendekatan tersebut juga mendorong proses konstruksi pengetahuan secara aktif melalui kerja sama, pemecahan masalah, dan pelaksanaan tugas terapan (Che & Che, 2016. Volpe, 2. Sehingga pada Pendidikan manajemen keuangan yang diberikan kepada masyarakat yang memiliki usaha dari kegiatan badan usaha milik desa (BUMDES) Tempursari. Pelatihan keuangan dijelaskan oleh (Rizqi Amaliyah & Trimalika, 2. , merupakan salah satu metode pelatihan yang efektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Dalam konteks kegiatan pengabdian kepada masyarakat, pelatihan menjadi salah satu agenda utama yang sering dilaksanakan. Pada penelitian ini, bentuk pelatihan dan pendampingan yang diberikan berkaitan dengan program kursus yang bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan profesional, sehingga dapat mendukung mereka dalam memperoleh atau meningkatkan peluang kerja (Amaliyah & Rezti, 2. Berikut digambarkan rangkaian alur kegiatan pada Pendidikan yang diberikan kepada masyarakat yang ada di Desa Tempursari meliputi : Pengenalan Manajemen Keuangan Bagi UMKM Pembuatan Rencana Keuangan Sumber Pembiayaan dan Investasi : Peran BUMDES Gambar 1. Alur Kegiatan Pengabdian HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Hasil Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berada di lokasi Desa Tempursari Kecamatan Donomulyo, dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2025 di Balai Desa Tempursari. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat Desa yang memiliki usaha dari pembaiayaan BUMDES. Adapun pembahasan dari setiap rangakaian kegiatan yang sudah terlaksana sebagai berikut : Page | 70 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Kegiatan I. Pengenalan Manajemen Keuangan bagi UMKM Pendidikan manajemen keuangan modern masih mengalami kesenjangan yang berkelanjutan antara penyampaian teori keuangan melalui metode pengajaran konvensional dan keterampilan praktis yang sebenarnya dibutuhkan oleh dunia kerja (Lee, 2. Pelatihan Pengenalan Manajemen Keuangan yang diberikan kepada masyarakat Desa Tempursari bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar tentang pentingnya pengelolaan keuangan dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada konsep dasar manajemen keuangan, yang meliputi pengertian, tujuan, dan komponen utama yang harus diperhatikan. Pemahaman ini sangat penting agar pemilik UMKM dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjalankan usaha mereka, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Mengingat pentingnya deteksi risiko secara dini dan praktik manajemen keuangan yang efektif, kedua aspek tersebut menjadi strategi kunci dalam mendukung keberlanjutan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) (Lukason & Laitinen, 2. Selain itu, pelatihan ini juga menekankan pentingnya pencatatan keuangan yang akurat. Pencatatan keuangan merupakan fondasi dari pengelolaan keuangan yang baik, karena melalui catatan yang sistematis, pemilik usaha dapat memantau arus kas, mengetahui pendapatan dan pengeluaran, serta mengalirkan kinerja usaha. Dengan memahami cara pencatatan yang baik, peserta diharapkan dapat menghindari kesalahan umum dalam pengelolaan keuangan dan mempersiapkan laporan keuangan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan. Kegaiatan II. Pembuatan Rencana Keuangan Pelatihan tentang pembuatan rencana keuangan yang diberikan kepada masyarakat Desa Tempursari fokus pada cara menyusun anggaran usaha yang efektif. Dalam sesi ini, pemateri mengajarkan langkah-langkah untuk membuat anggaran yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan usaha mereka. Dengan memahami komponen yang harus dimasukkan ke dalam anggaran, seperti biaya tetap dan variabel, peserta dapat merencanakan pengeluaran secara lebih terstruktur. Penggunaan anggaran ini akan membantu para pemilik UMKM untuk mengidentifikasi wilayah di mana mereka dapat mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional. Untuk memastikan proses perencanaan anggaran, maka mengadopsi mekanisme baru dalam penyusunan anggaran berbasis program (Pierre & Diaby, 2. Menurut (Jordan & Hackbart, 2. , mekanisme ini merupakan bagian dari pendekatan penganggaran modern yang dikenal sebagai pendekatan sistematis. Dalam perencanaan anggaran, proses ini merupakan tugas yang sangat menantang, terutama karena dana yang tersedia di banyak unit sering kali hanya cukup untuk menutupi biaya operasional, sehingga sulit untuk membiayai inisiatif atau proyek baru. Dalam penyusunan anggaran, disusunlah sebuah rencana keuangan yang mencakup estimasi pendapatan dan pengeluaran. Rencana anggaran ini berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan keuangan, mendukung upaya investasi, serta membantu mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi batas yang ditetapkan (Jimynez & Llanos-Longoria, 2. Selain itu, pelatihan juga mencakup proyeksi pendapatan dan pengeluaran yang penting untuk perencanaan jangka pendek dan panjang. Peserta mengajarkan bagaimana menyusun estimasi pendapatan berdasarkan analisis pasar dan tren penjualan, serta bagaimana memperkirakan pengeluaran berdasarkan kebutuhan operasional. Dengan memiliki proyeksi yang jelas, pemilik usaha dapat membuat keputusan yang lebih baik terkait investasi, pengembangan produk, dan strategi pemasaran. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kestabilan keuangan dan keinginan usaha mereka di masa depan. Pada perolehan pendapatan dan pengeluaran juga dibutuhkan dalam pencatatan anggaran untuk memudahkan dalam menganalisis profitabilitas usaha. Pencatatan anggaran keuangan melalui kegiatan Dalam pengabdian yang dilakukan, kegiatan akuntansi meliputi pencatatan transaksi keuangan secara sistematis, yang pada akhirnya digunakan untuk menyusun dan menganalisis laporan keuangan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. (Zotorvie, 2. menekankan bahwa sistem akuntansi yang baik merupakan fondasi dari praktik pembukuan yang sehat, yang menjadi bagian integral dari praktik manajemen keuangan yang ideal dan seharusnya dipraktikkan secara konsisten. Page | 71 BAKTI BANUA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 No. 2 November 2025 e-ISSN : 2722-3736 p-ISSN : 2722-7529 https://ejurnal. stimi-bjm. id/index. php/BBJM/ Kegiatan i. Sumber Pembiayaan dan Investasi : Peran BUMDES Pelatihan mengenai sumber pembiayaan dan investasi yang diberikan kepada masyarakat Desa Tempursari bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang berbagai jenis sumber pembiayaan yang dapat diakses oleh pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada berbagai opsi pembiayaan, seperti pinjaman bank, modal ventura, crowdfunding, dan dukungan dari lembaga pemerintah atau swasta. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing sumber pembiayaan, peserta diharapkan dapat memilih opsi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik usaha mereka. Sumber pembiayaan ini digunakan sebagai Langkah bagi perintis usaha dalam manajemen perolehan modal kerja. Manajemen modal kerja merupakan proses yang memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan operasional harian sambil mempertahankan likuiditas (MangAoana et al. , 2. Sementara itu, struktur modal bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara pembiayaan melalui ekuitas dan utang guna mendukung operasional dan ekspansi usaha. Penganggaran modal berkaitan dengan pengelolaan aset tetap melalui perencanaan dan proyeksi keuangan, termasuk evaluasi atas tingkat pengembalian investasinya. Selain itu, pelatihan ini juga menekankan peran penting Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. dalam pembiayaan usaha lokal. BUM Desa didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian desa dan kualitas layanan publik, mengelola potensi yang dimiliki desa, menciptakan pasar serta lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat desa. Untuk memahami bagaimana mekanisme dampak Badan Usaha Milik Desa terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesadaran masyarakat terhadap keberadaan serta pemanfaatan Badan Usaha Milik Desa (Arifin et al. , 2. Pemateri mengajarkan bagaimana BUMDes dapat menjadi mitra strategi dalam menyediakan akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau, serta dukungan dalam pengembangan usaha. Dengan memahami fungsi BUMDes sebagai fasilitator dan pendukung, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kapasitas usaha mereka, sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi desa secara keseluruhan. Sehingga fasilitas yang diberikan oleh Pemerintah Desa melalui Ketersediaan infrastruktur desa dan potensi tenaga kerja dari rumah tangga berkontribusi dalam kegaitan uasaha secara positif berdampak terhadap perkembangan usaha di tingkat local (Mariet Ocasio, 2. SIMPULAN Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tempursari pada tanggal 12 Agustus 2025 menunjukkan pencapaian yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman manajemen keuangan, penyusunan rencana anggaran, serta sumber pembiayaan bagi pemilik usaha. Pelatihan yang difokuskan pada pengenalan manajemen keuangan membantu peserta memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang efektif, termasuk pencatatan transaksi yang akurat dan strategi untuk mengidentifikasi risiko. Dengan pengetahuan ini, pemilik usaha dapat meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Selain itu, pelatihan tentang pembuatan rencana keuangan memberikan peserta alat untuk merencanakan anggaran secara lebih terstruktur, yang mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan. Kegiatan selanjutnya mengenai sumber pembiayaan dan investasi menekankan pentingnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. sebagai mitra strategi dalam akses pembiayaan. Dengan memahami berbagai opsi pembiayaan dan peran BUMDes, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kapasitas usaha mereka. Hal ini tidak hanya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi individu, namun juga memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi desa secara keseluruhan. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi BUMDes dan mendorong partisipasi aktif dalam pengembangan usaha lokal. UCAPAN TERIMAKASIH