AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. IMPLEMENTASI BIM PADA PROYEK JALAN TOL PASURUANPROBOLINGGO SEKSI 4 UNTUK PERHITUNGAN QUANTITY TAKEOFF TIMBUNAN Fajar Sodiq Febriansyah . Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Surabaya Jl. Sutorejo No. 5 Dukuh Suterejo. Mulyorejo. Kota Surabaya, 60113 *) emailkerjoku@gmail. Abstract The progress of the construction industry in Indonesia has experienced very rapid development in the infrastructure sector, as proven by the many infrastructure developments in recent years. Quantity take-off is one of the contractor's efforts by calculating volume which will later be used as material for preparing a bill of quantity in tenders and later also used as material for procurement. This is because contractors who can accurately carry out quantity take-offs will get several benefits, such as the efficiency of incoming After all, they are following actual conditions. Autodesk Civil 3D is a tool or application based on Building Information Modeling (BIM) which is capable to do quantity take-off. In this study, it will be discussed how the advantages and disadvantages of auto-desk civil 3D in carrying out quantity take-off on the volume of the stockpile compared to the method that has been used so far, namely calculating the volume using images from Autocad and with the assistance of Microsoft excel. The results of calculations using BIM in this study showed an increase in volume by 0. 027%, a decrease in time by 80%, and an increase in costs by 37% when compared to conventional calculations. Keywords: BIM. Quantity Take-off. Autodesk Civil 3D Abstrak Kemajuan dunia industri konstruksi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat di sektor infrastruktur terbukti banyaknya pembangunan infrastruktur beberapa tahun ini. Quantity Take-Off merupakan salah satu upaya dari kontraktor dengan melakukan perhitungan volume, yang nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk menyusun Bill of Quantity dalam tender dan nantinya juga dijadikan bahan untuk melakukan procurement. Oleh sebab kontraktor yang dapat melakukan quantity take-off dengan akurat akan mendapatkan beberapa keuntungan seperti pengefisiensian material yang datang karena sesuai dengan aktual. Autodesk Civil 3D merupakan sebuah tools atau aplikasi yang berbasis Building Information Modeling (BIM) yang mampu melakukan quantity take-off. Dalam penelitian ini akan dibahas bagaimana kelebihan dan kelemahan dari Autodesk Civil 3D dalam melakukan quantity take-off pada volume timbunan, bila dibandingkan dengan metode yang selama ini dipakai, yaitu menghitung volume dengan menggunakan gambar dari Autocad dan dengan bantuan Microsoft Excel. Hasil perhitungan dengan menggunakan BIM pada penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan volume sebesar 0. 027%, penurunan waktu sebesar 80%, dan peningkatan biaya sebesar 37% jika dibandingkan dengan perhitungan konvensional. Kata Kunci : BIM. Quantity Take-off. Autodesk Civil 3D PENDAHULUAN Kemajuan dunia industri konstruksi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat di sektor infrastruktur terbukti banyaknya pembangunan infrastruktur beberapa tahun ini. Dengan semakin banyaknya pembangunan fisik . mendorong berbagai pelaksana jasa konstruksi untuk meningkatkan mutu proyek secara lebih efektif dan efisien. Disetiap proyek memiliki permasalahan yang beragam, baik dari perubahan desain maupun kondisi keuangan disuatu proyek. Dampak dari permasalahan proyek konstruksi yang timbul dapat mengakibatkan peningkatan biaya dan pergeseran waktu rencana selesai proyek serta perbaikan mutu konstruksi. Perbaikan perencanaan dengan menggunakan teknologi informasi, telah disediakan perangkat lunak dan peralatan lainnya memungkinkan untuk menganalisis, simulasi dan pabrikasi digital dimana para stakeholder dapat memahami bagaimana ide-ide virtual yang tertuang dalam dimensi teknologi dapat mengerti serta memahami dalam proses pengelolaannya. BIM (Building Infromation Modelin. merupakan sebuah pendekatan desain bangunan, konstruksi, dan manajemen. Dengan menggunakan BIM memberikan potensi untuk memodelkan informasi secara visual dalam sebuah pemodelan yang menawarkan visualisasi, deteksi konflik. AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 penjadwalan, dan material serta pengujian model diserahkan dari tim desain kepada kontraktor dan sub-kontraktor dan kemudian ke pemilik proyek. Keuntungan terbesar dalam penggunaan BIM pada industri konstruksi merupakan kemampuan sistem untuk mengembakan menjadi model tiga dimensi yang realistis dan dua dimensi yang memuat informasi didalamnya. Secara global. BIM diwajibkan penggunaannya dalam suatu konstruksi karena sudah tertuang dalam peraturan di Indonesia, baik didunia perencanaan, pengawasan dan konstruksi yang tertuang pada Peraturan Menteri PUPR nomor 22 tahun 2018. Di Era kemajuan teknologi saat ini khususnya bidang konstruksi infrastruktur di Indonesia, penggunaan BIM dalam industri konstruksi dapat mengatasi beberapa kendala di proyek yang memudahkan perhitungan volume pada item pekerjaan secara efektif dan efisien. Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan memodelkan gambar menjadi suatu model BIM dimana pada model BIM peneliti dapat melakukan Quantity Take-Off menggunakan BIM yang kemudian model tersebut dibuat menjadi potongan melintang agar dapat mengetahui deviasi dari perhitungan Quantity Take-Off tersebut. Selain untuk mengetahui perbedaan tersebut peneliti juga melakukan analisa deviasi harga dari penggunaan BIM dengan mode konvensional dan deviasi waktu dalam penggunaan BIM dengan mode konvensional. Adapun mode konvesional tersebut menggunakan Microsoft Excel sedangkan BIM tersebut menggunakan Autodesk Civil 3D. Metode penulisan yang digunakan dalam penyelesaian penelitian ini adalah sebagai berikut : Idenfikasi masalah . Bagaimana praktik Building Information Modeling pada industri konstruksi untuk perhitungan Quantity Takeoff Timbunan? . Berapakah deviasi antara penggunaan perhitungan volume manual dengan penggunaan Quantity Takeoff menggunakan Building Information Modeling ? . Seberapa efisien penggunaan Building Infromation Modeling untuk Quantity Takeoff dalam industri Pengumpulan Data . Data primer : Didalam penelitian ini data primer merupakan data yang didapat dari pihak kontraktor pelaksana berupa Alinyemen horisontal dalam bentuk gambar DED. Alinyemen vertikal dalam ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. bentuk gambar DED. Tipikal perkerasan jalan dalam bentuk gambar DED. Situasi kondisi eksisting berupa softcopy dengan format pnt . Data sekunder : Pengambilan data sekunder ini juga didapat dari pihak kontraktor adalah informasi Analisa Data . Reduksi data Merupakan suatu proses yang dilakukan dengan bertujuan pemilihan, penyederhanaan, pemisahan, perangkuman, pentransformasian data kasar yang diperoleh dari kontraktor. Dalam hal ini peneliti mengumpulkan data yang berkaitan dengan proses BIM, menuangkannya dalam uraian dan laporan yang terperinci dan dilakukan tindakan perangkuman, pereduksian, penyelesaian terhadap poin-poin inti, dan memfokuskan pada hal hal penting sebelum menentukan tema dan pola . Penyajian data Merupakan penyusunan dari beberapa kumpulan informasi yang memungkinkan untuk dilakukannya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam hal ini peneliti akan mengorganisir data-data yang telah ada kedalam suatu pemodelan 3D yang didalamnya memuat informasi volume yang dimana dalam pemodelan tersebut peneliti akan menggunakan BIM dengan mode konvensional (Microsoft Exce. Penarikan kesimpulan dan verifikasi Pada saat-saat awal memodelkan jalan tol menggunakan pemodelan BIM peneliti melakukan pengumpulan data untuk riset cara pemodelan yang sesuai dengan standart pemodelan tersebut agar pada hasil akhir mendapatkan hasil yang diharapkan oleh penulis Pembahasan Penelitian Urutan oembahasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: Perhitungan menggunakan BIM : Pembuatan Alinyemen Pembuatan Surface . Pembuatan Profile . Pembuatan Assembly . Pembuatan Corridor Pembuatan Sample Line Quantity Take-Off AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Perhitungan (Microsoft Exce. Deviasi take-off menggunakan bim dengan konvensional . Efisiensi penggunaan BIM untuk quantity take-off . Kesimpulan dan Saran Perhitungan quantity take-off menggunakan BIM dan Konvensional Setelah pemodelan BIM sudah diselesaikan, yang kemudian akan dilakukan quantity take-off dari pemodelan tersebut yang berupa tabel sebagai berikut : Tabel 1. Deviasi penggunaan BIM dan Konvensional HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Station Vol. BIM. Vol. Konvensional. =(. )/. Deviasi (%) AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. Total Volume Efisiensi penggunaan BIM untuk quantity take-off Dalam proses pengerjaan penulis, dari segi kecepatan dan akurasi, perhitungan quantity take-off menggunakan BIM dapat lebih efisien sebesar 80% daripada penggunakan mode konvensional (Microsoft Exce. Sesuai pada gambar timeline dibawah ini: Gambar 1. Timeline Quantity Take-Off Sedangkan untuk biaya yang dikeluarkan penggunaan quantity take-off menggunakan BIM lebih mahal 37% daripada penggunaan mode konvensional, tetapi menurut penulis ini lebih efektif karena bisa mengefisiensi waktu sebesar 80%, seperti pada gambar tabel dibawah ini: Gambar 2. Perbandingan biaya Quantity Take-Off KESIMPULAN Pada pengerjaan penelitian ini penulis akan membandingkan volume dan efisiensi dari perhitungan menggunakan Quantity Take-off dengan menggunakan mode BIM dapat dipraktikkan dalam pembuatan Quantity Take-Off dengan menggunakan Software Autodesk Civil3D. Pada perhitungan Quantity Take-Off menggunakan BIM didapat volume sebesar 1. 922,93 m3 sendangkan mengunakan metode konvensional AGREGAT Vol. No. NOVEMBER 2021 didapat volume sebesar 1. 603,77 m3 maka dapat disimpulkan terjadi peningkatan volume 027% penggunaan BIM terhadap Konvensional. Waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan Quantity Take-Off menggunakan BIM sebanyak 3 hari sedangkan menggunakan metode konvensional membutuhkan wakti 15 hari dan untuk pengeluaran biaya bilamana menggunakan BIM sebesar Rp 500,00 sedangkan menggunakan metode konvensional sebesar Rp 40. 499,00 maka dapat disimpulkan terjadi penurunan waktu sebanyak 80 % penggunaan BIM terhadap Konvensional dan Terjadi peningkatan biaya sebesar 37% menggunakan BIM terhadap Konvensional. Penulis disini bisa menyimpulkan penggunaan BIM lebih efisien dari penggunaan mode konvensional. SARAN Saran yang dapat penulis sampaikan adalah Perhitungan Quantity Take-off menggunakan metode BIM jauh lebih efisien dibandingan dengan metode konfensional, sehingga penerapaan di proyek sangat membantu dalam pelaksanaan perhitungan tersebut, akan tetapi proyek juga harus mempertimbangkan terkait : Engineer yang berpengalaman . dan bersertifikasi dalam pelaksanaan dan peneraparan di proyek agar perhitungan dapat dipertanggung jawabkan dan deviasi yang dihasilkan tidak terlalu Mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan Software maupun hardware yang Koordinasi dengan pihak Eksternal seperti Konsultan dan Pemilik Proyek dalam penerapan BIM di proyek karena BIM merupakan hal yang baru untuk saat ini ISSN : 2541 - 0318 [Onlin. ISSN : 2541 - 2884 [Prin. dan belum semua institusi menerapkannya. Adanya Peraturan Menteri PUPR nomor 22 tahun 2018 kita harus memahami BIM agar bisa bersaing di dunia konstruksi. DAFTAR PUSTAKA