Action Research Literate Vol. No. Februari 2025 ISSN: 2808-6988 PENGUATAN POTENSI SDM WISATA DAN EKONOMI KREATIF DESA PULAU SEWANGI BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL Musrefinah Lediya1. Adrizal2. Muhammad Aditya Hariyadi3 Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin. Indonesia Email: musrefinahl@gmail. Abstrak Riset ini berfokus pada penguatan potensi sumber daya manusia (SDM) dalam sektor pariwisata di Desa Pulau Sewangi, yang merupakan sentra pembuatan kapal tradisional, melalui penerapan nilai Sapta Pesona dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi bagaimana model komunikasi berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan daya tarik wisata dan kesejahteraan masyarakat setempat. Metode yang diterapkan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen. Temuan mengindikasikan bahwa melalui pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan komunitas lokal, penguatan SDM dapat memperkuat daya tarik wisata desa. Nilainilai Sapta Pesona seperti keamanan, ketertiban, kebersihan, keindahan, keramahan, dan kenangan terintegrasi dengan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, menciptakan destinasi yang menarik bagi Model komunikasi yang efektif antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku wisata menjadi kunci sukses pengelolaan destinasi ini. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pemanduan wisata, serta pengembangan infrastruktur dan promosi berbasis budaya untuk mendukung pariwisata Kata Kunci: Sapta pesona, ekonomi kreatif, komunikasi, kearifan lokal, desa pulau sewangi. Abstract This research focuses on strengthening the potential of human resources (HR) in the tourism sector in Sewangi Island Village, which is a traditional shipbuilding center, through the application of Sapta Pesona values and the development of a local wisdom-based creative economy. The research objective is to explore how a local wisdom-based communication model can improve tourist attraction and the welfare of the local community. The method applied was a descriptive qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews, participatory observations, and document studies. The findings indicate that through education, training, and empowerment of local communities, strengthening human resources can strengthen the village's tourism attractiveness. Sapta Pesona values such as security, order, cleanliness, beauty, friendliness, and memories are integrated with the local culture-based creative economy, creating an attractive destination for tourists. An effective communication model between the government, community, and tourism actors is the key to successful management of this destination. The implication of this research is the importance of continuous training to improve community skills in tour guiding, as well as infrastructure development and culture-based promotion to support sustainable tourism. Keywords: Sapta pesona, creative economy, communication, local wisdom, pulau sewangi village PENDAHULUAN Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 3, dijelaskan bahwa tujuan pariwisata adalah untuk meningkatkan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam mencapai tujuan ini, pariwisata didasarkan pada beberapa prinsip yang harus diterapkan. Kegiatan pariwisata yang ISSN: 2808-6988 memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan intelektual akan berdampak pada kondisi ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan sekitar pariwisata (Ismayanti, 2. Oleh karena itu, keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan pariwisata dapat mempengaruhi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi Indonesia selain sektor migas, sebagaimana dibuktikan oleh tren peningkatan perjalanan wisata global pada tahun 2020 (Santoso, 2. Meningkatnya aktivitas pariwisata diharapkan dapat berperan sebagai pendorong dalam pengembangan dan pembangunan kawasan wisata beserta daerah sekitarnya (Sumarni & Sugiyanta, 2. Merespons hal tersebut, berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah dan pemangku kepentingan, berupaya untuk membangun, mengembangkan, serta mengelola sektor pariwisata secara optimal. Pengembangan sektor pariwisata dilakukan untuk mewujudkan visi, misi, serta tujuan yang telah ditetapkan dalam regulasi terkait. Perencanaan dalam bidang pariwisata bertujuan untuk memaksimalkan manfaat dari aktivitas pariwisata, seperti menciptakan lapangan kerja, menghasilkan devisa, dan memperoleh keuntungan dari aspek ekonomi lainnya (Ismayanti, 2. Tahap awal dalam pengembangan suatu destinasi wisata umumnya dimulai dengan mengidentifikasi potensi daya tarik wisata yang ada (Pujaastawa & Ariana. Identifikasi potensi ini sangat penting karena daya tarik wisata berperan dalam meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung. Secara umum, perkembangan daya tarik wisata terjadi secara alami dan mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata untuk memastikan layanan wisata yang optimal. Salah satu destinasi wisata terkenal di Indonesia yang telah memenuhi prinsip Sapta Pesona adalah Desa Wisata Penting Sari. Keberhasilan pariwisata di desa ini dapat dibuktikan melalui penerapan berbagai unsur Sapta Pesona. Salah satu buktinya adalah aspek keamanan, yang diwujudkan dengan adanya sistem keamanan serta pos ronda di desa tersebut (Setiawati & Aji, 2. Penerapan konsep Sapta Pesona dalam pengembangan destinasi wisata berkontribusi terhadap peningkatan kepuasan wisatawan selama berkunjung. Keberhasilan implementasi konsep ini tidak hanya mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi sektor lainnya. Strategi pembangunan pariwisata Indonesia untuk periode 2020Ae2024 yang dirancang oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menekankan pentingnya menciptakan sektor pariwisata yang aman, nyaman, dan kompetitif guna memperkuat citra Indonesia di kancah global. Citra positif tersebut berperan sebagai alat promosi yang efektif untuk menarik minat serta meningkatkan motivasi wisatawan untuk berkunjung (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, 2. Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu daerah yang saat ini tengah mengembangkan sektor pariwisata. Salah satu destinasi yang telah masuk dalam kawasan Geopark Meratus adalah Destinasi Pembuatan Kapal di Pulau Sewangi. Barito Kuala, yang mulai menerapkan prinsip Sapta Pesona serta mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Awalnya. Pulau Sewangi merupakan bagian dari Desa Pulau Alalak. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perkembangan wilayah, pada tahun 1975 Desa Pulau Alalak dibagi menjadi tiga desa terpisah. Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 Desa Pulau Sewangi di Kalimantan Selatan dikenal sebagai pusat pembuatan perahu tradisional yang telah berkembang selama beberapa generasi. Keahlian merakit perahu di desa ini telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Sejarah mencatat bahwa tradisi ini berawal pada tahun 1905, pasca Perang Banjar, ketika Pulau Alalak dirancang sebagai kawasan pelabuhan. Seiring waktu, industri perkapalan di desa ini semakin maju, didukung oleh lokasi strategis di muara Sungai Barito yang terhubung dengan Sungai Pandai, serta melimpahnya bahan baku kayu yang menjadi fondasi utama dalam proses pembuatan Keindahan Geopark Meratus di Provinsi Kalimantan Selatan yang sedang menuju status UNESCO Global Geopark (UGG. salah satunya terpancar dari Desa Pulau Sewangi. Kecamatan Alalak. Kabupaten Barito Kuala. Terletak di aliran Sungai Barito, desa ini memiliki daya tarik unik dan dikenal sebagai "Desa Seribu Jukung" karena merupakan salah satu situs dalam Geopark Meratus. Geopark Pegunungan Meratus, yang secara nasional ditetapkan pada tahun 2018, mencakup 54 situs yang terbagi ke dalam empat rute utama: Timur. Barat. Selatan, dan Utara, dengan Desa Pulau Sewangi berada dalam rute Barat. Desa ini diakui sebagai bagian dari Geopark karena keberadaan industri pembuatan perahu tradisional khas Banjar yang telah diwariskan secara turun-temurun. Produk jukung . dan kelotok . erahu bermesi. buatan desa ini bahkan telah tersebar ke berbagai daerah, menunjukkan kualitasnya yang tidak diragukan lagi. Penelitian ini mengeksplorasi strategi penguatan sumber daya manusia pariwisata di Desa Pulau Sewangi sebagai sentra pembuatan kapal tradisional, dengan fokus pada penerapan nilai Sapta Pesona dan ekonomi kreatif. Menggunakan pendekatan studi eksploratif dengan data kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana model komunikasi berbasis kearifan lokal, khususnya dalam perspektif branding, dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pendapatan asli daerah. Model komunikasi pariwisata berbasis kearifan lokal menawarkan pendekatan alternatif dalam pengelolaan destinasi wisata, berbeda dari pendekatan modern yang bergantung pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan menekankan nilainilai budaya dan tradisi lokal, model ini diharapkan dapat menciptakan daya tarik wisata yang lebih autentik dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat identitas pariwisata berbasis Melalui kajian terhadap penelitian sejenis, ditemukan beberapa aspek penting yang dapat memperkaya dan memperkuat temuan terkait model komunikasi pariwisata berbasis kearifan lokal. Salah satunya adalah penelitian oleh Nardi . menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan pariwisata bergantung pada penerapan prinsip-prinsip utama, seperti keterlibatan aktif masyarakat, pelestarian budaya lokal, konservasi sumber daya alam, serta peningkatan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan. Selain itu, strategi promosi yang efektif, transparansi dalam pengelolaan, serta evaluasi berkelanjutan juga menjadi faktor krusial dalam memastikan keberlanjutan dan dampak positif sektor pariwisata. Hasil penelitian tentang komunikasi pariwisata berbasis kearifan lokal mengungkap bahwa komunitas adat memiliki peran sentral sebagai penjaga nilai dan pengarah utama Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 dalam setiap tahapan pengelolaan pariwisata, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga Hal ini juga berlaku di Desa Pulau Sewangi dan sekitarnya, di mana komunitas adat berkontribusi aktif dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya serta lingkungan setempat. Di wilayah ini, masyarakat lokal yang berprofesi sebagai pengrajin kapal tradisional memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan industri pariwisata. Dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata di Desa Pulau Sewangi, baik oleh individu maupun kelompok, koordinasi dengan masyarakat lokal khususnya para pengrajin kapal tradisional serta pemerintah desa menjadi langkah yang wajib dilakukan. Selain itu, peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. juga diperlukan untuk memastikan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan tidak terkontaminasi oleh perubahan yang tidak selaras dengan budaya setempat. Lebih jauh, sinergi antara berbagai pihak yang berkepentingan dalam industri pariwisata di Desa Pulau Sewangi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat, tetapi juga memungkinkan integrasi antara nilai-nilai kearifan lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara berkelanjutan. Penelitian kedua oleh Ajrina Nur Allifah . , temuannya menghasilkan bahwa keberadaan Agrowisata Gunung Mas PTPN Vi memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, terutama mereka yang tinggal di kawasan perkebunan. Kesimpulan penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat lima jenis produk utama yang berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi di kawasan tersebut, yang secara bertahap berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan. Penelitian ketiga oleh Made Agus Sukarji Putra. IB Adnyana Manuaba, dan I Nyoman Sunarta . , bertujuan untuk mengidentifikasi pola pengembangan ekowisata yang ideal di Desa Budaya Kertalangu. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendukung upaya konservasi lahan persawahan masyarakat agar tidak beralih fungsi menjadi fasilitas pendukung wisata. Temuan mengungkapkan bahwa dalam pengembangan ekowisata perlu mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan partisipasi mereka secara optimal, memberikan pengalaman yang dapat menumbuhkan kecintaan wisatawan terhadap alam, mengelola jumlah pengunjung berdasarkan daya dukung kawasan, serta menerapkan strategi pemasaran yang transparan dan bertanggung jawab dalam program agrowisata. Hal ini tercermin dari komitmen terhadap pelestarian alam dan budaya, penghormatan terhadap nilai-nilai sosial serta tradisi keagamaan setempat, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Penelitian sebelumnya telah memberikan kontribusi signifikan dalam menganalisis pengembangan ekowisata dari berbagai perspektif keilmuan. Sejalan dengan itu. Bungin . menyatakan bahwa komunikasi pariwisata merupakan hasil integrasi berbagai disiplin ilmu dalam kajian komunikasi dan pariwisata. Aspek komunikasi berperan melalui teori komunikasi persuasif, komunikasi massa, komunikasi interpersonal, serta komunikasi kelompok, sementara sektor pariwisata berkontribusi dalam strategi pemasaran, pengelolaan destinasi, peningkatan aksesibilitas, serta pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan pariwisata. Manusia dan alam memiliki keterkaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan. Dalam memanfaatkan lingkungan, manusia sebagai makhluk beradab umumnya menunjukkan Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 perilaku yang selaras dengan alam, kecuali dalam situasi tertentu yang dapat mendorong tindakan destruktif. Sikap positif dalam berinteraksi dengan alam ini dikenal sebagai perilaku berbasis kearifan lokal . ocal wisdo. , yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Kearifan lingkungan tercermin dalam praktik dan nilainilai yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik melalui ajaran agama, adat istiadat, petuah leluhur, maupun budaya setempat. Seiring waktu, pola interaksi ini membentuk budaya daerah yang khas, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungannya serta menjadi identitas yang melekat pada suatu komunitas. Kearifan lokal erat kaitannya dengan budaya masyarakat setempat yang tercermin dalam pola hidup mereka. Budaya ini memiliki karakter yang autentik dan unik, tumbuh dalam lingkungan yang terbatas di mana interaksi langsung antarindividu menjadi bagian dari keseharian. Fokus utama budaya lokal adalah aspek kehidupan sehari-hari yang dianggap wajar atau sudah menjadi kebiasaan, berlangsung secara berulang dari generasi ke Budaya ini mencakup berbagai ritual, simbol, serta upacara yang menghubungkan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal, sekaligus mencerminkan pemahaman kolektif mereka terhadap masa lalu. Hal ini didasarkan pada hubungan erat antara masyarakat adat dan lingkungan sekitarnya, di mana hutan dianggap sebagai wilayah sakral yang harus dijaga dan dilestarikan. Masyarakat adat mengelola kepemilikan lahan secara kolektif, menciptakan keseimbangan antara hak individu yang terbatas dan hak bersama sebagai komunitas yang Radmila, dalam kutipan Kriyantono . 4: . , menjelaskan bahwa kearifan lokal merupakan refleksi dari kebijaksanaan, kearifan, dan nilai-nilai moral yang telah diwariskan secara turun-temurun. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan seharihari, tetapi juga berperan dalam menjaga harmoni sosial dan lingkungan. Kearifan lokal berperan sebagai dasar filosofis dalam membentuk perilaku yang harmonis. Rosidi, sebagaimana dikutip oleh Kriyantono . 4: . , menjelaskan bahwa kearifan lokal mencerminkan kemampuan suatu budaya dalam menghadapi pengaruh budaya asing ketika terjadi interaksi antara keduanya. METODE PENELITIAN Penelitian ini memanfaatkan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai strategi pengembangan destinasi wisata pembuatan kapal di Pulau Sewangi Ae Barito Kuala. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan subjek penelitian, didukung oleh sumber data primer dan Teknik pengumpulan data meliputi kuesioner, wawancara, observasi, dan Analisis data dilakukan secara sistematis melalui tahapan pengumpulan, reduksi, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi, sebagaimana dijelaskan oleh Miles dan Huberman dalam Sugiyono . HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Desa Pulau Sewangi Desa Pulau Sewangi memiliki keunggulan yang menonjol sebagai sentra pembuatan kapal tradisional yang unik di Indonesia. Proses pembuatan kapal di desa ini menggunakan kearifan lokal dan teknik tradisional yang telah diwariskan turun-temurun, menjadikannya Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung keahlian tangan para pengrajin lokal. Kapal-kapal yang dihasilkan di sini tidak hanya memiliki nilai fungsional, tetapi juga merupakan karya seni yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah lokal. Setiap kapal yang dibuat mengandung cerita, nilai-nilai, dan filosofi yang mendalam, menjadikannya sebagai simbol identitas masyarakat Pulau Sewangi yang erat kaitannya dengan tradisi maritim yang telah berkembang selama berabad-abad (Nurmala, 2. Selain itu, budaya maritim yang kental di Desa Pulau Sewangi semakin memperkaya pengalaman wisata yang ditawarkan. Keberadaan tradisi nelayan yang masih dijalankan hingga kini, serta cara hidup masyarakat yang sangat bergantung pada laut, memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk merasakan kehidupan sehari-hari yang harmonis dengan alam sekitar. Budaya ini tidak hanya menyentuh aspek pembuatan kapal, tetapi juga mencakup berbagai ritual, upacara, dan kehidupan sosial yang erat dengan laut. Produk kapal yang dihasilkan di desa ini juga menjadi salah satu aset penting dalam mempromosikan pariwisata, karena setiap kapal mencerminkan kekayaan tradisi dan sejarah lokal yang menarik perhatian pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam tentang warisan budaya Indonesia (Ardiansyah, 2. Sebagai bagian dari Geopark Meratus. Pulau Sewangi menawarkan potensi wisata alam yang sangat beragam. Keindahan alam dan keberagaman ekosistem geologi di sekitar desa ini memberikan nilai tambah yang luar biasa. Keberadaan batuan purba, formasi geologi yang unik, serta keberagaman flora dan fauna yang ada menjadikan Pulau Sewangi bukan hanya destinasi wisata budaya, tetapi juga sebagai tempat untuk mempelajari keunikan geologi yang menjadi karakteristik dari kawasan Meratus. Geopark Meratus yang terkenal dengan kekayaan geologinya menjadi tempat yang ideal untuk wisata edukasi, di mana wisatawan dapat mendalami berbagai aspek geologi, termasuk proses pembentukan batuan dan kekayaan alam yang ada di kawasan ini (Mardiana, 2. Ritual-ritual yang berkaitan dengan pembuatan kapal, seperti upacara selamatan sebelum peluncuran kapal, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa budaya lokal yang otentik. Upacara ini bukan hanya sekedar ritual, tetapi merupakan wujud rasa syukur dan harapan agar kapal yang dibuat dapat membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Wisatawan yang berkunjung ke desa ini juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para pengrajin lokal, yang dengan senang hati akan berbagi pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai proses pembuatan kapal secara mendalam. Interaksi ini tidak hanya memberikan pemahaman tentang teknik pembuatan kapal, tetapi juga membuka wawasan tentang filosofi hidup masyarakat Pulau Sewangi yang sangat erat kaitannya dengan alam dan laut (Hadi, 2. Dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Desa Pulau Sewangi memiliki prospek yang cerah sebagai destinasi wisata unggulan, baik dari sisi budaya, alam, maupun pendidikan geologi. Hal ini menjadikannya sebuah kawasan yang sangat berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut, baik untuk wisatawan domestik maupun internasional, dengan tetap menjaga kelestarian tradisi dan lingkungan yang ada (Halim, 2. Nilai Sapta Pesona dalam Pariwisata Desa Penguatan nilai Sapta Pesona di Desa Pulau Sewangi merupakan bagian integral dari upaya untuk menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat lokal. Nilai-nilai yang terkandung dalam Sapta PesonaAi Keamanan dan Ketertiban. Kebersihan dan Keindahan. Keramahan dan Kenangan, serta Aspek Alam dan BudayaAidijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan pariwisata yang dapat dinikmati oleh semua pihak, tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan maupun budaya lokal. Keamanan dan Ketertiban Keamanan dan ketertiban adalah prioritas utama dalam Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 menciptakan kenyamanan bagi wisatawan. Desa Pulau Sewangi memanfaatkan pendekatan berbasis masyarakat untuk menjaga keamanan lingkungan, dengan melibatkan warga dalam kegiatan patroli desa yang terjadwal. Selain itu, kerjasama dengan pihak keamanan setempat, seperti polisi dan satpam desa, turut berperan dalam menjaga ketertiban. Masyarakat dilibatkan dalam penyuluhan tentang pentingnya menjaga keamanan untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi wisatawan yang datang. Inisiatif ini tidak hanya membuat wisatawan merasa aman, tetapi juga memperkuat rasa tanggung jawab bersama terhadap desa yang dijadikan tujuan wisata (Sutrisno, 2. Kebersihan dan Keindahan Desa Pulau Sewangi mengintegrasikan kebersihan dengan estetika desa sebagai daya tarik utama. Program kebersihan yang dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat desa, seperti gotong-royong membersihkan kawasan wisata dan area publik, diikuti dengan penghijauan di sepanjang jalur wisata dan penataan fasilitas umum seperti tempat duduk, toilet, dan ruang terbuka. Penataan lanskap desa dengan tanaman hias dan bunga-bunga lokal tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap keberagaman hayati yang ada. Dengan menciptakan lingkungan yang bersih dan asri, desa ini mampu menarik wisatawan yang menghargai keindahan alam dan memberikan pengalaman wisata yang menyegarkan (Ardiansyah, 2. Keramahan dan Kenangan Keramahan masyarakat Pulau Sewangi menjadi salah satu daya tarik yang kuat dalam mempromosikan pariwisata desa. Untuk memastikan pengalaman wisata yang berkesan, masyarakat desa diberikan pelatihan tentang tata krama dan komunikasi yang baik dalam menyambut wisatawan. Pengenalan budaya lokal, seperti seni tari, musik tradisional, dan kuliner khas, juga dijadikan bagian dari pelatihan ini. Wisatawan tidak hanya disambut dengan senyum ramah, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai elemen budaya yang membuat mereka merasa lebih terhubung dengan komunitas Program ini dirancang untuk menciptakan hubungan yang positif antara wisatawan dan masyarakat, sehingga wisatawan merasa dihargai dan berkesan dengan pengalaman yang mereka dapatkan, mendorong mereka untuk kembali lagi atau berbagi pengalaman positif kepada orang lain (Hadi, 2. Pengaplikasian Sapta Pesona dan Infrastruktur Wisata Ramah Lingkungan Penerapan nilai Sapta Pesona di Desa Pulau Sewangi tidak hanya terbatas pada aspek budaya dan sosial, tetapi juga mencakup pembangunan infrastruktur wisata yang ramah lingkungan. Salah satu inisiatif utama adalah pembangunan jalur pejalan kaki yang menghubungkan berbagai titik wisata utama di desa, seperti lokasi pembuatan kapal tradisional, kawasan Geopark Meratus, dan spot wisata alam lainnya. Jalur ini dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang ingin menjelajahi desa dengan berjalan kaki, sekaligus mengurangi dampak negatif dari kendaraan bermotor terhadap lingkungan. Jalur pejalan kaki ini juga mengedepankan estetika, dengan desain yang menyatu dengan alam sekitar, memudahkan wisatawan menikmati keindahan alam tanpa merusak keseimbangan ekosistem (Mardiana. Program Edukasi Berbasis Lingkungan untuk Generasi Muda Desa Pulau Sewangi juga mengembangkan program edukasi berbasis lingkungan untuk memperkenalkan dan memupuk nilai-nilai Sapta Pesona kepada generasi muda. Program ini melibatkan sekolahsekolah dan komunitas lokal untuk mengenalkan pentingnya menjaga kebersihan, kelestarian alam, serta menjaga keramahan dalam berinteraksi dengan wisatawan. Kegiatan ini juga mencakup workshop tentang pengelolaan sampah, pentingnya konservasi alam, serta cara-cara menjadi tuan rumah yang baik bagi para wisatawan. Dengan memberikan pemahaman sejak dini kepada anak-anak dan remaja, diharapkan mereka dapat menjadi agen perubahan yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian desa dan pariwisata yang berkelanjutan (Halim, 2. Melalui upaya-upaya ini. Desa Pulau Sewangi tidak hanya berhasil memperkuat nilaiPenguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 nilai Sapta Pesona, tetapi juga menciptakan fondasi yang kokoh untuk pengembangan pariwisata yang lebih baik di masa depan. Keberlanjutan pariwisata di desa ini tidak hanya bergantung pada daya tarik alam dan budaya, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kualitas pengalaman wisata yang ditawarkan. Dengan demikian, desa ini tidak hanya menjadi tujuan wisata yang menarik, tetapi juga contoh inspiratif tentang bagaimana pariwisata dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan budaya lokal. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal Pengembangan produk ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Desa Pulau Sewangi semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan potensi kearifan lokal. Produk-produk ekonomi kreatif seperti miniatur kapal, kerajinan tangan, dan kuliner tradisional tidak hanya memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata desa, tetapi juga berfungsi sebagai alat promosi budaya yang efektif. Miniatur kapal tradisional yang dibuat dengan detail tinggi, kerajinan tangan berbahan dasar kayu, serta kuliner khas yang kaya akan cita rasa lokal menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan dari desa ini. Produk-produk ini tidak hanya berfungsi sebagai suvenir, tetapi juga sebagai medium untuk mengenalkan budaya dan tradisi masyarakat Pulau Sewangi kepada dunia luar (Setiawan, 2. Selain itu, kolaborasi antara desa dan pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) serta komunitas seni lokal juga menjadi kunci keberhasilan dalam mengembangkan ekonomi kreatif di desa ini. Melalui kerja sama ini, produk-produk lokal tidak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga dijangkau oleh pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional. Pemasaran produk melalui platform digital dan kolaborasi dengan berbagai pameran seni dan festival mempercepat proses distribusi produk dan memperkenalkan keunikan budaya Pulau Sewangi kepada audiens yang lebih besar (Ardiansyah, 2. Penggunaan media sosial dan situs e-commerce untuk memasarkan produk-produk lokal telah terbukti membantu memperluas jangkauan pasar, memberikan peluang baru bagi pengusaha lokal untuk berkembang. Salah satu inisiatif yang semakin digalakkan adalah pelatihan keterampilan untuk masyarakat lokal dalam pembuatan produk ekonomi kreatif. Pelatihan ini tidak hanya mencakup teknik dasar dalam pembuatan kerajinan, tetapi juga pengenalan teknologi sederhana yang dapat meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk. Dengan memanfaatkan alat dan bahan yang ada secara optimal, produk-produk seperti batik bermotif kapal dan replika miniatur kapal yang khas kini menjadi ikon desa yang diminati oleh wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Batik bermotif kapal, misalnya, menjadi simbol unik yang menggabungkan kearifan lokal dengan estetika seni tradisional, menjadikannya produk unggulan yang mampu bersaing di pasar seni dan kerajinan tingkat nasional maupun internasional (Halim, 2. Kolaborasi dengan Geopark Meratus juga membuka peluang besar bagi integrasi produk ekonomi kreatif dengan promosi global. Geopark Meratus, yang terkenal dengan kekayaan geologi dan keindahan alamnya, kini menjadi bagian dari paket wisata edukasi yang menggabungkan budaya lokal dengan keunikan geologi Meratus. Desa Pulau Sewangi, yang terletak di sekitar kawasan ini, dapat memanfaatkan posisi geografis dan kulturalnya untuk menarik wisatawan yang tertarik pada ekowisata dan wisata edukasi. Dengan mempromosikan produk-produk lokal dalam paket wisata edukasi, seperti miniatur kapal dan batik, desa ini dapat menawarkan pengalaman wisata yang holistik, di mana wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam dan geologi, tetapi juga mendapatkan pemahaman mendalam tentang kehidupan dan budaya masyarakat lokal (Sutrisno, 2. Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal ini diharapkan dapat Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, memperkuat perekonomian lokal, dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Selain itu, melalui inisiatif ini. Desa Pulau Sewangi dapat menjadi contoh bagaimana pariwisata berbasis budaya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian tradisi dan Keberhasilan dalam mengembangkan produk ekonomi kreatif yang berkualitas, dikombinasikan dengan promosi yang tepat, akan memastikan bahwa budaya lokal desa ini tetap terjaga dan terus dihargai, baik oleh generasi muda maupun wisatawan yang datang (Mardiana, 2. Model Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal Model komunikasi berbasis kearifan lokal merupakan pendekatan strategis yang memanfaatkan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal dalam membangun komunikasi yang efektif antara pemangku kepentingan pariwisata. Di Desa Pulau Sewangi, pendekatan ini diterapkan melalui interaksi aktif antara masyarakat, pemerintah, dan wisatawan, dengan tujuan untuk menciptakan komunikasi yang lebih inklusif, partisipatif, dan berbasis pada identitas lokal yang kuat. Proses ini melibatkan berbagai tahap seperti sosialisasi, pelatihan, dan promosi yang secara langsung melibatkan komunitas lokal sebagai aktor utama dalam mengelola potensi pariwisata desa. Melalui proses komunikasi yang terbuka dan saling mendengarkan, semua pihak dapat saling memahami, mengatasi tantangan, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis pada keunikan budaya. Salah satu bentuk penerapan model komunikasi berbasis kearifan lokal di Desa Pulau Sewangi adalah pengelolaan festival tahunan yang menampilkan berbagai seni tradisional, seperti musik maritim, tarian tradisional, dan pameran kapal tradisional. Festival ini tidak hanya menjadi alat promosi yang efektif tetapi juga berfungsi sebagai wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan identitas budaya mereka secara langsung kepada Melalui festival ini, wisatawan tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan komunitas lokal, memahami nilai-nilai budaya yang mendasari kehidupan masyarakat Pulau Sewangi, serta merasakan pengalaman otentik yang menghubungkan mereka dengan tradisi dan sejarah desa tersebut. Dalam hal ini, festival menjadi platform yang memperkuat hubungan antara budaya lokal dan kebutuhan pasar wisata, menciptakan pengalaman yang mendalam bagi kedua belah pihak (Kusnadi, 2. Contoh lain dari penerapan model komunikasi berbasis kearifan lokal adalah pelatihan komunikasi wisata bagi masyarakat lokal. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam berinteraksi dengan wisatawan, termasuk bagaimana cara memperkenalkan sejarah dan budaya desa dengan cara yang menarik dan informatif. Masyarakat dilatih untuk menjadi pemandu wisata yang tidak hanya memberikan informasi secara teknis, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman yang berkesan bagi para pengunjung melalui storytelling yang berbasis pada kearifan lokal. Pelatihan ini meningkatkan kualitas interaksi antara wisatawan dan masyarakat, sehingga menciptakan hubungan yang lebih mendalam dan saling menghargai antara kedua belah pihak (Sutrisno. Selain itu, promosi digital berbasis kearifan lokal juga menjadi bagian penting dari Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 model komunikasi ini. Pemerintah desa dan komunitas lokal bekerja sama untuk menghasilkan konten promosi yang autentik dan menggugah, seperti video dokumenter tentang proses pembuatan kapal tradisional, cerita rakyat yang berkaitan dengan maritim, serta keindahan alam dan geologi Geopark Meratus yang ada di sekitar desa. Konten-konten ini kemudian disebarluaskan melalui media sosial dan platform digital lainnya untuk menarik perhatian wisatawan domestik dan internasional. Promosi berbasis kearifan lokal ini tidak hanya memperkenalkan desa sebagai tujuan wisata, tetapi juga memperkenalkan budaya dan tradisi yang membentuk karakter Desa Pulau Sewangi, sekaligus memperkuat citra desa sebagai destinasi wisata yang unik dan otentik (Ardiansyah, 2. Pendekatan berbasis kearifan lokal juga terlihat dalam pengelolaan jalur komunikasi antara pemerintah, pengrajin, dan pelaku usaha lokal. Forum diskusi rutin diselenggarakan sebagai wadah kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan guna menyamakan persepsi mengenai pengembangan pariwisata yang sejalan dengan upaya pelestarian budaya dan Dalam forum ini, isu-isu seperti perlindungan nilai budaya, pengelolaan lingkungan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata dibahas secara terbuka dan partisipatif. Hal ini memperlihatkan pentingnya komunikasi dua arah yang saling mendukung antara pemangku kepentingan, sehingga setiap keputusan yang diambil dapat mencerminkan kepentingan bersama dan keberlanjutan pariwisata desa (Halim, 2. Hasil dari model komunikasi berbasis kearifan lokal ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga menghormati dan melestarikan nilainilai lokal. Wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sewangi tidak hanya mendapatkan hiburan semata, tetapi juga pembelajaran mendalam tentang budaya dan tradisi yang menjadi ciri khas desa ini. Pendekatan ini menciptakan pengalaman yang tidak terlupakan bagi para wisatawan, sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan mereka melalui pengembangan pariwisata yang berbasis pada kearifan lokal (Mardiana, 2. Keberadaan masyarakat yang tetap mempertahankan adat istiadat di Desa Pulau Sewangi menjadi salah satu aset kearifan lokal dalam pengembangan wisata di wilayah Dalam perannya, masyarakat lokal berfungsi sebagai gatekeeper atau penjaga arus informasi dalam penyelenggaraan kegiatan wisata di Desa Pulau Sewangi. Menurut Hardiman . , gatekeeper adalah individu yang, berdasarkan pengetahuan dan posisinya, memiliki kontrol terhadap aliran informasi dalam komunitasnya. Informasi yang mereka sampaikan dapat mengalami penyaringan, baik dalam bentuk pengurangan, penambahan, maupun interpretasi ulang. Beberapa faktor yang menjadikan Desa Pulau Sewangi sebagai destinasi wisata, terutama dalam konteks pengembangan ekowisata, sebagaimana dijelaskan oleh Nugroho . 5:6-. , meliputi: Meningkatnya level pendidikan serta tingginya minat masyarakat untuk melakukan Populasi penduduk yang terus bertambah. Peningkatan dan perubahan peran wanita. Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 Berubahnya pola waktu senggang. Dinamika dan keinginan setiap orang selalu berubah setiap saat. Pelayanan yang berkualitas. Kemajuan teknologi dan informasi. Dari tujuh faktor yang menentukan suatu tempat menjadi destinasi wisata. Desa Pulau Sewangi semakin dikenal berkat kemajuan teknologi dan informasi. Para pelaku bisnis wisata di desa ini memanfaatkan berbagai strategi komunikasi pemasaran secara masif, profesional, dan viral di kalangan wisatawan. Untuk menjaga keaslian dan kelestarian nilai budaya di destinasi wisata tersebut, model komunikasi pariwisata yang berkembang di Desa Pulau Sewangi dapat digambarkan sebagai berikut: Bagan 1. Model Komunikasi Pariwisata di Kawasan Desa Pulau Sewangi Bagan di atas menggambarkan bahwa konsep utama dalam model komunikasi pariwisata berbasis kearifan lokal di Desa Pulau Sewangi bertujuan untuk menghubungkan pengembangan destinasi wisata dengan local branding dan place branding. Pendekatan ini dilakukan melalui sistem bottom-up yang menekankan keseimbangan peran dan fungsi berbagai kelompok kepentingan, dengan mengacu pada nilai-nilai sosial budaya serta keindahan alam. Dalam model ini, masyarakat berperan sebagai elemen utama yang tidak hanya menjadi dasar normatif, tetapi juga bertindak sebagai fasilitator dalam mengoptimalkan sumber daya alam dan lingkungan sosial dalam satu kesatuan kebijakan pengelolaan wisata. Local branding dalam konteks ini merujuk pada upaya menciptakan identitas khas yang mampu meningkatkan daya tarik suatu lokasi atau destinasi wisata di mata publik. Dengan kata lain, local branding berawal dari strategi pemasaran yang bertujuan memperkuat posisi suatu tempat dalam persepsi wisatawan dengan menambahkan nilai pada identitas destinasi tersebut (Soemanagara, 2008: . Berdasarkan konsep local branding. Desa Pulau Sewangi telah berhasil membangun identitasnya sebagai destinasi wisata berbasis kearifan lokal melalui sinergi antara pelaku pariwisata, masyarakat setempat, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini tercermin dalam komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya dan melestarikan lingkungan. Komitmen tersebut semakin mengukuhkan Desa Pulau Sewangi sebagai destinasi utama pariwisata di Kabupaten Barito Kuala, yang memadukan pesona alam dengan kehangatan serta kreativitas Penguatan Potensi Sdm Wisata Dan Ekonomi Kreatif Desa Pulau Sewangi Berdasarkan Kearifan Lokal ISSN: 2808-6988 masyarakat setempat. Local branding yang telah terbentuk secara resmi dan tertulis di kawasan ini menjadi modal sosial yang kuat untuk mengembangkan Desa Pulau Sewangi sebagai destinasi wisata eksotis dan inovatif. Konsep place branding yang diterapkan berperan penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai objek wisata di daerah ini. Diferensiasi utama dari potensi wisata Desa Pulau Sewangi terletak pada keberadaannya sebagai sentra pembuatan kapal tradisional, yang semakin memperkaya daya tarik pariwisata di wilayah tersebut. Dalam konteks pembangunan place branding, komunikasi yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan sejalan dengan konsep model komunikasi efektif yang dikemukakan oleh Bungin . 5: . Model ini mencakup komunikasi satu langkah, komunikasi multilangkah, dan komunikasi berbasis web, yang berperan dalam menyebarluaskan pesan secara strategis dan terarah. Dalam upaya membangun place branding Desa Pulau Sewangi, penelitian ini mengungkap bahwa model komunikasi yang paling dominan digunakan adalah model komunikasi multilangkah. Pendekatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam menyebarluaskan informasi terkait pariwisata, memastikan pesan tersampaikan secara efektif ke masyarakat. Proses komunikasi ini diwujudkan melalui beragam bentuk interaksi, seperti edukasi, sosialisasi, pendampingan, dan pembinaan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata di daerah mereka. KESIMPULAN Penguatan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pariwisata Desa Pulau Sewangi melalui penerapan nilai Sapta Pesona dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal berhasil meningkatkan daya tarik wisata dan memberikan dampak positif bagi Model komunikasi partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam pengembangan pariwisata terbukti efektif dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Dengan terus mengembangkan keterampilan masyarakat dalam pemanduan wisata, pengelolaan kerajinan lokal, serta pemasaran berbasis budaya, pariwisata berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian budaya dan lingkungan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangat penting untuk mempercepat pengembangan dan promosi destinasi wisata. DAFTAR PUSTAKA