SARGA: JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM VOLUME 19 NO 2 JULY 2025 P-ISSN: 0853-4748 E-ISSN: 2961-7030 Journal Home Page: https://jurnal2. id/index. php/sarga PENERAPAN PENDEKATAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) PADA RUTE BRT TRANS SEMARANG KORIDOR 7 BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA The Application of The Transit Oriented Development (TOD) Approach on The BRT Trans Semarang Route at Corridor 7 Based On User Perception | Received February 20, 2025 | Accepted June 12, 2025 | Available online July 31, 2025 | | DOI 10. 56444/sarga. 313 | Page 1 - 18 | Agus Sarwo Edy Sudrajat 1*. Lani Aulia Maharani 2 sarwo16@gmail. Universitas Semarang. Indonesia1* laniauliaa22@gmail. Universitas Semarang. Indonesia2 ABSTRAK Transportasi memiliki peran penting dalam mobilitas masyarakat, namun juga memicu berbagai permasalahan, terutama di kawasan urban. Transit Oriented Development (TOD) merupakan pendekatan tata ruang yang mengintegrasikan transportasi dan tata guna lahan untuk meningkatkan efisiensi Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian penerapan prinsip TOD pada rute BRT Koridor 7 berdasarkan persepsi pengguna dalam radius 800 meter. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan dasar pemikiran deduktif serta menggunakan metode survei dan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling dengan jumlah 6 halte BRT dan pengguna BRT sebagai responden. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis spasial buffer, skoring, dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan analisis spasial hanya 14Ae28% halte Koridor 7 memenuhi prinsip TOD dan tergolong kategori rendah. Sedangkan berdasarkan hasil persepsi pengguna mencatat skor 3,541 . ,09%) yang mengindikasikan tingkat kesesuaian sedang. Perbedaan hasil ini dipengaruhi oleh perbedaan indikator: analisis spasial mengacu pada prinsip 3D (Diversity. Density. Desig. , sedangkan survei persepsi berdasarkan pada prinsip 8 ITDP . Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan spasial dan persepsi pengguna dalam menilai kesesuaian TOD untuk optimalisasi transportasi massal. Kata Kunci: Bus Rapid Transit. Transit Oriented Development. Persepsi ABSTRCT Transportation plays a crucial role in community mobility but also generates various challenges, particularly in urban areas. Transit Oriented Development (TOD) is a spatial planning approach that integrates transportation systems with land use to enhance movement efficiency. Semarang City, as a metropolitan area, has implemented a Bus Rapid Transit (BRT) system, including Corridor 7, which passes through high-density mixed-use areas affected by urbanization. This study aims to evaluate the suitability of TOD principles along BRT Corridor 7 based on user perceptions within an 800-meter radius. This study uses a quantitative approach with deductive reasoning, applying surveys and questionnaires. Samples were taken using multistage random sampling at six BRT stops with BRT users as respondents. The data were analyzed using spatial buffer analysis, scoring, and descriptive statistics. The research findings show that, based on spatial analysis, only 14Ae28% of the BRT Corridor 7 stops meet the TOD principles and are classified as having low suitability. In contrast, user perception results indicate a score of 3. 09%), reflecting a moderate level of TOD suitability. This discrepancy is influenced by differences in assessment indicators: the spatial analysis is based on the 3D TOD principles (Diversity. Density, and Desig. , while the perception survey refers to the 8 ITDP principles . These findings emphasize the importance of integrating spatial and user perception approaches in evaluating TOD suitability to optimize mass transportation systems. Keywords: Bus Rapid Transit. Transit Oriented Development. Perception Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani PENDAHULUAN Transportasi merupakan kegiatan perpindahan barang . dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lain (Salim, 2. Definisi lain mengenai transportasi dapat didefinisikan sebagai usaha dalam memindahan, menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan suatu objek tersebut lebih agar lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan tertentu (Miro, 2. Dalam kehidupan perkotaan, transportasi menjadi pemegang peranan penting dalam mendukung kegiatan sehari-hari. Meningkatnya urbanisasi dan naiknya kepemilikan kendaraan yang pesat, dipercaya menjadi penyebab terjadinya berbagai permasalahan transportasi serta kurang tertibnya tata guna lahan perkotaan. Masalah yang timbul tersebut antara lain seperti perkembangan kota yang tidak terkendali, kemacetan lalu lintas, polusi udara, meningkatnya pemakaian pada bahan bakar fosil dan meningkatnya jumlah kecelakaan (Nur Khaerat Nur, et al. , 2. Semakin besar wilayah yang harus dilayani, maka semakin besar pula pergerakan transportasi tersebut. Ditambah dengan adanya pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan meningkatnya aktivitas angkutan baik angkutan manusia maupun aktivitas barang. Sehingga, pergerakan penduduk tersebut akan membentuk suatu kebutuhan baru yaitu kebutuhan dalam moda transportasi (Arifin, 2. Pertumbuhan yang tidak terkendali seringkali dapat memicu terjadinya urban sprawl akibat persebaran penduduk dan fasilitas yang tidak merata (Ramlan, 2. Terciptanya perubahan tata guna lahan berdampak dalam meningkatkan perekonomian suatu wilayah. Perubahan dalam suatu guna lahan yang memiliki aksesibilitas yang memadai akan menciptakan aktivitas bangkitan dan tarikan, yang dimana kegiatan tersebut menghasilkan suatu pergerakan lalu lintas. Dan apabila dalam suatu ruang kegiatan tersebut terdapat bangkitan dan tarikan yang terus berkembang, maka menimbulkan kelebihan beban pada transportasi. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para pihak transportasi dalam menyediakan armada bagi masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya suatu bentuk kebijakan dalam transportasi yang sesuai dan terpadu dengan tata guna lahan dengan tujuan sebagai upaya mengendalikan pertumbuhan perkotaan, sehingga mampu memberikan kelancaran aksesibilitas dan mobilitas bagi masyarakat perkotaan (Nur Khaerat Nur, et al. , 2. Konsep TOD pertama kali diungkapkan oleh Peter Calthorpe . dalam bukunya yang berjudul AuThe Next American MetropolisAy, pengembangan kawasan berbasis TOD memiliki 4 elemen utama yaitu ketersediaan lokasi yang menjadi titik transit, memiliki ruang publik, pusat kegiatan dan permukiman di sekitar kawasan titik transit, dan aktivitas guna lahan untuk mendukung mobilitas dan optimalisasi pada sekitar titik transit (Kamila et al. , 2. Studi yang dikemukakan oleh Carvero K . menekankan peran TOD dalam AuTiga DAy meliputi Density (Kepadata. Diversity (Keberagama. dan Design bagi Non motorized (Agustin & Hariyani, 2. Transit Oriented Development (TOD) adalah strategi dalam pembangunan kota yang berfokus pada pengembangan terpusat di sekitar sistem transportasi publik, seperti pada stasiun kereta, halte bus dengan tujuan menciptakan kawasan yang rawan pejalan kaki, dengan pemanfaatan guna lahan campuran serta mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi (Peter Calthorpe, 1. TOD berkaitan erat dengan peruntukan lahan campuran yang dipusatkan pada titik transit atau simpul dengan kemudahan akses tidak bermotor serta kepadatan yang tinggi di sekitar kawasan transit (Agustin & Hariyani, 2. Kota semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah dan menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia sehingga mengalami perkembangan kawasan. Menurut BPS, jumlah kendaraan bermotor pada tahun 2020 sebesar 1. 059 yang meliputi kendaraan pribadi berupa mobil dan motor sedangkan pada tahun 2023 jumlah kendaraan tersebut mengalami peningkatan Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2021 Atas Perubahan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Semarang Tahun 2011 Ae 2031. Kota Semarang telah menerapkan transportasi massal berupa sistem Bus Rapid Transit (BRT) untuk meningkatkan pelayanan moda transportasi umum yang direncanakan untuk mendukung perkembangan dengan terintegrasi aktivitas guna lahan. Menurut (Arif & Manullang, 2. menjelaskan bahwa aspek SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 transportasi dalam perencanaan wilayah memang memiliki keterkaitan dengan aktivitas guna lahan sebagai land use transport system. Ruang lingkup ini berada di Koridor 7 yang merupakan satu dari delapan koridor BRT Trans Semarang yang melayani 55 halte dengan zona asal dan zona tujuan berada di trayek Terminal Terboyo - Raden Patah PP. Rute ini menghubungkan pinggiran Kota Semarang menuju pusat Kota Semarang dan sebaliknya. Dalam rute perjalanan tersebut, rute koridor 7 melalui jalan arteri dan jalan kolektor di 4 kecamatan yaitu kecamatan genuk, kecamatan pedurungan, kecamatan gayamsari dan kecamatan semarang timur. Kecamatan tersebut termasuk dalam kepadatan lahan tinggi dan kepadatan permukiman yang diakibatkan karena adanya urbanisasi sehingga kebutuhan lahan semakin meningkat (Al Javier et al. , 2. Karakteristik tata guna lahan koridor 7 memiliki berbagai aktivitas berupa kawasan perumahan, perdagangan dan jasa, fasilitas umum serta terdapat aktivitas industri yang berada di sekitar kawasan terminal terboyo. Hal tersebut, menyebabkan adanya pergerakan atau perpindahan baik manusia maupun barang dari zona asal ke zona tujuan. Seperti pada salah satu ruas koridor 7, jalan Wolter Monginsidi dimana penggunaan lahan tersebut dapat berpengaruh terhadap kinerja jalan, sehingga dapat mengakibatkan masalah lalu lintas (Citra Pramesti & Wahjoerini, 2. Selain itu, titik kemacetan tersebut terdapat di terminal terboyo, kawasan industri terboyo dan berada di depan pasar genuk dimana kemacetan tersebut disebabkan oleh penggunaan lahan di sekitarnya berupa bangunan, permukiman dan industri (Devi et al. , 2. Dengan kepadatan lahan dan kepadatan permukiman yang tinggi serta terdapat beberapa sarana pendukung tersebut perlu adanya suatu perencanaan sehingga mampu mengintegrasikan tata guna lahan dengan sistem Untuk mengoptimalkan dalam penggunaan BRT Trans Semarang pada koridor 7 yang terintegrasi dengan guna lahan, perlu mengetahui persepsi pengguna BRT terhadap kesesuaian halte dalam penerapan TOD. REVIEW LITERATUR Sistem Transportasi Transportasi dapat didefinisikan sebagai alat pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau Transportasi merupakan suatu kegiatan pemindahan barang . dan penumpang dari suatu tempat ke tempat lainnya (Salim, 2. Transportasi memiliki dua unsur terpenting yaitu pemindahan/pergerakan . dan secara fisik dapat mengubah tempat dari barang . dan penumpang ke tempat lain. Dalam definisi lain, transportasi dapat diartikan sebagai usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut atau mengalihkan objek dari suatu tempat ke tempat lain, dimana tempat lain tersebut lebih bermanfaat atau dapat digunakan berguna untuk tujuan tertentu (Miro, 2. Sedangkan pengertian transportasi menurut Nasution . Transportasi merupakan alat sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat Dalam suatu sistem transportasi terdapat komponen yang terbentuk dan terdiri dari prasarana, sarana dan sistem pengoperasian yang merupakan bagian dari pengembangan dalam sistem transportasi guna mendukung kelancaran mobilitas manusia antar tata guna lahan (Murniati. Silitonga, & Darlin, 2. Dalam menyelesaikan permasalahan transportasi pada suatu wilayah diperlukan suatu sistem transportasi baik secara mikro maupun makro. Sistem transportasi secara makro maka terdiri atas sistem kegiatan, sistem jaringan dan sistem pergerakan (Tamin, 2. Sistem Kegiatan. Sistem kegiatan atau tata guna lahan memiliki jenis kegiatan tertentu yang berdampak dalam membangkitkan pergerakan dan akan menarik pergerakan dalam proses pemenuhan kebutuhan. Sistem kegiatan merupakan sistem dengan pola kegiatan tata guna lahan yang terdiri sistem pola kegiatan sosial, ekonomi, kebudayaan, dan lain lain. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani Besarnya pergerakan pada dasarnya berkaitan erat dengan jenis dan tingkat intensitas aktivitas yang dilakukan. Sistem Jaringan. Sistem jaringan berupa moda transportasi . dan media . rasarana/infrastruktu. tempat dimana moda transportasi bergerak. Transportasi . tersebut meliputi bus, kereta api, tram dan sebagainya. Sedangkan media . rasarana/infrastruktu. tersebut meliputi: jaringan jalan raya, kereta api, terminal bus, bandara dan pelabuhan laut. Sistem Pergerakan. Sistem pergerakan merupakan hubungan antara sistem kegiatan dan sistem jaringan yang menimbulkan pergerakan manusia atau barang dalam bentuk pergerakan kendaraan atau orang . ejalan kak. Sistem Transportasi dapat dirancang dengan manajemen lalu lintas, fasilitas angkutan umum atau dengan pembangunan jalan. Sistem Kelembagaan. Sistem kelembagaan merupakan sistem yang mengatur tiga sistem diatas yaitu sistem kegiatan, sistem jaringan dan sistem pergerakan yang dapat mempengaruhi proses terjadinya sistem transportasi (Tamin, 2. Dalam dalam kebijakan yang ada pada setiap sistem dalam sistem transportasi memiliki peran dan kewenangannya masing Ae masing yang berdea satu dengan lainnya. Sistem Kegiatan. Bappenas Bappeda Tingkat I dan II. Bangda dan Pemda Sistem Jaringan. Kementrian Perhubungan Sistem Pergerakan. Organda. Polantas. DLLAJ. Masyarakat Gambar 1. Sistem Transportasi Sumber: Tamin, 2000 Sistem kegiatan, sistem jaringan, dan sistem pergerakan merupakan satu kesatuan yang mampu mempengaruhi satu sama lain. Perubahan dalam sistem kegiatan akan mempengaruhi sistem jaringan, yang berdampak terhadap tingkat pelayanan pada sistem pergerakan. Demikian pula perubahan dalam sistem jaringan akan mempengaruhi sistem kegiatan yang berdampak terhadap peningkatan mobilitas dan aksesibilitas. Serta sistem pergerakan memiliki peran penting yang mampu mempengaruhi kembali pada sistem kegiatan dan sistem jaringan. Sistem Tata guna lahan Tata guna lahan dapat didefiniskan sebagai suatu potongan lahan yang memiliki satu atau lebih kegiatan dalam area tertentu. Tata guna lahan memiliki keterkaitan yang erat dengan transportasi, sehingga membentuk sebuah sistem transpotasi yang berbasis tata guna lahan (Murniati. Silitonga, dan Darlin, 2. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa semakin berkembangnya suatu area atau wilayah karena adanya pertambahan jumlah penduduk berdampak pada beragamnya kegiatan yang terjadi pada wilayah tersebut. Beberapa interaksi muncul akibat adanya pemenuhan kebutuhan tersebut mengakibatkan terciptanya pergerakan manusia, kendaraan dan barang (Tamin, 2. Yang pada akhirnya interaksi yang muncul tersebut mampu SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 mempengaruhi sistem kegiatan dan sistem jaringan secara terus menerus. Dalam perencanaan transportasi, tata guna lahan berfungsi sebagai daerah bangkitan dan daerah tarikan. Bangkitan perjalanan, bangkitan perjalanan merupakan besaran jumlah perjalanan yang ke leuar dari zona asal menuju zona tujuan (Tamin, 2. Besaran jumlah perjalanan yang dibangkitkan tersebut dipengaruhi oleh dua hal yaitu jenis tata guna lahan dan jumlah kegiatan yang ada pada tata guna lahan tersebut. Tarikan perjalanan, tarikan perjalanan merupakan besaran jumlah perjalanan yang masuk atau memiliki ketertarikan pada suatu zona atau wilayah tertentu (Tamin, 2. Jumlah kendaraan, jumlah orang atau jumlah angkutan barang merupakan hasil interpretasi dari tarikan perjalanan. Tata guna lahan menjadi upaya dalam merencanakan penggunaan lahan pada suatu wilayah agar sesuai dengan peruntukan lahannya. Hal tersebut berkaitan dengan rencana tata guna lahan yang memiliki beberapa fungsi meliputi fungsi permukiman, fungsi pendidikan, fungsi perdagangan dan lainnya yang perlu diperhatikan sehingga menjadi kunci keseimbangan dalam pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Arifia, 2. Dalam pengembangan suatu perenanaan tata guna lahan pada suatu wilayah disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya yaitu perkembangan teknologi yang ada (Arifia, 2. Tata guna lahan dan transportasi memiliki keterkaitan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Gambar 2. Siklus Perkembangan Lahan dan Transportasi Sumber: Aditianata, 2014 dalam Wegener, 1995 Hubungan antara sistem tata guna lahan dan sistem transportasi dapat diartikan dengan semakin banyak lahan yang digunakan maka akan semakin banyak pula akses yang dibutuhkan berupa jalan. Kepadatan pada suatu jaringan jalan tergantung pada kondisi kepadatan permukiman, tingkat perkembangan ekonomi dan guna lahan. Bus Rapid Transit (BRT) Penerapan angkutan bus pertama kali dikembangkan di Curitiba. Brazil pada tahun 1970 yang dimana dalam implementasinya memiliki banyak peraturan seperti zona bus yang bebas mobil dan memiliki lahan penghijauan yang luas. Kota tersebut sukses menjadi contoh terbaik dalam mengintegrasikan transportasi dan perencanaan perkotaan (Aminah, 2. Menurut Wright . , dalam perkembangan angkutan umum perkotaan sudah seharusnya dapat melayani kebutuhan mobilitas dengan efisien dan efektif. Pembangunan moda transportasi dunia yang tengah dilakukan pada kebaruan teknologi transportasi darat yang sedang populer disebut bus rapid transit (BRT). Sistem BRT telah diimplementasikan di beberapa negara seperi eropa, amerika, latin dan asia. Sistem BRT menjadi tanda suatu era baru teknologi angkutan cepat massal untuk masyarakat. Transformasi tersebut memerlukan penyesuaian bahkan dengan pengembangan sistem nilai untuk dapat disesuaikan kembali terhadap tata kelola atau governance teknologi sistem BRT tersebut (Aminah. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani BRT merupakan sistem transportasi massal yang memiliki kapasitas dan kecepatan tinggi, mampu memberikan pelayanan yang baik dengan biaya yang relatif murah (ITDP, 2. Kehadiran sistem BRT dapat meningkatkan pergerakan masyarakat dalam perkotaan. Deng. Ma dan Nelson . berpendapat bahwa BRT merupakan sistem yang mampu memberikan jawaban atas kepadatan mobilitas di suatu perkotaan, dan lebih fleksibel dibandingkan dengan moda transportasi massal berupa LRT maupun kereta api (Deng et al. , 2. Dengan demikian, keberadaan BRT sebagai transportasi massal dan fasilitas pendukungnya yang dapat meningkatkan kenyamanan bagu pengguna, berdampak terhadap ketertarikan masyarakat untuk beralih dari moda trasnportasi pribadi ke moda transportasi massal BRT (Carvero, 2. TOD (Transit Oriented Developmen. Calthrope . menyatakan bahwa dalam pembangunan yang berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) merupakan sebuah konsep dimana transportasi seperi kereta api, bis, atau angkutan umum lainnya dapat terintegrasi membentuk suatu perkotaan yang lebih bertanggungjawab terhadap lingkungan dan sosial sehingga dapat membantu mencapai hasil yang Terdapat definisi TOD yang dijelaskan oleh para ahli, diantaranya yaitu: TOD merupakan suatu pendekatan dalam perencanaan kota yang berkelanjutan terintegrasi penggunaan lahan dengan sistem transportasi. TOD murujuk pada penggunaan lahan campuran yang dirancang guna memaksimalkan akses terhadap penggunaan transportasi umum dan kendaraan non-motorized. (Ewing dan Hamidi, 2014. Kamruzzaman, 2014. Khare. Villuri. Chaurasia. , et al. , 2. TOD suatu konsep yang tidak terikat dalam mengikuti aturan standar yang ketat. TOD merupakan pengembangan kompak, penggunaan lahan campuran, ramah terhadap pejalan kaki (Calthrope, 1993. Belzer dan Autler, 2002. Ditmmar dan Ohland, 2004. Newman dan Kenworthy, 2. TOD diberikan sebagai upaya dalam membantu transportasi umum dan memanfaatkan peluang dalam pengembangan yang diberikan oleh sistem. Sehingga, diperlukan hubungan transportasi antara sistem transportasi dan guna lahan pada tahap implentasi yang berbeda. Konsep TOD ini memberikan perencanaan alternatif dalam menuju pola pengembangan yang menyediakan fungsi-fungsi working, living, leisure dalam populasi yang beragam, dengan kepadatan rendah hingga tinggi, dan dengan susunan fasilitas pedestrian dan terdapat akses transit. Konsep Transit Oriented Development (TOD) konsep yang muncul akibat adanya aktivitas pergerakan manusia, baik yang menggunakan moda maupun berjalan. Pergerakan merupakan salah satu bentuk aktivitas yang paling banyak dilakukan oleh manusia, yang diwadahi dengan penempatan pusat-pusat kegiatan yang terintegrasi dengan keberadaan titik transit, sehingga dapat mendorong dalam penggunaan transportasi publik. Pusat-pusat aktivitas tersebut dihubungkan antara satu dengan lainnya yang dapat ditempuh dengan berjalan yang nyaman dan aman sebagai bentuk usaha dalam mengurangi pergantian antar moda (Wijaya, 2. Karakteristik TOD Transit Oriented Development (TOD) merupakan suatu konsep yang berfokus pada pola penggunaan lahan yang dapat memberikan penekanan kuat pada aktivitas campuran, mobilitas, konektivitas, kepadatan dan daya tarik tinggi serta infrastruktur pejalan kaki. Skala TOD berada di kawasan yang memiliki radius A - A mil . Ae 800 mete. atau kemudahan berjalan kaki selama 5-10 menit dari premium transit. Batas area pada perencanaan TOD perlu disesuaikan dengan jarak radius yang ditentukan berdasarkan dengan kriteria tertentu. Berdasarkan Liang, et al. , . menyebutkan bahwa kreteria dalam penentuan radius area TOD merupakan aksesibilitas dengan berjalan kaki atau kemudahan untuk mencapai suatu aktivitas tertentu dengan ditempuh berjalan Terdapat definisi lain dari literatur IBI Group & World Reseource Institute (WRI) India, 2021 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 namun memiliki klasifikasi jarak radius kawasan TOD yang sama dengan TCRPC, yaitu yang pertama area primer atau transit core, termasuk dalam stasiun transit dan rute akses ditempuh 5 menit dengan berjalan kaki, kedua area sekunder atau transit neighbourhood, mencakup area dan tujuan utama di sekitar kawasan stasiun dengan akses yang ditempuh dengan berjalan kaki. dan transportasi massal. Ketiga catchment area atau transit-supportive area, yaitu mencakup wilayah yang dapat berpengaruh lebih luas dari stasiun transportasi massal, dimana terdapat layanan feeder. Menurut Florida TOD Guidebook . TOD berada di kawasan yang memiliki pembangunan kompak dengan kepadatan yang tinggi dan mix-used yang mengedepankan bentuk dalam perkotaan yang ramah bagi pejalan kaki dalam melakukan perjalanan dari lokasi transit pusat kegiatan lainnya. Terdapat empat area yang menjadi klasifikasi kawasan Transit Oriented Development (TOD): Premium transit stasion merupakan suatu titik transit yang memiliki tujuan sebagai pelayanan moda trasnportasi massal seperi commuter line, light rail dan bus rapid transit Transit core merupakan area transit yang ditempuh dengan berjalan kaki dan bersepeda dalam radius A mil atau 400meter dengan luas area sebesar 125acre atay 50 ha Transit neighborhood merupakan suatu area yang dapat ditujukan untuk pengembangan kawasan permukiman bertingkat yang terletak setelah pusat transit. Area ini memiliki jarak dalam radius A mil atau 800meter dari titik transit utama dengan luas area sebesar 375acre atau 151 ha. Transit supportive area merupakan area pendukung transit, memiliki jarak dalam radius 1 mil atau 1600meter dari titik transit utama. Namun. TCRC . tidak mengklasifikasikan area ini sebagai kawasan TOD. Menurut Peter Calthorpe . , terdapat dua tipe dalam pengembangan kawasan Transit Oriented Development, yaitu: Urban TOD, merupakan pengembangan kawasan dengan jaringan transportasi publik utama untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat. Terintegrasi dengan guna lahan campuran seperti perkantoran, perumahan, perdagangan dan kegiatan lainnya. Neighorhood TOD, merupakan pengembangan kawasan yang memiliki konektivitas dengan transportasi lokal atau feeder untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk mendukung pergerakan non-motorized. Menurut Carvero . , karakteristik kawasan TOD terdapat prinsip 3Ds meliputi Kepadatan (Densit. Kebergaman (Diverist. dan Desain (Desig. Prinsip kepadatan dapat berupa kepadatan bangunan. KDB dan KLB. Prinsip keberagaman berupa penggunaan lahan mix-used di kawasan yang meliputi penggunaan lahan perumahan, perkantoran, fasilitas umum, perdagangan dan jasa. Serta prinsip desain berupa ketersedian fasilitas pejalan kaki. Menurut Watson . , karakteristik kawasan TOD berada di kawasan yang memiliki kepadatan tinggi dengan penggunaan lahan campuran di sekitar kawasan transit dengan lingkungan yang mendukung pejalan kaki, sehingga dapat meningatkan penggunaan transportasi publik. Sedangkan menurut Renne . , karakteristik TOD bertujuan meningkatkan aksesibilitas transportasi umum, penggunaan lahan campuran yang berkelompok dan berdekatan, terletak di sekitar kawasan transit sehingga menciptakan akses untuk berjalan kaki dan bersepeda. Penjelasan indikator dan variabel dapat dilihat pada tabel 1: Kriteria Mix Accecibillity Tabel 1. Variabel Kawasan TOD Indikator Kepadatan tinggi Tipe hunian campuran Penggunaan lahan . erkantoran, perdagangan dan jas. Pola jalan Ketersediaan parkir Desain pedestrian dan jalur sepeda Sumber: Renne, 2009 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani Dalam Florida TOD Guidebook . , merumuskan beberapa prinsip untuk membentuk kawasan TOD, yang meliputi: Street Design. Dalam pembentukan kawasan TOD, jalan merupakan komponen penting dimana harus menyediakan infrastruktur yang ramah bagi pejalan kaki dan jalur sepeda serta difasilitasi area parkir baik on-street atau off-street. Density. Untuk menciptakan mobilitas di kawasan transit yang meningkat diperlukan kepadatan tinggi dan kompak, sehingga masyarakat dapat menjangkau pusat kegiatan yang berada di sekitar kawasan transit tersebut. Mixed. Penggunaan lahan campuran termasuk juga perumahan, perkantoran dan ritel untuk dapat mendukung mobilitas dan layak huni dalam pembentukan kawasan TOD. Penjelasan variabel dan indikator dapat dilihat pada tabel 2: Tabel 2. Kriteria Kawasan TOD Kriteria Street Design Indikator Aksesibilitas sidewalk Ketersediaan jalur sepeda Density Mix Use Ketentuan Waktu tempuh untuk berjalan kaki ke lokasi transit dimaksimalkan 20 menit - Kecepatan kendaraan yang berada di kawasan transit di maksimalkan 15 km/jam sehingga menciptakan kenyamanan bagi pejalan kaki dan pesepeda >110 unit/ha Min 70% Min 2. 30% permukiman dan 70% non permukiman Kepadatan bangunan KDB KLB Penggunaan lahan campuran . ermukiman dan non permukima. Sumber: Florida TOD Guidebook, 2012 Sedangkan menurut Institute for Transportation and Development Policy . TOD merupakan suatu proses perencanaan wilayah yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung mobilitas masyarakat dengan cara memprioritaskan penggunaan transportasi publik, sepeda dan berjalan kaki. ITDP mengembangkan prinsip-prinsip TOD berupa walk. dan shift. Tabel 3. Kriteria Kawasan TOD Kriteria Walk (Berjalan Kak. Indikator Ketersediaan jalur pejalan kaki Cycle (Berseped. Ketersediaan pejalan kaki Peneduh tempat berteduh Jaringan Ketentuan Trotoar diperuntukkan untuk pejalan kaki dan melindungi dari kendaraan lain Tidak terhalang dan bebas pembatas atau ramah disabilitas Dirancang untuk akses pejalan kaki yang mudah dalam menuju semua gedung dan bangunan yang berada pada bagian depan Terdapat penerangan jalan yang memadai Bebas pembatas dan ramah bagi penyandang disabilitas Lebar 2meter atau lebih dan diberi garis batas Menyebarang lebih dari dua jalur lalu lintas, disediakan pula penyeberangan yang mudah diakses Terdapat penerangan jalan yang memadai Jalur pejalan kaki mendapatkan perlindungan dari cuaca panas Disediakan peneduh seperti pepohonan, struktur gedung bangunan . rcade, kanapi, bayangan gedun. , struktur yang berdiri sendiri . elindung pada persimpangan dan halte transportasi publi. dan elemen lainnya seperti dinding dan kisikisi Jalan dengan kecepatan rata-rata diatas 30 km/jam, memiliki jalur khusus sepeda yang terpisah dari kendaraan bermotor SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 Kriteria Indikator Ketersediaan parkir sepeda Connect (Menghubungka. Rute berjalan kaki Jarak berjalan kaki menuju angkutan Transit (Angkutan Umu. Mix (Pembarua. Densify (Memadatka. Tata guna lahan Kepadatan permukiman dan non-permukiman Compact (Merapatka. Pilihan Shift (Berali. Parkir off-street Ketentuan Jalan dengan kecepatan dibawah rata-rata 30 km/jam dianggap aman untuk bersepeda dan tidak memerlukan jalur khusus sepeda, tetapi dianjurkan menggunalan marka stensil . Fasilitas tempat parkir sepeda harus berada pada bebas dari jalur pejalan kaku atau sirkulasi kendaraan Parkir sepeda di stasiun angkutan umum berada di jarak 100meter dari pintu masuk stasiun angkutan umum Parkir sepeda pada bangunan berjara di 100meter ddari jalan masuk dengan luas lantasi lebih bedaru dari 500 m2 Panjang blok jalur pejalan kaki terpanjang, semua blok wilayah pembangunan lebih pendek dari 100meter Rasio dari persimpangan jalur pejalan kaki dengan persimpangan kendaraan bermotor, rasio konektivitas prioritas 2 atau lebih Kawasan transit dengan kualitas tinggi Stasiun minimal 15 menit antara jam 7 pagi hingga jam 10 malam Jarak maksimal berjalan kaki kurang dari 1000 meter atau kurang dari 500 meter . ekitar 20 meni. Perumahan dan non perumahan berada dalam blok yang sama atau berdekatan Kepadatan perumahan minimal 140 unit/Ha KLB minimum 2. Perdagangan lokal berkembang untuk mendukung berbagai Konektivitas berjalan kaki dan bersepeda yang baik dan orientasi terhadap stasiun angkutan umum Jalur atau rute angkutan umum reguler, termasuk moda transportasi non BRT dan pratransit, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan angkutan umum jika jalur angkutan umum beroperasi secara reguler dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam Sistem bike share publik yang padat dipertimbangan sebagai pilihan angkutan umum Ketersediaan ruang parkir yang rendah didalam area Luas Pemukaan parkir dan luas area masuk kendaraan adalah 30% dari luas area bangunan parkir dan akses masuk kendaraan adalah 130% dari luas area Sumber: ITDP, 2017 Berdasarkan pada kebijakan PermenATR/BPN No. 16 Tahun 2017 tentang pedoman Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit, memiliki beberapa aturan seperti prasyarat transportasi massal dalam pengembangan kawasan TOD minimal memiliki satu moda transportasi jarak dekat dan satu moda transportasi jarak jauh. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4: Tabel 4. Prasyarat Transportasi Massal Kriteria Moda Transit Mikrobus Bus Kota. BRT LRT Heavy rail (MRT) TOD Sub KotaSub Pusat Pelayanan Kota Jarak Dekat . alam kot. Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo TOD Kota- Pusat Pelayanan Kota TOD Lingkungan Pusat Pelayanan Lingkungan Oo Oo Oo SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani Kriteria LRT MRT Kereta Cepat Kereta Api Commuter line Bus ekspress . us antar kota/provins. TOD Sub KotaSub Pusat Pelayanan Kota Jarak Jauh . ntar kota, antar provins. Oo Oo TOD Kota- Pusat Pelayanan Kota Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo TOD Lingkungan Pusat Pelayanan Lingkungan Oo Oo Sumber: PermenATR/KaBPN No. 16 Tahun 2017 Berdasarkan pada tabel 4 Kriteria teknis kawasan TOD meliputi . kriteria transportasi massal dan sistem transportasi yang menjadi prasyarat dalam mewujudkan sistem transportasi massal atau sistem transitnya dan terdapat pergantian antarmoda sebagai elemen dalam pengembangan kawasan TOD. Kriteria lingkungan pada kawasan TOD yang menjadi prasyarat dalam mewujudkan struktur ruang dan pemanfaatan ruang sehingga sesuai dengan tipologi kawasan TOD. Tipologi TOD berdasarkan PermenATR/KaBPN dapat dilihat pada tabel 5: Tabel 5. Tipologi Kawasan TOD TOD Kota-Pusat TOD Sub Kota-Sub TOD Lingkungan-Pusat Pelayanan Kota Pusat Pelayanan Kota Pelayanan Lingkungan Kawasan dalam radius 400 Ae 800meter dibatasi oleh batasan fisik . alan, sungai, dl. yang Bentuk/Deliniasi menunjukkan satu kesatuan karakteristik. Kawasan Dalam kondisi tertentu, karena karakteristik lingkungan simpul transit, dapat berupa - Pusat aktivitas ekonomi Pusat ekonomi lokal dan komunitas lokal Karakter Pusat perekonomian fungsi khususnya untuk fungsi - Dominan hunian dengan Pengembangan primer dan budaya regional sekunder dan budaya akses baik ke regional atau subregional Campuran dan Keragaman Pemanfaatan Ruang Minimal aktivitas yang signifikan di 18 Jam 16 Jam 14 Jam 30%-60% : 40%-70% 20%-60% : 40% - 80% 60%-80% : 20% - 40% % perumahan: % . unian yang . unian yng dikembangkan . unian yang dikembangkan non-perumahan dikembangkan adalah adalah hunian berimban. adalah hunian berimban. hunian berimban. Minimal 5 jenis: campuran Minimal 4 jenis: Minimal 2 jenis: utamanya perumahan komersial, campuran perumahan, perumahan dengan fasilitas perkantoran, budata atau komersial, perkantoran, penunjang baik untuk Jenis kegiatan pusat hiburan, dan fasilitas budaya baik dalam satu penghuni maupun pemanfaatan ruang publik lainnya baik dalam bangunan atau bangunan masyarakat yang satu bangunan atau tersendiri dalam kawasan menggunakan moda bangunan tersediri dalam TOD transportasi umum. kawasan TOD Karakteristik Regional Regional Komunitas, lokal Bangunan tinggi . Ketinggian sedang . idapartemen dengan ketinggia ris. , ketinggian rendah Ketinggian sedang . idTipe hunian sedang . ow-ris. , sedikit ris. , ketinggian rendah appartement. , dan bangunan tinggu . ow-ris. , townhouse ris. dan townhouse Target unit hunian 000 Ae 30. 000 Ae 15. 500 Ae 10. Target jumlah 000 Ae 150. 000 Ae 30. Kepadatan Populasi >750 jiwa/ha 450 -1500 jiwa/ha 350-1000 jiwa/ha Tipologi Tod SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 TOD Kota-Pusat Pelayanan Kota Pekerja >200/ha Intensitas Pemanfaatan Ruang >5. 0 (KLB tidak melampaui KLB daya dukung lingkunga. Pola kepadatan Tertinggi Minimum kepadatan Kepadatan hunian 20-75 unit/1. Jumlah lantai >11-40 atau lebih Maks. Tutupan lahan (Land 80% (RTH privat minimal Converag. KDB bisa lebih kecil Min. AoStreet TOD Sub Kota-Sub Pusat Pelayanan Kota 40-200/ha TOD Lingkungan-Pusat Pelayanan Lingkungan 12-40/ha Sangat tinggi Kepadatan hunian 12-38 unit/1. >3-15 Tinggi-sedang Kepadatan hunian 15-20 unit/1. >2-8 70% (RTH privat minimal 70% (RTH privat minimal Ruang terbuka minimal regional, taman skala komunitas sesuai standar pelayanan area terbuka 1015% di luar RTH publik 20% kawasan pengembangan Taman skala komunitas, taman lingkungan sesuai standar pelayanan. Area terbuka 10-15% di luar RTH publik 20% kawsan Taman skala komunitas, taman lingkungan sesuai standar pelayanan dan plaza. Area terbuka 10-15% di luar RTH publik 20% kawasan 1 parkir/unit 1,5 parkir/unit 2 parkir/unit 1 parkir/100m2 2 parkir/100m2 3 parkir/100m2 10% luas kapling 15% luas kapling 20% luas kapling Shared . arkir bersam. Shared . arkir bersam. Tipologi Tod FrontageAo Ruang Terbuka Tipologi ruang terbuka minimal Parkir Maksimum parkir Maksimum parkir retail/kantor Maksimum parkir Lt. Shared . arkir bersam. Terdapat parkir untuk Pola parkir sepeda yang luas, aman, nyaman dan dekat dengan pintu masuk stasiun transit Fasilitas park & ride masih Park & ride Alokasi ruang untuk sistem transit Ruang untuk moda transit Heavy rail transit. Light rail transit. BRT. Bus Lokal. (Ferry dimungkinka. Pola jaringan jalan Dimensi blok 70-130 meter Rencana/perancangan kawasan TOD harus mengalokasikan ruang untuk Pola jaringan pengembangan pola jaringan sistem transit yang Mengintegrasikan fungsi hunian dan perkantoran baru dengan intensitas Aspek lain yang pemanfaatan ruang tinggi kedalam kondisi terbangun saat ini. Pengembangan lingkungan yang mengutamakan penggunaan moda transportasi tidak Berada di belakang bangunan dan diperbolehkan on street parking tapi tidak boleh terletak antara jalan umum dan facodede pembangunan Tidak Heavy rail transit, light rail transit. BRT, bus lokal . erry dimungkinka. Light rail transit. BRT, bus lokal, bus feeder . ada beberapa kasus, commuter laine dapat melayani TOD jenis in. 70-200 meter Rencana/perancangan kawasan TOD harus mengalokasikan ruang untuk pengembangan pola jaringan sistem transit yang terintegrasi 70-270 meter Rencana/perancangan kawasan TOD harus mengalokasikan ruang untuk pengembangan pola jaringan sistem transit yang Mengintegrasikan hunian dengan intensitas tinggi kedalam hunian dan perkantoran terbangun. Pengembangan lingkungan yang penggunaan transportasi tidak bermotor Memperluas peluang retail skala lokal, meningkatkan hunian kepadatan tinggi. Pengembangan lingkungan yang mengutamakan penggunaan moda transportasi tidak bermotor. Sumber: PemenATR/KabBPN No. 16 Tahun 2017 SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani METODE Dalam penelitian ini, menggunakan pendekatan positivisme, pola berpikir deduktif, metode Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu desain penelitian, didefinisikan sebagai penelitian yang memuat angka dari pengumpulan data, penafsiran data serta data hasil Dengan demikian, pada tahap kesimpulan lebih baik ditampilkan dengan disertai gambar, tabel, garfik dan tampilan lainnya (Noor, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan positivisme karena filsafat positivisme didasarkan pada metodelogi dengan penggambaran umum dari pengamatan langsung serta hasil menggunakan metode statistik. Pada umumnya, filsafat positivisme digunakan dalam ilmu alam dan berfungsi sebagai metode dasar yang kritis dan objektif. Hal tersebut merupakan pendekatan yang mencakup berbagai hal mengenai filsafat ilmu alam seperi tidak berubah, hukum universal dan pandangan yang terjadi di alam (Hasanah, 2. Pendekatan deduktif dugunakan untuk mengembangkan hipotesis atau asumsi yang dirumuskan berdasarkan teori yang sudah ada sebelumnya, yang kemudian diuji melaui pendekatan Pendekatan deduktif dianggap sangat relevan dengan pendekatan positivistik yang dimana dapat memungkinkan perumusan hipotesis dan pengujian statistik dari hasil ke tingkat probabilitas yang diterima. Pendekatan berfikir deduktif ini ditandai sebagai pengembangan dari hal yang umum ke hal yang khusus yang dimana teori umum dan basis pengetahuan dikembangkan kemudian pengatahuan khusus yang didapatkan dari proses penelitian dilakukan uji. Pendekatan deduktif menggunakan kusioner memungkinkan peneliti menciptakan suatu pemahaman berdasarkan hasil pengamatan untuk membandingkan pemahaman yang berbeda melalui data empiris (Hasanah, 2. Pengumpulan data dilakukan dnegan observasi secara langsung pada Lokasi serta menggunakan kuesioner untuk mengethaui persepsi pengguna BRT. Sedangkan untuk sampel diperoleh dengan menggunakan rumus Lemenshow dapat dilihat sebagai berikut: Oe P) Dimana: n = Jumlah sampel Z = Skala z pada kepercayaan 95% atau 1,96 P = Makimal estimasi 50% d = Tingkat kesalahan 10% Sehingga perhitungan dengan rumus lemenshow, sebagai berikut: 0,5. Oe 1,. 3,8416 . 0,5. 0,9604 = 96,04 = 97 Berdasarkan pada perhitungan jumlah populasi yang tidak diketahui secara pasti dengan menggunakan rumus Lemenshow tersebut didapatkan sampel dari total populasi di koridor 7 adalah 97 sampel dengan tingat kesalahan sebesar 10%. Untuk menghindari ketidakvalidan pada sampel maka dalam penelitian ini sampel yang digunakan berjumlah 107 sampel. Penambahan sampel tersebut digunakan untuk memastikan keakuratan hasil data penelitian. Penelitian ini menggunakan dimana stratified random sampling yaitu proses dalam pengambilan sampel yang melalui proses pembagian populasi ke dalam strata, kemudian memiliki sampel secara acak sederhana dari setiap strata dan menggabungkan dalam sebuah sampel untuk memperkirakan parameter populasinya. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 Sampel yang dapat mewakili merupakan sampel yang benar-benar dapat menggabarkan karakteristik seluruh populasi. Jika dalam populasi bersifat homogen, maka sampel dalam populasi tersebut dapat diambil dari populasi yang mana saja. Sedangkan jika dalam populasi bersifat heterogen dari populasi, maka sampel yang diambil harus dapat mewakili dari setiap bagian populasi heterogen tersebut. Dilakukan perhitungan skoring awal untuk mengetahui kesesuaian halte yang dapat mewakili jumlah sampel dari masing Ae masing halte. Berikut merupakan perhitungan skoring dari 55 halte dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Klasifikasi Kesesuaian Halte Density Nama Halte Design Kepadatan KDB Bangunan Diversity Fasilitas Fasilitas Waktu Total Kategori KLB Ruas Jalan Kaligawe Raya Terboyo Indogrosir A Kawasan Industri Genuk Sari Polsek Genuk Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Ruas Jalan Wolter Mangonsidi Pasar Genuk A Pasar Genuk B Pesantren Robbi Kecamatan Genuk Gedung Biru SMK Cut Nyak Dien Sambung Harjo A Sambung Harjo B Sedayu Tugu A Sedayu Tugu B Sedayu Sawo Bangetayu A Bangetayu B Gasem Aneka Jaya A Aneka Jaya B Masjid Panut Jaten Tlogomulyo Ganesha Poltekes Ruas Jalan Soekarno - Hatta Palebon A Palebon B Kesatrian A Kesatrian B AMNI A AMNI B Supriyadi A Supriyadi B SPBU Tlogosari A SPBU Tlogosari B Tambakboyo A Tambakboyo B USM A USM B Politeknik PU A SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani Density Nama Halte Politeknik B SPBU Mas Gajah A Pandansari A Pandansari B Design Kepadatan KDB Bangunan Diversity Fasilitas Fasilitas Waktu KLB Total Kategori Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Ruas Jalan Citarum Panti Wiloso A Panti Wiloso B Bugangan Widoharjo A Widoharjo B Ruas Jalan Pengapon Pengapon Penjaringan Ruas Jalan Raden Patah Posis Raden Patah Sumber: Analisis Penyusun, 2024 Berdasarkan pada tabel diatas, diketahui masing Ae masing halte disetiap ruas termasuk dalam ketegori rendah. Karena halte bersifat homogen maka diambil sampel halte yang mewakili tiap ruas koridor 7 masing Ae masing berjumlah 1 halte dengan melakukan propotional stratified random sampling. Populasi halte tiap ruas dalam kategori rendah dan populasi penumpang yang didapatkan dari hasil perhitungan rumus Lemenshow, maka pengembilan sampel halte dan sampel penumpang dapat dilihat padaa Tabel 7 Tabel 7. Proporsi Sampel Tiap Ruas Jalan Ruas Nama Jalan Total Kaligawe Raya Wolter Mangonsidi Soekarno - Hatta Citarum Pengapon Raden Patah Jumlah Halte Klasifikasi Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sampel Halte Nama Halte Sampel Halte Terboyo Halte Gedung Biru Halte Palebon A Halte Widoharjo A Halte Pengapon Halte Raden Patah Sumber: Analisis Penyusun, 2024 Teknik analisis pada penelitian ini terbagi menjadi tiga tahapan yaitu: Analisis spasial buffer, digunakan untuk mengetahui karakteristik tata guna lahan wilayah studi dalam radius 800 meter. Analisis skoring, digunakan untuk menganalisis kesesuaian halte koridor 7 berdasarkan hasil analisis karakteristik tata guna lahan yang kemudian hasil tersebut diintepretasikan dalam rentang nilai kesesuaian menurut Ewing dan Carvero . Rentang nilai tersebut menyatakan bahwa hasil kesesuaian 0 Ae 49% termasuk dalam ketegori rendah berdasarkan prinsip TOD, 50 Ae 74% termasuk dalam kategori sedang berdasarkan prinsip TOD dan 75 Ae 100% termasuk dalam kategori tinggi berasarkan prinsip TOD. Analisis deskriptif, berupa distribusi frekuensi digunakan untuk mengelompokkan hasil survei responden dalam suatu kelas interval. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 HASIL Analisis Karakteristik Tata Guna Lahan Analisis karakteristik tata guna lahan menjadi langkah awal guna memahami kesesuaian penerapan dengan prinsip TOD. Hasil karakteristik tata guna lahan kawasan 6 halte dalam radius 800-meter dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Karakteristik Tata Guna Lahan di 6 Halte Analisis Terboyo Kepadatan (Densit. Kepadatan Bangunan 14,19 . nit/h. KDB (%) KLB 0,57 Keberagaman (Diversit. Perumahan %: Non Perumahan 1%: 99% Gedung Biru Palebon A Widoharjo A Pengapon Raden Patah 23,29 31,00 33,12 33,50 0,10 0,30 0,62 0,58 0,61 87%: 13% 87%: 13% 61%: 39% 35%: 65% 44%: 56% Sumber: Analisis Penyusun, 2025 Untuk prinsip Design dilakukan obervasi lapangan dan didapatkan hanya beberapa halte yang memberikan infrastruktur pejalan kaki yang terbentuk secara fisik. Pengembangan kawasan sekitar pada 6 halte tersebut sebagian berjalan mendukung pengembangan yang disampaikan oleh Peter Calthrope . berupa urban TOD dan neighborhood TOD. Dimana urban TOD merupakan pengembangan kawasan dengan jaringan transportasi publik yang terintegrasi dengan guna lahan Pada hal ini, 6 halte yang menjadi jaringan transportasi publik tersebut dapat menunjukkan kawasan yang terintegrasi dengan keberagaman guna lahan. Sedangkan neighborhood TOD merupakan pengembangan kawasan yang memiliki konektivitas transportasi lokal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendukung pergerakan mobilitas aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda. Pada kawasan sekitar halte, guna lahan setelah transit dalam 800 meter beberapa didominasi oleh permukiman, sehingga hal tersebut dapat mendukung pergerakan yang terkoneksi dengan transportasi lokal serta mobilitas aktif. Hal ini juga sejalan dengan pandangan dari Florida TOD Guidebook . bahwa transit core sebagai area inti sekitar halte dan transit neighborhood ditujukan untuk pengembangan kawasan permukiman bertingkat yang terletak setelah pusat transit (Agustin & Hariyani, 2. Secara keseluruhan, 6 kawasan sekitar halte dapat menunjukkan kebergaaman . meskipun belum ideal sesuai prinsip TOD, kepadatan bangunan . yang masih rendah dan design untuk beberapa halte yang kurang ramah untuk aksesibilitas menuju halte dan kawasan sekitar. Analisis TOD Sesuai Karakteristik Halte Kesesuaian halte merupakan hasil dari penilaian masing Ae masing kriteria pada variabel yang dilakukan dengan skoring. Nilai 1 diberikan untuk halte yang sesuai kriteria dan nilai 0 dilberikan untuk halte yang tidak sesuai dengan kriteria. Untuk mendapatkan persentase sempurna 100%, halte harus memenuhi total 7 poin. Berikut merupakan hasil dari kesesuaian halte berdasarkan karakteristik yang dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Kesesuaian 6 Halte No. Halte Halte Terboyo Kesesuaian Total Kategori Rendah Halte Gedung Biru Rendah SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani No. Halte Halte Palebon A Kesesuaian Total Kategori Rendah Halte Widoharjo A Rendah Halte Pengapon Rendah Halte Raden Patah Rendah Sumber: Analisis Penyusun, 2025 Menurut Carvero . , karakteristik kawasan TOD terdapat prinsip 3Ds yang meliputi Kepadatan (Densit. Kebergaman (Diversit. dan Desain (Desig. Prinsip kepadatan dapat berupa kepadatan bangunan. KDB dan KLB. Prinsip keberagaman berupa penggunaan lahan mix-used di kawasan yang meliputi penggunaan lahan perumahan, perkantoran, fasilitas umum, perdagangan dan jasa. Serta prinsip desain berupa ketersedian fasilitas pejalan kaki. Ketidaksesuaian dalam prinsip diversity dan density tersebut menjadi suatu tantangan utama dalam implementasi TOD di kawasan sekitar halte. Tidak adanya fungsi campuran atau keberagaman dalam kawasan sekitar halte dan rendahnya kepadatan bangunan dapat menghambat kawasan sekitar halte untuk menciptakan lingkungan yang aktif dan berorientasi pada transportasi massal. Hal tersebut juga dapat mengurangi daya tarik pada area inti halte. Hal tersebut sejalan dengan temuan penelitian bahwa suatu wilayah atau negara dengan kepadatan rendah yang berorientasi pada kendaraan pribadi dan telah menerapkan prinsipprinsip TOD, mereka telah dihadapkan pada berbagai tantangan. Studi kasus dalam penerapan TOD sering kali menunjukkan hasil yang beragam dalam mencapai manfaat yang dituju. Bahkan di negara Ae negara dengan kepadatan tinggi dalam pelaksanaan TOD tetap mengalami sejumlah tantangan dalam mengimplemntasikan . , the Neterlands. Hongkong dalam Thomas. Ren. Luca, 2. Analisis Persepsi Pengguna Total item yang diajukan untuk mengukur persepsi responden adalah 11 dengan nilai tertinggi berada di skor 5 dan nilai terendah di skor 1. Apabila halte memiliki nilai yang tertinggi pada semua item instrumen, maka total yang diperoleh adalah 55 sedangkan untuk halte yang memiliki nilai terendah pada semua item instrumen adalah 11. Dilakukan perhitungan distribusi frekuensi untuk mengelompokkan data dalam beberapa ketegori. Dalam hal ini perhitungan distribusi frekuensi untuk mengelompokkan data kedalam 5 Perhitungan untuk interval kelas dapat dilakukan sebagai berikut: ! " Interval kelas = Interval kelas = Interval kelas = #$% & ' Interval kelas = 8,8 Berdasarkan pada perhitungan tersebut, maka jarak nilai terendah dan nilai tertinggi dalam suatu kelas adalah 8,8. Berikut merupakan nilai interval kelas yang digunakan untuk mengetahui kategori setiap total skor yang didapatkan pada halte dari persepsi penumpang. Adapun rinciannya dapat dilihat pada Tabel 10. SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Transit Oriented Development pada Rute BRT Trans Jateng Koridor 7 Tabel 10. Intervasl Kelas Persepsi Penumpang Kelas Interval 49,2 - 55 40,4 Ae 49,2 30,6 Ae 39,4 20,8 Ae 29,6 11 Ae 19,8 Keterangan Sangat Sesuai Sesuai Cukup Tidak Sesuai Sangat Tidak Sesuai Sumber: Analisis Penyusun, 2025 Total hasil skor yang dinilai oleh 107 penumpang adalah 3. 541 dengan hasil akhir 33,09. Angka tersebut menunjukkan bahwa halte koridor 7 berdasarkan klasifikasi persepsi penumpang adalah cukup sesuai berdasarkan prinsip TOD. Untuk pendetailan dari masing Ae masing halte yang menjadi sampel dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11. Hasil Survei Persepsi Penumpang Halte Terboyo Ged. Biru Palebon A Widoharjo A Pengapon Raden Patah Total Nilai Sampel Hasil Akhir Keterangan Cukup Sesuai Cukup Sesuai Cukup Sesuai Cukup Sesuai Cukup Sesuai Cukup Sesuai Sumber: Analisis Penyusun, 2025 Berdasarkan pada tabel diatas, didapatkan hasil bahwa skor akhir dari masing Ae masing halte dengan interval kelas yang telah ditentukan termasuk dalam ketegori cukup sesuai menurut persepsi penumpang dalam menerapkan TOD. Setiap halte memiliki hasil skor dominan yang berbeda sehingga dapat mencerminakan karakteristik setiap halte sesuai dengan persepsi penumpang. Temuan Studi Pada analisis skoring didapatkan hasil bahwa kawasan sekitar halte di koridor 7 termasuk dalam kategori rendah berdasarkan prinsip TOD, sedangkan pada hasil survei persepsi penumpang didapatkan hasil bahwa kawasan sekitar halte termasuk dalam kelas cukup sesuai dalam mendukung penerapan TOD. Perbedaan pada hasil temuan tersebut diakibatkan karena perbedaan indikator yang digunakan. Pada analisis skoring indikator yang digunakan menggunakan prinsip TOD 3D yang meliputi Density. Diversity dan Design dari hasil sintesa literatur Carvero . dan Florida TOD Guidebook . Sedangkan pada analisis survei persepsi penumpang pada 6 halte menggunakan indikator 8 prinsip ITDP . Hasil penilaian survei persepsi penumpang dipengaruhi oleh kebutuhan di kawasan sekitar halte atau pengalaman pribadi saat berada di kawasan sekitar halte. KESIMPULAN Secara keseluruhan 6 halte yang ada di koridor 7 dapat menunjukkan kebergaaman lahan . meskipun belum sesuai proporsi prinsip TOD. Keberagaman tersebut meliputi permukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran, fasilitas umum dan industri. Terdapat beberapa halte yang didominasi oleh permukiman, terdapat halte yang didominasi oleh industri dan terdapat halte yang didominasi oleh perdagangan dan jasa. Adanya keberagaman tersebut yang berada di radius 800 m dari transit dapat mendorong pergerakan yang berorientasi dengan transportasi publik. Sedangkan, kepadatan bangunan . yang masih rendah dan design yang kurang ramah untuk aksesibilitas menuju halte dan aktivitas di sekitar kawasan halte dapat menghambat pergerakan yang berorientasi terhadap transportasi publik. Hal tersebut mengakibatkan bahwa kesesuaian halte di koridor 7 dalam ketegori rendah berdasarkan prinsip TOD. Namun, hasil lain menunjukkan bahwa menurut persepsi SARGA - VOLUME 19. NO. JULY 2025 Agus Sarwo Edy Sudrajat. Lani Aulia Maharani penumpang yang berada di kawasan sekitar halte ditemukan bahwa persepsi penumpang menujukkan halte di koridor 7 termasuk dalam kelas cukup sesuai dalam penerapan TOD. DAFTAR PUSTAKA Agustin. , & Hariyani. Penerapan AuTransit Oriented DevelopmentAy di Kawasan Tugu Ae Kertanegara. Kota Malang. Jurnal Pembangunan Wilayah Dan Kota, 18. , 76Ae97. https://doi. org/10. 14710/pwk. 33836 https://doi. org/10. 14710/pwk. Al Javier. Arman Pratama. Sukma. Kirani. Putra. Hadiwijaya. Janitra Berliana. Wening. Setyowati. Ramadani. Alzena. Trianto. , & Husna. Pengaruh Tutupan Lahan Terhadap Urban Index Kota Semarang. Prosiding Seminar Nasional FISIP UNNES, 29Ae Arif. , & Manullang. Kesesuaian Tata Guna Lahan Terhadap Penerapan KonsepTransit Oriented Development (TOD) Di Kota Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah Dan Kota, 13. , 301Ae Arifin. Kesesuaian Konsep Transit Oriented Development (TOD) Pada Kawasan Stasiun Kota Baru Malang (Skripsi Thesis. ITN Malan. Calthorpe. The next American metropolis (Vol. New York: Princeton Architectural Press. Citra Pramesti. , & Wahjoerini. Pengaruh Penggunaan Lahan Terhadap Kinerja di Perempatan Jalan Wolter Monginsidi. Indonesian Journal Spatial Planning, 3. , https://doi. org/10. 26623/ijsp. Deng. Ma. , & Nelson. Measuring the impacts of Bus Rapid Transit on residential property The Beijing Research Transportation Economics, 60, https://doi. org/10. 1016/j. Devi. Putro. , & Hariyanto. Tingkat kemacetan lalu Lintas ruas jalan Semarang-Demak Kecamatan Genuk Kota Semarang. Geo Image, 1. , 104Ae110. Imma Widyawati Agustin. Transit Oriented Development: Teori. Metode dan Implementasi Sebagai Solusi Mengatasi Keruwetan Transportasi. UB Press Kamila. Mulyanto. , & Trilusianthy. Analisis Kesesuaian Karakteristik Lokasi Berbasis Transit Oriented Development (To. Pada Titik Transit Brt Trans Semarang. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan (JISIP), 7. , 2308Ae2318. https://doi. org/10. 58258/jisip. Nufus. Kesesuaian Kawasan Transit Halte Trans Koetaradja Koridor 3A terhadap Kriteria TOD Berdasarkan Aspek Density Suitability of Trans Koetaradja Corridor 3A Bus Stop Transit Area According to TOD Criteria Based on Density Aspect. 8, 6Ae16. https://doi. org/10. 24815/jimap. Nur. Rangan. Mahyuddin. Halim. Tumpu. Sugiyanto. , . & Rosyida. Sistem transportasi. Pramesti. , & Wahjoerini. Pengaruh Penggunaan Lahan Terhadap Kinerja Jalan Di Perempatan Jalan Wolter Monginsidi. Indonesian Journal of Spatial Planning, 3. , 1-8. https://doi. org/10. 26623/ijsp. Silitonga. , & Darlin. Analisis Interaksi Tata Guna Lahan Terhadap Ketersediaan Parkir Dan Skenario Pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT)(Studi Kasus Pasar Besar Kota Palangka Ray. Jurnal Teknika: Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Keteknikan, 1. , 33-40. Tamin. Public transport demand estimation by calibrating a trip distributionAamode choice (TDMC) model from passenger counts: A case study in Bandung. Indonesia. Journal of advanced transportation, 31. , 5-18. https://doi. org/10. 1002/atr. Tamin. Sjafruddin. , & Purwanti. Public Transport Demand Estimation by Calibrating The Combined Trip Distribution-Mode Choice (TDMC) Model from Passenger Counts: A Case Study in Bandung. Indonesia. the 4th Proceedings of the Eastern Asia Society for Transportation Studies. Thomas. , & Bertolini. Transit-Oriented Development. Cham. Switzerland: Springer International Publishing. https://doi. org/10. 1007/978-3-030-48470-5 Wright. , & Fulton. Climate change mitigation and transport in developing nations. Transport Reviews, 25. , 691-717. https://doi. org/10. 1080/01441640500360951 UCAPAN TERIMA KASIH