J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA MASA PANDEMI Santimina Zebua. Tantri Yulia. Fianus Tandiongan Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Agama Kristen Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega: santiminazebua@gmail. Dosen STT Kristus Alfa Omega: tantri703@gmail. fianustandiongan72@gmail. Abstract There is an allegation that the discovery learning model in faith lessons at the sixth grade in Daniel Creative School Semarang has not been maximized. This is because most students are still unable to solve existing problems, are less actively involved and open themselves to new things that were not known before. This study aims to determine the effectiveness of the discovery learning model in learning faith (Christian religion lesson. during the pandemic. The methodology used is descriptive quantitative. Based on the hypothesis test, it was found that the level of effectiveness of the discovery learning model in faith lessons at the sixth grade in Daniel Creative School Semarang was in the good category, namely 79. Key Word: Effectiveness. Learning Model. Discovery Learning. Pandemic Period PENDAHULUAN Indonesia saat ini tengah dijajah oleh pandemi Covid 19, di mana dunia pendidikan ikut merasakan dampaknya. Selama masa pandemi Covid 19 pembelajaran di rumah atau online menjadi solusi melanjutkan sisa semester. Pembelajaran online didefinisikan sebagai pengalaman transfer pengetahuan menggunakan video, audio, gambar, komunikasi teks, perangkat lunak dan dengan dukungan jaringan internet. 1 Terdapat beberapa masalah atau kendala yang dihadapi peserta didik pada pelaksanaan pembelajaran pada masa pandemi ini, seperti biaya, motivasi belajar, layanan, umpan balik, kurangnya pengalaman serta kebiasaan. Kurangnya interaksi yang efektif, minimnya pengorganisasian merupakan salah satu yang menjadi kendala pembelajaran jarak jauh, pembelajaran jarak jauh yang efektif tentu harus didukung dengan konten yang diberikan, fasilitas koneksi internet serta perhatian dan ketersediaan yang cukup besar. 2 Untuk itu, kondisi pembelajaran yang berlangsung di dunia pendidikan pada masa pandemi ini sangat mempengaruhi banyak hal. Pendidikan sangat menentukan kemajuan dan mutu bangsa. Kualitas pendidikan juga mempengaruhi kualitas bangsa. Bangsa yang maju memiliki pendidikan yang baik. 3 Jadi, kemajuan dan kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan yang baik. Salah satu lembaga pendidikan yang mampu menggali potensi dan pengetahuan yang dimiliki peserta didik ialah sekolah. Luh Devi Herliandry et al. AuPembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19,Ay JTP-Jurnal Teknologi Pendidikan 22, no. : 65Ae70. Selvy Windy Lestari. AuKendala Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (Pj. Dalam Masa Pandemi Ditinjau Dari Media Pembelajaran,Ay Jurnal Ilmu Pendidikan 2, no. : 13Ae24. Jejen Musfah. Analisis Kebijakan Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2. , 6. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 Sekolah diartikan sebagai AutamanAy yaitu tempat di mana peserta didik memperoleh transfer ilmu pengetahuan . , transfer nilai . dalam konteks kehidupan nyata dan tempat dimana peserta didik dapat mengembangkan bakat, minat, rasa ceria untuk belajar menjadi manusia yang berilmu, berasa bebas untuk menjadi manusia yang diinginkannya dalam suasana yang nyaman. Maka dari itu, pembelajaran yang terlaksana tidak hanya berhenti pada proses kecerdasan dan pengembangan intelektual yang bertumpu pada aspek kognitif saja, tetapi lebih kepada pertumbuhan dan perkembangan bakat peserta didik sehingga peserta didik juga mendapatkan kenyamanan dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga dapat terlaksana dengan efektif dan efisien. Model pembelajaran adalah prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran yang di dalamnya terdapat strategi, teknik, metode, bahan, media dan alat. 5 Oleh karena itu perlu adanya penggunaan model pembelajaran yang tepat guna mendukung proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan pada masa sekarang ini ialah model pembelajaran discovery learning. Discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi. Namun, faktanya model pembelajaran discovery learning pada pelajaran faith belum terlaksana dengan maksimal. Hal ini dikarenakan peserta didik yang mengikuti pembelajaran faith menggunakan model discovery learning ini sebagian besar masih belum dapat memecahkan suatu persoalan yang ada, kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan kurang membuka diri terhadap hal-hal baru yang belum diketahui sebelumnya. Hal ini juga dikarenakan karakteristik siswa yang berbeda-beda sehingga harus disesuaikan dengan materi ajar yang disampaikan dan waktu yang digunakan juga sangatlah terbatas. Selain itu, tidak semua peserta didik turut berperan aktif dalam proses pembelajaran faith ini. Siswa yang aktif ialah mereka yang tergolong dalam kategori siswa yang memiliki intelektual di atas rata-rata sehingga dengan tanggap dapat menanggapi sesuatu terkait dengan materi yang disampaikan. Dengan demikian, dengan diterapkannya model pembelajaran discovery learning ini diharapkan semakin memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan keingintahuan mereka akan sesuatu. Membantu peserta didik untuk memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya. Suranto. Inovasi Manajemen Pendidikan di Sekolah Kiat Jitu Mewujudkan Sekolah Nyaman Belajar (Surakarta: CV Kekata Group, 2. , 6. Shilphy A. Octavia. Model-Model Pembelajaran (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 12. Afria Susana. Pembelajaran Discovery Learning Menggunakan Multimedia Aktif (Bandung: Tata Akbar, 2. , 6. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 Idealnya metode discovery learning memiliki beberapa kelebihan yaitu: . Membantu peserta didik agar memperbaiki serta meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses kognitif, . Dapat meningkatkan kemampuan serta usaha peserta didik dalam memecahkan suatu masalah, . Mendorong peserta didik terlibat secara aktif, . Melatih peserta didik belajar secara mandiri, dan . Peserta didik aktif dalam kegiatan proses pembelajaran karena ia berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir. 7 Dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari model pembelajaran discovery learning ialah dapat membantu peserta didik belajar secara mandiri, membuat peserta didik berpikir secara kritis dan kreatif, serta melatih kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang luas tentang penerapan model discovery learning di masa kini. METODOLOGI Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu metode kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif adalah jenis penelitian yang menjelaskan fenomena dengan mengumpulkan data numerik yang dianalisis menggunakan metode berbasis matematika, utamanya statistik. 8 Jadi, metode penelitian kuantitatif ini merupakan jenis penelitian yang mengumpulkan data dalam bentuk angka sehingga dapat dianalisis secara statistik. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan studi deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan PEMBAHASAN Tujuan Pembelajaran Model Discovery Learning Berikut ini beberapa tujuan pembelajaran menggunakan model pembelajaran penemuan atau discovery learning, yakni sebagai berikut: Terlibat Secara Aktif dalam Pembelajaran Pada pembelajaran berbasis discovery learning, penemuan difokuskan pada active learning dan bukan passive learning. Artinya, siswa aktif dalam pembelajaran. Perubahan dari pembelajaran pasif ke pembelajaran aktif dimulai dengan guru memaparkan model pembelajaran, kemudian siswa Yudi Septiawan dan I Putu Yoga Purandina. Strategi dan Metode Pembelajaran Era Society 0 di Perguruan Tinggi (Jawa Barat: Goresan Pena, 2. , 142. Nikolaus Duli. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Beberapa Konsep Dasar Untuk Penulisan Skripsi & Analisis Data Dengan SPSS (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 4. I Made Sudarma Adiputra dan Ni Wayan Trisnadewi. Metodologi Penelitian Kesehatan (Yayasan Kita Menulis, 2. , 45. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 aktif menemukan dengan mencari informasi dimana guru sebagai mentor. 10 Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa dapat membangun pengalaman serta meningkatkan keaktifan belajarnya dalam menemukan informasi tertentu dengan menerapkan model pembelajaran penemuan. Berpartisipasi dalam Pembelajaran Partisipasi siswa dapat dibangun dengan melakukan beberapa kegiatan sesuai dengan tujuan Konsep yang dijalankan dalam pembelajaran yaitu upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mengikutsertakan siswa dalam kegiatan pembelajaran. 11 Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan. 12 Maka dari itu, keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk diperhatikan secara bersama-sama. Dengan siswa melibatkan dirinya dalam proses pembelajaran yang ada, maka tujuan yang diharapkan untuk dicapai siswa dalam model discovery learning akan terlaksana dengan baik. Melakukan Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two ways traffics sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dan 13 Oleh sebab itu, untuk terjalinnya hubungan timbal balik antar guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang ada, maka guru memberi kesempatan kepada siswa melakukan tanya jawab baik kepada sesama maupun kepada guru begitu pula sebaliknya, serta mengajak siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan adanya proses tanya jawab, tingkat level kemampuan berpikir siswa akan dapat terlihat sangat jelas. Ciri-Ciri Model Discovery Learning Ada beberapa ciri model discovery learning, antara lain: Mengeksplorasi Discovery Learning Meilani Safitri dan M. Ridwan Aziz. Model Pembelajaran Inovatif (Bandung: Media Sains Indonesia, 2. , 128. Suryo Hartanto. Lean Manufacturing Goes to School Menajamkan Work Skills Siswa SMK (Jawa Tengah: CV. Sarnu Untung, 2. , 44. Hari Wibowo. Model dan Teknik Pembelajaran Bahasa Indonesia (Depok: Puri Cipta Media, 2. , 16. Ani Kadarwati dan Vivi Rulviana. Pembelajaran Terpadu (Jawa Timur: Cv. Ae Media Grafika, 2. , 54. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 Dalam hal ini, siswa mencari dan mengumpulkan data/ informasi yang digunakan untuk menemukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi . encari atau merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah, terutama jika satu alternatif mengalami kegagala. Jadi, melalui model discovery learning ini sebaiknya guru memberikan studi kasus kepada siswa untuk diselesaikan, memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan materi bahasan dan mendampingi siswa dalam mencari informasi berkaitan dengan materi pelajaran. Memecahkan Masalah Penyelesaian atau pemecahan masalah adalah bagian dari proses berpikir. Sering dianggap sebagai proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan. Pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang perlu dilaksanakan agar memperoleh penyelesaian tertentu dari sebuah masalah yang mungkin tidak didapat dengan segera. Selain itu, pemecahan masalah juga diartikan sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan. 14 Oleh karena itu, untuk menemukan jawaban dari suatu permasalahan yang dihadapi maka seorang siswa harus mampu memecahkan masalah dengan cara yang tepat. Pembelajaran Berpusat pada Siswa Siswa haruslah menjadi pusat pembelajaran karena keberadaan institusi seperti sekolah dan seluruh sistem yang ada di dalamnya diperuntukkan untuk siswa. Untuk itu, berhasil tidaknya seorang guru ditentukan secara nyata oleh siswa. 15 Metode ini melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga bukan guru yang menjadi pusat pembelajaran melainkan siswa. Memberi ruang kepada siswa untuk belajar dengan membangun pengetahuan. 16 Maka, dalam proses pembelajaran menggunakan model discovery learning ini, pembelajaran berpusat pada siswa yang mana guru berperan sebagai fasilitator dengan tujuan agar siswa mampu menggali potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Menggabungkan Pengetahuan Baru dan Pengetahuan yang Sudah Ada Model pembelajaran ini mendorong siswa menemukan sendiri informasi pengetahuan kemudian mentransformasikan secara kompleks dan mengecek informasi baru dengan yang sudah Hariawan Bihamding. Perencanaan Pembangunan Partisipatif Desa (Yogyakarta: CV Budi Utama, 2. , 179. Muhammad Syukur Salman. Menjadi Guru Yang Dicintai Siswa (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 62. Nurdinah Hanifah dan J. Julia. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar Membedah Anatomi Kurikulum 2013 Untuk Membangun Masa Depan Pendidikan Yang Lebih Baik (Jawa Barat: UPI Sumedang Press, 2. , 72. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 17 Agar informasi bisa dipahami, seseorang harus menyatukan pengetahuan yang sudah ada di memorinya dengan pengetahuan baru. 18 Artinya melalui model pembelajaran discovery learning, siswa akan mampu menyesuaikan diri dengan hal-hal baru yang diberikan yang tidak terlepas dari bantuan guru. Manfaat Model Pembelajaran Discovery Learning Ada beberapa manfaat model pembelajaran penemuan, yakni: Memiliki Rasa Keingintahuan dalam Pembelajaran Penemuan Keingintahuan adalah reaksi ketertarikan terhadap sesuatu. 19 Rasa ingin tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar. Rasa ingin tahu merupakan bagian penting dari motivasi serta dapat mendukung dan membangun pengetahuan siswa. 20 Dalam proses pembelajaran, seorang siswa diharapkan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi agar ilmu yang diperoleh berkembang dan bertambah 21 Oleh sebab itu, rasa ingin tahu yang tinggi dari seorang siswa akan sangat mendorong mereka untuk menemukan jawaban dari suatu hal yang dirasa menarik untuk diketahui. Termotivasi Untuk Menemukan Jawaban Sendiri Model discovery learning merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menemukan sesuatu . eori atau konse. secara sistematis, logis dan analitis sehingga peserta didik dapat merumuskan sendiri dalam penemuannya dengan penuh percaya diri. 22 Pengajaran dengan metode penemuan berharap agar siswa benar-benar aktif belajar menemukan sendiri bahan yang dipelajarinya. Dengan menemukan sendiri konsep materi Saringatun Mudrikah dan Muhammad Rizal Pahleviannur. Perencanaan Pembelajaran di Sekolah: Teori dan Implementasi (Pradina Pustaka, 2. , 116. Puji Sumarsono dan Siti Inganah. Belajar dan Pembelajaran di Era Milenial (Malang: UMM Press, 2. , 66. Tien Asmara Palintan. Membangun Kecerdasan Emosi dan Sosial Anak Sejak Usia Dini (Bogor: Lindan Bestari, 2. , 67. Eko Suharyanto dan Yunus. Pendidikan Karakter yang Efektif di Era Milenial (Jawa Barat: Adab, 2. , 70. Das Salirawati. Smart Teaching: Solusi Menjadi Guru Profesional (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 202. Minhajul Ngabidin. Pembelajaran di Masa Pandemi. Inovasi Tiada Henti (Yogyakarta: Deepublish, 2. , 318. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 pembelajaran, siswa akan lebih memahami materi pembelajaran dan lebih lama mengingat materi pembelajaran serta lebih bermakna dalam kehidupan siswa. Bruner mengungkapkan bahwa siswa memiliki pengetahuan apabila menemukan sendiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya sendiri yang memotivasinya untuk belajar. 24 Jadi, dari beberapa pernyataan teori tersebut maka rasa percaya diri yang dimiliki oleh siswa sangat mempengaruhi sikap mereka untuk menemukan sendiri jawaban dari suatu persoalan yang ada. Dengan menemukan sendiri informasi-informasi yang berkaitan dengan pembelajaran yang diberikan, maka siswa akan dengan mudah mengerti materi pelajaran dan pengetahuannya akan semakin Mampu Menganalisis Menganalisis adalah kemampuan menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil sehingga diperoleh makna yang lebih dalam. Apabila kemampuan menganalisis tersebut berujung pada proses berpikir kritis sehingga seseorang mampu mengambil keputusan dengan tepat, orang tersebut telah mencapai level berpikir mengevaluasi . enemukan kekurangan dan kelebiha. Dapat disimpulkan bahwa analisis merupakan kemampuan yang harus dimiliki siswa dalam menguraikan sesuatu hal ke bentuk yang lebih sederhana dan khusus sehingga ditemukan jawaban akhir yang benar-benar tepat. Berpikir Kritis Kemampuan berpikir kritis merupakan komponen penting yang harus dimiliki siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan supaya siswa mampu membuat atau merumuskan, mengidentifikasi, menafsirkan dan merencanakan pemecahan masalah. 26 Kemampuan berpikir siswa sangat diperlukan sekali apalagi dilingkungan sekitar mereka tinggal. Karena dengan keterampilan berpikir kritis, siswa akan terbiasa menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan Aprilia Nurul Chasanah, 28 Cara Senang Belajar Matematika: Kumpulan Karya Ilmiah Matematika Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Tidar (Pustaka Rumah Cinta, 2. Anita Purba dan Asnewastri Asnewastri. Pengajar Profesional: Teori dan Konsep (Yayasan Kita Menulis, 2. , 37. Astrini Eka Putri. Model Penilaian Berbasis HOTS Pada Pembelajaran Sejarah (Jawa Tengah: Lakeisha, 2. , 34. Siddin dan Hamzah. Model Pembelajaran Kognitif Untuk Keterampilan Berpikir Kritis Siswa (Jawa Barat: Adab, 2. , 19. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 sekitar dan memudahkan mereka untuk memecahkan permasalahan yang ada. 27 Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa kemampuan untuk berpikir kristis sangat perlu untuk dimiliki oleh siswa dalam proses pembelajaran. Karena ketika siswa sudah mampu mencapai level berpikir kritis, siswa tersebut akan dengan mudah memecahkan masalah atau persoalan yang ada di Pembahasan Per-Item Melalui analisis data . er-ite. maka didapat sebanyak 5 item yang memiliki nilai penerapan tertinggi . % - 100%) adalah sebagai berikut: Guru memberikan tugas yang mampu untuk dikerjakan siswa. Dikatakan tertinggi karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebanyak 21 . siswa atau sebesar 80,8% dari 26 responden. Guru menghimbau siswa untuk mengumpulkan tugas tepat waktu. Dikatakan tertinggi karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 21 siswa . atau 80,8% dari 26 responden. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Dikatakan tertinggi karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 22 siswa . atau 84,7% dari 26 responden. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memunculkan ide-ide baru. Dikatakan tertinggi karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 21 . siswa atau sebesar 80,8% dari 26 responden. Guru memaparkan materi pelajaran dengan jelas. Dikatakan tertinggi karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 22 siswa . atau 84,7% dari 26 responden. Melalui analisis data . er-ite. maka didapat sebanyak 15 item yang memiliki nilai penerapan terendah . % - 80%) adalah sebagai berikut: Guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebanyak 16 . siswa atau sebesar 61,6% dari 26 responden. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 17 . siswa atau sebesar 65,4% dari 26 Yanti Fitria dan Widya Indra. Pengembangan Model Pembelajaran PBL Berbasis Digital Untuk Meningkatkan Karakter Peduli Lingkungan dan Literasi Sains (Yogyakarta: Deepublish, 2. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan temannya. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 18 . siswa atau sebesar 69,2% dari 26 responden. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi tentang pelajaran. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 20 . siswa atau sebesar 77% dari 26 responden. Guru mendampingi siswa dalam mencari informasi berkaitan dengan materi pelajaran. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 16 siswa . atau 61,5% dari 26 responden. Guru mendampingi siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 20 . siswa atau sebesar 76,9% dari 26 responden. Guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 17 . siswa atau sebesar 65,4% dari 26 responden. Siswa menyesuaikan diri dengan hal baru yang diberikan guru dalam pelajaran. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 16 . siswa atau sebesar 61,6% dari 26 responden. Guru menolong siswa memiliki pandangan baru. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 17 . siswa atau sebesar 65,4% dari 26 Guru memberitahukan hasil yang hendak dicapai siswa dalam pelajaran. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 19 . siswa atau sebesar 73,1% dari 26 responden. Guru memberikan contoh masalah sederhana yang berhubungan dengan materi pembahasan. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 18 . siswa atau sebesar 69,2% dari 26 responden. Guru mendorong siswa memanfaatkan sumber-sumber belajar yang ada. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 18 . siswa atau sebesar 69,2% dari 26 responden. Guru meminta siswa menceritakan kembali pelajaran yang diberikan. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab tidak setuju, sangat tidak setuju dan ragu-ragu yakni sebesar 17 . siswa atau sebesar 65,3% dari 26 responden. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 Guru memberi kesempatan remedial bagi siswa. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 19 . siswa atau sebesar 73,1% dari 26 Guru memberi penilaian terhadap pengalaman baru yang ditemukan siswa dalam pelajaran faith. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju yakni sebesar 18 . siswa atau sebesar 69,2% dari 26 responden. Melalui analisis data . er-ite. maka didapat sebanyak 2 item yang memiliki nilai penerapan terendah (C 60%) adalah sebagai berikut: Guru meminta siswa untuk menerangkan hasil belajarnya dalam kelas. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab tidak setuju, ragu-ragu dan sangat setuju sebanyak 13 siswa . atau 50% dari 26 responden. Guru melatih siswa memberikan saran terhadap pelajaran yang diterima. Dikatakan terendah karena jumlah responden yang menjawab setuju dan sangat setuju sebanyak 15 siswa . atau 57,7% dari 26 responden. Pembahasan Uji Hipotesis Oleh karena penelitian ini hanya menguji hipotesis deskriptif pada populasi, maka dalam penelitian ini tidak dilakukan uji signifikasi . Sehingga uji hipotesisnya dengan menggunakan perbandingan antara nilai hipotesis variabel efektivitas model discovery learning pada pelajaran faith di masa pandemi yang diperoleh dari perbandingan AA0 dengan rata-rata nilai empiris. Maka dilakukan dengan cara skor empiris dibagi dengan skor ideal dikali 100%. Hasil uji hipotesis dapat dilihat sebagai berikut: AA0 = (Nilai Hipotesi. y (Mean Skor Idea. Keterangan: Nilai hipotesis = 60% Mean skor ideal = . kor tertinggi tiap ite. umlah item variabe. umlah responde. : N = . y 22 y . : 26 = 2. 860 : 26 = 110 AA0 = . %) y 110 = 66 Jadi nilai hipotesis (AA. dari variabel efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi adalah 60% atau sama dengan 66. Selanjutnya dilakukan perhitungan nilai rata-rata empiris . ean skor empiri. , adapun hasilnya seperti di bawah ini: Mean skor empiris = . otal skor empiri. : . umlah responde. = 2269 : 26 J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 = 87,2 Berdasarkan perbandingan nilai AA0 adalah 60% atau sama dengan 66, sedangkan mean skor empiris adalah 87,2. Dengan demikian diketahui bahwa nilai hipotesis (AA. 60% atau sama dengan 66, tidak sama dengan nilai skor empiris yaitu 87,2. Atau dengan arti lain nilai skor empiris terbukti lebih besar dari nilai hipotesis (AA. Jadi, hipotesis bahwa H0: diduga tingkat efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi berada dalam kategori sedang atau O 60% dari nilai maksimum ditolak dan Ha: diduga tingkat efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi adalah tidak berada dalam kategori sedang atau > 60% dari nilai maksimum diterima. Selanjutnya untuk mengetahui nilai variabel efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi dapat dilakukan dengan cara berikut: Oc Skor_Empiris Nilai_Hipotesis = y 100% Oc Skor_Ideal Keterangan: Total skor empiris = skor total data variabel = 2269 Total skor ideal = . kor tertinggi tiap ite. umlah item variabel X) y . umlah responde. = 5 y 22 y 26 = 2860 Harga % Variabel X = . 9 : 2. y 100% = 79,3% Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh nilai prosentase efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi adalah 79,3% selanjutnya nilai ini akan diinterpretasikan dengan tabel interpretasi hipotesis di bawah ini: Prosentase Makna Sangat Tidak Baik Tidak Baik Sedang Baik Sangat Baik Tabel 1 Pedoman Untuk Interpretasi Makna Prosentasi Deskriptif28 Gidion Joshua. Penelitian Terhadap Hubungan Persepsi Gembala Sidang Tentang Pemimpin Hamba Dengan Keberhasilan Memimpin Gereja Lokal (Semarang: 2. , 113. J T S 2022 (JOURNAL OF THEOLOGICAL STUDENTS) VOLUME 11 NOMOR 2 KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian terhadap efektivitas model pembelajaran discovery learning pada masa pandemi, maka hasil yang diperoleh melalui penelitian dan analisis data dalam penelitian secara kuantitatif dengan nilai efektivitas model pembelajaran discovery learning yaitu 79,3% dapat diinterpretasikan dalam kategori baik . Hal ini dipengaruhi oleh pelaksanaan model discovery learning dalam proses pembelajaran yang mendorong siswa semakin aktif, percaya diri dan disiplin untuk melakukan hal-hal baru. DAFTAR PUSTAKA