(JKN) JURNAL KESEHATAN NASIONAL https://jurnal. id/index. php/jkn DOI Prefix 10. e-ISSN a Vol. 1 No. 1 (November, 2. Diterima Redaksi: 10-10-2025 | Selesai Revisi: 10-11-2025 | Diterbitkan Online: 21-11-2025 Case Study Evidance Based Practice Diare pada Pasien Anak Ansietas dengan Intervensi Terapi Bermain Puzzle Iwan Sarwanto1. Winarsi Molintao2 Program Studi Profesi Ners. Fakultas Keperawatan. Universitas Pembangunan Indonesia. Manado. Indonesia Email: 1iwansarwanto04@gmail. Abstract Seen from the age group diarrhea spread in all age groups with the highest prevalence in toddlers . -4 year. which is 16. 7% and if according to gender between boys and girls is almost the same, which is 8. 9% for boys 9. 1% for girls. The purpose of this case study is to find out the description of the provision of nursing care for diarrhea in pediatric patients and therapy using puzzle play interventions. The method used in this scientific paper is a research methodology in the form of a case study that describes the condition of a child with pre-school age . -6 year. who suffers from diarrhea with anxiety. The tool used to collect data is SCAS (Spance Children's Anxiety Scal. this scale consists of 28 anxiety questions This scale is equipped with asking parents to follow the instructions on the instrument sheet. It is known that the patient experienced anxiety about hospitalization based on subjective data Mrs. N said this was the first time An. H was hospitalized, her child was fussy and often cried, when examined An. p looked afraid when meeting the nurse. And objective data An. looked restless and tense when the nurse came An. hugged his mother and wouldn't let go, had difficulty concentrating when invited to play. Based on the results of anxiety measurements using the SCAS (Spence Children's Anxiety Scal. , the result was 55 with an interpretation of moderate Keywords: Diarrhea. Pediatric Nursing. Puzzle Play Therapy Abstrak Dilihat dari kelompok usia diare menyebar pada semua kelompok usia yang prevalensinya paling tinggi terdapat pada balita . -4 tahu. yakni 16,7% dan jika sesuai jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan hampir sama, yakni 8,9% untuk laki-laki 9,1% untuk perempuan. Tujuan studi kasus ini dapat mengetahui gambaran pemberian asuhan keperawatan diare pada pasien anak dan terapi memakai intervensi bermain Metode yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini adalah metodelogi penelitian dalam bentuk studi kasus yang menggambarkan kondisi satu anak dengan usia pra sekolah . -6 tahu. yang menderita diare dengan kecemasan. Alat yang digunakan untuk mengambil data adalah SCAS (Spance Children's Anxiety Scal. skala ini terdiri dari 28 pertanyaan kecemasan Skala ini dilengkapi dengan meminta orang tua untuk mengikuti petunjuk pada lembar instrumen. Diketahui pasien mengalami kecemasan hospitalisasi berdasarkan data subjektif Ny. N mengatakan ini pertama kalinya An. H dirawat dirumah Penulis Korespondensi: Iwan Sarwanto | iwansarwanto04@gmail. Iwan Sarwanto. Winarsi Molintao JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. sakit, anaknya rewel dan sering menangis, saat dikaji An. p tampak takut ketika bertemu dengan perawat. Dan data objektif An. tampak gelisah dan tegang saat perawat datang An. memeluk ibunya dan tidak mau lepas. Sulit berkonsentrasi saat diajak Berdasarkan hasil pengukuran kecemasan dengan menggunakan SCAS . pence childrenAos anxiety scal. didapatkan hasil 55 dengan intrepretasi kecemasan sedang. Kata Kunci: Diare. Keperawatan Anak. Terapi Bermain Puzzle PENDAHULUAN Dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki sumber daya manusia pada anak dan tujuan untuk masa depan Indonesia yang lebih bagus. Salah satu cara mengembangkan kualitas hidup anak dapat dimulai dari usia dini, dimulai dalam massa kandungan bayi dan anak-anak . Anak usia pra sekolah merupakan masa emas, dimana tumbuh kembang pada seorang anak akan banyak mengalami perubahan yang sangat Supaya pertumbuhan pada anak usia pra sekolah optimal maka diberikan stimulus, agar dapat memberikan rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan pada anak (Nurwijayanti & Iqomh, 2. Saat kondisi Kesehatan anak tidak sehat, biasayna berdampak pada berbagai kondisi termasuk proses pertumbuhan, perkembangan dan pada semua kegiatan yang dilakukannya . nten & permatasari, 2. Masalah Kesehatan khusunya infeksi adallah contoh penyakit yang mengganggu Kesehatan masyarakat yang paling sering di beberapa World Healt Organozation (WHO) mengatakan bahwa penyakit infeksi merupakan penyakit yang menyerang anak-anak dan menyebabkan kematian (Novard et al, 2. WHO dan united nation childrens fund (UNICEF) mengemukakan bahwa hamper dua miliar kasus dengan diare, dari beberapa kasus meninggal disebabkan oleh diare, dari beberapa kasus meninggal karna diare terjadi di afrika dan wilayah asia dengan persentasi 78% (World Gastroenterology Organization, 2. Diare adalah penyakit endemis yang potensial Kejadiaan Luar Biasa (KLB) dan menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Diare ialah kondisi dimana seseorang mengalami buang air besar dengan frekuensi sebanyak 3 kali dalam sehari atau lebih dengan konsistensi tinja yang berbentuk cair. Diare sering menyerang balita dengan usia di bawah 5 tahun karena daya tahan tubuh balita yang masih dalam kategori lemah, sebab itu balita lebih rentan terpapar dari bakteri penyebab diare (Wulandari et al. , 2. Profil Kesehatan Indonesia 2018 menujukan hasil penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia serta masalah Kesehatan yang menyebabkan kematian yang paling sering, di tahun 2017 ditemukan 21 kali kasus menyebar di 21 provinsi dengan total penderita 1700 orang dan meninggal 35 orang . ,97%) dan pada tahun 2018 juga ditemukan 10 kali kasus diare yang menyebar ke 8 provinsi yakni bali serta maluku dengan masing-masing didapati 2 kali kasus yang berjumlah 750 orang dan meninggal 32 orang . ,76%) jika di lihat dari kelompok usia diare menyebar pada semua kelompok usia yang prevelensinya paling tinggi terdapat pada balita . -4 tahu. yakni 16,7% dan jika sesuai jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan hamper sama, yakni 8,9% untuk laki-laki 9,1% untuk perempuan. Berdasarkan hasil Riskedas 2018 menjelaskan bahwa kasus diare di provinsi Sulawesi utara didapati sebanyak 12,5% kejadian. Sendangkan untuk data per kabupaten/kota manado dengan 4,467 kasus merupakan prevelensi kasus teratas dan terendah berada di bolang mongondow selatan dengan 672 kasus (Riskesdes, 2. Untuk penatalaksana diare sendiri ditemukan berbagai cara yang biasa digunakan pada penyakit diare membuat rencana terapi yakni memberi cairan dengan volume yang lebih dari biasanya menambahkan zinc dalam 10 hari tanpa putus walau diare sdah berenti. Iwan Sarwanto. Winarsi Molintao JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. menyediakan makanan atau asi ekslusif, memberi antibiotic yang sesuai dengan indikasi dengan terapi yang diberikan yakni oralit pada 3 jam pertama, beri minum sedikit namun sering serta pemberian zinc, selanjutnya pada diare dengan status dehidrasi berat biasa memberikan pengobatan yaitu, memberi terapi intravena cairan, beri oralit, beri minum secukpnya dan sering memberikan serta zinc kurang lebih dari 10 hari tanpa putus . irektorat jendral pengandilan penyakit dan penyehatan lingkungan 2. Anak yang dirawat dirumah sakit akan mengalami kecemasan yang tinggi, memiliki kecenderungan hiperaktif dan tidak kooperatif (Madyastuti & Dewi, 2. Upaya mengatasi masalah yang timbul pada anak dalam upaya perawatan di rumah sakit, difokuskan pada intervensi keperawatan dengan cara meminimalkan memaksimalkan stresor, manfaat hospitalisasi (Madyastuti & Dewi, 2. Menurut PPNI . ada beberapa cara untuk mengatasi kecemasan pada anak yaitu : Reduksi ansietas, terapi relaksasi, konseling dan terapi bermain. Banyak cara yang dilakukan untuk mengatasi stres hospitalisasi pada anak tetapi cara yang paling banyak digunakan yaitu dengan menggunakan terapi bermain (Sufyanti et al. , 2. Terapi Bermain merupakan salah satu metode terapi psikoterapi untuk membantu anak usia 3 sampai 12 tahun mengekspresikan pikiran, perasaan maupun emosi pada anak dengan lebih baik lewat berbagai ragam permainan. Salah satu dari terapi bermain yaitu terapi puzzle. Terapi bermain puzzle dapat membantu perkembangan psikososial pada anak. Saat anak bermain, maka perhatian anak tersebut akan teralihkan dari kecemasan yang sedang dirasakannya (Sapardi & Andayani, 2. DESKRIPSI KASUS Pada studi kasus ini, pasien yang menjadi fokus adalah seorang anak usia pra-sekolah bernama An. yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosis utama diare. Pengalaman menjalani rawat inap menjadi situasi baru bagi anak sehingga menimbulkan kecemasan yang cukup signifikan. Ibu pasien. Ny. N, menjelaskan bahwa ini merupakan pertama kalinya anaknya dirawat di rumah sakit. Selama berada di ruang perawatan, anak tampak sering menangis, rewel, dan menunjukkan rasa takut khususnya ketika melihat atau didekati oleh perawat. Kondisi ini ditandai dengan perilaku anak yang selalu memeluk ibunya erat dan menolak melepaskan pelukan ketika perawat masuk ke ruangan. Pasien tampak gelisah, tegang, lebih banyak diam, dan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi setiap kali diajak berinteraksi atau bermain. Proses pengkajian menunjukkan adanya tanda-tanda ansietas yang jelas. Untuk menilai tingkat kecemasan secara objektif digunakan instrumen Spence ChildrenAos Anxiety Scale (SCAS), dan hasil pengukuran awal menunjukkan skor 55 yang berada pada kategori kecemasan sedang. Kondisi ini menunjukkan bahwa hospitalisasi menyebabkan tekanan emosional yang cukup kuat bagi anak, sehingga diperlukan intervensi keperawatan yang sesuai untuk membantu menurunkan kecemasan. Intervensi yang diberikan dalam kasus ini adalah terapi bermain puzzle sebagai salah satu bentuk terapi bermain yang sesuai untuk anak usia pra-sekolah. Terapi diberikan selama tiga hari berturut-turut, masing-masing selama dua puluh menit. Setiap sesi menggunakan puzzle berjumlah sembilan keping dengan tema berbeda agar tetap menarik bagi anak. Selama pemberian terapi, perhatian anak mulai teralihkan dari rasa takut terhadap lingkungan rumah sakit menuju aktivitas bermain yang lebih menyenangkan dan familiar. Respon pasien menunjukkan perkembangan yang positif. Setelah dilakukan terapi bermain puzzle pada setiap sesi, skor kecemasan anak mengalami penurunan yang Anak tampak lebih rileks, perilaku gelisah berkurang, ekspresi ketakutan menurun, dan kemampuan berkonsentrasi selama bermain semakin membaik. Pada akhir Iwan Sarwanto. Winarsi Molintao JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. hari ketiga, tanda-tanda kecemasan yang sebelumnya dominan terlihat mulai menghilang dan anak lebih mudah berinteraksi tanpa selalu memeluk ibunya. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi bermain puzzle efektif dalam membantu menurunkan kecemasan pada anak yang mengalami diare dan menjalani hospitalisasi. Terapi ini tidak hanya memberikan rasa aman dan nyaman, tetapi juga membantu anak beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit melalui aktivitas bermain yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai perkembangan usianya. HASIL DAN PEMBAHASAN Kecemasan adalah kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan khawatir, cemas, atau takut yang cukup kuat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari yang mana hal ini bisa mengganggu imunitas tubuh manusia (Gumantan et al. , 2. Selama di rumah sakit anak harus menghadapi lingkungan yang asing, orang yang tidak dikenal dan sering kali harus mengalami prosedur yang menimbulkan nyeri, kehilangan kemandirian dan berbagai hal yang tidak diketahui interpretasi terhadap kejadian, respon anakterhadap pengalaman hospitalisasi (Mariani, 2. Berdasarkan data hasil pengkajian yang muncul, penulis menegakkan diagnosa keperawatan Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (D. Tanda dan gejala mayor Ansietas menurut SDKI . data subjektifnya yaitu merasa bingung, merasa khawatir akan kondisi yang dihadapi, dan sulit berkonsentrasi lalu data objektifnya tampak gelisah, tampak tegang dan sulit tidur. Validasi diagnosis keperawatan dapat ditegakkan jika ditemukan jika ditemukan kurang lebih 80%-100% tanda dan gejala mayor pada pasien. Pada kasus ini terbukti terdapat 80% tanda dan gejala mayor dari enam gejala mayor, ibu pasien mengatakan ini pertama kalinya anaknya dirawat dirumah sakit, anaknya rewel dan sering menangis, saat dikaji An. H tampak takut ketika bertemu dengan perawat. An. H tampak gelisah dan tegang saat perawat datang An. H memeluk ibunya dan tidak mau lepas. Sulit berkonsentrasi saat diajak bermain. Awal pelaksanaan tindakan terapi bermain puzzle hari pertama tanggal 13 januri 2025 pukul 09. 00, dilakukan tindakan terapi bermain selama 20 menit menggunakan puzzle dengan jumlah 9 keping puzzle dengan gambar transortasi darat seperti mobil, truk, sepeda, kereta, dan lain lain. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan terapi bermain puzzle kecemasan semula dengan skor 55 setelah dilakukan tindakan terapi bermain puzzle selama 20 menit tingkat kecemasan berkurang Pada tanggal 14 febuary 2025 pukul 09. 00 dilakukan tindakan terapi bermain selama 20 menit menggunakan puzzle dengan jumlah 9 keping puzzle dengan gambar transortasi udara seperti pesawat, roket, helikopter, blon udara, dan lain lain. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan terapi bermain puzzle kecemasan semula deangan skor 44 setelah dilakukan tindakan terapi bermain puzzle selama 20 menit tingkat kecemasan berkurang menjadi 31 Hari ketiga Pada tanggal 15 Februari 2023 pukul 09. 00 dilakukan tindakan terapi bermain selama 20 menit menggunakan puzzle dengan jumlah 9 keping puzzle dengan gambar transortasi laut seperti kapal, sampan, kapal selam dan lain lain. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan terapi bermain puzzle kecemasan semula deangan skor 30 setelah dilakukan tindakan terapi bermain puzzle selama 20 menit tingkat kecemasan berkurang menjadi 22 Dari data yang telah didapatkan maka penulis menarik kesimpulan bahwa masalah ansietas pada An. P sudah teratasi sesuai dengan kriteria hasil yang ditetapkan penulis, maka penulis menghentikan intervensi. Kriteria hasil pada tujuan keperawatan tercapai dengan kriteria hasil: verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, tegang menurun, perilaku gelisah menurun, konsentrasi membaik. Iwan Sarwanto. Winarsi Molintao JKN (Jurnal Kesehatan Nasiona. Vol. 1 No. Berdasarkan hasil evaluasi dari implementasi yang telah dilakukan oleh penulis, bisa disimpulkan bahwa pemberian terapi bermain puzzle. efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan anak akibat hospitalisasi, hal ini sejalan dengan teori Hamalik Puzzle merupakan suatu metode permainan dengan menggunakan ketekunan dan kesabaran dalam merangkainya. Tujuan metode bermain puzzle ini dipilih sebagai media bermain terapeutik selama anak usia prasekolah menjalani perawatan di rumah sakit adalah untuk mengurangi dampak hospitalisasi akibat prosedur keperawatan karena permainan ini tidak memerlukan energi yang besar dan mudah, sehingga dalam menyelesaikan sesuatu lambat laun mental anak juga terbiasa untuk bersikap tenang, sabar dan tekun (Lisbet, dkk. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Asuhan keperawatan pada anak Diare dengan masalah keperawatan ansietas berhubungan dengan krisis situasional dibuktikan dengan Ny. N mengatakan An. pertama kali dirawat dirumah sakit. Ny. N mengatakan pasien rewel dan sering menangis, pasien tampak takut terlihat An. p memeluk ibunya ketika ada perawat keruangan, pasien tampak gelisah hanya terdiam, sulit berkonsentrasi ketika diajak bermain Implementasi yang dilakukan adalah melakukan terapi bermain puzzle dilakukan 3 kali 3 hari dengan lama pemberian 20 menit. Hasil evaluasi dilakukan didapatkan pemberian teknik relaksasi terapi bermain puzzle pada anak dengan diare untuk menurunkan tingkat kecemasan pada anak usia 3-6 tahun yang menjalani Diharapkan hasil studi kasus yang saya lakukan ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dan mempertahankan hubungan kerja sama yang baik antara tim kesehatan maupun klien serta keluarga klien. Melengkapi saran dan prasarana yang sudah ada secara optimal dalam pemenuhan asuhan keperawatan anak diare dalam pemenuhan kebutuhan rasa aman dan nyaman. DAFTAR PUSTAKA