Jurnal Keislaman p-ISSN : 2089-7413 and e-ISSN : 2722-7804 Published by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya Jl. Kalirungkut Mejoyo I No. Kec. Rungkut. Kota Surabaya. Jawa Timur 60293 Email: jurnalkeislaman@staitaruna. Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar Asep Sandi Ruswanda UIN Sunan Gunung Djati Bandung Indonesia asruswanda@uinsgd. https://doi. org/10. 54298/jk. Abstract This study aims to examine the concept of ecotheology according to Nasaruddin Umar. Using a qualitativedescriptive approach and the library research method, this research analyzes scholarly works, speeches, opinion articles, and official reports published on the Ministry of Religious AffairsAo website that discuss Nasaruddin UmarAos concept of ecotheology, particularly during his tenure as the Minister of Religious Affairs of the Republic of Indonesia . 4Aepresen. The findings reveal that Nasaruddin UmarAos ecotheology is rooted in the interpretation of AsmaAoul Husna . he Beautiful Names of Go. , which emphasizes the feminine attributes of God, such as Ar-Rahman (The Most Compassionat. and Ar-Rahim (The Most Mercifu. , while simultaneously criticizing masculine, anthropocentric theological paradigms that tend to be exploitative toward nature. Nasaruddin UmarAos concept of ecotheology is characterized by three main elements: compassion as the foundation of humanAenature relations. rejection of masculine theology in favor of a more feminine and nurturing theology. and the understanding that protecting the environment is a concrete form of worship. Practically, this concept has been implemented through several public policy initiatives, including Ministerial Decree No. 244 of 2025, the integration of ecotheology into religious education curricula, the One Million Trees Movement, and the Eco-Mosque and Green KUA programs. This study concludes that Nasaruddin UmarAos ecotheology functions not only as a theological reflection, but also as a policy-oriented model of ecological theology that integrates spiritual values with ecological responsibility. Keywords: Asmaul Husna. Ecotheology. Ecological Responsibility. HumanAeNature Relationship. Nasaruddin Umar Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan metode studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis karya ilmiah, pidato, artikel opini, dan berita resmi di situs Kementerian Agama yang mendiskusikan konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar khususnya saat ia menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekoteologi yang dikembangkan Nasaruddin Umar berakar pada tafsir AsmaAoul Husna, yang menekankan sifat-sifat feminin Tuhan seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim serta mengkritik paradigma teologi maskulin yang antroposentris dan cenderung eksploitatif terhadap Konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar dicirikan oleh tiga hal, yaitu: kasih sebagai dasar hubungan manusia-alam, menolak teologi maskulin dan mendorong teologi feminin. dan memandang bahwa menjaga lingkungan dipandang sebagai bentuk konkret ibadah. Secara aplikatif, konsep ini diimplementasikan dalam berbagai kebijakan publik, antara lain melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 244 Tahun 2025, integrasi ekoteologi dalam kurikulum pendidikan agama. Gerakan Satu Juta Pohon, dan program Eco-Masjid serta KUA Hijau. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekoteologi Nasaruddin Umar tidak hanya berfungsi sebagai refleksi teologis, tetapi juga sebagai model teologi kebijakan ekologis yang menyatukan nilai spiritual dengan tanggung jawab ekologis. Keywords: Asmaul Husna. Ekoteologi. Tanggung Jawab Ekologi. Hubungan Manusia-Alam. Nasaruddin Umar Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda Pendahuluan Krisis lingkungan saat ini seperti pemanasan global, cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem, dan hilangnya keanekaragaman hayati telah menjadi tantangan ekologis, dan 1 Dua persoalan utama yang dihadapi alam akibat eksploitasi manusia adalah menipisnya cadangan sumber daya alam dan kerusakan ekosistem bumi. Kedua permasalahan tersebut muncul sebagai konsekuensi dari dinamika kehidupan yang terus berlangsung, di mana kebutuhan manusia terhadap alam semakin meningkat. Di sisi lain, manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, namun tidak seluruh perubahan iklim dapat dikendalikan karena sebagian berada di luar kehendak manusia dan merupakan bagian dari ketetapan Tuhan. Oleh sebab itu, tanggung jawab manusia tidak terletak semata pada pengendalian fenomena alam, tetapi pada menumbuhkan kesadaran untuk memelihara, melindungi, dan mengelola alam secara arif dan berkelanjutan. Akan tetapi, respons keagamaan terhadap krisis ekologi selama ini masih sering bersifat tambahan atau normatif, kurang menyentuh akar keagamaan dalam paradigma manusiaAealam. Dalam wacana agama, respons ini dikenal sebagai ekoteologi . , yakni pendekatan teologis yang menata ulang hubungan manusiaAealam dalam bingkai iman, etika, dan praksis sosial-keagamaan. Di dunia Islam, studi ekoteologi telah tumbuh melalui konsep dasar ekoteologi Islam: tauhid, khalifah, amanah, serta melalui konsep konservasi lingkungan: mizan . eseimbangan ekosiste. , ihya' al-mawat . evitalisasi laha. , hima dan harim . awasan lindung, fasad fil-ardh . arangan merusak lingkunga. dan israf . arangan pemborosa. sebagai fondasi etis dalam berelasi antara manusia dan alam. Wacana ekologi dalam Islam di antaranya dirajut oleh Seyyed Hossein Nasr melalui gagasan kosmologis perenialis yang mengaitkan krisis lingkungan modern dengan krisis spiritual-modernitas. Ia menegaskan kembali kesatuan ontologis ciptaan . dan ayatayat Tuhan di alam, tradisi ini mendorong rekonstruksi etika yang memuliakan integritas semua makhluk. Pendasaran metafisik semacam ini penting sebagai horizon filosofis untuk menakar kebaruan maupun keterbatasan formulasi ekoteologi kontemporer di dunia Muslim, termasuk di Indonesia. 3 Selain itu, studi lain menautkan ekoteologi dengan moderasi beragama, narasi iklim, dan pembentukan habitus kewargaan ekologis. Di Indonesia, gagasan ekoteologi secara praktis belum menyentuh ranah keagamaan nasional secara luas. Dorongan mengarusutamakan ekoteologi mendapat momentumnya ketika figur keagamaan publik mulai mendorong narasi teologi lingkungan agar agama tidak Nurlaila Ramadhona dan Ismet Sari. AuKRISIS EKOLOGI PERSPEKTIF EKOTEOLOGI ISLAM DAN KRISTEN,Ay Jurnal Ushuluddin 22, no. Hesty Widiastuty dan Khairil Anwar. AuEkoteologi Islam Ekoteologi Islam: Prinsip Konservasi Lingkungan dalam Al-QurAoan dan Hadits serta Implikasi Kebijakannya,Ay Risylah Jurnal Pendidikan dan Studi Islam 11, no. 465Ae80. Seyyed Hossein Nasr. Man and nature: The spiritual crisis of modern man, 1968. Richard Foltz. FREDERICK M. DENNY, dan AZIZAN BAHARUDDIN, ed. Islam and ecology: A bestowed trust (Center for the Study of World Religions. Harvard Divinity School, 2. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 hanya menjadi alat legitimasi sosial, melainkan roh penggereak moral ekologis. Salah satu wacana paling menonjol datang dari Menteri Agama RI saat ini . 4-sekaran. , yakni Nasaruddin Umar. Ia menyematkan gagasan ekoteologi ke dalam retorika kebijakan agama. Secara aktif, ia menyerukan agar nilai-nilai pelestarian alam dijadikan bagian dari kurikulum pendidikan agama dan praktik keagamaan lainnya. Nasaruddin Umar mengusung gagasan ekoteologi berbasis AsmAAoul usnA. Ia menilai sebagian besar nama-nama Allah bernuansa raumAnAeraum . asih sayang, kelembuta. menjelaskan bahwa 80% nama-nama Allah dalam AsmAAoul usnA bernuansa feminin. Misalnya. Ar-Rahman disebut 57 kali dan Ar-Rahim 114 kali. Oleh karena itu, ia mendukung etika ekologis yang menolak eksploitasi, mendorong pemeliharaan . , serta menanamkan habitus kepedulian. Narasi ini juga menjadi kritik terhadap teologi yang ia nilai Auterlalu maskulinAy dan kurang responsif pada isu kerentanan ekologis. Formulasi tersebut relevan bagi reposisi relasi manusiaAealam yang lebih simetris dan non-dominan. Secara empiris, berbagai komunitas Islam di Indonesia telah menjalankan aksi lingkungan . enanaman pohon, kampanye kebersihan, pengelolaan sampa. , namun sering kali terpisah dari konstruksi teologis yang sistematik. Pengarusutamaan ekoteologi menuntut pergeseran dari isu insidental menjadi kerangka yang mengikat kurikulum, khotbah, visi kelembagaan, dan pengambilan keputusan. Penelitian tentang praktik ekoteologi di kalangan organisasi keislaman menunjukkan peluang sekaligus tantangan: komitmen aktivisme yang tinggi, tetapi konsistensi pembelajaran teologis, dukungan kelembagaan, dan jembatan kebijakan sering belum memadai. Dengan demikian, diperlukanartikulasi ekoteologi yang kokoh secara konseptual dan operasional. Secara umum, literatur yang membahas kajian ekoteologi saat ini juga berkembang Ekoteologi telah dikaji sebagai disiplin yang menggabungkan aspek teologi dan ekologis dalam mengkaji relasi manusiaAealam dalam kerangka religius. 8 Dalam konteks tafsir Al-QurAoan, ada penelitian yang mengusulkan konstruksi perlindungan hak asasi lingkungan berbasis tafsir mufasir Indonesia dan Timur Tengah. Al-Qur'an dipandang berisi term ekologi yang menegaskan keterkaitan antara hak asasi manusia dan hak asasi lingkungan. 9 Lebih jauh, kajian ekoteologi dalam dunia Islam juga membahas fondasi normatif Al-QurAoan dan Hadis untuk konservasi, model pendidikan agama berwawasan ekologis, narasi keagamaan Kementerian Agama RI. Menag Minta Ekoteologi dan Pelestarian Alam Masuk Kurikulum Pendidikan Agama, 22 Januari 2025, https://kemenag. id/nasional/menag-minta-ekoteologi-dan-pelestarian-alam-masukkurikulum-pendidikan-agama-eomLd. Sarah Shafira Sandy. Kemenag Kembangkan Ekoteologi Berbasis AsmaAoul Husna. Apa Itu?, 3 Maret 2025, https://kemenag. id/nasional/kemenag-kembangkan-ekoteologi-berbasis-asma-ul-husna-apa-itu-4kHZG. Muhammad Naufan Rizqullah dkk. AuMainstreaming Eco-Theology: Practices and Challenges of Environmental Activism in Islamic Student Organizations in Indonesia,Ay International Journal Scientific and Professional 4, no. : 675Ae80. Robert P Borrong. Etika bumi baru: akses etika dalam pengelolaan lingkungan hidup (BPK Gunung Mulia, 1. Marthinus Ngabalin. AuEkoteologi: Tinjauan Teologi Terhadap Keselamatan Lingkungan Hidup,Ay CARAKA: Jurnal Teologi Biblika Dan Praktika 1, no. : 118Ae34. Muh Khamdan. Nablur Rahman Annibras, dan Wiharyani Wiharyani. AuPenguatan Ekoteologi dan Konstruksi Perlindungan Hak Asasi Lingkungan Berbasis Tafsir Al-Quran,Ay Jurnal Penelitian Ilmu Ushuluddin 4, no. 47Ae65. Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda tentang krisis iklim, dan praktik stewardship komunitas Muslim Indonesia10 yang mengalami pergeseran dari normativitas tekstual ke pendekatan empirik pada praktik keyakinan. 11 Studistudi ini menjadi fondasi untuk mengkaji konsep ekoteologi yang didorong oleh Nasaruddin Umar. Secara teoretis riset ini bertujuan untuk melihat konstruksi ekoteologi menurut Nasaruddin Umar yang mengkritik antroposentrisme dan teologi maskulin. Dari sisi praktis, penelitian ini penting sebagai bahan kajian yang hendak diejawantahkan ke dalam praktik kebijakan ekoteologi, seperti gagasan transformasi pendidikan dengan memasukan ekoteologi dan pelestarian alam ke dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Pendekatan ini dipilih untuk menelaah secara mendalam gagasan ekoteologi menurut Nasaruddin Umar melalui sumber-sumber tertulis yang relevan, seperti karya ilmiah, pidato, artikel opini, berita resmi di situs Kementerian Agama . ttps://kemenag. id/) dan kebijakan Kementerian Agama periode 2024Ae2025. Sumber utama penelitian meliputi teks resmi seperti Keputusan Menteri Agama No. 244 Tahun 2025, pidato-pidato Nasaruddin Umar. Sementara data sekunder penelitian ini adalah karya ilmiah dan artikel opini. Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis isi . ontent analysi. melalui empat tahap: reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis. Dalam proses ini, mula-mula peneliti mengumpulkan sumber data primer dan sumber data sekunder yang kemudian dikategorisasi relevansinya dengan tema ekoteologi. Selanjutnya, interpretasi data dilakukan dengan membaca teks-teks keagamaan dan kebijakan sebagai ekspresi nilai spiritual dan praksis sosial. Misalnya, pernyataan Nasaruddin Umar bahwa Au80% AsmaAoul Husna bernuansa feminin, mengajarkan kasih dan kelembutanAy diinterpretasikan sebagai landasan kategori kasih . , sementara ungkapan Auteologi kita terlalu maskulinAy dikategorikan sebagai penolakan terhadap teologi Adapun pernyataan Aumenanam pohon adalah ibadah ekologisAy diinterpretasikan sebagai bentuk ibadah konkret yang menghubungkan iman dengan tindakan ekologis. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber dengan membandingkan pidato, artikel, dan kebijakan untuk memastikan konsistensi makna ekoteologis Nasaruddin Umar. Interpretasi data ini kemudian disintesis menjadi tiga simpulan utama: kasih sebagai dasar hubungan manusiaAealam, penolakan terhadap teologi maskulin, dan pelestarian lingkungan sebagai bentuk konkret ibadah. Mansur Hidayat. AuIslamic Eco-theology: Religious narratives in the climate crisis in Indonesia,Ay Bulletin of Indonesian Islamic Studies 2, no. : 197Ae212. Frans Wijsen dan Ahmad Afnan Anshori. AuEco-Theology in Indonesian islam: Ideas on stewardship among Muhammadiyah members,Ay Journal of Government and Civil Society 7, no. : 109Ae18. Salman Habeahan. Transformasi Pendidikan Agama Berbasis Kurikulum Cinta & Eko-teologi, 7 Maret 2025, https://kemenag. id/opini/transformasi-pendidikan-agama-berbasis-kurikulum-cinta-eko-teologi-pa4V6. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Hasil dan Pembahasan Biografi Nasaruddin Umar Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama R. Nasaruddin Umar lahir di Ujung Bone. Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Ia resmi dilantik sebagai Menteri Agama Republik Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024, menandai puncak perjalanan panjangnya sebagai ulama, akademisi, dan birokrat keagamaan nasional. Saat ini. Nasaruddin Umar juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta . dan Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal . Selain itu, ia tergabung dalam Kelompok Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan menjadi Anggota Dewan Gelar. Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Republik Indonesia sejak Di ranah akademik, ia merupakan Guru Besar Tafsir dan Ilmu Al-QurAoan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 2005 serta menjabat sebagai Rektor Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-QurAoan (PTIQ) Jakarta sejak tahun yang sama. Ia juga aktif sebagai Wakil Direktur Pusat Studi Al-QurAoan Jakarta . Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid Indonesia (IPIM) . , dan Ketua Badan Penasehatan. Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP. Di bidang pendidikan Islam, ia memimpin Pondok Pesantren AsAoadiyah Sengkang . dan Yayasan Pesantren AlIkhlas Ujung Bone . Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Guru Besar Luar Biasa di Universitas Indonesia . 6Ae2. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam di Departemen Agama . 6Ae2. , dan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia . 2Ae2. Jabatanjabatan tersebut mencerminkan peran strategisnya dalam pengembangan kebijakan keagamaan dan moderasi beragama di Indonesia. Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Dasar Negeri Ujung Bone . , dilanjutkan ke Madrasah Ibtidaiyah Pesantren AsAoadiyah Sengkang . Pendidikan Guru Agama 4 Tahun dan 6 Tahun di Pesantren AsAoadiyah Sengkang . 4Ae1. , hingga menyelesaikan Sarjana Muda dan Sarjana Lengkap Fakultas SyariAoah di IAIN Alauddin Makassar . 0Ae Ia kemudian melanjutkan ke Program Magister (S. di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta . dan Program Doktor (S. di kampus yang sama . Selain pendidikan formal. Nasaruddin juga mengikuti sejumlah program internasional. Ia tercatat sebagai Visiting Student di McGill University. Kanada . 3Ae1. Leiden University. Belanda . 4Ae1. , serta mengikuti Sandwich Program di Paris University. Prancis . Ia juga melakukan riset kepustakaan di berbagai perguruan tinggi di Kanada. Amerika Serikat. Jepang. Inggris. Belanda. Belgia. Italia. Turki. Sri Lanka. Korea Selatan. Arab Saudi. Mesir. Uni Emirat Arab. Yordania. Palestina. Singapura. Malaysia, dan Filipina . 4Ae Pada tahap selanjutnya, ia menjadi Visiting Scholar di Sophia University. Tokyo . School of Oriental and African Studies (SOAS). University of London . 2Ae2. , serta Visiting Professor di Georgetown University. Washington D. 3Ae2. Atas dedikasinya di bidang akademik dan sosial-keagamaan. Nasaruddin Umar menerima berbagai penghargaan nasional dan internasional. Di antaranya adalah Sarjana Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda Teladan IAIN Alauddin Ujung Pandang . Doktor Terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta . Bintang Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia . 1 dan 2. , serta International Best Leadership Award (IBLA) dari International Human Resources Development Program . Ia juga menerima Penghargaan MURI 2021 sebagai penulis artikel terbanyak dan paling konsisten di Indonesia, dengan lebih dari 6. 000 tulisan keagamaan yang dipublikasikan secara berkelanjutan. Kiprah Nasaruddin Umar memperlihatkan integrasi antara keilmuan tafsir, spiritualitas, dan kebijakan publik. Sebagai akademisi dan pejabat negara, ia konsisten mengembangkan Islam moderat, berwawasan kebangsaan, dan berorientasi ekologis, menjadikan dirinya salah satu pemikir Islam kontemporer paling berpengaruh di Indonesia. Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar Konsep ekoteologi secara umum berangkat dari kesadaran teologis bahwa krisis ekologis bukan semata masalah teknis atau ekonomi, tetapi krisis spiritual dan moral. Sejak tahun 1960-an, teologi lingkungan berkembang di Barat sebagai respons atas krisis ekologis global yang dianggap berakar pada dominasi pandangan dunia antroposentris Barat. Lynn White Jr. melalui artikelnya The Historical Roots of Our Ecologic Crisis menegaskan bahwa akar masalah ekologi modern bersumber dari tafsir keagamaan yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas alam. Ia mengusulkan reformulasi teologi yang lebih ekologis, yang kemudian dikenal sebagai ekoteologi. Seyyed Hossein Nasr menjadi pelopor teologi lingkungan Islam. Dalam karyanya Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man, ia menegaskan bahwa krisis ekologi modern merupakan akibat dari kehilangan pandangan dunia tauhidik . awhidic worldvie. yang menyatukan Tuhan, manusia, dan alam dalam satu sistem ontologis. Alam, menurut Nasr, bukan sekadar sumber daya, melainkan tanda-tanda Tuhan . yat kauniyya. yang harus Dalam konteks Islam di Indonesia, ekoteologi menjadi wacana penting dalam mengintegrasikan ajaran Islam dengan isu keberlanjutan. Nilai-nilai Islam yang menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam sering disebut sebagai hablum minal-Aoalam . ubungan manusia dengan ala. Hubungan ini menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam. Konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar aktivitas sosial, sebab menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Ia melihat alam sebagai amanah Ilahi. Bumi bukan untuk dieksploitasi tetapi dijaga, karena umat beragama diajak untuk membaca ayat Tuhan Kementerian Agama RI. Menteri Agama, t. , https://kemenag. id/artikel/menteri-agama. Lynn White Jr. AuThe historical roots of our ecologic crisis,Ay Science 155, no. : 1203Ae7. Nasr. Man and nature: The spiritual crisis of modern man. Rani Rakhmawati. Pembelajaran Hablum Minal Alam Dalam Meningkatkan Perilaku Peduli Lingkungan Di Sekolah Alam MI Bukit Pelangi Karanganyar Pekalongan. UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, 2024. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 tidak hanya di mushaf, tetapi juga dalam dedaunan, gunung, sungai, dan seluruh ciptaan. Dalam gagasannya, ia mengenalkan ekoteologi berbasis AsmaAoul Husna, dengan menekankan bahwa sekitar 80% nama Allah dalam AsmaAoul Husna bernuansa feminin, seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Misalnya. Ar-Rahman disebut 57 kali dan Ar-Rahim 114 kali. Oleh karena itu, teologi yang selama ini dianggap maskulin perlu direformasi menjadi lebih lembut dan berfokus pada kasih sayang Ilahi. 18 Pendekatan ini bertujuan agar humanitas terhadap alam tumbuh dalam landasan rahmah, bukan dominasi. Nasaruddin Umar juga mendorong agar ekoteologi diintegrasikan ke pendidikan agama dan keagamaan di semua jenjang, menjadikan pemahaman alam sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran agama. Ia berharap konsep ini menjadi pendekatan holistik dalam sistem pendidikan agama Indonesia, agar siswa dan santri tidak hanya mempelajari teks-teks agama tetapi juga memahami alam semesta sebagai bagian dari iman. Konsep ini ia bawa ke ranah kebijakan dan institusi keagamaan: Menteri Agama meminta agar ekoteologi dan pelestarian alam masuk ke dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan dalam Rakernas Pendidikan Islam 2025. Ia menyebut tiga fokus utama pendidikan agama ke depan: lingkungan, toleransi, dan nasionalisme, dengan ekologis menjadi salah satu pilar utama. Di ranah akademik keagamaan, ia mendorong kampus PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Neger. mengembangkan ekoteologi dalam berbagai aspek keterkaitan kampus dan lingkungan sekitar sebagai green campus. 22 Konsep tersebut juga telah diangkat dalam seminar internasional ketika Kementerian Agama mematangkan gagasan Kurikulum Cinta dan Ekoteologi sebagai dasar gerakan implementasi di masa mendatang. Secara kosmologis-teologis. Nasaruddin Umar menyatakan bahwa alam semesta adalah perwujudan AsmaAoul Husna dan karenanya memiliki nilai sakral. Ia menekankan bahwa terjadi proses desakralisasi alam yang harus dilawan melalui kesadaran ekoteologis, bahwa merusak alam berarti merusak sesuatu yang suci. 24 Konsepnya tidak hanya wacana Muhammad Adib Abdushomad. Ekoteologi dan Refleksi Kepemimpinan Menteri Agama dalam Merawat Bumi, 24 Juni 2025, https://kemenag. id/opini/ekoteologi-dan-refleksi-kepemimpinan-menteri-agama-dalammerawat-bumi-zkdsd. Sandy. Kemenag Kembangkan Ekoteologi Berbasis AsmaAoul Husna. Apa Itu? Ihfa Firdausya. Kembangkan Ekoteologi Berbasis AsmaAoul Husna. Menag: Teologi Kita Terlalu Maskulin, 3 Maret 2025. Sarah Shafira Sandy. Bertemu UNICEF. Menag Nasaruddin Bicara tentang Ekoteologi dalam Pendidikan Kegamaan, 20 Januari 2025, https://kemenag. id/nasional/bertemu-unicef-menag-nasaruddin-bicaratentang-ekoteologi-dalam-pendidikan-kegamaan-YWrxf. Kementerian Agama RI. Menag Minta Ekoteologi dan Pelestarian Alam Masuk Kurikulum Pendidikan Agama. Kementerian Agama RI. Menteri Agama Minta Kampus PTKIN Kembangkan Ekoteologi, 12 Juli 2025, https://kemenag. id/nasional/menteri-agama-minta-kampus-ptkin-kembangkan-ekoteologi-P1dKk. Kementerian Agama RI. Matangkan Konsep Kurikulum Cinta dan Eco-Theology. Menag: Rawat Kerukunan. Jaga Kelestarian Alam, 4 Februari 2025, https://kemenag. id/internasional/matangkan-konsep-kurikulumcinta-dan-eco-theology-menag-rawat-kerukunan-jaga-kelestarian-alam-d9ZAD. Dita Kirana. Menag Nasaruddin Umar: Krisis Iklim Butuh Transformasi Ekoteologi, 23 Juli 2025, https://ppim. id/2025/07/23/transformasi-ekoteologi-nasaruddin-umar/. Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda abstrak: di acara-acara publik ia menyebut bahwa menanam pohon adalah ibadah ekologis. Itu bentuk nyata dari cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya. Secara umum, konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar merupakan pemaknaan keimanan yang berpusat pada hubungan kasih sayang antara manusia, alam, dan Tuhan. Gagasan ini lahir dari kesadaran teologis bahwa krisis ekologi bukan sekadar persoalan teknis atau ilmiah, melainkan krisis spiritual akibat cara pandang keagamaan yang menempatkan manusia sebagai penguasa atas alam. Nasaruddin Umar menawarkan pendekatan baru terhadap teologi Islam dengan menekankan dimensi feminin dan lembut dari Tuhan, yang menolak paradigma keagamaan maskulin dan eksploitatif terhadap lingkungan. Ekoteologi dimaknai sebagai wujud keimanan yang hidup dan berkeadilan ekologis, di sifat-sifat Tuhan memperlakukan ciptaan-Nya. Alam semesta tidak dipandang sebagai objek dominasi, melainkan sebagai mitra spiritual yang harus dijaga keseimbangannya. Melalui pendekatan ini. Nasaruddin berupaya membangun kesadaran teologis bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari ibadah. Gagasan ini diwujudkan dalam penafsiran Al-QurAoan berbasis ekologi, pengembangan dakwah ekologis yang kontekstual, dan pendidikan keagamaan yang berorientasi pada tanggung jawab ekologis umat manusia. Dari penjelasan di atas, kerangka ekoteologi Nasaruddin Umar dapat kita kerucutkan ke dalam tiga karakteristik: Kasih Sayang sebagai Dasar Hubungan Manusia-Alam Dalam pandangan Nasaruddin Umar, kasih sayang . adalah fondasi utama hubungan antara manusia dan alam. Ia menekankan pentingnya meneladani sifatsifat Allah yang lembut dan penuh kasih, seperti Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dalam membangun relasi harmonis dengan seluruh ciptaan. Melalui pendekatan ini, manusia tidak hanya berfungsi sebagai khalifah yang mengatur alam, tetapi juga sebagai penjaga kasih Tuhan di bumi. Ekoteologi, dengan demikian, bukan hanya seruan moral, tetapi juga bentuk spiritualitas aktif yang menuntun manusia untuk mengasihi, merawat, dan menghormati alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Ilahi . yat kauniyya. Menolak Teologi Maskulin dan Mendorong Teologi Feminin Nasaruddin Umar mengkritik bentuk teologi Islam yang selama ini cenderung berorientasi maskulin, dengan penekanan pada kuasa, kontrol, dan dominasi. Paradigma tersebut, menurutnya, berpotensi memperkuat logika eksploitatif terhadap alam dan makhluk hidup. Ia kemudian memperkenalkan pendekatan teologi feminin, yang menonjolkan nilai-nilai kelembutan, empati, dan kepedulian sebagai ekspresi spiritualitas Islam yang sejati. Menurut pandangannya. Asmaul Husna nama-nama Allah Kementerian Agama RI. Menag Nasaruddin Umar Sampaikan Gagasan Moderasi Beragama dan Ekoteologi di Georgetown University. Mei 2025, https://kemenag. id/internasional/menag-nasaruddin-umar-sampaikangagasan-moderasi-beragama-dan-ekoteologi-di-georgetown-university-KBJp3. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 merepresentasikan sifat penyayang, sabar, adil, dan lembut. Dengan demikian, teologi yang mengedepankan kasih dan kehalusan moral lebih sejalan dengan hakikat Tuhan yang penuh rahmah. Paradigma teologi feminin ini diharapkan mampu mengoreksi distorsi spiritual yang telah lama menjauhkan manusia dari relasi harmonis dengan alam. Nasaruddin menegaskan bahwa memahami Tuhan semata sebagai simbol kekuasaan justru menumbuhkan perilaku destruktif, sementara memahami-Nya sebagai sumber kasih akan melahirkan peradaban ekologis yang penuh welas asih. Menjaga Lingkungan sebagai Bentuk Konkret Ibadah Bagi Nasaruddin Umar, pelestarian lingkungan bukan hanya kewajiban moral atau politik, tetapi bentuk ibadah dan ekspresi keimanan. Alam diciptakan dalam keseimbangan . , dan manusia diberi amanah untuk menjaga tatanan tersebut. Setiap tindakan yang merusak lingkungan, seperti eksploitasi berlebihan, pencemaran, atau pemborosan sumber daya dipandang sebagai dosa ekologis kolektif karena menyalahi prinsip keadilan dan keseimbangan ciptaan Tuhan. Ia menegaskan bahwa menjaga bumi adalah bentuk nyata dari ibadah ekologis, karena melalui tindakan tersebut manusia melaksanakan tugas kekhalifahan dan menegakkan nilai tauhid dalam konteks sosial-ekologis. Dengan demikian, ekoteologi menjadi jalan untuk menyatukan spiritualitas dan tanggung jawab sosial, meneguhkan bahwa iman sejati harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap kelestarian bumi dan keberlanjutan kehidupan seluruh makhluk. Ekoteologi sebagai Kebijakan Pemikiran ekoteologi Nasaruddin Umar tidak berhenti pada ranah konseptual dan teologis, tetapi diwujudkan dalam kebijakan kelembagaan dan kebijakan publik di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Melalui pendekatan ini. Nasaruddin mengarahkan ekoteologi menjadi strategi moral dan administratif untuk mewujudkan kesadaran ekologis di tengah masyarakat beragama. Berbeda dari teologi tradisional yang hanya menekankan aspek doktrinal, ia menempatkan ekoteologi sebagai arus kebijakan religius transformatif yang berorientasi pada pelestarian lingkungan hidup, pendidikan spiritual, dan tanggung jawab sosial. Keputusan Menteri Agama (KMA) Republik Indonesia Nomor 244 Tahun 2025 Tentang Program Prioritas Menteri Agama Tahun 2025-2029 Landasan utama kebijakan ekoteologi tercermin dalam KMA No. 244 Tahun 2025, yang secara eksplisit memasukkan ekoteologi sebagai program prioritas Kementerian Agama periode 2025Ae2029. Melalui kebijakan ini. Nasaruddin Umar menetapkan arah strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi ke dalam semua aspek kehidupan keagamaanmulai dari pendidikan, dakwah, hingga tata kelola Tujuan utamanya adalah menjadikan pelestarian lingkungan sebagai Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda bagian integral dari praktik keagamaan dan ibadah umat beragama di Indonesia. Berikut program prioritas Kementerian Agama 2025Ae2029: kerukunan dan cinta kemanusiaan. layanan keagamaan berdampak. pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi. pesantren berdaya. pemberdayaan ekonomi umat. sukses penyelenggaraan haji. digitalisasi tata kelola. Integrasi Ekoteologi ke dalam Kurikulum Pendidikan Agama dan Keagamaan Melalui Rakernas Pendidikan Islam 2025. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pendidikan agama harus menjadi instrumen pembentukan kesadaran ekologis sejak dini, bukan hanya sarana penanaman nilai moral abstrak. Implementasi kebijakan ini dilakukan melalui integrasi kurikulum ekoteologi ke dalam kurikulum madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan menambahkan tema-tema terkait etika lingkungan, tanggung jawab ekologis, dan spiritualitas alam. Program Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon di Lingkungan Kementerian dan Lembaga Keagamaan Kebijakan ekoteologi lainnya adalah program penghijauan nasional bertajuk Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon. Program ini melibatkan seluruh unit kerja Kementerian Agama, lembaga pendidikan Islam, pesantren, dan rumah ibadah di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah menghubungkan nilai spiritual dengan aksi ekologis nyata, di mana menanam pohon dimaknai sebagai ibadah dan bentuk cinta terhadap ciptaan Tuhan. 28 Gerakan lain yang sejenis adalah Satu Pengantin Satu Pohon dan menanam pohon bagi setiap CPNS dan pK baru melalui program Satu Pegawai Satu Pohon pada pelantikan ASN baru di lingkungan Kementerian Agama. Hal ini dapat dipandang bahwa menanam pohon bukan hanya kegiatan simbolik, tetapi bagian dari ekospiritualitas Islam yang berorientasi pada keberlanjutan . Gerakan ini juga mengandung dimensi sosial karena melibatkan masyarakat lintas agama, memperkuat solidaritas ekologis antarumat beragama, dan mendorong kolaborasi lintas sektor. Dengan demikian, kebijakan ini menjadi bentuk konkret dari teologi tindakan . ractical theolog. di bidang ekologi. Program Eco-Masjid dan KUA hijau KEPUTUSAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 244 TAHUN 2025 TENTANG PROGRAM PRIORITAS MENTERI AGAMA TAHUN 2025-2029. Kementerian Agama RI. Menag Minta Ekoteologi dan Pelestarian Alam Masuk Kurikulum Pendidikan Agama. Kementerian Agama RI. Menag Tekankan Pentingnya Ekoteologi dalam Menjaga Lingkungan, 7 Maret 2025, https://kemenag. id/nasional/menag-tekankan-pentingnya-ekoteologi-dalam-menjaga-lingkungan-8G20a. Abdushomad. Ekoteologi dan Refleksi Kepemimpinan Menteri Agama dalam Merawat Bumi. Jurnal Keislaman. Volume 08. Nomor 02. September 2025 Program ini menekankan efisiensi energi, penghijauan lingkungan masjid, dan penggunaan air dan listrik secara bijak. Lebih dari itu, program ini menjadi sarana dakwah ekologis untuk membangun kesadaran jamaah tentang pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah kolektif. Dengan menjadikan rumah ibadah dan KUA sebagai pusat perubahan perilaku ekologis, kebijakan ini mengembalikan fungsi spiritual agama sebagai kekuatan moral yang menyeimbangkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Nasaruddin Umar menyebut inisiatif ini sebagai manifestasi ibadah ekologis dalam ruang publik keagamaan. Kebijakan-kebijakan ekoteologi yang digagas Nasaruddin Umar menunjukkan transformasi paradigma keagamaan di Indonesia: dari teologi yang antroposentris menuju teologi yang ekosentris dan berbasis kasih sayang. Melalui regulasi, kurikulum, aksi sosial, dan kelembagaan, ekoteologi tidak hanya menjadi wacana teoretis, tetapi menjadi gerakan spiritual dan administratif yang menegaskan bahwa melindungi bumi adalah bagian dari penghambaan kepada Tuhan. Dengan demikian, konsep ekoteologi Nasaruddin Umar berfungsi sebagai fondasi teologis dan kebijakan publik untuk membangun peradaban Islam yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berkeadilan kosmik. Kesimpulan Studi ini menunjukkan bahwa gagasan ekoteologi Nasaruddin Umar merupakan upaya transformatif dalam mengembalikan spiritualitas Islam ke akar nilai-nilai cinta dan tanggung jawab ekologis. Ia memandang bahwa krisis lingkungan global bukan semata akibat persoalan teknologi, ekonomi, atau politik, tetapi merupakan krisis spiritual modernitas yang berakar dari pandangan teologis yang antroposentris dan maskulin. Dalam konteks ini, ekoteologi hadir sebagai koreksi terhadap kesadaran keagamaan yang telah lama menempatkan manusia sebagai pusat kekuasaan, bukan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang suci. Konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar berangkat dari pemahaman bahwa alam adalah manifestasi dari AsmaAoul Husna, tanda-tanda kasih Tuhan yang tercermin dalam seluruh ciptaan. Ia menegaskan bahwa lebih dari 80 persen nama Allah dalam AsmaAoul Husna bernuansa feminin yang merepresentasikan kasih sayang, kelembutan, dan keadilan. Dengan demikian. Nasaruddin mengembangkan teologi yang menolak pendekatan maskulin dan eksploitatif terhadap alam, menggantinya dengan teologi feminin yang berlandaskan kasih dan pemeliharaan. Pendekatan ini menegaskan bahwa iman sejati diwujudkan melalui tindakan merawat bumi sebagai wujud ibadah ekologis dan penghambaan kepada Tuhan. Dalam kerangka tersebut. Nasaruddin Umar menekankan tiga prinsip utama ekoteologinya: pertama, kasih sebagai dasar hubungan manusia-alam. kedua, menolak teologi maskulin dan mendorong teologi feminin. dan ketiga, menjaga lingkungan dipandang MOSAIC-INDONESIA. COM. Gerakan Ekoteologi Kemenag Usung Eco-Masjid Hingga Wakaf Hutan, 15 April 2025, https://mosaic-indonesia. com/gerakan-ekoteologi-kemenag-usung-eco-masjid-hingga-wakaf-hutan. Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar - Asep Sandi Ruswanda sebagai bentuk konkret ibadah. Melalui ketiga prinsip ini, manusia dipanggil untuk meneladani sifat-sifat Ilahi dalam menjaga keseimbangan alam . serta menolak segala bentuk kerusakan . asAd f al-ard. Yang juga menjadi karaketer ekoteologi menurut Nasaruddin Umar adalah dimensinya yang operasional dan kebijakan publiknya. Ia tidak hanya berbicara di tataran konseptual, tetapi menginstitusionalisasikan nilai-nilai ekoteologi melalui kebijakan di Kementerian Agama. Ekoteologi tidak lagi berhenti sebagai wacana moral, tetapi menjadi strategi administratif dan pendidikan keagamaan nasional. Hal ini terlihat dari empat kebijakan besar: . penetapan ekoteologi sebagai program prioritas dalam KMA No. 244 Tahun 2025, . integrasi ekoteologi ke dalam kurikulum pendidikan agama dan keagamaan, . gerakan nasional penanaman satu juta pohon, serta . pengembangan Eco-Masjid dan KUA Hijau sebagai pusat dakwah dan aksi ekologis. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa konsep ekoteologi Nasaruddin Umar tidak berhenti pada kritik filosofis terhadap teologi modern, tetapi bertransformasi menjadi gerakan spiritual, sosial, dan institusional. Dengan demikian, ekoteologi Nasaruddin Umar berfungsi sebagai fondasi teologis, etis, dan kebijakan publik untuk membangun Islam yang berwawasan ekologis. Ia memadukan iman, pengetahuan, aksi sosial, dan kebijakan publik dalam satu kesatuan spiritual yang menegaskan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ketaatan kepada Tuhan. Gagasannya memperluas makna ibadah dari ritual menuju praksis ekologis serta menegaskan bahwa keberlanjutan alam merupakan bentuk nyata dari tauhid yang hidup dalam tindakan manusia. Secara keseluruhan, ekoteologi menurut Nasaruddin Umar menghadirkan model teologi Islam Indonesia yang integratif dan visioner yang berpijak pada tauhid, berakar pada kasih sayang, berorientasi pada kebijakan publik, dan bertujuan membangun peradaban ekologis berkeadilan kosmik. Daftar Pustaka