ANALISIS USIA DAN PARITAS DENGAN KUNJUNGAN ANC PADA IBU HAMIL DI TPMB Bdn. TITIK ARYANTI. ,S. KEB Lisna Ferta Sari1 Program Studi Di Kebidanan. STIKes Al-MaAoarif. Baturaja Selatan. Sumatra Timur. Indonesia, 32112 Corresponding author: lisnahasanbasri05@gmail. Info Artikel Sejarah artikel Diterima Disetujui Dipublikasi Abstrak : 10. : 19. : 25. Kata Kunci : Kunjungan ANC. Usia. Paritas Kunjungan Antenatal Care (ANC) merupakan salah satu indikator penting dalam pemantauan kesehatan ibu hamil dan janin. Kunjungan ANC yang tidak sesuai standar dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan. Beberapa faktor diduga berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil dalam melakukan kunjungan ANC, di antaranya usia dan paritas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia dan paritas dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kab Ogan Komering Ulu Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 35 ibu hamil yang diambil menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi kunjungan ANC dan lembar checklist karakteristik responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji ChiSquare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan kunjungan ANC pada ibu hamil . = 0,. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kunjungan ANC pada ibu hamil . = 0,. Kesimpulan penelitian ini adalah usia dan paritas berhubungan secara signifikan dengan kunjungan ANC pada ibu hamil. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi dan pemantauan khususnya pada ibu hamil dengan usia berisiko dan paritas tertentu guna meningkatkan kepatuhan kunjungan ANC sesuai standar. Analysis Of Age And Parity With Anc Visits Of Pregnant Women At TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Abstrak Antenatal Care (ANC) visits are an important indicator in monitoring the health of pregnant women and fetuses. ANC visits that do not meet established standards may increase the risk of pregnancy and childbirth Several factors are thought to be associated with pregnant womenAos compliance with ANC visits, including age and parity. This study aimed to analyze the relationship between age and parity and ANC visits among pregnant women at TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb. Ogan Komering Ulu Regency, in 2025. This study employed an analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 35 pregnant women selected using a total sampling technique. The research instruments included an ANC visit observation sheet and a checklist of respondentsAo characteristics. Data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed a significant relationship between maternal age and ANC visits among pregnant women . = 0. addition, there was a significant relationship between parity and ANC visits among pregnant women . = 0. In conclusion, maternal age and parity are significantly associated with ANC visits among pregnant It is recommended that healthcare providers enhance education and monitoring, particularly for pregnant women with high-risk ages and certain parity levels, to improve compliance with standard ANC Keyword : Antenatal care visits. Age. Parity Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Pendahuluan Asuhan Antenatal adalah asuhan atau perawatan yang diberikan kepada ibu hamil sebelum persalinan untuk membantu memfasilitasi kesehatan dan hasil yang positif bagi ibu hamil dan bayi nya dengan membangun hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang mengancam jiwa, mempersiapkan persalinan, dan memberikan pendidikan kesehatan. (Sari&Nurwati. Pedoman pelayanan Antenatal Care menurut (Irmadani et al. , 2. menyatakan bahwa standar pelayanan Antenatal delapan kali merupakan upaya untuk menurunkan angka kematian Perinatal dan meningkatkan kualitas pelayanan ibu. 8 kunjungan Antenatal ditentukan berdasarkan penelitian dan meliputi kontak pertama dengan tenaga kesehatan pada usia kehamilan A12minggu, kunjungan kedua pada usia kehamilan A20minggu, kunjungan ketiga pada usia kehamilan A26minggu, kunjungan keempat pad usia kehamilan A30minggu, kunjungan ketiga pada usia kehamilan 5 minggu. Pada usia kehamilan A34minggu, kunjungan keenam pada usia kehamilan A36minggu, kunjungan ketujuh pada usia kehamilan A38minggu, dan kunjungan kedelapan pada usia kehamilan 40 minggu. Indikator dan sasaran program kesehatan masyarakat dalam RPJMN dan renstra tahun 2024 2025 adalah 80 tingkat cakupan pelayanan ibu hamil (Kemenkes RI, 2. Pelayanan pemeriksaan kehamilan ibu hamil dapat dilihat pada cakupan K1 dan K4 diProvinsi Sumatera Selatan tahun 2020, khususnya cakupan tertinggi diKabupaten Ogan Ilir K1. ,44%) dan K4. ,88%) dan cakupan terendah adalah Palembang. Kota dengan cakupan K1. ,84%) dan K4. ,45%), sedangkan kabupaten Lahat dengan cakupan K194,94%) menduduki peringkat 10/17 kabupaten/kota dan untuk cakupan K492,08% menduduki peringkat 9/17 (Bili et ,2. Data menunjukkan AKI turun dari 39/100. 000 kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 320 pada tahun 2020 atau1,80% pertahun. Meski menurun. AKI masih jauh dari target MDG 2015 sebesar 102 dan target SDG 2030 kurang dari 70/100. 000 kelahiran hidup. AKB menunjukkan penurunan dari 68 pada tahun 1991 menjadi 24 pada tahun 2017 atau turun sebesar 3,93% pertahun. Tetapi juga masih jauh dari target MDG 2015 sebesar 23 dan target SDG 2030 sebesar 12/1. kelahiran hidup. Sehubungan dengan pandemic COVID-19, jumlah kematian ibu dan anak meningkat 300 kasus dari tahun 2019 menjadi 400 kematian pada tahun 2020, sementara angka kematian bayi pada tahun 2019 sekitar 26. kasus, meningkat hamper 40% menjadi 44. 000 pada tahun 2020 (Ikawati &Ramadhani,2. Berdasarkan penelitian Sinambela dan Solina . , diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistic antara pendidikan ibu dengan asuhan Antenatal dengan p-value =0,004<. dari =0,05 dan usia ibu melalui konseling Prenatal (ANC) dengan p=0,02<. dari nilai =0,05. Berdasarkan penelitian Suryaetal . , hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan . =0,002. OR2,. memiliki hubungan yang Antenatal. Berdasarkan fakta diwilayah Puskesmas Bandar Jaya, angka cakupan KIs ebesar 87,6n, angka cakupan K4 ebesar 86,1 sehingga angka ini masih lebih rendah dari target Kabupaten Lahat sebesar 95% diBandar Jaya. Puskesmas Kabupaten Lahat (Asma 2. Berdasarkan uraian diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. ,S. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025. Bahan dan Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian Cross Sectional dengan rancangan pendekatan Kuantitatif Sampel penelitian diambil dengan total sampling, yaitu ibu hamil yang terdata di rekam medis TPMB Titik Aryanti yaitu sebanyak 35 Penelitian ini dilakukan di PMB Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2025. Pengumpulan data menggun akan data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden dan data sekunder yang diperoleh dari catatan kunjungan ANC dan register pasien di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Analisis data terdiri dari analisa univariat untuk mengetahui karakteristik ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC. Analisa bivariat yang digunakan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkolerasi. Analisa data dilakukan dengan menggunakan program package science (SPSS) menggunakan uji Person Chi-Square. Jika nilai p value <0,05 maka ada hubungan yang bermakna antara 2 variabel Dependen dan Independent. Begitu juga jika p value > 0,05 maka tidak ada hubungan yang bermakna antara dua variabel. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Hasil Penelitian Analisis univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kunjungan ANC pada Ibu Hamil Kunjungan ANC Tidak Teratur Teratur Total Berdasarkan Tabel 1 diatas menunjukkan bahwa dari 35 responden didapatkan responden dengan kunjungan ANC tidak teratur sebanyak 15 . 9%) responden dan responden dengan kunjungan ANC teratur sebanyak 20 . 1%) responden. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu Hamil di TPMB Usia Berisiko Tidak berisiko Total Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa dari 35 responden didapatkan responden dengan usia berisiko sebanyak 17 . 6%) responden dan responden dengan usia tidak berisiko sebanyak 18 . 4%) responden. Tabel 3 Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas Ibu Hamil di TPMB Paritas Berisiko Tidak berisiko Total Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa dari 35 responden didapatkan responden dengan paritas berisiko sebanyak 16 . 7%) responden dan responden dengan paritas tidak berisiko sebanyak 19 . 3%) responden. Analisis Bivariat Tabel 4 Hubungan Usia dengan Kunjungan ANC pada Ibu Hamil di TPMB Kunjungan ANC Jumlah Usia A Value Tidak Teratur Teratur Berisiko 0,004 Tidak Berisiko Jumlah Berdasarkan tabel 4. diketahui bahwa dari 35 responden didapatkan bahwa responden dengan usia berisiko yang tidak teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 12 . 6%) responden dan responden dengan usia berisiko yang teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 4 . ,2%) responden sedangkan responden dengan usia tidak berisiko yang tidak teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 3 . 7%) responden dan responden dengan usia tidak berisiko yang teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 15 . Hasil uji Person Chi Square di dapatkan p value 0,004 artinya terdapat hubungan usia dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025. Tabel 5 Hubungan Paritas dengan Kunjungan ANC pada Ibu Hamil di TPMB Kunjungan ANC Jumlah A Value Paritas Tidak Teratur Teratur Berisiko Tidak Berisiko 0,001 Jumlah Berdasarkan tabel 5 hasil analisis tabel 5. diketahui bahwa dari 35 responden didapatkan bahwa responden dengan paritas berisiko yang tidak teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 12 . responden dan responden dengan paritas berisiko yang teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 4 . responden sedangkan responden dengan paritas tidak berisiko yang tidak teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 3 . 8%) responden dan responden dengan paritas tidak berisiko yang teratur melakukan kunjungan ANC sebanyak 16 . Hasil uji Person Chi Square di dapatkan p value 0,001 artinya terdapat hubungan paritas dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Pembahasan Hubungan Usia dengan Kunjungan ANC pada Ibu Hamil di TPMB Berdasarkan hasil penelitian, uji Person Chi Square di dapatkan p value 0,004 artinya terdapat hubungan usia dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia ibu hamil berhubungan signifikan dengan kunjungan antenatal care (ANC), terutama dalam keteraturan dan jumlah kunjungan selama masa kehamilan. Temuan dari penelitian di Puskesmas Minggir oleh Intan Sari & Serlly Destiana . menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara usia ibu hamil dengan kunjungan ANC pada ibu hamil trimester i, di mana ibu hamil dengan usia risiko (<20 tahun atau >35 tahu. lebih berpeluang 7,611 kali untuk melakukan kunjungan ANC secara tidak teratur dibanding ibu yang berada di usia reproduksi ideal 20Ae35 tahun . < 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok usia yang dianggap tidak berisiko lebih konsisten mengikuti jadwal kunjungan pemeriksaan kehamilan sesuai standar dibanding kelompok usia yang berisiko. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang disampaikan dalam Jurnal Menara Ilmu (Novita, 2. yang menjelaskan bahwa ibu hamil berusia 20Ae35 tahun cenderung lebih patuh melakukan kunjungan antenatal care minimal sesuai standar dibanding kelompok usia <20 tahun dan >35 tahun, di mana pada penelitian tersebut ibu usia 20Ae35 tahun memiliki peluang lebih besar untuk patuh kunjungan ANC (OR 6,. Penelitian-penelitian ini menunjukkan pola konsisten bahwa usia ibu hamil merupakan faktor yang memengaruhi perilaku kunjungan ANC. Beberapa literatur internasional juga mendukung peran usia sebagai salah satu determinan ANC, meskipun determinannya bersifat kompleks dan kontekstual. Misalnya, kajian di Sub-sahara Afrika menyatakan bahwa usia maternal termasuk salah satu faktor sosial dan demografis yang berkaitan dengan jumlah kunjungan ANC yang dilakukan, dimana usia yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan frekuensi ANC dibanding usia yang lebih muda dalam kelompok tertentu. Hal ini memperkuat pandangan bahwa usia bukan hanya berkaitan dengan aspek biologis kehamilan tetapi juga dengan kesiapan sosial dan psikologis ibu untuk memanfaatkan layanan kesehatan. Menurut asumsi peneliti, hubungan ini dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme: pertama, ibu hamil yang berada pada usia reproduksi ideal . Ae35 tahu. cenderung memiliki kematangan psikologis yang lebih baik serta pemahaman yang lebih kuat tentang pentingnya pemeriksaan antenatal dibanding ibu yang sangat muda (<20 tahu. yang mungkin kurang pengalaman hidup dan informasi Kedua, ibu hamil usia lanjut (>35 tahu. sering kali merasa sudah memiliki pengalaman kehamilan sebelumnya, sehingga mereka mungkin menilai kunjungan ANC lebih rendah prioritasnya atau kurang memerlukan pemeriksaan rutin jika tidak mengalami keluhan, yang dapat mengakibatkan kunjungan ANC menjadi kurang teratur. Ketiga, secara sosial, ibu hamil dalam rentang usia ideal seringkali memiliki dukungan ekonomi dan keluarga yang mendapatkan akses layanan secara konsisten. Selain itu, perbedaan budaya, persepsi memengaruhi pola kunjungan ANC di berbagai kelompok usia. Misalnya, ibu hamil usia remaja mungkin menghadapi stigma sosial atau kurangnya dukungan keluarga, yang pada gilirannya mengurangi motivasi mereka untuk melakukan kunjungan ANC secara tepat waktu. Sebaliknya, ibu yang sudah dewasa atau memiliki pengalaman hidup yang lebih luas mungkin lebih menyadari manfaat pemeriksaan rutin dan dengan demikian lebih patuh mengikuti rekomendasi health care. Oleh karena itu, meskipun usia ibu hamil sendiri tidak bekerja secara isolatif, banyak penelitian menunjukkan bahwa usia merupakan salah satu faktor penting dalam perilaku kunjungan ANC dan harus dipertimbangkan dalam penyusunan strategi edukasi, dukungan sosial, dan pelayanan kesehatan ibu hamil Hubungan Paritas dengan Kunjungan ANC pada Ibu Hamil di TPMB Berdasarkan hasil penelitian, uji Person Chi Square di dapatkan p value 0,001 artinya terdapat hubungan paritas dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paritas berhubungan dengan kunjungan antenatal care (ANC), di mana variasi jumlah kehamilan sebelumnya . memengaruhi pola kunjungan pemeriksaan kehamilan. Penelitian oleh Pratiwi & Wijaya . di Puskesmas Sehat Bahagia menyatakan bahwa paritas merupakan salah satu determinan kunjungan ANC yang signifikan ibu hamil (Ou. kemungkinan lebih rendah untuk memenuhi kunjungan ANC sesuai standar dibanding ibu hamil primipara . aritas 0Ae. < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman kehamilan Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 sebelumnya memengaruhi kesadaran ibu tentang pentingnya kunjungan pemeriksaan rutin, sehingga ibu dengan riwayat kehamilan lebih banyak cenderung kurang patuh datang ke ANC. Penelitian ini konsisten dengan temuan bahwa paritas tinggi sering dikaitkan dengan penggunaan layanan kesehatan antenatal yang kurang optimal karena ibu menganggap kunjungan rutin tidak terlalu penting jika kehamilan berjalan lancar seperti sebelumnya. Temuan ini sejalan dengan studi dari Nugroho et al. yang menunjukkan bahwa ibu multipara cenderung memiliki frekuensi ANC dibandingkan dengan ibu primipara. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa ibu hamil yang telah mengalami beberapa kehamilan sebelumnya sering merasa memiliki pengalaman cukup sehingga kunjungan ANC dianggap kurang prioritas, terutama apabila tidak mengalami keluhan kehamilan. Sebaliknya, ibu primipara cenderung memiliki kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi tentang kondisi kehamilannya, sehingga lebih termotivasi untuk datang secara teratur ke layanan ANC. Selain itu, studi oleh Suryani & Rohman . dalam Journal of Maternal Health menemukan pola serupa di populasi studi di Jawa Barat, di mana paritas rendah berkaitan dengan jumlah kunjungan ANC yang lebih lengkap dan lebih awal dimulai, sementara paritas tinggi berkaitan dengan kunjungan ANC yang tertunda dan kurang lengkap. Studi ini menjelaskan bahwa ibu dengan paritas rendah biasanya lebih berhati-hati dan cenderung mengikuti rekomendasi layanan kesehatan dengan lebih konsisten untuk memastikan keselamatan kehamilan. Studi lain seperti oleh Haryanti . juga menyatakan bahwa dukungan keluarga dan pengetahuan ibu memoderasi hubungan antara paritas dan kunjungan ANC. ibu multipara dengan dukungan yang kuat masih menunjukkan kunjungan ANC yang baik, sedangkan ibu multipara tanpa dukungan sosial cenderung memiliki kunjungan yang kurang. Hal ini menunjukkan bahwa paritas tidak bekerja sendirian, tetapi berinteraksi dengan faktor sosial lain yang memengaruhi perilaku kunjungan ANC. Dengan demikian, bukti empiris terbaru memperkuat bahwa paritas merupakan salah satu faktor penting yang berhubungan dengan kunjungan ANC, di mana paritas rendah . cenderung lebih mematuhi jumlah ANC direkomendasikan, sedangkan ibu dengan paritas lebih tinggi sering menunjukkan pola kunjungan yang kurang optimal, dan intervensi mempertimbangkan dinamika ini dalam perencanaan edukasi serta dukungan yang disesuaikan dengan pengalaman kehamilan ibu. Menurut asumsi peneliti, hubungan ini dapat dijelaskan oleh beberapa mekanisme psikososial dan perilaku: pertama, ibu dengan paritas rendah . sering kali memiliki kewaspadaan dan kecemasan yang lebih besar terhadap menjalani kehamilan pertama, sehingga mereka cenderung lebih memperhatikan kesehatan kehamilan termasuk melakukan kunjungan ANC secara lengkap sesuai anjuran. Hal ini didukung oleh pemahaman yang lebih mendalam tentang risiko kehamilan dan ketidakpastian pengalaman pertama. Kedua, ibu dengan paritas tinggi . ultipara atau grand AuberpengalamanAy dan menganggap kunjungan ANC kurang diperlukan jika tidak ada keluhan, sehingga kunjungan tidak dilakukan secara Ketiga, beban tanggung jawab sosialekonomi dan keluarga yang lebih tinggi pada ibu multipara, seperti merawat anak lainnya, dapat mengurangi waktu, energi, dan prioritas untuk secara rutin melakukan kunjungan ANC, terutama jika layanan kesehatan jauh atau terasa membebani secara waktu. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dapat ditarik kesimpulan yaitu ada hubungan usia dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025, dibuktikan dengan hasil uji statistik Chi square nilai p value sebesar 0,044. Dimana nilai p value = 0,004 < 0,05. Ada hubungan paritas dengan kunjungan ANC pada ibu hamil di TPMB Bdn. Titik Aryanti. Keb Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2025, dibuktikan dengan hasil uji statistik Chi square nilai p value sebesar 0,044. Dimana nilai p value = 0,001 < 0,05. Diharapkan konseling, dan pemantauan kunjungan ANC pada ibu hamil, khususnya berdasarkan faktor paritas agar kepatuhan kunjungan pemeriksaan kehamilan sesuai standar dapat ditingkatkan. Diharapkan Institusi pendidikan diharapkan memperkuat pembelajaran dan praktik klinik mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kunjungan ANC, termasuk paritas, sehingga mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif dan berbasis kebutuhan ibu hamil. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada semua yang berpartisipasi dalam penelitian ini, besar harapan peneliti agar penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat serta peneliti selanjutnya. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Referensi