Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3. Nomor 5. December 2025. E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Peran Digital Transformation dan Teknologi Digital dalam Memacu Corporate Entrepreneurship: Tinjauan Literatur Haniatur Rofiqoh Umar1*. Dinda Syafitri2. Agung Winarno3. Heny Kusdiyanti4 1-4 1,2,3,4 State University of Malang ABSTRACT This research aims to analyze how digital transformation and digital technology drive corporate entrepreneurship in incumbent companies. The method used is a narrative literature review of books, articles, and academic journals published between 2018 and 2025 that discuss digital transformation, the utilization of digital technology, and corporate Keywords entrepreneurship mechanisms. The study results indicate that digital Digital Transformation. Digital technologiesAisuch as cloud computing, big data analytics, artificial Technology. Corporate intelligence, and collaborative platformsAiserve as an innovation Entrepreneurship. Intrapreneurship, infrastructure enabling rapid experimentation, cross-functional Digital Governance. collaboration, and data-driven decision-making. This technology has Keywords been proven to foster intrapreneurial behavior and strengthen the Transformasi Digital. Teknologi process of creating new value. Beside technological aspects, the Digital. Corporate Entrepreneurship, effectiveness of corporate entrepreneurship is significantly influenced by Intrapreneurship. Digital Governance. organizational factors such as ambidextrous leadership, mature digital governance, and agile-based intrapreneurship programs. External collaboration thru partnerships with startups also plays a crucial role in accelerating innovation, as long as the organization can manage the integration of knowledge and differences in institutional logic. Overall, this review confirms that digital transformation and corporate This is an open access article under the CC BY-SA entrepreneurship are two mutually reinforcing strategic agendas for Copyright A 2025 by Author. Published by Yayasan enhancing organizational competitiveness. Harmonious integration Daarul Huda between digital technology, governance structures, agile culture, and visionary leadership is key to maximizing the potential of corporate entrepreneurship in the digital age. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana transformasi digital dan teknologi digital memacu corporate entrepreneurship pada perusahaan incumbent. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif terhadap buku, artikel, dan jurnal akademik terbitan 2018Ae2025 yang membahas transformasi digital, pemanfaatan teknologi digital, dan mekanisme kewirausahaan korporasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi digitalAiseperti cloud computing, big data analytics, kecerdasan buatan, serta platform kolaboratifAiberperan sebagai infrastruktur inovasi yang memungkinkan eksperimen cepat, kolaborasi lintas fungsi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Teknologi ini terbukti mendorong perilaku intrapreneurial dan memperkuat proses penciptaan nilai baru. Selain aspek teknologi, efektivitas corporate entrepreneurship sangat dipengaruhi oleh faktor organisasional, seperti kepemimpinan ambidextrous, tata kelola digital yang matang, serta program intrapreneurship berbasis Kolaborasi eksternal melalui kerja sama dengan startup juga berperan penting dalam mempercepat inovasi, selama organisasi mampu mengelola integrasi pengetahuan dan perbedaan logika institusional. Secara keseluruhan, tinjauan ini menegaskan bahwa transformasi digital dan corporate entrepreneurship merupakan dua agenda strategis yang saling memperkuat dalam meningkatkan daya saing organisasi. Integrasi yang selaras antara teknologi digital, struktur tata kelola, budaya agile, dan kepemimpinan visioner menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi kewirausahaan korporasi di era digital. ARTICLE INFO Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 01 December 2025 PENDAHULUAN Dalam era ekonomi digital yang ditandai dengan disrupsi teknologi dan volatilitas pasar, kemampuan organisasi untuk berinovasi dan beradaptasi menjadi penentu utama daya saing dan Konsep Corporate Entrepreneurship (CE) mencakup intrapreneurship, corporate venturing, dan inisiatif strategis lainnya, telah lama diakui *Corresponding Author Email: 1haniatur. 2504158@students. id, 2dinda. 2504158@students. fe@um. id, 4heny. fe@um. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, sebagai katalis vital untuk mendorong pertumbuhan dan pembaruan organisasi (Kuratko et al. Namun, lanskap digital kontemporer telah mengubah paradigma ini secara fundamental. Transformasi digital tidak lagi sekadar menjadi alat pendukung efisiensi operasional, melainkan telah berevolusi menjadi kekuatan pendisrupsi dan sekaligus enabler yang merekonfigurasi cara organisasi menciptakan, menangkap, dan memberikan nilai (Nambisan et al. , 2019. Warner & Wyger, 2. Digital Corporate Entrepreneurship adalah salah satu bidang penelitian yang dinamis yang dihasilkan oleh kombinasi kekuatan transformasi digital dan semangat entrepreneurship Fenomena ini merepresentasikan pendekatan strategis di mana teknologi digital dimanfaatkan secara sistematis untuk mempercepat, memperluas, dan mentransformasi proses kewirausahaan di dalam organisasi yang mapan. Teknologi seperti cloud computing, big data analytics, kecerdasan buatan (AI), dan platform kolaboratif menyediakan digital affordances yang memungkinkan eksperimen dengan biaya rendah, kolaborasi lintas batas, dan identifikasi peluang yang digerakkan oleh data (Autio et al. , 2018. D'Angelo et al. , 2. Sementara itu, kerangka CE memberikan strategi dan struktur untuk menyalurkan potensi teknologi ini menjadi inovasi yang bernilai komersial. Meskipun potensinya besar, untuk Digital Corporate Entrepreneurship yang sukses dipenuhi dengan tantangan kompleks. Organisasi sering kali menghadapi digital assimilation gap yaitu kesenjangan antara mengadopsi teknologi dan mengintegrasikannya secara mendalam ke dalam proses kerja dan model bisnis inti (Kohli & Melville, 2. Tantangan lain mencakup resistensi budaya, kesenjangan keterampilan, benturan logika institusional dalam kolaborasi, serta kebutuhan mendesak untuk tata kelola dan kepemimpinan yang efektif (D'Angelo et al. Prygl & Spitzley, 2021. Sebastian et al. , 2. Banyak penelitian membahas transformasi digital dan corporate entrepreneurship secara terpisah, tetapi hanya sedikit penelitian yang menggabungkan keduanya untuk menciptakan dinamika inovasi dalam perusahaan modern. Selain itu, penelitian dalam literatur menunjukkan bahwa hasil yang terkait dengan mekanisme digital yang secara langsung memengaruhi perilaku kewirausahaan dipisahkan. Akibatnya, untuk mengatasi perbedaan ini, diperlukan tinjauan literatur yang lebih terorganisir. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan analisis mendalam dan komprehensif tentang peran transformasi digital dan teknologi digital dalam mendorong kewirausahaan perusahaan. Secara khusus, penelitian ini akan menganalisis peran teknologi digital sebagai infrastruktur inovasi dan penggerak perilaku Penelitian ini juga akan mengkaji mekanisme formal, seperti program intrapreneurship digital dan agile, untuk menyebarkan energi kewirausahaan. mengidentifikasi masalah utama dan menggambarkan prospek di masa depan, seperti kolaborasi manusia dan AI dalam proses kewirausahaan. Tinjauan ini berfokus pada organisasi besar . di berbagai industri, karena organisasi jenis ini menghadapi kompleksitas terbesar dalam mengintegrasikan teknologi digital dan memobilisasi corporate entrepreneurship. Dengan mensintesis temuan dari berbagai studi empiris dan konseptual terkini, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang holistik dan kerangka pemikiran yang berguna bagi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam mengelola dan memanfaatkan sinergi antara transformasi digital dan kewirausahaan METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur naratif untuk menyelidiki hubungan antara transformasi digital, teknologi digital, dan kewirausahaan perusahaan (CE). Ini dipilih Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, karena sesuai dengan tujuan penelitian: menggabungkan konsep, hasil empiris, dan kemajuan teori tanpa mengikuti standar teknis yang ketat seperti Systematic Literature Review (SLR). Studi literatur dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang berupaya memahami hubungan konseptual dan empiris antara perkembangan transformasi digital dan dorongan inovasi kewirausahaan perusahaan berdasarkan temuan penelitian sebelumnya (Yusuf. , & Khasanah. Metode studi literatur yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada serangkaian prosedur sistematis yang mencakup kegiatan mengumpulkan, membaca, mencatat, dan mengelola informasi dari sumber tertulis ilmiah(Verdianto. , & Muspawi. Sumber data diperoleh dari jurnal internasional, artikel ilmiah, buku, dan publikasi akademik lain yang Teknik pengumpulan data dilakukan melalui eksplorasi database Google Scholar, dengan batasan tahun publikasi 2018Ae2025 untuk memastikan keterbaruan penelitian dan kesesuaian dengan dinamika perkembangan teknologi digital dalam konteks organisasi modern. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, yakni informasi yang diperoleh dari hasil penelitian terdahulu dan sumber literatur terpercaya. Analisis data melalui tiga tahapan sistematis (Sujiono. , & Astuti. Reduksi Data. Pada tahap pertama, literatur yang dikumpulkan dipilah, dipersempit, dan disaring berdasarkan topik penelitian: bagaimana teknologi digital dan transformasi digital mendorong entrepreneurship perusahaan. Tujuan proses reduksi adalah untuk menemukan variabel utama, hasil utama, dan hubungan antar konsep yang mendukung tujuan penelitian serta menghilangkan informasi yang tidak relevan. Penyajian Data. Setelah proses reduksi, data disusun dan diorganisasi kembali dalam struktur tematik. Mereka dikategorikan berdasarkan topik. Contohnya termasuk jenis transformasi digital yang terjadi dalam organisasi, cara teknologi digital digunakan untuk inovasi, indikator entrepreneurship perusahaan, dan bagaimana digitalisasi mempengaruhi penciptaan nilai dan keunggulan kompetitif. Tahap ini membuat interpretasi dan analisis temuan lebih Penarikan Kesimpulan. Tahap terakhir adalah menginterpretasikan data secara menyeluruh untuk memahami arti dan dampak dari hasil. Pada titik ini, peneliti menemukan hubungan yang kuat dan logis antara transformasi digital, pemanfaatan teknologi digital, dan peningkatan entrepreneurship perusahaan. Penemuannya mencakup kontribusi teoretis dan praktis untuk kemajuan ilmu manajemen dan kewirausahaan perusahaan, menjawab pertanyaan penelitian, dan memastikan bahwa temuan literatur dengan benar. Penelitian ini menggunakan metodologi studi literatur, tidak hanya mengumpulkan data tetapi juga membangun pemahaman konseptual dan praktis tentang bagaimana transformasi digital dan teknologi digital menjadi katalis penting dalam mendorong entrepreneurship perusahaan dalam organisasi yang berbasis inovasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Transformasi digital telah berevolusi dari peran pendukung menjadi elemen strategis kritis yang membentuk keunggulan kompetitif berkelanjutan organisasi (Nambisan et al. , 2. Dalam kerangka Corporate Entrepreneurship (CE), inisiatif seperti ventura korporat dan transformasi strategis berbasis teknologi berfungsi sebagai pilar utama yang memperkuat kapasitas inovasi perusahaan, termasuk kegiatan intrapreneurship (Kuratko & Audretsch, 2. Berdasarkan sintesis literatur terkini, penelitian ini menganalisis secara mendalam dampak transformasi digital terhadap kewirausahaan korporat serta menginvestigasi mekanisme yang mendasari hubungan tersebut (Ferreira et al. , 2. Haniatur Rofiqoh Umar, et. , al/ Peran Digital Transformation Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Teknologi Digital sebagai Infrastruktur dan Katalis Inovasi Teknologi digital membentuk infrastruktur yang memungkinkan eksperimen dan pengembangan konsep baru dengan kecepatan dan efisiensi tinggi (D'Angelo et al. , 2. Penelitian Nambisan et al. , . menjelaskan terkait konsep digital affordances. Teknologi seperti cloud, analitik data besar, dan IoT menyediakan "digital affordances" yaitu kemampuan yang memungkinkan individu dan tim untuk bereksperimen dan berkolaborasi dengan biaya rendah dan risiko kegagalan yang minimal. Affordances ini mencakup, kombinasi sumber daya, menggabungkan dan mengatur ulang aset digital dengan mudah (Autio et al. , 2. Perkembangan teknologi digital juga melahirkan kolaborasi kolaborasi platform digital. Platform ini tidak hanya menghubungkan orang, tetapi menciptakan ekosistem untuk berbagi pengetahuan tacit dan eksplisit, yang dapat memunculkan peluang inovasi radikal yang mungkin terlewatkan dalam proses tradisional (Bogers et al. , 2. Teknologi digital berperan sebagai lingkungan generatif aktif dan katalis terpenting untuk kewirausahaan korporat. Teknologi tidak hanya membuka ruang teknis, tetapi juga menciptakan kondisi sosial dan kognitif yang mendorong eksperimentasi, kolaborasi kaya, dan wawasan berbasis data, sehingga mempercepat perilaku intrapreneurial dalam organisasi. Program Intrapreneurship dan Transformasi Organisasi Mekanisme resmi seperti program intrapreneurship diperlukan untuk memanfaatkan infrastruktur digital secara maksimal. Program ini meningkatkan kapabilitas organisasi dan menciptakan budaya inovasi, baik dari proyek yang berhasil maupun yang gagal (Bitzer et al. Program menjadi "Agile Intrapreneurship", yang menggabungkan kelincahan eksekusi dengan semangat kewirausahaan (GrebiN et al. , 2. Pendekatan ini menekankan: Tim lintas fungsi yang otonom. Pengembangan iteratif berdasarkan umpan balik pelanggan (Ciriello et al. , 2. Kemampuan untuk "berputar" . tanpa stigma kegagalan. Ritme kerja yang cepat dan terprediksi melalui ritual agile (Goncalves et al. , 2. Peran Kegagalan dan Kepemimpinan: Kegagalan yang Terkelola: Kegagalan yang "cerdas" . ntelligent failur. Aidicirikan oleh eksperimen kecil, hipotesis jelas, dan pembelajaran cepatAimerupakan umpan balik berharga dan bagian integral dari pembelajaran organisasi serta membangun ketahanan . orporate entrepreneurship resilienc. (Kuratko et al. , 2020. Cannon & Edmondson, 2. Kepemimpinan Pengelola Ketegangan: Keberhasilan membutuhkan pemimpin yang bertindak sebagai "pengelola ketegangan" . ension manager. yang menyeimbangkan otonomi tim dengan kohesi strategis, serta mendorong eksperimen sambil melindungi bisnis inti (Hampel et al. , 2. Program intrapreneurship yang efektif telah berevolusi menjadi jaringan tim agile yang Keberhasilannya bergantung pada budaya yang mendukung pembelajaran, metodologi yang terstruktur namun adaptif, dan kepemimpinan yang mampu mengelola kompleksitas inovasi. Mekanisme ini mengubah organisasi dari reaktif menjadi proaktif dalam menciptakan perubahan. Strategi Venturing Eksternal: Digital Innopreneurship Inovasi internal yang seringkali terlalu lambat, perusahaan mapan beralih ke venturing eksternal melalui kolaborasi dengan startup. Kerangka dan Kriteria Keberhasilan: Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Konsep "Digital Innopreneurship" menekankan kolaborasi simbiosis yang memerlukan kerangka evaluasi sistematis, seperti mempertimbangkan 'Digital-Management-IndividualFit' untuk memilih mitra yang tepat (Kollmann, 2. Keberhasilan bergantung pada kedewasaan proses manajemen pengetahuan perusahaan induk untuk menyerap, mengasimilasi, dan mengintegrasikan pengetahuan dari startup (Gutmann et al. , 2021. Weiblen & Chesbrough, 2. Narasi strategis yang efektif . trategic stories of connectio. dibutuhkan untuk menjembatani janji inovasi startup dengan realitas korporat guna mendapatkan dukungan internal (Mikhalkina & Cabantous, 2. Tantangan dan Penyeimbang: Benturan Logika Institusional: Terdapat perbedaan mendasar antara logika operasi korporat . fisiensi, manajemen risik. dan startup . ecepatan, eksperime. (Kohler, 2. Pengaruh Konteks Organisasi: Dinamika unik seperti identitas keluarga yang kuat dalam perusahaan keluarga dapat menghambat prioritas strategis untuk venturing eksternal (Prygl & Spitzley, 2. Solusinya perlu pembentukan unit perantara . oundary-spanning unit. atau lab inovasi berfungsi sebagai buffer dan penerjemah budaya untuk mengatasi benturan logika dan memfasilitasi kolaborasi tanpa mengganggu operasi inti (Bacq et al. , 2. Venturing eksternal memberi akses pada inovasi radikal, namun memerlukan mekanisme integrasi yang jelas, kemampuan manajemen pengetahuan yang matang, serta strategi . eperti unit perantara dan naras. untuk menjembatani perbedaan budaya dan logika antara korporat dan startup Fondasi Kesuksesan: Kepemimpinan Strategis dan Tata Kelola Digital Keberhasilan transformasi digital bergantung pada integrasi kepemimpinan strategis dan tata kelola digital (Simsek et al. , 2024. Sebastian et al. , 2. Kepemimpinan Strategis sebagai Arsitek Pemimpin harus menerapkan "strategic entrepreneurship framing" untuk menyeimbangkan eksploitasi bisnis inti dengan eksplorasi peluang digital (Simsek et al. , 2. Mereka perlu membangun kapabilitas dinamik untuk merasakan, menangkap, dan mentransformasi peluang digital (Warner & Wyger, 2. , serta menjadi pengelola ambidexterity yang mengelola ketegangan antara stabilitas dan inovasi (Kretschmer & Khashabi, 2. Fondasi Tata Kelola Digital yang Kuat Tanpa tata kelola yang baik, investasi digital gagal mencapai dampak optimal. Pengendalian internal adalah mediator kritis antara transformasi digital dan produktivitas (Li et al. , 2. Kerangka Tata Kelola Digital yang matang diperlukan untuk mengelola investasi, risiko, dan kinerja inovasi (Mikalef & Krogstie, 2. Struktur seperti Unit Inovasi Digital (DIU) dapat menjadi wadah eksperimen yang gesit namun terhubung dengan strategi (Tumbas et al. Keterlibatan Dewan Direksi . isalnya melalui komite dan metrik khusu. juga penting untuk mendorong nilai bisnis (Sebastian et al. , 2. Transformasi memerlukan simbiosis antara pemimpin yang ambidextrous dan fondasi tata kelola yang memungkinkan eksperimen gesit dengan pengendalian dan akuntabilitas yang Tantangan dan Arah Masa Depan Perjalanan menuju Digital Corporate Entrepreneurship menghadapi tantangan signifikan namun juga membuka peluang transformatif. Haniatur Rofiqoh Umar, et. , al/ Peran Digital Transformation Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Tantangan Utama: Resistensi Budaya & Kesenjangan Keterampilan: Merupakan penghambat utama, sering berakar pada ketidaknyamanan akan perubahan (D'Angelo et al. , 2. Kesenjangan Asimilasi Digital: Banyak perusahaan terjebak pada fase "penggunaan" teknologi tanpa mencapai integrasi mendalam ke dalam proses inti untuk menciptakan nilai baru (Kohli & Melville, 2. Beban Warisan Digital (Digital Deb. : Akumulasi sistem warisan, data terisolasi, dan proses kaku menghambat kelincahan dan inovasi, memerlukan "pembayaran hutang" yang signifikan (Hanelt et al. , 2. Perangkap Kapabilitas: Organisasi bisa terlalu terampil mengeksploitasi model bisnis lama sehingga mematikan kemampuan eksplorasi inovasi radikal (Benner & Tushman, 2. Peluang Transformatif: Kolaborasi Manusia-AI: Teknologi seperti AI tidak hanya mengotomasi, tetapi dapat membantu identifikasi peluang, pembuatan prototipe, dan pengambilan keputusan strategis, membuka bidang "Digital Corporate Entrepreneurship with AI" (Autio et al. , 2. Identifikasi Peluang yang Lebih Baik: Algoritma dapat mengungkap pola pasar atau celah teknologi yang halus, yang mungkin luput dari analisis manusia (Fountaine et al. , 2. Keunggulan Imajinatif: Platform AI memungkinkan perusahaan tidak hanya merespons pasar, tetapi secara proaktif membayangkan dan membentuk masa depan melalui generasi ide (Nambisan et al. , 2. SIMPULAN Transformasi digital dan corporate entrepreneurship saling mendukung. Teknologi . AI, analiti. berfungsi sebagai infrastruktur inovasi dan alat operasional, namun efektivitasnya bergantung pada integrasi dengan budaya agile, tata kelola digital, dan kepemimpinan visioner. Intrapreneurship, venturing, dan kepemimpinan ambidexter adalah kerangka strategis untuk memanfaatkan potensi ini. Tantangan utama meliputi resistensi budaya, kesenjangan digital, dan struktur lama. Peluang terbesar terletak pada kolaborasi manusia-AI, di mana AI menjadi mitra kreatif, bukan sekadar alat otomatisasi. Integrasi holistik kedua agenda ini membangun model bisnis yang fleksibel, keunggulan kompetitif berbasis data, dan portofolio inovasi yang adaptif. Penelitian lebih lanjut diperlukan mengenai pengembangan kapabilitas di berbagai skala industri, serta dampak teknologi generatif AI pada proses kewirausahaan di masa depan. REKOMENDASI Pemerintah: Mengembangkan program pelatihan digital dan kewirausahaan nasional. mendorong kolaborasi terbuka antara perusahaan, startup, dan akademisi dengan insentif Dewan Direksi & Manajemen Puncak:Menerapkan framing entrepreneurship strategis dengan mengelola portofolio inovasi . ksploitasi & eksploras. , memperkuat tata kelola digital . omite, metrik, manajemen risik. , mengembangkan kepemimpinan ambidextrous yang mampu menyeimbangkan operasi stabil dan inovasi disruptif. Manajer & Pelaksana: membangun program intrapreneurship agile terstruktur . eperti innovation lab. dengan budaya belajar dari kegagalan, menginstitusionalkan proses kemitraan dengan startup, mengeksplorasi penerapan AI untuk identifikasi tren, generasi ide, dan pengambilan keputusan inovasi. Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Dengan rekomendasi ini, organisasi dapat bertransformasi menjadi organisasi entrepreneurial yang adaptif dan proaktif. REFERENSI