Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU REMAJA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PENCEGAHAN KEHAMILAN TIDAK DI INGINKAN DI KLINIK DOKTER HABIB KOTO GASIB 2025 Windi Kurniawati1. Wira Ekdeni Aifa2. Nurhidaya Fitria3. Rizka Mardiya4 1,2,3,4 Institut Kesehatan Dan Teknologi Al Insyirah Pekanbaru. Riau. Indonesia Kurniawati2549@app. ABSTRAK Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) masih menjadi masalah serius dalam kesehatan reproduksi remaja di Indonesia, termasuk di Kabupaten Siak. KTD berdampak luas terhadap kehidupan remaja, seperti peningkatan risiko putus sekolah, gangguan psikologis, serta komplikasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi dengan upaya pencegahan KTD di Klinik Dokter Habib Koto Gasib Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja yang berkunjung ke klinik tersebut dengan total 44 responden, diperoleh melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang menilai pengetahuan, perilaku, dan tindakan pencegahan KTD. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,3% responden memiliki pengetahuan baik, 63,6% berperilaku baik, dan 54,5% memiliki pencegahan KTD yang baik. Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan . =0,. dan perilaku . =0,. dengan pencegahan KTD. Kesimpulannya, pengetahuan dan perilaku remaja berpengaruh signifikan terhadap pencegahan KTD. Oleh karena itu, edukasi reproduksi remaja perlu ditingkatkan melalui penyuluhan berkelanjutan agar remaja mampu menerapkan perilaku pencegahan secara konsisten. Kata kunci : Pengetahuan. Perilaku. KTD. Remaja. Kesehatan Reproduksi ABSTRACT Unintended pregnancy (UP) remains a major reproductive health concern among adolescents in Indonesia, including in Siak Regency. UP is associated with various negative consequences, such as school dropout, psychological problems, and adverse health outcomes. This study aimed to examine the relationship between adolescentsAo knowledge and behavior regarding reproductive health and the prevention of unintended pregnancy at the Doctor Habib Koto Gasib Clinic in 2025. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 44 adolescent respondents selected using accidental sampling. Data were analyzed using the Chi-Square statistical test. The results showed that most respondents had good knowledge . 3%), demonstrated positive behavior . 6%), and exhibited good unintended pregnancy prevention practices . 5%). Statistical analysis indicated a significant relationship between knowledge and unintended pregnancy prevention . cy = 0. as well as between behavior and unintended pregnancy prevention . cy = 0. In conclusion, adolescentsAo knowledge and behavior regarding reproductive health have a significant influence on the prevention of unintended pregnancy. Keywords : Knowledge. Behavior. Unintended Pregnancy. Adolescent. Reproductive Health LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 PENDAHULUAN penelitian diharapkan mendukung upaya kehamilan dini dan memperkuat kesehatan remaja di Provinsi Riau. Remaja merupakan kelompok usia transisi yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi (UNFPA, 2. Pada masa ini, perubahan biologis dan psikososial sering mendorong perilaku seksual berisiko yang dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. WHO melaporkan 21 juta perempuan usia 15Ae19 tahun hamil setiap tahun di negara berkembang, dengan 50% di antaranya tidak direncanakan (Organization, 2. Masalah ini berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan Kehamilan usia muda masih menjadi isu serius di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia mencatat adanya kehamilan remaja dengan dampak sosial dan ekonomi yang luas ((Darmawati et al. , 2024. SKI, 2. Di Provinsi Riau, 14,2% perempuan usia 15Ae49 tahun melahirkan pertama kali sebelum usia 20 tahun (BPS Riau, 2. Sementara di Kabupaten Siak, angkanya 13,4% (BPS Siak, 2. Data Kecamatan Koto Gasib belum mencantumkan angka kehamilan remaja secara spesifik (BPS Siak, 2. Kondisi ini menandakan perlunya penelitian primer di tingkat lokal. Klinik Dokter Habib Koto Gasib dipilih karena banyak dikunjungi remaja dan dapat menjadi sumber data lapangan yang akurat. Penelitian ini penting untuk dasar penguatan program edukasi reproduksi di wilayah tersebut. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengetahuan berperan penting dalam pencegahan KTD. (Agustini et al. , 2. menemukan hubungan antara peningkatan pengetahuan dan sikap positif remaja terhadap kesehatan reproduksi. (Dewi, 2. juga membuktikan edukasi mampu meningkatkan pengetahuan secara signifikan. Berbeda dari studi terdahulu, penelitian ini berfokus pada hubungan pengetahuan dan perilaku remaja di fasilitas pelayanan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan perilaku remaja dengan pencegahan kehamilan tidak diinginkan di Klinik Dokter Habib Koto Gasib. Selain itu, penelitian ini diharapkan menghasilkan data lokal yang berguna bagi kebijakan edukasi reproduksi remaja di tingkat kabupaten. Temuan LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan perilaku remaja terhadap pencegahan kehamilan tidak diinginkan di Klinik Dokter Habib Koto Gasib tahun Penelitian dilakukan pada OktoberAe November 2025 dengan sampel 44 dari 50 remaja menggunakan rumus Slovin dan teknik accidental sampling (Setiono, 2. Variabel independen adalah pengetahuan dan perilaku remaja tentang kesehatan reproduksi, sedangkan variabel dependen Data dikumpulkan melalui kuesioner . item per variabe. dan dianalisis dengan uji Chi-Square ( = 0,. menggunakan SPSS. Proses pengolahan meliputi editing, coding, scoring, dan Penelitian ini memperhatikan etika penelitian seperti informed consent, anonimitas, dan kerahasiaan (Hidayat. Hasilnya diharapkan menjadi dasar penguatan edukasi reproduksi remaja dan kebijakan pencegahan kehamilan tidak diinginkan di Kabupaten Siak. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Analisis Univariat dilakukan untuk menganalisis setiap variabel yang ada secara Untuk mendeskipsikan dan melihat distribusi serta frekuensi mengenai Jenis Kelamin responden. Pendidikan responden. Usia responden, dan Status pernikahan, frekuensi kategori Pengetahuan, frekuensi kategori Perilaku, dan frekuensi pencegahan Kehamilan Tidak Diinginkan. Tabel 1. Distribusi Usia Responden di Klinik Dokter Habib Koto Gasib Usia (Tahu. Frekuensi . Persentase (%) Usia 15 Tahun Usia 16 Tahun Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 Usia 17 Tahun Usia 18 Tahun Jumlah Sumber : Data primer . 44 orang Berdasarkan Tabel 1, mayoritas responden berusia 17 tahun sebanyak 15 orang dengan persentase 34,1%. Hasil ini menunjukkan bahwa responden berada pada fase remaja akhir yang, menurut (Organization, 2. , merupakan masa transisi rentan terhadap perubahan biologis dan psikososial yang sering mendorong perilaku seksual berisiko sehingga dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Prasetya et al. , 2. yang menyatakan bahwa usia sangat berpengaruh terhadap tingkat kematangan dalam menyerap informasi kesehatan reproduksi. Peneliti berasumsi bahwa pada usia 17 tahun, remaja mulai memiliki kemandirian dalam mencari informasi kesehatan namun masih memerlukan bimbingan intensif agar rasa ingin tahu yang tinggi tersebut tidak mengarah pada perilaku seksual yang merugikan masa depan mereka. Tabel 2. Distribusi Jenis Kelamin Responden di Klinik Dokter Habib Koto Gasib Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Frekuensi . 44 orang Persentase (%) Sumber : Data primer . Berdasarkan Tabel 2, diketahui bahwa distribusi jenis kelamin responden adalah seimbang antara laki-laki dan perempuan dengan persentase masing-masing 50,0%. Hal ini sejalan dengan teori (Setiono, 2. yang menyatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam memahami kesehatan reproduksi guna mencegah perilaku berisiko. Hasil penelitian ini didukung oleh temuan (Hapsari, 2. yang menunjukkan bahwa keterlibatan kedua gender sangat penting dalam keberhasilan pencegahan kehamilan tidak Peneliti mengunjungi fasilitas kesehatan dan mencari informasi reproduksi di wilayah Koto Gasib tidak lagi didominasi oleh satu gender saja, sehingga program edukasi ke depannya dapat dilakukan secara inklusif tanpa membedakan peran antara remaja laki-laki dan perempuan dalam upaya pencegahan KTD. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Tabel 3. Distribusi Pendidikan Responden di Klinik Dokter Habib Pendidikan SMP SMA Frekuensi . Jumlah Sumber : Data primer . Persentase (%) 44 orang Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa mayoritas pendidikan responden adalah SMA, yaitu sebanyak 36 orang dengan persentase 81,8%. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi daya serap individu terhadap informasi, di mana pendidikan yang lebih tinggi cenderung berkorelasi dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan reproduksi. Hal ini sejalan dengan penelitian (Yetti et al. , 2. pendidikan formal berkontribusi signifikan terhadap efektivitas edukasi kesehatan yang Peneliti berasumsi bahwa dominasi responden berpendidikan SMA di Klinik Dokter Habib memberikan peluang lebih besar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan materi edukasi yang lebih mendalam dan teknis, karena remaja pada tingkat ini dianggap telah memiliki dasar logika yang cukup untuk memahami konsekuensi jangka panjang dari kehamilan tidak diinginkan bagi masa depan mereka. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pernikahan di Klinik Habib Status Pernikahan Belum Menikah Status Dokter Frekuensi . Persentease (%) Sudah Menikah Jumlah Sumber : Data primer . Berdasarkan Tabel 4, diketahui bahwa seluruh responden . %) berstatus belum Status pernikahan pada usia remaja merupakan indikator penting dalam risiko kesehatan reproduksi, di mana remaja yang belum menikah namun aktif secara sosial memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap dampak sosial dan ekonomi jika terjadi kehamilan. Hal ini sejalan dengan teori dalam Survei Kesehatan Indonesia . yang mencatat bahwa kehamilan pada remaja yang belum menikah menimbulkan konsekuensi luas seperti Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 risiko putus sekolah dan gangguan psikologis. Peneliti berasumsi bahwa status seluruh responden yang belum menikah di Klinik Dokter Habib menunjukkan bahwa populasi ini adalah target yang sangat krusial bagi program pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD), karena mereka berada dalam masa transisi yang harus menjaga masa depan pendidikan dan kesehatan mereka dari perilaku seksual berisiko sebelum memasuki jenjang pernikahan yang sah. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja di Klinik Dokter Habib Tingkat Pengetahuan Kurang Cukup Baik Jumlah Sumber : Data primer . Frekuensi . Persentease (%) Berdasarkan Tabel 5, diketahui bahwa mayoritas remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai kesehatan reproduksi, yaitu sebanyak 34 orang . ,3%). Pengetahuan merupakan domain penting dalam pembentukan tindakan, di mana pengetahuan yang baik akan menjadi dasar bagi remaja dalam mengambil keputusan yang tepat untuk menghindari risiko Hal ini sejalan dengan penelitian (Prasetya et al. , 2. yang menemukan bahwa peningkatan pengetahuan berhubungan positif dengan sikap remaja terhadap kesehatan Peneliti berasumsi bahwa tingginya tingkat pengetahuan pada responden di Klinik Dokter Habib dipengaruhi oleh paparan informasi digital dan sosialisasi kesehatan yang efektif di wilayah tersebut. Pengetahuan yang baik ini merupakan modal utama bagi remaja untuk memahami risiko kehamilan tidak diinginkan, sehingga mereka cenderung memiliki kesadaran lebih tinggi dalam menjaga perilaku seksual yang sehat. Tabel 6. Distribusi Frekuensi Tingkat Perilaku Remaja di Klinik Dokter Habib Tingkat Perilaku Kurang Cukup Baik Jumlah Sumber : Data primer . Frekuensi . Persentease (%) Berdasarkan Tabel 6, diketahui bahwa mayoritas remaja memiliki tingkat perilaku yang baik, yaitu sebanyak 28 orang . ,6%). Perilaku merupakan bentuk nyata dari penerapan pengetahuan dan sikap seseorang dalam LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan teori (SETIONO, 2. yang menyatakan bahwa perilaku kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta Temuan ini juga didukung oleh penelitian (Wahyuningtyas, 2. yang menegaskan bahwa perilaku positif berpengaruh terhadap rendahnya angka kehamilan tidak diinginkan (KTD). Peneliti berasumsi bahwa perilaku baik yang ditunjukkan oleh sebagian besar remaja di Klinik Dokter Habib mencerminkan adanya kontrol diri yang kuat dalam pergaulan Perilaku ini menjadi faktor pelindung utama yang memungkinkan remaja untuk menghindari situasi berisiko yang dapat memicu terjadinya KTD, meskipun tetap diperlukan konsistensi dalam penerapannya. Tabel7. Distribusi Frekuensi Pencegahan Kehamilan Tidak Diinginkan di Klinik Dokter Habib Pencegahan KTD Frekuensi . Persentease (%) Kurang Cukup Baik Jumlah Sumber : Data primer . Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa mayoritas responden memiliki upaya pencegahan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang baik, yaitu sebanyak 24 orang . ,5%). Pencegahan KTD merupakan tindakan preventif yang krusial untuk gangguan psikologis, serta risiko sosial seperti putus sekolah. Hal ini sejalan dengan teori perilaku kesehatan yang menyatakan bahwa tindakan pencegahan dipengaruhi oleh kesadaran individu terhadap risiko yang Temuan ini juga didukung oleh (Hapsari, menekankan pentingnya langkah-langkah proaktif remaja dalam menjaga kesehatan reproduksi mereka. Peneliti berasumsi bahwa dominasi kategori "baik" dalam pencegahan KTD ini merupakan refleksi dari tingginya pengetahuan dan perilaku positif responden yang telah dipaparkan pada tabel sebelumnya. Meskipun demikian, adanya responden di kategori "cukup" Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 . ,2%) menunjukkan bahwa masih diperlukan pendampingan konsisten agar seluruh remaja mampu menerapkan tindakan pencegahan secara optimal dan menyeluruh. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk independen . engetahuan dan perilaku remaj. dengan variabel . encegahan kehamilan tidak diinginka. menggunakan uji Chi-Square. Seluruh variabel bersifat kategorik dan telah dikelompokkan dalam kategori baik, cukup, dan kurang berdasarkan skor kuesioner. Data kemudian dibuat dalam tabulasi silang dan dianalisis dengan SPSS untuk menentukan tingkat signifikansi hubungan antarvariabel. Interpretasi nilai signifikansi . -valu. pada uji Chi-Square adalah sebagai berikut: A Jika p O 0,05 Ie terdapat hubungan yang A Jika p > 0,05 Ie tidak terdapat hubungan yang Tabel 8. Hubungan Pengetahuan Remaja (XCA) dengan Pencegahan KTD (Y) Tingkat Pengetahuan Pencegahan KTD Kurang Cukup Baik Total Kurang Cukup Baik Total Sumber : Data primer . Uji Chi-Square NA = 14,532 df = 4 p-value = 0,006 Berdasarkan Tabel 8, hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai ycy = 0,006 . cy < 0,. , yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan remaja dengan upaya pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Sebagian besar responden yang memiliki pengetahuan baik juga menunjukkan upaya pencegahan KTD yang baik, yaitu sebanyak 23 orang . ,6%). Temuan ini sejalan dengan teori Lawrence Green dalam (Setiono, 2. yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang berperan penting dalam pembentukan perilaku positif seseorang. Hasil penelitian ini juga LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang didukung oleh studi Adjie . yang menemukan adanya hubungan antara peningkatan pengetahuan dengan sikap Peneliti berasumsi bahwa pemahaman yang baik mengenai sistem reproduksi serta risiko perilaku seksual menjadi dasar kognitif bagi remaja di Klinik Dokter Habib untuk melakukan tindakan pencegahan secara sadar. Semakin tinggi tingkat pemahaman remaja terhadap dampak jangka panjang KTD, maka semakin besar pula motivasi mereka untuk menerapkan perilaku preventif dalam kehidupan seharihari. Tabel 9. Hubungan Perilaku Remaja (XCC) dengan Pencegahan KTD (Y) Tingkat Perilaku Cukup Pencegahan KTD Kurang Cukup Baik Total Baik Total Sumber : Data primer . Uji Chi-Square NA = 13,551 df = 2 p-value = 0,001 Berdasarkan Tabel 9, hasil uji ChiSquare menunjukkan nilai ycy = 0,001 . cy < 0,. , yang mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku remaja dengan upaya pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Sebagian besar responden yang memiliki perilaku baik juga menunjukkan upaya pencegahan KTD yang baik, yaitu sebanyak 21 orang . %). Temuan ini sejalan dengan teori perilaku kesehatan yang menyatakan bahwa perilaku positif merupakan manifestasi nyata dari kesadaran individu yang berperan penting dalam menurunkan risiko terjadinya KTD, sebagaimana dikemukakan dalam penelitian (Wahyuningtyas, 2. Peneliti berasumsi bahwa perilaku remaja yang baik di Klinik Dokter Habib mencerminkan kemampuan mereka dalam mengendalikan diri serta menghindari lingkungan dan aktivitas seksual yang berisiko. Semakin konsisten remaja dalam menerapkan perilaku sehat terkait kesehatan reproduksi, maka semakin Jurnal Kesehatan Husada Gemilang besar pula peluang mereka untuk berhasil mencegah terjadinya kehamilan yang tidak KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Klinik Dokter Habib Koto Gasib pada tahun 2025, dapat disimpulkan bahwa mayoritas remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik . ,3%) dan perilaku yang baik . ,6%) dalam upaya pencegahan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan . = 0,. dan perilaku remaja . = 0,. dengan tindakan pencegahan KTD. Hal ini menegaskan bahwa semakin tinggi pemahaman dan semakin positif perilaku remaja terkait kesehatan reproduksi, maka semakin efektif pula upaya mereka dalam mencegah terjadinya kehamilan tidak diinginkan. Sebagai saran, institusi pendidikan diharapkan terus memperkaya sumber belajar mengenai kesehatan reproduksi untuk memperkuat landasan kognitif siswa. Remaja diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat secara konsisten guna menghindari risiko seksual berisiko. Tenaga kesehatan di klinik disarankan untuk memperluas jangkauan edukasi dan konseling yang inklusif bagi seluruh gender. Terakhir, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan metode kualitatif atau variabel lain yang lebih beragam guna memperdalam pemahaman mengenai faktor-faktor kompleks yang memengaruhi pencegahan KTD di tingkat UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada seluruh responden atas partisipasinya dalam penelitian ini. Terimakasih juga disampaikan kepada seluruh reviewer dan editor Jurnal Kesehatan Husada Gemilang atas apresiasinya terhadap blind reviewer. DAFTAR PUSTAKA