Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. https://doi. org/10. 35877/panrannuangku3929 ISSN: 2798-1096 . Transformasi Digital di Pedesaan: Efektivitas Pelatihan Public Speaking Berbasis AI Bagi Remaja di Desa Sokkolia Kabupaten Gowa Andi Asmawati Azisa. Hilda Karima. Nani Kurniaa. Zakia Asrifah Ramlyb,*, & Andi Irga Satrawati Taslimc Universitas Negeri Makassar. Makassar. Indonesia Universitas Indonesia Timur. Makassar. Indonesia Universitas Muhammadiyah Bone. Bone. Indonesia Abstract Desa Sokkolia di Kecamatan Bontomarannu. Kabupaten Gowa, merupakan wilayah dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan. Namun, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, khususnya di kalangan remaja, masih terbatas. Remaja masjid memiliki potensi dalam penguatan peran sosial dan keagamaan, namun sering kali belum dibekali keterampilan komunikasi yang memadai. Untuk itu, dilaksanakan program pelatihan public speaking bagi remaja masjid di Desa Sokkolia. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan kepercayaan diri peserta. Sebanyak 13 remaja mengikuti pelatihan yang mencakup penyuluhan, teknik dasar berbicara, latihan presentasi, dan simulasi berbicara di depan audiens. Narasumber berasal dari kalangan profesional di bidang komunikasi, dan peserta juga memperoleh alat bantu seperti mikrofon portable dan modul pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta. Sebelum pelatihan, hanya 20% peserta yang Ausangat pahamAy pentingnya komunikasi publik, sedangkan setelah pelatihan meningkat menjadi 95%. Peningkatan serupa juga terjadi pada indikator lain seperti teknik menyusun pidato . ari 15% menjadi 90%), pengendalian gugup . % menjadi 85%), serta penggunaan alat bantu visual . % menjadi 75%). Pelatihan ini membuktikan efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan komunikasi remaja masjid, yang diharapkan dapat mendorong partisipasi mereka dalam kegiatan dakwah dan sosial di masyarakat. Program ini menjadi langkah awal pembentukan generasi muda yang komunikatif, percaya diri, dan berdaya saing. Keywords: public speaking, komunikasi, artifial intelegence, transformasi digital. Pendahuluan* Desa Sokkolia, yang terletak di Kecamatan Bontomarannu. Kabupaten Gowa. Sulawesi Selatan, memiliki populasi 163 jiwa yang terus berkembang (Azis et al. , 2. dengan banyaknya kegiatan yang melibatkan pemuda Karang Taruna, baik dalam acara sosial maupun pembangunan desa. Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat. Karang Taruna di desa ini berperan penting dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan. Namun, meskipun pemuda-pemuda ini sangat aktif, sering kali mereka masih menghadapi tantangan dalam hal kemampuan berbicara di depan umum dan menyampaikan ide secara jelas dan persuasif. Pemuda Karang Taruna yang memiliki kemampuan berbicara di depan umum dengan baik, akan lebih efektif dalam menyampaikan gagasan, memimpin diskusi, maupun mengajak partisipasi masyarakat dalam setiap inisiatif sosial. Tanpa keterampilan ini, banyak potensi yang dapat terhambat, terutama dalam menjalankan program-program yang melibatkan kerjasama antar warga desa atau ketika mereka berhadapan dengan pihak luar, seperti lembaga pemerintah atau lembaga non-pemerintah. Faktor pendukung keefektifan komunikasi dalam Public speaking adalah penguasaan materi, mengelola peserta berani, membaca situasi, dan penampilan yang menarik perhatian (Narsih et al. , 2021. Syah et al. , 2. Kunci kesuksesan dalam Public speaking yaitu keberanian. Cara untuk selalu berani tampil dan berbicara didepan orang lain adalah harus selalu berlatih, karena tidak ada cara yang mudah untuk kemampuan Public speaking (Darul et al. , 2022. Rahmiati et al. , 2. Keterampilan Public speaking yang dimiliki menggambarkan penguasaan pengetahuan dan Corresponding author: E-mail address: zakiaasrifah28@gmail. Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat is licensed under an Attribution-NonCommercial 4. 0 International (CC BY-NC 4. Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 intelektual dalam berpikir (Yulianti et al. , 2. Namun, terlepas dari pentingnya keterampilan ini, banyak pemuda yang belum mendapatkan akses yang memadai untuk mengasah kemampuan berbicara mereka. Keterbatasan waktu, anggaran, dan sumber daya menjadi tantangan yang signifikan. Di sinilah teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), bisa memainkan peran penting dalam mengatasi kendala-kendala tersebut (Miftahul et al. , 2. Revolusi Industri 4. 0 yang tengah berlangsung saat ini telah mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan teknologi. Di tengah transformasi ini, keterampilan seperti Public speaking dan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi canggih, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi semakin penting (Wang et al. Rochiyati et al. , 2. Desa Sokkolia. Kabupaten Gowa, yang memiliki potensi besar dalam pemberdayaan pemuda melalui Karang Taruna, harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman ini. Berdasarkan hasil kajian sebelumnya diketahui belum pernah ada yang memanfaatkan AI guna membantu untuk public speaking maka tim PKM ingin memberikan pelatihan tentang pemanfaatan teknologi AI untuk membantu peserta dalam public speaking untuk belajar mandiri. Oleh karena itu, pemuda Karang Taruna di Desa Sokkolia perlu diberdayakan dengan pelatihan Public speaking yang mengajarkan mereka bukan hanya berbicara di depan umum, tetapi juga bagaimana berkomunikasi melalui platform digital yang lebih luas, seperti webinar, media sosial, atau melalui presentasi berbasis Fokus pengabdian dalam kegiatan ini adalah untuk memberdayakan remaja masjid Desa Sokkolia melalui pengembangan keterampilan komunikasi dan pemahaman teknologi, dengan tujuan agar mereka dapat memberikan kontribusi lebih maksimal dalam pembangunan desa dan pengembangan diri Metode Pelatihan public speaking untuk pemuda Karang Taruna Desa Sokkolia akan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode yang interaktif, praktis, dan berbasis pada pengalaman langsung, agar peserta tidak hanya memahami teori tetapi juga dapat mengimplementasikan keterampilan yang mereka pelajari dalam kehidupan seharihari dan kegiatan sosial di desa. Berikut adalah metode pelaksanaan yang akan diterapkan: Penyuluhan Awal (Workshop Pembukaa. Tujuan: Memberikan pemahaman dasar tentang pentingnya keterampilan public speaking dan manfaatnya dalam kehidupan sosial serta pengembangan diri. Metode: Presentasi: Pemateri atau fasilitator akan memberikan presentasi tentang apa itu public speaking, mengapa keterampilan ini penting, serta manfaatnya dalam kehidupan pribadi, sosial, dan profesional. Diskusi Interaktif: Peserta akan diajak berdiskusi mengenai pengalaman mereka dalam berbicara di depan umum, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana keterampilan komunikasi dapat membantu mereka dalam meningkatkan peran sosial di desa. Tanya jawab: Sesi interaktif di mana peserta dapat bertanya langsung kepada narasumber mengenai berbagai topik yang berhubungan dengan public speaking dan pengaruhnya dalam kegiatan sosial. Pelatihan Teknik Dasar Public speaking Tujuan: Mengajarkan peserta dasar-dasar teknik public speaking yang efektif. Metode: Teori dan Praktek: Peserta diberikan pemahaman mengenai teknik dasar public speaking, seperti pengelolaan suara, pengendalian tubuh, teknik bernapas, dan intonasi suara. Setelah itu, mereka langsung mempraktikkan teknik-teknik tersebut dalam sesi latihan. Role Play: Peserta akan dibagi dalam kelompok kecil dan melakukan role play, di mana mereka berlatih berbicara dalam berbagai situasi, seperti presentasi proyek desa atau berbicara dalam musyawarah desa. Simulasi: Menggunakan berbagai skenario sosial di mana peserta diminta untuk berbicara di depan audiens yang dapat berupa teman sebaya atau bahkan masyarakat desa yang diundang sebagai audiens simulasi. Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 Pelatihan Komunikasi Persuasif Tujuan: Melatih peserta dalam menyampaikan pesan secara persuasif dan efektif untuk mengajak audiens atau masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Metode: Studi Kasus: Peserta diberikan studi kasus atau situasi nyata di desa yang memerlukan persuasi, seperti mengajak masyarakat untuk mengikuti program pemberdayaan atau kegiatan sosial. Diskusi Kelompok: Setiap kelompok diminta untuk merancang pesan persuasif yang akan disampaikan kepada Setelah itu, kelompok akan mempresentasikan pesan mereka dan mendapatkan umpan balik. Simulasi Penyampaian Pesan Persuasif: Melakukan latihan berbicara dengan menggunakan teknik persuasif untuk mengajak orang lain terlibat dalam proyek sosial atau program desa. Penerapan Teknologi dalam Latihan Public speaking Tujuan: Memberikan pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan teknologi, khususnya aplikasi berbasis AI, untuk melatih keterampilan public speaking secara mandiri. Metode: Pengenalan Aplikasi AI untuk Public speaking: Pemuda akan diperkenalkan dengan aplikasi berbasis AI yang membantu dalam melatih teknik public speaking. Misalnya, aplikasi yang memberi umpan balik mengenai intonasi suara, pengaturan waktu, dan teknik berbicara lainnya. Praktik Mandiri: Setiap peserta akan diberi waktu untuk berlatih menggunakan aplikasi tersebut dan mengevaluasi keterampilan mereka. Mereka akan mendapat umpan balik otomatis dari aplikasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berbicara mereka. Penyusunan Materi Presentasi dengan Teknologi: Peserta diajari cara menyusun dan menyampaikan materi presentasi menggunakan alat digital . eperti PowerPoin. untuk memperkuat pesan yang akan disampaikan. Simulasi Kegiatan Sosial dan Forum Diskusi Tujuan: Memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengaplikasikan keterampilan public speaking dalam konteks sosial nyata. Metode: Simulasi Forum Desa: Sebagai bagian dari pelatihan, peserta akan diundang untuk berpartisipasi dalam forum diskusi atau musyawarah desa yang disimulasikan. Mereka akan berlatih untuk mengemukakan pendapat dan ide mereka dalam forum terbuka. Debat Terbuka: Mengadakan debat terbuka mengenai isu sosial di desa, di mana peserta akan berlatih mengungkapkan argumen mereka dengan jelas dan persuasif di depan audiens. Presentasi Proposal Kegiatan Sosial: Setiap peserta atau kelompok diminta untuk merancang proposal program sosial untuk desa dan mempresentasikan ide tersebut kepada audiens yang terdiri dari sesama pemuda, tokoh masyarakat, atau perwakilan pemerintah desa. Evaluasi dan Umpan Balik Tujuan: Menilai perkembangan keterampilan peserta dan memberikan umpan balik untuk perbaikan. Metode: Umpan Balik: Peserta diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik terhadap penampilan rekan-rekan mereka, yang akan membangun rasa percaya diri dan memberi ruang untuk perbaikan. Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 Survei Pasca-Pelatihan: Untuk mengukur efektivitas pelatihan, peserta diminta mengisi survei mengenai apa yang telah dipelajari dan seberapa besar perubahan yang mereka rasakan dalam kemampuan berbicara di depan Tindak Lanjut dan Pengembangan 1Tujuan: Menjaga kesinambungan pelatihan dan mendorong pemuda untuk terus berkembang dalam keterampilan public speaking. Metode: Kelompok Diskusi Berkelanjutan: Pembentukan kelompok diskusi atau komunitas bagi peserta untuk saling berbagi pengalaman dan melanjutkan latihan bersama. Pelatihan Lanjutan: Menyediakan pelatihan lanjutan bagi peserta yang ingin mengasah keterampilan public speaking mereka lebih jauh. Hasil dan Pembahasan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Desa Sokkolia. Kecamatan Bontomarannu. Kabupaten Gowa merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bermitra dengan kelompok remaja masjid. Fokus utama kegiatan ini adalah peningkatan kapasitas remaja dalam bidang public speaking, yaitu keterampilan berbicara di depan umum, yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan sosial, keagamaan, maupun edukatif. Gambar 1. Foto Bersama Remaja Masjid Desa Sokkolia Kabupaten Gowa Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pendampingan kepada remaja dalam mengembangkan kemampuan komunikasi verbal, teknik presentasi, dan pengelolaan emosi saat berbicara di depan publik. Pelatihan melibatkan 13 peserta dari kalangan remaja masjid. Selama pelatihan, peserta diberi materi tentang struktur pidato, teknik vokal, ekspresi wajah, serta penggunaan alat bantu visual. Narasumber yang merupakan ahli komunikasi publik juga memberikan demonstrasi serta membuka sesi tanya jawab secara aktif. Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini adalah demonstrasi langsung mengenai teknik menyampaikan pidato, yang kemudian diikuti oleh praktik individu dari masing-masing peserta. Materi pelatihan meliputi tahapan persiapan naskah, latihan artikulasi, pengendalian rasa gugup, serta cara menghadapi audiens dengan percaya diri. Sebelum pelatihan, tingkat pemahaman remaja tentang public speaking di Desa Sokkolia menunjukkan bahwa sebagian besar peserta masih memiliki pemahaman yang terbatas. Mengenai pentingnya komunikasi publik, hanya Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 sekitar 20% peserta yang sangat paham, sementara 30% paham dan 40% kurang paham. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kemampuan berbicara di depan umum belum terlalu berkembang di kalangan peserta. Dalam hal teknik menyusun pidato, hanya 15% yang sangat paham, dan mayoritas, yaitu 45%, masih berada pada kategori kurang paham. Ini menunjukkan bahwa penyusunan pidato, yang merupakan keterampilan dasar dalam public speaking, masih belum banyak dipahami oleh peserta. Tabel 1. Tingkat Pemahaman Remaja tentang Public speaking Sebelum Pelatihan Indikator Pemahaman 1 Pentingnya komunikasi publik 2 Teknik menyusun pidato 3 Pengendalian rasa gugup saat berbicara 4 Teknik menjawab pertanyaan audiens 5 Penggunaan alat bantu visual Sangat Paham Paham Kurang Paham Tidak Paham Gambar 2. Praktek Latihan Public Speaking oleh Remaja Masjid Desa Sokkolia Kabupaten Gowa Untuk pengendalian rasa gugup saat berbicara, 50% peserta merasa kurang paham dan 20% bahkan tidak paham sama sekali tentang cara mengatasinya. Rasa gugup sering kali menjadi hambatan dalam berbicara di depan umum, dan tingkat pemahaman yang rendah di aspek ini menunjukkan bahwa peserta belum memiliki strategi yang efektif untuk Begitu pula dengan teknik menjawab pertanyaan audiens, di mana hanya 10% peserta yang sangat paham, sementara sebagian besar merasa kurang paham . %) atau tidak paham . %) sama sekali. Ini menunjukkan kurangnya keterampilan dalam berinteraksi dengan audiens dan menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Terakhir, penggunaan alat bantu visual, seperti slide atau papan tulis, hanya dipahami oleh 5% peserta, sementara 30% peserta tidak memahami sama sekali. Ini mencerminkan bahwa keterampilan teknis dalam memanfaatkan alat bantu untuk presentasi belum dikuasai dengan baik. Secara keseluruhan, sebelum pelatihan, sebagian besar remaja di Desa Sokkolia masih memiliki pengetahuan dan keterampilan yang terbatas terkait public speaking, baik dalam hal dasar-dasar komunikasi, pengendalian diri saat berbicara, maupun penggunaan alat bantu dalam presentasi. Persentase peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Tingkat Pemahaman Remaja tentang Public speaking Setelah Pelatihan Indikator Pemahaman 1 Pentingnya komunikasi publik 2 Teknik menyusun pidato 3 Pengendalian rasa gugup saat berbicara 4 Teknik menjawab pertanyaan audiens 5 Penggunaan alat bantu visual Sangat Paham Paham Kurang Paham Tidak Paham Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa setelah pelatihan, terjadi peningkatan yang signifikan dalam tingkat pemahaman remaja di Desa Sokkolia terkait berbagai aspek public speaking. Pada indikator pentingnya komunikasi publik, 95% peserta kini menyatakan sangat paham, sementara hanya 5% yang masih merasa paham. Ini Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 menunjukkan bahwa pelatihan berhasil membangun kesadaran yang kuat mengenai pentingnya kemampuan berbicara di depan umum dan peranannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan teknik menyusun pidato, di mana 90% peserta sekarang merasa sangat paham, dan hanya 10% yang berada di kategori paham. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil memberikan pemahaman yang mendalam tentang bagaimana menyusun pidato yang baik dan terstruktur. Pada pengendalian rasa gugup saat berbicara, 85% peserta kini merasa sangat paham, sementara hanya 5% yang masih merasa kurang paham. Peningkatan ini menandakan bahwa peserta sekarang lebih percaya diri dalam berbicara di depan umum, mengurangi ketegangan yang biasanya muncul sebelum tampil. Untuk teknik menjawab pertanyaan audiens, 80% peserta kini merasa sangat paham, dan hanya 5% yang masih merasa kurang paham. Ini menandakan bahwa peserta telah memperoleh keterampilan yang lebih baik dalam berinteraksi dengan audiens dan menjawab pertanyaan dengan percaya diri. Terakhir, penggunaan alat bantu visual menunjukkan peningkatan yang cukup besar, dengan 75% peserta merasa sangat paham tentang cara menggunakan alat bantu visual dalam presentasi. Sebelumnya, hanya 5% yang paham, dan kini hampir seluruh peserta mampu memanfaatkan alat bantu visual secara efektif untuk mendukung komunikasi mereka. Selama sesi diskusi, peserta secara aktif mengajukan pertanyaan terkait tantangan yang mereka hadapi dalam menyampaikan ceramah, khutbah, atau presentasi di depan komunitas. Beberapa remaja mengungkapkan kesulitan dalam menyusun materi yang menarik, mengatur intonasi suara, dan menjaga kontak mata dengan audiens. Diskusi yang dipandu oleh narasumber membuka ruang kolaboratif antara peserta dan fasilitator untuk membahas solusi terbaik berdasarkan pengalaman nyata dan praktik komunikasi yang efektif. Pelatihan ini juga memperkenalkan peserta pada perbedaan gaya komunikasi, seperti formal, persuasif, dan naratif. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mempraktikkan minimal satu gaya pidato dalam sesi simulasi yang direkam sebagai bahan evaluasi. Hasil rekaman ini digunakan untuk memberikan umpan balik secara langsung, sehingga peserta dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka. Hasil dari kegiatan ini memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan signifikan dalam kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi remaja. Mereka menunjukkan antusiasme tinggi untuk mulai terlibat aktif sebagai pembawa acara, penyampai ceramah, dan perwakilan dalam berbagai kegiatan desa atau masjid. Pelatihan ini membekali mereka tidak hanya dengan keterampilan teknis, tetapi juga rasa tanggung jawab sosial sebagai agen perubahan di lingkungan Dengan adanya pelatihan public speaking ini, diharapkan remaja masjid di Desa Sokkolia dapat menjadi generasi muda yang percaya diri, komunikatif, dan berperan aktif dalam pengembangan potensi desa melalui pendekatan komunikasi yang efektif dan bermakna. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kusumadinata. Hidayat, dan Sumah . , yang menunjukkan bahwa pelatihan public speaking dapat meningkatkan kepercayaan diri remaja masjid di Desa Cibitung Tengah. Mereka menemukan bahwa peserta pelatihan merasa senang dan bahagia, serta mengalami peningkatan dalam kemampuan berbicara di depan umum. Selain itu, penelitian oleh Mubarok et al. juga mendukung temuan ini, dengan menunjukkan bahwa pelatihan public speaking dapat meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan berbicara anak-anak di TPA Dusun Jetis Desa Sidomulyo. Peserta pelatihan mampu menerapkan teknik public speaking dengan baik dan menunjukkan peningkatan dalam kemampuan presentasi mereka. Lebih lanjut, penelitian oleh Dwisatoto dan Muhammad . mengungkapkan bahwa pelatihan public speaking efektif dalam mengurangi kecemasan berbicara di depan umum dan meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pelatihan, dengan nilai Z = -3,241 dan probabilitas 0,0005 . < 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan public speaking dapat membantu individu mengatasi kecemasan dan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Dengan demikian, hasil dari kegiatan pelatihan public speaking di Desa Sokkolia sejalan dengan temuan-temuan tersebut, yang menunjukkan bahwa pelatihan ini efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi remaja, serta membekali mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. Kesimpulan Kegiatan pelatihan public speaking di Desa Sokkolia menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan komunikasi publik remaja. Sebelum pelatihan, sebagian besar peserta masih memiliki pemahaman terbatas terkait pentingnya komunikasi publik, teknik menyusun pidato, pengendalian rasa gugup, menjawab pertanyaan audiens, dan penggunaan alat bantu visual. Setelah pelatihan, hampir seluruh peserta menunjukkan peningkatan signifikan, dengan 95% sangat paham mengenai pentingnya komunikasi publik, 90% paham dalam teknik menyusun pidato, dan 85% menguasai pengendalian rasa gugup saat berbicara. Selain itu. Azis et. al | Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2025, 5. : 65Ae72 keterampilan menjawab pertanyaan audiens dan penggunaan alat bantu visual juga meningkat. Pelatihan ini berhasil memberikan peserta keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di pendidikan, pekerjaan, maupun interaksi sosial. Secara keseluruhan, kegiatan ini mencapai tujuan untuk meningkatkan kemampuan public speaking remaja di Desa Sokkolia dan mendukung pengembangan pribadi mereka. Acknowledgements Ucapan terima kasih kami kepada Universitas Negeri Makassar yang telah mendanai kegiatan Program Kemitraan Masyarakat tahun anggaran 2025 sehingga dapat terselenggara dengan baik, dan juga kami ucapkan terima kasih kepada Remaja Masjid Desa Sokkolia. Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa yang telah bersedia menjadi mitra dalam kegiatan ini. References