Nilai-Nilai Toleransi dalam Filsafat Hindu dalam Mewujudkan Moderasi Beragama Kadek Hemamalini Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta Email : kadekhema@gmail. Abstrak : Indonesia sebagai negara yang multikultur menjadi rentan akan terjadinya gesekan-gesekan. Agama sebagai salah satu dari perbedaan tersebut menjadi salah satu penyebab kedisharmonisan dalam masyarakat yang sering memicu terjadinya konflik antar agama. Diperlukan pemahaman dalam pemaknaan ajaran agama yang lebih mendalam serta peran orang suci dalam mengarahkan umatnya sebagai upaya untuk mencegah terjadinya steriotisasi agama yang dapat melahirkan segmen fundamentalis berupa fanatisme yang dapat memicu munculnya radikalisme. Melalui edukasi keberagaman, kejelasan aturan pemerintah, dialog antar umat beragama serta penguatan sosialisasi beragama diharapkan dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan toleransi untuk meredam munculnya tindakan-tindakan superioritas terhadap agama lainnya sebagaimana tujuan yang ingin dicapai dalam moderasi Dengan menggunakan hermeneutika filosofis Gadamer sebagai metode, untuk melakukan analisis terhadap pemaknaan terhadap agama, nilai-nilai toleransi dan kerukunan serta persamaan perlakuan semua mahluk yang terdapat dalam kitab suci Hindu dan ajaran filsafatnya. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa toleransi sebagai salah satu indikator dalam moderasi beragama menjadi pondasi yang kuat dalam masyarakat untuk dapat menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Tat Tvam Asi dalam ajaran Hindu merupakan pondasi nilai-nilai persamaan semua mahluk hidup yang melahirkan konsep Vasudaiva Kutumbakam yaitu konsep keharmonisan tentang kesatuan global dari seluruh makhluk di dunia dalam menjalin relasi kepada seluruh umat manusia tanpa mendiskriminasi satu sama lain meskipun memiliki perbedaan, baik agama, etnis, suku, bahasa dan Kata Kunci : Kutumbakam Abstract : Moderasi Beragama. Tat Tvam Asi. Toleransi Vasudaiva Indonesia as a multicultural country is vulnerable to friction. Religion as one of these differences is one of the causes of disharmony in society which often triggers conflicts between religions. It requires a deeper understanding of the meaning of religious teachings and the role of saints in guiding their followers as an effort to prevent religious stereotypes which can give birth to fundamentalist segments in the form of fanaticism which can trigger the emergence of radicalism. Through diversity education, clarity of government regulations, dialogue between religious communities and strengthening religious socialization, it is hoped that it can increase feelings of brotherhood and tolerance to reduce the emergence of acts of superiority towards other religions, as is the goal to be achieved in religious moderation. By using Gadamer's philosophical hermeneutics as a method, to carry out an analysis of the meaning of religion, the values of tolerance and harmony as well as the equality of treatment of all creatures contained in the Hindu scriptures and its philosophical teachings. The conclusion of this research shows that tolerance as an indicator of religious moderation is a strong foundation in society to be able to accept existing differences. Tat Tvam Asi in Hinduism is the foundation for the values of equality of all living creatures which gave birth to the concept of Vasudaiva Kutumbakam, namely the concept of harmony regarding the global unity of all creatures in the world in establishing relationships with all human beings without discriminating against each other despite their differences, whether religious or religious. ethnicity, tribe, language and others. Keywords: Religious Moderation. Tat Tvam Asi. Tolerance. Vasudaiva Kutumbakam PENDAHULUAN Moderasi beragama menjadi hal yang sangat penting untuk diimplementasikan dalam masyarakat. Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat indonesia yang Multikulturalisme secara kebahasaan dapat dipahami dengan paham banyak Kebudayaan dalam pengertian sebagai idiologi dan sekaligus sebagai alat menuju derajat kemanusiaan tertinggi. Multikulturalisme terbagi menjadi dua, multikulturisme deskriptif dan multikulturalisme normatif. Multikulturalisme deskriptif adalah kenyataan sosial yang mencerminkan adanya kemajemukan . Sedangkan multikulturalisme normatif berkaitan dengan dasar-dasar moral, yaitu adanya ikatan moral dari para warga dalam lingkup negara/bangsa untuk melakukan sesuatu yang menjadi kesepakatan bersama dan multikulturalisme normatif itulah tampaknya yang kini dikembangkan di Indonesia. Kondisi multikultur berupa keragaman suku, ras, agama, perbedaan bahasa dan nilai-nilai hidup yang terjadi di Indonesia sering berbuntut berbagai friksi antar masyarakat yang menyebabkan konflik (Nugraha, 2. Kota Poso menjadi salah satu saksi bisu Sejarah konflik agama yang tidak hanya menyisakan luka tetapi juga trauma mendalam bagi masyarakatnya. Konflik Poso berlangsung dari Desember 1998 kemudian berlanjut dua tahun kemudian serta puncaknya berlangsung dari Mei hingga Juni 2000. Konflik agama tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang bersifat Aumutual-sektoralAy atau berdasarkan benturan ajaran yang bebeda. Adapun selain alasan benturan keyakinan dan ajaran terdapat upaya penunggangan kepentingan politik yang menjadi salah satu penyebab konflik keagamaan. Untuk itulah pemerintah berupaya dengan serius mengambil langkah-langkah antisipasi secara massif untuk mencegah terulangnya kembali konflik-konflik keagamaan yang berpotensi memecah belah NKRI (Marta Bob, 2. Keseriusan terhadap permasalahan dalam moderasi beragama ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan penetapan Badan Moderasi Beragama dengan dikeluarkannya Perpres No. 12 Tahun 2023 yang ditandatangani presiden RI pada 26 Januari 2023 telah menetapkan Badan Moderasi Beragama sebagai salah satu Organisasi Tata Kerja (Ortake. Kementerian Agama. Dibentuknya badan Moderasi Beragama yang dinaungi oleh Kementerian Agama didasari pada alasan bahwa salah satu ancaman terbesar yang dapat memecah belah sebagai sebuah bangsa adalah konflik yang berlatar belakang agama, apalagi sampai menggunakan kekerasan. Bagaimanapun, agama bagi setiap pemeluk fanatiknya diterima sebagai hal yang suci, mulia, sakral, dan keramat (Ismail, 2. Walaupun pada hakikatnya agama hadir ke muka bumi membawa kemaslahatan bagi umat manusia, tapi ia akan bisa menampakkan wajahnya yang berbeda bila diejahwantahkan dengan semangat fanatis dan penuh emosi (Balitbang Kementerian Beragama, 2. Tujuan akhir untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan kepada pemeluknya yang dibawa dalam misi agama justru menghasilkan pemeluk agama yang fanatis yang terjebak pada sikap yang menyalahi semangat beragama itu sendiri sehingga wajah agama tergantung pada pemeluknya. Agama memiliki dua kekuatan seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Satu sisi agama bisa tampil sebagai kekuatan daya penyatu . , yang bisa menenggelamkan ikatan-ikatan primordial seperti ikatan kekerabatan, kesukuan, dan kebangsaan. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi kekuatan daya pemecah belah . , yang bisa memporak-porandakan sebuah keharmonisan. Yang lebih dahsyat lagi, daya rusak konflik yang berlatar belakang perbedaan klaim kebenaran tafsir agama, mengingat sensitivitas agama yang menyentuh relung jiwa terdalam manusia. Saling klaim kebenaran seringkali terjadi oleh manusia yang terbatas dalam menafsirkan agama, padahal hakikat kebenaran hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Benar (Ismail. Untuk itulah perlu upaya yang serius dalam memberikan pemahaman kepada para pemeluk agama dalam mengartikan, memahami dan mengimplementasikan konsep ajaran agama masing-masing sehingga tidak terjadi salah penafsiran yang berujung pada tata cara yang salah dalam pengimplementasiannya. Diperlukan juga peran penting dari para orang suci masing-masing agama untuk mengarahkan para pemeluknya menjadi pribadi yang bijaksana dengan menerima perbedaan keyakinan yang ada dengan sikap terbuka dan bermartabat. Moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri . dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan . Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama sehingga niscaya akan menghindarkan dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama (Agus, 2. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian. Dengan cara inilah masing-masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi beragama bisa jadi bukan pilihan, melainkan keharusan (Agus. Jadi moderasi beragama sangat erat kaitannya dengan menjaga kebersaman dengan memiliki sikap tenggang rasa, sebuah warisan leluhur yang mengajarkan saling menerima perbedaan dan saling menghormati, memahami dan ikut merasakan walapun berbeda dengan kita. Indikator dari moderasi Bergama adalah :. Komitmen kebangsaan. anti kekerasan . akomodatif terhadap kebudayaan lokal (Kopong. METODE Metode dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan library research, yaitu mengkaji atau menginterpretasi bahan tertulis berdasarkan konteksnya. Bahan tertulis berupa artikel jurnal terpublikasi, buku teks, surat kabar, majalah, sumber berita online serta hasil penelitian sebelumnya yang relevan, untuk mendapatkan jawaban dan landasan teori terkait dengan nilai-nilai toleransi yang terdapat dalam kitab suci dan filsafat agama Hindu. Bahan penelitian diperoleh dari studi literatur yang berkaitan dengan konsep ideal tentang nilai-nilai toleransi, doa perdamaian dalam merawat kerukunan umat beragama dalam kitab suci Hindu, nilai-nilai persaudaraan. Ada pun bahan dalam penelitian ini, terbagi menjadi data primer serta data sekunder. Ada pun data primer dari penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1. Maha Upanisad terjemahan dari Krishna Warrier, diterbitkan oleh The Theosophical Publishing House. Chennai. Weda 3. Atharwa Weda 4. Bhagawadgita 5. Buku Moderasi Beragama terbitan Balitbang Kementerian Agama RI. Sedangkan data sekunder dari penelitian ini adalah data pendukung yang bersumber dari buku dan jurnal yang berkaitan dengan konsep Tat Tvam Asi. Vasudaiva Kutumbakam, komparasi nilai-nilai toleransi dari agama islam dan hasil penelitian sikap toleransi antar agama. Penelitian ini sebagai penelitian bidang filsafat, khususnya filsafat agama, menggunakan metode hermeneutika filosofis sebagai metode untuk menganalisis data. Penulis dalam hal ini melakukan analisis terhadap nilai-nilai toleransi, kerukunan, persamaan derajat dan perlakuan semua mahluk yang terdapat dalam kitab suci Hindu dan ajaran filsafatnya. Menurut Gadamer bentuk upaya penafsiran dengan memberi makna atas sebuah teks, dengan bertumpu pada konsep AymemahamiAy. Pemahaman selalu dapat diterapkan pada keadaan kita saat ini, yang berpusat pada bahasa yang bersifat ontologis, dialektis dan spekulatif (Bakker, 2. Analisis dilakukan dengan memberikan pemaknaan terhadap arti agama yang sesungguhnya, mantra-mantra pada kitab suci, ajaran filsafat Hindu tentang nilai-nilai toleransi, kerukunan dan persamaan kemudian diadaptasikan dengan keadaan sekarang khususnya dalam berbagai upaya untuk mencapai moderasi beragama dewasa ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Agama merupakan salah satu komponen penting bagi masyarakat Indonesia. Slogan AuKetuhanan yang Maha EsaAy menjadi salah satu bagian dalam Pancasila. Agama dan masyarakat Indonesia bagaikan dua sisi Aumata uangAy yang tidak dapat dipisahkan. Indonesia menjadi negara yang paling religius di Asia Pasifik dengan lebih dari 83% penduduk Indonesia meyakini bahwa agama merupakan suatu hal yang penting. Peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa dengan rata-rata 30% penduduk yang mengganggap agama merupakan komponen yang penting. Konotasi tentang agama sebagai konteks penting dalam kehidupan memang erat dengan masyarakat ketimuran (Marta Bob, 2. Steriotisasi agama tanpa diiringi dengan kesadaran atas keberagaman dapat melahirkan segmen fundamentalis yang berakar kuat di tengah masyarakat. Fundamentalis tanpa memahami esensi agama akan rentan dan dapat melahirkan bahaya laten berupa fanatisme yang dapat memicu munculnya radikalisme. Namun hal sebaliknya agama apabila didukung oleh pendidikan dan kesadaran terhadap keberagaman akan menghasilakan potensi kolaborasi masyarakat yang toleran. Keberagaman Indonesia bagaikan pedang bermata dua apabila dirawat dengan seksama akan menjadi potensi persatuan demi kamajuan bangsa. Sebaliknya dapat menjadi kemungkinan terciptanya konflik agama yang mengancam perdamaian Indonesia. (Marta Bob, 2. Mencari definisi terlebih makna dari kata agama tentunya bukanlah hal yang mudah apabila mengambil dari beberapa perspektif apalagi dengan berbagai pemikiran yang dilihat dari berbagai sisi konseptual. Seperti apa yang dikatakan Weber: Auadalah mustahil mendefinisikan agama untuk mengatakan apa itu agama dengan cara mempresentasikan keAyapaannyaAy itu. Definisi bisa ditemukan kalau kesimpulan sebuah kajian telah berhasil didapatkannyaAy. (Weber, 1. Agama dan spiritualitas memiliki ideal-ideal yang sama. Keduanya bercita-cita membantu manusia dalam menjalani suatu kehidupan yang penuh kebajikan. Akan tetapi metode yang diterapkan agama sangat sering mencegah para penganutnya menjalankan kebajikan-kebajikan itu. Ketika ideal-ideal menyusut menjadi sistem kepercayaan sebagaimana yang terjadi pada agama terorganisir di seluruh dunia, para pemeluk agama berbantah-bantahan mengenai ideal-ideal ini, membunuh demi ideal-ideal ini dan mati bagi ideal-ideal ini tapi mereka jarang mewujudkan ideal-ideal ini. Kekurangan terbesar dari agama terorganisir menurut Sankara Saranam terdiri dari tiga faktor yang mempengaruhi yaitu : (Sankara S, 2. Pertama, menuntut pengakuan atas kepercayaan. Hal ini menunjukkan ketimbang menawarkan umatnya cara-cara yang efektif untuk menjalani kehidupan yang penuh kebajikan, agama menuntut sesuatu yang jauh lebih mudah untuk dipenuhi yaitu suatu pengakuan atas kepercayaan. Untuk menjadi umat yang baik seorang individu tidak diwajibkan membaktikan dirinya pada penyelidikan seumur hidup mencari kebenaran. Dalam agama terorganisir tidaklah cukup hanya dengan membaktikan dirinya siang dan malam pada suatu pemahaman ideal tentang universalitas Tuhan, tidak cukup hanya dengan seseorang menganfirmasi hal-hal ekspansif mengenai diri sendiri, orang lain dan dunia seperti mendermakan milik dan dirinya, hidup sederhana dengan melepaskan halhal indrawi sehingga menjadi rendah hati dan hidup berbahagia. Tetapi sangat diperlukan pengakuan kepercayaan yang mana hal tersebut tidak dapat mencegah perlakukan yang tidak etis. Sebaliknya kepercayaan keagamaan cenderung menghambat pengejawantahan kebajikan yang didukungnya sendiri dengan cara menanamkan suatu perasaan puas yang Perasaan puas terhadap diri sendiri yang diberikan agama diperlihatkan dalam pembenaran yang tertutup ataupun terang-terangan terhadap keangkuhan manusia Ayatayat dalam kitab tertentu mengklaim bahwa dirinya adalah Hamba Tuhan sebagai pengikut satu-satunya agama yang benar dalam dunia. Orang-orang yang puas dengan pemikiran sebagai umat pilihan yang telah diselamatkan atau umat yang lebih benar dibandingkan orang lain. Orang-orang yang tidak mungkin mengembangkan tanggung jawab moral apalagi menghindari pengulangan tindakan tidak bermoral di masa depan. Sebaliknya orang yang pikirannya terfokus pada spiritualitas berjuang bukan untuk mengembangkan kesombongan dan kebanggaan melainkan untuk mengakui adanya dua hal itu dan berusaha menyingkirkan keduanya . Kedua, kepercayaan pada pengampunan. Hal ini merongrong perwujudan kebajikan para penganut agama. Kepercayaan adanya pengampunan ini memberikan pemahaman yang keliru bahwa perbuatan-perbuatan pelanggaran, buruk ataupun salah dapat diampuni atau dihapus dengan ketentuan-ketentuan tertentu sesuai dengan ajaran masing-masing agama baik melalui ritual doa atau puasa pada hari-hari Sebaliknya orang yang cenderung hidup secara spiritual tidak ingin Tuhan membebaskan mereka dari akibat tindakan mereka sendiri justru hal tersebut sebagai refleksi diri agar dapat terlepas dari ketidaktahuan yang sebelumnya mendorong mereka berbuat salah. Ketiga, anggota yang taat dalam kelompok keagamaan berulang kali kali gagal dalam menjalankan pemahaman ideal yang mereka ajarkan. Hal ini terbukti bahwa kesamaan pemahaman terhadap Tuhan yang satu dalam beberapa kelompok keagamaan tidak menjamin mampu mencegah munculnya perdebatan terhadap pemahaman keyakinan yang berbeda. Durkheim dalam AuThe Elementary Forms of Religious LifeAy tahun 1912, mengungkapkan agama merupakan seperangkat sistem keyakinan dan praktik yang diikatkan pada hal-hal yang sakral. Menurut Durkheim, setiap agama adalah benar menurut gayanya masing-masing. Jawaban apapun yang diberikan juga tidak ada yang salah meskipun disampaikan dengan cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikan berbagai permasalahan eksistensi manusia (Durkeim, 1. Namun kebalikan dari maksud dan tujuannya yang mulia, kadang hal yang ironis Ini terbukti dari seringnya terjadi konflik yang berkepanjangan akibat pembenaran pada masing-masing keyakinan mereka yang memunculkan pendapat bahwa perang sebagai jalan keluar yang tak terelakkan untuk memenangkan pembenaran terhadap keyakinan mereka. Tentunya hal ini justru akan menimbulkan pertanyaan mengapa orang-orang yang memeluk agama-agama atas nama suatu kepercayaan membiarkan superioritas, ketidakbertanggungjawaban dan eksklusivitas semacam itu tumbuh subur sehingga menjadi boomerang dalam diri sendiri. Apakah ajaran agamanya yang salah ataukah manusianya yang gagal memahami ajarannya. Salah satu prinsip dasar dalam moderasi beragama adalah selalu menjaga keseimbangan di antara dua hal, misalnya keseimbangan antara akal dan wahyu. Berger memberikan definisi agama sebagai daya upaya manusia yang dengannyalah yang sakral Atau dengan kata lain agama adalah kosmisasi hal-hal yang sakral. Sakral di sini diartikan sebagai sebuah kualitas kekuatan yang misterius dan menggetarkan yang bukan manusia namun berhubungan dengannya yang diyakini terdapat dalam objek-objek tertentu pengalamannya (Berger, 1. Namun tidak hanya perlu menjaga keseimbangan antara akal dan wahyu yang menurut Berger adalah sesuatu yang sakral tetapi juga perlu keseimbangan antara jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, antara kepentingan individu dan kemaslahatan komunal, antara keharusan dan kesukarelaan, antara teks agama dan ijtihad tokoh agama, antara gagasan ideal dan kenyataan, serta keseimbangan antara masa lalu dan masa Inti dari moderasi beragama adalah adil dan berimbang dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikkan semua konsep yang berpasangan di atas. Perkataan AuadilAy diartikan: . tidak berat sebelah/tidak memihak. berpihak kepada kebenaran. sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Kata AuwasitAy yang merujuk pada seseorang yang memimpin sebuah pertandingan, dapat dimaknai dalam pengertian ini, yakni seseorang yang tidak berat sebelah, melainkan lebih berpihak pada kebenaran . ttps://kbbi. id/adil, 2. Prinsip yang kedua, keseimbangan, adalah istilah untuk menggambarkan cara pandang, sikap, dan komitmen untuk selalu berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan Kecenderungan untuk bersikap seimbang bukan berarti tidak punya pendapat. Mereka yang punya sikap seimbang berarti tegas, tetapi tidak keras karena selalu berpihak kepada keadilan, hanya saja keberpihakannya itu tidak sampai merampas hak orang lain sehingga merugikan. Keseimbangan dapat dianggap sebagai satu bentuk cara pandang untuk mengerjakan sesuatu secukupnya, dan tidak berlebihan. Indikator moderasi beragama bisa merumuskan sebanyak mungkin ukuran, batasan, dan indikator untuk menentukan apakah sebuah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama tertentu itu tergolong moderat atau sebaliknya, ekstrem. Hasil kajian awal dari Balitbang Kementerian Agama bahwa terdapat empat indikator moderasi beragama sebagai langkah awal yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal . ocal wisdo. Keempat indikator ini dapat digunakan untuk mengenali seberapa kuat moderasi beragama yang dipraktikkan oleh seseorang di Indonesia, dan seberapa besar kerentanan yang dimiliki. Kerentanan tersebut perlu dikenali supaya kita bisa menemukan atau mengenali dan mengambil langkahlangkah yang tepat untuk melakukan penguatan moderasi beragama. Tentu keempat ini bukanlah harga mati, tetapi boleh jadi nanti akan mengalami pengembangan atau pengurangan dan/atau perubahan akan sangat bergantung pada hasil kajian, riset dan Namun demikian untuk saat ini dirasakan keempat indikator itu masih relevan untuk dijadikan ukuran. Komitmen kebangsaan merupakan indikator yang sangat penting untuk melihat sejauh mana cara pandang, sikap, dan praktik beragama seseorang berdampak pada kesetiaan terhadap konsensus dasar kebangsaan, terutama terkait dengan penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara, sikapnya terhadap tantangan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila, serta nasionalisme (Balitbang Kementerian Beragama. Sebagai bagian dari komitmen kebangsaan adalah penerimaan terhadap prinsip prinsip berbangsa yang tertuang dalam UUD 1945 dan regulasi di bawahnya. Komitmen kebangsaan ini penting untuk dijadikan sebagai indikator moderasi beragama karena dalam perspektif moderasi beragama, mengamalkan ajaran agama adalah sama dengan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sebagaimana menunaikan kewajiban sebagai warga negara adalah wujud pengamalan ajaran agama. Dengan demikian moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal . ocal wisdo. Tidak saling mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran. Dalam kontek beragama, memahami teks agama saat ini terjadi kecenderungan terpolarisasinya pemeluk agama dalam dua kutub ekstrem. Satu kutub terlalu mendewakan teks tanpa menghiraukan sama sekali kemampuan akal/nalar. Teks kitab suci dipahami lalu kemudian diamalkan tanpa memahami konteks. Beberapa kalangan menyebut kutub ini sebagai golongan konservatif. Kutub ekstrem yang lain, sebaliknya, yang sering disebut kelompok liberal, terlalu mendewakan akal pikiran sehingga mengabaikan teks itu Jadi terlalu liberal dalam memahami nilai- nilai ajaran agama juga sama Agama menjadi pedoman hidup dan solusi jalan tengah . he middle pat. yang adil dalam menghadapi masalah hidup dan kemasyarakatan, agama menjadi cara pandang dan pedoman yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat, akal dan hati, rasio dan norma, idealisme dan fakta, individu dan masyarakat. Hal sesuai dengan tujuan agama diturunkan ke dunia ini agar menjadi tuntunan hidup, agama diturunkan ke bumi untuk menjawab berbagai persoalan dunia, baik dalam skala mikro maupun makro, keluarga . maupun negara . Nilai toleransi yang merupakan indikator kedua memegang peranan penting dalam mewujudkan moderasi beragama. Keterbukaan dalam menerima perbedaan yang diwujudkan dalam bentuk toleransi akan semakin terimplementasi dengan apabila dilandasi oleh teologi pada masing-masing agama. Dalam ajaran Hindu, terdapat nilainilai toleransi sebagai pondasi kehidupan beragama dan bermasyarakat umat Hindu yang tercermin pada mantra berikut : Kitab Suci Weda Di dalam kitab suci Weda terdapat sabda Tuhan Yang Maha Esa yang mengamanatkan untuk menumbuh kembangkan kerukunan umat beragama, toleransi, solidaritas dan penghargaan terhadap sesama manusia dengan tidak membedakan tentang keimanan yang dianutnya. Beberapa di antaranya tertuang dalam kitab Weda pada mantra sebagai berikut : Rg Weda X,191. 2 dengan mantra :AuSam gacchadhvam sam vadadhvam. Sam vo manamsi janatam Deva bhagam yatha purve samjanana upasateAy, terjemahan: AuWahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerja sama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambilah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmuAy (Wanasari, 2. Rg Weda X. 3 dengan Mantra :AuSamano mantrah samitih samani, samanam manah saha cittam esam samanam mantram abhi mantarey vah, samanena vo havisa juhomiAy. Terjemahan: AuWahai umat manusia pikirkanlah bersama, bermusyawarahlah bersama, satukanlah hati dan pikiranmu dengan yang lain. Aku anugrahkan pikiran yang sama untuk kerukunan hidupmu. Wahai umat manusia bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para Dewa. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamuAy. (Suwindia, 2. Rg Weda X. 4 Mantra :AuSamani va akutih samana hrdayani vah. Samanam astu vo mano yatha vah susahasatiAy. Terjemahan : AuWahai umat manusia! milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuanAy. (Wanasari, 2. Atharva Weda i. 5 Mantra Au Sam vo manamsi sam vrata sam akutir namamsi. Ami ye vivrata sthana tan vah sam namayamasiAy. Terjemahan : AuAku satukan pikiran dan langkahmu untuk mewujudkan kerukunan di antara kamu. Aku bimbing mereka yang berbuat salah menuju jalan yang benarAy (Wanasari, 2. Atharva Weda i. Mantra: AuYena deva na viyanti no ca vidvisate mithah. Tat krnmo brahman vo grhe samjnana purunebhyahAy. Terjemahan: AuWahai umat manusia! Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamuAy. (Wanasari, 2. Atharwaveda XII. Mantra :AuJnanam bibharati bahudha vivacasam. Naandharmanam prthivi yathaikasam. Sahasram dhara dravinasya me duham. Dhraveva dhenuranapasphuranti. AyTerjemahan :AuBerikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut berbagai kepercayaan . yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umatNya (Wanasari, 2. Melalui kutipan mantra-mantra yang sudah diuraikan diatas menjadi doa perdamaian dalam merawat kerukunan umat beragama. Kedamaian atau ketentraman menjadi dambaan setiap umat manusia, bahkan tumbuhan dan binatang pun memerlukan Demikian pula halnya sabda suci Weda mendambakan kedamaian untuk segalanya, melalui merawat kerukunan hidup beragama. Agama merupakan keyakinan pribadi manusia yang tidak bisa dipengaruhi atau dirubah dengan mudah, dan agama merupakan hubungan antara manusia dengan sang pencipta. Manusia tidak bisa hidup sendiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sendiri karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain. Sebab itu, perbedaan yang ada jangan dijadikan penghalang dalam hidup bermasyarakat, apalagi tidak memahami perbedaan hingga berujung konflik, terutama sampai terjadi konflik agama. Tidak seharusnya perbedaan dijadikan alasan untuk pertengkaran, karena seharusnya sebuah perbedaan itu harus dikemas supaya menjadi warna yang indah di dalam masyarakat (Juniartha, 2. Konsep toleransi juga terdapat dalam berbagai ajaran filsafat Hindu. Upanisad sebagai ajaran filsafat Hindu mengajarkan dasar nilai-nilai toleransi yang kuat melalui konsep Teologi yang terimplementasi dalam Sradha pertama dalam lima kerangka dasar Ajaran Hindu. Hal ini tercermin dalam : Brhad Upanisad I. IV. 10 dengan mantra :AuBrahman Atman AikhyamAy Terjemahan: Atman sering dipahami sebagai sesuatu yang sama dengan Brahman. Mantra :AuAham Brahma AsmiAy Terjemahan: Aku adalah Brahman. Kedua mantra tersebut memiliki pemahaman bahwa AuakuAy sebagai mahluk hidup berasal dari sumber yang satu yaitu Brahman. Hal ini menunjukkan konsep pantheisme bahwa Tuhan yang dalam mantra ini disebut Brahman menciptakan alam semesta beserta isinya sekaligus berada dalam semua ciptaan-Nya (Putra, 2. Hal ini menunjukkan bahwa semua kedudukan mahluk hidup adalah sama dimata Tuhan sehingga sudah sewajarnyalah tidak ada pemikiran bahwa manusia yang satu lebih superior dibandingkan dengan manusia lainnya. Chandogya Upanisad VI. Vi Mantra AuTat Tvam AsiAy terjemahan : Itu adalah Engkau Tat Tvam Asi merupakan istilah tentang identitas kedirian manusia, dimana dapat diartikan sebagai dia adalah kamu, bahwa kamu adalah aku, dan setiap manusia adalah sama tanpa ada perbedaan. Dengan kata lain, apa yang dilakukan kepada orang lain sama seperti hal nya dilakukan terhadap diri nya sendiri. Konsep ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah landasan etis tentang cara bersikap terhadap setiap manusia dalam menjalani kehidupan sosial. Setiap manusia harus mampu untuk bersikap kepada orang lain seperti hal nya bersikap kepada diri nya sendiri (Wariati, 2. Pandangan ini terkait juga dengan prinsip cinta kasih yang tidak terbatas terhadap siapapun, atau dapat dikatakan sebagai cinta kasih yang bersifat universal terhadap seluruh makhluk di dunia ini. Dimana setiap manusia sebagai bagian dari satu keluarga harus menyadari keberakaran diri nya dengan manusia atau makhluk yang lainnya, diri nya tak ada bedanya dengan yang lain, dengan kata lain setiap orang dalam hal ini harus mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri. Konsep dasar Tat Tvam Asi, bahwa sesungguhnya seluruh mahluk hidup adalah Terlebih pada umat manusia, semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Apa pun pilihannya untuk mendekatkan diri pada Tuhan sesungguhnya setiap manusia adalah sama dan terikat dalam satu kesatuan keluarga yang tak dapat terpisahkan satu dengan yang lain. Perbedaannya adalah jalan yang dipilih sebagai media atau sarana, namun tujuan utama nya adalah satu yaitu menuju kepada Tuhan. Perbedaan bukan lah suatu hal yang utama, karena seluruh manusia berasal dari satu sumber serta akan kembali pada tempat yang sama yaitu kepada Tuhan. Dalam Maha Upanisad (VI. salah satu ajaran lain terkait dasar toleransi dalam ajaran Hindu muncul dalam Hitopadesha yaitu konsep Vasudaiva Kutumbakam. Hitopadesha adalah kumpulan cerita-cerita pendek berbahasa Sansekerta yang disusun ribuan tahun lalu oleh Narayan Pandit (Triparthy, 2. Vasudaiva Kutumbakam menjelaskan suatu konsep keharmonisan tentang kesatuan global dari seluruh makhluk di dunia. Vasudhaiva Kutumbakam merupakan bahasa Sansekerta, yaitu Vasudhai berarti dunia, dan eva adalah pemberian suatu penekanan, dan kutumbakam yang berarti keluarga (Ranganathan, 2. Vasudhaiva Kutumbakam dapat diartikan sebagai satu keluarga dari seluruh isi dunia, atau seluruh isi dunia adalah satu keluarga. Pada dasarnya ungkapan Vasudhaiva Kutumbakam adalah diktum Vedantic yang muncul dalam sumber keagamaan Hindu yang lebih tinggi, yaitu di dalam Maha Upanisad (VI. , yang diterjemahkan oleh Krishna Warrier sebagai berikut: VI-71. AuResorting to the inner Spirit of renunciation, apparently he acts to achieve . r othe. Only small men discriminate saying: One is a relative. other is a stranger. VI-72-73. For those who live magnanimously the entire world constitutes but a family. Resort to the status free from all considerations of empirical life, beyond old age and death, who are all mental constructions are extinguished and where no attachments finds lodgementAy (Warrier, 1. Kutipan dari Maha Upanishad tersebut dapat di garis bawahi pada ungkapan bahwa hanya orang yang kecil atau pemikiran manusia yang kerdil . emikiran yang pici. yang akan membeda-bedakan suatu golongan sebagai bagian dari keluarganya, dan yang golongan lain adalah orang asing. Orang yang berpikiran bijak akan menganggap seluruh isi dunia adalah bagian dari satu keluarga. Merujuk dari Weda sebagai sumber atau induk dari ajaran agama Hindu, dapat dikatakan konsep ini tidak lah bertentangan dengan konsep-konsep yang lain yang berada dalam Weda. Hal ini sejalan dengan adanya konsep Tat Tvam Asi yang berasal dari Weda, khususnya Upanisad. Dapat dikatakan bahwa konsep Vasudhaiva Kutumbakam memiliki keterkaitan dengan konsep Tat Tvam Asi. Bahwa seluruh makhluk di dunia sebagai sebuah kesatuan keluarga tidak dapat lepas dari landasan etis bahwa setiap makhluk didalamnya harus dapat menyayangi satu sama lain seperti halnya menyayangi diri sendiri. Dalam hal ini kesadaran tidak lagi terikat pada ego atau keakuan diri, tetapi lebih kepada kesadaran sebagai Authe whole world familyAy, (Wariati, 2. Dengan kesadaran tentang kesatuan keluarga dalam satu dunia tersebut mendorong munculnya kepekaan setiap manusia terhadap lingkungan sosial di sekitar nya, antara manusia satu dengan manusia yang lain, bahkan kepada seluruh makhluk di dunia. Dimana dalam hal ini konsep Vasudhaiva Kutumbakam dapat menjadi landasan untuk setiap umat Hindu di seluruh dunia menjalin relasi kepada seluruh umat manusia tanpa mendiskriminasi satu sama lain meskipun memiliki perbedaan, baik agama, etnis, kewarganegaraan, warna kulit, dan lain sebagai nya. Penjelasan tersebut mengetengahkan bahwa keberadaan konsep Vasudhaiva Kutumbakam, sebagai sebuah prinsip keharmonisan yang diidealkan, mendorong munculnya toleransi. Toleransi dalam berkehidupan dan kesadaran terhadap solidaritas antar umat Kurangnya pendalaman terhadap konsep Vasudhaiva Kutumbakam sebagai benih toleransi berkehidupan pada ajaran agama Hindu, memperlihatkan bahwa kesadaran dan implementasi terhadap nilai-nilai kesatuan dan kebersamaan yang bersifat universal tersebut menjadi luntur. Hal ini relevan apabila melihat perubahan persespsi dalam kehidupan modern, dimana kemajuan teknologi yang sangat cepat telah menggeser prinsip-prinsip solidaritas ke arah sifat individualis dan egoistik (Suryosumunar, 2. Sebagian besar orang cenderung terpaku dengan keberadaan dunia maya, dengan berbagai kecanggihan teknologi dan hal-hal yang bersifat entertaining, dan kurang tanggap terhadap kondisi sosial di sekitar nya. Gejala-gejala seperti ini lah, yang memperlihatkan bahwa konsep Vasudhaiva Kutumbakam dengan prinsip keharmonisan, kekeluargaan, kesatuan, dan solidaritas yang bersifat universal tersebut kemudian menjadi penting untuk terus menerus digali dan diimplementasikan sebagai dasar berkehidupan baik antar umat Hindu, dengan seluruh umat manusia, dan bahkan kepada seluruh makhluk di dunia. Bhagavadgita XII. 13-14, mantra Auadve sarva-bh t n maitra karu a eva ca nirmamo niraha k ra sama-du kha-sukha k am Ay Terjemahan : Ia yang tidak mempunyai kebencian pada makhluk apapun, yang ramah-tamah dan mempunyai rasa kasih, bebas dari keakuan dan AuakupunyaAy, sama dalam kesakitan dan kesenangan dan sabar (Mantra, 1. Solusi berkesinambungan menjadi upaya yang dibutuhkan untuk menyudahi drama konflik keagamaan yang tak kunjung berakhir. Adapun terdapat empat solusi yang dapat diterapkan: Pertama, penguatan edukasi kebaragaman di institusi pendidikan dan tokoh Edukasi keberagaman di institusi Pendidikan berupaya untuk mencegah paham intoleransi dan ekstrimisme di kalangan kaum muda agar tidak menjadi bibit konflik agama masa depan. Sementara itu, edukasi tokoh masyarakat berperan untuk mencegah paham intoleransi bagi masyarakat di lingkungan yang minim akses terhadap institusi pendidikan formal. Kedua, kejelasan aturan dan keseriusan pemerintah dalam menegakan persatuan sebelum terciptanya kesatuan. Kejelasan dan keseriusan ini tidak hanya berupa produk hukum semata. Tetapi, turut serta memastikan dan mengawal penerapan aturan tersebut hingga ke unsur terbawah . esa, kelurahan. RT, dan RW). Hal ini demi menciptakan keselarasan dan kesamaan prinsip antar pemangku kebijakan. Selain itu, upaya pencegahan oleh aparat hukum perlu ditingkatkan terutama terhadap kegiatan terorisme di tengah masyaakat. Ketiga, pemantapan riset dan dialog antar umat beragama. Pendayagunaan unsur scientific dalam memecahkan kasus konflik agama perlu menjadi perhatian. Bukan hanya sekadar dialog panjang, namun juga pengkajian secara ilmiah berkaitan dengan penyebab dan pola konflik agama agar dapat ditarik benang merah. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif agar konflik tersebut dapat lebih mudah diprediksi melalui pengkajian penyebab dan pola konflik terdahulu. Keempat, penguatan sosialisasi umat beragama. Penguatan sosialisasi ini tidak hanya terbatas untuk kegiatan seperti dialog dan audiensi Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) saja. Tetapi, merambah hingga akar rumput agar lebih inklusif. Hal ini dapat diawali dengan kegiatan kemasyarakat yang melibatkan semua unsur umat Sosialisasi akar rumput ini diharapkan dapat mereduksi paham intoleransi melalui upaya saling mengenal lebih jauh antar umat beragama di Indonesia. Sosialisasi dapat dilawali dengan kegiatan bersama antar umat beragama di lingkungan terkecil terlebih dahulu. Harapan terbesar jelas membebaskan atau setidaknya meminilisir gesekan antar umat beragama di Indonesia agar tidak terciptanya mimpi buruk bagi persatuan bangsa (Jamalludin, 2. KESIMPULAN Dasar utama dalam terwujudnya moderasi beragama di Indonesia khususnya, adalah pemahaman dan implementasi yang baik dan sesuai dari ajaran masing-masing Diperlukan keterbukaan setiap pemeluk agama untuk menerima perbedaan yang ada khususnya dalam hal keyakinan masing-masing pribadi dalam wujud toleransi Toleransi sebagai salah satu indikator dalam moderasi beragama menjadi pondasi dasar yang kuat dalam masyarakat untuk dapat menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Dasar inilah yang nantinya dapat melahirkan pemahaman masyarakat yang moderat sehingga moderasi beragama dapat terwujud. Konsep yang ditawarkan dalam upaya merawat kerukunan dalam pandangan Hindu adalah Tat Tvam Asi dan Vasudaiva Kutumbhakam. Melalui konsep ini diharapkan dapat mereduksi pemahaman radikalisme keagamaan dengan nilai-nilai humanisme-religius. DAFTAR PUSTAKA