E-ISSN: 2809-8544 PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH THE PRINCIPAL'S LEADERSHIP ROLE IN MANAGING AND DEVELOPING EXTRACURRICULAR ACTIVITIES IN SCHOOLS Nur Khamim1*. Ayi Najmul Hidayat2. Nia Kurniawati3. Fahmi Aji Fachrurroji4 Universitas Islam Nusantara. Indonesia *Email Correspondence: ayinajmul@gmail. Abstract This study aims to analyze the role of school principals' leadership in managing and developing extracurricular activities in secondary schools. The research focuses on the strategies and approaches employed, the challenges encountered, and the positive impacts of extracurricular activities on studentsAo development and the school environment. This research adopts a qualitative approach using a case study method. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document analysis, and were analyzed thematically. The findings indicate that the principal plays a strategic role as a planner, facilitator, motivator, and evaluator in the implementation of extracurricular programs. Various strategies, including student interest mapping, training for teacher advisors, external collaboration, and the use of information technology, were applied to enhance activity quality. Despite challenges such as limited budget, time constraints, and student participation issues, principals managed to overcome them through innovative and collaborative approaches. Extracurricular activities have been proven to positively impact students by improving social skills, leadership abilities, self-confidence, and by fostering a positive and participatory school climate. Keywords: School Principal Leadership. Extracurricular Activities. Management Strategies. Secondary Education. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menengah. Fokus penelitian mencakup strategi dan pendekatan yang digunakan, tantangan yang dihadapi, serta dampak positif dari kegiatan ekstrakurikuler terhadap perkembangan siswa dan lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi, serta dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki peran strategis sebagai perencana, fasilitator, motivator, dan evaluator dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Berbagai strategi seperti pemetaan minat siswa, pelatihan guru pembina, kolaborasi dengan pihak luar, serta pemanfaatan teknologi informasi diterapkan untuk meningkatkan kualitas kegiatan. Meskipun menghadapi tantangan seperti keterbatasan anggaran, waktu, dan partisipasi siswa, kepala sekolah mampu mengatasinya melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. Kegiatan ekstrakurikuler terbukti memberikan dampak positif dalam meningkatkan keterampilan sosial, kepemimpinan, kepercayaan diri, serta menciptakan iklim sekolah yang positif dan partisipatif. Kata kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah. Kegiatan Ekstrakurikuler. Strategi Pengelolaan. Pendidikan Menengah. PENDAHULUAN Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, keterampilan sosial, dan kemampuan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. berpikir kritis. Dalam konteks tersebut, kegiatan ekstrakurikuler menjadi sarana penting dalam memberikan pengalaman belajar yang bersifat non-formal dan kontekstual. Melalui kegiatan ini, siswa dapat mengembangkan potensi diri, menyalurkan minat dan bakat, serta membentuk nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Menurut Marsh dan Kleitman dalam (Supriani, 2. , keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler berpengaruh positif terhadap perkembangan sosial, emosional, dan fisik peserta didik. Namun demikian, keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler tidak dapat terlepas dari pengelolaan yang efektif dan dukungan dari berbagai pihak, terutama kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuhnya aktivitas non-akademik yang produktif. Mereka bertanggung jawab dalam merancang program, mengalokasikan sumber daya, dan memberikan motivasi kepada guru serta siswa. Tanpa kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif, kegiatan ekstrakurikuler kerap menjadi sekadar pelengkap yang kurang mendapat perhatian dalam proses pendidikan di sekolah. Kepemimpinan merupakan konsep penting dalam berbagai bidang, termasuk dalam dunia pendidikan. Pada dasarnya, kepemimpinan adalah proses memengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Stogdill dalam (Kurniawan, 2. menyatakan bahwa tidak ada satu definisi tunggal yang dapat menjelaskan kepemimpinan secara komprehensif karena kepemimpinan bersifat kontekstual dan dinamis. Dalam pendidikan, kepemimpinan tidak hanya berfungsi untuk mengatur struktur organisasi, tetapi juga untuk membentuk visi, budaya, dan arah pengembangan sekolah. Menurut Northouse dalam (Aidah, 2. , kepemimpinan adalah suatu proses di mana seorang individu memengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama. Proses ini melibatkan interaksi antara pemimpin dan pengikut, sehingga keberhasilan kepemimpinan sangat tergantung pada kemampuan pemimpin dalam membangun hubungan interpersonal yang efektif. Dalam konteks sekolah, kepala sekolah harus mampu menjalin komunikasi yang baik, membina kerja sama tim, dan menciptakan lingkungan belajar yang Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang menghadapi tantangan dalam mengelola kegiatan ekstrakurikuler secara optimal. Keterbatasan dana, minimnya pembinaan guru, kurangnya fasilitas, serta rendahnya partisipasi siswa menjadi hambatan yang umum dijumpai. Dalam situasi ini, kepemimpinan kepala sekolah dituntut untuk mampu berinovasi dan mengambil keputusan strategis agar kegiatan ekstrakurikuler tetap berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi siswa. Kepala sekolah yang adaptif akan mampu menggali potensi internal sekolah dan menjalin kerja sama dengan pihak luar guna mendukung program ekstrakurikuler. Selain sebagai ruang ekspresi siswa, kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi indikator kualitas iklim sekolah. Sekolah yang aktif dalam menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler cenderung memiliki budaya positif, siswa yang lebih terlibat secara sosial, serta ikatan emosional yang kuat antara siswa dan sekolah. Hal ini berdampak pada meningkatnya semangat belajar, menurunnya perilaku menyimpang, dan terbangunnya SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. identitas sekolah yang kuat. Oleh karena itu, pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler tidak bisa dipisahkan dari peran strategis kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran kepala sekolah dalam meningkatkan dan mengembangkan kegiatan Peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul AuPeran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah. TINJAUAN PUSTAKA Kepemimpinan Menurut Wahjosumidjo dalam (Sudrajat, 2. bahwa kepemimpinan di terjemahkan kedalam istilah sifat- sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola- pola, interaksi, hubungan kerja sama antarperan, kedudukan dari satu jabatan administratif, dan persuasif, dan persepsi dari lain- lain tentang legitimasi pengaruh. Miftah Thoha dikutip (Abduloh, 2. menjelaskan kepemimpinan adalah kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok. Menurut C. Turney dalam (Delvina, 2. mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu group proses yang dilakukan oleh seseorang dalam mengelola dan menginspirasikan sejumlah pekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi melalui aplikasi teknik- teknik George R. Terry dalam (Romdoniyah, 2. mengartikan bahwa Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahan dengan karakteristik tententu sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Faktor keberhasilan seorang pemimpin salah satunya tergantung dengan teknik kepemimpinan yang dilakukan dalam menciptakan situasi sehingga menyebabkan orang yang dipimpinnya timbul kesadarannya untuk melaksanakan apa yang dikehendaki. Kepala Sekolah Menurut Jerry H. Makawimbang dalam (Kartika, 2. bahwa Kepala sekolah adalah seorang fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberikan pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Muhamad Saroni dalam (Arifudin, 2. bahwa Kepala sekolah adalah sosok yang diberi kepercayaan dan kewenangan oleh banyak orang untuk membawa sekolah kearah tujuan yang ingin dicapai. Kepercayaan yang diberikan oleh anak buah ini adalah didasarkan pada beberapa aspek yang dimiliki oleh kepala sekolah dan diharapkan dapat menjadi modal untuk membawa pada keberhasilan Bersama. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Selanjutnya Purwanto dalam (Farid, 2. , menyatakan bahwa seorang kepala sekolah memiliki sepuluh peranan, yaitu sebagai pelaksana, perencana, seorang ahli, mengawasi hubungan antara anggota-anggota, mewakili kelompok, bertindak sebagai pemberi ganjaran, bertindak sebagai wasit, pemegang tanggung jawab, sebagai seorang pencipta, dan sebagai seorang ayah. Adapun Sagala dalam (Arifudin, 2. menjelaskan bahwa kepala sekolah adalah guru yang memimpin sekolah. Sedangkan secara terminologi bahwa kepala sekolah ialah orang yang diberi tugas dan tanggung jawab mengelolah sekolah, menghimpun, memanfaatkan, dan menggerakkan sc eluruh potensi secara optimal untuk mencapai tujuan. Pelaksanaan peran, fungsi dan tugas kepala sekolah tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena saling terkait dan mempengaruhi serta menyatu dalam pribadi seorang kepala sekolah yang profesional. Jadi dapat di simpulkan bahwa Kepala Sekolah adalah tenaga fungsional guru yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar - mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Kegiatan Ekstrakurikuler Agung dalam (Arifudin, 2. bahwa Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu komponen dari kegiatan pengembangan diri yang terprogram. Artinya kegiatan tersebut direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. Suryosubroto dalam (Supriani, 2. mendefinisikan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang diselenggarakan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau diluar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum, disebut kegiatan ekstrakurikuler. Menurut Wiyani dalam (Syofiyanti, 2. bahwa Ekstrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang di selengarakan di luar jam pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselengarakan oleh peseta didik. Menurut yudha dalam (Supriani, 2. bahwa kegiatan Ekstrakulikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam yang mada dapat dilakukan di luarjam sekolahan agar memperluas mengenai hubungan atar pelajaran dan juga dapat menyalurkan bakat daminat peserta didik. Serta melengkapi pembinaan manusia seutuhnya. Kegiatan ini dilakukan berkala atau hanya dalam waktu-waktu tertentu dan ikut dinilai. Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar jam belajar dan mata pelajaran untuk membantu mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimiliki siswa sesuai dengan kebutuhannya masing-masing melalui kegiatan secara khusus yang diselenggarakan oleh sekolah tersebut. METODE Menurut Rahardjo dikutip (Arifudin, 2. bahwa metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencari kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Oleh karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada. Budiharto dikutip (Noviana, 2. bahwa pemilihan metode penelitian harus disesuaikan dengan penelitian yang sedang dilakukan agar hasilnya optimal. Penelitian ini terkait dengan Kepemimpinan Instruksional Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa metode studi kasus. Studi kasus menurut Nursalam dalam (Arifudin, 2. adalah merupakan penelitian yang mencakup pengkajian bertujuan memberikan gambaran secara mendetail mengenai latar belakang, sifat maupun karakter yang ada dari suatu kasus, dengan kata lain bahwa studi kasus memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Penelitian dalam metode dilakukan secara mendalam terhadap suatu keadaan atau kondisi dengan cara sistematis mulai dari melakukan pengamatan, pengumpulan data, analisis informasi dan pelaporan hasil. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Tanjung, 2. menyatakan pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut (Suryana, 2. bahwa caranya dengan mentranskripsikan data, kemudian pengkodean pada catatan-catatan yang ada di lapangan dan diinterpretasikan data tersebut untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian lapangan . ield researc. Menurut (Sofyan, 2. bahwa pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan pokok penelitian, yaitu mendeskripsikan dan menganalisis mengenai Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah. Sehingga dengan metode tersebut akan mampu menjelaskan permasalahan dari penelitian (Wahrudin, 2. Bungin dikutip (Zaelani, 2. menjelaskan bahwa penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan situasi, kondisi, atau fenomena sosial yang terdapat di masyarakat kemudian dijadikan sebagai objek penelitian, dan berusaha menarik realitas ke permukaan sebagai suatu mode atau gambaran mengenai kondisi atau situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah. Penentuan teknik pengumpulan data yang tepat sangat menentukan kebenaran ilmiah suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi. Wawancara dan Dokumentasi. Teknik dapat dilihat sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan teknis dengan hatihati menggunakan pikiran untuk mencapai tujuan. Walaupun kajian sebenarnya merupakan upaya dalam lingkup ilmu pengetahuan, namun dilakukan untuk mengumpulkan data secara realistik secara sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metodologi penelitian adalah sarana untuk menemukan obat untuk masalah apa pun. Dalam hal ini, penulis mengumpulkan informasi tentang analisis Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah, artikel, jurnal, skripsi, tesis, ebook, dan lain-lain (Iskandar, 2. Karena membutuhkan bahan dari perpustakaan untuk sumber datanya, maka penelitian ini memanfaatkan penelitian kepustakaan. Peneliti membutuhkan buku, artikel ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan topik dan masalah yang mereka jelajahi, baik cetak maupun online (Arif, 2. Mencari informasi dari sumber data memerlukan penggunaan teknik pengumpulan Amir Hamzah dalam (Rusmana, 2. mengklaim bahwa pendataan merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diteliti. Penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengumpulkan data. Secara khusus, penulis memulai dengan perpustakaan untuk mengumpulkan informasi dari buku, kamus, jurnal, ensiklopedi, makalah, terbitan berkala, dan sumber lainnya yang membagikan pandangan Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah. Lebih lanjut Amir Hamzah mengatakan bahwa pengumpulan data diartikan berbagai usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang berkaitan dengan topik atau pembahasan yang sedang atau akan digali (Tanjung, 2. Rincian tersebut dapat ditemukan dalam literatur ilmiah, penelitian, dan tulisan-tulisan ilmiah, disertasi, tesis, dan sumber tertulis lainnya. Menurut (Rohimah, 2. bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai keadaan, menggunakan sumber yang berbeda, dan menggunakan teknik yang berbeda. Observasi adalah bagian dari proses penelitian secara langsung terhadap fenomenafenomena yang hendak diteliti (Kartika, 2. Dengan metode ini, peneliti dapat melihat dan merasakan secara langsung suasana dan kondisi subyek penelitian (B. Arifin, 2. Hal-hal yang diamati dalam penelitian ini adalah tentang analisis Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah. Teknik wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, yaitu wawancara yang dilakukan dengan menggunakan berbagai pedoman baku yang telah ditetapkan, pertanyaan disusun sesuai dengan kebutuhan informasi dan setiap pertanyaan yang diperlukan dalam mengungkap setiap data-data empiris (Sembiring, 2. Dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data melalui dokumen atau catatan-catatan tertulis yang ada (Ulimaz, 2. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, notula rapat, dan catatan Menurut Moleong dalam (Ningsih, 2. bahwa metode dokumentasi adalah cara pengumpulan informasi atau data-data melalui pengujian arsip dan dokumen-dokumen. Lebih lanjut menurut bahwa strategi dokumentasi juga merupakan teknik pengumpulan data yang diajukan kepada subyek penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang keadaan lembaga . byek penelitia. yaitu analisis Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Dan Mengembangkan Kegiatan Ekstrakurikuler Di Sekolah. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Moleong dikutip (Mayasari, 2. menjelaskan bahwa data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun Syarifah et al dalam (Fitria, 2. menjelaskan reduksi data dilakukan dengan menyaring informasi yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi yang sistematis, dan kesimpulan ditarik berdasarkan temuan penelitian. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi sumber, yakni membandingkan informasi dari para narasumber. Menurut Moleong dalam (Mardizal, 2. , triangulasi sumber membantu meningkatkan validitas hasil penelitian dengan membandingkan berbagai perspektif terhadap fenomena yang diteliti. Menurut Muhadjir dalam (Ulfah, 2. menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan melakukan, mencari dan menyusun catatan temuan secara sistematis melalui pengamatan dan wawancara sehingga peneliti fokus terhadap penelitian yang dikajinya. Setelah itu, menjadikan sebuah bahan temuan untuk orang lain, mengedit, mengklasifikasi, dan menyajikannya. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi meliputi teknik dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dalam (Nita, 2. terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola Kegiatan Ekstrakurikuler Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memegang peran strategis dalam seluruh aspek kehidupan sekolah, termasuk dalam pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler. Peran tersebut tidak hanya terbatas pada tugas administratif, tetapi juga mencakup pengembangan program yang menunjang pembentukan karakter dan keterampilan siswa. Menurut Sergiovanni dalam (Mukarom, 2. , kepala sekolah adalah moral leader yang berfungsi mengarahkan nilai-nilai, membentuk budaya sekolah, dan mendorong terjadinya pembelajaran yang bermakna baik di dalam maupun di luar kelas. Dalam konteks kegiatan ekstrakurikuler, kepala sekolah berperan sebagai visioner, yaitu orang yang memiliki pandangan jangka panjang tentang pentingnya kegiatan nonakademik sebagai bagian dari pendidikan holistik. Kepala sekolah menyusun visi dan misi ekstrakurikuler yang selaras dengan visi sekolah secara umum. Visi ini kemudian dituangkan ke dalam kebijakan dan program kerja sekolah yang mendukung pengembangan minat dan bakat siswa. Fullan dikutip (Ulfah, 2. menyatakan bahwa pemimpin pendidikan yang sukses adalah mereka yang mampu menggabungkan visi dengan aksi nyata untuk membangun sistem pembelajaran yang utuh dan berdaya guna. Kepala sekolah juga memiliki peran sebagai manajer pendidikan yang mengelola berbagai sumber daya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Ini mencakup pengelolaan dana, fasilitas, waktu, dan sumber daya manusia seperti pembina ekstrakurikuler dan tenaga pendukung lainnya. Mintzberg dikutip (Juhji, 2. menjelaskan bahwa dalam teorinya mengenai peran manajerial menekankan pentingnya peran interpersonal, informasional, dan pengambilan keputusan sebagai inti dari kepemimpinan manajerial, yang semuanya dapat diterapkan dalam pengelolaan ekstrakurikuler. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Dalam praktiknya, kepala sekolah juga berperan sebagai penggerak dan motivator. mendorong partisipasi aktif dari guru dan siswa, menciptakan suasana kompetitif yang sehat, dan memberikan penghargaan bagi kegiatan ekstrakurikuler yang berprestasi. Menurut Leithwood dan Jantzi dalam (Nasril, 2. , pemimpin pendidikan yang efektif mampu memotivasi dan menginspirasi warga sekolah melalui pendekatan transformasional, yaitu dengan membangun kepercayaan, memberikan dukungan individual, dan mendorong inovasi di antara guru dan siswa. Selain itu, kepala sekolah berperan sebagai fasilitator, yakni menciptakan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan minat dan bakat mereka. Kepala sekolah yang baik memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih atau bahkan merancang sendiri kegiatan ekstrakurikuler yang mereka minati. Pendekatan partisipatif ini juga sesuai dengan konsep student voice yang dikemukakan oleh Fielding dalam (Kartika, 2. , bahwa keterlibatan siswa dalam pengambilan keputusan sekolah meningkatkan rasa kepemilikan dan motivasi mereka terhadap program-program sekolah. Kepala sekolah juga berperan dalam membangun kemitraan eksternal, baik dengan orang tua, komunitas lokal, maupun instansi lain untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler secara finansial maupun non-finansial. Kolaborasi ini mencerminkan prinsip kepemimpinan kolaboratif . ollaborative leadershi. , sebagaimana dikemukakan oleh Hargreaves dan Fink dalam (As-Shidqi, 2. , yang menyatakan bahwa keberhasilan institusi pendidikan sangat tergantung pada kemampuan pemimpinnya dalam membangun jejaring kerja yang luas dan Peran penting lainnya adalah sebagai pengawas dan evaluator. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kegiatan ekstrakurikuler berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Ia melakukan pemantauan rutin, memberi umpan balik kepada pembina, serta mengevaluasi dampak kegiatan terhadap siswa. Evaluasi ini sangat penting untuk pengambilan keputusan berkelanjutan dan perbaikan program. Glickman. Gordon, dan Ross-Gordon dikutip (Arifudin, 2. menekankan bahwa kepemimpinan yang reflektif dan berbasis data sangat menentukan dalam peningkatan mutu pendidikan. Dengan berbagai peran tersebut, jelas bahwa keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler tidak dapat dipisahkan dari peran aktif kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan. Tanpa dukungan kepemimpinan yang kuat dan terarah, kegiatan ekstrakurikuler cenderung stagnan, tidak terstruktur, dan kurang diminati siswa. Oleh karena itu, peran kepala sekolah sebagai visioner, manajer, motivator, fasilitator, dan evaluator sangatlah krusial dalam memastikan kegiatan ekstrakurikuler menjadi wadah pengembangan diri yang efektif bagi peserta didik. Strategi dan Pendekatan Kepala Sekolah dalam Pengembangan Ekstrakurikuler Pengembangan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tidak dapat dilakukan secara spontan atau seadanya, melainkan memerlukan perencanaan yang matang dan strategi yang Kepala sekolah sebagai pemimpin utama dalam lembaga pendidikan harus mampu merumuskan strategi pengembangan yang sesuai dengan visi sekolah, potensi siswa. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. dan dinamika lingkungan. Menurut Mintzberg dalam (Nuryana, 2. , strategi merupakan pola dalam aliran keputusan yang dibuat secara sadar untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam konteks sekolah, strategi kepala sekolah sangat menentukan arah dan keberlanjutan kegiatan ekstrakurikuler. Bransford et al dikutip (Afifah, 2. menjelaskan bahwa salah satu strategi utama yang banyak diterapkan adalah perencanaan berbasis kebutuhan siswa. Kepala sekolah melakukan pemetaan minat dan bakat siswa secara berkala melalui angket atau survei. Data tersebut digunakan sebagai dasar dalam merancang program ekstrakurikuler yang relevan, menarik, dan sesuai dengan karakter peserta didik. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip student-centered learning, yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses Strategi lainnya adalah penyusunan struktur organisasi ekstrakurikuler yang jelas dan fungsional, mulai dari penunjukan pembina, koordinator, hingga pengurus siswa. Kepala sekolah mendelegasikan kewenangan kepada guru-guru pembina yang memiliki kompetensi dan minat di bidang tertentu. Menurut Leithwood et al dikutip (Zulfa, 2. , kepemimpinan distributif . istributed leadershi. merupakan strategi efektif dalam mengembangkan kapasitas organisasi sekolah, di mana tugas dan tanggung jawab tersebar secara proporsional kepada seluruh tim kerja. Pendekatan partisipatif juga menjadi bagian dari strategi pengembangan Kepala sekolah melibatkan siswa, guru, dan orang tua dalam proses perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Melalui forum musyawarah sekolah atau komite ekstrakurikuler, berbagai masukan dikumpulkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Hargreaves & Shirley dalam (Kartika, 2. menyatakan bahwa keterlibatan warga sekolah dalam pengambilan keputusan meningkatkan rasa kepemilikan terhadap program dan memperkuat semangat kolektif. Strategi berikutnya adalah pemberdayaan dan pelatihan guru pembina ekstrakurikuler. Kepala sekolah memberikan pelatihan internal maupun eksternal agar pembina memiliki wawasan metodologis, manajerial, dan teknis dalam menjalankan tugasnya. Hal ini sesuai dengan temuan Spillane dalam (Lahiya, 2. yang menyebutkan bahwa profesionalisme guru pembina sangat memengaruhi kualitas kegiatan ekstrakurikuler. Sekolah yang aktif mengembangkan kapasitas pembina cenderung lebih berhasil dalam mencapai hasil yang Kepala sekolah juga menggunakan pendekatan kolaboratif eksternal, yaitu menjalin kemitraan dengan organisasi masyarakat, lembaga pelatihan, dan alumni sekolah untuk mendukung pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Bentuk kolaborasi ini bisa berupa pendampingan kegiatan, pemberian materi pelatihan, atau bantuan sarana dan dana. Epstein dikutip (Waluyo, 2. bahwa dalam model "school, family, and community partnerships" menyatakan bahwa dukungan dari komunitas memperluas akses dan memperkuat legitimasi program sekolah. Strategi inovatif lainnya adalah pemanfaatan teknologi informasi dan media sosial untuk dokumentasi, promosi, dan publikasi kegiatan ekstrakurikuler. Kepala sekolah SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. mendorong guru dan siswa untuk mendokumentasikan aktivitas melalui video, foto, atau artikel yang kemudian dibagikan melalui akun resmi sekolah. Hal ini tidak hanya meningkatkan eksistensi kegiatan, tetapi juga menjadi media apresiasi yang dapat memotivasi siswa. Collins & Halverson dalam (Rismawati, 2. menyebutkan bahwa integrasi teknologi dalam kegiatan sekolah merupakan ciri kepemimpinan abad ke-21 yang adaptif dan visioner. Terakhir, evaluasi rutin menjadi bagian penting dari strategi pengembangan. Kepala sekolah bersama tim melakukan monitoring dan evaluasi setiap akhir semester untuk melihat keberhasilan, kendala, serta perbaikan yang perlu dilakukan. Evaluasi ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga kualitatif, melalui refleksi pengalaman siswa dan guru. Stufflebeam dikutip (Judijanto, 2. bahwa dalam model CIPP (Context. Input. Process. Produc. menyarankan evaluasi pendidikan harus komprehensif, mencakup konteks pelaksanaan, sumber daya, proses kegiatan, dan hasil akhir yang dicapai. Tantangan dan Solusi dalam Pengelolaan Kegiatan Ekstrakurikuler Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tidak terlepas dari berbagai tantangan yang kompleks, baik yang bersumber dari faktor internal maupun eksternal sekolah. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan anggaran dan sumber daya yang dimiliki oleh Banyak sekolah, khususnya di daerah, menghadapi kesulitan dalam menyediakan sarana dan prasarana penunjang kegiatan ekstrakurikuler, seperti peralatan olahraga, ruang praktik seni, atau akses pelatih eksternal. Hal ini menghambat keberlangsungan dan kualitas program yang dirancang. Menurut Rahardjo dalam (As-Shidqi, 2. , keterbatasan anggaran pendidikan di tingkat sekolah masih menjadi hambatan struktural dalam pencapaian mutu layanan pendidikan, termasuk pada kegiatan non-akademik. Selain faktor finansial, keterbatasan waktu juga menjadi kendala yang sering dihadapi. Padatnya jadwal akademik dan beban kurikulum formal seringkali menyebabkan kegiatan ekstrakurikuler ditempatkan di posisi yang kurang prioritas. Akibatnya, pelaksanaan kegiatan ini cenderung kurang maksimal atau tidak berkelanjutan. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian oleh Mahoney dan Cairns dalam (Kusmawan, 2. menunjukkan bahwa keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler sangat dipengaruhi oleh waktu pelaksanaan yang konsisten dan pengorganisasian yang baik. Tantangan lainnya adalah rendahnya partisipasi siswa dalam beberapa jenis kegiatan Kurangnya minat, pemahaman, atau informasi tentang manfaat kegiatan tersebut menyebabkan rendahnya keterlibatan peserta didik. Dalam jurnal yang ditulis oleh Eccles dan Barber dikutip (Ulfah, 2. , disebutkan bahwa motivasi intrinsik siswa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program ekstrakurikuler. Tanpa pemahaman akan manfaat jangka panjang dari kegiatan tersebut, siswa cenderung mengabaikannya. Dari sisi tenaga pendidik, masih banyak guru pembina yang belum mendapatkan pelatihan yang memadai untuk membina kegiatan ekstrakurikuler secara profesional. Guru seringkali ditugaskan sebagai pembina tanpa mempertimbangkan kesesuaian bidang atau kompetensi yang dimiliki. Hal ini berdampak pada kurangnya kualitas pembinaan, yang SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. pada akhirnya memengaruhi hasil kegiatan. Penelitian oleh (Darling-Hammond et al, 2. menunjukkan bahwa kompetensi guru pembina memiliki korelasi positif dengan keberhasilan program kegiatan non-akademik. Tantangan juga muncul dalam bentuk kurangnya dukungan dari orang tua atau masyarakat terhadap kegiatan ekstrakurikuler. Banyak orang tua yang lebih menekankan pencapaian akademik daripada pengembangan minat dan bakat siswa di luar kelas. Hal ini menyebabkan kegiatan ekstrakurikuler dianggap sebagai pemborosan waktu. Epstein dikutip (Kartika, 2. menekankan pentingnya kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai kunci keberhasilan program pendidikan menyeluruh, termasuk kegiatan Sebagai solusi atas tantangan-tantangan tersebut, kepala sekolah perlu mengadopsi strategi kepemimpinan yang inovatif dan kolaboratif. Dalam konteks anggaran, kepala sekolah dapat menjalin kerja sama dengan pihak ketiga, seperti dunia usaha, alumni, atau lembaga donor lokal untuk mendukung pembiayaan kegiatan ekstrakurikuler. Penerapan pendekatan berbasis kemitraan ini sesuai dengan konsep shared leadership yang dikemukakan oleh Harris dalam (Nuary, 2. , di mana keberhasilan kepemimpinan terletak pada kemampuan pemimpin dalam membangun jaringan kerja sama yang produktif. Solusi lainnya adalah integrasi kegiatan ekstrakurikuler dengan pembelajaran berbasis proyek atau penguatan profil pelajar Pancasila dalam kurikulum merdeka. Dengan cara ini, kegiatan ekstrakurikuler tidak lagi berdiri terpisah dari kegiatan akademik, tetapi menjadi bagian dari strategi pembelajaran holistik. Evaluasi secara berkala juga penting dilakukan untuk mengukur efektivitas kegiatan, merevisi metode pembinaan, dan meningkatkan keterlibatan siswa. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui pendekatan CIPP (Context. Input. Process. Produc. sebagaimana dikemukakan oleh Stufflebeam dalam (Djafri, 2. , yang memberikan kerangka sistematis dalam menilai program pendidikan secara komprehensif. Dampak Positif Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler memberikan kontribusi penting dalam proses pendidikan yang bersifat menyeluruh, tidak hanya dari sisi kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar yang bersifat aplikatif dan kontekstual. Hal ini sejalan dengan pendapat Dewey dalam (Ramli, 2. yang menyatakan bahwa pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa terlibat langsung dalam aktivitas yang relevan dengan kehidupan nyata. Kegiatan ekstrakurikuler memungkinkan siswa untuk belajar melalui praktik langsung, bukan hanya Salah satu dampak utama dari keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler adalah peningkatan keterampilan sosial. Siswa belajar berinteraksi, berkolaborasi, menyelesaikan konflik, dan membangun komunikasi yang efektif dengan teman sebaya maupun orang Eccles dan Barber dikutip (Sappaile, 2. bahwa dalam penelitiannya menemukan bahwa siswa yang aktif dalam organisasi sekolah memiliki tingkat empati dan kemampuan interpersonal yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak terlibat. Kemampuan ini SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik yang adaptif dan kooperatif di Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga memperkuat sense of belonging siswa terhadap sekolah. Ketika siswa merasa menjadi bagian dari komunitas sekolah melalui keterlibatan dalam klub atau organisasi, mereka cenderung menunjukkan perilaku positif seperti kedisiplinan, semangat belajar, dan loyalitas terhadap nilai-nilai sekolah. Fredricks dan Eccles dalam (Sanulita, 2. menyebutkan bahwa partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu faktor yang memediasi hubungan antara lingkungan sekolah dan keterikatan siswa terhadap institusi pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler juga mendorong pembentukan kepemimpinan di kalangan peserta didik. Dalam berbagai kegiatan seperti organisasi siswa, pramuka, atau unit kegiatan seni dan olahraga, siswa diberi kesempatan untuk memimpin tim, mengatur kegiatan, dan membuat keputusan. Menurut Larson dalam (Rifky, 2. , pengalaman ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan leadership skills, inisiatif, tanggung jawab, serta kemampuan mengambil risiko yang terukur. Kemampuan ini menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja. Dari sisi psikologis, keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat meningkatkan self-efficacy dan kepercayaan diri. Ketika siswa berhasil dalam suatu kegiatan atau memperoleh apresiasi atas kontribusinya, hal ini memperkuat persepsi positif terhadap kemampuan dirinya. Bandura dalam (Hanafiah, 2. menyatakan bahwa keberhasilan individu dalam aktivitas tertentu menjadi salah satu sumber utama penguatan self-efficacy, yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan motivasi dan ketekunan siswa dalam mencapai tujuan. Tidak hanya berdampak pada siswa secara individual, kegiatan ekstrakurikuler juga memperkuat iklim positif dalam lingkungan sekolah. Aktivitas yang dilakukan secara terstruktur dan melibatkan banyak pihak dapat menciptakan suasana yang inklusif, dinamis, dan harmonis. Penelitian yang dilakukan oleh Mahoney et al dalam (A. Arifin, 2. menunjukkan bahwa sekolah yang aktif dalam menyelenggarakan program ekstrakurikuler memiliki tingkat partisipasi siswa yang lebih tinggi dan tingkat konflik antarsiswa yang lebih rendah dibandingkan sekolah yang kurang memberikan ruang kegiatan di luar kurikulum. Secara institusional, kegiatan ekstrakurikuler juga dapat meningkatkan citra dan reputasi sekolah. Prestasi siswa dalam berbagai ajang seperti lomba olahraga, seni, debat, atau karya ilmiah sering kali menjadi tolok ukur kualitas sekolah di mata masyarakat. Kepala sekolah yang mampu mengelola kegiatan ekstrakurikuler secara profesional turut berkontribusi dalam membangun kepercayaan publik terhadap lembaga pendidikan yang Hal ini diperkuat oleh temuan Leithwood et al dalam (Hoerudin, 2. yang menekankan bahwa kualitas kepemimpinan kepala sekolah memiliki hubungan langsung dengan school improvement dalam berbagai aspek. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler tidak hanya memberikan dampak pada peningkatan kompetensi non-akademik siswa, tetapi juga menjadi katalisator pembentukan karakter, penguatan relasi sosial, dan peningkatan kualitas kehidupan sekolah. Kegiatan ini SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. perlu terus dikembangkan dan dikelola secara strategis oleh kepala sekolah agar dapat menjawab tuntutan pendidikan abad ke-21 yang menekankan pada keseimbangan antara kemampuan akademik dan life skills siswa. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memainkan peran yang sangat penting dalam pengelolaan dan pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Kepala sekolah tidak hanya bertindak sebagai administrator, tetapi juga sebagai visioner, fasilitator, motivator, dan evaluator yang mendorong partisipasi aktif seluruh warga sekolah dalam kegiatan nonakademik yang bersifat holistik dan membentuk karakter siswa. Kepala sekolah menerapkan berbagai strategi dan pendekatan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, seperti pemetaan minat siswa, pelibatan guru pembina yang kompeten, penguatan kemitraan eksternal, pemanfaatan teknologi informasi, serta evaluasi rutin terhadap pelaksanaan Pendekatan yang digunakan umumnya bersifat partisipatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap kebutuhan lingkungan sekolah serta kebijakan pendidikan yang berlaku. Dalam praktiknya, kepala sekolah menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan anggaran, waktu pelaksanaan yang sempit, rendahnya motivasi siswa, kurangnya kompetensi pembina, serta minimnya dukungan dari orang tua dan masyarakat. Meski demikian, kepala sekolah mampu mengembangkan solusi melalui inovasi pendanaan, integrasi dengan kurikulum, pelatihan pembina, dan pendekatan berbasis komunitas. Saran Kepala sekolah diharapkan terus meningkatkan kompetensi kepemimpinannya dalam pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler melalui pelatihan manajerial, refleksi praktik terbaik, dan pengembangan jejaring profesional. Sekolah perlu melakukan pemetaan minat dan bakat siswa secara berkala agar program ekstrakurikuler yang disediakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan dapat meningkatkan partisipasi siswa secara menyeluruh. Pemerintah daerah dan dinas pendidikan diharapkan memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai untuk pengembangan kegiatan ekstrakurikuler, terutama dalam bentuk insentif pembina dan penyediaan sarana prasarana. Kolaborasi antara sekolah dengan orang tua, alumni, dunia usaha, dan komunitas lokal harus diperkuat untuk mendukung keberlangsungan program ekstrakurikuler secara finansial dan moral. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan kegiatan ekstrakurikuler pada konteks yang berbeda, seperti sekolah berbasis pesantren, sekolah inklusi, atau sekolah di daerah 3T . erdepan, terluar, tertingga. , agar diperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA DAN MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH Nur Khamim et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. DAFTAR PUSTAKA