Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 165-173 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Kegiatan Meronce Pompom Di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya Fini Welsa Agustin1. Heri Yusuf Muslihin2. Aini Loita3. Dadan Nugraha4 Info Artikel Abstract Keywords: Early Childhood. Fine Motor. Stringing. Pompoms. Learning Media. Simple movements such as pompom stringing have significant benefits in supporting the growth and development of early childhood, particularly in terms of fine motor skills. This activity not only provides an enjoyable experience for children, but also contributes to improved eye-hand coordination and the ability to control and direct fine movements This study aims to examine the effect of pompom stringing activities on improving fine motor skills in 4-5-year-old children at TK Perwari 1 in Tasikmalaya City. The study employs the Classroom Action Research (CAR) approach based on the Kemmis and McTaggart model, conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. The research subjects consisted of 12 children selected based on age criteria and the need to improve fine motor Data collection techniques were conducted through observation and documentation during the activity process. The results of the study showed a significant improvement in five main aspects of fine motor skills, namely eye-hand coordination, finger and hand muscle strength, precision and movement control, speed, and endurance. The children also demonstrated active participation and high enthusiasm during the pompom crafting These findings indicate that the pompom crafting activity is effective in enhancing the fine motor skill development of young children and can be implemented as part of a fun and meaningful learning strategy in early childhood education settings. Kata kunci: Anak Usia Dini. Motorik Halus. Meronce. Pompom. Media Pembelajaran. Abstrak Gerakan sederhana seperti meronce pompom memiliki manfaat yang signifikan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini, khususnya dalam aspek kemampuan motorik halus. Aktivitas ini tidak hanya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan koordinasi mata dan tangan, serta kemampuan dalam mengontrol dan mengarahkan gerakan halus Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: finiwelsaagustin@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: heriyusuf@upi. Pendidikan Guru Pendididkan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: ainiloita@upi. Pendidikan Guru Pendididkan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: dadan@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kegiatan meronce pompom terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 4-5 tahun di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 12 anak yang dipilih berdasarkan kriteria usia serta kebutuhan peningkatan kemampuan motorik halus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi selama proses kegiatan berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang signifikan pada lima aspek utama motorik halus, yaitu koordinasi mata dan tangan, kekuatan jari dan otot tangan, ketelitian dan kontrol gerakan, kecepatan dan ketahanan. Anak-anak juga menunjukkan partisipasi aktif dan antusiasme tinggi selama mengikuti kegiatan meronce. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan meronce pompom efektif dalam meningkatkan perkembangan motorik halus anak usia dini serta dapat diterapkan sebagai bagian dari strategi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna di lingkungan pendidikan anak usia dini. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 14 Juni 2025 15 Juli 2025 20 Juli 2025 22 Juli 2025 Cara Mensitasi Artikel: Agustin. Muslihin. Loita. , & Nugraha. Stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4Ae5 Tahun Melalui Kegiatan Meronce Pompom Di Perwari Kota Tasikmalaya. Jurnal Ar-Raihanah, . , 165-173, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Heri Yusuf Muslihin, heriyusuf@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 menggariskan enam aspek perkembangan esensial pada anak usia dini: nilai agama dan moral, fisik motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional, serta seni (Permendikbud No. 137 Tahun 2014, 2. Dari berbagai aspek tersebut, perkembangan fisik motorik memegang peranan krusial, berkaitan dengan kemampuan mengendalikan gerakan tubuh melalui koordinasi otot dan sistem saraf untuk aktivitas terarah (Damayanti & Nasrul, 2. Berdasarkan ranah fisik motorik, kemampuan motorik halus menjadi sangat penting untuk distimulasi pada anak usia dini (Apriani et al. , 2. Kemampuan ini mencakup keterampilan koordinasi mata dan tangan, gerakan manipulatif, serta ekspresi kreativitas. Pengembangan motorik halus, khususnya koordinasi mata dan tangan, merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Apabila kemampuan motorik anak kurang optimal, dapat membatasi aktivitas, menurunkan kepercayaan diri, dan menghambat interaksi sosial (Hurlock, 2003. Sebaliknya, motorik yang berkembang baik mendorong anak lebih antusias dalam bermain dan kegiatan yang membangun. Oleh karena itu, kolaborasi antara orang tua dan pendidik di lembaga TK sangat esensial dalam mendukung perkembangan motorik halus anak, terutama dalam mengoordinasikan mata dan tangan untuk gerakan rumit (Eka Winarsih, 2. Stimulasi sejak usia dini sangat dianjurkan mengingat pada fase ini lebih cepat menyerap informasi dan mengikuti instruksi (Kamil, 2. Koordinasi mata dan tangan yang baik menghasilkan gerakan yang fleksibel, lancar, dan harmonis (Ardini et al. , 2. , serta mempermudah kemandirian dan penguasaan keterampilan hidup sehari-hari (Maulinda et al. , 2. Berdasarkan Kurikulum Merdeka PAUD, pengembangan fungsi gerak, termasuk motorik halus, menjadi fokus utama untuk mengesplorasi dan memanipulasi objek sebagai bentuk pengembangan diri Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 (Kemendikbud, 2. Berbagai tema pembelajaran yang relevan dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan ini melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermakna (Nasution, 2. Untuk mendukung pengembangan koordinasi mata dan tangan, penggunaan media pembelajaran interaktif atau alat permainan memegang peranan vital (Wulandari et al. , 2. Meskipun lembar kerja anak (LKA) dapat menjadi alat bantu praktis, observasi menunjukkan bahwa LKA yang digunakan seringkali belum sepenuhnya efektif dalam menstimulasi koordinasi mata dan tangan secara optimal. Hasil observasi awal di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya menunjukkan bahwa keterampilan koordinasi antara mata dan tangan dalam melaksanakan gerakan kompleks pada kelompok A usia 4-5 tahun masih berada pada tingkat rendah. Dari 14 anak, hanya 4 anak yang menunjukkan kemampuan yang memadai, sementara 10 anak lainnya masih kesulitan, terutama dalam aktivitas menulis, mewarnai dan menggambar. Anak-anak sering meminta bantuan guru untuk menyelesaikan tugas tersebut, mengindikasikan perlunya intervensi yang tepat. Sebagai solusi, kegiatan meronce dinilai memiliki potensi besar untuk menstimulasi motorik halus anak secara menarik dan terstruktur. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa meronce dapat meningkatkan koordinasi mata-tangan serta konsentrasi anak (Gay et al. , 2. Namun, kajian yang secara langsung mengaitkan metode ini dengan implementasi Kurikulum Merdeka masih sangat Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas stimulasi motorik halus anak melalui aktivitas meronce menggunakan pompom, serta mengeksplorasi hubungannya dengan pendekatan pembelajaran tematik dalam Kurikulum Merdeka di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang mengacu pada model Kemmis dan McTaggart, yang terdiri dari empat tahapan dalam setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pendekatan ini dipilih untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas. Penelitian dilaksanakan di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya dengan subjek sebanyak 12 anak kelompok A berusia 4Ae5 tahun. Permasalahan awal yang diidentifikasi adalah lemahnya keterampilan motorik halus anak, seperti kesulitan memegang alat tulis dan menggunakan gunting, yang disebabkan oleh kurangnya stimulasi melalui kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti merancang tindakan berupa kegiatan meronce pompom yang diintegrasikan ke dalam RPPH sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini. Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus. Siklus I berlangsung selama satu hari, sedangkan siklus II dilakukan selama satu minggu. Masing-masing siklus terdiri dari kegiatan pembukaan, inti, dan penutup dengan durasi pelaksanaan antara 30 hingga 45 menit setiap pertemuan. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan instrumen yang digunakan berupa lembar observasi keterampilan motorik halus anak dan guru. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menggambarkan proses pembelajaran serta respons anak selama kegiatan berlangsung, sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan motorik halus anak dengan menghitung nilai rata-rata dan persentase Persentase ketuntasan dihitung dengan membagi jumlah anak yang mencapai indikator keberhasilan dengan jumlah keseluruhan anak, kemudian dikalikan seratus persen. Indikator keberhasilan keterampilan motorik halus dalam penelitian ini mencakup koordinasi mata dan tangan, kekuatan jari dan otot tangan, ketelitian dan kontrol dalam melakukan gerakan halus, ketahanan dalam menyelesaikan kegiatan tanpa mudah lelah, serta kecepatan dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Ketuntasan belajar dikategorikan ke dalam empat tingkat, yaitu sangat baik apabila persentasenya mencapai 76Ae100%, baik jika berada pada kisaran 51Ae75%, cukup untuk 26Ae Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 50%, dan kurang jika hanya mencapai 0Ae25%. Hasil refleksi dari setiap siklus digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki strategi pembelajaran pada siklus berikutnya, khususnya dalam mendampingi anak serta menjaga konsentrasi mereka saat kegiatan berlangsung. Peneliti terlibat aktif dalam setiap tahap pelaksanaan tindakan hingga analisis data, bersama guru mitra yang turut membimbing anak selama proses pembelajaran. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber, sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Profil Sekolah Penelitian ini dilakukan di TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya, berlokasi di Jl. Merdeka No. Tasikmalaya. Lembaga pendidikan ini berada di bawah naungan sebuah yayasan yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan anak usia dini. tK Perwari 1 Kota Tasikmalaya menyelenggarakan layanan pendidikan dengan membagi dua kelompok usia, yaitu kelompok A dan Kelompok B. Secara operasional, lembaga ini dikelola oleh seorang kepala sekolah dan dua pendidik. Jumlah keseluruhan peserta didik adalah 31 anak, yang terdiri atas kelompok A sebanyak 15 anak dan kelompok B sebanyak 16 anak. Kegiatan penelitian ini difukuskan pada Kelompok A dengan jumlah 12 anak, yang terdiri atas 5 anak laki-laki dan 7 anak perempuan, dengan rentang usia 4-5 tahun. Secara fisik. TK Perwari 1 Kota Tasikmalaya berdiri di atas lahan seluas 421yco2 . Sarana dan