Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa Abdullah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia abdullah11@uinjkt. Abstrak Data kebahasaan sering merekam nilai budaya. Hanya saja, data kebahasaan masih belum mendapat perhatian untuk kepentingan analisis terhadap dinamikasosial masyarakat yang bersumber pada nilainilai budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis cerita humor bahasa Jawa Ngapak yang mengandung nilai-nilai budaya dan cara budaya dikonstruksi melalui melalui bahasa humor. Objek kajian tulisan ini adalah wacana humor. Oleh karena wacana humor menggunakan media teks dan tuturan, pendekatan yang digunakan adalah linguistik-antropologi. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan, atau perilaku yang diamati, dengan menggunakan tehnik simak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya sehat, ajaran agama, dan budaya berbagi terhadap sesama ditemukan dalam humor bahasa Jawa Ngapak itu. Budaya-budaya itu dikontruksi melalui bahasa Jawa Ngapak dalam suasana humor menampilkan realitas masyarakat penutur Ngapak. Ini berarti nilai-nilai budaya ditemukan dalam humor, berupa percakapan manusia maupun percakapan tokoh cerita fable, yang dikonstruksi melalui bahasa Jawa Ngapak untuk merefleksikan realitas. Kata kunci: budaya. Ngapak. ujaran lisan ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Abstract Linguistic data that embody cultural values have not been taken into consideration in analyzing social The study aimed at investigating Ngapak Javanese humor story which contained cultural values, and how culture was constructed through the language of humor. Therefore, the humonrous discourses became the main object of the research. The method used in this research is a qualitative which produced descriptive data in the form of speech, written, or observed behavior, and supported with listening technique. As humorous discourses used speech and text media, the study utilized a linguistic-anthropology approach. Healthy life culture, religious teachings, and the culture of sharing were found in the Ngapak Javanese humor stories. These cultures were constructed through the language of humor by the Javanese Ngapak community. In addition, the culture constructed through the Ngapak Javanese language in a humorous atmosphere displayed the reality of the Ngapakspeaking community. This can be concluded that cultural values found in humor, in the form of human speech and fable character conversations constructed through the Ngapak Javanese language displayed the reality of social dynamics. Keywords: culture. Ngapak. oral speech Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa Pendahuluan Ada peribahasa adoh ratu, cedak watu . auh dari raja, dekat dengan bat. Secara sosiologis, pribahasa ini menggambarkan 2 . Pertama, kaum priyayi yang disimbolkan dengan kata ratu . , sekaligus menggambarkan kebudayaan Kedua, kumonitas wong cilik yang disimbolkan dengan kata watu, sekaligus menggambarkan kebuda-yaan yang tidak terjamah oleh kebudayaan kraton. antara karakteristik kebudayaan kraton adalah pemberlakuan unggah-ungguh . opan Hal ini dapat dilihat pada penggunaan ragam bahasa di lingkungan kraton, yaitu ragam kromo inggil. Secara geokultural, peribahasa tersebut di atas juga menggambarkan masyarakat kelas bawah . edak wat. yang secara horisontal tidak terikat dengan patok unggah-ungguh. Budaya ini nampak pada masyarakat Jawa Tengah bagian Barat. Ketiadaan unggah-ungguh menjadikan masyarakat setara dan Kesetaraan ini nampak pada penggunaan bahasa yang tidak terikat pada unggah-ungguh bahasa. Hal ini ditemukan pada komunitas Banyu-masan yang mengunggkapkan sesuatu secara jujur, lugas, dan apa adanya. Bahasa yang mereka gunakan merupakan gambaran menyembunyikan maksud sebenarnya dari bahasa atau tuturan yang mereka Lebih dari itu, mereka menggunakan dialek bahasa yang cenderung menciptakan kesetaraan dalam partisipa yang terlibat dalam tururan, yaitu ragam ngoko lugu, sebagaimana dicatat oleh Herusatoto1 dalam buku Banyumas. Sejarah. Budaya. Bahasa, dan Watak. Uhlenbeck, sebagaimana dikutip oleh Suhardi,2 mengelom-pokan dialekdialek yang diper-gunakan di wilayah Barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok . bahasa Jawa Tengah bagian Barat (Banyumasan. Tegalan. Cirebonan dan Banten Utar. Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa Tengah bagian Utara (Tanjung. Ketanggungan. Larangan. Brebes. Slawi. Moga. Pemalang. Surodadi, dan Tega. Selain itu, terdapat dialek wilayah selatan (Bumiayu. Karang Pucung. Cilacap. Nusakambangan. Kroya. Ajibarang. Purwokerto. Purbalingga. Bobotsari. Banjarnegara. Purworejo. Kebumen, dan Gombon. Kelompok bahasa Jawa bagian Barat . arap dibedakan dengan Jawa Barat/Bahasa Sund. , inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan. Penyebaran wilayah yang luas ini menjelaskan mengapa terdapat variasi morfem yang memliki kemiripan, misalnya: AokepriweAo. AokeprimenAo, dan AokepribenAo, yang bisa dipadankan secara paralel dengan AobagaimanaAo. Selain itu, paling tidak ada 2 . hal yang membedakan bahasa Jawa bagian Timur dari bahasa Jawa bagian Barat, yaitu: . akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o' dan . kata-kata yang berakhiran huruf mati dilafalkan dengan nada penuh. Maksudnya ada penekanan tersendiri terhadap akhir dari huruf konsonan pada Pelafalan dilakukan secara tegas, lugas, dan jelas penekanannya. Boleh jadi pelafalan ini menjelaskan mengapa bahasa ngapak dan sering diidentikan dengan bahasa medhok. Budioho Herusatoto. Banyumas . Sejarah. Budaya. Bahasa. Dan Watak. Cetakan ke-1 (Yogyakarta: LKiS, 2. Imam Suhardi. AuBudaya Banyumasan Tak Sekedar Dialek (Representasi Budaya Banyumas Dalam Prosa Karya Ahmad Tohar. ,Ay Wacana Etnik Volume 4, nomor 1 . , http://wacanaetnik. id/index. php/wac anaetnik/article/view/44. Afifah Rizki Pratomo. AuNgapak Dan Identitas Banyumasan. Komunikasi Organisasi Berbasis Dialek Budaya Lokal Di Dinas Pendidikan Dan Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) BanyumasAy (Skripsi. Uiniversitas Islam Indonesia, 2. , 4, https://dspace. id/bitstream/handle/1234567 89/9764/NASKAH PUBLIKASI AFIFA H 2 adt. pdf?sequence=2&isAllowed=y. Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Wis sangang dina wingine Sudah sembilan hari yang lalu . Wong kae ora tau teka mrene Dia tidak pernah datang kesini . Wong Jawa mangan sega Orang Jawa makan nasi . Mangan jagongan kepenak Makan lesehan nyaman . Apamaning lawuhe enak Apalagi lauknya enak . Weih inyong uyah sitik Beri aku garam sedikit Kata-kata 'dina' pada . AotekaAo pada . , dan AosegaAo pada . , masing-masig diartikulasikan dengan vokal AoaAo pada akhir kata. Sementara kata-kata AokepenakAo pada . AoenakAo pada . , dan AositikAo pada . , masing-masing diucapkan penuh dengan suara huruf 'k' yang jelas. Itulah sebabnya mengapa bahasa Banyumasan oleh masyarakat di luar Banyumas disebut sebagai bahasa Ngapak atau Ngapakngapak. Selain itu, ujaran . , . , . , . , . , dan . merupakan satuan-satuan ujaran yang tertata secara rapih dan teratur. Seluruh ujaran itu memiliki sistem yang memungkinkan seorang penutur bahasa dapat mengutarakan berbagai gagasan, keprihatinan, kepercayaan, pengertian, rasa humor dalam bentuk lambing. Keteraturan menyokong data kebahasaan, termasuk bahasa ngapak. Data kebahasaan ini yang dapat dipahami dan ditafsirkan oleh orang Belakangan studi bahasa untuk kepentingan di luar bahasa mendapat perhatian serius. Suhardi4 misalnya, melihat budaya Banyumasan melalui karya sastra Ahmad Tohari. Sastra Banyumasan tidak lagi dianggap sebagai ndeso karena dialek ngapak-ngapaknya, tetapi menjadi karya adiluhung yang berisi roh kese-derhanaan, kesatrian, dan Banyumas. Widyaningsih5 hermeneutik Hans-George Gadamer melakukan studi filosofis tentang bahasa dan mentalitas Banyumas Ngapak bertujuan untuk menemukan penjelasan tentang sifat bahasa sebagai substansi dan bentuk, hubungan pikiran, budaya, dan komunikasi manusia dalam kehidupan. Sementara Suryaningsih penggunaan ragam bahasa melalui kata Subjek penelitiannya adalah masyarakat desa Kaibon. Petangkuran dan Ambal Resmi Ambal kabupaten Kebumen. Sedangkan Trianto melihat bahasa, identitas, dan budaya Banyumas memiliki pertalian yang erat dalam berbagai 6 Sistem bahasa pada konteks budaya Banyumas menjadi benteng akhir pertahanan identitas budaya. Bahasa Banyumas dan dialek Banyumas merupakan simbol budaya yang paling representatif untuk mengidentifikasi Penggunaan bahasa dan . Banyumas merepresentasikan resistensi budaya lokal terhadap penetrasi budaya dari luar Banyumas. Bahasa Banyumas menjadi identitas, sekaligus fitur budaya untuk masyarakat Banyumas. Selain itu, ada Pratomo yang menguji peluang Program Bahasa Daerah (PBD), yaitu: bahasa Ngapak yang dipergunakan sebagai piranti komunikasi di instansi Suhardi. AuBudaya Banyumasan Tak Sekedar Dialek (Representasi Budaya Banyumas Dalam Prosa Karya Ahmad Tohar. Ay Rindha Widyaningsih. AuBahasa Ngapak Dan Mentalitas Orang Banyumas: Tinjauan Dari Perspektif Filsafat Bahasa Hans-Georg Gadamer,Ay Jurnal Ultima Humaniora Vol II. Nomor 2 . : 186Ae200. Teguh Trianto. AuBahasa Sebagai Identitas Dan Perlawanan Kultural Masyarakat Banyumas PascakolonialAy (Indonesia: Art and Urban Culture. Solo: FIB UNS Solo, 2. , https://w. net/publication/326123 568_Bahasa_sebagai_Identitas_dan_Perlawanan_ Kultural_Masyarakat_Banyumas_Pascakolonial. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa pemerintah secara formal. 7 Paradigma yang digunakan adalah Konstruktivisme dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi yang dilakukan di Dinas Pendidikan dan Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Banyumas. Temuannya adalah bahasa Ngapak tidak bisa mengkonstruksi identitas karena, bahasa hanya digunakan dalam apel pagi, doAoa pagi, dan sambutan rapat. Penggunaan bahasa Ngapak bersifat formalitas untuk memenuhi kewajiban yang diatur dalam Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Bupati Banyumas. Dengan menyebut Aoidentitas, sekaligus fitur budaya,Ao yang hendak ditekankan adalah kebudayaan suatu masyarakat dapat diketahui melalui bahasanya. Tegasnya bahasa menjadi semacam pintu masuk untuk mengenal cara berpikir suatu Bahasa juga dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi dan pengalaman, baik yang bersifat kultural maupun individual, kepada orang lain. Dalam informasi dan pengalaman, humor merupakan elemen penting untuk menyampaikan informasi yang tidak terlepas dari prinsip-prinsip komunikasi. Dalam konteks ini faktor-faktor yang bersifat psikologis, sosiologis dan antroplogis dari penutur kepada mitra tuturnya akan menjadi pertimbangan utama dalam proses eksplorasi ide ataupun proses kreatif penciptaan humor. Dapatlah dipahami bahwa karya humor sama dengan karya sastra lainnya, seperti puisi atau novel sarat dengan nilai yang secara empiris dekat dengan realitas kehidupan masyarakat penggunanya. Bahasa humor, menampilkan atau menggunakan nilai-nilai budaya dari suatu Sabar kuwe langka batase nek pancen niat gelem sabar Aosabar itu tiada batas, kalau memang niat mau sabar,Ao dapat dijadikan sebagai contohnya. Dalam konteks ini pendengar . itra tutu. dapat mela-kukan interpretasi atau memberikan makna kepada ujaran humor Dalam tulisan ini, humor dianggap sebagai satu bentuk komunikasi yang merupakan pusat kehidupan kebuda-yaan. Di dalam humor terdapat pengetahuan tentang makna, nila-nilai, ideologi, kebudayaan dan sebagainya. Kajian tulisan ini hendak membuktikan bahwa analisis bahasa dapat digunakan untuk kepentingan kajian sosial, bahkan sampai tahapan yang detil. Analisis linguistik-antroplogi berguna ketika dikolabo-rasikan dengan strategi analisis Berangkat dari pernyataan di atas, tulisan ini hendak menjawab pertanyaanpertanyaan, nilai-nilai budaya apa saja yng terkandung dalam humor bahasa Jawa Ngapak Bagaimana dikonstruksi melalui bahasa, dalam teks humor yang dilakukan masyarakat Jawa Ngapak? Apakah nilai budaya yang ada dalam humor itu yang dikonstruksi melalui bahasa Jawa Ngapak untuk Afifah Rizki Pratomo. AuNgapak Dan Identitas Banyumasan. Komunikasi Organisasi Berbasis Dialek Budaya Lokal Di Dinas Pendidikan Dan Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) BanyumasAy (Skripsi. UII Yogyakarta, 2. , https://dspace. id/handle/123456789/9764. Metode Objek kajian tulisan ini adalah wacana humor bahasa Jawa Ngapak yang ditampilkan di media digital seperti WA, twitter dan internet serta Youtube. Data yang menggunakan simbol-simbol budaya atau yang memakai setting budaya untuk berhumor, akan dipilih sebagai data kajian Oleh karena itu, secara metodologis, pendekatan yang digu-nakan dalam kajian ini adalah pendekatan linguistikantropologi. Paradigmanya adalah teks sebagai konstruksi yang mengekspresikan cara hidup, alat perlengkapan hidup, bahasa, susunan masyarakat, adat istiadat, perumahan, sandang pangan, pendidikan, pandangan hidup, kepercayaan dalam Dalam hal ini, teks dipandang Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. sebagai refleksi budaya sedemikian rupa sehingga ia merupakan satu kesatuan yang Tugas peneliti yang berhadapan langsung dengan teks adalah memberikan makna melalui penafsiran . terhadap teks dan menghubungkan makna dengan makna lainnya dalam konteks masyarakat penghasil teks. Kajian ini merupakan upaya untuk merespon budaya ngapak yang dimediasi oleh perkembangan tehnologi digital. Oleh karena itu, sumber data diambil dari media digital seperti WA, twitter dan Youtube. Guna mendeskripsikan apa adanya hasil dari pengumpulan data, digunakan metode Dalam hal ini, peneliti mencatat data-data berupa kata-kata, kalimat-kalimat, wacana. Adapun pencarian dan pengum-pulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik simak bebas cakap dan teknik catat. Metode simak dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa secara tertulis maupun lisan. Simak mengamati, dan memahami teks humor yang berupa monolog ataupun dialog antar peserta tutur yang terdapat dalam humor berbahasa Jawak Ngapak itu. Teknik simak bebas cakap merujuk kepada peran peneliti sebagai pengamat penggunaan bahasa. Peneliti tidak terlibat dalam peristiwa pertuturan, tetapi hanya menyimak pertuturan monolog atau dialog yang dilakukan para peserta tutur. Pada teks humor bahasa Jawa Ngapak itu, peneliti hanya menyimak informasi teks baik yang berkenaan dengan isi maupun unsur-unsur di luar bahasa. Teknik catat atau . aking note metho. merupakan tata cara kerja melakukan pengelompokkan teks dialog maupun monolog mejadi gugus-gugus sesuai dengan tanda-tanda bahasa yang ada Gugus-gugus satuan bahasa dapat berupa kata, frase, klausa atau Penelitian ini dibuat dengan langkahlangkah sebagai berikut: . menelusuri dan mengumpulkan literatur yang ada serta menelaahnya secara seksama. membaca dan mencatat bahan-bahan memperoleh informasi yang diperlukan untuk penulisan pokok bahasan ini. mengutip informasi berupa kerangka konseptual untuk dijadikan landasan berpijak dalam membahas persoalan yang diajukan dalam tulisan ini. Untuk menganalisis data digunakan metode padan ekstralingual dengan teori Hymes. 10 Teori ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa tutur dipengaruhi oleh faktor-faktor Hymes terumuskan dalam kumpulan fonem yang membentuk kata SPEAKING sebagai S : Setting . empat dan waktu P : Partisipan . enutur dan mitra tutu. E: End . ujuan tutura. A : Act . ktualisasi tutu-ra. K : Key . agam bahasa yang digunakan dalam tutura. I : Instrumen . erangkat yang digunakan untuk tuturan, misalnya: lisan atau tuli. N : Norma . etentuan atau aturan tuturan yang disepakati penutur dan mitra tutu. G : Genre . enis kegiatan tutura. Teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan, teknik hal pokok. Dengan teknik lanjutan ini, peneliti membanding-bandingkan teks humor itu Chaer Alwasilah. Pokoknya Kualitatif. Dasar-Dasar Merancang Dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-1 (Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 2. , 45. Subroto. Pengantar Metode Penelitian Struktural (Surakarta: UNS Press, 1. , 7. Dell Hymes. AuDell. Models of The Interaction of Language and Social Life,Ay in Directions in Sociolinguistics: The Ethnography of Communication, ed. Gumperz and D. Hymes (New York: Holt. Rinehart. Winston, 1. , 321. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa mengelom-pokkannya tanda-tanda mengandung konstuksi budaya. Selain itu, digunakan analisis teks yang secara tehnis dilakukan dengan cara mendeskripsikan teks, menjelaskan tema yang dikandung hubungan-hubungan teks, dan menjelaskan fungsi hubungan Untuk disuguhkan dalam dialog. Temuan dan Pembahasan Antropologi Budaya Antropologi budaya mempelajari kebudayaan sebagai hasil dari suatu kebudayaan berupa cara hidup, alat perlengkapan hidup, bahasa, susunan masyarakat, adat istiadat, perumahan, sandang pangan, pendidikan, pandangan hidup, kepercayaan, sejarah, hubungan dari pemiliki kebudayaan dimaksud dengan masyarakat atau bangsa lainnya. Internalisasinya pada tataran individu terjadi melalui proses konstruksi yang digambarkan oleh Geogre Kelley, sebagaimana disebut Littlejohn,13 sebagai interpretasi individu terhadap pesan dan respon-tindak berdasar pada kategori yang terkonsep dalam pikiran. Realitas yang terjadi serta pesan yang disampaikan tidak sedemikian adanya, melalui proses seleksi dari perspektif individu. Konstruktivisme tersusun dari teori konstruk personal yang memandang bahwa seseorang memahami pengala-mannya berdasarkan kesamaan dan perbedaan yang dimiliki tentang sesuatu individu Pemberian makna pada Subhi Inrahim al-Faqih. Ilm Al-Lughat alNashsh Bain al-Nazhariyyat Wa al-Tathbyq. Cetakan ke-1 (Kairo: DEr al-QabE, 2. , 55. Mahjunir. Mengenal Pokok-Pokok Antropologi Dan Kebudayaan (Jakarta: Bhratara, 1. , 40. Stephen W Littlejohn. Theories of Human Communication. Fifth Edition (California: Wadsworth, 1. , 112Ae20. pengalaman dieskpresikan, salah satunya, melalui bahasa yang konstruksinya menyim-pan makna. Manusia dalam mengekspresikan pengalaman dan gagasannya diwujud-kan dalam bentuk bahasa. Bentuk bahasa itu disebut representasi. Yang dipahami sebagai kegiatan memproduksi makna melalui bahasa. Teori ini menjelaskan bahwa konstruk-konstruk mempunyai kondisi sosial yang alami dan dipelajari melalui hubungan dengan orang lain. Budaya menjadi penting dalam memaknai suatu peristiwa, yang dapat diungkap Representasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan: . keadaan diwakili. 15 Hall mengutarakan bahwa bahasa merupakan sistem dari representasi yang diperlukan dalam seluruh proses pengkosntruksian Kata-kata suatu bahasa yang mengandung makna disebut symbol. Simbol yang mengandung makna digunakan untuk merepresentasikan Hubungan konseptual antar simbol satu dengan yang lainnya dibawa dalam pikiran kita dan bersamanya dibuat sistem pemaknaan dalam kebudayaan suatu masyarakat. Bahasa dan Budaya Makna kata dari suatu bahasa yang sudah dkonstruksi melalui representasi kode-kode, akan mudah dipahami. Burton sekumpulan tanda dalam bentuk spesifik, seperti tuturan, tulisan dan gambar 16 Fiske membedakan kode menjadi dua, yaitu: . kode etik merujuk kepada kode legal, kode etik, atau tatakrama. kode yang berupa sistem tanda bahasa. Ferdinand de Saussure. Cource in General Linguistics (Boston: McGraww Hill, 1. , 16. Depdiknas. AuKamus Besar Bahasa IndonesiaAy (Jakarta: Gramedia, 2. , 1167. Graeme Burton. More than Meets the Eye An Introduction to Meddia Studies (Great Britain: Edward Arnold, 1. , 27. Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Kode tipe kedua ini memiliki prinsipprinsip yaitu berupa: . dimensi paradigmatic yaitu kode yang memiliki sejumlah unit yang sudah diseleksi. Dimensi sintagmatik ini merujuk epada unit-unit dikombinasikan denga aturan atau . unit kode adalah tanda yang memiliki berbagai macam makna. kode digunakan tergantung pada persetujuan di antara penggunanya dan pada latar belakang budayanya. Kode dan budaya saling berhubungan secara dinamis. Bahasa sebagai konstruksi budaya meliputi tiga aspek, yaitu bahasa, budaya dan semiotic. Ini bahasa berarti membuka suatu persoalan yang mempunyai ranah yang demikian luas. Pembahasannya dapat mengambil ranah bahasa dan konstruksi makna, makna dan kode, budaya, serta semiotik. Situasi ini secara mengindikasikan bahwa bahasa sebagai konstruksi budaya merupakan pokok bahasan yang sudah ada sejak dahulu, tetapi sekaligus pokok aktual yang bersifat hangat untuk terus diperbicangakan oleh berbagai kalangan yang tertarik kepada kajian bahasa sebagai konstruk budaya yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Apalagi, bahasa sebagai konstruksi budaya sebagai kegiatan pengajaran yang berlangsung mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, di mana pun dan kapan pun, pokok bahasan itu mempunyai kedudukan penting dalam kaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Budaya itu sendiri banyak pengertian yang dirumuskan oleh para ahli. Mac Iver, misalnya, menjelaskan bahwa budaya sebagai ekspresi jiwa yang terwujud dalam cara-cara hidup dan berpikir, pergaulan hidup, seni kesastraan, agama, rekreasi, dan filsafat sebagaimana dikutip oleh Soekanto. 18 Definisi budaya yang lebih lengkap dipaparkan oleh Ramond Williams dalam Lull19 sebagai berikut: AuBudaya adalah suatu cara hidup tertentu yang dibentuk oleh nilai, tradisi kepercayaan, objek material, dan wilayah. Budaya adalah suatu ekologi yang kompleks dan dinamis dari orang, benda, pandangan tentang dunia, kegiatan dan latar belakang yang secara fundamental bertahan lama, tetapi juga berubah dalam komunikasi dan interaksi sosial yang Budaya adalah konteks. Budaya adalah cara kita berbicara dan berpakaian, makanan yang kita makan, dan cara kita menyiapkan dan mengkonsuminya, dewadewa yang kita ciptakan, dan cara kita memujanya, cara kita membagi waktu dan ruang, cara kita menari, nilai-nilai yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita, dan semua detail lainnya yang membentuk kehidupan kita sehari-hari. Ay Definisi tersebut di atas dijadikan landasan untuk mengambil unsur bahasa dari segi budaya cara kelompok masyarakat bertutur dan berbicara. Uraian berikut menggambarakan ujaran-ujaran suatu kelompok masyarakat Jawa yang jadi objek sasaran, yaitu kelompok masyarakat penutur bahasa Jawa Ngapak. John Fiske. Introduction to Communication Studies (London: Routledge, 1. , 64Ae65. Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1. , 336. Bahasa Ngapak sebagai Konstruk Budaya Jawa Bahasa humor Jawa Ngapak yang mengkonstruksi budaya Jawa, disajikan dalam bentuk dialog. Dalam penyajian dialog 1 (Lampiran . , teks bahasa Jawa Ngapak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia guna mendapatkan pemahaman bagi pembaca yang memiliki kemampuan bahasa Indonesia. Dialog 1 memandikan kucing tersebut di atas dianalisis menggu-nakan teori SPEAKING sebagai berikut: Latar tempat : Warong Retno Latar waktu : Siang hari James Lull. Media. Komunikasi Dan Kebudayaan (Jakarta: Yayasan Obor, 1. , 27. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa Partisipan : P1 (Retn. dan P2 (Riku. Tujuan : informasi memandikan kucing yang banyak kutu Peristiwa : Kucing banyak kutu Ragam bahasa : Akrab Perangkat tuturan : Lisan Aturan tuturan : dialek Jawa Ngapak Jenis tuturan : Dialog Bertumpu pada klasifikasi konteks, ujaran diperoleh beberapa aspek, yaitu: Retno merasa heran atas perilaku Rikun yang tidak pernah membeli sabun di warungnya untuk mencuci pakaian. Keheranan Retno bertambah ketika Rikun membeli sabun ternyata untuk mencuci Retno memberi saran bahwa kucing tidak bisa dicuci, dan hal itu dapat berdampak pada kematian kucing. Ternyata kucing Rikun mati bukan karena sabun atau air, tetapi karena diperas oleh Rikun. Kucing yang dimandikan dalam konteks masyarakat Jawa tidak lazim, sehingga ketika ada orang ingin memandikan kucing terasa sangat janggal dan menimbulkan keheranan, karena kucing bila kena air takut, bahkan bisa Cara Retno berbicara: Kun kepriwe kucinge ko? merupakan cara Retno menyampaikan makna. Retno berujar lagi lah kuwe tek omongi ora percaya si koe lah kucing dikumbah karo deterjen si nggo ngapa, mbok ana obat tuma, sungune Ratno modod. Ujaran Retno merupakan tanda-tanda berupa kata yang terangkai dalam kalimat yang dibangun oleh Retno. Dalam dialog itu. Rikun membuat dan menggunakan frase sungune modod yang arti secara harafiah Aotanduknya keluarAo dapat diartikan Aoorang yang sangat marahAo. Retno sangat marah karena tidak terima untuk dinasehati mengenai kucingnya yang telah mati akibat perbuatan bodohnya memeras kucing seperti memeras pakaian yang baru selesai Lebih dari itu, frase tersebut dapat diinterpretasikan bahwa orang Jawa sangat dekat dengan hewan peliharaan Dalam konteks itu, mereka sangat paham dan pandai membedakan kucing yang mempunyai banyak kutu dan kucing bersih dari kutu. Berlangsungnya komunikasi antara Retno dan Rikun menunjukkan bahwa kode-kode bahasa dan tanda bahasa Jawa Ngapak telah beroperasi atau bekerja dengan baik yang bergantung pada kegunaan kode itu, yaitu menyampaikan informasi tentang eksistensi dan budaya Jawa. Dengan demikian, bahasa Jawa Ngapak dapat mengkonstruksi budaya Jawa. Dialog 2 berisi tentang hukum menyuruh orang sholat (Lampiran . dianalisis menggunakan teori SPEAKING sebagai berikut: Latar tempat : Pagelaran wayang santri Latar waktu : Malam hari Partisipan : P1 (Lupi. P2 (Slenthen. , dan P3 (Kya. Tujuan : Penyampaian informasi tentang hukum menyuruh orang salat Peristiwa : Menyuruh orang salat Ragam bahasa : Akrab Perangkat tuturan : Lisan Aturan tuturan : dialek Jawa Ngapak Jenis tuturan : Dialog Dialog 2 dengan faktor-faktor yang memberi pengaruh terhadap kegiatan tuturan, merupakan cuplikan dialog wayang santri Ki Enthus Susmono. Partisipan yang terlibat dalam dialog adalah P1 . okoh santri Lupi. P2 . okoh santri Slenthen. , dan P3 . okoh Kya. Secara linguistik, dialog yang berisi interaksi secara langsung merupakan realisasi bahasa. Dalam realisasinya, karena penuturnya representasi orang Jawa bagian Barat (Tega. yang Ngapak, maka tuturan dalam dialog disebut tuturan Ngapak (Bahasa Ngapa. Tegal. Dalam perspektif linguistik, tuturan dalam dialog itu ditranskripsi dan dianalisis sehingga kaidah-kaidah mulai dari keteraturan Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. keteraturan sintaksis, dan keteraturan Datanya diambil dari tuturan yang dalam terminologi Ferdinand de Saussure disebut parole. Dalam hal ini, de Saussure linguistik penutur dengan peristiwa sebenarnya atau data linguistik . sebagai langue dan parole. Parole merupakan data yang langsung bisa Objek linguistik adalah langue dari tiap-tiap masyarakat, yaitu: leksikon, tatabahasa, dan fonologi yang tertanam dalam diri masing-masing orang perorang dalam masyarakat20. Hanya saja, guna menemukan aspek makna tujuan, analisis atas dialog atau tuturan tidak cukup memadai dengan menggunakan analisis linguistik, tetapi mesti dikolaborasi dengan analisis tindak tutur . Adalah Austin yang pertama memperkenalkan gagasan bahwa bahasa dapat digunakan untuk melakukan tindakan melalui perbedaan antara ujaran konstatif dan ujaran performatif. Ujaran melaporkan peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan di dunia. Ujaran konstatif dapat dikatakan benar atau salah. Berbeda dari ujaran konstatif, ujaran merupakan bagian dari melakukan tindakan yang biasanya tidak dideskripsikan hanya sebagai tindak mengatakan sesuatu21. Gagasan ini dikembangkan oleh para ahli bahasa, yang kemudian dikenal dengan Teori Tindak Tutur. Bahasa merupakan instrumen untuk menyampaikan informasi kepada orang Pada tahap pemahaman seperti ini, bahasa tidak lain hanyalah kegiatan menyatakan sesuatu. Namun, orang . terkadang menghendaki tidak semata-mata menyampaikan infromasi atau menyatakan sesuatu, tetapi juga lebih dari itu dia menginginkan mitra tutur melakukan perbuatan atau tindakan sebagai responnya terhadap informasi yang disampaikan oleh penutur. Dalam kajian pragmatik, tuturan yang tidak semata-mata menyatakan sesuatu, tetapi juga menyatakan adanya perbuatan atau tindakan sebagai respon terhadap tuturan disebut tuturan performatif atau kalimat performatif. Sedangkan tuturan yang hanya menyampaikan informasi disebut tuturan konstatif atau kalimat Berbeda dengan tuturan konstatif, tuturan permormtif, menurut Austin sebagaimana dikutip Abdul Chaer,22 bersifat netral, maksudnya tidak mengandung nilai benar atau salah. Sedangkan tuturan konstatif atau kalimat kostatif mengandung nilai benar atau RH Robins. Sejarah Singkat Linguistik. Cetakan ke-3 (Bandung: Penerbit ITB, 1. , . Wong sembayang ora usah dikongkon-kongkon Orang salat tidak perlu disuruhsuruh . Malah ngongkon wong sembayang hukume dosa Bahkan menyuruh orang salat hukumnya dosa Tuturan . dari P1 (Lupi. dalam dialog 2 merupakan konstruksi yang dibangun dari katagori-katagori . elas kat. yang mengisi fungsi sintaksis . edudukan kata dalam kalima. dan manjalankan peran sintaksis tertentu . akna kalima. dalam konstruksi Pada tahap konstruksi ini . alimat konstati. , tuturan . mesti mengandung nilai benar. Ini menjelaskan mengapa P2 (Slenthen. dalam dialog 2 memberikan respon yang negatif karena, tuturan . tidak Louise Cummings. Pragmatiks. A Multidisciplinary Perspective. Cetakan ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 8. Abdul Chaer. Kesantunan Berbahasa. Cetakan ke-1 (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 27. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa mengandung nilai benar. Respon negatif nampak pada tuturan . Kiyeh. raine madep mene kiye Gini. mukamu menghadap ke sini . Pada-pada santri koen ka aja ngajarna aliran sesat koen Sesama santri, kamu jangan mengajarkan aliran sesat, kamu P2 dalam dialog 2 menjelaskan ketidakbenaran informasi dari tuturan . Pada saat yang sama P2 dalam dialog 2 melakukan kritik dan evaluasi melalui tuturan ekspresif . Wong berbuat kebajikan iku hukume wajib, paham. Orang kebajikan itu hukumnya wajib, . Kewajiban umat Islam kuwe ngejak, ngongkon wong solat iku termasuk wajib, oleh pahala Kewajiban umat Islam itu mengajak, menyuruh orang salat itu termasuk wajib, memperoleh Analisis tindak tutur fokus pada kontekstualisasi tuturan. Karenanya, parameter benar tidaknya informasi dalam sebuah tuturan bukan pada keformalan ungkapan secara gramatikal atau benar atau tidak benarnya informasi, melainkan pada tujuan komunikasi. Dalam hal ini. Austin sebagaimana dikutip Abdul Chaer23 merumuskan tindak tutur dalam 3 . lapisan dari suatu tindak tutur, yaitu: uturan yang tertata baik secara gramatika. , ilokusi . ujuan tertentu yang diimplisitkan melalui lokus. , dan perlokusi . engaruh atau efek dari tuturan Chaer, 28Ae29. Kontekstualisasi tuturan . adalah berkaitan dengan fiqh ibadah bahwa melakukan ajakan dan suruhan menegakkan salat memang dianjurkan, artinya tidak salah apalagi dosa. Hal ini sesuai dengan teori tindak tutur yang performatif atau kalimat performatif dapat memiliki lebih dari fungsi komunikatif. Tegasnya, satu fungsi komunikatif dapat diekspresikan dengan berbagai bentuk Oleh dilangsungkan oleh P1 dalam dialog 2 (Lupi. dan P2 dalam dialog 2 (Slenthen. merupakan tuturan humor dari wayang santri, maka tindak tutur asertif yang disampaikan P1 dalam dialog 2 (Lupi. bertentangan dengan ajaran fiqh ibadah, meski tindak tutur lokusi P1 daalam dialog 2 (Lupi. benar secara gramatikal. Tindak tutur ilokusi dari P1 dalam dialog 2 (Lupi. menjadi benar melalui tuturan . , . , . , dan . Wong pan ngongkon mbong mboran mengko dong wonge lubar sembayang nembe dikongkon Orang akan menyuruh atau tidak menyuruh nanti setelah orang itu selesai salat, setelah itu baru disuruh . Wong kiye ngongkon wong ngger lagi Allahu Akbar terus dikongkon eh To tokokna lenga Orang menyuruh orang kalau sedang Allahu Akbar, lalu disuruh. Hai To ! belikan minyak . Dosa hukume oh. ngongkon mbora mengko dong lubar mbayang Dosa hukumnya, bukan ? Akan menyuruh atau tidak menyuruh nanti saja setelah selesai salat . Dadi ngongkon wong mbayang hukume dosa Jadi hukumnya dosa Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Pada tahap konstruksi ini . alimat performati. , dialog wayang santri tersebut menyuguhkan humor segar melalui logika yang dibangun oleh P1 dalam dialog 2 (Lupi. , yang rumusannya dalam Ushul al-Fiqh disebut mafhum . emahaman Tindak tutur lokusi dari P1 dalam dialog 2 (Lupi. ajakan atau suruhan terhadap orang yang salat itu salah, bahkan dosa, ini artinya kalau dilakukan di luar salat . isalnya: selesai melaksanakan sala. , maka ajakan atau suruhan itu menjadi tidak salah dan dosa. Tegasnya, tindak tutur ilokusi P1 dalam dialog 2 (Lupi. mengim-plisitkan tujuan komunikasi, dan tujuan ini tersampaikan. Hal ini dapat dipahami dari paralinguistik dari P2 dalam dialog 2 (Slenthen. dan P1 dalam dialog 2 (Lupi. sebagai berikut: Celingak-celinguk karo mikir ning omongane Lupit kuwe bener Noleh ke kanan dan ke kiri sambil memikirkan bahwa omongan Lupit itu benar . Guyu mesam mesem Tertawa kecil Suasana humar menjadi semakin pecah dan mengundang tawa renyah melalui tindak tutur perlokusi dari P2 dalam dialog 2 (Slenthen. sebagai respon Maksudnya P2 dalam dialog 2 (Slenthen. membenarkan tujuan tindak tutur ilokusi P1 dalam dialog 2 (Lupi. Raimu ara ngumong sing mau kaya kuwe sih. dadi inyonge bingung eh Mukamu tidak ngomong dari tadi kaya begitu sih. saya bingung deh . Aduh. aro nibakna awake nang kedobok omongane P1 dalam dialog . Dasar AoMonyetAo . ambil menjatuhkan badannya ke batang pisang tanda membenarkan ucapan P1 dalam dialog . Tindak tutur perlokusi raimu ara ngumong sing mau kaya kuwe sih (Mukamu tidak ngomong dari tadi kaya begitu si. menunjukkan bahwa P1 dalam (Slenthen. implisitasi tindak tutur ilokusi P2 dalam dialog 2 (Lupi. Diskusi semakin manarik jika analisis dilanjutkan pada situasi tuturan. Dalam hal ini, situasinya sangat akrab, dan ini sekaligus menjelaskan mengapa bahasa yang digunakan dalam dialog wayang santri tersebut menghindar dari unggahungguh Keakraban partisipan yang terlibat dalam dialog dapat dirasakan dari penggunaan ragam bahasa Pilihan diksi AoinyongeAo. AoraimuAo dan AokunyukAo, misalnya, merupakan situasi dialog yang menggambarkan keakraban partisipan yang terlibat dalam dialog. Keakraban semakin dirasakan pada pilihan diksi Aongko ndinginAo dari P1 dalam dialog 2 (Lupi. Diksi ini menjadi pilihan P1 dalam dialog 2 (Lupi. sebagai tindak tutur perlokusi merespon tindak tutur ilokusi P3 dalam dialog 2 . okoh Kya. , yaitu: AoYa koen njelasakenAo. Dalam stratifikasi sosial. Kyai mempunyai status sosial yang lebih tinggi dibanding Aowong cilikAo yang dalam hal ini direpresentasikan oleh P1 dalam dialog 2 (Lupi. Kyai, menurut Dhofier24, telah melembaga dalam tradisi pesantren. Bersama lembaga-lembaga lainnya, yaitu: pondok, masjid, santri, dan kitab kuning. Kyai karakteristik pesantren. Sebagai lembaga yang memiliki status sosial lebih tinggi, maka komunikasi yang dilangsungkan dengan Kyai mesti menggunakan unggah- Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai (Jakarta: LP3ES, 1. , 44. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa ungguh bahasa. Dalam hal ini menggunakan ragam kromo inggil. Unggah-ungguh bahasa bisa dirasakan pada dialog antara Pak Kayim dengan seorang warga desa tentang berita duka. Wantorojati25 sebagai berikut: Dialog tentang berita duka di atas terjadi antara salah seorang warga desa bertindak sebagai penutur dengan Pak Kayim bertindak sebagai mitra turur. Tuturan yang disampaikan warga desa itu menggunakan ragam bahasa tinggi . rama Pak Kayim merupakan panggilan atau sapaan khusus dalam bahasa Banyumasan untuk petugas keagamaan Islam tingkat desa. Dalam bahasa pesantren Kayim dilabelkan pada orang keterampilan keagamaan Islam. Ini artinya secara sosial, orang yang memiliki label Kayim lebih berstrata sosial tinggi melebihi strata sosial warga desa, apalagi Kayim merupakan perangkat desa. Itu sebabnya mengapa ragam bahasa yang digunakan warga desa menggunakan krama inggil seperti pada . Tentu saja berbeda ragam bahasanya jika partisipan memiliki status sosial lebih rendah atau sederajat. Dalam hal ini, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa rendah (Ngok. , meski padanan dalam bahasa Indonesia sama, yaitu . Dari deskripsi di atas, dapat ditegaskan bahwa ragam Krama Inggil berbanding lurus dengan status sosial partisipan yang terlibat dalam dialog. Inilah yang tidak dipenuhi dalam dialog wayang santri di Dalam hal ini. P1 dalam dialog 2 menggunakan ragam bahasa rendah . Aongko ndinginAo, padahal P1 dalam dialog 2 (Lupi. mestinya menggunakan ragam bahasa tinggi . rama inggi. Aomangke riyenAo. Tuturan dalam dialog wayang santri memunculkan masalah lagi, yaitu: dengan menghindar dari unggah-ungguh bahasa, apakah partisipan yang terlibat dalam dialog menabrak batas-batas kesantunan Untuk menjawab pertanyaan masalah di atas, dipandang penting mengukur menggunakan skala kesantunan yang ditawarkan Robin Lokof, yaitu: skala formalitas, skala pilihan, dan skala 26 Dimaksudkan dengan skala formalitas adalah partisipan saling mempertahankan jarak yang sewajarnya dan sealamiah mungkin, sementara skala pilihan adalah partisipan diberi pilihanpilihan tuturan tanpa harus diliputi ketegangan dan kekakuan tuturan. Sedangkan skala kesekawanan adalah partisipan mesti ramah dan menjaga Berdasarkan skala kesantunan Robin Lokof, dapat dinyatakan bahwa tuturan dalam dialog wayang santri telah memenuhi persyaratan untuk tercapainya Tanjung Wantorojati. AuPenggunaan Kata Sapaan Dalam Bahasa Jawa Banyumasan Di Kebupaten CilacapAy (Skripsi. Universitas Jember, 2. , 84, http://repository. id/bitstream/handle/1234 56789/71146/090110201037Tunjung Wantor ojati sudh. pdf?sequence=1&isAllowed=y. Chaer. Kesantunan Berbahasa, 63Ae64. Warga Desa: . Kula mriki ajeng ngaturi perisa berita lelayu, saking keluargi Pak Tono bilih garwane nembe mawon tilar . Inyong pan ngehi weruh berita kepaten kadi keluargane Pak Tono ning bojone tembe bae . Saya memberitahu berita duka dari keluarga Pak Tono bahwa istrinya baru saja meninggal dunia Pak Kayim: Nggih. innalillahi wa inna ilaihi rojiun Ya. innalillahi wa inna ilaihi roji Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. Memang benar bahwa dalam dialog wayang santri terdapat ragam bahasa rendah . Aongko ndinginAo yang secara sosiologi bahasa tidak berkomunikasi dengan mitra tutur yang secara sosial lebih tinggi tingkatannya. Akan tetapi, tuturan itu tetap masih menjaga persahabatan dan disampaikan secara alamiah, sehingga tidak menabrak kesantunan berbahasa. Lebih dari itu, tuturan itu disampaikan dalam suasana Humor yang menggunakan ungahungguh bahasa justru akan kehilangan daya tarik humor. Lebih dari itu, humor tidak menciptakan suasana pecah dan tawa renyah-meriah. Dialog 3 (Lampiran . tentang curahan perasaan ayam dan sapi dapat dianalisis sebagai berikut: Latar tempat: Halaman rumah pemilik Latar waktu : Siang hari Partisipan : P1 . dan P2 . Tujuan : Penyampaian informasi tentang isi hati yang selalu diperlakukan tidak adil oleh orang lain Peristiwa : Perasaan Ragam bahasa : Akrab Perangkat tuturan : Lisan Aturan tuturan : dialek Jawa Ngapak Jenis tuturan : Dialog Pitik AoayamAo Kata pitik AoayamAo merupakan simbol dalam masyarakat Jawa. Hewan ini adalah ayam yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat itu. Hewan ini hidup sangat dekat dengan manusia. Karena banyak memberi manfaat, mulai dari daging, dan Ujaran lisan ayam dan sapi merupakan sindirian kepada manusia yang berperilaku hanya mengambil untung dari orang lain tapi tidak pernah membalas budi kebaikan orang lain. Kisah di atas menunjukkan bahwa teks cerita merupakan cerita fable. Dalam kisahan itu ada empat aspek yang membangun cerita yaitu: . orientasi, yaitu: bagian yang menunjukkan awal kejadian cerita atau latar belakang bagaimana peristiwa terjadi, berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya . komplikasi, yaitu: peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan . resolusi merujuk kepada solusi dari berbagai konflik yang dialami tokoh. koda, yakni: perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang dapat dipetik dari cerita. Teks tersebut dikatakan sebagai fable karena terdapat ciri-ciri umum dan karakteristik fabel Menggunakan tokoh hewan dalam penceritaannya . api dan aya. Hewan yang sebagai tokoh utama dapat bertingkah seperti manusia . erbicara, berfiki. Menunjukkan moral/unsur moral dan karakter kehidupan di dalam ceritanya. Penceritaan yang pendek. Menggunakan pilihan kata yang Dalam cerita fabel, paling baik yang diceritakan adalah antara karakter manusia yang lemah dan kuat Menggunakan latar alam. Setiap orang memerlukan pengala-man terhadap pengetahuan tentang apa yang disebut perbuatan benar dan salah. Keputusan untuk membuat penilaian tentang benar dan salah merupakan salah satu bagian dari moral judgement . ertimbangan mora. Menurut Sarbaini moral judgement merupakan manifestasi keputusan tentang sesuatu, baik yang Sarbaini. Model Pembelajaran Berbasis Kognitif Moral Dari Teori Ke Aplikasi (Yogyakarta: Aswaja Presindo, 2. Abdullah. Bahasa Ngapak sebagai Sarana Kontruksi Budaya Jawa berkaitan dengan berbagai dilema moral antara hal yang harus menjadi kenyataan, maupun yang berhubungan pula dengan pihak lain misalnya diri sendiri. Menurut Dananjaja, sebagaima dikutip Nugraha29, dongeng binatang adalah dongeng yang tokoh-tokohnya adalah binatang peliharaan dan binatang liar yang dapat berbicara dan dapat berperilaku seperti manusia. Dongeng binatang sering di sebut juga dongeng fabel. Secara spesifik, fabel adalah dongeng binatang yang mengandung pelajaran moral yakni ajaran baik atau buruknya suatu Fabel adalah sejenis dongeng yang dibawakan dengan teknik komunikasi tersebut akan lebih menarik perhatian bukan saja anak tetapi juga orang dewasa. Fakhrudin . menjelas-kan teknikteknik mendongeng sebagai berikut: . gerak-gerik pendongeng, baik mimik ataupun pantomimik, dipangung atau kelas untuk mengekspresikan atmosfer dongeng dan watak bermain. gesture dan business. Yang dimaksud gesture hakikatnya gerak . tangan yang bekecil-kecil yang dimaksudkan untuk memperkuat akting dalam rangka mengekspresikan watak atau keadaan emosi tertentu. Business merupakan gerak pendo-ngeng yang dilakukan untuk memperkuat adegan dan Misalnya, untuk menggambarkan kegelisihan pendongeng berjalan mondarmandir. ekspresi wajah untuk ekspresi wajah yang penting adalah mata. Untuk menunjukkan berbagai ekspresi emosi matalah yang sangat dominan. Orang marah, gembira atau binggung dan sebagainya dapat ditunjukkan melalui pandangan pendongeng. posisi dan gerak kaki. Kaki mempunyai posisi memperkuat watak dan emosi pendongeng. Dengan posisi tegak lurus misalnya, mungkin sedang mengekspresikan ketegasan sikap ketika menghadapi masalah. Gerak kaki bermacam-macam. Namun, yang perlu diingat ialah kesesuaian dengan watak dan kondisi emosi yang diperankannya. Gerak kaki dalam keadaan normal yang lazim ialah melangkah maju. Namun dalam keadaan terdesak, takut, atau terkejut kaki dapat digerakkan mundur. Sanchez dkk, sebagaimana dikutip Nugraha,30 kekuatan utama strategi dongeng fable adalah menghubungkan rangsangan melalui penggambaran karakter. Dongeng memiliki potensi untuk memperkuat meningkatkan empati dan pemahaman, memperkuat nilai dan etika, dan kritis/kreatif. Hidayat juga menjelaskan bahwa dongeng yang mengandung sisi imajinatif yang tinggi dapat membantu seseorang menelaah peristiwa sesuai dengan batasan imajinasinya. 31 Cerita fable Ngapak ini sesungguhnya ingin mengatakan bahwa bahasa Ngapak sama bahasa-bahasa mengkonstruksi budaya masyarakat Jawa dari beberapa nilai-nilai sebagai berikut: memanusiakan individu, . mengenal hal yang benar atau yang salah, . mengenal diri sendiri atau orang lain, . gerak-gerik perilaku, . bisnis, . ekspresi wajah, . emosi, . watak, . etika, dan . Aspek-aspek tersebut di atas hanya dapat dipahami dan tergambarkan melalui bahasa yang dipakai oleh suatu masyarakat bahasa. Hewan sapi dan pitik yang tergambar dalam cerita itu Sarbaini. Chynthia Ratna Nugraha. AuKeefektifan Penerapan Teknik Bercerita Berpasangan Dalam Pembelajaran Apresiasi Dongeng Yang DiperdengarkanAy (UPI Bandung, 2. , http://repository. edu/10729/. Nugraha. Arif Hidayat. AuPengaruh Dongeng Dalam Masa Kanak-Kanak Terhadap Perkembangan Seseorang,Ay YIN YANG Volume 4. Nomor 2, no. Jurnal Studi Gender & Aanak . : 335Ae44. Buletin Al-Turas Vol. 25 No. 2 November 2019, hal. menunjukkan bahwa masyarakat Ngapak sangat dekat dengan hewan sapi dan ayam, telur dalam kehidupanya seharihari. Hewan itu dipelihara, dimakan, dijadikan bahan bisnis, kebutuhan ekonomis, peternakan, dan sebagainya. Kesimpulan Berdasarkan analisis terhadap dialog 1, 2, dan 3 di atas, paling tidak ada 3 . catatan penting. Pertama, ditemukan adanya konstruksi logika yang dibangun dalam akhir tuturan. Logika dibangun dan disampaikan dalam rangka menemukan hal yang benar dan tidak benar. Hal ini direpresentikan dalam tuturan data 1: Aukucingku mati udu meri deterjeneAy . ucing itu mati bukan karena sabu. dan Autak peresAy . aya peres di. Kedua, pemaha-man konservative terhadap ajaran agama, dan pemahaman ini terlembagakan dalam fiqh Dalam hal ini, anjuran menyeru orang melaksanakan salat dikatagorikan sunah, yaitu: kegiatan, perbuatan, dan ucapan serta sikap yang apabila dikerjakan akan mendapat punisment pahala dan apabila ditinggalkan, tidak berimplikasi apa-apa. Ketiga, ditemu-kan Keluhan ketidakadilan diletupkan oleh tokoh AopitikAo . dan AosapiAo . melaui tuturan P1 dalam dialog 3: AuRika ora ngerti si ya. nyong jan nemby mangan beras setithik ning pedhangan by wis digusah2, diusir-usir lan dipathak kambi Padahal menungsa kuwe enggal dina mangan endog lan mangan daging Kaya kiyy mbok jenengy ora adilAy dan P2 dalam dialog 3: AuEnggal dina susuny inyong de mek-mek, de elus-elus, de penjet2. , nanging apa kuwy sing jenengy menungsa gemblung ora nduwy peri kekywananAy. Misi yang hendak disampaikan dalam cerita fabel di atas adalah adanya sikap tepo seliro, bisa merasakan apa dirasakan oleh orang lain . dan menghargai sesama dalam menjalani hidup dan kehidupan. Dengan mengedepankan 3 catatan di atas, yang hendak ditegaskan dalam tulisan ini adalah nilai-nilai budaya, yaitu budaya sehat, ajaran agama, dan budaya berbagi terhadap sesama ditemukan dalam humor bahasa Jawa Ngapak itu. Budayabudaya itu dikonstruksi melalui bahasa humor yang dilakukan masyarakat Jawa Ngapak. Selain itu, budaya yang dikonstruksi melalui bahasa Jawa Ngapak dalam suasana humor menampilkan realitas masyarakat penutur Ngapak. Sebagai catatan pamungkas peneliti hendak menegaskan bahwa bahasa, baik berupa bahasa lisan maupun bahasa tulis, dapat menjadi semacam jendela untuk melihat nilai-nilai budaya. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dapat menjadi ciri khas suatu bangsa. Kebudayaan masyarakat Jawa dapat terlihat melalui penggunaan bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat dapat dikonstruksi dengan mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan. Daftar Pustaka