Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat Terhadap Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan Tahun 2022 Hengki Sirait1. Novita Indenada Br. Tarigan2. Leny Kreativitas Zebua3. Siti Basyariah Situmorang4. Alpiani5. Karmila Br. Kaban*6 1,2,3,4,5,6 Universitas Prima Indonesia Email : hengkisirait@gmail. com1, novitaindenadandetigan@gmail. lenyzebua@gmail. com3, sitibasyariahsitumorang@gmail. com4, alpiani@gmail. karmilabrkaban@gmail. Abstrak Kepatuhan terhadap pengobatan adalah faktor yang sangat penting untuk mencapai tingkat keberhasilan, oleh karena itu mengukur tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sampai di mana keberhasilan pengobatan telah dilakukan oleh pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan tahun 2022. Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh nilai P<0,017 artinya ada hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan tahun 2022. Kesimpulan penelitian adalah ada hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan Tahun 2022. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai data atau informasi untuk membuat seminar atau penyuluhan tentang Kata kunci: Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Pasien Hipertensi. The Relationship between Adherence to Medication Consumption Behavior and Hypertension Patients at the Bina Kasih Hospital in Medan in 2022 Abstract Adherence to treatment is a very important factor for achieving a level of success, therefore measuring the level of adherence in taking medication is very necessary to determine to what extent the success of treatment has been carried out by patients. The purpose of this study was to find out whether there is a behavioral relationship with adherence to taking medication for hypertensive patients at Bina Kasih Hospital Medan in 2022. Based on the results of the chi-square test, a P value <0. 017 is obtained, meaning that there is a behavioral relationship with adherence to taking medication for hypertensive patients at home. Bina Kasih Hospital Medan in 2022. The conclusion of the study is that there is a relationship between behavior and adherence to taking medication for hypertensive patients at Bina Kasih Hospital Medan in 2022. This research is expected to provide information about the relationship between behavior and adherence to taking medication for hypertensive patients at Bina Kasih Hospital || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Medan. The results of this study can also be used as data or information to make seminars or counseling about hypertension. Keywords: Medication Compliance. Hypertension Patients. PENDAHULUAN Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat secara kronis. Hipertensi terjadi ketika jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi dalam tubuh. Hipertensi dapat mengganggu fungsi organ lain, terutama organ vital seperti jantung dan ginjal. Kriteria hipertensi adalah hasil pengukuran tekanan darah sistolik Ou140 mmHg atau tekanan darah diastolik Ou90 mmHg(Paramita, et. , 2. Jika tekanan darah tidak dikontrol dengan baik, risiko penyakit ini semakin meningkat. hipertensi sering disebut sebagai "silent killer". Silent killer ini diibaratkan sebagai bom waktu yang awalnya tidak menunjukkan gejala apapun. Akibatnya, orang yang mengidapnya tidak menganggapnya serius karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kerusakan organ yang lebih luas (Sefa, 2. Indonesia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan karena angka prevalensinya cukup tinggi, kasus hipertensi menempati urutan ke 3 dari pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia dengan jumlah 697 orang atau 2,93% (Manurung, et. , 2. Menurut World Health OrganizationAos (WHO) hipertensi atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis yang secara signifikan meningkatkan risiko jantung, otak, ginjal dan penyakit lain. Jumlah orang dewasa berusia 30Ae79 tahun dengan hipertensi diperkirakan meningkat dua kali lipat dari sekitar 650 juta hingga 1,28 miliar antara tahun 1990 dan 2019 (Goals, 2. Menurut American Heart Association (AHA), 74,5 juta orang di atas usia 20 tahun di Amerika Serikat menderita hipertensi, tetapi hampir 90-95 persen kasus tidak diketahui penyebabnya (Aeni, 2. Berdasarkan Riskesdas . menjelaskan bahwa 9,4% orang berusia di atas 18 tahun dengan hipertensi didiagnosis oleh tenaga kesehatan, dan 9,5% sedang menjalani pengobatan hipertensi. sehingga 1% dari populasi sedang menjalani pengobatan hipertensi meskipun tidak pernah didiagnosis oleh para profesional medis. Kalimantan Selatan memiliki prevalensi hipertensi tertinggi sebesar 44,13 persen, diikuti oleh Jawa Barat sebesar 39,60 persen. Kalimantan Timur sebesar 39,30 persen, dan Kalimantan Barat sebesar 29,4 persen, menurut pengukuran yang dilakukan pada penduduk Indonesia yang berusia di atas 18 tahun. Prevalensi hipertensi pada Bali adalah 29,97%, menurut pengukuran yang diambil dari orang yang berusia di atas 18 tahun. Pengobatan hipertensi dipengaruhi oleh kepatuhan penderita mengkonsumsi obat darah tinggi dan melakukan modifikasi gaya hidup. Kepatuhan penderita sangat diperlukan agara didapatkan kualitas hidup penderita yang lebih baik (Made, et. , 2. Kepatuhan terhadap pengobatan adalah faktor yang sangat penting untuk mencapai tingkat keberhasilan, oleh karena itu mengukur tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi obat sangat perlu dilakukan untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan pengobatan telah dilakukan oleh pasien (Rahmadanu & Sari, 2. Kepatuhan dalam menjalani proses pengobatan hipertensi akan mempengaruhi tekanan darah dan mencegah terjadinya komplikasi (Liberty, 2. || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Pada penderita hipertensi perilaku pengobatan hipertensi dari diri sendiri dan keluarga sangat penting untuk menjaga dan mengontrol agar tekanan darah tidak meningkat dan dapat Kembali normal. Penderita hipertensi yang tidak memiliki perilaku yang baik dalam melakukan perawatan terhadap tekanan darah akan sangat sulit mengontrol tekanan dengan baik (Wahyudi, 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penderita hipertensi dalam mengkonsumsi obat hipertensi adalah karena kesibukan, kurangnya pengetahuan dan pekerjaan dari penderita. Ketiga faktor ini sering sekali menjadi alasan penderita untuk tidak melakukan pengobatan sampai tuntas sehingga hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kontrol terhadap naiknya tekanan darah (Idu, 2. Penelitian Sari, . menjelaskan bahwa kepatuhan penderita hipertensi selalu datang ke Puskesmas mengambil obat hipertensi dan selau mengkonsumsi obat sesuai dengan jadwal makan obat hipertensi dengan baik serta melakukan pengecekan tekanan darahnya ke setiap minggunya. Penelitian Nurhanani . , mengatakan perilaku yang kurang dari penderita hipertensi dalam mengkonsumsi obat hipertensi mengakibatkan dampak yang buruk bagi penderitanya. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Bina Kasih Medana terhadap penderita hipertensi ditemukan data bahwa mayorita penderita hipertensi masih kurang patuh dalam mengkonsumsi obat hipertensi. Peneliti juga menemukan perilaku negatif dari penderita seperti merokok, mengkonsumsi daging-dagingan, kurang berolahraga, kurang mengkonsumsi sayur-sayuran dan kurang mau melakukan pengecekan terhadap tekanan darahnya secara teratur. Peneliti juga melakukan tanya jawab terhadap 5 pendeita hipertensi yang sedang dirawat inap di Rumah Sakit Bina Kasih Medan. Peneliti menanyakan apa penyebab penderita hipertensi berulang masuk rumah sakit dan apa penyebab tidak ketidakmampuan dalam mengontrol tekanan darahnya. Pasien mengatakan bahwa tekanan darah atau penyakit hipertensi itu adalah penyakit yang tidak bisa sembuh sehingga tidak perlu untuk terlalu menakuti penyakit ini. Hal inilah yang mengakibatkan penderita hipertensi menjadi kurang patuh dalam mengkonsumsi obat hipertensi. METODE Penelitian ini termasuk jenis penelitian observasional analitik dengan desain studi Lokasi penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bina Kasih Medan, bulan Agustus 2022 selama 2 minggu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menderita penyakit hipertensi dan sedang dirawat. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling maka jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 40 Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder yang diperoleh secara langsung maupun dari data instansi setempat sehingga teknik pengumpulan data ini yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu lembaran observasi. Data yang telah diolah dan disajikan, selanjutnya dianalisa secara analisi univariat dan Analisa bivariat menggunakan uji chi-squar. || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien Hipertensi Karakteristik Persentase (%) Umur Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Agama Islam Kristen Total Pendidikan SMP SMA Perguruan Tinggi Total Berdasarkan tabel . di atas, dapat dilihat data distribusi frekuensi responden berdasarkan usia mayoritas responden berada rentang usia 51-60 tahun sebanyak 12 orang . %), dan minoritas responden berada pada rentang 61-70 tahun sebanyak 3 responden . 5%). Berdasarkan pendidikan mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 28 orang . %), dan minoritas responden berpendidikan SD sebanyak 2 orang . %). Berdasarkan agama responden mayoritas berada Islam sebanyak 22 orang . %), dan minoritas responden beragama Kristen sebanyak 18 orang . %). Berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 21 orang . %), dan minoritas responden berjenis kelamin perempuan tidak sebanyak 19 orang . %). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perilaku Pasien Hipertensi Terhadap Mengonsumsi Obat Perilaku pasienkhipertensi Baikk KurangkBaik Total || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Tabel . di atas menjelaskan bahwa frekuensi responden tentang perilaku pasien hipertensi terhadap mengonsumsi obat mayoritas responden berada pada kategori kurang baik sebanyak 31 orang . 5%) dan minoritas responden berada pada kategori baik sebanyak 9 orang . 5%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Pasien Hipertensi Terhadap Mengonsumsi Obat Kepatuhan pasien hipertensi Patuh Kurang Patuh Total Tabel . di atas, menjelaskan bahwa frekuensi responden tentang kepatuhan pasien hipertensi terhadap mengkonsumsi obatmayoritas responden berada pada kategori kurang patuh sebanyak 32 orang . %) dan minoritas responden berada pada kategori patuh sebanyak 8 orang . %) Tabel 4. Hubungan Perilaku dengan Kepatuhan Mengonsumsi Obat Terhadap Pasien Hipertensi Kepatuhan Total Perilaku Patuh Kurang Patuh Baik Kurang Baik Nilai p 0,017 Tabel . di atas menjelaskan tentang tabel silang hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan. Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh nilai P<0,017 artinya ada hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan Tahun 2022. Perilaku Pasien Hipertensi Terhadap Mengonsumsi Obat Hasil penelitian menjelaskan bahwa perilaku pasien hipertensi terhadap mengonsumsi obat mayoritas berada pada kategori kurang baik sebanyak 31 orang dan minoritas responden berada pada kategori baik sebanyak 9 orang. Perilaku merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melalukan respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia baik yang diamati maupun tidak dapat diamati oleh interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan. Perilaku secara lebih rasional dapat diartikan sebagai respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subyek tersebut (Safran, et. , 2. Respon ini terbentuk dua macam yakni bentuk pasif dan bentuk aktif di mana bentuk pasif adalah respon internal, yaitu yang terjadi dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety dilihat dari orang lain sedangkan bentuk aktif, yaitu apabila perilaku itu dapat diobservasi secara langsung (Adventus, et. , 2. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Haldi, et. menjelaskan bahwa adanya hubungan antara penegtahuan dan sikap pasien hipertensi terhadap kepatuhan dalam menggunakan obat pasien yang patuh berjumlah 74% dan tidak patuh sebanyak 26%. Hasil uji chi square antara pengetahuan terhadap kepatuhan menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kelompok pengetahuan terhadap kepatuhan minum obat . value = 0,. Begitu pula dengan kelompok pada sikap terhadap kepatuhan, memberikan hasil berbeda bermakna . -value = 0,. Uji regresi logistik pada pengetahuan dan sikap diuji secara bersamaan terhadap kepatuhan dan didapatkan masing-masing nilai p-value 0,026 (OR = 1,. dan 0,005 (OR = 5,. Asumsi peneliti terhadap hasil penelitian adalah perilaku merupakan hal yang sangat penting dalam kesembuhan pasien hipertensi. Perilaku yang baik akan sangat dibutuhkan oleh setiap pasien yang sedang menjalani terapi pengobatan hipertensi. Tenaga medis juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang baik kepada pasien tentang pengobatan hipertensi, karena jika pasien memeiliki pengetahuan yang baik akan penyakitnya kemungkinan pasien akan memiliki perilaku yang baik pula. Kepatuhan Pasien Hipertensi Terhadap Mengkonsumsi Obat di RS Bina Kasih Medan Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwa kepatuhan pasien hipertensi terhadap mengkonsumsi obat mayoritas berada pada kategori kurang patuh sebanyak 32 orang dan minoritas responden berada pada kategori patuh sebanyak 8 orang. Patuh adalah menuruti perintah, taat pada perintah atau aturan sedangkan kepatuhan adalah perilaku sesuai aturan dan berdisiplin. Seseorang dikatakan patuh berobat bila mau datang ke petugas kesehatan yang telah ditentukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan serta mau melaksanakan apa yang dianjurkan oleh petugas (Made, et. , 2. Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dalam dan perilaku yang disarankan. Pengertian dari kepatuhan adalah menuruti suatu perintah atau suatu aturan. Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan perawatan, pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh perawat, dokter atau tenaga kesehatan Kepatuhan dalam minum obat merupakan syarat utama untuk tercapainya keberhasilan pengobatan yang dilakukan (Fauziah, et. , 2. Penelitian yang sama juga telah dilakukan Rahayu et al. , . menjelaskan bahwa hasil persentase tingkat kepatuhan yaitu kepatuhan rendah 8%, kepatuhan sedang 63%, dan kepatuhan tinggi 28%. Berdasarkan analisis Korelasi Pearson Product Moment antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat didapatkan p value = 0,000 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pasien Asumsi peneliti terhadap hal ini adalah kepatuhan pasien akan meningkat apabila dia memiliki pengetahuan tentang apa yang akan dijalaninya dengan baik. Pengetahuan sejalan dengan kepatuhan, tidak aka nada kepatuhan tampa pengetahuan yang baik tetntang sesuatu hal. Kepatuhan pasien juga akan muncul ketika pasien mengetahui dampak dari kepatuhan yang sedang dijalankannya. || Hengki Sirait, et. || Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 776-783 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Hubungan Perilaku Kepatuhan Mengonsumsi Obat Terhadap Pasien Hipertensi Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwa tabel silang hubungan perilaku kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi. Berdasarkan hasil uji chi-square diperoleh nilai P<0,017 artinya ada hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan Tahun 2022. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan Fauziah et al. , . menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan minum obat anti hipertensi, dengan nilai OR=3,781 . % CI : 1,503-9,. yang artinya seseorang dengan pengetahuan kurang mempunyai risiko 1,503 kali untuk tidak patuh minum obat anti hipertensi dibanding seseorang yang pengetahuannya baik. Asumsi peneliti terhadap hasil penelitian adalah ketika pasien hipertensi memiliki pengetahuan yang baik maka akan mengikuti pulalah perilaku yang baik tentang sesuatu hal yang sedang dikerjakan. Ketika pasien hipertensi memiliki perilaku yang baik maka tingkat kepatuhan pasien hipertensi juga kemungkinan akan meningkat. Tenaga Kesehatan juga perlu meningkatkan intensitas penyuluhan tentang pengobatan hipertensi SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, diperoleh hasil uji chi-square dengan nilai P<0,017 artinya ada hubungan perilaku kepatuhan mengonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan tahun 2022. Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan Tahun 2022. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan perilaku dengan kepatuhan mengkonsumsi obat terhadap pasien hipertensi di Rumah Sakit Bina Kasih Medan. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai data atau informasi untuk membuat seminar atau penyuluhan tentang hipertensi. DAFTAR PUSTAKA