Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK http://ejurnal. iaipd-nganjuk. MAKNA TRADISI WEH-WEHAN PADA BULAN RAMADHAN DALAM PRESPEKTIF SOSIOLOGIS Riyadus Sholichin Institut Agama Islam Negeri Kediri E-mail: dudusriyadus@gmail. M Thoriqul Huda Institut Agama Islam Negeri Kediri E-mail: huda@iainkediri. Info Artikel Submit : 20 Agustus 2025 Revisi : 4 September 2025 Diterima : 11 September 2025 Publis : 22 Oktober 2025 Keywords Abstract Tradition is a culture passed down from generation to generation by ancestors. One of the traditions studied in this paper is the weh-wehan tradition in Wonosalam Village. This tradition applies cultural acculturation to Islamic values. This research uses qualitative methods, while the techniques for collecting data are interviews and field observations. With the interview technique, we took sources from religious leaders and village elders. In this study, it was found that the weh-wehan tradition has its own meaning for its practitioners. Historically, this tradition began when KH. Asy'ari (Kyai Gur. from the Islamic Mataram kingdom spread Islam in Kaliwungu District by celebrating the Prophet's birthday by giving food to relatives or neighbors. This then gave rise to the term weh-wehan. Socially, the weh-wehan tradition in Wonosalam Village is carried out by giving food to nonMuslims as well. They do this to maintain harmony between religious communities in the village without any Through this weh-wehan tradition, the people of Wonosalam Village have become harmonious and Weh-wehan. Religion. Religious Harmony Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 193 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan ragam budaya. Berbagai tradisi budaya menyebar di seluruh wilayah pulau-pulau yang ada di seluruh Indonesia. Berdasarkan data sensus BPS tahun 2020 tercatat ada sekitar 1. 340 suku bangsa atau etnis di Indonesia. 1 Dalam hal ini etnis diartikan sebagai kelompok manusia yang disatukan oleh suatu kesadaran atas kesamaan sebuah cultur dari kesamaan ras, agama, asal-usul daerah maupun bangsa. Setiap etnis menunjukkan keunikan dan ciri khas dari budayanya sendiri, hal ini menjadikan budaya di Indonesia menjadikan tingkat keragaman yang tinggi. Identitas budaya dijelaskan melalui tingkah laku , nilai, gaya, interaksi serta budaya yeng bersifat material. Terdapat dimensi dari simbol etnis adalah identifikasi yang memiliki pengertian keinginan untuk merasa memiliki terhadap suatu kelompok, sebuah pengenalan, dan keterikatan dengan simbol budaya dan penanda bahasa. Keragaman ini perlu dijaga karena menyangkut kekayaan bangsa. Dari berbagai macam perbedaan ini, membuat Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dalam memahami perbedaan. Hal ini membuat Indonesia diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan semboyan AuBhinneka Tunggal IkaAy yang mengandung makna berbeda-beda tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Penjelasan tersebut merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi bangsa Indonesia yang bersatu dalam suatu kekuatan kerukunan beragama, berbangsa, dan bernegara. Keragaman tersebut menggambarkan bahwa kesadaran pada dasarnya dipersatukan oleh kesadaran masyarakat multikultural. Jadi pada dasarnya keberadaan tradisi dan budaya sangatlah penting, karena kebudayaan akan menunjang proses mengenal suatu eksistensi suatu masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak akan pernah hadir dengan sendirinya, melainkan ada karena adanya manusia dalam komunitas sosial yang membuat manusia dengan budaya akan saling mendukung. 4 Dari berbagai ragam aspek keragaman tersebut, salah satu kajian menarik mengenai perbedaan ini adalah tradisi. Tradisi merupakan budaya yang sudah turun-temurun dari para leluhur, yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat di daerah tertentu. 5 Hal ini terjadi karena ritual tersebut diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Selain itu tradisi juga dapat 1 Aqiila Fathurroja, dkk. AuGambaran Identitas Etnis Remaja Suku Jawa dan Sunda,Ay Jurnal Psikologi Islam dan Budaya. Vol. No. 2, 2018, 107. 2 Adeline Becker. AuThe Role of the School in the Maintenance and Change of Ethnic Group AffiliationAy dalam Aqiila Fathurroja, dkk. Gambaran Identitas Etnis Remaja Suku Jawa dan Sunda. Jurnal Psikologi Islam dan Budaya. Vol. No. 2, 2018, 107. 3 Ghina Lestari. AuBhinneka Tunggal Ika: Khasanah Multikultural Indonesia di Tengah Kehidupan SARA,Ay Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Vol. 8 No. 1, 2015, 31. 4 Deden Sumpena. AuIslam dan Budaya Lokal: Kajian terhadap Interelasi Islam dan Budaya Sunda,Ay Jurnal Ilmu Dakwah. Vol. 6 No. 19, 2012, 105. 5 Rhoni Rodin. AuTradisi Tahlilan dan Yasinan,Ay Jurnal Kajian Islam dan Budaya. Vol. No. 1, 2013, 77. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 194 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 diartikan dengan adat-istiadat masyarakat setempat. Dimana berbagai macam tradisi banyak dilakukan pada masyarakat pedesaan. Hal ini terjadi karena kepercayaan yang dianut oleh para penduduk desa sangat kental. Tradisi tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat lokal yang sudah lekat dengan pemahaman tradisi tersebut. Dalam sebuah tradisi dilaksanakan secara berulang-ulang yang ditujukan untuk menjaga kelestariannya. Tradisi tercipta oleh sebuah alasan tertentu. Keberadaan tradisi memiliki kepercayaan yang kuat di lingkungan masyarakat. Dimana hal ini dilakukan untuk kebaikan dalam suatu Tradisi berkembang seiring dengan mengalirnya waktu, namun juga bisa diubah atau ditransformasikan sesuai dengan kehendak pihak yang berkompeten atasnya. 6 Banyak tradisi yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena seiring dengan kemajuan zaman. Dalam tradisi yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan istilah kebudayaan. Di berbagai daerah tentunya memiliki tradisinya masing-masing. Dalam tradisi di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Salah satu tradisi yang ada di desa Wonosalam Kabupaten Jombang adalah tradisi weh-wehan atau biasa kita sebut dengan memberi. Weh-wehan dilakukan dengan mengirimkan makanan berupa nasi dengan lauk pauk kepada kerabat, tetangga, maupun pihak yang ingin diundang. Tidak hanya makanan berat yang diberikan kepada kerabat maupun tetangga, terkadang weh-wehan juga dilengkapi dengan pernak-pernik makanan lainnya. 7 Seperti apem, ketan, jajanan pasar, buah dan lain sebagainya. Pernak-pernik makanan ini memiliki makna tersendiri. Dimana setiap masyarakat saling mengantar weh-wehan satu sama lain. Weh-wehan di Desa Wonosalam dilakukan setiap malam ke 21 di bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Allah yang sudah memberikan nikmat berpuasa sehari penuh kepada umat muslim. Weh-wehan di Desa Wonosalam dilakukan sebelum menjelang adzan maghrib atau menjelang sore ketika hendak berbuka puasa. Tradisi weh-wehan dilakukan dengan mengantar makanan ke rumah kerabat atau tetangga. Orang yang mengantarkan weh-weh adalah orang yang lebih muda, khususnya anak kecil kepada orang yang lebih tua. Hal ini memiliki makna dan melatih anak sejak dini untuk bersodaqoh sejak dini. 8 Walaupun hanya sekedar mengantar makanan, kelak anak akan terbiasa untuk melakukan hal tersebut. Sehingga rasa ingin memberi/shodaqoh dapat ditanamkan Selain itu tradisi weh-weh juga menananmkan rasa sosial terhadap masyarakat. Dengan demikian anak akan terbiasa dengan tradisi weh-wehan. Hal ini 6 Ahmad Muhakamurrohman. AuPesantren: Santri. Kiai, dan Tradisi,Ay Jurnal Kebudayaan Islam. Vol. No. 2014, 115. 7 Muhammad Islahudin, et. AuTradisi Weh-wehan Masyarakat Kaliwungu Kendal dalam Perspektif Perdamaian,Ay Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Vol. 18 No. 2, 2022, 97. 8 Ibid, 70-71. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 195 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 karena interaksi sosial didapatkan ketika masyarakat bertemu langsung dengan orang yang menerima pemberian/weh-wehan tersebut. Weh-wehan berbeda dengan tradisi megengan yang dilakukan untuk menyambut bulan Dari kedua tradisi ini memiliki persamaan, namun yang membedakan hanya pada waktu dan tempat melakukannya. Makna weh-weh yang dilakukan pada malam ke 21 selain sebagai tradisi turun-temurun juga memiliki arti sebagai rasa syukur atas malam turunnya al-QurAoan . uzulul qurAoa. 9 Dalam istilah nuzulul QurAoan tidaklah kita pahami maknanya secara harafiah, sebagaimana menurunkan dari tempat tinggi ke tempat rendah, sebab al-QuAoan tidak berbentuk fisik atau Namun pengertian nuzulul QurAoan yang dimaksud adalah pengertian majazi, yaitu penyampaian informasi . kepada Nabi Muhammad SAW dari alam ghaib ke alam nyata melalui perantara malaikat Jibril. 10 Dimana peristiwa ini terjadi setiap malam ganjil di bulan Ramadhan. Selain weh-wehan kepada kerabat/tetangga, makanan yang lebih juga akan dibawa ke masjid-masjid untuk makanan bagi orang yang sedang tadarus . embaca al-QurAoa. selepas sholat Tradisi weh-wehan memiliki keunikan tersendiri. Di Desa Wonosalam tradisi weh-wehan sangat digemari oleh kalangan anak muda. Karena terkadang orang yang dermawan akan memberi uang kepada anak yang memberi weh-weh Sembari menunggu rantang/tempat makanan yang disalin oleh sang penerima, terkadang penerima menyelipkan uang kepada orang yang memberi weh-weh. Maka tidak diragukan lagi tradisi ini hingga kini sangat lestari walaupun zaman sudah berkembang. Weh-wehan yang dilakukan dengan zaman dahulu dan sekarang sangat berbeda. Jika dulu weh-wehan dilakukan dengan menggunakan rantang, maka hari ini weh-weh sudah dilakukan dengan menggunakan kotak Hal ini dilakukan karena lebih mudah untuk memberi weh-wehan kepada kerabat/tetangga. Namun esensi dari weh-wehan masih tetap sama dan terjaga hingga saat ini. KERANGKA TEORI Pengertian Tradisi Weh-wehan Weh-wehan berasal dari bahasa Jawa yaitu AuwehAy. Di dalam kamus bahasa Jawa AuwehAy berarti memberi, sedekah, memberi hadiah. AuWewehanAy berarti memberikan sedekah kepada orang lain. 11 Dalam hal ini weh-wehan dapat diartikan saling memberi kepada satu sama lain. Pada lain sisi, tradisi ini juga dikenal dengan sebutan ketuwinan yang memiliki makna 9 Muhammad Yunan. AuNuzulul QurAoan dan Asbabun Nuzul,Ay Jurnal Al-Mutsla. Vol. 2 No. 1, 2020, 45. 10 Abdul Aziz Dahlan dkk. AuEnsiklopedi Hukum Islam I. Cet. I,Ay (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1. , 11 P. J Zoetmulder dan S. O Robson. AuKamus Jawa Kuna Indonesia,Ay (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1. , 1420-1421. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 196 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menengok atau berkunjung kepada orang yang lebih tua. 12 Serta memberikan makanan untuk sekaligus shodaqoh ke tetangga/kerabat terdekat. Dalam bahasa Jawa kromo madya, ketuwinan berasal dari kata tuwi yang berarti mengunjungi. Pemilihan kata tuwi memiliki makna untuk menunjukkan kesetaraan terhadap sesama manusia tanpa meninggalkan nilai kesopanan. Sehingga makna ketuwinan ialah penerapan jika semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk dihargai dan dihormati, memberi dan diberi, maupun mengunjungi atau dikunjungi. Hal ini dapat dipahami bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk menyediakan kudapan dan minuman disetiap rumah untuk menyediakan tamu yang sedang berkunjung. Dengan semikian setiap rumah wajib untuk menyambut tamu yang datang ke rumah dengan buah tangan yang mereka bawa. Tradisi weh-wehan berawal dari KH. AsyAoari (Kyai Gur. Guru tersebut merupakan seorang ulama utusan dari kerajaan Mataram Islam untuk menyebarluaskan agama Islam di Kecamatan Kaliwungu. Masyarakat setempat pada masa itu masih mempercayai kepercayaan animisme dan dinamisme. Kyai Guru tiba di Kecamatan Kaliwungu sekitar tahun 13 Pada masa itu beriringan dengan VOC yang sedang duduk di tanah Indonesia. Dalam dakwahnya Kyai Guru menyuruh masyarakat untuk membawa makanan yang ada untuk dibagi-bagikan kepada tetangga untuk menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut kemudian menjadikan weh-wehan sebagai sebuah tradisi yang kental dan tetap dilestarikan hingga saat ini. Pendekatan Islam dan Budaya Lokal Islam merupakan agama yang universal, dimana Islam merupakan agama rahmatan lilAo alamin. Islam sendiri merupakan agama dakwah dimana setiap manusia memiliki kewajiban untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam kepada sesama pemeluknya. Maka dengan demikian aktifitas kehidupan keagamaan kaum muslimin tidak bisa terlepas oleh proses dakwah Islam itu sendiri. 14 Seperti bagaimana dakwah Walisongo dalam menyebarkan agama di nusantara. Metode dakwah yang dilakukan secara akulturasi budaya Jawa, membuat Walisongo sukses untuk membangun kebudayaan sebagai hasil akultutasi budaya Islam dan kebudayaan lokal Jawa (Hindu-Budh. 15 Walisongo datang ke nusantara dengan misi utama menyebarkan agama Islam dengan metode dan cara mereka yang unik. 12 Muhammad Islahudin. Op. Cit. , 97-98. 13 Ibid. , 97. M Quraish Shihab. AuMembumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,Ay (Bandung. Mizan, 1. , 194. 15 Suparjo. AuIslam dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Masyarakat Muslim Indonesia,Ay Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol. 2 No. 2, 2008, 178. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 197 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Seperti agama Islam pada umumnya, penyebaran Islam oleh walisongo juga tidak menggunakan kekerasan, tetapi dengan pendekatan humanis. Strategi awal walisongo adalah berusaha untuk mengenali dan memahami corak budaya dengan membaur di dalam masyarakat Jawa. Setelah mengenal masyarakat, walisongo membentuk strategi dakwah agar agama Islam dapat diterima di tengah-tengah Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam dengan mengikuti kebudayaan lokal pada waktu itu tanpa menghapusnya, melainkan memasukkan unsur-unsur Islam di Hal ini juga berfungsi agar ajaran Islam yang disampaikan oleh walisongo bisa dipahami dan diterima oleh masyarakat. Penyebaran agama Islam oleh walisongo juga menggunakan kesenian lokal yang ada, misalnya gamelan, wayang kulit dan tembangtembang yang dimasuki dengan unsur Islam. Menurut Nurul Syalafiah dan Budi Harianto, dakwah walisongo memiliki tiga metode yaitu:18 Metode Al-Hikmah . : Metode yang pertama ini merupakan kemampuan dan ketepatan seorang pendakwah dalam memilih dan memilah serta menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi jamaAoah . ebagai objek dakwa. Metode Al-MauAoizha Al-Hasanah . asihat yang bai. : Metode yang kedua adalah memberikan nasihat dengan menggunakan kata-kata yang lembut dan penuh kasih sayang sehingga dapat diterima oleh masyarakat dan mampu meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar. Metode Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan . erbnatah-bantah dengan jalan sebaik-baikny. Metode yang ketiga ini adalah dengan cara bertukar pendapat diantara dua pihak agar tidak terjadi permusuhan yang bertujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Kedua pihak juga saling menghormati dan menghargai pendapat lawan. Tradisi weh-wehan merupakan sebuah pendekatan yang mengajarkan tentang nilainilai ajaran Islam dengan tradisi Mataram Islam yang dimulai oleh KH. AsyAoari (Kyai Gur. Tradisi yang berasal dari Kecamatan Kaliwungu ini memadukan antara Islam dan budaya Jawa. Weh-wehan yang diajarkan oleh para ulama terdahulu memberikan makna positif bagi kehidupan sosial masyarakat. Hal ini karena Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk menyisihkan sebagian rizkinya untuk bershodaqoh. Dimana hal ini 16 Failasuf Fadli. AuMedia Kreatif Walisongo dalam Menyemai Sikap Toleransi Antar Umat Beragama di Jawa,Ay Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 10 No. 2, 2019, 289. 17 Hatmansyah. AuStrategi dan Metode Dakwah Walisongo,Ay Jurnal Al-Hiwar. Vol. 3 No. 5, 2015, 12-13. 18 Nurul Syalafiah dan Budi Harianto. AuWalisongo: Strategi Dakwah Islam di Nusantara,Ay Jurnal Komunikasi Islam. Vol. 1 No. 2, 2020, 172-173. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 198 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 diajarkan oleh Rasulullah saw ketika beliau menyisihkan sebagian hartanya untuk masyarakat yang tidak mampu. Hal ini kemudian diadopsi oleh budaya Jawa dan dipadukan dengan ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. Sebagaimana Rasulullah saw melarang kita untuk menahan harta yang telah kita miliki. Karena sebagian dari harta kita termasuk bagian dari hak orang lain. Untuk itu Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar menyedekahkan sebagian harta sesuai dengan kesanggupan kita. Sebagaimana Rasul bersabda: AI I I O E OO NEE INI NI OE EIO AE NEE EON OEIA AACE E OO Ao NEE EO OO I A Artinya: Dari AsmaAo binti Abu Bakar r. katanya dia datang kepada Rasulullah saw lantas beliau bersabda: AuJanganlah engkau menahan-nahan . Maka Allah akan menahanya pula Karena itu keluarlah harta menurut kesanggupanyaAy. Berawal dari sini awal mula tradisi weh-wehan berkembang hingga saat ini. Selain itu tradisi ini juga menyebar diberbagai daerah, salah satunya di Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Pendekatan Sosiologi dalam Studi Agama Secara umum sosiologi yang kita ketahui adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Sosiologi juga dapat diartikan sebagai kajian ilmu yang mempelajari hubungan masyarakat dan membahas mengenai pola hubungan interaksi yang ada di dalam masyarakat dimana dengan adanya hubungan tersebut dapat menimbulkan konflik, mobilitas sosial atau 20 Kemudian agama dapat diartikan sebagai suatu sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat. Agama juga dapat diartikan sebagai penghambaan manusia terhadap Tuhannya dan bentuk penghambaan tersebut juga mempengaruhi perbuatanperbuatan manusia. 21 Antara sosiologi dan studi agama sebenarnya juga memiliki kaitan, karena agama dipandang sebagai fenomena sosial dimana perwujudan agama menjadi sebuah implementasi kepada keyakinan, tindakan, dan hasil sebuah tindakan sosial manusia sebagai anggota masyarakat. 19 Al-Imam al-Bukhari. Terj. Zainuddin Haimidy. Fachruddin Hs, dkk. Shahih Bukhari. Jilid i. KCB (Keluarga Book Centr. , (Kuala Lumpur, 2. , 109. 20 Dewi Suminar. AuPenerapan Teknologi Sebagai Media Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Sosiologi,Ay Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP. Vol. 2 No. 1, 2019, 780. 21 Dwi Wahyuni. AuAgama Sebagai Media dan Media Sebagai Agama,Ay Jurnal Ilmu Agama. Vol. 18 No. 2017, 84. 22 Mohammad Arif dan Yuli Darwati. AuInteraksi Budaya dan Agama,Ay Jurnal Empirisma. Vol. 27 No. 2018, 59. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 199 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Di dalam agama juga diatur mengenai hubungan antar manusia dengan yang ghaib (Tuha. , hubungan antar sesama manusia dan hubungan antara manusia dengan Berkaitan dengan hal ini, yakni antara sosiologi dan agama dapat dipelajari dalam sosiologi agama. Sosiologi agama sendiri mempelajari mengenai hubungan diantara masyarakat baik kehidupan secara individu maupun secara kelompok dengan agamanya. Sosiologi agama berfokus pada kelompok atau organisasi keagamaan, perilaku individu dalam kelompok dan bagaimana agama berkaitan dengan institusi sosial yang lain. Bagaimanapun halnya mengenai agama, pasti selalu mengikutsertakan aspek sosiologinya. Hal ini karena agama memiliki kaitan dengan kepercayaan dan prakteknya adalah salah satu bentuk masalah sosial, dan dalam masyarakat pastilah ditemukan masalah sosial tersebut. Sebagai salah satu ilmu pengetahuan, kajian sosiologi mengenai agama memiliki dua karakter utama, yaitu empiris dan obyektif. 24 Secara empiris dengan kajian sosiologi ditunjukkan mengenai basis pandangan berupa data nyata di lapangan atau eksperimental dan eksperensial. Sedangkan obyektif penelitian sosiologi ditunjukkan dari fakta tanpa bias. Menurut Moh. Soehadha, sosiologi sebagai studi agama atau ilmu perbandingan agama adalah sebagai alat bantu, interkoneksi fakta agama dengan doktrin dan agama bukan hanya realitas faktual semata tetapi terkait doktrin. 25 Agama juga sebagai gejala sosial dengan berlandaskan pada konsep sosiologi yang terkait interaksi sesama pemeluk agama atau dengan pemeluk agama lain. Artinya kajian sosiologi di bidang agama tidak hanya pada kajian salah satu agama, melainkan dengan agama lain. Kajian sosiologi agama saat ini tidak hanya berfokus kepada interaksi timbal balik antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain, melainkan cenderung kepada kajian bergeser pada pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat. 26 Kajian antara sosiologi dan studi agama adalah mempelajari bagaimana sebuah agama yang mengajarkan sistem nilai mampu mempengaruhi perilaku manusia di masyarakat. Karena pada dasarnya sebuah sistem kepercayaan agama, nilai dan praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat. Ismah. AuKontribusi Pendekatan Sosiologi dalam Studi Islam,Ay Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam. Vol. 4 No. 1, 2020, 18. 24 Moh. Soehadha. AuMenuju Sosiologi Beragama: Paradigma Keilmuan dan Tantangan Kontemporer Kajian Sosiologi Agama di Indonesia,Ay Jurnal Sosiologi Agama: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama dan Perubahan Sosial. Vol. No. 1, 2021, 5. 25 Ibid. , hlm. 26 M. Arif Khoiruddin. AuPendekatan Sosiologi dalam Studi Islam,Ay Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman. Vol. 25 No. 2, 2014, 401. 27 Habib Hanafi, dkk. AuKajian Ontologis Studi Agama-Agama,Ay (Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama, 2. , 9. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 200 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 PEMBAHASAN Praktik Tradisi Weh-wehan di Desa Wonosalam Dari penjelasan mengenai pengertian weh-wehan, terdapat praktik dalam melakukan tradisi ini. Setiap tradisi tentunya memiliki keragaman dan kekhasan masingmasing. Dalam praktiknya sendiri weh-wehan di Desa Wonosalam ini dilaksanakan setiap malam ganjil di bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan karena masyarakat Islam mempercayai peristiwa nuzulul QurAoan . urunnya al-QurAoa. Masyarakat setempat percaya ketika peristiwa yang jatuh setiap malam ganjil di bulan Ramadhan ini adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dengan demikian untuk memperingati peristiwa tersebut masyarakat desa Wonosalam membagi sedikit rizkinya yang berupa makanan terhadap kerabat maupun tetangga sekitar. Dari berbagai persiapan seperti waktu untuk menghantarkan weh-wehan, pengantar weh-wehan, makanan, dan jajan pasaran. 28 Berbagai tahap untuk melakukan tradisi ini meliputi: Makanan nasi kuning atau putih Tradisi weh-wehan erat kaitannya dengan tradisi memberi sesuatu kepada orang lain. Dari berbagai pemberian dalam tradisi ini salah satu yang paling menonjol adalah Dalam makanan sendiri di buat seperti berkat yang dibagikan kepada orang Isi dari makanan ini tidak tentu mengharuskan ciri khas tersendiri. Namun hal yang paling penting terdapat makanan pembuka seperti nasi dan lauk pauk. Terutama terhadap nasi yang digunakan tidak memiliki ketentuan tersendiri, tergantung keinginan pemberi kepada penerima weh-wehan tersebut. Jajanan pasar Selain makanan tidak lengkap jika tidak ada makanan penutup. Biasanya jajanan pasar menjadi salah satu ciri khas yang identik dengan tradisi weh-wehan tersebut. Seperti jajan apem, naga sari, ketan salak dan sebagainya. Dari berbagai ragam jenis jajanan pasar ini lah yang memberikan nuansa berwarna sekaligus pelengkap dari weh-wehan itu sendiri. Namun dari weh-wehan sendiri tidak mengharuskan untuk memberikan jajan pasar, karena hal ini hanya sebagai pelengkap saja. Tidak ada ketentuan untuk mengharuskan menaruh jajan pasar beserta makanan. Waktu untuk menghantarkan weh-wehan Seperti yang kita ketahui setiap tradisi memiliki waktu untuk melaksanakan kegiatan Terdapat waktu yang tepat ketika melaksanakan weh-wehan tersebut. Masyarakat desa Wonosalam memberikan weh-wehan pada saat sore menjelang 28 Wawancara dengan SM, tanggal 30 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 201 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 Hal ini mereka lakukan karena pada waktu tersebut adalah waktu yang paling tepat karena menjelang buka puasa. Hal ini bertujuan untuk memberikan makanan bagi kerabat atau tetangga yang sedang menjalankan ibadah puasa. Penghantar weh-wehan Di Desa Wonosalam, terdapat keunikan tersendiri ketika para penghantar mulai menghantarkan makanan yang sudah disiapkan oleh keluarganya. Salah satunya anak yang lebih muda sering kali menghantarkan weh-wehan ini kepada tetangganya. Hal ini mereka lakukan karena masyarakat desa mempercayai bahwa kegiatan ini akan mendidik anak untuk saling berbagi kepada orang lain. Sejak kecil mereka di didik untuk shodaqoh kepada sesamanya. Kelak ketika mereka hendak dewasa akan menerapkan prinsip berbagi kepada orang lain. Hal ini aan menimbulkan rasa sosial yang tinggi terhadap masyarakat. Selain itu anak muda sangat suka ketika menghantarkan weh-wehan karena tidak jarang mereka mendapat upah dari orang yang mereka berikan weh-wehan. 29 Orang yang dermawan akan memberikan uang kepada anak yang sudah memberikan weh-wehan tersebut. Dengan demikian hingga kini tradisi weh-wehan sangat digemari oleh kalangan anak muda hingga saat ini. Makna Weh-wehan menurut masyarakat Desa Wonosalam Secara tradisi dan budaya setempat, tradisi weh-wehan yang ada di Desa Wonosalam ini adalah sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh para leluhur desa Wonosalam. Menurut SM selaku tokoh agama di desa tersebut mengungkapkan bahwa tradisi weh-wehan ini merupakan sedekah yang dilakukan warga sekitar untuk mempererat tali silahturahmi. Dimana tradisi weh-wehan ini termasuk ciri khas masyarakat Desa Wonosalam yang sering melakukan weh-wehan disetiap bualn Ramadhan. Menurut Sudirman tradisi ini sudah ada sejak tahun 1978. Selain itu masyarakat sebelumnya juga melakukan tradisi yang sama di desa tersebut. 30 Dalam pandangan masyarakat, tradisi ini tidak ada perubahan hingga saat ini. Hanya saja penerapan weh-wehan menjadi semakin luas hingga di berbagai desa di Kabupaten Jombang. Seperti halnya ketika terdapat anak yang baru lahir, hajatan, ngeduk lemah dan sebagainya. Penerapan tradisi weh-wehan ini menjadi luas akibat makna yang terkandung dalam tradisi ini adalah makna untuk Masyarakat desa Wonosalam menerapkan weh-wehan di bulan Ramadhan dengan penyebutan maleman. Maleman sendiri bermakna malam ganjil di bulan Ramadhan dimana pada malam ini adalah malam turunnya al-QurAoan. Maka dengan demikian sebagai 29 Wawancara dengan SPR, tanggal 29 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. 30 Wawancara dengan SM, tanggal 30 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 202 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 umat muslim patut untuk merayakan peristiwa tersebut. 31 Selain itu weh-wehan menurut SPR selaku sesepuh desa Wonosalam adalah bentuk rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat berpuasa selama bulan Ramadhan. 32 Dari sudut pandang sebuah agama, masyarakat desa Wonosalam menerapkan weh-wehan tidak hanya dilakukan sesama muslim saja. Terdapat berbagai agama yang ada di desa tersebut. Seperti agama Hindu dan Kristen yang hidup berdampingan di desa tersebut juga menerima weh-wehan dari masyarakat muslim. Hal ini mereka lakukan karena secara sosial hal tersebut perlu untuk dilakukan karena menyangkut rasa sosial walaupun berbeda dari aspek iman. Hal ini yang menjadi tradisi weh-wehan menjadi budaya yang dijaga dan dilestarikan masyarakat desa Wonosalam. Tradisi Weh-Wehan dalam Prespektif Sosiologis Dalam berbagai aspek sosial, pendekatan sosiologis adalah bentuk pendekatan yang digunakan untuk memahami agama. Hal tersebut dapat mempermudah bidang kajian agama dalam memahami secara tepat apabila ilmu sosiologi digunakan. 33 Hal ini dapat kita dapati ketika tradisi weh-wehan ini dilakukan di Desa Wonosalam. SM salah satu tokoh agama di desa ini menjelaskan bahwa tradisi ini dilakukan tidak hanya kepada umat muslim saja, namun weh-wehan juga diberikan kepada umat selain muslim di desa tersebut. Seperti halnya umat Hindu dan Kristen yang tinggal bersama masyarakat di desa Wonosalam. Selain itu makna weh-wehan dalam perspektif sosiologis disini dilakukan dengan agama non muslim agar menjadikan hubungan antar umat beragama menjadi 34 Dimana memberi weh-wehan tidak hanya kepada sesama umat musim saja. Tradisi dan harmoni sosial menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan, terutama bagi masyarakat Jawa, kajian yang dilakukan oleh M Thoriqul Huda dalam tradisi sedekah bumi menyebutkan bahwa tradisi sedekah bumi pada masyarakat Pancur Bojonegoro menjadi salah satu medan sosial yang dapat menyatukan berbagai level masyarakat, berkumpul menjadi satu, memahami secara sosiologis dalam setiap kejadian dari ritual 35 Van Gennep dalam catatannya menyebutkan bahwa upacara-upacara ini tidak hanya menandai perubahan status, tetapi juga menjaga stabilitas sosial, memperkuat solidaritas kelompok, dan memastikan bahwa transisi berlangsung secara sah serta diterima oleh komunitas. Hubungan antara individu dan kelompok bersifat saling terkait 31 Wawancara dengan SM, tanggal 30 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. 32 Wawancara dengan SPR, tanggal 29 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. 33 Maulana Ira. AuUrgensi Pendekatan Sosiologis dalam Studi Islam,Ay Asian Journal of Healthcare Analytics (AJHA). Vol. No. 1, 2022, 48. 34 Wawancara dengan SM, tanggal 30 Mei 2023 di Kediaman. Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. 35 M Thoriqul Huda. AuHarmoni Sosial dalam Tradisi Sedekah Bumi Masyarakat Desa Pancur BojonegoroAy. Religio. Vol. No. 2 Tahun 2017. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 203 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 dan tak terpisahkan. Setiap fase kehidupan individu merefleksikan keteraturan sosial yang lebih besar, dan proses transisi sosial hanya bisa dipahami secara utuh bila dilihat dalam konteks hubungan dinamis antara pribadi dan komunitasnya. Secara sosial jika makna ini dilakukan maka kerukunan di desa tersebut akan Hal ini karena rasa ingin memberi kepada sesama orang masih terjaga. Dimana arti dari makna weh-wehan sendiri adalah memberi makanan terhadap orang lain. Disisi lain jika mempunyai kerabat yang berbeda agama, maka terdapat rasa kekeluargaan yang erat. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat rasa sosial yang tinggi dalam sebuah keluarga tanpa melihat agama. Maka tidak diragukan lagi oleh masyarakat desa Wonosalam untuk tetap melestarikan tradisi tersebut. Dimana SM menegaskan bahwa tradisi ini membuat masyarakat desa Wonosalam memiliki keinginan yang tinggi untuk saling berbagi terhadap sesama. Tidak melihat umur maupun agama, tradisi ini tetap dilakukan oleh masyarakat desa. Walaupun secara sejarah tradisi ini digagas oleh agama Islam dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Seperti yang KH. AsyAoari (Kyai Gur. ajarkan di desa Kaliwungu. Dengan berkembangnya waktu, tradisi di desa ini memiliki makna memberi kepada sesama dan tidak memandang agama apa yang mereka anut. PENUTUP Weh-wehan merupakan sebuah tradisi Jawa yang tidak lepas dari sejarah para pendahulu yang mengajarkan makna memberi kepada sesama. Weh-wehan berasal dari bahasa Jawa yaitu AuwehAy. Di dalam kamus bahasa Jawa AuwehAy berarti memberi, sedekah, memberi hadiah. Wewehan berarti memberikan sedekah kepada orang lain. Tradisi ini bermula dari KH. AsyAoari (Kyai Gur. Guru tersebut merupakan seorang ulama utusan dari kerajaan Mataram Islam untuk menyebarluaskan agama Islam di Kecamatan Kaliwungu. Ulama ini pada masa itu masih menemui kebudayaan Jawa masih erat dengan keperayaan akan suatu hal-hal ghaib. Dimana keperayaan terhadap roh . maupun benda-benda yang memiliki kekuatan ghaib . Pada masa itu dakwah Kyai Guru mengajarkan kepada masyarakat untuk membawa makanan yang ada untuk dibagi-bagikan kepada tetangga untuk menyambut maulid Nabi Muhammad SAW. Hal ini kemudian dimaknai dengan tradisi weh-wehan atau bisa kita sebut dengan saling memberi. Tradisi ini kemudian menyebar plosok desa yang kental akan tradisi di pulau Jawa. Salah satunya di Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Jika dari aspek sejarah di Kecamatan Kaliwungu adalah sebuah perayaan maulid nabi, maka berbeda dengan di Desa Wonosalam yang 36 Arnold Van Gennep. The Rites of Passage (Hove. UK: Psychology Press, 1. , 26-40. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 204 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 menerapkan tradisi weh-wehan dalam peringatan nuzulul QurAoan . urunnya al-QurAoa. pada malam ganjil di bulan Ramadhan. Dalam tradisi di desa ini, peringatan nuzulul QurAoan sudah diperingati oleh para leluhur desa tersebut. Dimana malam ganjil yang dipercaya sebagai turunnya al-QurAoan ini adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka masyarakat Desa Wonosalam berbondong-bondong untuk saling berbagi makanan dengan penyebutan weh-wehan. Secara sosial hal ini memberikan makna berbagi yang menimbulkan rasa memberi atau shodaqoh terhadap kerabat maupun tetangga. Makna sosial yang terdapat dalam tradisi ini membuat masyarakat akan semakin dekat dengan kebudayaan dan adat yang diturunkan oleh para leluhurnya. Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf 205 Volume 12, nomor . September, 2025 P-ISSN 2442-5907 E-ISSN 2797-2585 DAFTAR PUSTAKA