Jurnal JAPS Volume 6. Nomor 3 Desember 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Ibu dalam program Imunisasi di Posyandu Desa Patondon Salu Mutiara Asysyam1. Mardhatillah2. Khaeriyah Adri3 1,2,3 Administrasi kesehatan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang Email: asysyammutiara0@gmail. Kata kunci Ibu. Imunisasi. Keluarga. Posyandu. Petugas Kesehatan Abstrak Keywords Mothers. Immunization. Family. Posyandu. Health Workers Abstract Immunization is a health effort to protect individuals from preventable diseases such as diphtheria, tetanus, and measles. Approximately 19. million children worldwide have not received complete immunization, including in Indonesia. Based on data, the coverage of Complete Basic Immunization (CBI) in Enrekang Regency reached 81. 81% in 2023. This study aims to analyze the factors related to mothersAo involvement in the immunization program. A quantitative research method with a cross-sectional design was employed and analyzed using the chisquare test. The study population consisted of all mothers of infants and toddlers in the Posyandu of Pattondon Salu Village, totaling 181, with 125 selected as samples through purposive sampling. The findings revealed a significant relationship between family support and health worker support with mothersAo participation in the immunization program . -value < 0. , while mothersAo knowledge did not show a significant association with participation in the Imunisasi adalah upaya kesehatan untuk melindungi individu dari penyakit yang dapat dicegah, seperti difteri, tetanus, dan campak. Sekitar 19,4 juta anak di dunia belum mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) di Kabupaten Enrekang mencapai 81,81% pada Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan keterlibatan ibu dalam program imunisasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan dianalisis menggunakan uji chi square. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bayi dan balita yang ada di posyandu desa Pattondon Salu sebanyak 181 dengan jumlah sampel sebanyak 125. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan dengan keikutsertaan ibu pada program imunisasi dengan nilai p value < 0,05, sedangkan pengetahuan ibu tidak memiliki hubungan signifikan dengan keikutsertaan ibu pada program imunisasi. Pendahuluan Menurut World Health Organization . , imunisasi atau vaksinasi merupakan cara sederhana, aman, dan efektif untuk melindungi individu dari penyakit berbahaya sebelum bersentuhan langsung dengan agen penyebab penyakit. Penurunan cakupan imunisasi dapat berdampak serius, mulai dari meningkatnya angka kejadian penyakit, komplikasi berat, hingga kematian pada anak. Namun, kesadaran orang tua, khususnya ibu, terhadap manfaat imunisasi dasar lengkap masih rendah. Hal ini menyebabkan target cakupan vaksinasi nasional belum tercapai secara optimal, padahal imunisasi merupakan salah satu strategi paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian anak. Data UNICEF . menunjukkan bahwa sebanyak 20,5 juta anak di dunia belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap, dan 1,4 juta anak sama sekali tidak menerima Berbagai faktor memengaruhi hal ini, terutama pengetahuan ibu terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), ketakutan akan efek samping, mitos budaya maupun agama, jarak tempuh, serta keterbatasan fasilitas kesehatan. Pengetahuan ibu menjadi faktor kunci, karena pemahaman yang rendah seringkali memunculkan keraguan dan kekhawatiran untuk membawa anak mengikuti imunisasi. Imunisasi merupakan salah satu komponen penting pelayanan kesehatan primer yang berperan besar dalam menurunkan angka kematian balita. Kementerian Kesehatan RI . menegaskan bahwa imunisasi terbukti efisien dan efektif dalam mencegah penyakit berbahaya seperti polio, campak, hepatitis, difteri, hingga kanker serviks akibat infeksi HPV. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 juga menekankan bahwa imunisasi adalah upaya wajib dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui pencegahan penyakit menular. Meski berbagai regulasi dan upaya percepatan dilakukan, pencapaian target imunisasi di Indonesia masih menghadapi kendala. Data Riskesdas . 7Ae2. menunjukkan peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap dari 46,2% menjadi 59,2%, namun masih jauh dari target nasional. Di sisi lain, laporan SDKI . memperlihatkan bahwa cakupan imunisasi TT pada ibu hamil di Sulawesi Selatan hanya 48,4%, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 58%. Hal ini menunjukkan adanya disparitas antarwilayah dalam keberhasilan program imunisasi. Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Enrekang. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan . 9Ae2. , cakupan imunisasi TT pada ibu hamil memang mengalami peningkatan dari 73,3% menjadi 78,2%, tetapi masih jauh dari target ideal. Bahkan di UPT Puskesmas Sumbang, angka cakupan TT hanya mencapai 9,15% pada tahun 2022 meskipun jumlah kunjungan ibu hamil cukup tinggi. Fakta ini mengindikasikan adanya hambatan baik dari sisi pengetahuan, akses, maupun dukungan keluarga dan tenaga Dalam konteks keluarga, ibu berperan sentral dalam menentukan keputusan kesehatan anak. Tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi sangat berpengaruh terhadap kepercayaan dan kemauan untuk melengkapi imunisasi dasar anaknya. Namun, faktor dukungan keluarga, khususnya suami, juga sangat penting. Dukungan berupa informasi, motivasi, pengingat jadwal, hingga bantuan logistik terbukti mendorong ibu lebih aktif dalam mengikuti imunisasi anak. Sebaliknya, minimnya dukungan sering membuat ibu enggan atau menunda imunisasi. Selain keluarga, tenaga kesehatan berperan penting dalam meningkatkan partisipasi Edukasi sejak masa kehamilan, pelayanan yang sesuai standar, serta komunikasi yang baik akan menumbuhkan kepercayaan ibu terhadap layanan posyandu. Kualitas interaksi tenaga kesehatan tidak hanya menyangkut pemberian vaksin, tetapi juga memberi keyakinan, menjawab kekhawatiran, dan meluruskan informasi yang keliru tentang imunisasi. Dengan demikian, petugas kesehatan merupakan faktor eksternal yang dapat memperkuat atau melemahkan partisipasi imunisasi. Desa Pattondon Salu dipilih sebagai lokasi penelitian karena posyandu di desa ini cukup aktif, namun tingkat kehadiran ibu masih rendah, yakni hanya 33,33% setiap bulan. Kondisi ini menjadi peluang untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan ibu dalam imunisasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan dengan judul AuAnalisis Faktor yang Berhubungan dengan Keterlibatan Ibu dalam Keikutsertaan Kegiatan Imunisasi di Posyandu Desa Pattondon SaluAy, dengan fokus pada tiga variabel utama, yaitu pengetahuan ibu, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain survey analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Desain ini dipilih karena mampu menggambarkan hubungan antarvariabel secara efisien dalam satu waktu pengamatan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keikutsertaan ibu dalam program imunisasi, sedangkan variabel independennya mencakup pengetahuan ibu, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, kuesioner, dan observasi langsung pada responden. Penelitian dilaksanakan di Posyandu Desa Pattondon Salu. Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang. Lokasi ini dipilih karena posyandu tergolong aktif namun tingkat kehadiran ibu masih rendah, sehingga relevan untuk meneliti faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan mereka. Penelitian direncanakan berlangsung pada bulan Februari hingga April 2025 setelah proposal disetujui. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang membawa anaknya untuk imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu pada periode SeptemberAeNovember 2024, dengan jumlah 181 orang. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 125 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan peneliti. Instrumen utama penelitian adalah kuesioner yang berisi pertanyaan terstruktur dalam bentuk pilihan ganda, skala Likert, maupun pertanyaan terbuka. Selain kuesioner, data dikumpulkan melalui observasi langsung di lapangan dan dokumentasi pustaka berupa kajian literatur dari buku, jurnal, laporan, serta dokumen yang relevan. Data primer diperoleh dari responden melalui kuesioner dan observasi, sedangkan data sekunder berasal dari laporan kesehatan dan referensi ilmiah. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis menggunakan program SPSS dan Microsoft Excel. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi variabel penelitian, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 95% ( = 0,. untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu, dukungan keluarga, serta dukungan petugas kesehatan dengan keikutsertaan ibu dalam program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan dengan keikutsertaan dalam program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Sampel penelitian berjumlah 125 responden dengan rentang usia 22Ae41 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 40 item pertanyaan yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dukungan keluarga, dan dukungan petugas kesehatan. Analisis data menggunakan SPSS versi 25 dengan uji univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi dan uji bivariat (Chi-Squar. untuk mengetahui hubungan antarvariabel pada taraf signifikansi 0,05. Lokasi penelitian adalah Posyandu Desa Pattondon Salu. Kecamatan Maiwa. Kabupaten Enrekang, yang aktif menyelenggarakan kegiatan kesehatan masyarakat seperti imunisasi dasar, penimbangan balita, penyuluhan gizi, dan pelayanan kesehatan ibu-anak yang didukung kader posyandu serta tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat. Karakteristik Responden Pada penelitian ini, data kuantitatif diperoleh melalui instrumen penelitian berupa kuesioner dan wawancara. Jumlah responden yang dijadikan sampel dalam penelitian ini berjumlah 125 orang. Adapun karakteristik responden diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, dan pekerjaan. Tabel 4 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin. Pendidikan dan Pekerjaan di Posyandu Desa Pattondon Salu Karakteristik Jenis Kelamin Perempuan Usia Pendidikan Terakhir SMP SMA SMK Pekerjaan IRT Pegawai Honorer Kaur Berkebun Pedagang 20,8% 66,4% 12,8% 11,2% 24,8% 7,2% 2,4% 4,8% 5,6% Wiraswasta 8,0% Sumber : Data Primer. Tahun 2025 Berdasarkan tabel di atas, seluruh responden dalam penelitian ini adalah perempuan . %). Kelompok usia terbanyak berada pada rentang 26Ae35 tahun sebanyak 83 responden . ,4%), diikuti kelompok usia 18Ae25 tahun sebanyak 26 responden . ,8%). Dilihat dari pendidikan terakhir, mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 75 orang . ,0%), disusul S1 sebanyak 31 orang . ,8%). Pendidikan lainnya seperti SMK sebanyak 5 responden . ,0%). Dari segi pekerjaan, sebagian besar responden adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 80 orang . ,0%), diikuti wiraswasta, pegawai, honorer, pedagang, berkebun, dan kaur. Uji Univariat Uji Univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran umum terkait keikutsertaan ibu-ibu di Desa Pattondon Salu dalam program Imunisasi. Gambaran umum yang dimaksudkan dalam hal ini yaitu terkait frekuensi dan persentase status imunisasi, pengetahuan ibu, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terhadap keikutsertaanya dalam program imunisasi. Dari hasil kuisioner yang telah disebar lalu kemudian diolah datanya menggunakan aplikasi SPSS versi 25 maka didapatkan hasil uji univariat sebagai berikut: Dengan demikian, untuk mengetahui apakah kebijakan pemerintah berpengaruh secara signifikan terhadap tertib sosial dan bagaimana implementasi kebijakan peraturan daerah tentang Tertib sosial di Kelurahan Rappang Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang, maka perlu diminta tanggapan responden mengenai indikator dari implementasi kebijakan pemerintah dan faktorfaktor apa yang mempengaruhi implementasi kebijakan dan indikator dari tertib sosial, sebagaimana menurut pendapat responden digambarkan dalam beberapa tabel sebagai Pengetahuan Ibu Tabel 5 Distribusi Frekuensi Variabel Pengetahuan Ibu di Posyandu Desa Pattondon Salu Pengetahuan Ibu Cukup Kurang 98,4% 1,6% Total Sumber: Data Primer,2025 Berdasarkan tabel 5 Distribusi frekuensi Variabel Pengetahuan Ibu dapat diketahui bahwa dari total 125 responden, sebanyak 123 orang . ,4%) memiliki pengetahuan yang cukup terkait Imunisasi. Sementara itu, sebanyak 2 . ,6%) orang memiliki pengetahuan yang kurang terkait Imunisasi. Dukungan Keluarga Tabel 6 Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Keluarga di Posyandu Desa Pattondon Salu Dukungan Keluarga Cukup Kurang Total Sumber: Data Primer, 2025 96,8% 3,2% Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa dari total 125 responden, sebanyak 121 orang . 8%) memiliki Dukungan Keluarga yang cukup terkait Imunisasi. Sementara itu, sebanyak 4 . ,2%) orang memiliki Dukungan Keluarga yang kurang terkait Imunisasi. Dukungan Petugas Kesehatan Tabel 7 Distribusi Frekuensi Variabel Dukungan Petugas Kesehatan di Posyandu Desa Pattondon Salu Dukungan Petugas Kesehatan Cukup Kurang Total Sumber: Data Primer,2025 94,4% 5,6% Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui bahwa dari total 125 responden, sebanyak 118 orang . ,4%) memiliki Dukungan Petugas Kesehatan yang cukup terkait Imunisasi. Sementara itu, sebanyak 7 . orang memiliki Dukungan Petugas Kesehatan yang kurang terkait Imunisasi. Program Imunisasi di Posyandu Tabel 8 Distribusi Frekuensi Variabel Program Imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu Imunisasi di Posyandu Aktif Kurang Aktif Total Sumber: Data Primer,2025 97,6% 2,4% Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mengikuti program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu dengan kategori aktif, yaitu sebanyak 122 orang . ,6%). Sementara itu, hanya 3 responden . ,4%) yang tergolong kurang aktif dalam mengikuti program imunisasi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat partisipasi ibu dalam kegiatan imunisasi di posyandu sangat tinggi. Tingginya keaktifan ini dapat mencerminkan adanya kesadaran ibu mengenai pentingnya imunisasi untuk kesehatan anak, serta adanya dukungan dari keluarga maupun petugas kesehatan dalam mendorong keikutsertaan ibu pada program imunisasi. Uji Bivariat Uji Bivariat dengan uji chi-square dilakukan untuk mengetahui faktor apa saja yang berkaitan dengan keikutsertaan ibu dalam program imunisasi dan menentukan faktor mana yang berpengaruh dan berhubungan dengan keikutsertaan ibu dalam program imunisasi. Dari hasil kuisioner yang telah disebar lalu kemudian diolah datanya menggunakan aplikasi SPSS versi 25 maka didapatkan hasil uji bivariat sebagai berikut: Hubungan Pengetahuan Ibu dengan keikutsertaan Pada Program Imunisasi Tabel 9 Analisis Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Program Imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu Variabel Pengetahuan Ibu Cukup Kurang Total Program Imunisasi Aktif Kurang Aktif 97,6% 2,4% 97,6% 2,4% Jumlah PValue 0,823 Sumber: Data Primer. Tahun 2025 Berdasarkan Tabel 9 mengenai analisis hubungan pengetahuan ibu dengan program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu, diperoleh bahwa dari 123 responden yang memiliki pengetahuan cukup, sebanyak 120 orang . ,6%) termasuk dalam kategori aktif mengikuti program imunisasi dan 3 orang . ,4%) termasuk dalam kategori kurang aktif. Sementara itu, dari 2 responden yang memiliki pengetahuan kurang, seluruhnya . %) tercatat aktif dalam program imunisasi, dan tidak ada yang termasuk kategori kurang aktif. Secara keseluruhan, dari total 125 responden, terdapat 122 orang . ,6%) yang aktif dan hanya 3 orang . ,4%) yang kurang aktif dalam mengikuti program imunisasi. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,823 . > 0,. , yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan keaktifan mengikuti program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Keikutsertaan Pada Program Imunisasi Tabel 1 0 Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Program Imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu Variabel Dukungan Keluarga Cukup Kurang Total Program Imunisasi Aktif Kurang Aktif 98,3% 1,7% 75,0% 25,0% 97,6% 2,4% Jumlah PValue 0,003 Sumber: Data Primer. Tahun 2025 Berdasarkan Tabel 10 mengenai analisis hubungan dukungan keluarga dengan program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu, diketahui bahwa dari 121 responden yang memperoleh dukungan keluarga cukup, sebanyak 119 orang . ,3%) termasuk dalam kategori aktif mengikuti program imunisasi dan hanya 2 orang . ,7%) yang kurang aktif. Sementara itu, dari 4 responden yang memperoleh dukungan keluarga kurang, terdapat 3 orang . ,0%) yang tetap aktif mengikuti program imunisasi dan 1 orang . ,0%) yang kurang aktif. Secara keseluruhan, dari 125 responden, sebanyak 122 orang . ,6%) aktif mengikuti program imunisasi, sedangkan 3 orang . ,4%) termasuk dalam kategori kurang aktif. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,003 . < 0,. , yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan keaktifan mengikuti program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Keikutsertaan Pada Program Imunisasi Tabel 1 1 Analisis Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Program Imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu Variabel Dukungan Petugas Kesehatan Cukup Kurang Total Program Imunisasi Aktif Kurang Aktif 98,3% 85,7% 97,6% 1,7% 14,3% 2,4% Jumlah PValue 0,034 Sumber: Data Primer. Tahun 2025 Berdasarkan Tabel 11 mengenai analisis hubungan dukungan petugas kesehatan dengan program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu, diperoleh bahwa dari 118 responden yang mendapatkan dukungan cukup dari petugas kesehatan, sebanyak 116 orang . ,3%) tercatat aktif mengikuti program imunisasi, sedangkan 2 orang . ,7%) termasuk dalam kategori kurang aktif. Sementara itu, dari 7 responden yang mendapatkan dukungan kurang dari petugas kesehatan, terdapat 6 orang . ,7%) yang tetap aktif mengikuti program imunisasi dan 1 orang . ,3%) yang kurang aktif. Secara keseluruhan, dari 125 responden, sebanyak 122 orang . ,6%) aktif mengikuti program imunisasi, sedangkan 3 orang . ,4%) kurang aktif. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value sebesar 0,034 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan petugas kesehatan dengan keaktifan mengikuti program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Pembahasan a. Pengetahuan Ibu Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu mengenai imunisasi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keikutsertaan mereka dalam program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu, yang dibuktikan dengan nilai p-value > 0,05. Hal ini menegaskan bahwa meskipun sebagian besar ibu sudah memahami manfaat imunisasi, tingkat pengetahuan yang baik tidak otomatis mendorong mereka lebih aktif membawa anak ke Temuan ini menguatkan teori perilaku kesehatan yang menekankan bahwa perilaku tidak hanya ditentukan oleh aspek kognitif . , tetapi juga afektif . ikap, motivasi, kepercayaa. dan konatif . indakan nyat. Dengan kata lain, faktor psikologis, kesibukan, maupun pengaruh lingkungan sosial lebih berperan dibanding pengetahuan semata. Fakta di lapangan juga menunjukkan adanya ibu dengan pengetahuan cukup tetapi kurang berpartisipasi karena keterbatasan waktu, kurang dukungan keluarga, atau terpengaruh mitos tentang vaksinasi. Sebaliknya, terdapat ibu dengan pengetahuan rendah namun tetap aktif mengikuti imunisasi karena adanya dorongan keluarga, kebiasaan masyarakat, maupun kepercayaan penuh pada petugas kesehatan. Kondisi ini menegaskan bahwa faktor sosial, budaya, dan dukungan lingkungan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan ibu dibandingkan tingkat pengetahuan individu. Temuan ini sejalan dengan penelitian Astrianzah . Felicia & Suarca . , serta Rahmawati et al. yang menyebutkan bahwa pengetahuan ibu tidak selalu berhubungan dengan kelengkapan imunisasi Namun, hasil ini berbeda dengan penelitian Hanani et al. Suci et . , dan Yusnia et al. yang menyatakan sebaliknya. Perbedaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik lokal masyarakat Desa Pattondon Salu, di mana faktor budaya, dukungan sosial, dan kepercayaan lebih dominan dibanding aspek pengetahuan. Oleh karena itu, strategi peningkatan cakupan imunisasi tidak cukup hanya dengan edukasi, melainkan perlu melibatkan pendekatan berbasis komunitas, dukungan keluarga, serta komunikasi efektif dari tenaga kesehatan agar partisipasi imunisasi lebih Dukungan Keluarga Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga memiliki hubungan signifikan dengan keikutsertaan ibu dalam program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu . < 0,. Dukungan keluarga, khususnya dari suami dan orang tua, terbukti berperan penting dalam meningkatkan kemungkinan anak memperoleh imunisasi lengkap. Bentuk dukungan dapat berupa emosional . orongan dan motivas. , instrumental . embantu transportasi atau pekerjaan ruma. , maupun informasional . engingatkan jadwal dan meluruskan informasi kelir. Ketiga aspek ini saling melengkapi dan mampu memperkuat kesiapan ibu dalam melaksanakan imunisasi anak. Di lapangan, ditemukan bahwa rendahnya keikutsertaan sebagian ibu dipengaruhi oleh kurangnya dukungan keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga yang terbebani pekerjaan domestik tanpa bantuan. Kondisi ini diperparah jika suami atau orang tua masih terpengaruh mitos negatif tentang Namun, ada juga fenomena sebaliknya, yaitu ibu yang tetap aktif mengikuti imunisasi meskipun dukungan keluarga minim, karena terdorong oleh kesadaran pribadi atau pengaruh positif dari tenaga kesehatan maupun lingkungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga bukan faktor tunggal, melainkan berinteraksi dengan faktor individu dan lingkungan Temuan ini sejalan dengan penelitian Fitriani Arifin et al. Puspitasari & Indarjo . , serta Rambe & Nisa . yang menegaskan pentingnya dukungan keluarga dalam keberhasilan imunisasi, meskipun berbeda dengan hasil Apriyanti & Syafei . serta Arini dkk. yang menemukan pengaruh dukungan keluarga relatif kecil. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh konteks sosial dan budaya masing-masing Dengan demikian, strategi peningkatan cakupan imunisasi sebaiknya melibatkan seluruh anggota keluarga melalui edukasi kesehatan yang komprehensif, agar keputusan imunisasi menjadi tanggung jawab kolektif keluarga, bukan hanya ibu semata. Dukungan Petugas Kesehatan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan memiliki hubungan signifikan dengan keikutsertaan ibu dalam program imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu . < 0,. Dukungan tersebut tidak hanya berupa pelayanan teknis, tetapi juga komunikasi, penyuluhan, serta pendampingan yang mampu meningkatkan rasa percaya ibu untuk membawa anak ke posyandu. Petugas kesehatan berperan sebagai edukator, motivator, sekaligus filter utama informasi, sehingga dapat meluruskan mitos atau kekeliruan terkait imunisasi. Meski demikian, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa dukungan petugas bukanlah faktor tunggal, karena ada ibu yang tetap aktif meskipun dukungan petugas dirasakan kurang, dan sebaliknya ada yang tetap pasif meskipun mendapat dukungan cukup. Hal ini menegaskan bahwa partisipasi imunisasi dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, keluarga, dan lingkungan sosial. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan pentingnya pendekatan humanis, partisipatif, dan kolaboratif antara petugas kesehatan, keluarga, serta tokoh masyarakat dalam meningkatkan cakupan imunisasi secara berkelanjutan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tidak memiliki hubungan signifikan dengan keikutsertaan pada program imunisasi, sedangkan dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan terbukti memiliki hubungan signifikan serta berpengaruh langsung terhadap partisipasi imunisasi di Posyandu Desa Pattondon Salu. Temuan ini menegaskan bahwa faktor sosial, khususnya dukungan keluarga dan peran aktif petugas kesehatan, merupakan determinan penting dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu dengan memahami manfaat imunisasi, sementara hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi pengembangan ilmu kesehatan masyarakat serta acuan bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji keterlibatan masyarakat dalam pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa. Referensi