Indonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Pengaruh Teknik Restrukturisasi Kognitif Untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Siswa SMP Negeri 18 Makassar This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License CC-BY-NC-4. 0 A2020 by author . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. 0/ ). (Received: January-2025. Reviewed: February-2025. Accepted: Maret-2025. Available online: April-2025. Published: April-2. Muhammad Al Qadri Ahmad Nur1*. Abdul Saman2 . Akhmad Harum3 1,2,3 Bimbingan dan Konseling . Universitas Negeri Makassar Email:Alqadrimuhammad786@gm Abstract. This study aims to determine . The level of achievement motivation, . The implementation of cognitive restructuring techniques, . Cognitive restructuring techniques increase achievement motivation. This study uses a quantitative approach with quasi experimental design model. The population and sample of the study were class Vi who had low achievement motivation. Data analysis used descriptive statistics and parametric analysis, namely the t-test. The results of the study showed: . Achievement motivation during the pretest in the experimental group was in the low category while in the posttest, students' achievement motivation increased to the high category. While achievement motivation during the pretest and posttest in the control group was in the very low and low categories, meaning there was no change, . Cognitive restructuring techniques were implemented by means of rational treatment, thought analysis, introduction and CT exercises, moving from negative thoughts to coping thoughts (CT), positive reinforcement and evaluation. There was a difference in achievement motivation in the control and experimental groups that were given cognitive restructuring technique treatment, where cognitive restructuring techniques were proven to increase achievement motivation significantlyn. Keywords: Cognitive Restructuring Techniques. Achievement Motivation. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Tingkat motivasi berprestasi,. Pelaksanaan teknik restrukturisasi kognitif, . Teknik restrukturisasi kognitif meningkatkan motivasi berprestasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model Quasi experimental Populasi dan sampel penelitian yaitu kelas Vi yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi berprestasi dan observasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan analisis parametrik, yaitu t-test. Hasil penelitian menunjukkan: Motivasi berprestasi saat pretest pada kelompok eksperimen berada pada kategori rendah sedangkan posttest, motivasi berprestasi siswa mengalami peningkatan berada kategori tinggi. Sedangkan motivasi berprestasi saat pretest maupun posttest pada kelompok kontrol berada pada kategori sangat rendah dan rendah, artinya tidak mengalami perubahan,. Teknik restrukturisasi kognitif dilaksanakan dengan cara rational treatment, analisis pikiran , pengenalan dan latihan CT, pindah dari pikiran negatif ke 70 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. coping thought (CT), penguatan positif dan evaluasi. Terdapat perbedaan motivasi berprestasi pada kelompok kontrol dan eksperimen yang diberikan perlakuan teknik restrukturisasi kognitif, dimana teknik restrukturisasi kognitif teruji meningkatkan motivasi berprestasi secara signifikan. Kata Kunci: Teknik Restrukturisasi Kognitif. Motivasi Berprestasi PENDAHULUAN Motivasi berprestasi adalah keinginan dalam mencapai hasil selaras dengan standar yang telah diterapkan. Maka dari itu, jika siswa memiliki dorongan untuk berprestasi, maka mereka akan berupaya untuk mencapai hasil selaras dengan standar yang telah diterapkan. Motivasi untuk berprestasi sebagai faktor pendorong yang memungkinkan individu berhasil meraih apa yang diimpikan. Widirahayu dkk. , . Masalah rendahnya motivasi berprestasi yang dirasakan pada kalangan siswa-siswi di sekolah didasari dengan berbagai faktor. Penyebab rendahnya motivasi untuk berprestasi siswa dapat berasal dari dalam diri siswa maupun dari faktor eksternal yakni lingkungan sekitar termasuk teman sebaya. Masalah rendahnya motivasi untuk berprestasi di kalangan siswa-siswi telah berdampak terhadap penurunan hasil belajar yang signifikan, dan ini terlihat dari prestasi akademik siswa yang mengalami penurunan. Permasalahan motivasi berprestasi yang rendah terjadi pada kalangan siswa-siswi disekolah-sekolah. Dari banyak sekolah, salah satunya di UPT SPF SMP Negeri 18 Makassar. Berdasarkan kunjungan awal peneliti pada bulan November 2023 diketahui bahwa banyak siswa-siswi kelas Vi yang bermasalah pada motivasi berprestasi sehingga berdampak terhadap hasil belajar pada siswa tersebut. Hasil wawancara konselor dengan peneliti pada 18 November 2023, yang menunjukkan mayoritas siswa-siswi menghadapi permasalahan terhadap motivasi untuk berprestasi. Konselor sekolah mengungkapkan bahwa perilaku yang mencerminkan motivasi berprestasi rendah terbukti dari siswa yang malas belajar, kurang antusias dalam mengikuti pelajaran di kelas, tidak memiliki ketertarikan dalam belajar, ketidak senangan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Hal ini menunjukkan siswa tidak bertanggung jawab pada tugas dan fungsinya. Pernyataan tersebut selaras dengan Wati dan Jannah . menyatakan bahwa ciri-ciri orang yang memiliki motivasi berprestasi rendah yaitu tidak memiliki tanggung jawab, tidak memiliki tujuan yang menantang, tidak memiliki harapan untuk sukses, malas, dan pesimis. Konselor juga menambahkan, siswa memiliki harapan untuk sukses siswa berpandangan bahwa ekonomi rendah tidak akan membuatnya menjadi orang sukses di kemudian hari karna keterbatasan ekonomi yang tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan sampai keperguruan tinggi, sehingga siswa beramsumsi bahwa berprestasi itu tidak penting bagi mereka yang memiliki ekonomi rendah sehingga ada beberapa siswa lebih ingin membantu perekonomian orang tuanya ketika lulus SMP. Lebih lanjut konselor menambahkan alasan siswa memiliki motivasi berprestasi rendah, dimana disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua dalam prestasi anaknya sehingga anak menganggap prestasi untuk dirinya tidak penting dan siswa berpandangan bahwa ekonomi rendah tidak akan membuatnya menjadi orang sukses karena tidak bisa elanjutkan Pendidikan. Melihat masalah yang dihadapi oleh siswa-siswi, dapat disimpulkan bahwa faktor utama dari penyebab motivasi belajar siswa rendah adalah cara berpikir yang tidak rasional serta cara mereka menginterpretasikan suatu kejadian, yang berdampak pada pemaknaan secara negatif terhadap kejadian tersebut. Hal tersebut dapat diketahui 71 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. dari cara mereka berpikir yakni dimana siswa menganggap prestasi itu tidak penting, siswa menganggap jika memiliki ekonomi yang kurang maka tidak dapat melanjutkan studi, serta siswa menganggap nilai yang didapatkan dari guru itu hal yang biasa dan tidak ada yang Istimewa dari nilai yang maksimal. Hal ini sejalan dengan pernyataan Darniyanti dan Saputra . yang mengungkapkan bahwa faktor internal yang menyebabkan motivasi berprestasi rendah adalah kepercayaan atau keyakinan siswa-siswi. Kepercayaan ini sangat berperan dalam membangun pola pikir untuk terus meraih hasil belajar yang lebih baik. Jika kepercayaan atau keyakinan siswa rendah, mereka cenderung menganggap adanya kekurangan dalam diri mereka, mengakibatkan tidak ada motivasi untuk terus berkembang, dan siswa-siswi pun akan menganggap remeh potensi yang dimiliki. Pihak sekolah dalam hal ini konselor sejauh ini hanya memberikan layanan informasi terkait masalah tersebut tanpa adanya konseling. Oleh sebab itu, peneliti menganggap perlunya penanganan yang tepat sehingga dapat mengubah cara berpikir siswa tersebut. Salah satu pendekatan atau teknik dalam konseling yang dapat mengubah cara berpikir seseorang adalah Teknik Restrukturisasi Kognitif. Hal ini sejalan dengan Rismawan, dkk . yang menyatakan bahwa teknik restrukturisasi kognitif mampu mengubah pikiran disfungsional siswa menjadi pikiran yang lebih positif, sehat, dan efektif. Menurut Beck (Sinring, 2. menyatakan terapi kognitif mencakup upaya untuk membantu klien agar mereka mampu menilai perilaku mereka secara kritis dengan fokus pada aspek pribadi yang negatif, klien diajarkan untuk mengenali, mengamati, dan memantau pemikiran serta anggapannya. Penelitian sebelumnya membuktikan penanganan CBT dilakukan oleh Ramadan, et al. , . menunjukkan bahwa pendekatan teknik restrukturisasi kognitif mampu signifikan meningkatkan motivasi belajar siswa, yang berdampak pada kinerja akademik yang lebih baik. Hal serupa juga diungkapkan Gunawan, et al. , . dalam penelitiannya menunjukkan konseling kelompok cognitive behavior therapy (CBT) efektif dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Temuan penelitian Ayun dan Wibowo . menunjukkan metode cognitive behavioral therapy efektif dalam meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa, dimana terdapat perbedaan nilai motivasi untuk berprestasi pada kelompok yang diberikan perlakukan dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan. Dari beberapa penelitian sebelumnya, pada penelitian ini peneliti akan menafsir ulang teori pada konteks yang berbeda di tempat yang berbeda dari penelitian sebelumnya sehingga diharapkan mampu memberikan Gambaran yang kompleks tentang teori tersebut. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatann kuantitatif dengan desain kuasi eksperimen. Populasi dalam studi ini adalah 37 siswa kelass Vi di UPT SPF SMP Negeri 18 Makassar yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Pengambilan sampel menggunakan teknik propotional random sampling dengan memperhatikan jumlah atau ukuran masing-masing kelas, dimana 10 orang untuk setiap kelompoknya, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pengumpulan data menggunakan skala motivasi berprestasi yang disusun oleh peneliti berdasarkan teori Mc Clelland (Uno, 2. serta pedoman observasi. Uji validasi oleh dosen ahli bidang psikologi pendidikan dan bimbingan, lalu diuji dilapangan dengan mengambil sampel 30 orang, setelah itu dilakukann uji validasi dan uji reliabilitas menggunakan Software SPSS V. Terdapat 34 item valid yang digunakan sebagai instrument penelitian. Nilai reliabilitas sebesar 0. 876, sehingga dapat disimpulkan bahwa reliabilitas pada skala motivasi berprestasi dikategorikan Sangat Kuat. Penelitian ini menggunakan analisis data statistik deskriptif dan analisis inferensial dimana uji normalitas data menggunakan One-Sample 72 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Kolmogorov-Smirnov Test menunjukkan data terdistribusi normal, uji homogenitas menggunakan Uji Homogeneity Of Variance menunjukkan distribusi data yang seragam, serta t-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Gambaran Tingkat Motivasi Berprest Pada penelitian ini, terdapat dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang masing-masing beranggotakan 10 orang tiap kelompok. Berikut gambaran tingkat motivasi berprestasi pada masing-masing kelompoknya: Kelompok Eksperimen Berikut sajian data tingkat motivasi berprestasi siswa pada kelompok eksperimen : Interval 117 Ae 136 96 Ae 116 76 Ae 95 55 Ae 75 34 Ae 54 Tabel 1. Data Motivasi Berprestasi Kelompok Eksperimen Kelompok Penelitian Eksperimen Tingkat ----Pretest Postest Frekuensi Persentase Frekuensi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Persentase Hasil pretest diketahui bahwa 4 . orang dengan persentase 40% . mpat puluh perse. memiliki interval skor 34 Ae 54 menunjukkan kategori sangat rendah, 6 . orang dengan persentase 60% (Enam puluh perse. memiliki interval skor 55-75 menunjukkan kategori rendah. Sedangkan pada kategori sedang dengan interval skor 76-95, kategori tinggi dengan interval 96-116 dan kategori sanagat tinggi dengan interval 117 Ae 136 memiliki frekuensi 0 atau dalam hal ini tidak ada responden berada pada kategori tersebut. Hasil posttest . etelah dilakukan perlakua. menunjukkan peningkatan motivasi berprestasi pada responden . Diketahui, 5 . orang dengan persentase 50 % . ima puluh perse. memiliki interval skor 96-116 menunjukkan kategori tinggi, 5 . orang dengan persentase 50% . ima pulah perse. memiliki interval skor 117- 136 menunjukkan kategori sangat tinggi. Sedangkan pada kategori sedang, rendah dan sangat rendah memiliki frekunsei 0 atau dalam hal ini tidak ada responden berada pada kategori tersebut. Tabel 2. Gambaran Umum Motivasi Berprestasi Kelompok Eksperimen Jenis Data Pretest Posttest Kelompok Eksperimen Mean Interval Kategori 55 - 75 Rendah 96 - 116 Tinggi Tabel tersebut memberikan ringkasan mengenai skor rata-rata tingkat motivasi berprestasi dari hasil pretest dan Diketahui skor rata-rata dari hasil pretest pada kelompok eksperimen adalah 58 menunjukkan kategori rendah sedangkan skor rata-rata dari hasil posstest untuk kelompok eksperimen adalah 113,2 menunjukkan kategori tinggi. Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan teknik restrukturisasi kognitif menghasilkan peningkatan motivasi berprestasi pada kelompok eksperimen, dimana terdapat peningkatan skor rata-rata dari 58 . menjadi 113,2 . 73 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Kelompok Kontrol Berikut sajian data tingkat motivasi berprestasi siswa pada kelompok kontrol : Tabel 3. Data Motivasi Berprestasi Kelompok Kontrol Kelompok Penelitian Eksperimen Interval Tingkat ----Pretest Postest Frekuensi Persentase Frekuensi 117 Ae 136 Sangat Tinggi 96 Ae 116 Tinggi 76 Ae 95 Sedang 55 Ae 75 Rendah 34 Ae 54 Sangat Rendah Persentase Hasil pretest diketahui bahwa 10 . orang dengan persentase 100% . erratus perse. memiliki interval skor l skor 55-75 yang menunjukkan kategori rendah. Sedangkan pada kategori sangat rendah dengan interval skor 34-54, kategori sedang dengan interval skor 76-95, kategori tinggi dengan interval 96-116 dan kategori sanagat tinggi dengan interval 117 Ae 136 memiliki frekuensi 0 atau dalam hal ini tidak ada responden berada pada kategori tersebut. Adapun hasil posttest, diketahui bahwa 1 . dengan persentase 10% . epuluh perse. memiliki interval skor 34-54 yang menunjukka kategori sangat rendah, 9 . orang dengan persentase 90% . embilan puluh perse. memiliki interval skor 55-75 yang menunjukkan kategori rendah. Sedangkan pada kategori sedang dengan interval skor 76-95, kategori tinggi dengan interval 96-116 dan kategori sanagat tinggi dengan interval 117 Ae 136 memiliki frekuensi 0 atau dalam hal ini tidak ada responden berada pada kategori tersebut. Tabel 4. Gambaran Umum Motivasi Berprestasi Kelompok Eksperimen Jenis Data Pretest Posttest Kelompok Kontrol Mean Interval Kategori 55 - 75 Rendah 55 - 75 Rendah Tabel tersebut memberikan ringkasan mengenai skor rata-rata tingkat motivasi berprestasi dari hasil pretest dan Diketahui skor rata-rata dari hasil pretest pada kelompok kontrol adalah 65,2 menunjukkan kategori rendah sedangkan skor rata-rata dari hasil posstest untuk kelompok kontrol adalah 67,2 menunjukkan kategori rendah. Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti menyimpulkan bahwa tidak terjadi peningkatan motivasi berprestasi pada kelompok kontrol, dimana terdapat skor rata-rata berada tetap pada kategori rendah. Pelaksanaan Teknik Restrukturisasi Kognitif Teknik restrukturisasi kognitif hanya diberikan pada kelompok eksperimen yang dilaksanakan beberapa kali pertemuan, yang meliputi persiapan . , peneliti melakukan pembentukan dan peralihan Kelompok serta rasionalisasi treatment agar mengidentifikasi dan menganalisis motivasi berprestasi yang mereka alami. Selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan yang meliputi analisis pikiran konseli, pengenalan dan atihan Coping Tought, pindah dari pikiran-pikiran negatif ke Coping Thought (CT), latihan penguatan positif, serta evaluasi. Pada pertemuann pertamaa hingga pertemuan terakhir terrdapat 10 orang yang termasuk dalam kategori sangat tinggii, sedangkan pada kategori tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah terdapat 0 peserta. Berikut sajian data observasi Tabel 5. Observasi Partisipasi Siswa 74 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Persentase (%) Kriteria 80 Ae 100 60 Ae 79 40 Ae 59 20 Ae 39 0 Ae 19 Jumlah Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Pertemuan i Peneliti menyimpulkan bahwa mulai dari pertemuan I. II, i. IV, dan V peserta sangat kooperatif dan mengikuti kegiatan ini dengan tertib dan baik, dengan kata lain kategori partisipasi peserta dalam mengikuti tlayanan teknik restrukturisasi kognitif berada pada kategori sangat tinggi. Teknik Restrukturisasi Kognitif untuk Meningkatkan Motivasi Berprestasi Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu teknik restrukturisasi kognitif dapat meningkatkan motivasi berprestasi konseli kelas VII di UPT SPF SMP Negeri 18 Makassar. Sebelum mengetahui pengaruh tersebut maka harus diubah hipotesisnya menjadi hipotesis nihil (H. yaitu: Auteknik restrukturisasi kognitif tidak dapat menurunkan motivasi berprestasi konseli kelas VII di SMP Negeri 5 MakassarAy. Adapun kriteria pengujiannya adalah tolak Ho jika nilai sig < 0,05. Tabel 6. Uji Hipotesis t-test Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Sig. Std. Std. Interval of the t Mean Deviatio Error Difference Mean Lower Upper Pair Pretest 13. 621 9 . Posttest Berdasarkan tabel uji hipotesis t-test, diketahui hasil pengolahan data dengan menggunakan SPSS 26,00 for windows . ji t-tes. diperoleh nilai Sig . -Taile. = 0. 000 dengan taraf signifikansi sebesar 5% atau 0,05. Kriteria hipotesis yang diajukan pada hipotesis nihil yaitu tolak Ho jika nilai sig lebih kecil dari nilai a yaitu 0,05. Berdasarkan asumsi tersebut maka dibuat kriteria yaitu signifikansi . < a . Dengan demikian, maka nilai sig yang diperoleh lebih kecil dari nilai a, maka hipotesis nihil (H. dinyatakan ditolak dan sebagai konsekuensinya maka hipotesis alternatif (H. dinyatakan Dengan demikian, menunjukkan bahwa teknik restrukturisasi kognitif signifikan meningkatkan motivasi Pembahasan Mc Clelland (Uno, 2. mengemukakan mmotivasi prestasi adalah suatu pemikiran yang berkaitan dengan cara melaksanakan sesuatu secara optimal dibandingkann dngan sebelumnya dan lebihh efisiien dengn hasiil yang optimal. 75 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. Clelland menyatakan bahwa motivasii untuk berprestasii pada seseorang dapat dianggap sebaagai tanda dari kekuatann dorongann untuk mencapai keberhasilann. Selanjutnya. McClelland menyatakan bahwa bentuk dari motiff berprestaasi yang tinggii dapat terlihat pada perilaku yang berorientasi pada pencapaiann, terutama dalam tugas individu. Oleh karena itu, motivasi adalah elemen krusial dalam hidup, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Dorongan internal seseorang untuk belajar adalah sebuah bentuk motivasi. Hasil pretest menyatakan motivasii berprrestasi peserta didik pada kelompokk eksperiment dan kelompok kontroll tergolong rendah. Rendahnya motivasii berprestasii yang dimiliki peserta didik tercermin dari tingkah laku yang mereka tunjukkan di lembar jawab, seperti tidak bertanggungjawab pada tugasnya dengan kata lain tidak mengerjakan tugas, memiliki persepsi keliru terhadap prestasi, pesimis dengan keberhasilan serta kemampuan yang siswa miliki, selalu cari aman sehingga walaupun dapat nilai standar sudah membuatnya nyaman dan aman. merasa cepat puas dengan nilainya, belajar dengan secukupnya atau hanya di sekolah saja, tidak mempunyai kemauan dalam bersaing dengann dirinya atau oranglain, tidak mengenali dirinya, dan tidak memiliki strategi belajar yang baik. Hasil pretest tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Schunk, et al. , . yang memberikan penggambaran bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah biasanya akan kesulitan beradaptasi di kelas, memiliki konsep diri yang lemah, dan sering mengalami kecemasan terkait akademis. Di samping itu, ciri lain dari seseorang yang memiliki motivasi untuk berprestasi tinggi biasanya berusaha lebih keras untuk meraih kesuksesan dengan melakukan langkah-langkah tertentu yang dapat membantu pencapaian tujuannya, berbeda dengan individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah yang jarang melakukan tambahan usaha spesifik untuk mencapai tujuannya. Lebih lanjut. Mc Clelland (Uno, 2. mengidentifikasi karakteristik seseorang yang mempunyai motivasi untuk berprestasi, yakni mempunyai tanggung jawab pada tugas, mempunyai pandangan positif pada keberhasilan, dan siap menghadapi hambatan, kegagalan terhadap prestasi lebih besar daripada afiliasi, kreatif, serta inovatif, mempunyai batas kepuasan tinggi, mempunyai kemauan untuk berprestasi dengan baik, menginginkan persaingan yang sehat dengan diri sendiri maupun orang lain, mempunyai cara berpikir realistis dan strategis, memahami keunggulan dan kelemahan diri, mampu melakukan terobosan dalam berpikir. Situasi ini menunjukkan perilaku yang berlawanan dengan yang ditunjukkan oleh konseli. Motivasi berprestasi mengindikasikan bahwa seorang siswa memiliki keinginan dan dorongan untuk menggerakkan atau mengarahkan usaha dalam menjalankan aktivitas yang mendukung pencapaian tujuan belajar, serta memiliki semangat dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapi untuk meraih prestasi belajar yang optimal. Prestasi yang diraih dipengaruhi oleh motivasi berprestasi yang tinggi. Setelah pelaksanaan teknik restrukturisasi kognitif, peneliti melaksanakan posttest. Hasil yang didapatkan pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa motivasi berprestasi konseli naik ke kategori tinggi. Peningkatan ini terjadi karena tujuan dari teknik restrukturisasi kognitif adalah untuk mengubah cara berpikir atau dialog internal. Pada teknik restrukturisasi kognitif, dimana konselor dan klien bekerja sama dalam mengenali dan mengubah cara pikir serta tingkah laku negatif yang mengakibatkan munculnya hambatan emosional (Erford, 2. Kurangnya motivasi berprestasi konseli disebabkan oleh pola pikir irasional konseli mengenai prestasi yang mengakibatkan terbentuknya persepsi yang keliru. Dalam konteks ini, teknik restrukturisasi kognitif memungkinkan siswa untuk mengubah pikiran irasional yang menjadi penyebab masalah menjadi pikiran yang lebih konstruktif atau yang rasional. Lebih jauh. Corey . menguraikan maksud restrukturisasi kognitif ialah untuk menganalisis dan memperbaiki pemikiran yang tidak terdeteksi dan bersifat negatif. Restrukturisasi 76 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. kognitif menekankan perubahan kognitif yang berlebihan, seperti cara pikir hitam-putih, asumsi negatif, generalisasi berlebihan, labeling diri, menyalahkan diri, dan personalisasi. Perubahan pemikiran dalam diri konseli juga berkontribusi pada transformasi perilaku konseli menuju yang lebih positif, sehingga konseli mampu mengembangkan keterampilan baru sesuai yang diharapkan. mampu menjaga keterampilannya hingga setelah sesi konseling. serta mengalami perubahan yang stabil dan permanen dengan mengikuti prosedur yang benar. Metode ini juga dipandang dapat mengenali dan memperbaiki perilaku yang tidak produktif. Hasil yang berbeda muncul pada kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan, yaitu teknik restrukturisasi kognitif. Pada saat pretest, motivasi berprestasi berada pada kategori rendah, yang ditandai dengan perilaku siswa yang tidak bertanggung jawab terhadap tugas akademik. Mereka juga cenderung mengabaikan tugas yang diberikan guru karena menganggapnya sekadar formalitas. Di samping itu, terdapat siswa yang merasa puas saat memperoleh nilai standar, sehingga kurang termotivasi untuk meningkatkan nilai mereka. Siswa juga tidak cukup inovatif dalam mengembangkan diri terkait dengan tugas-tugas yang ada. Mereka tidak cukup proaktif dalam menemukan literatur-literatur tugas yang dapat mendukung pencapaian akademiknya. Selanjutnya, siswa terlihat kurang giat dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga banyak pelajaran yang meraih nilai gagal. Pada saat posttest, tidak terlihat adanya perubahan atau peningkatan yang signifikan, meskipun terdapat sejumlah kecil responden yang menunjukkan perubahan nilai berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan. Konseli masih berada dalam kategori rendah. Hasil penelitian ini berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, di mana penelitian Ramadan, et al. menunjukkan bahwa pendekatan teknik restrukturisasi kognitif mampu signifikan meningkatkan motivasi belajar siswa, yang berdampak pada kinerja akademik yang lebih baik. Hal serupa juga diungkapkan Gunawan, et al. dalam penelitiannya menunjukkan konseling kelompok cognitive behavior therapy (CBT) efektif dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa. Temuan penelitian Ayun dan Wibowo . menunjukkan metode cognitive behavioral therapy efektif dalam meningkatkan motivasi berprestasi pada siswa, dimana terdapat perbedaan nilai motivasi untuk berprestasi pada kelompok yang diberikan perlakukan dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitiann serta pembahasan mengenai pengaruh penerapann teknik restrukturisasi kognitif terhadap motivasi berprestasi siswa diatas, dapat disimpulkan sebagaii berikut : . Motivasi berprestasi peserta didik saat pretest pada kelompokk eksperiment yaitu 6 . orang berada kategorii rendah dan 4 . orang berada kategorii sangat rendah, saat post-test, motivasi berprestasi peserta didik pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan dimana 5 orang berada pada kategori sangat tinggi dan 5 responden beradaa kategorii tinggi sedangkan motivasi berperestasi peserta didik saat pre-test maupun post-test padaa kelompok kontrol tetap beradaa pada kategori sangat rendah dan rendah dimana tidak mengalami perubahan peningkatan. Implementasi teknik restrukturisasi kognitif dilakukan sesuai prosedur yang telah dirancang, yaitu perawatan rasional, analisis pemikiran konseli, pengenalan serta pelatihan coping thought (CT), perpindahan dari pikiran negatif ke coping thought, penguatan positif, dan evaluasi. Selama proses pelaksanaan teknik restrukturisasi kognitif, keterlibatan siswa berada pada kategori tinggi. Terdapat 77 |Guidance and Counselling Department. Faculty of Education. Universitas Negeri Makassar ndonesian Journal of School Counseling: Theory. Application and Development Volume V Nomor I April 2025. Pages 70-79 p-ISSN: 2775-1708 e-ISSN: 2775-555X Homepage: http://ojs. id/index. php/IJOSC DOI: https://doi. org/10. 26858/ijosc. perbedaan motivasi berprestasi pada kelompokk kontrol dan kelompokk ekperimen yang diberikan treatment melalui teknik restrukturisasi kognitif, dimana pengaruh teknik restrukturisasi kognitif terbukti meningkatkan motivasi berprestasi secara signifikan. Saran