Article Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Melalui Media Gambar Seri pada Siswa Kelas IV SDN Semper Barat 05 Pagi Fitria Nirwaningtyas 1. Prima Gusti Yanti 2 * Universitas Pendidikan Ganesha. dzibrilyan@gmail. Universitas Pendidikan Ganesha. prima_gustiyanti@uhamka. * Correspondence: rudihartonoofficial91@gmail. Citation: Nirwaningtyas. F & Gusti Yanti. Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Melalui Media Gambar Seri pada Siswa Kelas IV SDN Semper Barat 05 Pagi. JLLANS Vol. 03 No. 01 April 2024, p35-45. https://doi. org/10. 56855/jllans. Academic Editor: Rismayani Received: February 09, 2024 Accepted: March 24, 2024 Published: April 18, 2024 Copyright: A 2024 by the authors. Abstract: Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan kendala yang ditemukan oleh pengamat sekaligus guru di kelas. Hambatan yang dihadapi adalah rendahnya keterampilan dalam menulis cerita pendek. Guru dapat meningkatkan kemampuan menulis peserta didik dan mampu mengekspresikan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dengan memanfaatkan media pendukung, yakni penggunaan gambar seri sebagai media. Pada studi ini langkah pelaksanaan dilaksanakan dengan menggunakan tes atau hasil evaluasi pada akhir pertemuan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan hasil apakah ada peningkatkan keterampilan menulis siswa dengan memanfaatkan media gambar seri pada siswa. Siswa kelas IV SDN Semper Barat 05 Pagi yang dengan jumlah 22 siswa menjadi subyek studi. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan 2 siklus. Nilai standar siswa pada fase I sebesar 70,5 dan pada fase II sebesar 85dengan indicator keberhasilan yang ditetapkan adalah 75. Siswa yang berhasil mencapai nilai yang sudah ditentukan pada fase I sebanyak 14 siswa dan yang belum berhasil sebanyak 8 orang, pada fase II seluruh peserta didik berhasil mencapai nilai Dari hasil yang didapatkan pad fase I dan fase II yaitu 70,5 menjadi 85 maka terjadi peningkatan sebanyak 15%. Sehingga dapat dikatakan yakni dalam proses belajar-mengajar terjadi peningkatan yang cukup signifikan sehingga penelitian ini dapat disimpulkan berhasil. Dari hasil pelaksanaan perbaikan yang dilakukan dapat diambil hasilnya bahwa memanfaatkan media gambar seri pada pembelajaran Bahasa Indonesia sangat efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis siswa. Keywords: Cerita Pendek. Kemampuan Menulis. Media Gambar Seri Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttps://creativecommons. org/license Pendahuluan The Pengajaran bahasa Indonesia selalu diselenggarakan di setiap susunan s/by/4. 0/). pendidikan berawal dari tahap pendidikan awal hingga jenjang perguruan tinggi. Fokus pengajaran ini adalah memperbaiki keterampilan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar dan tepat, baik dalam komunikasi lisan maupun tertulis. Demikian juga, tujuannya mencakup pembangunan penghargaan terhadap hasil karya sastra masyarakat Indonesia. Program bahasa Indonesia diarahkan sesuai dengan inti bahasa yang dipelajari, yang menekankan sebagai pembelajaran lisan sejatinya yaitu pembelajaran interaksi. Maka dari itu, tujuan https://journals. org/index. php/jllans E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 36 of 11 dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek siswa melalui pemanfaatan media gambar seri. Ada beberapa komponen dalam kecakapan berbahasa, yaitu kecakapan mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis (Tarigan, 2. Keempat kemampuan ini perlu dikembangkan dan dilatih secara bertahap. Aktivitas menulis dimulai sejak jenjang pendidikan dasar . ekolah dasa. hingga tingkat perguruan tinggi. Keempat kemampuan berbahasa saling terhubung satu sama lain. Menulis ialah suatu aktivitas untuk menyampaikan ide dan pemikiran melalui penyusunan kata-kata dalam bentuk tertulis. Selain menyajikan ide dan pemikiran, menulis juga memerlukan keterampilan menyusun kata-kata agar lebih dimengerti oleh para pembaca (Dalman, 2. Sebuah kompetensi yang sangat penting ialah keterampilan membaca dan menulis. Dalam konteks keterampilan berbahasa, menulis merupakan bagian dari empat komponen keterampilan utama. Sebelum fokus pada pengembangan keterampilan mendengarkan, berbicara, dan membaca. (Budinuryanata, 2. Sedangkan pendapat lain, menulis merupakan kemampuan untuk menuangkan ungkapan ide, pengetahuan ilmu, pengalaman hidup, dan pikiran, dalam bahasa uraian yang mudah dipahami untuk bermakna, menarik, dan diterima oleh masyarakat (Edi Suyitno, 2. Dengan memahami konsep tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa menulis merupakan keterampilan setiap individu dalam menyampaikan ide, pemikiran, pengetahuan, dan cerita hidupnya melalui bahasa tertulis yang mudah dipahami, tujuannya adalah agar pembaca dapat dengan mudah mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Cerita pendek adalah cerita yang dapat dibaca dalam satu kali bacaan, biasanya kira-kira setengah hingga dua jam, tetapi tidak cukup untuk novel (Nurgiyantoro, 2. Sedangkan Agustina . Mengungkapkan cerita pendek merupakan bentuk karya sastra prosa yang memaparkan permasalahan kehidupan suatu tokoh secara ringkas dan menitikberatkan pada pengembangan karakter tokoh Cerita ini dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan. Berdasarkan pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek biasanya lebih singkat daripada novel atau cerita panjang lainnya. Cerita pendek biasanya berpusat pada satu plot atau tema utama dan mengembangkan karakter dan alur cerita dalam ruang yang lebih Sebagai pembimbing siswa, guru perlu mengadaptasi metode pembelajaran untuk memperbaiki keterampilan menulis dan kemampuan berfikir kreatif siswa. Siswa mungkin menghadapi kesulitan dalam menulis karena mereka mungkin tidak E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 37 of 11 tahu cara memulai membuat alur tulisan atau cerita. Pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, terdapat beberapa permasalahan terkait tingkat keaktifan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa di kelas IV di SDN Semper Barat 05 Pagi. Pembelajaran di dalam kelas menghadapi suatu permasalahan, yaitu kurangnya kemampuan siswa dalam menulis. Hal ini terjadi karena minat siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia sangat rendah, sebagian besar karena dianggap Kekurangan latihan menulis dilakukan karena para siswa merasa jenuh dan kesulitan mengekspresikan ide mereka ke dalam bentuk tulisan. Hal itu membuat siswa mengalami kesulitan saat memulai aktivitas menulis, karena sebagian besar dari mereka memiliki keterbatasan dalam merangkai kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, dan memilih kata-kata yang tepat dan penggunaan EYD dengan benar. Kurangnya penggunaan media didalam proses pembelajaran membuat hal tersebut terjadi sehingga terjadi rendahnya nilai hasil evaluasi siswa. Kegiatan pembelajaran yang diharapkan pada konteks ini ialah pembelajaran serta melibatkan partisipasi aktif siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif serta mengekspresikan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Demi direncanakan secara sistematis. Ketersediaan media sebagai pendukung pencapaian tujuan pembelajaran sangat penting. Media di sini merujuk pada semua hal yang mengantarkan penyaluran informasi dari penyedia informasi kepada penerima Alat pembelajaran mencakup berbagai sarana yang dimanfaatkan untuk menyampaikan perintah dan bisa membangkitkan pemikiran, emosi, dan perhatian, serta motivasi peserta didik, agar bisa memfasilitasi proses pembelajaran yang terarah, bermaksud, dan tedisiplin (Miarso, 2. Perangkat ajar dapat diartikan sebagai semua hal yang digunakan dalam proses kegiatan pembelajaran untuk menguraikan konsep-konsep yang cenderung abstrak dengan cara yang lebih jelas. Media tersebut berperan dalam membangkitkan minat siswa serta membantu mereka dalam mengetahui isi pelajaran yang diajarkan oleh guru melalui komunikasi lisan (Idham. Media adalah bentuk jamak dari kata "medium" adalah istilah yang dapat ditemukan dalam kamus besar, yang artinya adalah perantara atau pengantar. Media pembelajaran mencakup berbagai macam elemen-elemen di sekitar peserta didik yang dapat mendorong perkembangan sikap belajar. (Siregar et al. , 2. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 38 of 11 Media pembelajaran pada dasarnya berfungsi sebagai saluran atau jembatan untuk mentransmisikan pesan atau bahan pembelajaran dari sumber pesan atau pengajar kepada penerima pesan atau siswa. Tujuan utama media ini adalah memastikan bahwa informasi tersebut dengan cepat diterima dan dipahami sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sarana pembelajaran yang disusun secara optimal memiliki potensi untuk membagkitkan terjadinya alur pikiran atau percakapan batin peserta didik. Dalam konteks penelitian ini penggunaan sarana berupa gambar seri dapat merangsang imajinasi serta inspirasi siswa pada menulis dan diharapkan melalui gambar seri siswa akan terampil dalam menuangkan ide yang berbentuk tulisan sederhana seperti cerita pendek (Aziezah, 2. Sedangkan menurut Kusmini . dengan pemanfaatan media gambar seri, peserta didik dapat dengan lebih efektif memahami materi yang diajarkan selama proses pembelajaran. Gambar-gambar ini memiliki peran utama dalam proses belajar-mengajar, jadi sebelum dimulainya pembelajaran, guru telah mempersiapkan gambar-gambar tersebut dalam berbagai ukuran, seperti kartu kecil atau ukuran besar. Gambar seri ini merujuk pada gambar yang menyajikan rangkaian kegiatan atau cerita secara berurutan. (Azhar Arsyad, 2. Keberhasilan media tersebut dapat diukur melalui peningkatan motivasi belajar siswa dan kemampuan mereka dalam memahami dan mengaplikasikan materi Dalam menanggulangi masalah tersebut, diperlukan pendekatan proses belajar yang lebih menarik dan melibatkan secara aktif, serta pemanfaatan media pembelajaran guna meningkatkan kemampuan menulis peserta didik. Penggunaan gambar seri tidak hanya memberikan elemen visual yang menarik, tapi juga membantu Dengan menghadirkan gambar-gambar berurutan, guru dapat memberikan panduan visual kepada siswa, membantu mereka memahami perkembangan cerita atau konsep secara Dengan memanfaatkan gambar-gambar seri ini, diharapkan siswa dapat lebih terlibat dalam proses pembelajaran, memperkuat pemahaman mereka terhadap materi, dan meningkatkan keterampilan menulis melalui ekspresi ide dan imajinasi yang terstimulasi. Metodologi Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan oleh guru sekaligus sebagai pengamat yang mengadapi permasalahan di dalam kelasnya. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan pendekatan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya bertujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran dan prestasi peserta didik. PTK merupakan suatu siklus berulang yang melibatkan E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 39 of 11 perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan evaluasi guna mencapai perbaikan dan PTK dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran, merumuskan tujuan perbaikan, dan merancang tindakan atau strategi yang akan dilakukan dalam kelas. Selanjutnya, guru menerapkan tindakan tersebut dalam pembelajaran dan mengumpulkan data melalui observasi, tes, atau instrumen lainnya. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengevaluasi dampak tindakan yang dilakukan. Setelah itu, guru melakukan refleksi terhadap data dan hasil evaluasi yang diperoleh. Guru mengidentifikasi keberhasilan dan kegagalan dari tindakan yang telah dilakukan, serta mempengaruhi hasil pembelajaran siswa. Berdasarkan refleksi ini, guru dapat merumuskan tindakan lanjutan untuk memperbaiki praktik pembelajaran. Kelebihan dari PTK adalah adanya keterlibatan guru secara langsung dalam melakukan penelitian di dalam kelasnya sendiri. Hal ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan tindakan dan strategi pembelajaran dengan konteks spesifik siswa dan kondisi kelas. Selain itu. PTK juga mendorong guru untuk menjadi peneliti yang reflektif, mengembangkan pengetahuan profesional yang lebih mendalam, dan berbagi temuan dengan rekan-rekan guru. Dalam konteks penelitian ini upaya menggunakan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerita pendek pada IV SDN Semper Barat 05 Pagi. PTK dapat memberikan kerangka kerja yang relevan melibatkan diri sebagai peneliti, dapat merencanakan dan melaksanakan tindakan-tindakan yang spesifik dalam kelas, mengamati dampaknya terhadap keaktifan belajar siswa, dan melakukan refleksi untuk terus memperbaiki praktik pembelajaran. Dengan demikian. PTK dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam meningkatkan pembelajaran dan mencapai tujuan penelitian. Subyek penelitian merupakan keseluruhan dari populasi penelitian(Arikunto. Sedangkan sejalan dengan Sugiyono . subyek termasuk komponen dalam populasi yang wilayah gerneralisasinya memiliki tingkat dan ciri khas tertentu yang telah ditetapkan oleh pengamat untuk diinvestigasi dan diambil keputusannya. Berdasarkan kedua teori dari ahli tersebut, subyek merujuk pada kelompok individu yang menjadi pusat perhatian penelitian dan dimana data dikumpulkan. Keputusan untuk memilih siswa kelas IV sebagai subjek penelitian didasarkan pada guru sekaligus peneliti mengajar di kelas IV, sehingga bisa mengetahui permasalahan yang tejadi di Subyek penelitian ini merupakan peserta didik kelas IV SDN Semper Barat 05 Pagi Kecamatan Praya. Kabupaten Lombok Tengah. Jumlahnya 22 peserta didik terdiri E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 40 of 11 dari 7 laki-laki, dan 15 perempuan. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu fase yang berulang dan berkesinambungan. Penelitian Tindakan Kelas ini memiliki empat komponen utama yakni, perencanaan, pengumpulan data, pengamatan, dan melakukan evaluasi. Proses pelaksanaan pada studi ini melalui 2 siklus. Sudah pasti, tahapan analisis data dilibatkan dalam studi ilmiah untuk mendaptkan hasil yang pasti. Maka teknik analisis data digunakan untuk menentukan apakah ada korelasi antara dua variabel, yaitu apakah ada peningkatan keterampilan menulis cerita pendek dengan penggunaan media gambar seri. Analisis data yang diterapkan pada studi ini yaitu pengolahan data melalui percobaan yang dapat mengevaluasi keterampilan peserta didik dalam menulis cerita pendek secara pribadi melalui gambar seri. Indikator keberasilan pada penelitian ini ditetapkan oleh peneliti dengan nilai rata-rata 75. Pengamat memanfaatkan panduan indikator metode penilaian kemampuan menulis yang diterapkan oleh RofiAouddin (Ahmad RofiAouddin, 2. Tabel 1 Indikator Penilaian Keterampilan Menulis Aspek Yang Dinilai Deskripsi Skor Pendapat yang Disampaikan Struktur Tata Bahasa Pemilihan Kata Ejaan dan Tanda Baca Pada studi tindakan kelas yang dilaksanakan, pengamat menyusun data dengan memanfaatkan tes atau hasil evaluasi akhir pertemuan pembelajaran. Penyusunan informasi yang diterapkan pada studi ini yakni melalui penggunaan tes, dengan tujuan untuk mengevaluasi keterampilan siswa dalam menyusun cerita pendek secara individu dengan bantuan gambar seri Prosedur pengolahan data dilakukan dengan cara: Untuk mencari skor siswa, penjumlahan dari masing-masing skor yang dihasilkan oleh Indikator . 2 3 . = skor siswa . Untuk mencari rata-rata . siswa per siklus Jumlah seluruh skor siswa Jumlah Siswa Pembahasan Guru menciptakan suasana pembelajaran yang inklusif dengan memberi siswa kesempatan untuk mempersiapkan segala peralatan belajar mereka. Setelah itu, guru E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 41 of 11 memberikan penjelasan menyeluruh tentang tujuan pembelajaran dan cara kerja siswa dalam membuat karangan sederhana. Dalam upaya meningkatkan pemahaman, guru memberikan peluang kepada siswa untuk bertanya, memastikan bahwa setiap konsep dipahami dengan baik. Setelah itu, guru mengelompokkan siswa, memastikan kerja sama dan interaksi antar mereka. Guru menyediakan gambaran konkret melalui Lembar Kerja Siswa (LKS), memberikan landasan untuk aktivitas berikutnya. Siswa diminta mencari kosa kata dalam gambar yang dibagikan dan mencatatnya, mengintegrasikan pemahaman mereka tentang materi. Waktu diberikan oleh guru untuk pengamatan dan pencatatan kosa kata dibatasi, memastikan fokus dan efisiensi. Selanjutnya, guru memberikan instruksi untuk kegiatan berikutnya, yaitu merangkai gambar sesuai dengan kegiatannya. Siswa diarahkan untuk membuat kalimat berdasarkan kosa kata yang ditemukan, membangun keterampilan linguistik mereka. Proses ini lebih lanjut ditingkatkan dengan menginstruksikan siswa merangkai kalimat-kalimat tersebut menjadi karangan/paragraph sederhana. Untuk meminta keterlibatan seluruh kelas, guru memerintahkan beberapa siswa dari setiap kelompok diminta untuk menyajikan hasil pekerjaan kelompok mereka. Ini menciptakan peluang bagi siswa untuk berbagi pemahaman mereka. Setelah presentasi, guru masing-masing menyeluruh tentang pencapaian kelas. Guru juga memberi peluang kepada peserta didik untuk melakukan evaluasi diri sendiri, mendorong refleksi individu. Berdasarkan deskripsi pelaksanaan di atas dapat dijelaskan bahwa semua tindakan telah dapat dilakukan oleh guru. Namun demikian dari hasil pengamatan terhadap tindakan pembelajaran yang dilakukan oleh guru belum secara optimal melaksanakan langkah pembelajaran. Masih banyak dari siswa yang kurang memperhatian dan menyampaikan tanggapan terhadap tindakan guru, guru sendiri terjebak dengan alokasi waktu yang tersedia dalam melaksanakan pembelajaran sehingga kadang kurang mengontrol aktivitas siswa. Nilai keterampilan menulis siswa terhadap pembelajaran yang diberikan sebelum siklus I memiliki rata-rata 63,6 maka dibulatkan menjadi 64. Setelah melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan gambar seri sebagai media pembelajaran, rata-rata nilai keterampilan menulis peserta didik mengalami peningkatan menjadi 70,5 dengan ketuntasan siswa sebanyak 14 orang. Dengan demikian jika dikaitkan dengan indikator keberhasilan tindakan pada penelitian ini, yakni rata-rata nilai kemampuan menulis 75 maka dari segi proses penelitian ini belum berhasil. Presentase peningkatan dari prasiklus ke siklus I adalah 63%. Maka, kondisi ini memerlukan fase selanjutnya yakni ke fase II. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 42 of 11 Keseriusan mengkaji siswa dalam kemampuan menulis terhadap pembelajaran yang dilakukan pada fase II tersebut memiliki standar 85. Hasil fase II ini, pencapaian ketuntasan siswa mengalami peningkatan yang yang maksimal. Dapat diperhatikan melalui hasil standar pada fase I sebanyak 70,5 sedangkan dalam fase II menunjukkan adanya peningkatan menjadi 85. Ini membuktikan bahwa jika dikaitkan dengan komponen kesuksesan tindakan yang ditetapkan dalam studi tersebut adalah 75 sedangkan pada penelitian siklus II ini mendapatkan 85, maka proses penelitian ini telah berhasil dan mengalami peningkatan sebesar 100%. Prasiklus Siklus I Siklus 2 Gambar 1. Grafik Perolehan Nilai Rata-Rata Pelaksanaan Dalam fase I guru telah menerapkan penggunaan gambar sebagi media secara optimal, ini terlihat dari aktivitas subyek selama pelaksanaan tindakan berlangsung secara keselururhan aktif dan termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran. Terjadi perubahan hasil rata-rata yang mengalami peningktan dari fase I ke fase II, yaitu dari nilai standar siswa 70 menjadi 85. Peningkatan ini mencerminkan kemajuan yang signifikan dalam pencapaian hasil pembelajaran kemampuan menulis. Dengan KKM yang ditetapkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia yakni 70. Pada siklus I, 14 siswa berhasil menyelesaikan pembelajaran, sementara 8 siswa tidak tuntas. Siswa dengan keberhasilan tertinggi pada siklus I adalah NIY dan SS menunjukkan bahwa penilaian pada aspek tata bahasa, gagasan, pemilihan diksi, dan ejaan tanda baca mencapai tingkat keunggulan dengan penilaian nilai yang memuaskan 80. Sedangkan nilai terendah adalah WY dan LAZ dengan nilai 60, menunjukkan bahwa terdapat ruang untuk perbaikan pada aspek tata bahasa, gagasan, pemilihan diksi, dan ejaan tanda baca. Namun, pada siklus II, seluruh siswa berhasil menyelesaikan pembelajaran, dengan nilai tertinggi NIY yaitu 95. Ejaan dan tanda baca merupakan indikator dengan nilai tertinggi, menunjukkan kemampuan yang sangat kompeten dalam menggunakan ejaan dan tanda baca dengan te- E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 43 of 11 Sedangkan nilai terendah yaitu AAS dengan nilai 76, tata bahasa merupakan tingkat indikator terendah, menunjukkan adanya kekurangan dalam penggunaan aturan tata Terdapat kesalahan dalam struktur kalimat atau penggunaan kata yang tidak Dalam hal peningkatan persentase nilai, terjadi kenaikan sebesar 15% dari siklus I ke siklus II . ari 70 menjadi . Jumlah siswa yang berhasil menyelesaikan pembelajaran juga meningkat dari 14 menjadi 22 orang. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses belajar-mengajar mengalami peningkatan nilai cukup tinggi, dan studi yang telah dilakukan ini dianggap berhasil. Pencapaian studi ini diperkuat oleh (Agustina, 2. Model pembelajaran kooperatif tipe roundtable dengan bantuan media gambar seri memungkinkan siswa membangun pengetahuan sendiri, menemukan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, berkolaborasi bersama dan memberi bantuan satu sama lain. Hasil temuan penelitian ini sesuai dengan studi terlebih dahulu yang dilaksanakan oleh (Aziezah, 2. Siklus I dan Siklus II menunjukkan siswa belajar menulis karangan dengan lebih baik. Dalam fase I, 5 anak dengan presentase pen- capaian 31,25%, dan dalam fase II, 14 peserta didik dengan pencapaian hasil 87,5%. Hal ini menunjukkan pada penggunaan gambar seri sebagai media dalam proses belajar-mengajar Bahasa Indonesia bisa membantu peserta didik belajar lebih baik. Hasil ini menunjukkan upaya yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pencapaian siswa serta menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan pada siklus II bekerja dengan baik. Sangat penting untuk memaksimalkan dan mempertahankan hasil yang telah dicapai dan dipelajari pada tujuan agar penggunaan gambar berurutan sebagai media bisa dilaksanakan secara konsisten pada kegiatan pembelajaran selanjutnya. Kesimpulan Usaha meningkatkan kterampilan menulis peserta pemanfaatan media gambar berurutan pada kegiatan belajar-mengajar khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kelas IV di SDN Semper Barat 05 Pagi sangat efektif dalam memperbaiki keterampilan menulis peserta didik. Dengan memanfaatkan gambar berurutan sebagai media pembelajaran dapat merangsang ide peserta didik dalam menggambarkan obyek dan menuangkan hasil pemikiran kedalam bentuk teks dan penggunaan ejaan kata sesuai kaidah EYD. Hal ini dapat dilihat dalam hasil pemanfaatan penggunaan gambar berurutan sebagai media, terdapat 6 peserta didik yang tuntas KKM. Namun setelah diberikan pembelajaran menggunakan media gmbar seri dalam fase I terdapat peningkatan menjadi 14 siswa yang tuntas dari KKM. E-ISSN : 2964-2973 P-ISSN: 2985-6000 44 of 11 selanjutnya pada fase II mengalami peningkatan yang nyata denga seluruh hasil siswa tuntas dari KKM. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan media gambar seri mampu meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek pada peserta Pembelajaran menggunakan media gambar seri dalam studi ini dan berdasarkan temuan pengamat, berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan oleh guru dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas. Dalam Indonesia, pemanfaatan media gambar seri melaksanakan pembelajaran tersebut. Bahasa Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran yang lain, guru dapat menggunakan alat peraga yang sesuai dengan materi yang diajarkan agar guru lebih mudah menjelaskan materi pembelajaran. Penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang baik dan relevan dianggap sebagai komponen penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, alat peraga ini sangat penting dalam proses pembelajaran. Selain itu, sangat penting untuk memotivasi siswa dengan berbagai pendekatan pembelajaran agar mereka tidak merasa bosan. Karena, penggunaan berbagai pendekatan pembelajaran dapat mempengaruhi suasana belajar menjadi menyenangkan. Disamping itu, berdasarkan pengalaman melakukan perbaikan pembelajaran melalui PTK, kiranya perlu buku penghubung di antara guru dan wali murid agar dapat saling mengisi kebutuhan siswa demi tercapainya tujuan pendidikan secara keseluruhan. Referensi