Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 STRATEGI GURU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNKASI VERBAL ANAK TUNARUNGU KELAS XI DI SLB NEGERI 1 GOWA Nurun Syardila Putri1. St. Kasmawati2, & Mustafa3 Universitas Negeri Makassar. Indonesia E-mail: nurunsyardila@gmail. E-mail: kasmawatihasyim22@gmail. 3E-mail: mustafa@unm. Artikel Info Abstrak Received: 11 Oktober 2024 Accepted: 28 April 2024 Published: 30 Mei 2025 Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa serta apa saja faktor pendukung dan penghambat strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Tujuan dalam penelitian ini adalah: Untuk mengetahui bagaimana strategi guru dalam meningkatkan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa dan Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat penerapan strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Wawancara, observasi, dan catatan lapangan digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini melibatkan 3 orang guru yang mengajar di kelas anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru yaitu strategi individualisasi dan strategi ekspositori dimana dalam hal ini guru menyesuaikan dengan perbedaan individu baik karakteristik, kebutuhan maupun perseorangan. Strategi ini berpusat kepada guru memegang peran yang sangat dominan serta materi diberikan pengulangan dalam hal ini komunikasi verbal siswa tunarungu mengalami peningkatan dari yang sederhana menuju kompleks. Adapun yang menjadi faktor pendukung dan penghambat guru dalam meningkatkan komunikasi verbal yaitu bersumber dari faktor internal dan eksternal anak tunarungu. This is an open access article under the CC BYSA license. Copyright A 2025 by Author. Published by CV Arthamara Media. Kata Kunci: strategi guru, komunikasi verbal, tunarungu PENDAHULUAN Pendidikan adalah hak asasi manusia yang diakui secara nasional dan internasional. Dalam Undang-Undang Dasar. Pasal 31 ayat . dinyatakan Ausetiap warga negara berhak mendapat pendidikanAy. Pendidikan tidak diperuntukkan bagi mereka yang memiliki fisik dan mental yang sehat saja akan tetapi anak berkebutuhan khusus juga mempunyai hak yang sama untuk memperoleh Rangkaian pembelajaran akan mencapai suatu keberhasilan jika menggunakan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran adalah tindakan yang dilakukan guru untuk memfasilitasi siswa dimana guru bertindak sebagai fasilitator agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Menuntut ilmu atau biasa disebut dengan Autransfer knowledgeAy dari guru kepada siswa, dapat diartikan bahwa pendidikan tidak bisa terlepas dari komunikasi. Keberhasilan dalam menganalogikan Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 tujuan pendidikan sangat erat kaitannya dengan efektifitas proses komunikasi yang berlangsung di sekolah (Nirbita dan Widyaningrum, 2. Komunikasi berfungsi sebagai penyampaian pikiran atau perasaan baik itu berupa ilmu pengetahuan maupun teknologi. Pengukuran keberhasilan informasi yang diperoleh siswa sangat ditentukan oleh keefektifan komunikasi. Untuk menghasilkan proses komunikasi yang efektif, guru terlebih dahulu harus memahami seluk-beluk komunikasi pendidikan diantaranya yaitu memberikan metode yang tepat dalam berkomunikasi, strategi untuk mengoptimalkan efektifitas kmunikasi, serta guru dituntut untuk menggunakan metode/strategi pembelajaran yang lebih bervariasi untuk menunjang suasana pembelajaran yang aktif dan tidak membosankan dengan melibatkan seluruh Guru sekolah luar biasa (SLB) bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak berkebutuhan Salah satu anak yang membutuhkan figure guru untuk menunjang perkembangan komunikasinya, sikap, dan keterampilan adalah anak tunarungu. Kristiana dan Widayanti . mendefinisikan tunarungu adalah anak yang mengalami ketidakmampuan dalam hal pendengaran yang menyebabkan mereka sulit berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Sehingga proses komunikasi yang terjadi pada anak tunarungu tidak mudah dipahami lawan bicaranya. Kendala yang akan sering dijumpai anak tunarungu dalam bersosialisasi yaitu komunikasi verbal/lisan, baik dari segi ekspresif . , maupun reseptif . emahami pembicaraan orang Kendala komunikasi tersebut akan berdampak pada pendidikan dan pembelajaran anak tunarungu serta interaksi sosial mereka karena komunikasi merupakan aspek terpenting dalam membangun sebuah relasi sosial. Komunikasi verbal ialah proses penyampaian pesan baik secara lisan maupun tulisan oleh dua orang atau lebih sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami. Komunikasi yang paling umum dan sangat efektif adalah bicara penerapan komunikasi verbal pada anak tunarungu diharapkan dapat mewujudkan eksistensi untuk mencapai taraf komunikasi yang selaras dengan anak normal lainnya, sehingga mereka dapat menjalani hidup yang layak seperti pada umumnya (Sari dan Restendy, 2. Kurangnya penguasaan bahasa verbal siswa tunarungu juga terjadi di SLB Negeri 1 Gowa. Berdasarkan hasil observasi atau pengamatan yang dilakukan pada tanggal 23 januarui 2023 di SLB Negeri 1 Gowa dengan bertemu langsung dengan kepala sekolah dan salah satu guru yang mengajar dikelas anak tunarungu. Diperoleh informasi dari ibu C salah satu wali kelas/guru tunarungu yang ada di SLB Negeri 1 Gowa bahwa siswa penyandang tunarungu mengalami kekakuan alat bicara/organ bicara, sehingga sulit memahami komunikasi verbal yang membuat mereka sulit berinteraksi secara lisan/tertulis. Ketika berinteraksi dengan orang lain mereka bicara atau ketika merasa kesulitan dalam mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan mereka biasanya menulis atau mengetiknya di Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 smartphonenya dengan bahasa atau kata-kata yang terbalik-balik dan menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga berdampak pada interaksi sosial dan prestasi akademik Permasalahan utama yang dihadapi oleh guru disekolah untuk siswa tunarungu yaitu pengembangan kebahasaan dalam fungsinya sebagai alat berkomunikasi, baik secara oral . maupun manual . Dilihat dari tingkat kesulitannya, pembinaan bahasa verbal lebih sulit jika dibandingkan dengan bahasa non verbal. Hal ini disebabkan oleh tidak berfungsinya organ pendengaran secara normal, akibat dari kondisi yang demikian anak tidak dapat menangkap dan merespon bunyi-bunyi ujaran yang datang kepadanya dengan baik. Anak melihat segala sesuatunya sebagai peristiwa yang bisu dan tidak memberikan kesan suara apapun. Kondisi ini juga menyebabkan anak tidak terbiasa mengucapkan dan mengerti bagaimana bunyi-bunyi ujaran dibentuk melalui alat ucap, sehingga hal ini menjadikan anak mengalami kesulitan dalam berbahasa oral dan berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Peran guru dalam membimbing siswa harus betul-betul ekstra untuk memberikan arahan atau bimbingan terkhusus kepada peserta didik yang mengalami gangguan indra pendengaran,. Oleh karenanya guru anak tunarungu memerlukan kesabaran penuh dalam mengajar siswa tunarungu, penyampaian pesn harus tepat pada sasaran agar maksud dan tujuan pembicaraan tercapai, dan ini tidak terlepas dari bahasa tulisan atau ucapan yaitu komunikasi verbal. Banyak hal yang perlu diupayakan dalam pembinaan anak-anak tunarungu. Salah satu yang mendesak untuk ditangani yaitu menyangkut proses pembinaan dan pembelajaran disekolah sampai saat inipun belum diperoleh hasil yang optimal. Banyak diantara sekolah-sekolah yang menangani para penyandang tunarungu yang dilakukan sekedarnya, tanpa memperhatikan kondisi dan strategi pembelajaran yang memadai. Fenomena tersebut membuat peneliti tertarik untuk menganalisis tentang masalah-masalah yang peneliti dapatkan dari beberapa uraian diatas dimana siswa tunarungu betul-betul sulit dalm berkomunikasi secara verbal baik itu lisan maupun tulisan, sehingga penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul AuStrategi Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Verbal Anak Tunarungu Kelas XI Di SLB Negeri 1 GowaAy. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu strategi penelitian yang menekankan pada pencarian makna, ciri, gejala, symbol, atau deskripsi dari fenomena yang bersifat alami serta disajikan dalam bentuk naratif. Penelitian ini hanya ingin menggambarkan keadaan atau kondisi guru dan siswa dalam proses pembelajaran dikelas sesuai dengan fakta dan keadaan yang terjadi di SLB Negeri 1 Gowa. dimaksudkan untuk mendapatkan Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana strategi yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Metode deskriptif diartikan sebagai penelitian yang tujuannya menggambarkan secara nyata, realistik, fenomena yang terjadi pada saat ini, mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai objek atau subjek yang diteliti secara mendalam, luas dan terperinci. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Fokus penelitian pada penelitian ini adalah strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal pada anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Fokus penelitian dalam penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai berikut: Strategi guru ialah tindakan guru dalam melaksanakan rencana mengajar, yaitu usaha guru dalam menggunakan variabel pengajaran . ujuan, bahan, metode, dan alat serta evaluas. agar dapat mempengaruhi para siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi verbal siswa penyandang tunarungu berupa kata-kata yang diucapkan langsung . atau melalui tulisan, bisa dilakukan secara langsung atau dengan perantara media, seperti berinteraksi menggunakan media atau telepon genggam, pembinaan berbahasa dan komunikasi verbal disekolah merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan dalam bidang-bidang Lokasi pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Jl. Kacong Dg. Lalang No 52 tepatnya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Prosedur pengumpulan data merupakan langkah awal dalam melakukan sebuah penelitian, karena tujuan utama dari penelitian ini adalah mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut: Wawancara Peneliti mengumpulkan data dengan melakukan Tanya jawab dengan menggunakan wawancara terbuka dengan guru anak tunarungu tentang proses pembelajaran siswa di SLB Negeri 1 Gowa. Adapun proses wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur yaitu dengan pertanyaan bebas namun tidak keluar dari data yang akan diteliti dengan menyiapkan daftar pertanyaan, sehingga memberi kebebasan kepada narasumber mengungkapkan pendapatnya dan tetap dalam konteks permasalahan penelitian Observasi Peneliti melakukan observasi pada awal atau pra-observasi dengan mengunjungi dan mengamati keadaan lokasi penelitian kemudian hasil pengamatan ditulis dalam sebuah catatan, tujuannya adalah untuk mendapatkan dan mengetahui data atau informasi sebenarnya. Dan penelitian ini Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 berfokus pada strategi pembelajaran yang digunakan guru dalam hal pendekatan mengenai, pendekatan, metode, dan media pembelajaran. Dokumentasi Dokumentasi adalah pengambilan data yang dikumpulkan melalui data atau dokumen-dokumen. Dokumentasi dapat digunakan untuk mencari data atau informasi tentang masalah yang ingin diteliti dapat berupa sketsa, gambar atau foto kegiatan selama penelitian, serta dokumentasi yang berbentuk tulisan seperti buku, arsip-arsip, atau data-data di SLB Negeri 1 Gowa. Sumber data ini merupakan salah satu aspek yang sangat penting digunakan dalam penelitian guna menjelaskan vaild atau tidaknya suatu penelitian. Data dalam penelitian ini bersumber dari subjek penelitian yaitu guru anak tunarungu kelas XI, guru mata pelajaran pendidikan agama islam, dan guru mata pelajaran bahasa inggris Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan uji creadibility dengan menggunakan tekhnik triangulasi. Menurut Sugiyono . 3: . triangulasi dalam pengujian kreadibilitas data berarti memeriksa data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Adapun pengecekan data atau validitas dalam keabsahan data ada 3 yaitu: Triangulasi waktu Menguji validnya data dengan wawancara, observasi, atau teknik lain pada waktu dan situasi yang Jika menghasilkan data yang berbeda maka dapat kembali dilakukan secara berulangulang sehingga data-data yang diperoleh dapat ditemukan kepastian datanya. Triangulasi sumber Pengujian kredibilitas data dilakukan dengan cara memeriksa data atau informasi yang sudah Memfokuskan menggabungkan data awal yang dimiliki kemudian digabungkan dengan sudut pandang atau perspektif dalam jawaban responden seiring dengan wawancara yang dilakukan dalam proses pengumpulan data. Triangulasi teknik Untuk menguji kreadibilitas data dengan cara mengecek data kepada kepada sumber yang sama dengan tekhnik berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi atau koesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kreadibilitas tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar. Proses analisis data untuk penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data dan selama penelitian berlangsung. Menurut Hardani . AuAnalisis data ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis, data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara, catatan lapangan, dan Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 dokumentasi yang cenderung menggunakan kata-kata untuk menjelaskan fenomenaAy. Teknik analaisis data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis analisis data berdasarkan pendapat dari Miles dan Huberman (Hardani, 2020: 163-. Antara lain yaitu : Reduksi Data Pada tahap ini, reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, atau merangkum. Penulis mereduksi data dengan cara mencatat, data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, maka dari itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal penting, baik itu dari hasil observasi dan wawancara maupun yang terdapat pada kepustakaan. Reduksi data atau pengurangan adalah data yang diperoleh atau didapatkan dari penelitian dan setelah diuraikan. Data yang diperoleh jika dianggap kurang valid akan dihilangkan dan tidak dimasukkan kedalam pembahasan. Sehingga peneliti tidak mengalami kesulitan untuk mengumpulkan data yang diperlukan secara rinci dan benar serta data yang diperoleh tidak banyak dan rumit, kemudian memberikan gambaran yang jelas tentang hasil penelitian. Data-data yang terkait dengan strategi guru dalam meningkatkan komunikasi verbal anak tunarungu direduksi untuk digolongkan kedalam tiap permasalahan sehingga data dapat ditarik kesimpulannya. Penyajian Data Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya dalam penelitian kualitatif yaitu penyajian data, penyajian data bisa dilakukan dalam uraian singkat. Data yang diperoleh dari hasil penelitian, penulis menguraikan setiap permasalahan dalam pembahasan secara umum kemudian penjelasan yang lebih spesifik secara ilmiah oleh peneliti tanpa menutup-nutupi kekurangan. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Langkah selanjutnya menarik kesimpulan dan verivikasi, setelah data diolah dan disajikan akan diperoleh kesimpulan yang diharapkan dapat memberikan gambaran umum secara singkat dari seluruh isi dalam penulisan penelitian ini serta untuk memberikan informasi yang valid. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil observasi tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa, berjalan menyesuaikan keadaan dan kebutuhan siswa. Penyampaian materi secara langsung dari guru ke siswa tidak dituntut untuk mencari materi pembelajaran sendiri, materi diberikan secara berulangulang, guru sering mengajukan pertanyaan, mengurangi kesulitan serta praktek yang dilakukan siswa baik didalam dan diluar kelas saat proses pembelajaran. Hanya saja pada proses pembelajaran siswa Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 kurang fokus mengingat mereka memiliki kompetensi berbahasa pada anak tunarungu tergolong sangat rendah, sebagai akibat dari kondisi tidak berfungsinya organ pendengaran secara normal. Strategi dalam belajar mengajar merupakan suatu susunan penting dalam perencanaa, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Ada banyak model dan strategi yang dapat digunakan dalam Namun, tidak semua strategi cocok untuk mengajarkan semua mata pelajaran atau untuk semua peserta didik. Strategi harus dipilih secara cermat agar dapat digunakan secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran. sehingga dapat membantu peserta didik mencapai kompetensi yang Salah satu wawasan yang harus dimiliki guru adalah tentang strategi belajar mengajar, berkaitan dengan hal tersebut guru harus memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan strategi pembelajaran, karena dengan kemampuan memilih strategi pembelajaran yang tepat, maka guru akan melaksanakan kegiatan pembelajaran secara efektif. Selain itu guru dapat meningkatkan semangat, aktif dalam belajar serta memiliki rasa ketertarikan peserta didik untuk selalu belajar. Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan atau gambaran untuk bertindak dalam usaha untuk mencapai tujuan yang ditentukan, dihubungkan dalam konteks belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan siswa dalam perwujudan pembelajaran tercapai secara efektif dan efisien (Hutami dkk. , 2. Jadi dengan demikian strategi pebmbelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan menggunakan cara mengajar seperti metode, bahan ajar, alat atau media, serta evaluasi yang dapat mempengaruhi peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Diketahui bahwa setiap guru harus memiliki strategi dalam memberikan pembelajaran kepada siswa karena hal ini merupakan salah satu upaya guru untuk mengatasi masalah selama proses pembelajaran berlangsung. khususnya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi verbal terkhususnya guru yang mengajar anak tunarungu ini agar siswa memahami ataupun mengerti tentang pelajaran yang disampaikan. dan ada banyak cara guru dalam memberikan strategi pembelajaran. Setelah melakukan wawancara dari beberapa informan baik itu dari guru kelas, guru pendidikan agama islam, dan pendidikan bahasa inggris, dapat disimpulkan oleh penulis bahwa banyak strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk mencapai ketuntasan belajar dan hasil belajar optimal, mudah dipahami, dan tersampaikan dengan baik kepada peserta didik terutama siswa tunarungu ini. Dan temuan penelitian di SLB Negeri 1 Gowa yang digunakan adalah strategi dimana menurut (Ningrum, 2. strategi ini merupakan strategi pembelajaran dengan mempergunakan suatu program yang disesuaikan dengan perbedaan individu baik Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 karakteristik, kebutuhan maupun secara perseorangan. Perbedaan individual peserta didik tersebut memberikan wawasana kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada peserta didik dengan tingkat penguasaan optimal. Kemudian strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran adalah strategi ekspositori menurut Miarso yang mana strategi ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi secara optimal (Nasution,2. Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru, sebab dalam strategi ini guru memegang peranan penting dan sangat dominan, sehingga dalam proses komunikasi, guru berfungsi sebagai sumber pesan, sedangkan siswa sebagai penerima pesan. Melalui strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Strategi selanjutnya yang digunakan oleh guru pendidikan agama islam dalam kegiatan pembelajarannya adalah strategi modifikasi perilaku, suatu bentuk strategi pembelajaran yang bertolak dari pendekatan behavioral. Strategi pembelajaran ini bertujuan untuk mengubah perilaku siswa kearah yang lebih positif melalui conditioning dan membantunya agar lebih produktif sehingga menjadi individu yang mandiri (Purwanti, 2. Selain beberapa strategi pembelajaran diatas yang telah dijelaskan ada juga strategi yang membantu guru dalam mengajar siswa tunarungu diantara strategi tersebut adalah strategi kooperatif. Menurut (Nasution, 2. strategi kooperatif merupakan strategi pembelajaran secara berkelompok yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas yang terstruktur. Cooperatife learning merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil . mpat dampai enam peserta didi. dengan latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda untuk mengembangkan kemampuan dalam mempelajari objek,dimana dalam hal ini berpusat pada peserta didik (Irawati dan Praherdhioono, 2. Berdasarakan dari hasil wawancara yang telah dilakukan dengan guru-guru yang mengajar di kelas XI (B) di SLB Negeri 1 Gowa bahwasanya strategi kooperatif ini tidak digunakan dalam pembelajaran, karena dengan menggunakan sistem pengelompokkan dalam proses belajar mengajar siswa tunarungu di SLB Negeri 1 Gowa ini tidak efektif digunakan mengingat jumlah siswa tunarungu hanya ada dua orang saja. Selain itu itu strategi ini membutuhkan waktu yang lama bagi guru dan siswa, dan untuk siswa tunarungu mengajarinya secara perseoranganpun terbilang susah aapa lagi harus dibuat kelompok. Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 Demikian gambaran dari sebagian strategi guru dalam meningkatkan kemampuan komunikasi verbal anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa tentunya strategi akan mengalami dinamika yang terus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Dengan menggunakan strategi tersebut diperoleh peningkatan komunikasi verbal siswa tunarungu dari yang sederhana menuju kompleks yang tentunya didukung oleh media pembelajaran serta layanan khusus untuk siswa tunarungu. Menurut Slameto faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja yaitu: faktor internal dan faktor ekdternal. Faktor internal yang ada dalam individu seseorang sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu (Nuzuli, 2. Faktor pendukung Faktor pendukung dalam proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor pendukung paling besar bagi siswa tunarungu dalam hal ini yaitu berasal dari faktor eksternal. Faktor pendukung yang pertama yakni keluarga khususnya orang Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga. Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia. Betapa pentingnya peranan keluarga didalam pendidikan anaknya. Maka disini peran keluarga sangatlah dibutuhkan dan berperan penting dalam proses belajar anaknya (Nuzuli, 2. Selain itu yang menjadi faktor pendukung dalam proses pembelajaran yaitu sekolah. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup yang mana didalamnya terdapat guru yang Guru merupakan salah satu faktor penentu, pertimbangan semua faktor diatas akan sangat bergantung pada kreatifitas guru dedikasi dan kemampuan gurulah yang pada akhirnya mempengaruhi proses pembelajara. Kemudian sekolah juga mencakup tentang metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, sarana dan prasarana. di SLB Negeri 1 Gowa sekolah mendukung siswanya dengan adanya programprogram seperti layanan khusus, kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler seperti melukis, menari, menjahit, dan lain sebagainya yang membantu mendukung dan mendorong bakat dan minat disetiap masingmasing siswa serta sekolah bekerja sama yang baik dengan keluarga untuk ikut berperan aktif dalam memajukan pendidikan. Available online at http://w. id/index. php/jmp JURNAL METAFORA PENDIDIKAN Vol 3. No 2. Mei 2025, hal 33-43 E-ISSN: 3025-0102 Faktor Penghambat Adanya faktor pendukung, maka terdapat pula faktor penghambat dalam proses pembelajaran pada anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa salah satu faktor penghambatnya adalah berasal dari dalam siswa itu sendiri yakni kondisi fisik tunarungu itu sendiri. Siswa sebagai pihak yang berkepentingan dalam proses pembelajaran, sebab tujuan yang harus dicapai semata-mata untuk mengubah perilaku serta meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa itu sendiri (Nuzuli. Dari pemaparan di atas dapat dipahami bahwa mengajar anak berkebutuhan khusus terutama siswa tunarungu tidaklah semudah mengajar anak normal pada umumnya. Faktor siswa sangat mempengaruhi dalam proses pembelajaran bersumber dari keadaan tunarungu itu sendiri yang membuatnya terganggu dan terhambat menerima penjelasan dan pemahaman yang diberikan guru. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang berjudul AuStrategi Guru Dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Verbal Anak Tunarungu Kelas XI di SLB Negeri 1 GowaAy. setelah semua tahap penelitian yang dilakukan pada akhirnya peneliti dapat menyimpulkan: Strategi guru dalam mengajar anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa diantaranya strategi individualisasi alasan strategi ini digunakan dalam pembelajaran siswa tunarungu karena strategi ini menyesuaikan dengan perbedaan individu baik karakteristik, kebutuhan maupun secara perseorangan, kemudian juga ada strategi ekspositori yang mana strategi ini berpusat kepada guru, guru memegang peran yang sangat dominan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara verbal dan terstruktur demi tercapainya materi pembelajaran, serta materi diberikan pengulangan. Faktor pendukung dan Penghambat Guru dalam mengajar anak tunarungu kelas XI di SLB Negeri 1 Gowa. Faktor pendukung yang pertama ada keluarga, dukungan dan dorongan penuh dari orang tua siswa yang turut membantu guru disekolah dalam mendidik siswa. Selain itu dukungan dari sekolah yang memberikan pendidikan layak bagi anak tunarungu, sekolah memfasilitasi sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Sedangkan faktor penghambat yaitu kondisi fisik anak tunarungu itu sendiri yang disebabkan oleh hambatan akibat gangguan pada indra pendengaran sehingga beberapa informasi dari guru menjadi sulit untuk diterima. DAFTAR PUSTAKA Irawati. & Praherdhioono. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Terhadap Kecakapan Vokasional Garnhishing Food Siswa Tunarungu. Jurnal Pendidikan Unsika, (Onlin. Hardani. Andriani. Ustiawaty. Utami. Istiqomah. Fardani. Sukmana. Auliya. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka