Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 5 NOMOR 2. SEPTEMBER 2024 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 POLA ASUH ORANG TUA DI ERA DIGITAL DALAM MEMBENTUK KEPEKAAN SOSIAL ANAK Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Institut Agama Islam Negeri Pamekasan Institut Agama Islam Negeri Pamekasan Institut Agama Islam Negeri Pamekasan Email: quraisysherly98@gmail. Abstract Parenting is the way and how parents behave in protecting their children in the process of education, guidance and This research aims to form children's social sensitivity in today's digital era. This study uses qualitative research with a type of descriptive case study research. Thus, the results of the research after conducting data analysis through research techniques . bservation, interviews and documentatio. First, the parenting style of parents in West Coast Hamlet of Dharma Camplong is that parents apply a democratic parenting style and in Bajur Tamberu Daya Hamlet, some parents use democratic parenting and a small number apply authoritarian parenting. Second, the impact of the use of digital media has a great influence on the process of education, parenting, guidance and parental supervision of children, both from the side of parents who use devices and from among their children. Third, there are several supporting and inhibiting factors in the parenting process, especially the family environment, which is the most influential factor in the growth and development process of foster care participants . Keywords: Parenting Style. ChildrenAos Social Sensitivity Abstrak Pola asuh orang tua merupakan cara dan bagaimana sikap orang tua dalam mengayomi anak-anaknya pada proses pendidikan, bimbingan dan pengawasan. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk kepekaan sosial anak di era yang serba-serbi digital seperti saat ini. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus Dengan demikian, hasil penelitian setelah melakukan analisa data melalui teknik penelitian . bservasi, wawancara dan dokumentas. Pertama, pola asuh para orang tua di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong adalah para orang tua menerapkan bentuk asuh demokratis dan di Dusun Bajur Tamberu Daya ialah sebagian orang tua menggunakan pola asuh demokratis dan sebagian kecilnya menerapkan pola asuh otoriter. Kedua, dampak penggunaan media digital begitu berpengaruh terhadap proses pendidikan, pengasuhan, bimbingan serta pengawasan orang tua terhadap anak-anak, baik dari sisi orang tua yang menggunakan perangkat ataupun dari kalangan anak-anaknya. Ketiga, terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam proses pengasuhan orang tua, terutama lingkungan keluarga, merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam proses tumbuh kembang peserta asuh . Kata kunci: Pola Asuh Orang Tua. Kepekaan Sosial Anak PENDAHULUAN Dalam pendidikan terdapat berbagai instrumen pendidikan guna membantu proses terlaksananya Pada saat ini, sebagian besar lembaga pendidikan menggunakan media pendidikan dari sistem teknologi, bahkan dalam pendidikan keluarga. Hal tersebut sering kita sebut dengan era digital, era digital diidentifikasi dengan berkembangnya teknologi beserta berbagai perangkatnya. Sejauh ini, berkembangnya digital banyak memberikan pengaruh dalam aspek-aspek kehidupan di berbagai kalangan individu. Salah satu pengaruh dari perkembangan digital yaitu cukup membantu setiap individu dalam bidang pendidikan keluarga, bahkan ada yang sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat dilepas dari individu. Namun, penggunaan media digital di rumah kurang juga mendukung dalam meningkatkan kualitas kekeluargaan, bahkan kerap sekali para anggota keluarga berkumpul . amily tim. untuk sekedar interaksi bersama, dikarenakan lebih tertarik menghabiskan waktu dalam menggunakan perangkat digital. (Fatmawati & Sholikin, 2. Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan budaya. Hampir semua bangsa Indonesia menggunakan perangkat digital yang berupa gadget atau smartphone . , mulai dari anakanak hingga orang tua. Berdasarkan hasil penelitian dari Ria Novianti dan Meyke Garzia menyatakan, bahwa 42,1% dari anak prasekolah yang terkena gadget relatif tinggi terbukti penggunaan gadget pada anak prasekolah yang menonton video atau bermain game. (Novianti & Garzia, 2. Dewasa ini, para orang tua di era digital yang mana sering disebut dengan orang tua milenial. Generasi milenial muncul pada keadaan yang serba teknologi, logisnya mereka akan mengalami adaptasi dengan cepat, sehingga teknologi membantu generasi ini dalam menjalankan fungsinya, namun dengan berjalannya waktu terdapat misunderstanding pada penggunaan teknologi. (Wet al. , 2. hal ini juga merupakan suatu tantangan bagi mereka para orang tua dalam meminimalisir penggunaan perangkat digital pada pendekatan pola asuh terhadap anak-anaknya, yang seyogyanya berada di tengah-tengah gempuran perkembangan teknologi. Menurut paparan Muhaimin dan Elsap yang dikutip oleh Laili Syarifah dalam artikelnya, bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi karakter seseorang adalah lingkungan keluarga, keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang untuk mengenyam pendidikan, keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, kepribadian, nilai budaya, keagamaan dan akhlak. (Syarifah et al. , 2. Oleh sebab itu, keluarga merupakan tempat pertama dan media pertumbuhan karakter pada anak. Pola asuh merupakan desain atau bentuk pendidikan yang dipraktikkan dalam penjagaan, perawatan, dan pendidikan seorang anak sebagai bentuk pertanggungjawaban orang tua terhadap anaknya. Setiap orang tua mempunyai cara dan desain tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak-anaknya. Cara dan desain yang digunakan para orang tua tidak sama antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya. Allah dalam kitab-Nya al-Karim surat Ibrahim ayat 24-26 berfirman: a A a a nA a AacEEa aIa E aE aE aI A A a aO a aEEa aNA A aI aA a AOaa aEA A aN AaO E NA a A aOAa A aAOaa s aA Ea aN aA A NA a A aA a a a AaEa I aa aE OA AOI aua aI a a aN aO aOA A a a s a aOa sA a A aO aIa aE aE aE aI s a aOa n aEAu aA Ea aEN aN I aOaa NE aOIA a A aA a AacEE E a Ia aE aEEINA aA NA a a AaE NE aA A aI Ea aN aII Ca a nA a AC E a A a AaN aII Aa OA AuTidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya . ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap . sedikitpun Ay (Al-QurAoan, n. Dari ayat di atas menegaskan bahwa pola asuh yang baik akan memberikan persepsi yang baik juga pada anak. Dan persepsi yang baik akan memudahkan untuk membangun hubungan yang hangat antara orang tua dan anak. Perkembangan relasi antara orang tua dan anak akan baik jika keduanya saling menanamkan Keterbukaan sangat dibutuhkan supaya keduanya bisa saling mengerti satu dengan lainnya. (Isnaeni et al. , 2. Oleh karena itu, orang tua merupakan pimpinan dalam kehidupan kekeluargaan. Orang tua memiliki peran krusial dalam pendidikan para anggota keluarga, bahkan bentuk atau pola pendidikan seperti apa dan bagaimana, itu sangat berpengaruh bagi pertumbuhan anak-anak, baik dari sisi psikomotorik, afektif dan kognitif. Pembentukan akhlak dan karakter dilakukan dalam pendidikan orang tua atau lingkungan keluarga termasuk juga kepekaan sosial, pendidikan seperti itu dilakukan sejak usia dini, bahkan saat bayi, di mana seseorang baru menghirup udara bumi. Karena usia dini merupakan golden age bagi seseorang, yang mana pada masa tersebut, seseorang mengalami perkembangan yang pesat terutama untuk kecerdasan otak. Pada masa golden age ini, mereka dengan mudah menirukan apa yang mereka lihat dan dengar. Maka dari itu, perlu ditanamkan pembentukan perilaku baik, karakter, kepribadian, serta kepekaan sosial pada anak. Seperti yang dipaparkan oleh Sukatin dan kawannya dalam artikelnya, bahwa perkembangan sosial selama 2 tahun pertama yaitu bersosial dengan teman sebaya, perkembangan perilaku social atau empati anak dimulai sejak usia 12 bulan, ketika bayi merespon kesedihan orang lain. (Sukatin et al. , 2. Berdasarkan pengamatan peneliti di desa Camplong dan Tamberu, peneliti mengamati beberapa bentuk asuh yang diberikan para orang tua kepada anak-anaknya. Ada beberapa model pola asuh orang tua di era digital saat ini yang terjadi di desa Camplong dan Tamberu. Ada Sebagian orang tua yang sangat protektif, karena melihat bahayanya pergaulan jaman sekarang, dan ada orang tua yang cukup santai/tidak terlalu protektif, hal ini terjadi pada orang tua yang terlalu sibuk dengan keadaannya, sehingga kurang begitu memperhatikan anak-anaknya. Sebagian orang tua ada yang tampak peduli dan tidak peduli, artinya mereka Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 peduli dengan memberikan pendidikan terbaik kepada anak di sekolah unggul agar tidak tertinggal, serta orang tua yang kurang peduli tidak begitu ikut serta dalam pendidikan anaknya. Adapun dalam hal penggunaan perangkat digital berupa Hp/android, terdapat beberapa orang tua yang mencoba membatasi anak secara langsung untuk bersinggungan dengan Hp, hal ini dilakukan kepada anakanak balita. Ada juga orang tua yang menjadikan Hp sebagai kunci untuk mendiamkan anak saat rewel, karena disibukkan juga dengan pekerjaan mereka sendiri. Kemudian dalam kepekaan sosial anak yang terlihat di era digital saat ini, mereka lebih cenderung peka dan peduli terhadap tren dan berita-berita yang mereka liat di media sosial dari pada lingkungan sekitar, artinya mereka lebih peduli pada hal yang terjadi di lingkungan yang jauh dari pada hal yang terjadi di lingkungan Ada sebagian orang tua yang tidak melibatkan anak secara langsung dengan sosial ini, seperti ada sanak saudara yang sedang sakit, mereka hanya merespon dengan Auoh sakitAy, tidak ada rasa penasaran mendalam kenapa sakit dan bahkan untuk menjenguknya. Anak-anak lebih peka pada peristiwa yang bersifat tren/famous yang mereka lihat di media sosial dari pada peristiwa yang terjadi langsung di lingkungan sekitar. Adanya proses penelitian ini, sebagai seorang peneliti ingin melihat anak-anak terawat secara jasmani dan rohani, memiliki akhlak dan perilaku baik dan sopan, mendapatkan pendidikan yang baik, serta terjaga dari pergaulan yang liar dan terhindar dari penyalahgunaan media sosial. Dari beberapa temuan penelitian terdahulu, peneliti terdorong untuk mengkaji lebih lanjut tentang kepekaan sosial anak yang dibentuk melalui pola asuh orang tua dengan memahami dampak penggunaan perangkat digital pada anak-anak dan bagaimana pengalaman para orang tua mendesain pola asuh mereka dalam proses pendidikan anak-anaknya. METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan upaya peneliti agar penelitian yang dilakukan tidak diragukan kualitasnya, dan dapat dipertanggung jawabkan validalitasnya secara sistematis. Untuk itu, peneliti menggunakan paradigma penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus deskriptif. Menurut Nasution, penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengertian serta pemahaman terkait peristiwa atau perilaku manusia dalam (Rukajat, 2. Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, sebagaimana teori John W. Creswell bahwa studi kasus merupakan penelitian yang menggali suatu fenomena . dan kegiatan . rogram, even, proses, institusi atau kelompok sosia. , serta mengumpulkan informasi atau data secara terperinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode tertentu. (Assyakurrohim et al. , 2. Teknik penelitian ini menggunakan teknik yang pada umumnya digunakan oleh banyak peneliti, yaitu teknik observasi, wawancara dan dokumentasi sebagai pendukung data-data yang dihasilkan. Manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah bagi peneliti sendiri, penelitian ini ditulis untuk menambah pengetahuan tentang pola asuh orang tua di era digital. Adapun kegunaan untuk instansi tempat peneliti mengenyam pendidikan ialah sebagai tambahan pengetahuan dan khazanah pendidikan, serta rujukan/referensi pendukung untuk penelitian yang akan mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Asuh Orang Tua pada Era Digital dalam Membentuk Kepekaan Sosial Anak di Dusun Pesisir Barat Desa Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya Istilah pola asuh atau parenting style merupakan gabugan dari dua kata yang bermakna bentuk atau desain penjagaan dan perawatan. Menurut Poerwadarminta, pola asuh adalah bentuk penjagaan, perawatan, pendidikan, dan pembinaan anak supaya bisa mandiri. Menurut pendapat Bacon yang dikutip oleh Ani Siti Anisah dalam tulisannya bahwa, pola asuh adalah perlakuan orang tua kepada anak-anaknya sejak masa kecil yang berdampak terhadap perkembangan sosial moralnya. Perkembangan sosial moral inilah yang akan membentuk watak, sifat dan sikap anak kelak masa dewasanya. (Anisah, 2. Kohn dalam Agustiawati yang dikutip oleh Adristinindya menegaskan bahwa pola asuh adalah bagaimana orang tua melakukan interaksi dengan anak-anaknya guna untuk mendidik dan mengasuh anak. Hal ini dapat diamati dari berbagai sisi, yaitu cara orang tua memberikan kebijakan dan kedisiplinan kepada anak, cara orang tua memberikan reward dan punishmet, cara orang tua menjalankan tanggung jawab, dan cara orang tua memberikan kasih sayang serta perhatian sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan anak secara baik. (Utami & Raharjo, 2. Setiap orang tua memiliki bentuk asuh yang berbeda-beda. Pengasuhan orang tua berdasarkan pada kondisi lingkungan keluarga dan letak geografinya, termasuk juga pada karakter yang dimiliki setiap orang Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Bahkan bisa saja pola asuh ketika anak masih kecil berbeda dengan pola asuh anak yang tumbuh dewasa, karena seiring berjalannya waktu, anak-anak sudah mulai menginjak masa pergaulan, baik dengan teman sebaya atau teman yang lebih tua dan lebih muda, serta ketika anak sudah mulai mengenal khalayak banyak. Sehubungan dengan beberapa pemaparan teori di atas bahwa hasil dari temuan penelitian di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya terhadap pola asuh orang tua di era digital dalam membentuk kepekaan sosial anak. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bentuk asuh orang tua di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong terlihat keras namun tidak kasar sebagai indikator pola asuh utama, sesuai dengan karakter penduduk pesisir yang mana dipandang sebagai masyarakat yang mayoritas berwatak keras dan tegas, karena letak geografis yang mereka tempati yakni pinggiran pantai. Berbeda dengan Dusun Bajur Tamberu Daya yang merupakan daerah pegunungan dan pedesaan, pola asuh orang tua didasarkan pada tradisi dan kebiasaan, terlihat karakter penduduk desa yang lembut namun tegas, sebagian besar masyarakat di Dusun Bajur ini mendesain bentuk asuh dengan kebijakan-kebijakan yang sudah tidak bisa diotak-atik atau dipengaruhi langsung oleh peserta asuh . Sebagian besar pemikiran penduduk gunung ini masih dikategorikan tradisional . emikiran orang-orang terdahul. , karena banyak dari mereka yang belum bahkan tidak tercampuri dengan trendnya media sosial yang terakses seperti saat ini. Sehingga menjadikan bentuk asuh masyarakat gunung yang tradisional, berlandaskan pada apa yang mereka dapatkan serta pengalamannya saat mendapatkan pengasuhan dari orang tua mereka terdahulu. Berdasarkan teori, pola asuh seperti ini termasuk pada ketegori pola asuh otoriter, yaitu mengasuh anak dengan kebijakan penuh berada pada kekuasaan orang tua, yang mana anak harus patuh dan tidak membantah arahan orang tua, bentuk asuh otoriter tersebut, dalam tanda kutip lebih kepada batasan waktu penggunaan Handphone. Sebagaimana Hurlock. Hardy dan Heyes menjelaskan bahwa pola asuh otoriter adalah semua kebijakan yang ditentukan oleh orang tua. Anak-anak dituntut tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya apalagi hanya sekedar menyanggah. Seperti halnya dalam dunia militer, anak tidak boleh membantah perintah sang komandan atau orang tua, meski mereka benar atau salah. (Wibowo, 2. Sedangkan pengasuhan di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong, mereka . rang tu. menciptakan kebijakan dan aturan yang relevan, artinya menjalankan kebijakan sesuai situasi dan kondisi, bahkan beriringan dengan bergantinya masa ke masa, aturan tersebut bisa saja berubah. Hal ini melibatkan jiwa demokratis terhadap kedua unsur pola asuh, baik dari sisi orang tua maupun anak. Yang mana telah dijelaskan sebelumnya, pola asuh demokratis merupakan pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan kepada anakanak untuk mengemukakan pendapat dan menentukan masa depannya, akan tetapi orang tua tetap mendampingi dan menemani langkah kehidupan anak yang sedang atau akan mereka jalani. Menurut Hurlock kelebihan pola asuh demokratis adalah anak lebih dapat menyesuaikan diri, mau menghargai pekerjaan orang, menerima kritik dan saran dengan terbuka, dan mempunyai rasa tanggung jawab. Sedangkan kelemahan pola asuh demokratis yaitu, ketika berbicara terkadang anak lepas kontrol dan terkesan kurang sopan terhadap orang tuanya, serta kadang antara anak dan orang tua terjadi perbedaan sehingga lepas kontrol yang akan menimbulkan percekcokan. (Khairiyaturrizkyah & Nuraeni, 2. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, terdapat beberapa strategi yang dilakukan orang tua untuk melatih terbentuknya kepekaan sosial anak di era digital saat ini. Beberapa hal unik yang dilakukan oleh beberapa pihak orang tua untuk mengalihkan perhatian anak dari fokus yang mendalam terhadap Hp, seperti: Orang tua yang hanya sekedar memberikan minum dan makanan ringan kepada anaknya yang sedang asyik bermain Hp, sambil lalu mengajak anak berkomunikasi santai sehingga orang tua mampu mengalihkan fokus anak dari tatapan layar Hp. Sebagian orang tua yang mengajak anak bermain di luar rumah dengan menawarkan permainan alternatif kedua selain bermain Hp, misal bermain dengan alam sekitar, memperkenalkan keindahan alam dan berbagai kegunaannya. Orang tua yang begitu disiplin dalam mengawasi aktivitas anak, terutama dalam penggunaan Hp, sehingga anak terkontrol dan terbiasa dengan disiplin dan aturan tersebut. Dari beberapa strategi yang diterapkan orang tua dalam pengasuhannya, sangat cukup memberikan pengaruh dalam membentuk kepekaan sosial anak. Anak harus dibiasakan dengan habit yang baik dan konsisten sehingga anak akan terbiasa, meski di awal masih tersimpan perasaan terpaksa. Kepekaan sosial anak akan terbentuk dengan baik dan terikat dengan jiwa anak, ketika pengasuhan orang tua diikuti dengan disiplin yang tidak memberatkan serta tidak menekan kondisi anak. Karena pada dasarnya, sebagian besar anak jaman sekarang . ra teknolog. tidak bisa dibentak atau diperintah dengan cuma-cuma, melainkan harus diikuti dengan peran orang tua sebagai teman, sahabat. Orang tua dan anak merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, hubungan keduanya akan baik saat kedua belah pihak saling Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 memberikan manfaat, sehingga akan tercipta pengasuhan orang tua yang menyenangkan dan tidak membangkang maupun dibangkang. Pola Asuh Demokratis dan Pola Asuh Otoriter Gambar 1. Komparasi pola asuh orang tua di Dusun Pesisir Barat dan Dusun Bajur Tamberu Daya Dampak Penggunaan Media Digital dalam Membentuk Kepekaan Sosial Anak di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya Salah satu tujuan pendidikan dalam keluarga yaitu memberikan proses pertumbuhan dan perkembangan, supaya anak terbentuk menjadi pribadi yang baik dari berbagai aspek, yakni. akal, jasmani, agama dan budaya. Penanggung jawab utama dalam pendidikan keluarga adalah orang tua, terutama seorang ibu dan istri. Karena ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, dan istri merupakan tempat kembali bagi suami, serta tolak ukur berbaktinya suami terhadap keluarga kecilnya. Semua orang dewasa merupakan model bagi sekitar, dan model yang paling penting dalam keluarga ialah orang tua. Orang tua yang kreatif mampu memusatkan perhatian pada minat anak, menunjukkan keahlian dan disiplin, menekuni pekerjaan, memberikan motivasi dan menumbuhkan semangat tinggi. Orang yang dapat membantu anak untuk menemukan minat anak yang masih terpendam dengan mendorong anak melakukan berbagai kegiatan. Minat anak bisa saja berubah seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan (Munandar, 2. Berdasarkan paparan dan temuan peneliti terkait dampak penggunaan media digital di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya Kabupaten Sampang, yaitu segala sesuatu mengadung sebab-akibat, begitu juga pada penggunaan media digital berupa handphone seperti yang lumrah pada era saat ini, dampak penggunaan tersebut mengikuti dari cara pengguna mengatur dan membatasi penggunaanya, seperti yang terlihat di dua dusun ini. Dusun Pesisir dan Dusun Bajur sebagai berikut: Dampak positif penggunaan media digital . Pengguna media sosial (H. pada pola asuh terdiri dari orang tua sebagai pelaku asuh dan anak sebagai peserta asuh. Keduanya sama-sama mempunyai Hp dan difasilitasi Hp. Segala sesuatu memiliki sisi positif dan negatif, seperti halnya dalam menggunakan Hp di era digital saat ini. Terlihat dari sisi orang tua, banyak dari mereka yang bermain Hp, baik di tengah-tengah kesibukannya atau pada waktuwaktu santai. Dari berbagai hal yang terakses dalam media sosial dan internet, berbagai macam tontonan dan literasi digital tersedia di dalamnya, termasuk konten yang membahas tentang pengasuhan orang tua di era digital. Para orang tua bisa terbantu dari berbagai referensi yang tersedia guna membantu proses pengasuhan anak, mulaai dari usia dini hingga usia dewasa. Bentuk asuh orang tua dan bagaimana menyikapi anak pada tiap tingkatan usia berbeda, tidak bisa disama ratakan, karena anak kecil, remaja dan dewasa memiliki sudut pandang berbeda dalam menanggapi serta memahami sesuatu. Terlihat di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong sebagian besar dari pada orang tua menggunakan handphone, banyak dari mereka menggunakan Hpnya untuk hal-hal yang bermanfaat, banyak dari mereka yang membaca, menonton dan mencari tahu berbagai pengasuhan yang baik, yang dapat membantu dirinya dalam proses menumbuh kembangkan anak-anak mereka. Sedangkan dari sisi peserta asuh, anak-anak juga dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan melalui internet, mereka dapat belajar tidak hanya di sekolah bahkan hanya di dalam kelas, akan tetapi mereka mampu belajar di mana pun mereka berada. Semua hal sudah bisa diakses melalui internet dan media sosial. Dengan memanfaatkan penggunaan Hp dengan baik, mereka . nak-ana. tidak akan tertinggal informasi terutama dalam hal pendidikan, mereka bisa memperluas wawasan secara mandiri, serta mereka bisa mengitari luasnya dunia melalui fitur-fitur yang terakses dalam dunia digital. Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Dampak negatif penggunaan media digital . Berbeda dengan dampak yang bisa menjerumuskan orang tua dan anak. Ketika mereka berlebihan dan kurang membatasi pada penggunaan Hp, maka akan memberikat akibat fatal. Saat orang tua yang berada pada posisi tersebut, mereka sibuk sendiri dengan dunia digitalnya, pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap anak-anak akan lengah, kurangnya perhatian yang intens, sehingga mengakibatkan pribadi anak yang tidak terkontrol dan tidak ada kepekaan anak pada lingkungan sekitar. Begitu juga dengan anak, saat mereka lebih banyak bermain dari pada belajar pada penggunaan Hp, mereka akan candu dan ketergantuan dengan Hp. Hp akan menjadi suatu hal yang berharga bagi mereka, tiada hari tanpa bermain Hp, sehingga menyulitkan orang tua dalam proses bimbingan yang dilaksanakan. Apabila penggunaan Hp secara berlebihan tanpa adanya batasan waktu, akan memberikan hal tidak baik bahkan fatal pada proses pengasuhan orang tua dan tumbuh kembang anak. Baik orang tua maupun anak merupakan makhluk sosial yang membutuhkan campur tangan orang lain dalam menjalani hidupnya, mereka tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua dan anak saling membutuhkan dalam melaksanakan peran mereka masing-masing dalam keluarga, maka perlu dibentuk kepekaan sosial mulai sejak dini terutama pada era digital saat ini. Kepekaan sosial orang tua dan kepekaan sosial anak sama-sama penting dalam kehidupan keluarga. Kepekaan sosial merupakan salah satu jenis dari pada karakter. Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan perilaku khas dari setiap individu, baik dalam lingkup sempit . dan luas . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008 karakter merupakan berbagai sifat kejiwaan dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Dalam Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010, karakter mengandung nilai- nilai yang unik, baik yang terpatri dalam diri dan terimplikasi dalam perilaku. (Samani & Hariyanto, 2. Karakter dipengaruhi oleh perilaku kedua orang tua. Sikap dan perilaku anak tidak jauh berbeda dari perilaku orang tuanya. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah "Kacang ora ninggal lanjaran" yang artinya bambu tempat melilit dan menjalar tidak pernah tertinggal oleh pohon kacang panjang. (Samani & Hariyanto, 2. Sederhananya, kepekaan sosial . ocial sensitivit. dimaknai sebagai kemampuan yang dimiliki setiap individu untuk bereaksi secara cepat dan tepat terhadap kondisi atau situasi sosial yang ada di sekitarnya. (Pitoewas et al. , 2. Sehingga dikatakan juga kepekaan sosial merupakan respon cepat dan rasa peduli anak dan orang tua dalam menyikapi semua stimulus yang mereka peroleh dari lingkungan sekitar, baik lingkungan keluarga atau masyarakat. Kepekaan sosial harus dibiasakan sejak kecil, agar menjadi karakter yang mendarah daging bagi setiap individu. Berdasarkan paparan teori di atas, di Dusun Pesisir dan Dusun Bajur bahwa, penduduk dari kedua dusun ini membentuk kepekaan sosial pada anak melalui kebijakan-kebijakan yang mereka terapkan secara berkesinambungan, pembiasan pada proses kedisiplinan, teguran serta pengawasan yang konsisten, sehingga dari hal tersebut anak-anak akan menjadi biasa dan terbiasa menekuni semua hal berupa kebijakan dan kedisiplikan yang diberikan oleh orang tua mereka, serta dari hal kecil inilah akan tercipta dan tertanam kepekaan individu untuk menanggapi hal sekitar terutama anak yang akan merespon stimulus yang orang tua Berdasarkan pengamatan di Dusun Bajur terlihat dalam proses pengasuhan orang tua terhadap anakanaknya, benar-benar membentuk jiwa disiplin anak akan kebijakan yang orang tua berikan, diketahui bahwa dampak penggunaan Hp tidak begitu mempengaruhi pribadi dan kepekaan anak, karena orang tua begitu konsisten pada pengawasan anak ketika mereka sibuk dengan dunia online. Pada akhirnya mereka . nak-ana. terbiasa akan kebijakan yang sudah diberikan oleh kedua orang tua mereka. Gambar 2. Komparasi Dampak Penggunaan HP di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 Adapun yang terlihat di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong, para orang tua sangat berhati-hati dalam memberikan fasilitas Hp terhadap anak-anaknya. Ada yang sepenuhnya kepemilikan HP menjadi milik anak-anak, namun masih dalam pengawasan orang tua, hal ini terjadi pada keluarga bapak Idon Joni dan bapak Saniman. Ada juga yang berbagi kepemilikan Hp dengan orang tuanya, dalam artian anak hanya sebatas meminjam Hp orang tua untuk mengisi waktu santai mereka, hal ini yang terjadi pada keluarga ibu Venya Anggita. Faktor Pendukung dan Penghambat Pola Asuh Orang Tua pada Era Digital dalam Membentuk Kepekaan Sosial Anak di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya Keluarga merupakan bagian terkecil dari pada masyarakat yang mencakup dari kepala keluarga . , sekretaris sekaligus bendahara keluarga . , dan beberapa anggota yang stay dalam satu atap dengan keadaan saling ketergantungan, upaya untuk menciptakan dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari setiap individu keluarga. Sangkot Nasution mengutip dari pendapat Darajat, bahwa lingkungan keluarga adalah lingkungan pendidikan yang pertama dan paling utama, karena dalam keluarga, anak akan mendapatkan bimbingan serta pendidikan. Keluarga juga merupakan wadah pertama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan anak akan baik, apabila suasana keluarga baik dan menyenangkan. Jika sebaliknya, maka akan mengalami terlambatnya pertumbuhan anak. (Nasution, 2. Kemudian, pengasuhan orang tua terhadap anak perlu ditentukan sejak awal anak dilahirkan bahkan masih berada dalam kandungan. Salah satu dari tujuan pengasuhan ialah kemandirian anak-anaknya. Yaitu anak yang mampu berpikir untuk dirinya terlebih dahulu, memahami alasan dari kondisi yang dialami, serta mampu membiasakan diri dari berbagai situasi. Najelaa Shihab. Keluarga Kita Mencintai Dengan Lebih Baik (Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2. : 114. Karenanya peran orang tua sangat krusial dalam pendidikan anak sejak bayi. Lingkungan keluarga merupakan salah satu tempat proses pendidikan berlangsung, yang mana orang tua sebagai penanggung jawab utama dalam pendidikan anak-anaknya. Menurut Djamarah menyatakan bahwa keluarga adalah salah satu lembaga pendidikan informal . uar sekola. yang begitu diakui eksistensinya dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, orang tua harus membantu anak-anaknya belajar, sehingga anak-anak terbantu dalam proses belajar di sekolah. (Wati & Muhsin, 2. Maka dari itu, lingkungan keluarga merupakan faktor pertama yang menentukan bagaimana seseorang menjalani proses hidup kedepannya. Berdasarkan beberapa teori di atas, peneliti melihat dari dua Dusun, yakni Dusun Pesisir dan Dusun Bajur tidak jauh berbeda bahkan hampir sama, peneliti menemukan bahwa terdapat beberapa faktor pendukung dalam pengasuhan orang tua di era digital, seperti banyak tontonan baik berupa video atau tulisan yang memberikan wawasan terkait bentuk asuh orang tua terhadap anak di masa digital seperti saat ini, membantu anak menjadi pribadi yang modern namun tetap pada norma agama, mereka bisa mengakses berbagai ilmu pengetahuan dari internet. Serta mudahnya jaringan internet untuk bisa online di beberapa aplikasi media sosial yang digunakan. Sedangkan faktor penghambat pola asuh orang tua di era digital ini adalah kesulitan orang tua dalam peneguran, pemberian nasehat dan pengawasan intens, karena anak terlalu fokus dengan suara dan gambar yang mereka tonton, dari pada suara yang terucap dari lisan orang tua mereka. Sehingga kepekaan mereka sangat berkurang dalam merespon stimulus yang orang tua berikan . ecanduan gadge. Ditambah hal yang menghambat di Dusun Bajur yaitu kesulitan mengakses media digital untuk menjadi online, karena letak geografisnya di daerah pegunungan sehingga menyebabkan sulitnya tersambung jaringan data/internet. Gambar 3. Faktor Pendukung dan Penghambat Sherly Quraisy. Zainuddin Syarif. Waqiatul Masruroh Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 5 No. September 2024 PENUTUP Pola asuh orang tua di Dusun Pesisir Barat Desa Dharma Camplong dan Dusun Bajur Desa Tamberu Daya Kecamataan Sampang telah menunjukkan bahwa, sebagian besar pola asuh yang diterapkan adalah pola asuh demokratis, yaitu orang tua memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk mengemukakan pendapat dan menentukan masa depan. Dan sebagian orang tua menerapkan pola asuh demokratis, sebagian yang lain menggunakan pola asuh otoriter. Sistem otoriter yang digunakan sebagian orang tua di Dusun Bajur lebih kepada batasan waktu penggunaan perangkat digital (H. Dampak menggunakan perangkat digital (H. di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya yaitu kurang adanya kepekaan anak ketika dipanggil orang tua, lebih banyak bermain Hp dari pada belajar, kurangnya aktifitas family time, serta kurang bersosialisasi karena lebih banyak asyik bermain Hp. Beberapa dampak positif di kalangan keluarga dalam penggunaan media digital. Dari sisi orang tua yang menggunakan media tersebut, peneliti menemukan bahwa, banyak dari para orang tua yang terbantu akan proses pengasuhan anak-anaknya, menciptakan bentuk asuh yang menyenangkan dan tidak Semuanya itu mereka . rang tu. dapatkan dari berbagai tontonan/video yang terakses dalam handphone android mereka, seperti video yang mengandung nasehat dan arahan bagi orang tua dalam pendidikan anak, referensi/rujukan umum dalam mengasuh anak, bagaimana menjadi orang tua yang menyenangkan, tidak mengatur sesuka hati tanpa memikirkan perasaan anak, dan banyak lagi tontonan bermanfaat yang terakses dalam media digital tersebut. Selanjutnya . Dampak yang bersifat negatif juga ditemukan di kalangan orang tua, yaitu orang tua yang terlalu sibuk dengan penggunaan Hp, anak merasa kurang perhatian dan kasih sayang, kurang nasehat dan teguran, sehingga kurang adanya jiwa sosial dan kepedulian mereka antar sesama. Kemuadian . Dari sisi peserta asuh . , dari penggunaan media digital seperti Hp, mereka bisa belajar di manapun mereka berada, tidak perlu pergi ke sekolah untuk mendapatkan pelajaran, karena sudah banyak berbagai ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahun umum atau agama yang dapat diakses melalui media digital tersebut. Akan tetapi . Ketika anak menggunakan Hp dengan kebebasan penuh tanpa adanya pengawasan yang intens dari orang tua, kemungkinan besar sebagian dari mereka mengakses dan melihat hal-hal di luar nalar atau sesuatu yang tidak diinginkan oleh orang tua. Akhirnya mereka akan menjadi candu dengan penggunaan Hp, bahkan akan merasa gelisah jika dalam satu hari tidak bermain Hp. Faktor pendukung paling utama dalam pengasuhan orang tua adalah lingkungan sekitar. Di Dusun Pesisir Barat Dharma Camplong dan Dusun Bajur Tamberu Daya, faktor pendukung pola asuh orang tua di era digital tidak jauh berbeda, seperti banyaknya tontonan baik berupa video atau tulisan yang memberikan wawasan terkait bentuk asuh orang tua terhadap anak di masa digital seperti saat ini, membantu anak menjadi pribadi yang modern namun tetap pada norma agama, mereka bisa mengakses berbagai ilmu pengetahuan dari Serta mudahnya jaringan internet untuk bisa online di beberapa aplikasi media digital yang digunakan. Sedangkan faktor penghambat pola asuh orang tua di era digital ini adalah kesulitan orang tua menegur anak, memberi nasehat dan pengawasan intens, karena anak terlalu fokus dengan suara dan gambar yang mereka tonton, dari pada suara yang terucap dari lisan orang tua mereka. Sehingga kepekaan mereka sangat berkurang dalam merespon stimulus yang orang tua berikan . ecanduan gadge. Ditambah hal yang menghambat di Dusun Bajur yaitu kesulitan teraksesnya media digital untuk menjadi online, karena letak geografisnya di daerah pegunungan sehingga menyebabkan sulitnya tersambung jaringan data/internet. DAFTAR PUSTAKA