Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 481-491 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Strategi Guru Dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Di PAUD Al-Hidayah Suhartini1. Yoga Mahendra2. Mahsiani Mina Laili3 Info Artikel Abstract Keywords: Teacher Strategy. Social-Emotional Development. Early Childhood. Cooperative Learning. PAUD Al-Hidayah. This study aims to describe teachersAo strategies in developing the socialAe emotional abilities of early childhood students at PAUD Al-Hidayah. Serang City. SocialAeemotional development is a crucial dimension of early childhood growth because it influences character formation, emotional regulation, and the ability to interact positively within social environments. Although previous studies have discussed various methods for stimulating socialAeemotional skills, research that examines in depth how teachers implement these strategies in daily classroom practices along with the supporting and inhibiting factors remains limited. This study employed a descriptive qualitative approach, involving one class B teacher as the main informant and nine children as supporting informants. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings reveal that the teacher applied three main strategies: . creating a safe and comfortable learning environment to foster childrenAos self-confidence. implementing positive habituation through routine activities that instill discipline, responsibility, and empathy. applying cooperative learning to develop teamwork skills and respect for others. These strategies were proven effective, despite challenges such as limited parental involvement and differences in childrenAos individual The study highlights the crucial role of teachers as facilitators, mentors, and role models in fostering childrenAos socialAe emotional intelligence through planned, contextual, and developmentally appropriate learning activities. Kata kunci: Strategi Guru. Sosial Emosional. Anak Usia Dini. Pembelajaran Kooperatif. PAUD Al-Hidayah. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam mengembangkan kemampuan sosial emosional anak usia dini di PAUD AlHidayah Kota Serang. Aspek sosial emosional merupakan dimensi penting perkembangan anak usia dini karena berpengaruh pada pembentukan karakter, regulasi emosi, dan kemampuan berinteraksi secara positif dengan lingkungan sosial. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah membahas metode stimulasi sosial emosional, masih terbatas kajian yang menguraikan secara mendalam bagaimana strategi guru diterapkan dalam konteks pembelajaran sehari-hari beserta faktor pendukung dan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Serang. Indonesia Email: suhartinicrs@gmail. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Serang. Indonesia Email: yoga. mahendra@binabangsa. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Bina Bangsa. Serang. Indonesia Email: mahsiani. laili@binabangsa. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan satu guru kelas B sebagai informan utama dan sembilan anak sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan tiga strategi utama: . menciptakan lingkungan belajar aman dan nyaman untuk membangun kepercayaan diri anak. melaksanakan pembiasaan positif melalui kegiatan rutin yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan serta . menerapkan pembelajaran kooperatif untuk mengembangkan kemampuan bekerja sama dan menghargai orang lain. Ketiga strategi tersebut terbukti efektif, meskipun masih dihadapkan pada hambatan seperti kurangnya keterlibatan orang tua dan perbedaan karakter individu anak. Temuan ini menegaskan pentingnya peran guru sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan dalam mengembangkan kecerdasan sosial emosional anak melalui pembelajaran yang terencana, kontekstual, dan sesuai tahap perkembangan. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 31 Oktober 2025 01 Desember 2025 07 Desember 2025 15 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Suhartini. Mahendra. Laili. Strategi Guru Dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Di PAUD Al-Hidayah. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 481-491, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Suhartini, suhartinicrs@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Anak usia dini merupakan masa keemasan . olden ag. dalam kehidupan manusia, di mana perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional berlangsung sangat pesat (Yusuf et al. , 2. Pada rentang usia 0Ae6 tahun, anak mulai mengenal dunia sosialnya, belajar mengekspresikan emosi, serta membangun hubungan interpersonal dengan orang-orang di sekitarnya seperti orang tua, guru, dan teman sebaya (Munawaroh et al. , 2. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga harus mencakup pengembangan sosial dan emosional sebagai dasar terbentuknya kepribadian yang sehat dan seimbang (Bonita et al. Perkembangan sosial emosional anak usia dini menggambarkan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengelola emosi secara tepat sesuai dengan norma sosial yang berlaku (Rijkiyani et al. , 2. Anak yang memiliki perkembangan sosial emosional yang baik akan menunjukkan rasa empati, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, serta percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi. Sebaliknya, anak yang mengalami hambatan pada aspek ini cenderung sulit beradaptasi, mudah marah, atau enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar (Sukatin et al. Oleh karena itu, pengembangan sosial emosional menjadi salah satu fondasi utama dalam pendidikan anak usia dini yang tidak boleh diabaikan. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan sosial emosional anak. Di lembaga PAUD, guru bukan hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, fasilitator, dan teladan dalam berperilaku sosial dan emosional (Susanti et al. , 2. Melalui interaksi yang intensif antara guru dan anak, berbagai nilai seperti empati, disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama dapat tertanam secara alami. Namun, upaya guru dalam Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mengembangkan kemampuan ini tidak selalu berjalan mudah. Dibutuhkan strategi yang tepat agar pembelajaran sosial emosional dapat berlangsung efektif dan menyenangkan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dinitahun (Wahyuni, 2. Hasil observasi di PAUD Al-Hidayah Kota Serang menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa permasalahan yang muncul dalam aspek sosial emosional anak. Beberapa anak terlihat belum mampu berinteraksi dengan teman sebayanya, enggan bermain bersama, bahkan memilih untuk menyendiri di Ada pula anak yang menunjukkan rasa tidak percaya diri ketika diminta menjawab pertanyaan guru, anak yang enggan menyelesaikan tugas, serta anak yang belum mampu bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Selain itu, ditemukan pula anak yang sulit berpisah dengan orang tua saat diantar ke sekolah. Fenomena tersebut menandakan bahwa pengembangan sosial emosional anak di PAUD Al-Hidayah masih memerlukan perhatian dan strategi pembelajaran yang lebih sistematis dan efektif. Kondisi ini tidak dapat dibiarkan, sebab apabila aspek sosial emosional tidak dikembangkan sejak dini, anak akan mengalami kesulitan dalam proses sosialisasi pada jenjang pendidikan berikutnya. Perkembangan sosial emosional yang optimal menjadi pondasi bagi kemampuan anak dalam mengatur diri sendiri . elf-regulatio. , menjalin hubungan sosial yang positif, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif (Liani, 2. Oleh karena itu, guru dituntut untuk merancang strategi pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membentuk karakter sosial dan emosional anak melalui kegiatan sehari-hari di kelas (Niswah & Zulfahmi, 2. Menurut berbagai hasil penelitian, terdapat beragam strategi yang dapat diterapkan guru dalam mengembangkan sosial emosional anak. Misalnya, penelitian oleh Hidayah & Khadijah . menemukan bahwa penggunaan metode bermain peran, bercerita, dan kegiatan kelompok efektif dalam menstimulasi empati dan kerja sama anak (Hidayah & Khadijah, 2. Sementara Salsabila . menegaskan bahwa kegiatan sederhana seperti berbagi makanan di kelas dapat menumbuhkan rasa peduli dan kebersamaan antar anak (Salsabila et al. , 2. Namun, sebagian besar penelitian tersebut belum membahas secara mendalam faktor-faktor pendukung dan penghambat penerapan strategi di lapangan. Inilah yang menjadi celah penelitian yang penting untuk dikaji lebih lanjut di konteks PAUD Al-Hidayah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di lembaga tersebut, guru PAUD Al-Hidayah, khususnya Bu Holita, telah menerapkan beberapa strategi pembelajaran yang berfokus pada pengembangan sosial emosional anak. Strategi utama yang dilakukan meliputi: . menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, . menerapkan metode pembiasaan positif, dan . menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif. Melalui lingkungan yang aman, anak merasa terlindungi secara fisik maupun emosional sehingga lebih percaya diri untuk berinteraksi. Melalui pembiasaan positif, anak belajar kedisiplinan dan tanggung jawab secara berulang hingga menjadi Sedangkan pembelajaran kooperatif melatih anak bekerja sama dan menghargai perbedaan dalam kelompok. Ketiga strategi tersebut sejalan dengan teori perkembangan sosial emosional yang menekankan pentingnya interaksi sosial, keteladanan, dan penguatan perilaku positif. Vygotsky . menegaskan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Anak belajar melalui interaksi dan pengalaman yang bermakna dengan orang dewasa dan teman sebaya. Dengan demikian, strategi guru yang menekankan kolaborasi dan pembiasaan sosial merupakan implementasi nyata dari pendekatan sosiokultural tersebut dalam konteks pembelajaran anak usia dini. Meskipun demikian, penerapan strategi guru di PAUD Al-Hidayah masih dihadapkan pada beberapa hambatan. Salah satu faktor penghambat utama adalah kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran anak. Sebagian besar orang tua sibuk bekerja dan jarang berkomunikasi Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dengan guru mengenai perkembangan sosial emosional anak. Selain itu, latar belakang pendidikan orang tua yang beragam juga memengaruhi pemahaman mereka terhadap pentingnya pembentukan karakter sosial emosional. Fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan adalah kecenderungan orang tua memberikan gadget kepada anak sebagai pengganti interaksi langsung, sehingga anak menjadi pasif dan kurang terlatih dalam berkomunikasi secara sosial. Di sisi lain, faktor pendukung strategi guru di PAUD Al-Hidayah cukup kuat, antara lain adanya dukungan dari pihak sekolah dalam menyediakan lingkungan belajar yang kondusif, kompetensi guru yang terus dikembangkan, serta suasana kelas yang positif dan penuh keakraban. Guru berupaya untuk menjadi teladan yang baik dengan memperlihatkan sikap sabar, empati, dan disiplin. Hal ini menciptakan atmosfer pembelajaran yang mendorong anak untuk meniru perilaku positif tersebut. Secara konseptual, pengembangan sosial emosional anak usia dinitahun mencakup beberapa aspek penting seperti kemampuan berinteraksi, kemandirian, disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri (Permendikbud PAUD, 2. Penguasaan aspek-aspek ini menjadi indikator tercapainya perkembangan sosial emosional yang optimal. Guru berperan sebagai perancang kegiatan yang menstimulasi kelima aspek tersebut melalui berbagai metode bermain, bercerita, kerja kelompok, dan kegiatan reflektif. Dengan strategi yang tepat, guru dapat menumbuhkan perilaku sosial yang adaptif dan mengendalikan emosi anak secara positif. Jika dikaji secara kritis, pentingnya penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini, khususnya dalam merumuskan model strategi pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal dan kebutuhan psikososial anak. Selama ini, banyak lembaga PAUD masih berfokus pada kemampuan akademik dasar seperti membaca dan berhitung, sementara aspek sosial emosional belum menjadi prioritas. Padahal, hasil-hasil penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih sukses dalam kehidupan sosial dan akademiknya di masa depan (Goleman, 2. Dengan demikian, guru perlu mengintegrasikan strategi sosial emosional ke dalam setiap kegiatan pembelajaran seharihari. Penelitian mengenai AuStrategi Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Tahun di PAUD Al-HidayahAy menjadi penting karena berangkat dari realitas empiris di lapangan yang menunjukkan masih adanya ketimpangan antara potensi anak dan kemampuan sosial emosional yang Penelitian ini berupaya menjawab bagaimana strategi guru diterapkan secara konkret dalam pembelajaran, serta apa saja faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi efektivitas strategi tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi guru PAUD dalam mengembangkan model pembelajaran yang humanis, partisipatif, dan berpusat pada anak. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi beragam metode stimulasi sosial emosional pada anak usia dini, kajian yang menguraikan secara komprehensif proses implementasi strategi guru dalam konteks pembelajaran sehari-hari beserta faktor pendukung dan penghambatnya masih terbatas, khususnya pada lembaga PAUD dengan karakteristik lokal seperti PAUD Al-Hidayah. Celah penelitian ini menunjukkan perlunya kajian yang lebih mendalam mengenai bagaimana strategi pembiasaan, penciptaan lingkungan belajar, serta pembelajaran kooperatif benar-benar diterapkan dan berdampak pada perilaku sosial emosional anak. Secara ilmiah, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya literatur pendidikan anak usia dini dengan menghadirkan model penerapan strategi sosial emosional yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan praktik pembelajaran di lapangan. Berdasarkan kebutuhan tersebut, penelitian ini secara eksplisit bertujuan untuk: . mendeskripsikan strategi guru dalam mengembangkan kemampuan sosial emosional anak usia dini di PAUD Al-Hidayah. mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi tersebut. menganalisis bagaimana strategi yang diterapkan berpengaruh terhadap perilaku sosial emosional Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Sejalan dengan tujuan tersebut, pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: . strategi apa saja yang digunakan guru dalam mengembangkan sosial emosional anak? . apa faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan strategi tersebut? dan . bagaimana efektivitas strategi tersebut dalam memengaruhi perkembangan sosial emosional anak di PAUD Al-Hidayah? Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa strategi guru dalam mengembangkan sosial emosional anak usia dini bukan hanya persoalan teknis pembelajaran, tetapi juga merupakan upaya membentuk karakter dan kepribadian anak sejak dini. Guru memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai sosial, empati, dan pengendalian diri yang menjadi dasar pembentukan manusia yang berkarakter. Oleh sebab itu, penelitian ini relevan dan signifikan untuk dilakukan guna memperkuat landasan teoretis maupun praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia, khususnya di PAUD Al-Hidayah. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam strategi guru dalam mengembangkan sosial emosional anak usia dinitahun di PAUD AlHidayah. Pendekatan ini dipilih karena fenomena yang dikaji bersifat alami, dinamis, dan kompleks, sehingga memerlukan pemahaman mendalam melalui interaksi langsung antara peneliti dengan subjek penelitian (Sari et al. , 2024. Sumilih et al. , 2025. Yusuf et al. , 2. Peneliti berperan sebagai instrumen utama yang berupaya memahami perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi strategi guru dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya (Judijanto et al. , 2024. Nurhayati et al. , 2. Penelitian dilaksanakan di PAUD Al-Hidayah. Kampung Kemanduran. Kecamatan Walantaka. Kota Serang, yang dipilih secara purposive karena relevan dengan fokus penelitian. Subjek penelitian meliputi satu guru kelas B (Bu Holit. sebagai informan utama dan sembilan anak usia dinitahun sebagai informan pendukung. Guru menjadi sumber utama data karena berperan langsung dalam penerapan strategi pembelajaran, sedangkan anak diamati untuk mengetahui hasil penerapannya dalam perilaku sosial dan emosional. Informan utama adalah satu guru kelas B. Pemilihan satu guru didasarkan pada argumen teoretis bahwa: . Pendekatan kualitatif menekankan kedalaman data, bukan jumlah informan, sehingga satu informan kunci yang terlibat langsung dalam fenomena sudah dapat memberikan data yang kaya (Creswell, 2. Guru kelas B memiliki peran sentral dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi strategi pembelajaran, sehingga posisinya representatif sebagai key informant yang memahami keseluruhan proses. Dalam studi kasus tunggal . ingle case stud. , fokusnya adalah pendalaman praktik individu dalam konteks spesifik untuk memahami proses secara detail. Tabel 1. 1 Demografi Informan Penelitian Informan Jumlah Usia Peran dalam penelitian Guru kelas B 1 orang 24 tahun Informan utama . elaksana strategi Anak didik kelas B 9 orang 5Ae6 tahun Informan pendukung . bjek observasi perilaku sosial emosiona. Selain guru, terdapat sembilan anak usia dini sebagai informan pendukung melalui observasi Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat interaksi sosial, ekspresi emosi, dan kerja sama anak di kelas. Wawancara dilakukan untuk menggali strategi guru serta faktor pendukung dan penghambatnya, sedangkan dokumentasi memperkuat data melalui catatan dan foto kegiatan pembelajaran (Handoko et al. , 2. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan metode serta empat Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kriteria Lincoln dan Guba . : credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Waruwu. Keabsahan data diuji melalui: . Triangulasi sumber Contoh: informasi guru dibandingkan dengan hasil observasi perilaku anak serta dokumentasi foto kegiatan. Triangulasi metode Contoh: strategi Aupembiasaan positifAy diverifikasi melalui wawancara, observasi kegiatan rutin pagi, dan catatan dokumentasi guru. Credibility Peneliti melakukan member-check kepada guru untuk memastikan data sesuai pengalaman informan. Dependability Peneliti menyimpan audit trail berupa catatan proses observasi dan transkrip wawancara. Confirmability Data pendukung . oto, catatan harian, dan rekaman wawancar. digunakan untuk menghindari bias interpretasi peneliti. Penelitian ini memperoleh izin resmi dari lembaga PAUD Al-Hidayah melalui surat rekomendasi kepala sekolah. Identitas anak disamarkan untuk menjaga kerahasiaan, dan orang tua telah memberikan persetujuan . nformed consen. sebelum proses observasi dan dokumentasi dilakukan. Melalui tahapan ini, penelitian diharapkan menghasilkan gambaran empiris yang valid dan komprehensif tentang strategi guru dalam mengembangkan sosial emosional anak usia dini serta memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran di lembaga PAUD. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan di PAUD Al-Hidayah, yang terletak di Kampung Kemanduran. Kelurahan Teritih. Kecamatan Walantaka. Kota Serang. Lembaga ini merupakan salah satu PAUD yang berperan aktif dalam mendukung program pendidikan karakter dan pengembangan sosial emosional anak usia dini. Dengan jumlah anak sekitar 20 orang. PAUD ini memiliki lingkungan belajar yang sederhana namun kondusif, serta tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dalam mendampingi anakanak. Guru kelas B . sia dinitahu. adalah Bu Holita, berusia 24 tahun, dengan pengalaman mengajar selama empat tahun. Meskipun latar belakang pendidikannya berasal dari bidang Fisika, beliau menunjukkan komitmen dan kompetensi yang baik dalam memahami karakteristik anak usia dini serta menerapkan strategi pembelajaran yang berfokus pada pengembangan sosial dan emosional. Anak-anak di kelas B menunjukkan keanekaragaman dalam hal latar belakang keluarga, tingkat kemandirian, dan kemampuan berinteraksi sosial. Keberagaman inilah yang menjadi tantangan sekaligus potensi bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan perkembangan masing-masing anak. Hasil Observasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, ditemukan bahwa perkembangan sosial emosional anak usia dinitahun di PAUD Al-Hidayah berada pada kategori berkembang sesuai harapan, namun masih terdapat beberapa anak yang perlu bimbingan intensif. Beberapa indikator yang diamati meliputi kemampuan berinteraksi, rasa percaya diri, empati, disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian. Dari sembilan anak yang diamati, enam anak menunjukkan interaksi sosial yang baik dan aktif bermain bersama teman sebaya. Namun, terdapat tiga anak yang masih pasif dan cenderung menyendiri, terutama pada kegiatan kelompok. Pada aspek percaya diri, sebagian besar anak mampu mengungkapkan pendapat dan berani bertanya kepada guru, meskipun masih ada yang menunjukkan rasa takut atau malu berbicara di depan kelas. Aspek empati terlihat melalui perilaku anak yang bersedia membantu temannya ketika mengalami kesulitan, serta mampu menenangkan teman yang menangis. Namun, empati belum merata di semua anak, karena beberapa masih menunjukkan perilaku egosentris dan kurang memahami perasaan orang Dari segi disiplin dan tanggung jawab, sebagian besar anak mampu mengikuti aturan kelas, seperti antri, membereskan mainan, dan menyelesaikan tugas sederhana. Adapun aspek kemandirian terlihat cukup baik. hampir semua anak dapat makan sendiri dan mengurus barang pribadinya tanpa bantuan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 orang tua. Perbedaan kemampuan sosial emosional ini menunjukkan bahwa strategi guru perlu disesuaikan dengan kondisi individu anak agar hasil pengembangannya lebih optimal (Mahendra et al. Mulyawan et al. , 2. Dalam penelitian internasional. Denham et al. menemukan bahwa variasi kemampuan sosial emosional pada anak usia dini dipengaruhi oleh kualitas interaksi guru-anak dan konsistensi pembiasaan sosial di sekolah. Temuan ini mendukung hasil penelitian bahwa strategi guru berperan signifikan dalam mendorong perkembangan sosial emosional anak. Strategi Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Menciptakan Lingkungan yang Aman dan Nyaman Lingkungan belajar yang aman dan nyaman merupakan prasyarat utama bagi tumbuhnya rasa percaya diri, rasa memiliki, dan emosi positif pada anak. Guru berupaya menciptakan suasana kelas yang bersih, rapi, bebas dari ancaman, serta menumbuhkan rasa saling menghargai di antara anakanak. Bu Holita menyatakan bahwa Auanak akan lebih mudah berinteraksi dan mengekspresikan diri ketika mereka merasa aman dan diterima di kelas. Ay Gambar 1. Pembelajaran di kelas dengan suasana aman dan nyaman Mengapa strategi ini bekerja? Lingkungan aman menurunkan kecemasan anak, mengaktivasi rasa percaya diri, dan meningkatkan keterbukaan dalam berinteraksi. Strategi ini sejalan dengan teori ekologi perkembangan Bronfenbrenner . yang menegaskan bahwa lingkungan . berpengaruh langsung terhadap perilaku dan perkembangan sosial anak. Lingkungan belajar yang positif menumbuhkan rasa nyaman psikologis, yang menjadi dasar bagi pembentukan karakter sosial dan emosional yang sehat. Guru di PAUD Al-Hidayah juga mempraktikkan bentuk komunikasi empatik, seperti menyapa anak setiap pagi, memberi pelukan saat anak menangis, dan menggunakan kata-kata positif dalam setiap Hal-hal sederhana ini terbukti efektif dalam menciptakan hubungan emosional yang hangat antara guru dan anak. Kenyamanan emosional juga diciptakan melalui kegiatan bermain yang bebas dari tekanan. Guru menata kelas dengan perabot yang ramah anak, mengatur tempat duduk fleksibel, serta menyediakan alat permainan edukatif yang aman (Mahendra, 2. Pendekatan ini memperkuat konsep developmentally appropriate practice (DAP) yang menekankan bahwa pembelajaran pada anak usia dini harus sesuai tahap perkembangan, kebutuhan, dan minat anak (Mahendra et al. , 2. Strategi Pembiasaan Positif Metode pembiasaan menjadi strategi yang dominan diterapkan guru untuk menanamkan nilainilai sosial dan emosional melalui kegiatan rutin sehari-hari. Guru menanamkan perilaku disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun melalui pengulangan kegiatan yang sama secara konsisten. Misalnya, anak dibiasakan untuk memberi salam ketika datang, berdoa sebelum dan sesudah belajar, membuang sampah pada tempatnya, serta merapikan mainan setelah bermain. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Gambar 2. Pembiasaan upacara bendera Mengapa pembiasaan efektif? Karena anak usia dini belajar melalui repetition dan model perilaku. Mekanisme pembiasaan bekerja melalui: pendekatan teladan dan pemberian penguatan positif. Guru tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi anak, sesuai dengan konsep social learning theory Bandura . bahwa anak belajar melalui observasi dan peniruan terhadap perilaku orang dewasa yang dianggap signifikan. Melalui pembiasaan, anak belajar mengendalikan emosi, memahami konsekuensi tindakan, dan mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain. Pembiasaan juga menumbuhkan kemampuan regulasi diri . elf-regulatio. yang merupakan inti dari perkembangan sosial emosional (Ainulhaq & Mahendra, 2. Penelitian ini mendukung temuan Hidayat et al. yang membuktikan bahwa pembiasaan budaya antri dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional anak usia dini (Hidayat et al. , 2. Dengan cara yang sama, pembiasaan di PAUD Al-Hidayah membantu anak menginternalisasi nilai-nilai moral dan sosial secara alami tanpa paksaan. Pembelajaran Kooperatif Strategi ketiga yang diterapkan adalah pembelajaran kooperatif, yaitu kegiatan belajar yang melibatkan kerja sama antar anak dalam kelompok kecil. Guru mengarahkan anak untuk saling membantu, berbagi tugas, dan berinteraksi secara aktif dalam permainan maupun proyek belajar Contohnya, saat kegiatan eksperimen sederhana seperti membuat Augunung meletusAy atau bermain peran sebagai pedagang dan pembeli, anak-anak dilatih untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman, dan berkomunikasi dengan sopan. Melalui kegiatan ini, anak belajar mengontrol emosi, menerima perbedaan, dan mengembangkan empati terhadap orang lain. Mengapa pembelajaran kooperatif bekerja? Karena mekanisme sosial dalam kelompok mendorong anak belajar. Pendekatan ini sesuai dengan teori konstruktivisme sosial Vygotsky . , yang menekankan bahwa perkembangan kognitif dan sosial anak terjadi melalui interaksi sosial dalam zone of proximal development (ZPD). Dalam konteks ini, pembelajaran kooperatif memungkinkan anak belajar dari teman sebayanya melalui kolaborasi dan bimbingan guru. Dalam konteks penelitian ini, pembelajaran kooperatif membantu anak yang pemalu menjadi lebih partisipatif karena mereka belajar dalam situasi kelompok kecil yang aman. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Gambar 3. Anak bekerjasama dalam eksperimen gunung meletus Selain itu, pembelajaran kooperatif juga sejalan dengan prinsip pendidikan karakter yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud No. 137 Tahun 2. , di mana nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab perlu ditanamkan sejak usia dini. Namun demikian, guru juga menghadapi tantangan dalam menerapkan strategi ini, seperti perbedaan kemampuan anak dalam bekerja sama dan kecenderungan beberapa anak untuk mendominasi kelompok. Guru perlu terus memfasilitasi dinamika kelompok agar semua anak terlibat aktif dan merasa dihargai. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Guru Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran sosial emosional, guru menghadapi faktor pendukung sekaligus penghambat. Faktor pendukung utama di PAUD Al-Hidayah antara lain: . Dukungan sekolah yang menyediakan lingkungan belajar aman dan sumber daya memadai. Kompetensi dan dedikasi guru dalam memahami karakter anak. Lingkungan kelas yang positif dan hangat, serta . Keterlibatan sebagian orang tua yang mendukung kegiatan pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan studi OECD . yang menunjukkan bahwa kualitas lingkungan sekolah dan kompetensi guru merupakan determinan utama sosial emosional anak Sementara itu, faktor penghambat yang ditemukan mencakup: . Kurangnya keterlibatan sebagian orang tua, terutama dalam komunikasi mengenai perkembangan anak. Keterbatasan pelatihan guru tentang pengembangan sosial emosional. Perbedaan karakter anak yang menuntut pendekatan individual. Guru berupaya mengatasi hambatan tersebut dengan menjalin komunikasi intensif dengan orang tua melalui buku penghubung, grup WhatsApp, serta pertemuan bulanan. Selain itu, guru berinisiatif mengikuti pelatihan informal dan berbagi praktik baik dengan rekan sejawat untuk memperkaya strategi pembelajaran. Studi internasional oleh Sheridan et al. menegaskan bahwa kolaborasi guru-orang tua sangat memengaruhi perkembangan sosial emosional, sehingga keterlibatan orang tua yang rendah menjadi hambatan signifikan. Guru mengatasi hambatan melalui komunikasi intensif dan inisiatif pengembangan kompetensi pribadi, yang menggambarkan karakter reflective practitioner dalam pendidikan anak usia dini. Implikasi Teoretis: . Penelitian ini memperkuat teori Bronfenbrenner bahwa mikrosistem yang aman merupakan prediktor kuat perilaku sosial emosional. Mendukung teori Vygotsky tentang pentingnya kolaborasi dalam pembelajaran sosial anak. Mengonfirmasi efektivitas pendekatan pembiasaan sebagai mekanisme internalisasi nilai dan regulasi diri. Implikasi Praktis: . Guru perlu memprioritaskan penciptaan iklim kelas yang hangat sebelum menerapkan strategi pembelajaran lain. Pembiasaan positif harus disusun secara sistematis agar menjadi budaya . Pembelajaran kooperatif perlu dimodifikasi sesuai karakter anak untuk meningkatkan partisipasi semua anak. Sekolah perlu memperkuat kemitraan dengan orang tua melalui program parenting, komunikasi rutin, dan pelatihan pengasuhan. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan tiga strategi utama penciptaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, pembiasaan positif yang konsisten, serta pembelajaran kooperatif berperan signifikan dalam mengembangkan kemampuan sosial emosional anak usia dini di PAUD Al-Hidayah. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis bagi penguatan konsep Social Emotional Learning (SEL) pada konteks PAUD Indonesia, khususnya dengan menunjukkan bahwa SEL tidak hanya dihasilkan melalui metode khusus, tetapi juga melalui praktik keseharian kelas yang bersifat relasional, repetitif, dan kolaboratif sesuai teori ekologi Bronfenbrenner, social learning Bandura, dan konstruktivisme Vygotsky. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan agar guru memperkuat hubungan emosional positif dengan anak, kepala sekolah menyediakan pelatihan berkelanjutan tentang SEL, dan orang tua meningkatkan keterlibatan melalui komunikasi rutin serta pembiasaan nilai sosial emosional di rumah. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah informan yang terbatas serta fokus pada satu konteks sekolah sehingga generalisasi temuan menjadi terbatas. oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak lembaga PAUD, mengeksplorasi variasi strategi SEL di konteks ruralAeurban, serta meneliti efektivitas jangka panjang strategi pembiasaan dan pembelajaran kooperatif terhadap perkembangan sosial emosional anak. DAFTAR KEPUSTAKAAN Ainulhaq. , & Mahendra. Keterampilan Generik Sains Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Cce (Cooperative Class Experimen. Tipe Group Investigation Pada Konsep Larutan Penyangga. Eduproxima (Jurnal Ilmiah Pendidikan Ip. , 6. , 202Ae210. Bonita. Suryana. Hamdani. , & Harto. The golden age: Perkembangan anak usia dini dan implikasinya terhadap pendidikan islam. Tarbawiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan, 6. , 218Ae Handoko. Wijaya. , & Lestari. Metode Penelitian Kualitatif Panduan Praktis untuk Penelitian Administrasi Pendidikan. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Hidayah. , & Khadijah. Optimalisasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini Dalam Belajar Kelompok. INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3. , 7942Ae7956. Hidayat. Mahendra. Robi. Martalia. Harja. Ramadhan. , & Rahayu. Edukasi Anti-Bulyying Melalui Strategi Kolaboratif Aliansi Siswa-Guru Dalam Menciptakan Zona Bebas Perundungan di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Umum Pengabdian Kepada Masyarakat, 2. , 33Ae42. Judijanto. Wibowo. Karimuddin. Samsuddin. Patahuddin. Anggraeni. Raharjo, , & Simorangkir. Research design: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif . PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Liani. Media Pembelajaran Efektif Dalam Menstimulasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini , 2. , 10Ae27. Mahendra. Upaya pencegahan kekerasan seksual bagi remaja dilingkungan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Bait Et-Tauhdi Kota Serang. Abdimas Siliwangi, 7. , 655Ae667. Mahendra. Jundi. Wulandari. , & Munawar. The Urgency of Digital Literacy in Shaping StudentsAo Civic Virtue: Challenges and Opportunities in the Technological Era. ICoCSE Proceedings, 1, 17Ae22. Mahendra. Mulyawan. , & Putri. Transformasi Pembelajaran Sosiologi: Peran Keterampilan 4c Di Abad Ke-21: Indonesia. P2M STKIP Siliwangi, 10. , 120Ae131. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Mulyawan. Mahendra. , & Kurnaedi. Art Therapy Sebagai Coping Stress Pada Siswa Remaja. Ristekdik: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 8. , 575Ae579. Munawaroh. Siregar. Rahmadani. , & Yarni. Perkembangan usia dini . asa kanakkanak awa. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial (Jupendi. , 2. , 291Ae303. Niswah. , & Zulfahmi. Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun. Ceria: Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini, 13. , 177Ae195. Nurhayati. Apriyanto. Ahsan. , & Hidayah. Metodologi Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Rijkiyani. Syarifuddin. , & Mauizdati. Peran orang tua dalam mengembangkan potensi anak pada masa golden age. Jurnal Basicedu, 6. , 4905Ae4912. Salsabila. Falasifa. , & Irsyad. Pembelajaran Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 Tahun di Indonesia. Asghar: Journal of Children Studies, 5. , 42Ae50. Sari. Abdillah. Asmarany. Rakhmawati. Pattiasina. Kusnadi. Hasanuddin, . Pradana. Rela. , & Hadikusumo. Metode Penelitian Kualitatif (Konsep & Aplikas. Mega Press Nusantara. Sukatin. Mutaqin. Astuti. Widiyansih. , & Putri. Psikologi perkembangan anak usia dini. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Sosial (Jupendi. , 1. , 186Ae194. Sumilih. Jaya. Fitrianingsih. Nugrohowardhani. Irawan. Dirna. Rachmaningtyas. Ras. Pujiriyani. , & Setyorini. METODE PENELITIAN KUALITATIF. PT. Star Digital Publishing. Yogyakarta-Indonesia. Susanti. Indriani. , & Naimah. Mewujudkan Pendidikan Berkualitas Di Masa Golden Age Melalui Manajemen Paud Yang Efektif. Edusiana: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , 90Ae Wahyuni. Optimalisasi Kartu Bergambar sebagai Alat Pembelajaran untuk Aspek SosialEmosional pada Anak Usia 5-6 Tahun. Chatra: Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, 2. , 10Ae18. Waruwu. Pendekatan penelitian kualitatif: Konsep, prosedur, kelebihan dan peran di bidang Afeksi: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan , 5. , 198Ae211. Yusuf. Al Khoeri. Herdiyanti. , & Nuraeni. Urgensi pendidikan anak usia dini bagi tumbuh kembang anak. Plamboyan Edu, 1. , 37Ae44.