CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 Perbedaan karakter vegetatif beberapa galur harapan jagung AMPUNIPA di Kampung Webi. Distrik Rasiei. Kabupaten Teluk Wondama Differences in vegetative characters of several promising AMP-UNIPA corn lines in Webi Village. Rasiei District. Teluk Wondama Regency Tyfenberlis Ika Yulianti1,2. Nouke Lenda Mawikere2*. Barahima Abbas2. Zarima Wibawati3. Darius Dare3 Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Nabire Prodi Magister Ilmu Pertanian Program Pascasarjana. Universitas Papua Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian. Universitas Papua Jl. Gunung Salju Amban. Manokwari. Papua Barat *Email : lenda_mawikere@yahoo. Disubmit: 20 Januari 2026, direvisi: 30 Januari 2026, diterima: 31 Januari 2026 Doi : 10. 30862/casowary. ABSTRACT : Corn (Zea mays L. ) is a strategic food commodity that supports food diversification, particularly in eastern Indonesia. The development of red corn is important due to its potential as a functional food. However, local corn productivity is generally low and requires improvement through breeding. This study aims to compare the vegetative characteristics of several corn genotypes of the AMP-UNIPA promising line cultivated in Webi Village. Rasiei District. Teluk Wondama Regency. The experiment was conducted using a Randomized Block Design (RBD) with 13 corn genotypes, consisting of AMP-UNIPA 1Ae9 and 4 comparison genotypes (Local Red Anggi. Waxycorn. Local Wondama, and National Variet. The parameters observed included plant height, number of leaves, leaf length, leaf width, leaf color, stem diameter, length of the third stem node, length of the fourth stem node, number of stem nodes, and stem color. Data were analyzed using ANOVA and HSD at the 95% confidence level. The results showed significant to highly significant differences between genotypes in most vegetative traits, particularly plant height, leaf development, stem diameter, and the length of certain stem segments. Local Red Anggi showed the greatest vegetative performance, particularly in plant height and leaf length, while AMP-UNIPA 5 tended to excel in leaf number and AMP-UNIPA 3 in stem diameter. These results indicate clear vegetative diversity, suggesting that several AMP-UNIPA lines have adaptive potential and are worthy of consideration for further selection Keywords: Red-corn, vegetative characters, keragaman genotype diversity. Wondama Bay PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L. ) merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia yang berperan sebagai sumber karbohidrat, bahan baku industri pangan, dan komponen utama pakan ternak. Papua Barat memiliki plasma nutfah jagung lokal khas yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat dalam sistem pertanian Namun demikian, jagung lokal umumnya memiliki keterbatasan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 seperti produktivitas yang relatif rendah dan keragaman performa antar lahan akibat interaksi genotipe y lingkungan (Mgonja et al. , 2007. Suwarno & Siregar. Tsegaye et al. , 2. Peningkatan nasional dari tahun ke tahun mendorong upaya intensifikasi dan pengembangan varietas unggul yang adaptif pada berbagai agroekosistem, terutama di wilayah pengembangan baru dan kawasan timur Indonesia, termasuk Papua Barat. Dalam konteks diversifikasi pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal, jagung berwarna termasuk jagung merah menjadi komoditas yang prospektif karena selain berfungsi sebagai pangan, juga berpotensi sebagai pangan fungsional karena kandungan senyawa bioaktif khususnya antosianin yang berasosiasi dengan aktivitas antioksidan (Cui et al. , 2016. Petroni & Tonelli, 2011. Olawuyi et al. Hal ini membuka peluang pengembangan jagung merah tidak hanya untuk peningkatan produksi tetapi juga sebagai sumber pangan lokal bernilai tambah bagi masyarakat. Mawikere et al. dan Sarungallo et al. telah melakukan serangkaian penelitian untuk merakit jagung merah pulut lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transfer gen waxy . ke jagung lokal Anggi berhasil sejak generasi awal dan selanjutnya melalui metode backcross telah menghasilkan sejumlah galur harapan yang disebut AMP-UNIPA (Anggi Merah Pulut UNIPA). Galur-galur memperbaiki mutu dan performa jagung merah lokal agar lebih adaptif dan bernilai tambah bagi masyarakat setempat (Mawikere et al. , 2014. Sarungallo et al. Namun demikian, setiap galur hasil pemuliaan dapat menunjukkan respons pertumbuhan yang berbeda ketika dibudidayakan pada lingkungan yang tidak sama karena sifat fenotipe tanaman merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Menurut Yadesa . , interaksi genotipe y lingkungan (GyE) adalah faktor kunci dalam pemuliaan tanaman karena menyebabkan variasi dalam ekspresi sifat agronomi antar lingkungan. Egea-Gilabert et al. juga menegaskan bahwa perbedaan performa galur di berbagai kondisi lingkungan memperlihatkan dampak besar dari interaksi genetik dan Dengan demikian, evaluasi karakter pertumbuhan terutama karakter vegetatif menjadi tahapan penting untuk menilai adaptasi awal galur pada lokasi Keberhasilan perakitan galur harapan perlu diikuti dengan tahapan evaluasi pada lingkungan target karena fenotipe tanaman merupakan ekspresi interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Perbedaan kondisi agroekologi seperti ketersediaan air, intensitas cahaya, kesuburan tanah, dan iklim mikro dapat mempengaruhi laju pertumbuhan serta vigor tanaman. Pada fase awal pertumbuhan, karakter vegetatif seperti tinggi tanaman, jumlah daun, ukuran daun, dan diameter batang menjadi kemampuan adaptasi dan kompetitivitas Karakter vegetatif berkaitan langsung dengan kapasitas fotosintesis dan pembentukan biomassa, sehingga sering digunakan sebagai dasar seleksi awal dalam program pemuliaan maupun uji adaptasi di lapangan. Genotipe vegetatif yang lebih baik dan seragam umumnya menunjukkan kemampuan fisiologis yang lebih optimal dalam menyerap hara dan memanfaatkan sumber daya lingkungan sehingga berpotensi mendukung pembentukan komponen hasil pada fase generatif berikutnya (Gardner et , 1991. Evans, 1993. Taiz et al. , 2. Pertumbuhan vegetatif jagung yang lebih baik dan seragam seringkali menunjukkan kemampuan fisiologis yang unggul dalam serapan hara . ermasuk N), yang kemudian mempengaruhi pembentukan komponen hasil pada fase generatif (He et , 2024. LjubisiN et al. , 2. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 Kabupaten Teluk Wondama merupakan salah satu wilayah potensial pengembangan jagung di Papua Barat dipengaruhi kondisi pesisir dan daratan. Kampung Webi. Distrik Rasiei, menjadi lokasi budidaya yang penting untuk pengujian adaptasi galur harapan AMPUNIPA lingkungan produksi jagung masyarakat Meskipun jagung AMP-UNIPA telah dikembangkan melalui tahapan pemuliaan, informasi ilmiah mengenai perbedaan karakter vegetatif antar galur pada lokasi spesifik Teluk Wondama belum tersedia. Oleh karena itu, galur harapan AMP-UNIPA yang menunjukkan keunggulan di suatu lokasi belum tentu memberikan performa pertumbuhan vegetatif yang sama ketika dibudidayakan di Kampung Webi. Distrik Rasiei, mengingat adanya perbedaan kondisi agroekologi setempat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi dan identifikasi karakter vegetatif beberapa galur jagung harapan AMPUNIPA yang dibudidayakan di Kampung Webi. Distrik Rasiei. Kabupaten Teluk Wondama. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan data pembanding karakter vegetatif antar galur AMPUNIPA pada lingkungan spesifik Teluk Wondama sebagai bagian dari uji adaptasi lapang lokal sehingga dapat menjadi dasar seleksi galur yang paling adaptif dan potensial untuk dikembangkan lebih Hasil penelitian diharapkan mendukung rekomendasi galur unggul lokal serta memperkuat pengembangan jagung merah pulut sebagai pangan fungsional berbasis sumber daya genetik Papua Barat. MATERI DAN METODE Penelitian dilakukan di Kampung Webi. Distrik Rasiei. Kabupaten Teluk Wondama yang terletak pada 2A0A80AAe 2A0A94A LS dan 134A0A47AAe134A0A70A BT. Lokasi penelitian terletak pada koordinat 2A51A52. 2A LS dan 134A32A05. 3A BT, dengan ketinggian 35 mdpl (BPS Kabupaten Teluk Wondama, 2. Penelitian berlangsung selama 6 bulan, dimulai sejak bulan Maret sampai dengan bulan Agustus 2025. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah traktor, sekop, cangkul, meteran, timbangan digital, kaliper, tali rafia dan Munsell Color Plant/RAL sebagai petunjuk untuk mengidenfikasi Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kompos, furadan, insektisida serta benih jagung dari 9 genotipe AMP-UNIPA generasi BC3F4, pulut. Anggi Merah Lokal. Lokal Wondama dan varietas nasional. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan teknik pengamatan di Rancangan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal dengan 13 perlakuan genotipe yang diulang sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 39 satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan adalah jagung merah pulut unipa sebanyak 9 genotipe, jagung pulut sebagai tetua jantan, jagung merah lokal Anggi sebagai tetua betina, jagung lokal Wondama dan jagung varietas nasional. Setiap satuan percobaan berukuran 2m x 3m, yang ditanami 25 tanaman dengan jarak 40cm x 60cm. Pengambilan sampel pada setiap petak dilakukan pada 5 tanaman dengan menggunakan metode diagonal utama. Pengamatan pada 13 genotipe jagung meliputi karakter tinggi tanaman, daun . umlah daun, panjang daun, lebar daun, dan warna dau. , dan karakter batang . iameter batang, panjang ruas batang ke- 3 dan ke-4, jumlah ruas batang, dan warna batan. Untuk mengidentifikasi perbedaan karakter vegetatif, maka hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian (Anov. pada taraf kepercayaan 95%, dan bila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Karakter Pertumbuhan Hasil pengamatan terhadap variabel yang diamati pada 13 genotipe jagung yaitu AMP-UNIPA . Anggi merah pulut, pulut, lokal Wondama, dan varietas nasional diuraikan di bawah ini. Rekapitulasi sidik ragam dan koefisen keragaman (KK) disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan hasil analisis varian terhadap karakter yang diamati terlihat adanya pengaruh sangat nyata (P<0,. pada karakter tinggi tanaman . MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST), jumlah daun 7 MST, panjang daun . MST dan 7 MST), lebar daun 5 MST, diameter batang . MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST), panjang ruas batang ke-3 dan ke-4, dan jumlah ruas batang. Pengaruh nyata (P<0,. terdapat pada karakter jumlah daun . MST dan 5 MST), panjang daun . MST dan 5 MST), dan lebar daun 3 MST. Karakter yang tidak berpengaruh nyata yaitu jumlah daun 3 MST dan lebar daun . MST dan 7 MST). Hasil anova pada Tabel 1 menunjukkan adanya perbedaan nilai koefisien keragaman (KK) pada setiap karakter yang diamati. Nilai KK yang diperoleh berkisar antara 3,99% - 54,42%. Karakter diameter batang pada umur 1 MST memiliki nilai KK tertinggi yaitu 54,42% dan karakter panjang daun pada umur 7 MST memiliki nilai KK terendah yaitu 3,99%. Nilai KK yang tinggi menunjukkan bahwa data diameter batang pada fase awal pertumbuhan memiliki keragaman yang besar. Hal ini dapat disebabkan oleh: . Pertumbuhan tanaman yang belum seragam pada umur awal, . Pengaruh faktor lingkungan yang masih dominan, dan . Sensitivitas karakter diameter batang terhadap variasi genetik maupun kondisi tumbuh pada fase vegetatif awal. Sebaliknya, karakter panjang daun pada umur 7 MST memiliki nilai KK terendah menunjukkan bahwa data relatif homogen dan stabil, sehingga variasi antar ulangan kecil. Kondisi ini menandakan bahwa pada umur 7 MST, pertumbuhan panjang daun telah lebih seragam dan pengaruh faktor lingkungan maupun kesalahan percobaan relatif kecil. Perbedaan nilai koefisien keragaman pada setiap karakter menunjukkan bahwa respon pertumbuhan tanaman berbedabeda tergantung pada jenis karakter dan umur pengamatan. Karakter pada fase awal pertumbuhan cenderung memiliki keragaman yang lebih tinggi, sedangkan pada fase pertumbuhan lanjut tanaman menunjukkan pertumbuhan yang lebih seragam (Mattjik & Sumertajaya, 2011. Hanafiah, 2. Hal ini disebabkan pertumbuhan cenderung mengikuti pola genetik yang lebih konsisten (SokoloviN. Tinggi Tanaman Pengamatan karakter tinggi tanaman yang dilakukan pada 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST menunjukkan bahwa genotipe memberikan pengaruh yang nyata pada tinggi tanaman umur 3 MST serta sangat nyata pada umur 5 MST dan 7 MST. Rata-rata tinggi tanaman dan hasil uji BNJ dapat dilihat pada Tabel 2. Data di atas menunjukkan bahwa tinggi tanaman pada 1 MST yang tertinggi adalah genotipe Anggi Merah Lokal sebesar 5,80 cm dan tidak berbeda nyata dengan genotipe Lokal Wondama. Hal ini menandakan bahwa genotipe lokal memiliki vigor awal . arly vigo. yang baik pada kondisi Kampung Webi. Early menentukan daya saing tanaman terhadap gulma serta meningkatkan efisiensi awal tanaman dalam menangkap cahaya dan menyerap hara (Capo et al. , 2. Genotipe AMP-UNIPA 1 memiliki tinggi tanaman terendah yaitu 2,13 cm, tidak berbeda nyata dengan AMP-UNIPA 2. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMPUNIPA 5. AMP-UNIPA 6. AMP-UNIPA 7, dan AMP-UNIPA 8. Hal ini mengindikasikan bahwa pada fase awal CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 pertumbuhan, beberapa galur AMPUNIPA belum menunjukkan perbedaan tinggi tanaman yang jelas, atau masih berada pada tahap penyesuaian awal terhadap kondisi lingkungan setempat. Tabel 1. Rekapitulasi sidik ragam dan koefisien keragaman (%) Karakter KTp F-Hit Tinggi Tanaman 1 MST 12,50** Tinggi Tanaman 3 MST 33,63 3,05** Tinggi Tanaman 5 MST 1,636. 6,42** Tinggi Tanaman 7 MST 3,391. 4,51** Jumlah Daun 1 MST 0,20 2,25* Jumlah Daun 3 MST 0,88 1,02tn Jumlah Daun 5 MST 2,06 2,30* Jumlah Daun 7 MST 3,25 4,33** Panjang Daun 1 MST 21,53 8,02** Panjang Daun 3 MST 162,75 2,30* Panjang Daun 5 MST 76,18 2,68* Panjang Daun 7 MST 72,83 5,79** Lebar Daun 1 MST 0,07 1,95tn Lebar Daun 3 MST 1,26 3,03* Lebar Daun 5 MST 3,23 8,32** Lebar Daun 7 MST 7,86 1,36tn Diameter Batang 1 MST 0,01 3,82** Diameter Batang 3 MST 0,18 3,98** Diameter Batang 5 MST 0,20 3,46** Diameter Batang 7 MST 0,17 3,30** Panjang Ruas Batang ke-3 26,78 11,18** Pnajang Ruas Batang ke-4 22,95 7,50** Jumlah Ruas Batang 4,22 6,72** KK (%) 17,63 16,88 16,09 13,46 9,17 10,95 7,20 5,97 15,23 14,99 6,57 3,99 12,29 12,94 9,17 30,32 54,42 17,62 13,92 11,99 8,35 8,08 6,98 Keterangan: *= berpengaruh nyata pada P<0. 05, **=berpengaruh nyata pada P<0. tn = tidak berpengaruh nyata Pada minggu ke-3 setelah tanam, tinggi tanaman jagung Anggi Merah Lokal masih yang tertinggi yaitu 26,73 cm, namun tidak berbeda nyata dengan semua genotipe yang ada yaitu genotipe AMP-UNIPA 1. AMPUNIPA 2. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMP-UNIPA 5. AMP-UNIPA 6. AMPUNIPA 7. AMP-UNIPA 8. AMP-UNIPA 9, pulut, dan varietas nasional, kecuali dengan jagung lokal Wondama yang memiliki tinggi tanaman terendah yaitu 12,70 cm. Pada umur 5 MST, genotipe AMP-UNIPA 9 memiliki tinggi tanaman tertinggi yaitu 122,93 cm, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe AMP-UNIPA 2. AMPUNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMP-UNIPA 5. AMP-UNIPA 6. AMP-UNIPA 7. AMPUNIPA 8. Anggi Merah Lokal, dan Pulut. Jagung lokal Wondama memiliki tinggi tanaman terendah yaitu 51,33 cm. Secara fisiologis, pada umur 5 MST tanaman pertumbuhan vegetatif yang paling cepat. Pada tahap ini, perbedaan kemampuan genetik antar galur dalam hal menyerap menjalankan fotosintesis mulai terlihat lebih jelas. Tanaman tertinggi pada 7 MST adalah jagung Anggi Merah Lokal yaitu 260,93 cm, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe AMP-UNIPA 2. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMP-UNIPA 5. AMPUNIPA 6. AMP-UNIPA 7. AMP-UNIPA 8. AMP-UNIPA 9, dan pulut. Tinggi tanaman terendah pada genotipe AMP-UNIPA 1 yaitu 147,13 cm, tidak berbeda dengan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 varietas nasional. Perbedaan mencolok ini menegaskan bahwa AMP-UNIPA 1 cenderung memiliki vigor vegetatif lebih rendah dibanding galur lain. Dengan kata lain AMP-UNIPA 1 memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebih lambat atau daya tumbuh yang lebih rendah pada fase pertumbuhan hingga 7 MST. Vigor vegetatif yang rendah menunjukkan keterbatasan genotipe tersebut dalam memanfaatkan sumber daya lingkungan, seperti unsur hara, air, dan cahaya, terutama pada fase pertumbuhan vegetatif aktif (Taiz et al. , 2. Selain itu, faktor genetik juga berperan penting dalam menentukan tinggi mencerminkan adanya keragaman genetik antar genotipe jagung yang diuji. Tabel 2. Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ karakter tinggi tanaman pada umur 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST Genotipe Tinggi Tanaman . 1 MST 3 MST 5 MST 7 MST AMP-UNIPA 1 2,3c 16,93ab 68,47bcd 147,13c AMP-UNIPA 2 2,50c 20,12ab 104,13abc 203,73abc AMP-UNIPA 3 2,31c 20,60ab 113,47ab 228,13abc AMP-UNIPA 4 2,17c 18,83ab 96,47abcd 202,73abc AMP-UNIPA 5 2,63c 23,20a 117,00a 223,60abc AMP-UNIPA 6 2,31c 20,95ab 120,53a 237,33ab AMP-UNIPA 7 2,27c 20,09ab 109,67abc 216,87abc AMP-UNIPA 8 2,39c 18,37ab 104,73abc 216,07abc AMP-UNIPA 9 2,82bc 21,07ab 122,93a 206,33abc 10 Anggi Merah Lokal 5,80a 26,73a 113,13ab 260,93a 11 Pulut 3,21bc 16,70ab 105,53abc 195,67abc 12 Lokal Wondama 4,30ab 12,70b 51,33d 157,60bc 13 Varietas Nasional 3,37bc 19,47ab 62,27cd 154,27c Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Secara agronomis, genotipe dengan tinggi tanaman yang lebih besar umumnya memiliki luas daun dan kapasitas fotosintesis yang lebih tinggi, yang biomassa dan hasil. Namun demikian, tinggi tanaman yang berlebihan juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko rebah, sehingga evaluasi lanjutan terhadap karakter agronomis lain tetap diperlukan (Gardner et al. , 1991. Salisbury & Ross. Taiz et al. , 2015. Evans, 1. Tinggi tanaman yang berlebihan cenderung meningkatkan risiko rebah . karena menaikkan titik pusat gravitasi dan gaya lentur pada batang, sehingga perlu evaluasi karakter agronomis tambahan seperti kekuatan batang dan pengaturan nutrisi untuk mengoptimalkan hasil produksi tanaman (Niu et al. , 2021. Wu et al. , 2. Karakter Daun Karakter daun yang diamati meliputi jumlah, panjang, dan lebar daun pada 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST, serta warna daun pada 8 MST. Jumlah Daun Jumlah daun pada umur 1 MST dan 7 MST berpengaruh nyata, namun pada 3 MST dan 5 MST jumlah daun antar genotipe relatif seragam dan tidak berpengaruh nyata. Rata-rata jumlah daun dari 13 genotipe jagung dan hasil uji BNJ dapat dilihat pada Tabel 3. Rata-rata jumlah daun terbanyak pada 1 MST adalah genotipe Anggi Merah Lokal sebanyak 3,87 helai, namun tidak berbeda CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 nyata dengan semua genotipe lainnya kecuali genotipe AMP-UNIPA 1 yang memiliki rata-rata jumlah daun terendah yaitu 2,87 helai. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada fase vegetatif awal, perkembangan daun pada sebagian besar genotipe masih relatif sama, sedangkan AMP-UNIPA 1 tampak memiliki vigor awal yang lebih rendah. Secara fisiologis, jumlah daun pada tahap awal sangat penting karena menentukan seberapa cepat tajuk terbentuk dan seberapa besar kapasitas fotosintesis awal, yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan vegetatif pada fase berikutnya. Yan et al. menyatakan bahwa jumlah daun pada fase awal pertumbuhan sangat menentukan fotosintesis awal yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan vegetatif pada fase berikutnya. Pada minggu ke-7 setelah tanam, perbedaan jumlah daun antar genotipe berpengaruh nyata yang menandakan bahwa ekspresi karakter ini semakin kuat seiring perkembangan tanaman. Rata-rata jumlah daun terbanyak pada genotipe AMP-UNIPA 5 yaitu 16,47 helai, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMPUNIPA 6. AMP-UNIPA 7. AMP-UNIPA 8. AMP-UNIPA 9. Anggi Merah Lokal, dan lokal Wondama. Rata-rata jumlah daun paling sedikit terdapat pada jagung varietas nasional yaitu sebanyak 12,73 helai, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe AMP-UNIPA 1. AMP-UNIPA 2, dan pulut. Berdasarkan karakter jumlah daun. AMP-UNIPA 5 dapat diidentifikasi sebagai galur dengan pertumbuhan vegetatif terbaik dan adaptif, sedangkan AMP-UNIPA 1 cenderung kurang adaptif karena konsisten berada pada kelompok rendah sejak awal hingga fase akhir Secara fisiologis dan agronomis, jumlah daun merupakan salah satu indikator penting vigor vegetatif dan berkaitan erat dengan luas permukaan fotosintesis. Genotipe dengan jumlah daun lebih banyak umumnya memiliki potensi kapasitas fotosintesis yang lebih besar, yang dapat mendukung akumulasi biomassa dan berkontribusi terhadap pembentukan hasil. Namun, karena sebagian besar genotipe menunjukkan jumlah daun yang tidak berbeda nyata, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan genetik antar genotipe dalam pembentukan daun relatif kecil, atau pengaruh lingkungan lebih dominan dibandingkan pengaruh genotipe. Dengan demikian, meskipun AMP-UNIPA 5 memiliki nilai rata-rata jumlah daun tertinggi, keunggulan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai keunggulan agronomis yang nyata dibandingkan sebagian besar genotipe lainnya. Evaluasi lanjutan terhadap karakter pertumbuhan lain, seperti luas daun, tinggi tanaman, dan komponen hasil, tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran potensi genotipe secara lebih Panjang Daun Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa panjang daun setiap genotipe berpengaruh nyata pada berbagai waktu Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ dapat dilihat pada Tabel 4. Rata-rata panjang daun tertinggi pada 1 MST terdapat pada genotipe Anggi Merah Lokal yaitu 18,33 cm, berbeda nyata dengan seluruh genotipe jagung lainnya. Pada minggu ke-3 setelah tanam, panjang daun Anggi Merah Lokal masih yang tertinggi yaitu 69,40 cm dan tidak berbeda nyata dengan 9 genotipe AMP-UNIPA, pulut, dan varietas nasional. Panjang daun terendah yaitu jagung lokal Wondama sebesar 40,73 cm, namun tidak berbeda nyata dengan keseluruhan genotipe lainnya kecuali dengan Anggi Merah Lokal. Pada minggu ke-5 setelah tanam menunjukkan kecenderungan panjang daun lebih tinggi. Rata-rata daun terpanjang ada pada genotipe Anggi Merah Lokal. AMPUNIPA 7. AMP-UNIPA 3 dan AMPUNIPA 2, berbeda dengan varietas nasional yang memiliki rata-rata panjang daun terendah yaitu 67,60 cm. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian galur AMP-UNIPA mampu membentuk daun CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 dengan ukuran kompetitif pada lingkungan Kampung Webi, sedangkan varietas nasional cenderung lebih pendek sehingga berpotensi memiliki luas daun lebih kecil. Tabel 3. Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ karakter jumlah daun pada umur 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST Jumlah Daun (Hela. Genotipe 1 MST 3 MST 5 MST 7 MST 1 AMP-UNIPA 1 2,7b 7,60 11,67a 12,93c 2 AMP-UNIPA 2 3,40ab 8,47 13,00a 13,80bc 3 AMP-UNIPA 3 3,00ab 9,13 13,80a 15,00abc 4 AMP-UNIPA 4 3,07ab 8,07 12,87a 14,27abc 5 AMP-UNIPA 5 3,27ab 8,87 13,67a 16,47a 6 AMP-UNIPA 6 3,20ab 8,53 13,93a 14,80abc 7 AMP-UNIPA 7 3,07ab 8,40 13,40a 14,80abc 8 AMP-UNIPA 8 3,20ab 8,33 13,53a 14,47abc 9 AMP-UNIPA 9 3,13ab 8,60 13,87a 14,80abc 10 Anggi Merah Lokal 3,87a 9,40 13,47a 15,27abc 11 Pulut 3,20ab 7,93 12,87a 13,67bc 12 Lokal Wondama 3,53ab 8,87 13,60a 15,60ab 13 Varietas Nasional 3,13ab 7,67 11,27a 12,73c Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Pada fase akhir vegetatif, rata-rata daun terpanjang pada 7 MST masih konsisten pada genotipe Anggi Merah Lokal yaitu 100,20 cm berbeda nyata dengan lokal Wondama, namun tidak berbeda nyata dengan AMP-UNIPA 2. AMP-UNIPA 6. AMP-UNIPA 7, dan AMP-UNIPA 9. Ratarata daun terpendek pada genotipe lokal Wondama yaitu 80,33 cm yang tidak berbeda nyata dengan AMP-UNIPA 1. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMPUNIPA 5. AMP-UNIPA 8. AMP-UNIPA 9, pulut, dan varietas nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar genotipe memiliki panjang daun yang relatif homogen, dan perbedaan rataan yang muncul belum cukup besar untuk menunjukkan perbedaan statistik yang Konsistensi genotipe Anggi Merah Lokal dalam menghasilkan panjang daun tertinggi hingga umur 7 MST menunjukkan bahwa genotipe ini memiliki vigor vegetatif yang relatif baik dan kemampuan pertumbuhan daun yang lebih optimal dibandingkan beberapa genotipe lain. Sebaliknya, panjang daun yang lebih pendek pada genotipe lokal Wondama mengindikasikan pertumbuhan daun yang lebih terbatas, meskipun secara statistik tidak selalu berbeda nyata dengan sebagian besar genotipe lainnya. Tidak adanya perbedaan nyata pada sebagian besar genotipe menunjukkan bahwa karakter panjang daun cenderung stabil, dan perbedaan genetik antar genotipe relatif kecil, atau pengaruh lingkungan lebih dominan dalam menentukan ekspresi karakter ini pada fase akhir vegetatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Evans . yang menyatakan bahwa apabila perbedaan karakter morfologi vegetatif tidak nyata, maka kontribusi genetik terhadap variasi karakter tersebut relatif rendah. Shiferaw et . juga menyatakan jika perbedaan karakter morfologi vegetatif antar genotipe tidak nyata, maka kontribusi genetik diperkirakan rendah, karena sebagian besar variasi trait lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan daripada komponen genetik. Secara fisiologis, panjang daun berkaitan erat dengan luas daun dan kapasitas penangkapan cahaya. Genotipe dengan daun lebih panjang berpotensi memiliki luas permukaan fotosintesis yang CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 lebih besar, sehingga dapat mendukung proses fotosintesis dan akumulasi biomassa. Namun, karena sebagian besar genotipe tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan genetik antar genotipe dalam karakter panjang daun relatif terbatas, atau pengaruh menentukan ekspresi karakter tersebut pada fase akhir vegetatif. Tabel 4. Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ karakter panjang daun pada umur 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST Genotipe Panjang Daun . 1 MST 3 MST 5 MST 7 MST 1 AMP-UNIPA 1 8,35bc 64,33ab 78,60ab 82,40bc 2 AMP-UNIPA 2 10,55bc 58,33ab 83,93a 92,00ab 3 AMP-UNIPA 3 10,35bc 59,60ab 84,24a 88,67bc 4 AMP-UNIPA 4 7,72c 50,47ab 81,13ab 86,47bc 5 AMP-UNIPA 5 11,49bc 62,87ab 81,80ab 89,13bc 6 AMP-UNIPA 6 9,67bc 57,27ab 82,47ab 91,37ab 7 AMP-UNIPA 7 9,07bc 55,20ab 84,67a 93,00ab 8 AMP-UNIPA 8 9,87bc 53,47ab 82,60ab 88,67bc 9 AMP-UNIPA 9 11,56bc 57,00ab 83,47ab 90,40abc 10 Anggi Merah Lokal 18,33a 69,40a 86,87a 100,20a 11 Pulut 10,13bc 48,80ab 82,67ab 86,27bc 12 Lokal Wondama 13,17b 40,73b 74,80ab 80,33c 13 Varietas Nasional 9,61bc 52,60ab 67,60b 88,27bc Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Lebar Daun Lebar daun pada umur 1 MST dan 7 MST tidak berpengaruh nyata. Genotipe yang memiliki daun terlebar pada 3 MST yaitu AMP-UNIPA 5 dan AMP-UNIPA 2, namun tidak berbeda nyata dengan seluruh genotipe lainnya. Rata-rata lebar daun dari 13 genotipe jagung dan hasil uji BNJ dapat dilihat pada Tabel 5. Pada umur 1 MST dan 7 MST, lebar daun tidak berpengaruh nyata yang menandakan bahwa sebagian besar genotipe memiliki respons perkembangan lebar daun yang relatif seragam pada fase awal dan akhir vegetatif. Hal ini dapat disebabkan oleh kesamaan kebutuhan fisiologis tanaman pada kondisi lingkungan yang sama. Pada umur 3 MST terdapat kecenderungan keragaman lebar daun yaitu genotipe AMP-UNIPA 2 dan AMP-UNIPA 5 menunjukkan nilai tertinggi . ,74 cm dan 5,69 c. , sedangkan Varietas Nasional terendah . ,61 c. Walaupun perbedaannya tidak nyata terhadap seluruh genotipe, kecenderungan ini menunjukkan bahwa beberapa galur AMP-UNIPA pembentukan daun lebih lebar sehingga dapat meningkatkan luas daun dan kemampuan menangkap cahaya pada fase vegetatif aktif. Lebar daun berkaitan dengan luas kanopi, efisiensi fotosintesis, serta pembentukan biomassa, sehingga genotipe dengan daun lebih lebar umumnya memiliki peluang lebih baik dalam mendukung pertumbuhan vegetatif (Gardner et al, 1991. Taiz dan Zeiger, 2. Pernyataan ini sejalan dengan Vennila . dan Mahmood et al. yang menyatakan lebar daun yang lebih besar atau LAI yang tinggi umumnya meningkatkan kapasitas fotosintesis dan akumulasi biomassa vegetatif pada tanaman. Warna daun Warna daun diamati pada 8 MST yaitu dengan menghitung persentase warna dominan yang terdapat pada populasi masing-masing genotipe. Persentase warna batang per genotipe dapat dilihat pada Tabel CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 Warna daun secara keseluruhan menunjukkan warna daun yang seragam yaitu hijau pekat atau hijau tua . ark gree. Genotipe Anggi Merah Lokal. Lokal Wondama, dan Varietas Nasional memiliki warna daun 100% hijau pekat, sedangkan pada genotipe lain terdapat komposisi warna ungu kehijauan . eep purplish pink dark gree. dengan persentase yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan genotipe tidak menimbulkan variasi nyata pada karakter warna daun. Warna daun dapat dilihat pada Gambar 1. Tabel 5. Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ karakter lebar daun pada umur 1 MST, 3 MST, 5 MST, 7 MST, dan warna daun. Genotipe Lebar Daun . Warna Daun 1 MST 3 MST 5 MST 7 MST 1 AMP-UNIPA 1 4,79ab 6,31a 6,47 Hijau Tua 2 AMP-UNIPA 2 1,63 5,74a 7,46a 8,18 Hijau Tua 3 AMP-UNIPA 3 1,40 5,39ab 7,53a 8,28 Hijau Tua 4 AMP-UNIPA 4 1,71 4,80ab 7,20a 7,97 Hijau Tua 5 AMP-UNIPA 5 1,49 5,69a 7,32a 7,95 Hijau Tua 6 AMP-UNIPA 6 1,56 5,25ab 7,15a 7,89 Hijau Tua 7 AMP-UNIPA 7 1,52 5,51ab 7,51a 8,04 Hijau Tua 8 AMP-UNIPA 8 1,62 4,99ab 7,07a 7,64 Hijau Tua 9 AMP-UNIPA 9 1,45 5,14ab 6,85a 7,51 Hijau Tua 10 Anggi Merah Lokal 1,83 5,49ab 6,40a 7,48 Hijau Tua 11 Pulut 1,27 4,23ab 7,59a 12,69 Hijau Tua 12 Lokal Wondama 1,59 4,17ab 6,23a 7,43 Hijau Tua 13 Varietas Nasional 1,32 3,61b 3,72b 5,54 Hijau Tua Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Tabel 6. Persentase warna daun dari 13 genotipe jagung Genotipe AMP-UNIPA 1 AMP-UNIPA 2 AMP-UNIPA 3 AMP-UNIPA 4 AMP-UNIPA 5 AMP-UNIPA 6 AMP-UNIPA 7 AMP-UNIPA 8 AMP-UNIPA 9 Anggi Merah Lokal Pulut Lokal Wondama Varietas Nasional Warna Daun Persentase warna batang (%) Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua Hijau Tua 97,33 97,33 90,67 94,67 92,00 90,67 96,00 90,67 92,00 100,00 97,33 100,00 100,00 CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 Gambar 1. Warna daun pada genotipe jagung: . Ungu kehijauan hijau tua. Hijau tua Karakter Batang Karakter batang yang diamati adalah diameter batang, panjang ruas batang, jumlah ruas batang, dan warna batang. Diameter batang diamati pada 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST, sedangkan panjang ruas batang ke-3 dan ke-4, jumlah ruas batang, dan warna batang diamati pada 8 MST. Diameter Batang Hasil uji anova pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan bahwa diameter batang berpengaruh nyata pada setiap waktu Rata-rata diameter batang dari 13 genotipe jagung dan hasil uji BNJ dapat dilihat pada Tabel 7. Rata-rata diameter batang terbesar pada 1 MST adalah genotipe Lokal Wondama yaitu sebesar 0,18 cm, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe AMP-UNIPA 1. AMP-UNIPA 9, dan Anggi Merah Lokal. Rata-rata diameter terkecil adalah varietas nasional dan pulut serta beberapa genotipe AMP-UNIPA lainnya (AMP-UNIPA 2. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMPUNIPA 5. AMP-UNIPA 6. AMP-UNIPA 7. AMP-UNIPA . Pada umur 3 MST, diameter batang berbeda nyata antar genotipe. Sebagian besar genotipe AMP-UNIPA (AMPUNIPA 2. AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 5, dan AMP-UNIPA . serta Anggi Merah Lokal memiliki diameter batang terbesar, namun tidak berbeda nyata dengan genotipe lainnya kecuali dengan varietas nasional yang memiliki diameter terkecil yaitu 0,66 Perbedaan diameter batang antar genotipe semakin terlihat berbeda nyata pada umur 5 MST. Genotipe AMP-UNIPA 3. AMP-UNIPA 7. AMP-UNIPA 8. AMPUNIPA 9, dan Lokal Wondama memiliki diameter batang terbesar, namun tidak berbeda nyata dengan AMP-UNIPA 1. AMP-UNIPA 2. AMP-UNIPA 4. AMPUNIPA 5. Anggi Merah Lokal, dan Pulut. Rata-rata diameter terkecil adalah varietas nasional yaitu 1,04 cm. Genotipe AMP-UNIPA menunjukkan diameter batang terbesar yaitu 2,34 cm pada umur 7 MST dan tidak berbeda nyata dengan genotipe AMPUNIPA 7 dan Lokal Wondama. Diameter batang terkecil adalah varietas nasional yaitu 1,37 cm. Pulut menunjukkan diameter batang yang relatif lebih kecil pada akhir pengamatan. Diameter mencerminkan vigor pertumbuhan dan kekokohan tanaman, karena berperan dalam menopang tajuk serta mendukung transportasi air, hara, dan hasil fotosintesis. Feng et al. Niu et al. dan Ji et al. menyatakan bahwa diameter batang merupakan parameter fisiologis dan agronomis penting yang mencerminkan vigor pertumbuhan serta kekokohan tanaman, karena berperan dalam mekanik dukungan tajuk dan kapasitas jaringan vaskular untuk transportasi air, nutrien, dan berdampak pada pertumbuhan vegetatif tanaman dan ketahanan terhadap rebah. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 Tabel 7. Nilai rata-rata dan hasil uji BNJ karakter diameter batang pada umur 1 MST, 3 MST, 5 MST, dan 7 MST Genotipe Diameter Batang ( c. 1 MST 3 MST 5 MST 7 MST 1 AMP-UNIPA 1 0,07ab 0,99ab 1,38ab 1,75abc 2 AMP-UNIPA 2 0,06b 1,41a 1,71ab 2,02abc 3 AMP-UNIPA 3 0,05b 1,47a 1,96a 2,34a 4 AMP-UNIPA 4 0,05b 1,25ab 1,67ab 1,95abc 5 AMP-UNIPA 5 0,05b 1,34a 1,72ab 1,87abc 6 AMP-UNIPA 6 0,06b 1,28ab 1,83a 1,93abc 7 AMP-UNIPA 7 0,05b 1,33a 1,97a 2,07ab 8 AMP-UNIPA 8 0,04b 1,20ab 1,78a 1,99abc 9 AMP-UNIPA 9 0,07ab 1,48a 1,90a 2,01abc 10 Anggi Merah Lokal 0,15ab 1,37a 1,65ab 1,79abc 11 Pulut 0,04b 0,99ab 1,76ab 1,63bc 12 Lokal Wondama 0,18a 0,92ab 1,90a 2,10ab 13 Varietas Nasional 0,05b 0,66b 1,04b 1,37c Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Oleh sebab itu variasi diameter batang antar genotipe menunjukkan adanya keragaman fenotipik dan perbedaan kemampuan adaptasi galur pada kondisi agroekologi Kampung Webi. Genotipe terbaik dari segi diameter batang adalah AMP-UNIPA 3 karena memiliki diameter batang terbesar pada 7 MST . ,34 c. , sama dengan AMP-UNIPA 7 serta Lokal Wondama . idak berbeda nyat. Dengan demikian, diameter batang layak dijadikan karakter penciri pembeda antar galur genotipe berdasarkan tingkat vigor dan ketahanan struktur tanaman pada lingkungan budidaya setempat. Panjang Ruas Batang. Jumlah Ruas Batang, dan Warna Batang Berdasarkan hasil uji BNJ pada taraf kepercayaan 95% terdapat perbedaan nyata antar genotipe terhadap panjang ruang batang ke-3, panjang ruas batang ke-4, dan jumlah ruas batang yang menunjukkan adanya keragaman karakter morfologi batang. Rata-rata panjang ruas batang ke-3, panjang ruas batang ke-4, dan jumlah ruas batang, serta hasil uji BNJ dari 13 genotipe jagung dapat dilihat pada Tabel 8. Panjang ruas batang ke-3 tertinggi adalah genotipe AMP-UNIPA 1 yaitu 25,20 cm, tidak berbeda nyata dengan genotipe Anggi Merah Lokal namun berbeda nyata dengan seluruh genotipe Rata-rata panjang ruas batang ke3 terendah adalah genotipe Lokal Wondama yaitu 11,33 cm. Genotipe AMP-UNIPA 1 masih menunjukkan nilai tertinggi pada panjang ruas batang ke-4 yaitu 25,60 cm, namun tidak berbeda nyata dengan beberapa genotipe AMPUNIPA lainnya (AMP-UNIPA 2. AMPUNIPA 3. AMP-UNIPA 4. AMP-UNIPA 6. AMP-UNIPA 7. AMP-UNIPA 8. AMPUNIPA . Anggi Merah Lokal. Pulut, dan Varietas Nasional. Panjang ruas batang ke-4 terendah masih ditunjukkan oleh jagung Lokal Wondama yaitu 13,87 cm. Genotipe dengan ruas lebih panjang seperti AMP-UNIPA 1 menunjukkan kecenderungan pertumbuhan melalui pemanjangan internodia, yang dapat memperluas kanopi, tetapi tetap perlu ditopang batang yang kuat agar tidak mudah rebah. Rata-rata jumlah ruas terbanyak adalah genotipe Anggi Merah Lokal yaitu sebanyak 14,07, namun tidak berbeda nyata dengan Lokal Wondama dan AMPUNIPA 5 dan berbeda nyata dengan genotipe lainnya. Genotipe dengan jumlah CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 ruas lebih banyak seperti Anggi Merah . trong yellow gree. , sedangkan pada Lokal. Lokal Wondama, dan AMPwarna UNIPA 5 memperlihatkan struktur batang . trongyellowish gree. , merah pekat yang lebih bersegmen karena mendukung keunguan . trong purplish re. , dan ungu pembentukan tajuk dan distribusi daun. keabu-abuan . reyish purplis. berada Dengan demikian, panjang ruas batang kedalam persentase yang rendah (Tabel . 3 dapat dijadikan penciri utama karena Warna batang cenderung seragam paling jelas membedakan AMP-UNIPA 1 dari genotipe lain, sedangkan jumlah ruas membedakan genotipe (UPOV, 2009. menjadi penciri tambahan untuk melihat Taiz dan Zeiger, 2. Warna batang vigor pembentukan struktur batang. disajikan pada Gambar 2. Warna batang dari 13 genotipe jagung didominasi oleh warna hijau kuning pekat Tabel 8. Nilai rata-rata dan hasil Uji BNJ karakter panjang ruas batang ke-3, panjang ruas batang ke-4, dan jumlah ruas batang, serta persentase warna batang Genotipe AMP-UNIPA 1 AMP-UNIPA 2 AMP-UNIPA 3 AMP-UNIPA 4 AMP-UNIPA 5 AMP-UNIPA 6 AMP-UNIPA 7 AMP-UNIPA 8 AMP-UNIPA 9 Anggi Merah Lokal Pulut Lokal Wondama Varietas Nasional Panjang Ruas Batang ke3 . 25,20a 18,67b 19,20b 17,73b 17,27b 18,13b 19,13b 18,67b 17,27b 20,93ab 18,53b 11,33c 19,00b Panjang Ruas Batang ke4 . 25,60a 22,20ab 22,33ab 20,67ab 20,20b 20,93ab 22,73ab 21,93ab 20,93ab 24,20ab 22,73ab 13,87c 23,00ab Jumlah Ruas Batang Warna Batang 10,80c 10,53c 11,07c 11,40bc 11,73abc 11,27bc 11,00c 11,00c 11,00c 14,07a 10,73c 13,47ab 9,60c Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Hijau kuning pekat Persentase warna batang (%) 69,33 98,67 66,67 96,00 89,33 100,00 100,00 93,33 96,00 97,33 52,00 100,00 100,00 Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji BNJ pada taraf kepercayaan 95%. Gambar 2. Warna batang pada genotipe jagung: . Hijau kuning pekat, . Hijau pekat kekuningan, . Merah pekat keunguan, . Ungu keabu-abuan KESIMPULAN Hasil pengamatan terhadap 13 genotipe jagung yang dibudidayakan di Kampung Webi. Distrik Rasiei. Kabupaten Teluk Wondama, vegetatif yang berbeda, sehingga tampak adanya keragaman karakter antar galur AMP-UNIPA maupun pembandingnya. Perbedaan tersebut terlihat nyata terutama CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 83 - 98 pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun . hususnya pada 7 MST), ukuran daun . anjang dan lebar daun pada fase tertent. , serta karakter batang seperti diameter, panjang ruas ke-3 dan ke-4, dan jumlah ruas. Secara umum. Anggi Merah Lokal vegetatif paling tinggi, terutama pada tinggi tanaman dan panjang daun hingga kemampuan adaptasi dan vigor yang baik pada lingkungan lokasi penelitian. antara galur AMP-UNIPA. AMP-UNIPA 5 cenderung unggul pada pembentukan tajuk . umlah daun tertinggi pada 7 MST), sedangkan AMP-UNIPA 3 menonjol pada kekokohan batang . iameter batang terbesar pada 7 MST), sehingga keduanya berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Sebaliknya. AMP-UNIPA 1 relatif konsisten berada pada pertumbuhan lebih rendah pada beberapa parameter utama, sehingga perlu perhatian pada tahap seleksi berikutnya. Untuk karakter warna daun dan warna batang cenderung seragam, sehingga kurang efektif digunakan sebagai pembeda antar kuantitatif vegetatif. DAFTAR PUSTAKA