TIPOLOGI SUMBER PENAFSIRAN IBNU ABBAS DALAM TAFSῙR AL-ṬABARĪ Herfinawati Nasution PP. At-Tanwir Talun Bojonegoro herfinawatinasution@gmail.com Abstract Ibn Abbas got the nickname Tarjaman Al-Qur ʻan from the scholars. This indicates his expertise and depth in understanding al-Qur ʻan. His coronation as the foundation of the science of interpretation indicates the depth of experience one has in the world of interpretation. The interpretive construction in the form of history makes it difficult for the reader to describe the pattern of interpretation carried out. However, searching and studying the narrations can describes patterns of interpretation, themes, pathways, and patterns of interpretation. Therefore, this study focuses on the history of Ibn Abbas's interpretation of QS. al-Baqarah: 1-141. The results of this study indicate that the themes of Ibn Abbas' narrative are divided into seven types, ghaibiyat originating from the Prophet, characteristics derived from ijitihad, the meaning of the recitation of verses coming from Arabic, stories sourced from the Prophet and friends, Allah's promises are from the Prophet, the name and asbāb al-nuzūl is also a conviction that comes from the Prophet. Keywords: Tafsir Ibn Abbas, Tafsir al-Tabarī, interpretation pattern Abstrak Ibnu Abbas mendapat julukan Tarjaman al-Qur`an dari para ulama. Hal ini mengindikasikan kepiawaian dan kedalamannya dalam memahami al-Qur`an. Penobatannya sebagai peletak dasar ilmu tafsir menandakan dalamnya pengalaman yang dimiliki dalam dunia penafsiran. Namun konstruk penafsirannya yang berbentuk riwayat menjadikan sulitnya pembaca menggambarkan pola penafsiran yang dilakukan. Disisi lain penyisiran dan penelaahan riwayat-riwayat akan menggambarkan pola penafsiran, tema, jalur, dan corak penafsiran. Karena itu, kajian ini fokus pada riwayat penafsiran Ibnu Abbas pada QS. al-Baqarah: 1-141. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tematema kandungan riwayat tafsir Ibnu Abbas berjumlah tujuh ragam, ghaibiyat yang bersumber dari Nabi, karakterstik bersumberkan pada ijitihad, makna lafal ayat bersumber pada bahasa Arab, kisah-kisah bersumber dari Nabi dan sahabat, janji Allah bersumber dari Nabi, nama dan asbāb al-nuzūl juga penasakhan yang bersumber dari Nabi. Kata Kunci: Riwayat, Sumber penafsiran, Tafsir Ibn Abbas, Tafsir al-Tabarī AL-ITQAN,Volume 4, No. 2,2018 81 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 A. Pendahuluan Sematan doa Nabi kepada Ibn Abbas .‫اللهم ف ّقهه يف الدين و علّمه التأويل‬ ّ serta julukan sebagai Tarjuman Al-Qur`an (penerjemah al-Qur`an) cukup menandakan betapa dalam ilmu Ibnu Abbas dalam hal memaknai al-Qur`an. Selain kedalamannya dalam ilmu tafsir, beliau juga juga dikenal sebagai peletak dasar-dasar ilmu tafsir, yang sampai saat ini masih tetap dirasakan, khususnya tentang makna kata-kata tertentu yang ada dalam al-Qur`an, yang oleh Ibnu Abbas berhasil dilacak pemakaiannya hingga sampai pada puisi-puisi praIslam.2 Bahkan di lingkungan sahabat sendiri ketika terjadi perbedaan pendapat di antara mereka dalam memahami al-Qur`an, mereka selalu mencari dan bertanya kepadanya.3 Berkat doa yang diberikan oleh Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam, menjadikan tafsir Ibnu Abbas sebagai tafsir yang cukup representative menjadi rujukan bahkan oleh para sahabat sendiri dan ulama tafsir berikutnya. Riwayat-riwayat tafsir Ibnu Abbas tidak jarang terdapat di kitab-kitab tafsir era klasik maupun era modern, terutama kitab tafsir bial-ma’thūr. Bahkan, Ibnu Abbas disebut-sebut sebagai tokoh yang telah menanamkan embrio hermeneutika pada penafsiraan. Pada perjalanannya, Ibnu Abbas memelopori madrasah tafsir yang berada di Mekah.4 Kajian-kajian terhadap kitab suci Al-Qur`an dipelajari dan dipahami pada majlis Ibnu Abbas yang berada di Mekah. Ibnu Abbas menjadi sumber periwayatan tafsir yang berada di Mekah bagi para pengais riwayat-riwayat tafsir pada masa tabiin. Murid-muridnya yang terkenal adalah Sa‟id bin Jubair, „Ikrimah, Mujāhid, Ṭawūs bin Kaisan al-Yamani, dan Aṭa‟ bin Abi Rabi‟ah.5 Meskipun riwayat tafsir Ibnu Abbas telah ada dalam kitab-kitab tafsir, namun bentuk pemikiran tafsir Ibnu Abbas masih belum bisa tersingkap jelas. Untuk bisa mengetahui bentuk pemikiran beliau, masih harus menggunakan sistem periwayatan. Karena saat itu belum berkembang sisem tulis menulis dengan baik. Menurut Bukhari dan Muslim jalur yang baik dan ṣaḥīḥ dalam meriwayatkan tafsir ibnu Abbas sesuai persyaratan mereka adalah jalur dari 1 Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad Bin Hanbal, vol. 4 (t.tp:Muassasah Al-Risālah, 2001), hlm. 225. 2 Jalāl al-Dīn al Suyūṭī, Al Itqān fī Ulūm Al-Qur’an (ttp: al-Hai`ah al-Miṣriyah, 1974), hlm.319. 3 Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hlm. 39. 4 Samsurrohman, Pengantar Ilmu Tafsir (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 56. 5 Muhammad Ḥusain al Dhahabi, Tafsir wa al Mufassirun(Kairo: Maktabah Wahbah, 2004), hlm.77. 82 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Qais, dari Aṭa‟ bin Saib, dari Sa‟id bin Jubair.6 Walaupun riwayat tafsir Ibnu Abbas telah ada dalam kitab-kitab tafsir, namun bentuk pemikiran Ibnu Abbas masih belum bisa tersingkap jelas. Dalam artikel ini akan memfokuskan kajiannya pada pelacakan konstruk penafsiran Ibn Abbas dari riwayat-riwayatnya dalam tafsir Jāmi’ al Bayān fī Ta’wīl Ayyi Al-Qur`an karya Ibnu Jarir al-Ṭabari, salah satu kitab tafsir klasik yang mengumpulkan riwayat-riwayat (al ma’thūr) sebagai data penafsirannya. Kitab ini juga sebagai ensiklopedi komentar dan pendapat tafsir yang pernah ada seperti pendapat-pendapat para sahabat dan tabiin sampai masa hidup al-Ṭabari7, serta sebagai promotor lahirnya kitab-kitab tafsir setelahnya. B. Sumber Penafsiran Ibn Abbas Kandungan ayat al-Qur`an menyajikan beragam pembahasan dan secara otomatis juga akan melahirkan beragam penafsiran. Terkadang, satu ayat atau bahkan satu kata bisa ditafsirkan bermacam-macam sesuai dengan kecenderungan mufassir atau sesuai dengan riwayat yang ia terima. Begitu juga dengan Ibnu Abbas, tidak jarang ia menafsirkan satu ayat al-Qur`an dengan berbagai macam penafsiran. Sebagai contoh pada penafsiran surat al-Baqarah ayat satu yang berbunyi Alif lām mīm (‫)آلم‬. Berdasarkan riwayat, ayat ini memiliki berbagai penafsiran. Antara lain nama untuk al-Qur`an, fawātiḥ al-suwar, nama surat, nama Allah, salah satu bentuk sumpah Allah, dan huruf tertentu yang memiliki makna.8 Hasil penafsiran yang berbeda tentunya menunjukan sumber yang berbeda pula. Oleh karena itu, tiap hasil penafsiran dikelompokkan berdasarkan kecenderungan hasil penafsiran. Dengan seperti ini, maka akan diketahui apakah penafsiran ini benar bersumber dari Ibnu Abbas atau tidak. Kegiatan penafsiran setelah mangkatnya Nabi Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam dilakukan oleh para sahabat dan diikuti oleh para tabiin. Walaupun sahabat adalah orang Arab yang memahami struktur bahasa Arab, berada di lingkungan pengguna bahasa Arab, bukan berarti sahabat menafsirkan al-Qur`an secara serampangan. Dalam hal menafsirkan, sahabat tetap merujuk pada beberapa sumber. Hal tersebut sebagai wujud kehati-hatian para sahabat 6 Jalāl al Dīn al Suyūṭī, Al Itqān fī Ulūm Al-Qur’an, 786. Dosen Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Studi Kitab Tafsir (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 19. 8 Pada tafsir Ṭabari, tiap satu ayat dikelompokkan berdasarkan hasil penafsirannya. Lihat, Ibnu Jarīr al Ṭabārī, Jāmi’ al Bayān ‘an Ta`wīl Ayyi al Qur’an, vol. 1 (ttp: Muassasah al-Risālah, 1420), hlm. 119-128 7 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 83 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 terhadap penafsiran al-Qur`an. Sumber penafsiran pada era sahabat bersumber dari al-Qur`an, Hadis Nabi, Ijtihad, dan keterangan Ahli Kitab,9 tradisi ini juga dipelihara kuat oleh Ibn Abbas. Menurut Abdurrahman Ibn Abdul Aziz sumber-sumber yang digunakan Ibn Abbas dalam menafsirkan al-Qur`an adalah; hadis Nabi, perkataan sahabat, bahasa Arab, dan Ijtihad.10 C. Jalur Riwayat Ibn Abbas Jalur yang dimaksud di sini adalah suatu pertalian antar nama-nama perawi hadis yang terus menerus yang kemudian membentuk suatu tali kebiasaan periwayatan. Adanya kebiasaan jalur ini nantinya akan menunjukkan bagaimana tipologi periwayatan pada masingmasing jalur, sehingga masing-masing jalur memiliki karaketristik tema periwayatan. Pelacakan jalur-jalur baik yang menghubungkan maupun melalui Ibnu Abbas bisa diketahui dengan ketersambungan rawi (ittiṣāl al-sanad), mutaba’ah, dan shawāhid. Penggunaan ketiga instrumen ini bukan untuk menilai status suatu riwayat, namun untuk mendeteksi keadaan. Jalur riwayat merupakan suatu mata rantai yang dapat menghubungkan perawi terakhir hingga ke sumber pada suatu riwayat. Jalur ini biasanya ditandai dengan adanya ketersambungan antar nama-nama perawi. Dalam pembahasan riwayat, sebenarnya sanad memiliki peranan penting. Karena dengan adanya sanad sebuah riwayat dapat diukur legalitasnya, apakah benar-benar bersambung dan menjadi ṣaḥīḥ atau malah sebaliknya, ḍa’īf. Namun, bagaimanapun jalur yang menghubungkan antara Ibnu Abbas dengan perawi lainnya tidak mengurangi nilai yang terkandung dalam riwayat itu sendiri secara mayoritas, namun hanya penisbatannya saja yang tidak bisa mencapai nama Ibnu Abbas.11 1. Ittiṣāl al-Sanad (Ketersambungan Sanad) Ketersambungan yang dimaksud di sini adalah sambungnya nama-nama perawi hadis dari akhir sampai kepada pengucap hadis. Hadis yang sanadnya bersambung sampai kepada perawi-perawi sebelumnya hingga kepada perawi petama baik sampai kepada Nabi Ṣalla 9 Muhammad Ḥusain al-Dhahabi, Al-Tafsīr wa al-Mufasirūn, hlm. 31. Abdul Aziz bin Abdullah al-Ḥumaydī, Tafsīr Ibn Abbas wa Marwiyātihi fi al-Tafsīr min Kutub al-Sunnah (ttp: tnp, tth), hlm. 21. 11 Muhammad Ḥusayn al-Dhahabi, Tafsīr wa al-Mufassirūn, hlm. 62. 10 84 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Allah‟Alaihy wa Sallam, sahabat disebut dengan hadis muttaṣil.12 Ketersambungan antar sanad hadis dapat dilihat dengan menilik sejarah masa hidup para perawi hadis, apakah mereka benar-benar hidup di satu masa dan bertemu atau tidak sama sekali. Adanya rekaman sejarah ini juga pada akhirnya akan digunakan sebagai instrumen legalitas perawi hadis. 2. Mutaba’ah Istilah mutāba’ah terbentuk dari kata tāba’a yang kemudian berderivasi menjadi mutāba’ah. Kata mutāba’ah sendiri memiliki arti kesesuaian antara seorang rawi dan rawi lain dalam meriwayatkan sebuah hadis. Baik ia meriwayatkan hadis tersebut dari guru rawi lain itu atau dari orang yang lebih atas lagi. 13 Dalam istilah lain diartikan persamaan suatu hadis dari segi lafal serta berasal dari sahabat yang sama. Mutāba’ah terbagi menjadi dua yaitu mutāba’ahtāmmah dan mutāba’ahqaṣirah. Mutāba’ah tāmmah adalah ketika hadis seorang rawi diriwayatkan oleh rawi lain dari gurunya (guru tunggal). Mutāba’ahqaṣirah adalah mutāba’ah yang terjadi manakala hadis guru seorang rawi diriwayatkan oleh rawi lain dari guru di atasnya atau di atasnya lagi. 14 Pada hadis mutāba’ah tidak harus dengan hadis yang berlafal sama namun cukup dengan memiliki maksud yang sama dan bersumber dari sahabat yang sama. 3. Shawāhid Hadis yang diriwayatkan dari sahabat lain yang menyerupai suatu hadis yang diduga menyendiri, baik serupa dalam redaksi dan maknanya maupun hanya serupa dalam maknanya saja. Namun pada pembahasan ini ketersambungan sanad bukan menjadi pengukur untuk menjustifikasi status riwayat, namun hanya untuk melihat bagaiman jalur yang dibentuk oleh seorang perawi. Sedangkan mutāba’ah dan shawāhid murni untuk melihat keberagaman sanad yang menyandarkan pada Ibnu Abbas. Dengan begitu, akan tampak pola jalur riwayat Ibnu Abbas. Walaupun semisal ada riwayat yang seharusnya tidak bersambung kepada Ibnu Abbas, namun hal itu tidak mengurangi substansi dari penafsiran Ibnu Abbas. D. Jalur-Jalur Penghubung Ibnu Abbas 1. Mujahid bin Jabar 12 Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki, Al-Manhal Al-Laṭīf Fī Uṣūl Al-Ḥadīth Al-Sharīf (Malang:Haiah al-Ṣafwah, t.th), hlm. 78. 13 Nuruddin itr, Ulumul Hadis, terj. Mujiyo (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012 ), hlm. 445. 14 Nuruddin itr, Ulumul Hadis, hlm.446. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 85 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Mujahid merupakan salah satu murid Ibnu Abbas yang mengaji kepadanya secara langsung. Riwayat Ibnu Abbas yang melalui jalurnya lebih diunggulkan dan dahulukan daripada yang lain, kecuali menurut al-Madīny, ia lebih mengunggulkan Sa‟īd bin Jubair daripada Mujahid. Apabila ada suatu pertentangan berkaitan dengan riwayat Ibnu Abbas, maka jalur yang melalui Mujahid-lah yang lebih dirajihkan15. Jalur melalui Mujahid digadang-gadang menjadi jalur yang lebih ṣaḥīḥ daripada jalur yang lain yang juga mrnghubungkan pada Ibnu Abbas. Ia mengaji tafsir kepada Ibnu Abbas berulangkali, ia berkata “saya mengaji tafsir kepada Abdullah bin Abbas tiga kali dan berhenti pada tiap ayatnya”, oleh karena itulah telah menjadi hal wajar jika Mujahid memiliki ilmu yang luas. 2. Sa’id bin Jubayr Sa‟īd bin Jubair adalah salah satu sahabat Abdullah bin Abbas yang banyak meriwayatkan tafsir dari Abdullah bin Abbas16, para tabiin dari Mekah mayoritas lebih perhatian terhadap kisah israiliyat. Tafsir yang melalui jalurnya juga disebut sebagai jalur yang lebih ṣaḥīḥ. Riwayat-riwayat yang sambung kepada Ibnu Abbas mayoritas bersumber dari orang ini. Biasanya ia meriwayatkan tentang ghaibiyat seperti kisah-kisah orang terdahulu, keadaan ketika hari kiamat, yang didapatkannya dari kaum bani Israil. Selain meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia juga meriwayatkan dari Ibnu Mas‟ūd dan Abdullah bin Umar walaupun jumlahnya sedikit. Tetapi ia lebih mendahulukan riwayat dari Ibnu Abbas daripada sahabat yang lain. Ketika ia mengatakan “dari Abdullah” maka yang dimaksudkan itu adalah Abdullah bin Abbas. Perawi yang mengambil riwayat dari Sa‟id bin jubair adalah „Azrah bin Abd Rahman al-Khuzā‟ī al-Kūfī, namun riwayat ini cenderung sedikit, ia hanya menulis apa yang ia dengar. Ja‟far, Abd al-A‟la,Umar bin Murrah, Manhāl, Aṭā` bin al-Sāib juga al-A‟mash mengambil riwayat dari Sa‟īd bin Jubair,17 sanad darinya berstatus ṣaḥīḥ. 3. ‘Ikrimah Ia merupakan pemimpin tafsir dari kalangan tabiin. Para penduduk Madinah lebih mengutamakan Ikrimah dari pada Nafi‟. Ia lebih unggul dan perhatian pada sebab turunnya ayat dan keserasian surat, ia juga menghafal syi‟ir Arab. Ikrimah hanya memiliki sedikit murid, di antara yang terkenal adalah Ibnu Juraij, Yazid al-Nahwiy, Muhammad bin Abi 15 „Abd al-„Azīz bin Marzuq al-Ṭarīfī, Al-Taqrīr Fī Asānid al-Tafsīr (ttp: Maktabah Dār al-Minhāj, 2011), hlm. 43 . 16 Shamsuddin Abu Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Al-Dhahabi, Siyar A’lam Al-Nubula`, vol. 4 (t.tp:Muassasah Al-Risalah, 1985), hlm. 322 17 Ibid. vol. 4, hlm. 323. 86 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Muhammad, Maula Zaid bin Thabit jalur dari Zaid lah yang paling terkenal, kemudian Ayub, „Aṭa‟, Dāwūd bin Abi Hindun, Umar bin Dinar, Uthmān bin Ghiyāth, Simāk bin Ḥarb, Dāwud bin al-Ḥaṣīn, al-Ḥakam bin Abbān.18 Perawi-perawi yang meriwayatkan dari Ikrimah rata-rata status riwayatnya berkisar pada status ṣaḥīḥ dan ḥasan, dan hanya sedikit yang riwayatnya menyendiri seperti riwayat tentang hukum-hukum yaitu riwayat dari jalur Simāk dan Dāwud bin al-Ḥaṣīn. 4. Muhammad bin Sirin (Ibn Sirin) Muhammad bin Sīrīn tidak mendengar langsung dari Ibnu Abbas, namun periwayatannya berstatus ṣaḥīḥ. Jalur yang terkenal selama ini adalah bahwa Ibn Sīrīn mengambil riwayat dari Ikrimah. Selain meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Sirīn juga meriwayatkan dari Abir Hurairah dan berstatus marfū‟. 5. Ali bin Abi Talhah Jalur yang melalui Ali bin Abī Ṭalḥah yang sambung kepada Ibnu Abbas biasanya adalah Mu‟āwiyah bin Ṣāliḥ, kemudian jalur ini diriwayatkan oleh „Abdullah bin Ṣāliḥ dan Abu Ṣalih. Namun dari jalur ini sering diperselisihkan oleh para ulama. Ali bin Abi Ṭalḥah tidak mendengar dari Ibnu Abbas secara langsung, oleh karenannya statusnya diperselisihkan. Beberapa pendapat mengatakan bahwa ia mendengar dari Mujahid bin Jabar ataupun Ikrimah. Jalur Ali bin Ṭalḥah dianggap mursal karena ia hanya mendengar dari Mujahid dan Ikrimah. Ulama lain meniai bahwa riwayat yang berasal dari „Ali bin Ṭalḥah adalah ṣadūq, namun ia tidak bertemu dengan Ibnu Abbas akan tetapi ia mengambil riwayat dari Mujahid. Ali bin Ṭalḥah memiliki kitab tafsir yang ditakhrīj oleh bukhari dalam kitab ṣaḥīḥnya yang dianggap mu’allaq dari Ibnu Abbas, Ibn Jarīr juga menyertakan riwayatnya di tafsirnya sebagai shawahīd. Namun di sisi lain beberapa ulama juga mencela riwayat yang bersumber dari Ali bin Ṭalḥah karena dianggap munqaṭī’ karena ia tidak mendengar langsung dari Ibnu abbas, namun Ibnu Ḥajar berpendapat bahwa setelah saya mengetahui jalurnya bahwa jalurnya merupkan jalur yang terpercaya maka tidak bahaya menerima riwayatnya. 19 6. ‘Ata’ 18 19 Ibid. vol. 5, hlm. 13. Abdurrahman bin Abdul Aziz, Tafsīr Ibn Abbas, hlm. 22 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 87 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Aṭā‟ yang menisbatkan riwayatnya kepada ada dua sosok yaitu Aṭā‟ bin Abi Rabāḥ, dia orang yang lebih mengerti tentang sahabat Ibnu Abbas dibanding lainnya. Kedua adalah Aṭā‟ bin Abi Muslim, namun Aṭā yang kedua ini dak mendengar langsung dari Ibnu Abbas tetapi ia mendengar dari Aṭā‟ bin Abi Rabāḥ. Akan tetapi yang lebih banyak meriwayatkan tafsir adalah Aṭā‟ bin Abi Muslim dan sanadnya lebih sering digunakan sebagai sandaran. 7. Abi Salih bin Abi Malik Pemilik sanad dari Ibnu Abbas adalah Abī Ṣāliḥ dan Abī Mālik. Abī Mālik meriwayatkan tafsir dari Ibnu Abbas melalui jalur Abī al-Sha‟thā` Jābir bin Zaid. Sedangkan yang meriwayatkan darinya dan dari Abī Ṣāliḥ adalah Ismā‟īl bin Abdurrahman al-Suddi alKabīr. Al-Suddi berstatus thiqah. Sedangkan yang meriwayatkan dari Abi Ṣāliḥ adalah Ismā‟īl bin Abī Khālid al-Kūfī. 8. Al-‘Aufiy Salah satu sanad Ibnu Abbas adalah „Aṭiyah al-„Aufiy, jalur ini diriwayatkan dari satu jalur. Biasanya Ibnu Jarir al-Ṭabari menggunakan jalur ini yang berasal dari Muhammad bin Sa‟ad bin Muhammad bin al-Ḥasan bin „Athiyah bin Sa‟ad al-„Aufiy. Penggunaan jalur ini tidak masalah selama tidak mufrad hukum dan asalnya. Walaupun ada beberapa yang melemahkan sanadnya, namun sanad yang bersumber dari dari Ibnu Abbas berasal dari tulisan dan dinamakan “Ṣaḥifah „Aṭiyah al-„Aufiy Fi al-Tafsir. Pada buku itu terdapat banyak hadis yang musnad yang berbicara tentang tafsir dan seperempat riwayatkan yang bersumber dari Ibnu Abbas. E. Pemetaan Tafsir Riwayat Ibnu ‘Abbās Pada Surat Al-Baqarah Ayat 1-141 Riwayat penafsiran yang berasal maupun melewati jalur Ibnu „Abbās yang terdapat dalam Tafsir Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl Ayyi Al-Qur’ān pada surat al-Baqarah dari ayat 1 hingga ayat 141 terdapat 421 riwayat. Adakalanya riwayat tersebut bersumber dari Ibnu „Abbās sendiri, adakalanya pula bersumber dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam maupun sahabat lain. Riwayat penafsiran Ibnu „Abbās yang berada dalam tafsir karya alṬabari ini belum menaungi seluruh ayat dalam Al-Qur`an, melainkan hanya 99 ayat saja. Ada 42 ayat yang luput dari riwayat penafsiran Ibnu „Abbās, ayat tersebut adalah ayat 9, 12, 27, 38, 39, 43, 46, 52, 56, 64, 67, 69, 70, 72, 73, 75, 77, 79, 86, 91, 92, 93, 98, 101, 103, 105, 107, 110, 111, 112, 117, 119, 120, 122, 123, 128, 130, 131, 133, 134, 140, dan 141. 88 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Dari ayat-ayat yang ditafsirkan di atas memiliki pembahasan yang berbeda sehingga diperlukan adanya pemetaan tema penafsiran. Pemeteaan tema ini bertolak pada keteranganketeranagn dan prakteknya Ibn Jarir al-Tabari pada tafsirnya. al-Ṭabarī biasa mengelompokkan riwayat-riwayat sesuai dengan tema masing-masing atau maksud dari suatu ayat dan diikuti dengan keterangan yang diberikan kemudian. F. Sumber Penafsiran Ibnu ‘Abbās Berdasar Tema Seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, sumber penafsiran Ibnu „Abbās merujuk pada hadis Nabi Muhammad Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam, perkataan sahabat, bahasa Arab, dan ijtihad. Dillihat dari pemetaan ayat pada bab pembahasan sebelumnya, terkumpullah tema-tema berupa: Ghaibiyat (Keadaan Surga, keadaan neraka, dan hari kiamat), karakteristik (meliputi orang munafik, orang beriman, orang bertakwa, orang kafir, dan orang khusyu‟), makna-makna lafal suatu ayat, kisah-kisah (meliputi kisah Adam, Ibrahim, Bani Israil, Orang Yahudi, Orang Nasrani, Sulaiman, orang Kafir, Iblis, Jin, Musa, dan Isa), Janji Allah Subḥānahu wa ta’ālā (meliputi balasan untuk orang beriman dan orang kafir), Nama-nama (meliputi nama Allah Subḥānahu wa ta’ālā dan nama malaikat), Asbāb alNuzūl, Penciptaan (meliputi penciptaan Adam, makhluk, bumi, jin, juga iblis), dan penasakhan. 1. Ghaibiyat Ghaibiyat adalah hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh seorang manusia. Hal ini tidak mungkin akan tersentuh oleh pikiran manusia secara kasat mata. Surga menjadi salah satu contoh dari ghaibiyat, karena merupakan hal yang masih abstrak yang tidak bisa digambarkan oleh akal fikiran. Tidak bisa diraba bagaimana keadaannya, surga yang digambarkan Al-Qur`an hanyalah sebagai perantara agar bisa dipahami oleh manusia. Begitu juga dengan neraka dan hari kiamat. Keduanya adalah hal yang tidak bisa tergambarkan oleh akal fikiran secara pasti, hanya saja Al-Qur`an menggambarkan sekilas-sekilas yang sekiranya cukup untuk memberi refleksi kepada manusia. Oleh karena itu, penafsiran yang berkenaan dengan keadaan di surga maupun neraka merupakan hal ghaibiyat dan bukan termasuk wilayah ijitihad. Sehingga, penafsiran dari Ibnu „Abbās ini diduga keras bersumber dari nabi Muhammad Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam yang merupakan wahyu dari Allah Subḥānahu wa ta’ālā. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 89 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Jalur riwayat yang meriwayatkan pembahasan bersangkutan dengan hal ghaibiyāt adalah jalur dengan mata rantai: a. Ibnu „Abbās  Abi Dzabyan  Al-A‟mash b. Al-Ashja‟iy  Abu Kuraib  Ibnu „Abbās  Abi Dzabyan  Al-A‟mash c. Ibnu „Abbās  al Ḍaḥāk  Abi Rauq d. Sejumlah Sahabat dan Ibnu Mas‟ūd  Ibnu „Abbās  Abi Ṣāliḥ  al-Suddiy e. Sejumlah sahabat dan Ibnu Mas‟ūd  Ibnu „Abbās  Abi Mālik  Al-Suddiy f. Ibnu „Abbās Ikrimah  Muhammad bin Abi Muhammad g. Ibnu „Abbās  Mujahid  Ibnu Juraij h. Ibnu „Abbās  Sa‟id bin Jubair  Muhammad bin Abi Muhammad Dari sekian jalur yang disuguhkan, tidak ada riwayat Ibnu „Abbās yang menyebutkan dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam. Paling tinggi sanad disandarkan kepada sejumlah sahabat. Adanya periwayatan yang disandarkan kepada sejumlah sahabat menandakan bahwa memang tidak hanya satu sahabat yang meriwayatkan, melainkan lebih sari satu. Keadaan ini bisa ditarik kesimpulan bahwa sejumlah sahabat tersebut pasti bersumber dari satu orang, yaitu Rasulullah. Namun, dalam mata rantai yang menghubungkan kepada Ibnu „Abbās, nama Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam tidak diikut sertakan. Alasan tidak diikutsertakannya nama Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam dalam riwayat tentang ghaibiyāt karena kemungkinan besar memang sudah maklum bahwa tidak mungkin sahabat bisa mengerti keadaan di surga, neraka, maupun hari kiamat dari dirinya sendiri melainkan dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam yang mendapat wahyu dari Allah Subḥānahu wa ta’ālā. 2. Karakteristik Karakteristik merupakan suatu ciri maupun sifat pada suatu hal yang menjadi objek. Karakteristik ini muncul berdasarkan sifat-sifat yang telah ditentukan sebelumnya. Ketentuan sifat ini menjadi sandaran bagi orang-orang yang akan memberikan sifat pada suatu objek. Sumber sifat itu sendiri berasal dari pengamatan sebelumnya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Al-Qur`an. Sifat-sifat munafik, kafir, beriman, bertakwa, juga khusyu‟ telah ditentukan oleh Allah Subḥānahu wa ta’ālā dalam Al-Qur`an entah secara eksplisit maupun implisit. 90 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Sedangkan karakteristik yang diberikan oleh Ibnu „Abbās kepada yang demikian itu adakalanya ijtihad Ibnu „Abbās sendiri berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Berkenaan dengan riwayat Ibnu „Abbās yang berkaitan dengan karakteristik tidak ditemukan riwayat yang sambung kepada Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam secara langsung. Hanya beberapa yang bermuara kepada sahabat. Keadaan seperti ini bisa saja menimbulkan dugaan bahwa Ibnu „Abbās berijtihad berdasarkan pengetahuannya dan pengamatannya. 3. Makna Lafal Suatu Ayat Untuk melacak makna suatu lafal, Ibnu „Abbās menggunakan bantuan bahasa Arab. Pengetahuannya yang luas terhadap syi‟ir Arab menjadi pendukung dan penolong untuk menafsirkan ayat Al-Qur`an. Namun, pada beberapa riwayat ditemukan Ibnu „Abbās meriwayatkan dari sahabat yang lain, yaitu dari Ibnu Mas‟ud dan sejumlah sahabat yang lain. Sedangkan makna lafal yang berhubungan dengan kisah-kisah, Ibnu „Abbās tidak menggunakan ijtihadnya sendiri melainkan bertanya kepada salah seorang sahabat yang dahulunya seorang Yahudi. Seperti pemaknaan kata al ra‟du dan al barq. Pada dua kalimat ini, Ibnu „Abbās bertanya kepada Abi al Jaladi yang notabenenya seorang Yahudi sebelum masuk Islam. 4. Kisah-Kisah Tidak semua kisah terjadi di hadapan Ibnu „Abbās, termasuk kisah Bani Israil, nabinabi terdahulu, bahkan kisah tentang alam selain alam dunia. Hal itu tidak diketahui secara langsung oleh Ibnu „Abbās. Begitupun juga dengan kisah tentang orang-orang pada masa jahiliyah, belum tentu Ibnu „Abbās menyaksikan sendiri kejadiannya, karena Ibnu „Abbās merupakan sahabat junior, umurnya masih 13 tahun ketika Nabi meninggalkannya. Hal ini bisa menjadi celah untuk menaarik kesimpulan bahwa kisah-kisah tidak bersumber dari Ibnu „Abbās sendiri, bisa saja bersumber dari sahabat yang pernah menjumpai keadaan orangorang pada masa jahili. Sedangkan kisah nabi-nabi terdahulu bisa dipastikan itu berdasar pengetahuan yang didapatkan dari Nabi Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam maupun sahabat senior. Walaupun demikian, hanya ada 2 jalur yang bersumber dari sahabat lain dan 4 jalur yang bersumber dari Rasululllah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam langsung. 5. Janji Allah AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 91 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 Janji Allah Subḥānahu wa ta’ālā yang tertera dalam Al-Qur`an sudah pasti adanya dan benarnya. Adanya balasan bagi orang yang beriman dan orang kafir sudah Allah Subḥānahu wa ta’ālā janjikan kepada manusia. Namun, bagaimana bentuknya belum bisa tergambarkan oleh akal fikiran. Adanya penafsiran Ibnu „Abbās berkaitan dengan janji Allah Subḥānahu wa ta’ālā merupakan hasil interpretasi yang bersumberkan pada pengetahuan dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam. Kedekatannya dengan Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam tidak memungkiri adanya pengetahuan yang sedemikian rupa. Atau bahkan, ia mendapat pengetahuan itu dari sahabat yang sebelumnya mendengar dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam secara langsung. Namun, dari sekian jalur yang ada, tidak satupun ditemukan Ibnu „Abbās meriwayatkan dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam maupun sahabat lain. 6. Nama-Nama Nama bukanlah hal yang bisa dikarang secara sembarangan atau diduga-duga. Penafsiran Ibnu „Abbās yang berkaitan dengan nama-nama baik nama Allah Subḥānahu wa ta’ālā maupun malaikat diduga keras bersumber sari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam. Karena tidak mungkin adanya nama hanya menjadi dugaan saja, kecuali sebelumnya telah ada pengetahuan. Dari beberapa jalur riwayat yang menyebutkan nama-nama, hampir seluruhnya bersandar pada diri Ibnu „Abbās sendiri. Namun, ada satu riwayat yang bersumberkan dari Abi al Jaladi yaitu dahulunya merupakan ahli kitab. Riwayat ini melalui jalur Ḥammād dari Musa bin Abi Jahḍām. Pada riwayat ini diceritakan bahwa Ibnu „Abbās menulis surat kepada Abi al Jaladi dan bertanya tentang makna ra’du yang kemudian diartikan oleh Abi al Jaladi sebagai nama malaikat. Pada riwayat yang menyebutkan bahwa ra’du merupakan nama malaikat sanadnya hanya sampai pada Ibnu „Abbās. Sehingga dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa penafsiran kata ra’du sebagai nama malaikat tidaklah murni dari Abullah bin „Abbās meliankan Ibnu „Abbās merujuk kepada Abi al Jaladi, namun nama Abi al Jaladi tidak diikut sertakan pada riwayat dari jalur Mujahid Sa‟īd bin Jubair. 7. Asbāb al-Nuzūl Sebab turunnya Al-Qur`an hanya bisa diketahui oleh orang yang menyaksikan wahyu itu turun. Karena hal ini bukanlah sesuatu yang bersifat analitis melainkan pasti. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa riwayat Ibnu „Abbās yang berkaitan dengan sebab turun ayat 92 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 bersumber dari Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam atau dari sahabat yang menyaksikan atau sedang bersama nabi Muhammad Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam saat Allah Subḥānahu wa ta’ālā menurunkan ayat tersebut. Terbukti dari jalur-jalur yang meriwayatkan tentang asbāb al nuzūl Ibnu „Abbās banyak meriwayatkan dari Rasulullah Ṣalla Allah‟Alaihy wa Sallam dan beberapa sahabat yang kebetulan sedang mendampingi Nabi ketika ayat diwahyukan kepada Nabi. 8. Pe-nasakh-an Pe-nasakh-anatau penggantian ayat bisa diketahui karena adanya instruksi dari Nabi Muhammad Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam. Tanpa adanya instruksi dari Nabi, sahabat tidak akan berani mengganti atau membuang ayat begitu saja. Karena Al-Qur`an adalah petunjuk dan pegangan bagi umat muslim. Dari sekian jalur, hanya ada satu jalur yang meriwayatkan tentang penasakhan ayat oleh ayat lain, yaitu jalur dari Mu‟āwiyah bin Abi Ṣāliḥ dari „Ali bin Abi Ṭalḥah. G. Jalur Riwayat Ibnu ‘Abbās Riwayat-riwayat Ibnu „Abbās yang telah dipetakan sedemikian rupa, terkumpullah jalur-jalur yang baik menghubungkan kepada Ibnu „Abbās maupun yang melewati Ibnu „Abbās. Jalur-jalur tersebut terkumpul sebanyak 93 macam jalur. Sebagian jalur-jalur tersebut adalah: No Jalur Periwayatan 1 Ibnu „Abbās  Abi Ghaibiyat, keadaan Ẓabyan  Al-A‟mash surge (25 - 113) 2 Ibnu „Abbās  Hamzah  Shu‟bah 3 Ibnu „Abbās  Abi Malik - Infak (3 - 24) Ada nama yang  Al-Suddiy - karakteristik munafik (8 dihilangkan dari jalur ini – 39, 14 - 53) yaitu Abi Sha‟thā` Jābir 20 Tema (Ayat - Riwayat) Abi Iman (137 - 420) Keterangan di Jalur ini tidak terputus, karena memang biasanya Abi Ẓabyan meriwayatkan dari Ibnu „Abbās dan riwayatnya biasanya diriwayatkan juga oleh Sulaimān Al-A‟Mash.20 Abi Hamzah di sini yang dimaksud Abu Hamzah alBishri. Jalur ini sambung kepada Ibnu „Abbās. Al-Dhahabi, Siyar A’lam Al-Nubula`. 4:363. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 93 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No 4 Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan - makna-makna lafal ayat(19 – 80, 19 – 87, 102 - 355) - karakteristik orang kafir bin Zaid, karena periwayatan Abi Malik yang bersumber dari Ibnu „Abbās melalui Abi Sha‟thā` terlebih dahulu. Sedangkan dari Abi Malik ke Ismai‟il al Suddiy sanadnya muttasil Ibnu „Abbās  Abi shalih - Infak (1x)  Al-sudiy - Karakteristik munafik (3x) Sanad ini muttasil orang 5 Ibnu „Abbās => Bahasa (1x) Abdurrahman bin Jaushin al-Ghathafani => Uyainah bin Abdurrahman 6 Ibnu „Abbās  Aṭiyah al - Kisah Bani Israil (13x) Sanad ini muttasil. „Aufiy  Ḥasan bin - makna-makna bahasa Atiyah (2x) - kisah kaum Isa „Alaihy al-Salām (1x) - kisah bangsa Yahudi (2x) - kisah Sulaiman „Alaihy al-Salām (1x) - kisah Adam „Alaihy alSalām (1x) - orang Naasrani (1x) - kisah nabi Ibrahim (1x) - janji Allah Subḥānahu wa ta‟ālā (1x) 7 Ibnu „Abbās  Ḥasan bin kisah Bani Israil (1x) Aṭiyah  Ḥusain bin Ḥasan Ada nama yang hilang antara Ibnu „Abbās dan Ḥasan bin Aṭiyah karena ia tidak berguru langsung kepada Ibnu „Abbās melainkan melalui ayahnya atau kakeknya yaitu Aṭiyah al „Aufy dan Sa‟ad bin Jinādah al „Aufy.21 8 Ibnu „Abbās  Kuraib kisah Bani Israil (1x) Maula Ibnu „Abbās  Rashidin bin Kuraib Muttasil.22 21 Sanad ini muttasil. Jamal al Dīn ibn al Zaki Abi Muhammad al Mizziy, Tahdhīb al Kamāl, vol. 6 ( Beirut: Muassah sl Risālah, 1980), hlm. 211. 22 Ibid, vol. 33, hlm. 313. 94 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan 9 Ibnu „Abbās  Ṭawus  kisah Ibrahim „Alaihy al- Muttasil Ibn Ṭawus Salām (1x) 10 Ibnu „Abbās  Abi Ja‟far kisah Ibrahim „Alaihy al- Muttasil al Razi  Abdullah bin Salām (1x) Abi ja‟far 11 Ibnu „Abbās ‟antarah janji Allah Subḥānahu wa Muttasil bin Abdurrahman  ta‟ālā Harun bin Antarah 12 Ibnu „Abbās  Abu Al- Janji Allah Subḥānahu wa Muttasil „Aliyah  Al-rabi‟ ta‟ālā 13 Ibnu „Abbās  Abu Bakar kisah Bani Israil bin Ayash  Abu Kuraib Antara Ibnu „Abbās dan Abu Bakar bin Ayash ada nama yang terputus, karena notabenenya Abu Bakar bin Ayash tidak bertemu dengan Ibnu „Abbās karena ia lahir pada tahun 95 H sedangkan Ibnu „Abbās meninggal pada tahun 68 H. Namun, Abu Bakar dan Abu Kuraib sambung sanadnya. 14 Al-Ashja‟iy => Abu keadaan di surga Kuraib  Ibnu „Abbās  Abi Ẓabyan  Al-A‟mash Riwayat ini sama dengan jalur riwayat pertama, namun yang berbeda adalah jalur ini berasal dari sahabat lain bukan dari Ibnu „Abbās saja. Abu Kuraib merupakan tabi‟in, ia berada pada tingkatan kedua. Sulit diakui bahwa Ibnu „Abbās meriwayatkan dari Abu Kuraib yang merupakan tabi‟in dan hidup di Mesir.23 15 Ibnu „Abbās Shu‟bah Qatadah 16 Ibnu „Abbās  Al- kisah bangsa Yahudi A‟mash  Uthman bin Ali 23 Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan  Abu kisah Sulaiman „Alaihy al- Masih belum bisa al-„Adawi Salām diketahui keadaan sanadnya. Al A‟mash merupakan murid dari Ikrimah dan SA‟id bin Jubair, bukan murid Ibnu „Abbās al Mizziy, Tahdhīb al Kamāl, vol. 33, hlm. 313. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 95 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan langsung. Pada rantai ini dicurigai ada nama yang dibuang yaitu guru al A‟mash yang merupakan murid Ibnu „Abbās yaitu Sa‟id bin Jubair dan Ikrimah. Sedangkan Uthman bin Ali belum diketahui identitasnya 17 Ibnu „Abbās  alḌaḥāk - karakteristik orang Muttasil.24  Abi Rauq bertakwa (1x) - shalat - Karakteristik Orang munafik (7x) - makna-makna ayat - nama Malaikat - perintah bertakwa - penciptaan dan kisah adam „Alaihy al-Salām (10x) - kisah iblis (2x) - kisah Bani Israil (12x) - hari kiamat - kisah bangsa Yahudi (15x) - siksa diakhirat - sebab turun ayat (2x) - kisah Isa „Alaihy alSalām (2x) - kisah bangsa Nasrani - orang-orang kafir 18 Ibnu „Abbās  Al Ḥasan kisah Adam „Alaihy al- Belum diketahui keadaan bin Sa‟ad  Ashim bin Salām sanad ini Kulaib 19 Ibnu „Abbās  Ali bin - Qasam dan asma Allah Abi Ṭalhah  Muawiyah (2x) bin abi shalih - karakteristik orang beriman - zakat (2x) - karakteristik orang kafir - makna-makna ayat alQur`an, - karakteristik orang 24 25 Diduga ada yang mursal karena ia tidak mendengar langgsung dari Ibnu „Abbās melainkan dari Mujahid, Ikrimah, dan Sa‟id bin Jubair.25 Shamsuddin Abu Abdullah, Siyar A’lam Al-Nubula`, vol. 3, hlm. 333. Abdul Aziz bin Marzuqi al Ṭarīfi, al Taqrīr Fī Asānīd al Tafsīr (t.tp: t.np., 2011), hlm. 21. 96 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan munafik (3x) - keadaan di surga - penciptaan - karakteristik orang khusyu‟ - kisah Bani Israil - urutan turun - kisah bangsa Yahudi - kisah Isa „Alaihy alSalām - Kisah Sulaiman „Alaihy al-Salām - penasakhan ayat sebanyak (2x) dan - sebab turun ayat 20 Ibnu „Abbās  al Qāsim kisah Ibrahim „Alaihy al- al Qasin bin Abi Bazah, ia  al Ḥakam bin Aban Salām tidak meriwayatkan langsung dari Ibnu „Abbās karena ia tidak semasa dengan Ibnu „Abbās. Ia lebih terkenal sering meriwayatkan dari Mujahid, dan ia berguru pula pada murid-murid Ibnu „Abbās yang terkenal seperti Ikrimah, Sa‟īd bin Jubair, dan Aṭa‟ al Kharāsānī. Sedangkan dari al Qasim kepada Ḥakam bin Aban sanadnya muttasil. 21 Ibnu „Abbās  al Suddiy Yahudi dan asma Allah Muttasil.26 Shu‟bah Subḥānahu wa ta‟ālā 22 Ibnu „Abbās  al Tamimi kisah Ibrahim  Abi Isḥaq 23 Ibnu „Abbās man nabi Adam ‘Alaihy al- Namun siapa orang antara ḥaddatha  al Suddiy Salām Ibnu „Abbās dan alSuddiy, karena al-Suddiy sendiri memiliki dua jalur 26 Sanad ini muttasil, dan Abi Ishaq yang dimaksud adalah Abi Ishaq al Sabi‟i dia adalah satu-satunya orang yang meriwayatkan dari Arbadah al Tamimi Al-Dhahabi, Siyar A’lam Al-Nubula`, vol. 5, hlm. 264. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 97 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan yaitu Abi Shalih dan Abi Malik. 24 Ibnu „Abbās  „Antarah makna kata al-ṣayb  Harun bin Antarah 25 Ibnu „Abbās  Ata`  - kisah Ibrahim ‘Alaihy al- Sanad ini muttasil hingga Juraij Salām sebanyak (8x) Ibnu „Abbās.27 - penciptaan dan - makna-makna ayat alQur`an 26 Ibnu „Abbās  Ḥannash Ibrahim „Alaihy al-Salām  Ibnu Habirah Sanad ini muttasil.28 27 Abi Jalad  Ibnu „Abbās nama malaikat  musa bin salim Abu Jahdham  Ḥammād Abi al Jaladi memiliki nama asli Jailan bin Abi Faurah, seorang tabi‟in yang memahami kitab Taurat. Ia sering menjadi tempat bertanya oleh Ibnu „Abbās tentang hal-hal yang diceritakannya.29 Pada jalur ini seolah ada urutan yang terbalik yang biasanya tabi‟in meriwayatkan dari sahabat, namun ini berbeda seorang sahabat tidak segan bertanya kepada tabi‟in. Runtutan sanad ini sebenarnya belum diketahui apakah berasal dari sanad Ibnu Abbas ataukah Abi al Jaladi. Karena menggunakan kata “menulis surat”. Namun, kemungkinan besar jalur ini merupakan jalur riwayat Ibnu „Abbās karena Musa bin Salim adalah budak keluarga „Abbās yang turut meriwayatkan dari Ibnu „Abbās dan ia memiliki 27 Muttasil Ibid, vol. 5, hlm. 80. Ibid, vol. 4, hlm. 493. 29 Ṭāriq bin Muhammad Ali bin Nāji, Al Tadhyīl ‘ala Kutub al Jarḥ wa al Ta’dīl, vol. 1 (t.tp.: Maktabah al Muthanna al Islamiyah, 2004), hlm. 60. 28 98 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan murid bernama Ḥammād bin Zaid.30 28 Jabir bin Abdullah bin raib sebab turun surat Ali Imran Sanad antara Jabir dan Ibnu „Abbās  Abi ayat 7 Abdullah bin Abbas shalih Al-Kalbi muttasil.31 Namun riwayat dari Abi Ṣāliḥ ke al Kalbi berstatus ḍa‟īf.32 29 Rasulullah Ṣalla Allah’Alaihy wa Sallam  Ibnu „Abbās  ikrimah Amru bin Abi Amru Muttasil.33 30 Rasulullah Ṣalla kisah Bani Israil Allah’Alaihy wa Sallam  Ibnu „Abbās  Ikrimah  Muhammad bin Abi Muhammad Muttasil 31 Rasulullah Ṣalla kisah bangsa Yahudi dan Muttasil Allah’Alaihy wa Sallam  kisah Bani Israil Ibnu „Abbās  SA‟id bin Jubair  Muhammad bin Abi Muhammad 32 Rasulullah Ṣalla sebab turun ayat dan kisah Muttasil Allah’Alaihy wa bangsa Yahudi SallamIbnu „Abbās  Ikrimah  Abdul Karim 33 Rasulullah Ṣalla kisah Ibrahim „Alaihy al- Muttasil Allah’Alaihy wa Sallam Salām Ibnu „Abbās  Mujahid  Yazid bin Ziyad 34 Ibnu „Abbās  Ibnu Ishak kisah Adam  Salamah 35 Ibnu „Abbās  Ibnu Juraij  Hajjaj - Belum ditemukan perawi Ibnu Abbas yang bernama Ibnu Ishak yang memiliki murid bernama Salamah, juga sebaliknya Al-Qur`an, Ibnu Juraij merupakan Makna bahasa Al- murid dari Mujahid bin Qur`an, Jabar, sehingga di sini 30 Jamāluddin ibn al Zakki Abi Muhammad al Mizzi, Tahdhīb al Kamāl Fī Asmā` al Rijāl, vol. 29 (beirut: Muassasah al Risālah, 1980), hlm. 64. 31 Abu Nu‟aim Ahmad bin Abdullah, Ma’rifah al Ṣaḥābah li Abi N’aim, vol. 2 (Riyāḍ: Dār al Waṭn, 1998), hlm. 535. 32 Abdul Aziz bin Marzuqi al Ṭarīfi, al Taqrīr Fī Asānīd al Tafsīr, hlm. 66. 33 Al-Dhahabi, Siyar A’lam Al-Nubula`, vol. 6, hlm. 119 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 99 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) - Keterangan kisah iblis (2x) nampak ada sanad yang kisah Musa „Alaihy dibuang yakni Mujahid bin al-Salām (2x) Jabar. Bani Israil (2x) bangsa Nasrani kisah Sulaiman kisah Ibrahim 36 Ibnu „Abbās  Ibnu Juraij kisah Bani Israil  Mujahid 37 Sejumlah sahabat dan Ibnu - makna-makna ayat Al- muttasil Mas‟ud  Ibnu „Abbās  Qur`an Abi Shalih  al-Suddiy - karakteristik orang beriman (3x) - orang bertakwa - orang munafik (10x) - perintah bertakwa (2x) - keadaan di surga, - penciptaan (3x) - kisah Iblis - kisah Adam - tentang langit 38 Sejumlah sahabat dan Ibnu - kisah orang kafir, muttasil Mas‟ud  Ibnu „Abbās  - karakteristik orang Abi Malik  Al-Suddiy muanafik, - orang bertakwa, - makna-makna ayat AlQur`an secara bahasa 39 Ibnu „Abbās  Ikrimah - Karakteristik orang muttasil  Muhammad bin Abi bertakwa, Muhammad - karakteristik orang beriman (3x) - shalat - zakat - karakteristik orang kafir (2x) - kisah orang kafir (2x) - orang Yahudi - karakteristik orang munafik (12x) 100 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Pada jalur ini diduga ada jalur yang terputus, karena Ibnu juraij notabenenya adalah murid mujahid. Sedangkan Mujahid adalah murid Ibnu „Abbās yang berguru kepada Ibnu „Abbās langsung Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan - perintah takwa (2x) - tantangan kepada kaum munafik (2x) - keadaan di neraka, - kisah Bani israil (12x) - kisah bangsa yahudi (8x) - siksa (2x) - balasan bagi orang kafir (3x) - balasan bagi orang beriman, - kisah Isa „Alaihy alSalām dua kali, sebab turun ayat (11x) - kisah bangsa Nasrani (2x) - sebab turun al-Maidah 59 (2x) - makna-makna ayat AlQur`an secara bahasa 40 Ibnu „Abbās  Ikrimah nama malaikat  Al-Hakam bin Aban 41 Ibnu „Abbās  Ikrimah - karakteristik orang Muttasil  Dawud bin Hushin munafik - kisah Bani Israil (2x) - konsep mauidhah 42 Ibnu „Abbās  Ikrimah kisah Adam „Alaihy al- rijl di sini belum diketahui  Rijl Salām siapa (rawi mubham) 43 Ibnu „Abbās  Ikrimah kisah nabi Adam „Alaihy sanad ini tidak disebutkan  Nadhr al-Salām sebagai salah satu perawi dari Ikrimah. Namun, dalam kitab lain disebutkan bahwa Naḍr Abu Umar al-Khazzāz meriwayatkan dari Ibnu Ikrimah.34 44 Ibnu „Abbās  Ikrimah Fir‟aun dan Musa „Alaihy Nama Abi Sa‟id di sini  Abu Sa‟īd al-Salām (5x) masih belum jelas apakah Abi Sa‟id al-Khudri atau yang lainnya. Namun, Abu 34 Ikrimah yang dimaksud di sini adalah Ikrimah al Qurshi al Hashimi. Sanad ini muttasil hingga al Ḥakam bin Aban. Ibid, vol. 5, hlm. 14. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 101 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan Sa‟id al-Khudry merupakan sahabat Ikrimah yang sama-sama berguru kepada Ibnu „Abbās. Hal ini dimungkinkan saja jika Abu Sa‟id mengambil riwayat dari Ikrimah karena ia tidak mendengar langsung dari Ibnu „Abbās. 45 Ibnu „Abbās  Ikrimah makna ayat Al-Qur`an (2x)  Khaṣif Nama lengkap Khashif ibn Abdurrahman al-Jazariy. Nama ini tidak tercantum dalam daftar perawi yang melalui Ikrimah, namun dalam literasi lain disebutkan bahwa Khuṣaif bin Abdurrahman mendengar langsung dari Ikrimah.35 46 Ibnu „Abbās  Ikrimah kisah bangsa Yahudi  Abdul Karim Al Jaziri Nama Abdul Karim Al Jaziri tidak terkenal dalam periwayatan.36Dalam literasi lain dia disebutkan sebagai perawi dari Ikrimah.37 47 Ibnu „Abbās  Ikrimah Malaikat  Yazid Al-Nahwi Yazid bin Abi Sa‟id al Nahwi tercatat sebagai perawi Ikrimah.38 48 Ibnu „Abbās  Ikrimah kisah orang kafir dan Tercatat sebagai  Dawud bin Abi Hindin kisah-kisah Ibrahim Ikrimah.39 ‘Alaihy al-Salām (4x) 49 Ibnu „Abbās  Ikrimah karakteristik orang kafir  Ibad bin al-Awam 35 Ibad bin al Awwam tidak dicantumkan sebagai perawi Ikrimah. Namun, jika dilihat dari tahun wafatnya, Ibad bin al Awwam (118-186) tidak bertemu langsung dengan Ikrimah (w.104). Namun, Ibid, vol. 6, hlm. 145. Abu al Faḍl Ahmad bin Ali, Lisān al Mīzān, vol. 5 (Lebanon: Muassasah al A‟lami, 1971), hlm. 244. 37 Al-Dhahabi, Siyar A’lam Al-Nubula`, 3:313 38 Ibid, vol. 5, hlm. 14. 39 Ibid, vol. 5, hlm. 13. 36 102 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 perawi Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 No Jalur Periwayatan Tema (Ayat - Riwayat) Keterangan ketika dilihat antara murid Ikrimah dan guru Ibad bin al Awwam ada dua nama yang sama yaitu, Ash‟ath bin Sawwār dan Ḥajjāj bin Arṭāh. Keduanya merupakan murid Ikrimah dan guru Ibad. Jadi, kemungkinan besar di sini telah terjadi pentadlisan riwayat hadis. 50 Ibnu „Abbās  Ikrimah Makna ayat  Dawud Nama Dawud yang meriwayatkan dari Ikrimah ada dua, yaitu Dawud bin Abi Hindin dan Dawud bin al Ḥuṣain. Sehingga belum jelas yang dimaksud di sini siapa. Akan tetapi keduanya sama-sama merupakan jalur terkenal yang menghubungkan pada Ikrimah. H. Kesimpulan Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa riwayat penafsiran Ibn Abbas pada QS. al-Baqarah berjumlah 421 dan jika sanadnya disendirikan berjumlah 553 riwayat dengan 93 macam periwayatan dan dengan 7 ragam tema kandungan. Sumber-sumber penafsiran yang digunakan sebagaimana para sahabat lainnya yakni hadis Nabi, perkataan sahabat, bahasa Arab, dan Ijtihad. AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 103 Tipologi Sumber Penafsiran Ibnu Abbas ….. Herfinawati Nasution Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.685 DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Abu Abdullah bin Muhammad bin Hanbal. Musnad Al-Imam Ahmad Bin Hanbal. ttp:Muassasah Al-Risālah, 2001. Ahmad, Abu Nu‟aim bin Abdullah, Ma’rifah al Ṣaḥābah li Abi N’aim. Riyāḍ: Dār al Waṭn, 1998. Aziz, Abdul bin Abdullah al-Ḥumaydī. Tafsīr Ibn Abbas wa Marwiyātihi fi al-Tafsīr min Kutub al-Sunnah. ttp: tnp, tth. Dhahabi, (al) Muhammad Ḥusain. Tafsir wa al Mufassirun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2004. Dhahabi, (al) Shamsuddin Abu Abdullah bin Muhammad bin Ahmad. Siyar A’lam AlNubula`. ttp:Muassasah Al-Risalah, 1985. Dosen Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Studi Kitab Tafsir. Yogyakarta: Teras, 2004. Faḍl, (al) Abu Ahmad bin Ali, Lisān al Mīzān. Lebanon: Muassasah al A‟lami, 1971. Itr, Nuruddin. Ulumul Hadis, terj. Mujiyo. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012 . Maliki, (al) Muhammad bin Alawi bin Abbas. Al-Manhal Al-Laṭīf Fī Uṣūl Al-Ḥadīth AlSharīf. Malang:Haiah al-Ṣafwah, tth. Mizziy, (al) Jamal al Dīn ibn al Zaki Abi Muhammad. Tahdhīb al Kamāl. Beirut: Muassah sl Risālah, 1980. Mustaqim, Abdul. Aliran-Aliran Tafsir. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005. Samsurrohman. Pengantar Ilmu Tafsir. Jakarta: Amzah, 2014. Suyūṭī, (al) Jalāl al Dīn. Al Itqān fī Ulūm Al-Qur`an, ttp: Al Hai`ah al Miṣriyah, 1974. Ṭabārī, (al) Ibnu Jarīr. Jāmi’ al Bayān ‘an Ta`wīl Ayyi al Qur’an, ttp: Muassasah al-Risālah, 1420. Ṭarīfī , (al) „Abd al-„Azīz bin Marzuq. Al-Taqrīr Fī Asānid al-Tafsīr. ttp: Maktabah Dār alMinhāj, 2011. Ṭarīfi, (al) Abdul Aziz bin Marzuqi. al Taqrīr Fī Asānīd al Tafsīr. ttp: tnp., 2011. Ṭāriq bin Muhammad Ali bin Nāji. Al Tadhyīl ‘ala Kutub al Jarḥ wa al Ta’dīl. ttp.: Maktabah al Muthanna al Islamiyah, 2004. 104 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018