Pola Asuh sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-24 bulan di Kecamatan Mantikulore Provinsi Sulawesi Tengah Anitatia Ratna Megasari*1. Riska Mayang Saputri Ginting1. Mohammad Fikri2 1Program Studi Gizi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman 2Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Mulawarman anitatiarm@fkm. ABSTRAK Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia lima tahun karena kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi pendek diantara anak seusianya dengan nilai z-score panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) kurang dari -2 Standar Deviasi (SD). Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah pola asuh, anak yang mendapatkan pola asuh yang kurang baik cenderung berisiko 2 kali lebih besar mengalami stunting jika dibandingkan dengan anak yang mendapat pola asuh baik dimana pola asuh yang dimaksud meliputi pengasuhan makan anak, perawatan dasar anak, personal hygiene dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif . etrospective study dengan rancangan case control stud. dan kualitatif atau mix method research dengan model campuran sekuensial eksplanatori. Variabel bebas yaitu pola asuh, dan variabel terikat yaitu stunting. Sampel penelitian ini adalah seluruh anak berusia 6-24 bulan di puskesmas pada Kecamatan Mantikulore, serta orang tuanya yang bertempat tinggal di lokasi penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dengan melakukan pengukuran ulang, kuesioner terstruktur, dan wawancara mendalam. Analisis bivariabel dengan menggunakan uji chi-square, sedangkan analisis multivariabel menggunakan logistic regression dengan p-value <0,05. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting dimana anak dengan pola asuh kurang baik berisiko 2,66 kali lebih besar mengalami stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling dominan terhadap kejadian stunting adalah pola asuh. Kesimpulan yaitu pola asuh merupakan faktor risiko kejadian stunting. Oleh karena itu diharapakan untuk dinas terkait untuk memberikan edukasi berkala serta pendampingan kepada keluarga bayi terutama ibu terkait pola asuh yang baik. Kata Kunci: Usia 6-24 bulan. pola asuh. Published by: Article history : Tadulako University Received : 10 07 2024 Address: Received in revised form : 08 08 2024 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 20 08 2024 Indonesia. Available online : 31 08 2024 Phone: 6282290859075 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 2 ABSTRACT Stunting is a condition of failure to thrive in children under the age of five due to chronic malnutrition so that children become short among children of their age with z-score body length (PB / U) or height (TB / U) less than -2 Standard Deviation (SD). One risk factor that affects the incidence of stunting in children under five is parenting, children who get poor parenting tend to be 2 times more likely to experience stunting when compared to children who get good parenting where the parenting style includes child feeding, basic child care, personal hygiene and environmental sanitation. This study aimed to determine the risk of parenting with the incidence of stunting in children aged 6-24 months in Palu City. This study uses a quantitative method . etrospective study with a case control study desig. and qualitative or mix methods research with an explanatory sequential mixed model. The independent variable is parenting, and the dependent variable is stunting. The sample of this study was all children aged 6-24 months in a health center in the District of Mantikulore, as well as their parents who resided in the study locations who met the inclusion and exclusion criteria. Data collection by re-measuring, structured questionnaires, and in-depth interviews. Bivariable analysis using the chi-square test, while multivariable analysis using logistic regression with p-value <0. The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between parenting and the incidence of stunting where children with poor parenting risked 2. 66 times greater stunting. The results of multivariate analysis showed that the most dominant factor in stunting was parenting. The conclusion, parenting is a risk factor of stunting. Therefore, it is hoped that the relevant agencies will provide periodic education and assistance to the families of babies, especially mothers related to good Keywords : Age 6-24 months. PENDAHULUAN Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah usia lima tahun karena kekurangan gizi kronis sehingga anak menjadi pendek diantara anak seusianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada awal setelah bayi lahir. Balita stunting adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) berdasarkan usia dengan nilai z-score kurang dari -2 Standar Deviasi (SD). Masalah balita stunting dipengaruhi dari kondisi ibu atau calon ibu, masa janin, dan masa bayi atau balita, termasuk penyakit infeksi yang diderita selama masa balita. Masalah stunting tidak hanya terkait masalah kesehatan, tetapi juga dipengaruhi dengan berbagai kondisi lain yang mempengaruhi kesehatan secara tidak langsung. Penyebab stunting juga dikarenakan praktek pengasuhan yang tidak baik yaitu kurangnya PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 2 pengetahuan kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Baduta yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan. Prevalensi stunting di dunia pada tahun 2017 yaitu 22,2% atau 150,8 juta pada anak berusia dibawah 5 tahun dimana lebih dari setengah anak berusia dibawah 5 tahun yang stunting tersebut berada di bagian Asia. Prevalensi tertinggi stunting di Asia yaitu di bagian Asia Selatan yaitu 33,3%, sedangkan Asia Tenggara berada pada peringkat tertinggi kedua yaitu 25,7%. Prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2% dimana meningkat dari tahun 2010 . ,6%) dan tahun 2007 . ,8%). Prevalensi tersebut lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara seperti Myanmar . %). Vietnam . %), dan Thailand . %). Pada tahun 2013, terdapat 15 provinsi di Indonesia dengan prevalensi stunting yang masuk dalam kategori tinggi, salah satunya yaitu Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 41%. Pada tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia pada anak berusia 0-23 bulan sebesar 20,1%, sedangkan prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah masih diatas prevalensi nasional yaitu sebesar 21,8%. Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Tengah pada anak berusia 0-23 bulan tertinggi yaitu terdapat di Kota Palu sebesar 27,3%. Prevalensi stunting pada tahun 2017 di Kecamatan Mantikulore Kota Palu sebanyak 41,5%. Salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak balita adalah pola asuh. Anak yang mendapatkan pola asuh yang kurang baik, cenderung berisiko 2 kali lebih besar mengalami stunting jika dibandingkan dengan anak yang mendapat pola asuh baik. Pola asuh meliputi pengasuhan makan anak, perawatan dasar anak, personal hygiene dan sanitasi lingkungan. Pola asuh yang kurang baik tersebut dikarenakan anak yang lahir tidak diberikan kolostrum, serta anak diberikan susu PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 2 formula, air putih, dan madu dengan alasan ASI belum keluar. Selain itu masa pengenalan MP-ASI pada anak tidak sesuai dengan usia anak karena diberikan terlalu Faktor personal hygiene juga kurang baik dimana ibu kurang menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makan. Selain itu ibu juga kurang menerapkan pada anak untuk mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, dan membiasakan untuk buang air kecil atau buang air besar pada tempatnya. Anak yang stunting sebagian besar terjadi karena anak tersebut mendapatkan pola asuh yang kurang dalam hal praktek pemberian makan, praktek kebersihan, dan praktek pengobatan. Ibu yang tidak memperhatikan pola gizi seimbang ketika memberi makan anak sehingga anak sering diberikan makanan jajanan yang mengakibatkan kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal. Selain itu kebersihan ibu dalam menyiapkan dan memberi makan anak juga berpengaruh terhadap status gizi anak karena ibu tidak mencuci tangan ketika memberi makan anak, dan juga ketika selesai buang air besar sehingga anak rentan terkena penyakit infeksi. Pola asuh yang tidak baik tersebut dapat diakibatkan karena rendahnya tingkat pendidikan ibu. Ibu dengan tingkat pendidikan rendah memiliki sikap yang negatif terhadap gizi makanan sehingga dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Selain itu tingkat pendidikan juga mempengaruhi kemampuan dalam menerima informasi terutama terkait gizi dan Kesehatan. Melihat besarnya dampak stunting pada anak usia 6-24 bulan karena merupakan periode kritis sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius untuk memecahkan permasalahan tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kecamatan Mantikulore. Kota Palu. METODE Metode dalam penelitian ini adalah jenis penelitian dengan rancangan case control . ix PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 2 eksplanator. yang dilakukan pada bulan Maret-Mei 2019 di tiga puskesmas di Kecamatan Mantikulore. Kota Palu. Provinsi Sulawesi Tengah. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pola asuh dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan dengan mempertimbangkan variabel antara yaitu asupan energi, asupan protein, asupan zinc, dan penyakit infeksi, serta variabel luar yaitu jumlah anggota keluarga, usia ibu saat hamil, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan pendapatan orang tua. Pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan metode consecutive sampling yaitu pemilihan subjek yang ada dan memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan Jumlah sampel dalam penelitian ini sejumlah 158 sampel yang terdiri dari 79 kasus dan 79 kontrol. Sedangkan untuk informan berjumlah 26 orang. Pemilihan informan tersebut karena dianggap dapat memberikan informasi terkait pola asuh Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisi bivariat dan anailisi multivariat, analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square dan analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan uji regression logistic. HASIL Pada tabel 1 menggambarkan proporsi masing-masing variabel dimana subjek penelitian lebih banyak berjenis kelamin perempuan, berusia 6-12 bulan. Selain itu juga terdapat paling banyak yang memiliki asupan energi rendah, asupan protein cukup, asupan zinc cukup, tidak mengalami diare, dan mendapatkan pola asuh yang kurang baik, serta berada dalam anggota keluarga yang masuk dalam kategori kecil yaitu dibawah sama dengan empat orang. Karakteristik ibu subjek yaitu paling banyak yang berusia dewasa atau Ou20 tahun dengan pendidikan SMA, dan tidak bekerja atau menjadi IRT. Sedangkan karakteristik ayah subjek yaitu paling banyak berkerja sebagai wiraswasta dengan pendidikan SMA. Proporsi pendapatan orang tua lebih banyak yang berpendapatan dibawah UMR. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 2 Tabel 1 Distrbusi Karakteristik Subjek Penelitian Variabel Jenis Kelamin Laki-laki 48,73 Perempuan 51,27 Usia Anak 6-12 bulan 58,86 13-24 bulan 41,14 Jumlah Anggota Keluarga >4 orang 36,71 O4 orang 63,29 Usia Ibu Saat Hamil <20 tahun 13,29 Ou20 tahun 86,71 Pendidikan Ayah 16,46 SMP 24,05 SMA 51,27 D3/S1/S2 8,23 Pendidikan Ibu 16,46 SMP 25,95 SMA 38,61 D3/S1/S2 18,99 Pekerjaan Ayah Tidak Bekerja 1,90 Petani/Nelayan/Penambang 8,86 Buruh/Supir 25,32 Wiraswasta 40,51 Pegawai Honorer 10,76 PNS/TNI/Polri 12,66 Pekerjaan Ibu IRT 79,11 Wiraswasta 7,59 Pegawai Honorer 7,59 Bidan/Perawat 1,90 PNS 3,80 Pendapatan Orang Tua