[VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA Analisis Perbandingan Metode Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan Kurikulum 2013 Menggunakan Metode AHP Aif Fadillah Furqon 1. Diah Puspitasari2 AbstractAi Is currently in education world method learning the curriculum used the curriculum 2013 was previously curriculum ktsp . urriculum level a unit of educatio. Curriculum level a unit of education . tsp is operational curriculum developed by of each unit education and form a reference and guidelines for the implementation education to develop various education . nowledge, skill, and attitud. in a unit of primary and secondary education. Ktsp issued in 2006 and replaced by 2013 curriculum. 2013 curriculum introduced in 2013 by minister for education and culture, 2013 curriculum was a continuation of the curriculum based competence ( kbk ) that was once tried out in 2004. By using the method analytical hierarchy process ( ahp ) and by the software expert choice so will look comparison of both the curriculum which is the Based on 5 ( five ) criteria: the, governance, duty, students, and syllabus who disi through the questionnaire so obtained the result for ktsp 0,569 while 2013 curriculum 0,431. Based on the calculation of then can be concluded curriculum level a unit of education superior than 2013 IntisariAi Saat ini dalam dunia pendidikan metode pembelajaran kurikulum yang dipakai yaitu kurikulum 2013 yang sebelumnya adalah kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang dikembangkan oleh setiap satuan Pendidikan serta merupakan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan Pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah Pendidikan (Pengetahuan, keterampilan, dan sika. dalam satuan Pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum 2013 mulai diperkenalkan pada tahun 2013 oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan. Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang pernah diujicobakan pada tahun 2004. Dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan didukung dengan perangkat lunak Expert Choice maka akan terlihat perbandingan dari kedua kurikulum tersebut mana yang lebih baik. Berdasarkan 5 . kriteria yaitu : waktu. Tata kelola. Tugas. Siswa, dan Silabus yang disi melalui kuesioner maka didapatkan hasil untuk KTSP 0,569 sedangkan Kurikulum 2013 0,431. Berdasarkan perhitungan maka dapat disimpulkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan lebih unggul dibandingkan Kurikulum 2013. Kata KunciAi AHP. Expert Choice. KTSP. Kurikulum. Program Studi Sistem Informasi STMIK Nusa Mandiri Jakarta Jl Damai No. Warung Jati Barat (Margasatw. , jakarta Selatan 12540 INDONESIA, . lp: 021-78839513, fax: 02178839421. email: Aifberingin@gmail. Program Studi Manajemen Informatika AMIK BSI Bekasi Jl. Raya Kaliabang No. Perwira. Bekasi Utara. Kota Bekasi 17125 INDONESIA, . lp:021-88985613. fax: 021-88985615. e-mail: puspitasari@bsi. PENDAHULUAN Karakteristik Kurikulum bisa diketahui antara lain dari bagaimana Sekolah dan satuan Pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar. Profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian. Kurikulum memungkinkan Sekolah untuk meningkatkan pengajaran dengan sendirinya dan itu adaptif dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan negara dalam bidang pendidikan, kurikulum sekolah di Indonesia menganut pada standar-standar dari penyelenggaraan pendidikan, misalnya Standar Isi sebagai alur dari dasar pijakan tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran, pelajaran harus adaptif dengan karakteristik konsep dan peningkatan cara berpikir siswa sehingga menimbulkan pemahaman konsep dan pengajaran antara siswa dengan guru yang mendorong pada keterampilan untuk memecahkan dan menyelesaikan suatu Ajaran dari hal-hal nyata untuk hal-hal yang abstrak, atau mudah sulit dan sederhana sampai yang kompleks, meninjau materi yang terkenal sulit untuk konsolidasi pemahaman. Saat ini dalam dunia pendidikan metode pembelajaran kurikulum yang dipakai yaitu kurikulum 2013 yang sebelumnya adalah kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika. Perjalanan kurikulum di Indonesia yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu menimbulkan ada banyak persoalan, bahkan mungkin muncul pertanyaan kenapa harus berubah dari waktu ke waktu bukankah pesan agar bangsa ini melaksanakan pendidikan bagi warganya telah tertulis secara permanen di dalam Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31 ayat 1 sd 5, menyatakan pemerintah wajib melaksanakan pendidikan seperti bunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang artinya kurikulum mestilah mengemban amanah ini yang antara lain menyatakan pendidikan nasional itu bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, melahirkan anak bangsa yang berakhlak mulia dan memiliki kecerdasan. Fakta sampai dewasa ini kurikulum senantiasa berubah, bahkan terkesan beda presiden beda kebijakan tentang pendidikan, beda menteri pendidikan beda pula pendekatan dan kebijakan yang anut. Hal-hal seperti inilah yang mendorong untuk dilakukan ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. penelitian ilmiah di sekitar karakteristik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) maupun Kurikulum 2013 yang muncul dalam perbedaan dan persamaan kurikulum yang ada khususnya antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). II. TINJAUAN PUSTAKA Pendidikan Nasional. Pendidikan merupakan pendekatan dasar dalam proses perubahan sosial dalam menghadapi berbagai masalah dan Pendidikan adalah kehidupan, untuk itu kegiatan belajar harus dapat membekali peserta didik dengan kecakapan hidup . ife skill atau life competenc. yang sesuai dengan lingkungan kehidupan dan kebutuhan peserta didik. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Untuk itu. Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Undang-Undang No. 20 Tahun 2. Kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,kompetensi dasar,materi standar,dan hasil belajar,serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan Pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP merupakan kurikulum operasional yang dikembangkan oleh setiap satuan Pendidikan serta merupakan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan Pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah Pendidikan (Pengetahuan, keterampilan, dan sika. dalam satuan Pendidikan dasar dan menengah . Secara Umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan Pendidikan melalui pemberian kewenangan . kepada lembaga Pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan Kurikulum. Pengambilan Keputusan. Keputusan merupakan kegiatan memilih suatu strategi atau tindakan dalam pemecahan masalah tersebutAy. Tindakan memilih strategi atau aksi yang diyakini manajer akan memberikan solusi terbaik atas sesuatu itu disebut pengambilan keputusan. Tujuan dari keputusan adalah untuk mencapai target atau aksi tertentu yang harus Kriteria atau ciri-ciri dari keputusan adalah : Banyak pilihan/alternatif Ada kendala atau syarat. Mengikuti suatu pola/model tingkah laku, baik yang terstruktur maupun tidak terstruktur. Banyak input/bariabel. Ada faktor risiko. Dibutuhkan kecepatan, ketepatan, dan keakuratan. Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode AHP adalah sebuah hierarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusiaAy. Mengatur bagian atau variabel ini menjadi suatu bentuk susunan hierarki, kemudian memberikan nilai numerik untuk penilaian subjektif terhadap kepentingan relatif dari setiap variabel dan mensistensis Penilaian untuk variabel mana yang memiliki prioritas tertinggi yang akan mempengaruhi penyelesaian dari situasi tersebut . Prosedur AHP Pada dasarnya, prosedur atau langkah-langkah dalam metode AHP meliputi : Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan, lalu menyusun hierarki dari permasalahan yang dihadapi. Penyusunan hierarki adalah dengan menetapkan tujuan yang merupakan sasaran sistem secara keseluruhan pada level teratas. Menentukan Prioritas elemen. Langkah pertama dalam menentukan prioritas elemen adalah membuat perbandingan berpasangan, yaitu membandingkan elemen secara berpasangan sesuai kriteria yang Matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan untuk mempresentasikan kepentingan relatif dari suatu elemen terhadap elemen yang lainnya. Sintesis. Pertimbangan-pertimbangan perbandingan berpasangan di sintesis untuk memperoleh keseluruhan prioritas. Hal-hal yang dilakukan dalam langkah ini adalah : Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap kolom pada Membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi Menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan nilai rata-rata. Mengukur Konsistensi. Dalam pembuatan keputusan, penting untuk mengetahui seberapa baik konsistensi yang ada karena kita tidak menginginkan keputusan berdasarkan pertimbangan dengan konsistensi yang Hitung Consistency Index (CI) dengan rumus : CI = ( maks Ae n ) / n . Dimana n = Banyaknya elemen. Hitung Rasio Konsistensi/ Consistency Ratio (CR) dengan rumus : ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. CR = CI / RC Dimana . CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index IR = Indeks Random Consistency Memeriksa konsistensi hierarki. Jika nilainya lebih dari 10%, maka penilaian data judgement harus diperbaiki. Namun jika rasio konsistensi (CI/CR) kurang atau sama dengan 0,1, maka hasil perhitungan bisa dinyatakan i. METODE PENELITIAN Tahapan Penelitian. Dalam Penelitian ini, penulis membagi tahapan-tahapan Penelitian ke beberapa tahapan sebagai berikut: JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA mengumpulkan data. Oleh karena itu Instrument dalam Penelitian kuantitatif dapat berupa test, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan kuisioner . Instrumen Penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar perkerjaan lebih mudah. Hasilnya pun lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah . Instrumen penelitian yang digunakan adalah berupa daftar pernyataan yang berjumlah 25 pernyataan terkait kurikulum yang terdiri dari 5 variabel yaitu Waktu. Tata Kelola. Tugas. Siswa dan Silabus. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : Obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh Peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya . Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah guru yang mengajar pada SMPN 139 Jakarta. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh Populasi tersebutAy. Bila Populasi besar, dan Peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada Populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka Peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari Populasi itu . Sampel yang digunakan untuk menjadi responden adalah Guru SMPN 139 Jakarta Timur yang berjumlah 30 orang yang terdiri dari 11 orang berjenis kelamin pria dan 19 orang berjenis kelamin perempuan. TABEL 1. DISTRIBUSI FREKUENSI SAMPEL BERDASARKAN JENIS KELAMIN Jenis Kelamin Pria Wanita Jumlah Frekuensi Prosentasi Metode Analisis Data Dalam Penelitian Kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas,yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal . Karena datanya Kuantitatif, maka teknik analisis data menggunakan metode statistik yang sudah tersedia. Pada Penelitian ini metode yang digunakan adalah Metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Sumber : Data Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Gbr 1. Tahapan Penelitian Instrumen Penelitian. Terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil Penelitian yaitu, kualitas Instrumen Penelitian, dan kualitas pengumpulan dataAy. Dalam Penelitian Kuantitatif, kualitas instrumen Penelitian berkenaan dengan validitas dan reliabilitas intrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk Deskripsi Data. SMPN 139 Jakarta Timur yang terletak di Jalan Bunga Rampai X. Perumnas Klender Jakarta Timur, merupakan lembaga pendidikan yang mendidik dan membentuk siswanya menjadi Manusia Indonesia yang bermutu, unggul, menjadi pemimpin, berbudi pekerti luhur. SMPN 139 Jakarta Timur berdiri pada tanggal 18 Juli 1980 dengan Surat Keputusan No. 0206/0/1980. Dengan status Sekolah ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. TABEL 2 MATRIKS BERPASANGAN KRITERIA UTAMA Negeri memiliki sarana yang lengkap dan guru-guru Profesional. Analisa Data Kuesioner yang berisi beberapa pernyataan disebarkan kepada 30 guru yang berada di satu lingkungan SMPN 139 Jakarta. Penyebaran kuesioner dilakukan secara langsung kepada guru yang berada di SMPN 139 Jakarta. Penyebaran kuesioner dimulai pada bulan Juli 2016 dan diakhiri bulan Agustus 2016, jumlah kuesioner yang dikembalikan sebanyak 30 eksampler atau 100 % dari jumlah kuesioner yang disebar. Berikut adalah hirarki pengambilan keputusan untuk perbandingan Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah SMPN 139 Jakarta. Sumber : Data Penelitian Gbr 2. Hirarki Perbandingan Kurikulum 2013 dengan KTSP Matriks Perbandingan Berpasangan. Hasil dari olah data kuesioner kemudian dibuat dalam bentuk matriks berpasangan untuk mendapatkan bobot dari kriteria masing-masing. Berikut adalah hasil matriks berpasangan untuk masing-masing kriteria : Kriteria Waktu Siswa Waktu 1,00 3,00 5,00 7,00 5,00 tata kelola 0,30 1,00 0,30 3,00 5,00 Tugas 0,20 3,00 1,00 5,00 3,00 Siswa 0,14 0,30 0,20 1,00 0,50 Silabus 0,20 0,20 0,30 2,00 1,00 Jumlah 1,84 Sumber : Data Penelitian TABEL 3 MATRIKS NORMALISASI NILAI KRITRERIA UTAMA Tata Kriteria Waktu Tugas Siswa Silabus Jumlah Prioritas Kelola Waktu Tata Kelola 0,543 0,400 0,735 0,389 0,345 2,412 0,48 0,163 0,133 0,044 0,167 0,345 0,852 0,17 Tugas 0,109 0,400 0,147 0,278 0,207 1,140 0,23 Siswa 0,076 0,040 0,029 0,056 0,034 0,236 0,05 Silabus 0,109 0,027 Sumber : Data Penelitian 0,044 0,111 0,069 0,360 0,07 Berdasarkan hasil tabel 3 kemudian di input ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk waktu bernilai 0,48 , tata kelola bernilai 0,17 , tugas bernilai 0,23 , siswa bernilai 0,05 , dan silabus bernilai 0,07 , berdasarkan nilai prioritas tersebut kriteria utama waktu lebih dominan dibandingkan dengan kriteria lainnya dengan Consistency Ratio (CR) bernilai 0,071904 dengan formulasi sebagai berikut : Kriteria Utama Matriks berpasangan untuk kriteria utama dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai Sumber : Data Penelitian Gbr 4. Formulasi perbandingan kriteria utama dengan kriteria lain TABEL 4 PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI KRITERIA UTAMA Sumber : Data Penelitian Gbr 3. Matriks berpasangan kriteria utama menggunakan Expert Choice Prioritas Hasil Hasil/Prioritas 0,48 2,823 5,852 0,17 0,884 5,191 0,23 1,287 5,643 0,05 0,247 5,251 0,07 0,365 5,078 Sumber : Data Penelitian ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. Lamda max ( ma. : 5,402660686 Consistency Index (CI) : 0,0805321372 Indeks Random (IR) : 1,12 Consistency Ratio (CR) : 0,071903694 Sumber : Data Penelitian Oleh karena Consistency Ratio (CR) < 0,1 maka rasio konsistensi dari perhitungan tersebut dapat diterima. Sub Kriteria Waktu. Matriks berpasangan untuk sub kriteria waktu dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai berikut: Gbr 5. Formulasi perbandingan alternatif kurikulum 2013 dengan KTSP sub kriteria waktu TABEL 7 PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI SUB KRITERIA WAKTU Prioritas Hasil Hasil /Prioritas 0,14 0,17 1,214 0,86 1,28 1,488 Sumber : Data Penelitian Lamda max ( ma. Consistency Index (CI) Indeks Random (IR) Consistency Ratio (CR) : 1,351 : - 0,3245 : 0,00 : 0,000000 Oleh karena Consistency Ratio (CR) < 0,1 maka rasio konsistensi dari perhitungan tersebut dapat diterima. Sumber : Data Penelitian Gbr 4. Matriks berpasangan sub kriteria waktu menggunakan expert Sub Kriteria Tata Kelola. Matriks berpasangan untuk sub kriteria tata kelola dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai berikut : TABEL 5 MATRIKS BERPASANGAN SUB KRITERIA WAKTU Alternatif Kurikulum KTSP Kurikulum 2013 1,00 0,03 KTSP 3,00 1,00 Jumlah 4,00 1,03 Sumber : Data Penelitian TABEL 6 MATRIKS NORMALISASI NILAI SUB KRITERIA WAKTU Alternatif Kurikulum KTSP Jumlah Prioritas Kurikulum 0,25 0,029126 0,279126214 0,14 KTSP 0,75 0,970874 1,720873786 0,86 Sumber : Data Penelitian Berdasarkan hasil tabel 6 kemudian diinput ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk Kurikulum 2013 bernilai 0,14 , dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bernilai 0,86 , berdasarkan nilai prioritas tersebut alternatif Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih dominan dibandingkan alternatif Kurikulum 2013 dengan Consistency Ratio bernilai 0,00000 dengan formulasi sebagai berikut : Sumber : Data Penelitian Gbr 6. Matriks berpasangan sub kriteria tata kelola menggunakan expert choice TABEL 8 MATRIKS BERPASANGAN SUB KRITERIA TATA KELOLA Alternatif Kurikulum 2013 KTSP KTSP 0,03 Jumlah 1,03 Sumber : Data Penelitian TABEL 9 MATRIKS NORMALISASI NILAI SUB KRITERIA TATA KELOLA Kurikulum Alternatif KTSP Jumlah Prioritas Kurikulum 2013 0,97 0,75 1,72 0,86 KTSP Sumber : Data Penelitian 0,03 0,25 0,28 0,14 ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. Berdasarkan hasil tabel 9 kemudian diinput ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk Kurikulum 2013 bernilai 0,86 , dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bernilai 0,14 , berdasarkan nilai prioritas tersebut alternatif Kurikulum 2013 lebih dominan dibandingkan alternatif Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan Consistency Ratio bernilai 0,00000 dengan formulasi sebagai berikut : Sumber : Data Penelitian Gbr 7. Formulasi perbandingan alternatif kurikulum 2013 dengan KTSP sub kriteria tata kelola TABEL 10. PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI SUB KRITERIA TATA KELOLA Prioritas Hasil Hasil /Prioritas 0,86 1,28 1,488 0,14 0,17 1,214 Sumber : Data Penelitian Lamda max ( ma. Consistency Index (CI) Indeks Random (IR) Consistency Ratio (CR) TABEL 11. MATRIKS BERPASANGAN SUB KRITERIA TUGAS KTSP 1,00 2,00 KTSP 0,05 1,00 1,05 3,00 Sumber : Data Penelitian TABEL 12 MATRIKS NORMALISASI NILAI SUB KRITERIA TUGAS Alternatif Kurikulum KTSP Jumlah Prioritas 0,952380952 0,666667 1,62 0,809524 KTSP 0,047619048 0,333333 0,38 0,190476 Sumber : Data Penelitian Berdasarkan hasil tabel 12 kemudian diinput ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk Kurikulum 2013 bernilai 0,81 , dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bernilai 0,19 , berdasarkan nilai prioritas tersebut alternatif Kurikulum 2013 lebih dominan dibandingkan alternatif Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan Consistency Ratio bernilai 0,00000 dengan formulasi sebagai berikut : : 1,351 : -0,3245 : 0,00 : 0,000000 Oleh karena Consistency Ratio (CR) < 0,1 maka rasio konsistensi dari perhitungan tersebut dapat diterima. Sub kriteria tugas. Matriks berpasangan untuk sub kriteria tugas dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai berikut: Sumber : Data Penelitian Gbr 9. Formulasi perbandingan alternatif kurikulum 2013 dengan KTSP sub kriteria TABEL 13 PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI SUB KRITERIA TUGAS Prioritas Hasil Hasil /prioritas 0,81 1,19 1,4706 0,19 0,2305 1,2131 Sumber : Data Penelitian Lamda max ( ma. Consistency Index (CI) Indeks Random (IR) Consistency Ratio (CR) :1,3418 : -0,3291 : 0,00 : 0,000000 Oleh karena Consistency Ratio (CR) < 0,1 maka rasio konsistensi dari perhitungan tersebut dapat diterima. Sumber : Data Penelitian Gbr 8. Matriks berpasangan sub kriteria tugas menggunakan expert choice Sub kriteria Siswa Matriks berpasangan untuk sub kriteria siswa dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai berikut: ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. Lamda max ( ma. Consistency Index (CI) Indeks Random (IR) Consistency Ratio (CR) : 1,3411 : - 0,32945 : 0,00 : 0,000000 Oleh karena Consistency Ratio (CR) < 0,1 maka rasio konsistensi dari perhitungan tersebut dapat diterima. Sub kriteria silabus Matriks berpasangan untuk sub kriteria silabus dari olah data kuesioner maka menghasilkan gambar dan tabel sebagai berikut : Sumber : Data Penelitian Gbr 10. Matriks berpasangan sub kriteria siswa menggunakan expert TABEL 14. MATRIKS BERPASANGAN SUB KRITERIA SISWA Alternatif Kurikulum 2013 KTSP 1,00 0,05 KTSP 2,00 1,00 Jumlah 3,00 1,05 Sumber : Data Penelitian Sumber : Data Penelitian TABEL 15 MATRIKS NORMALISASI NILAI SUB KRITERIA SISWA Alternative Gbr 12. Matriks berpasangan sub kriteria silabus menggunakan expert kKurikulum KTSP Jumlah Prioritas 0,33 0,047619 0,38 0,19 TABEL 17 MATRIKS BERPASANGAN SUB KRITARIA SILABUS 0,67 0,952381 1,62 0,81 Alternatif KTSP 1,00 0,25 KTSP 4,00 1,00 5,00 1,25 KTSP Sumber : Data Penelitian Berdasarkan hasil tabel 15 kemudian diinput ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk Kurikulum 2013 bernilai 0,19 , dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bernilai 0,81 , berdasarkan nilai prioritas tersebut alternatif Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih dominan dibandingkan alternatif Kurikulum 2013 dengan Consistency Ratio bernilai 0,00000 dengan formulasi sebagai berikut : Sumber : Data Penelitian TABEL 18 MATRIKS NORMALISASI NILAI SUB KRITERIA SILABUS Alternatif KTSP Kurikulum KTSP Jumlah Prioritas Sumber : Data Penelitian Sumber : Data Penelitian Gbr 11. Formulasi perbandingan alternatif kurikulum 2013 dengan KTSP sub kriteria siswa TABEL 16 PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI SUB KRITERIA SISWA Prioritas Hasil Hasil /Prioritas 0,19 0,2305 1,2131 0,81 1,19 1,4691 Berdasarkan hasil tabel 18 kemudian diinput ke dalam aplikasi expert choice, maka akan menghasilkan nilai normalisasi dan prioritas untuk Kurikulum 2013 bernilai 0,2, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bernilai 0,8 , berdasarkan nilai prioritas tersebut alternatif Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih dominan dibandingkan alternatif Kurikulum 2013 dengan Consistency Ratio bernilai 0,00000 dengan formulasi sebagai berikut : Sumber : Data Penelitian ISSN 2098-8711 | Analisis Perbandingan MetodeA JURNAL SISTEM INFORMASI STMIK ANTAR BANGSA [VOL. VII NO. 1 FEBRUARI 2. Sumber : Data Penelitian Gbr 13. Formulasi perbandingan alternatif kurikulum 2013 dengan KTSP sub kriteria silabus TABEL 19 PERHITUNGAN RASIO KONSISTENSI SUB KRITERIA SILABUS Prioritas Hasil Hasil /Prioritas Lamda max ( ma. Consistency Index (CI) Indeks Random (IR) Consistency Ratio (CR) : 0,00 : 0,000000 nilai untuk KTSP 0,569 dan nilai untuk Kurikulum 2013 0,431 jadi Kurikulum yang terbaik berdasarkan hasil kuesioner dan perhitungan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan kesimpulan yang di tarik dari hasil analisis data, maka penulis mencoba memberikan saran Kurikulum 2013 seharusnya memperhatikan dalam hal waktu karena pada dasarnya menurut hasil kuesioner yang di sebar penulis ke lingkungan SMPN 139 Jakarta banyak guru mengeluhkan waktu yang diterapkan Kurikulum 2013 pada saat mata pelajaran berlangsung lebih lama dibandingkan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), walaupun ada sedikit pengurangan jumlah mata pelajaran tapi sangat memberatkan bagi siswa dan harus ada pembaharuan dari Kurikulum 2013 agar dapat membangun generasi muda yang berprestasi, aktif, kreatif, dan pintar. REFERENSI