Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN PEMANFAATAN LIMBAH KANDANG TERNAK SAPI MENJADI PUPUK ORGANIK DI DESA SUKARARA, KECAMATAN SAKRA BARAT. KABUPATEN LOMBOK TIMUR. NTB Ginang Adyatmang Suwarno1. Khrisna Sanjaya Indra Pratama2. Brilyan Ridha3. Khairia Regita Cahyani4. Nadya Oktavira Jazzika5. Ni Putu Cening Ardani6. Sahnim7. Indah Pratiwi8. Irma Maulana9. Lisa Andriani10. I Ketut Ngawit*11 Program Studi Akuntansi Universitas Mataram, 2Program Studi Ilmu Hukum Universitas Mataram, 3Program Studi Teknik Sipil Universitas Mataram, 4Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Mataram, 5Program Studi Manajemen Universitas Mataram. Program Studi Akuntansi Universitas Mataram, 7Program Studi Agribisnis Universitas Mataram, 8Program Studi Ilmu Hukum Universitas Mataram, 9Program Studi Sosiologi Universitas Mataram, 10Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Non Reguler Universitas Mataram, 11Dosen Pembimbing. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian Jalan Pendidikan Nomor 37 Kota Mataram *Alamat korespondensi: ngawit@unram. ABSTRAK Populasi Hewan ternak di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah. Seiring dengan meningkatnya populasi hewan ternak, tentunya limbah ternak yang dihasilkan juga akan meningkat. Apabila Limbah ternak tidak dikelola dengan baik, maka dapat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan, seperti pencemaran air, tanah, dan udara. Sehingga, salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memanfaatkan limbah ternak hewan sebagai bahan dalam pembuatan pupuk organik. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukarara. Kecamatan Sakra Barat. Kabupaten Lombok Timur karena mayoritas masyarakat Desa Sukarara merupakan Peternak dan Petani. kerja ini tepat dilaksanakan di Desa Sukarara, karena saat melaksanakan observasi, ditemukan kotoran sapi yang tertumpuk dan belum dimanfaatkan, oleh karenanya kelompok KKN Tematik Desa Sukarara tertarik untuk melaksanakan kegiatan Penyuluhan dan Pendampingan Pemanfaatan Limbah Kandang Ternak. Hasil yang dicapai dengan diadakan program ini adalah wawasan dan pemahaman masyarakat tentang Pupuk Organik dan Cara mengolah Limbah kandang bertambah. Kata Kunci : Ternak. Limbah Ternak. Limbah Hewan. Pupuk Organik PENDAHULUAN Populasi hewan ternak di Indonesia baik dalam skala Nasional maupun skala regional setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Mengutip dari data Badan Pusat Statistik, pada skala Nasional, dalam rentang waktu 3 tahun, yaitu dari tahun 2019 Ae 2021 terlihat bahwa populasi ternak di Indonesia mengalami pertumbuhan, pada tahun 2019 ada sebanyak 16. 025 ekor, lalu pada tahun 2020 sebanyak 17. 393 ekor, dan pada tahun 2021 ada sebanyak Kemudian, bila melihat pada skala regional, di Nusa Tenggara Barat (NTB) populasi ternaknya mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2019, di NTB ada sebanyak Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. 640 ekor hewan ternak, lalu pada Tahun 2020, ada sebanyak 1. 746 ekor, dan pada tahun 2021 ada sebanyak 1. 324 ekor. Tentunya, seiring dengan pertambahan jumlah ternak, maka limbah ternak yang dihasilkan akan mengalami peningkatan, dan bila limbah dari usaha peternakan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan sangat berpotensi menyebabkan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan, terutama pencemaran yang diakibatkan oleh limbah kotoran ternak yang dihasilkan setiap harinya. Hewan ternak mengeluarkan kotoran dalam jumlah yang besar. Pada ternak sapi, jumlah kotoran yang dikeluarkan setiap harinya kurang lebihnya berkisar 12% dari berat tubuh hewan ternak tersebut, dan apabila kotoran hewan ternak tersebut tidak dikelola dengan baik, maka kotoran hewan tersebut dapat menjadi limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, karena kotoran ternak yang terus menerus ditumpuk mengandung NH3. NH, dan senyawa (Sukamta . ) Kandungan yang terdapat dalam kotoran ternak dapat mencemari lingkungan masyarakat sekitar, dan apabila tidak dikelola dengan baik dan juga bila melakukan pembuangan kotoran ternak secara sembarangan, hal ini dapat mengakibatkan pencemaran tanah, air, dan udara yang dapat menimbulkan aroma yang tidak sedap. Tentunya, ini akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup masyarakat, sehingga hal ini dapat memicu timbulnya konflik sosial antara peternak dengan warga setempat. Seharusnya, kotoran hewan tersebut dikelola dengan baik dan benar, limbah yang berasal dari peternakan tersebut dapat menjadi produk yang bermanfaat. Ada banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengolah limbah tersebut, salah satunya yaitu dengan menjadikannya Pupuk organik . Selain fungsi pupuk organik . yang baik untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman dan untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian, pupuk organik juga menjadi alternatif yang tepat untuk meningkatkan penghasilan warga, karena saat ini harga pupuk anorganik mengalami kenaikan, oleh karenanya pupuk organik menjadi solusi yang tepat dalam mengatasi kenaikan harga pupuk. Namun, sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya. Hingga saat ini, kotoran ternak belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat petani. Alasannya, karena peternak kurang mengenal teknologi pengolahan limbah ternak, sehingga perlu dicari metode yang sederhana sebagai upaya dalam mengolah limbah ternak dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan supaya peternak tertarik untuk mengolah limbah ternak. Mengingat banyak manfaat yang didapat dengan menggunakan pupuk organik, yang salah satunya adalah berfungsi sebagai pembenah tanah, maka pemerintah membuat Peraturan Menteri Pertanian (PERMENTAN) No. 70 Tahun 2011 tentang Pupuk organik. Pupuk Hayati, dan Pembenah tanah, sehingga peraturan inilah yang menjadi pendorong munculnya usaha untuk mengolah pupuk organik. Berdasarkan berbagai pembahasan di atas, dalam hal ini Kelompok KKN Tematik Desa Sukarara menjadi tertarik untuk melakukan penyuluhan dan pendampingan pemanfaatan limbah kandang, dan oleh karenanya melaksanakan kegiatan tersebut di Desa Sukarara. Kecamatan Sakra Barat. Kabupaten Lombok Timur. Alasan melaksanakan kegiatan ini di Desa Sukarara, adalah dengan mengingat bahwa mayoritas masyarakat yang berasal dari Desa Sukarara merupakan Petani dan Peternak, dan juga setelah melaksanakan survei dan observasi Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. terhadap keadaan sekitar di masing-masing tempat ternak, kami selaku kelompok KKN Tematik melihat banyaknya Kotoran Hewan ternak sapi yang tertumpuk di kandang ternak warga setempat dan belum dimanfaatkan secara optimal. Sehingga hal-hal tersebut menjadi alasan Kelompok KKN-Tematik UNRAM untuk melakukan kegiatan tersebut di Desa Sukarara. Sehingga, dengan terlaksananya Program kerja ini, besar harapan kami. Anggota kelompok KKN Tematik UNRAM Desa Sukarara, bahwa dengan penyuluhan dan pendampingan dalam pemanfaatan limbah kandang ternak, dapat meningkatkan pemahaman warga terkait dengan pengolahan limbah, sehingga Limbah ternak yang menumpuk di desa sukarara akan berkurang dan tidak menyebabkan pencemaran, dan juga agar masyarakat petani dan peternak mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri, serta kelompok KKN Tematik Universitas Mataram juga berharap bahwa dengan sukses dilaksanakannya kegiatan ini, juga mampu membantu masyarakat Petani dan Peternak untuk meningkatkan kesejahteraan secara berkala. METODE PELAKSANAAN Metode penerapan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah dengan melakukan sosialisasi dan pelatihan secara langsung kepada Masyarakat setempat. Pada kegiatan Sosialisasi, masyarakat setempat diberikan pemahaman tentang pengolahan Limbah kandang. Adapun tahapantahapan yang dilakukan dalam kegiatan ini mencakup beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut: Tahap Persiapan Dalam tahap persiapan, ada beberapa hal yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi peserta KKN Tematik UNIVERSITAS MATARAM, yang pertama yaitu dengan dilaksanakannya koordinasi yang dilakukan oleh Ketua anggota untuk merencanakan pelaksanaan secara terbuka dengan masyarakat setempat, yaitu dengan cara sebagai berikut: Persiapan tentang materi Pemanfaatan limbah kandang menjadi Kompos dan Produk Kreatif yang akan disampaikan kepada masyarakat setempat. Selanjutnya, ketua beserta anggota kelompok KKN melakukan persiapan teknis, yaitu persiapan lokasi atau tempat pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan juga tempat pelaksanaan praktik pembuatan kompos dengan Kotoran Hewan, yang dilaksanakan dengan cara mendatangi kepala desa Sukarara, berdiskusi dengan kepala Desa . enyampaikan terkait dengan teknis pelaksanaan kegiata. , kemudian mengajukan permohonan kepada kepala desa, permohonan izin agar warganya diikutsertakan sebagai peserta sosialisasi Pendayagunaan sampah yang bertempat di Aula Kantor Desa Sukarara, serta mengundang masyarakat dari setiap Dusun di Desa Sukarara untuk mengikuti sosialisasi. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan sosialisasi dilakukan dengan menerapkan protokol COVID-19, yaitu dengan memberikan jarak di antara kursi masing-masing peserta, kemudian pemberian konsumsi kepada para peserta sosialisasi, pelaksanaan publikasi, dan dokumentasi. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Dalam tahap ini, merupakan tahapan praktik secara langsung terkait dengan pendayagunaan sampah, adapun lokasi tempat dilaksanakannya kegiatan pendayagunaan Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. sampah antara pendayagunaan sampah organik dan anorganik berbeda, pada pendayagunaan sampah organik tempat pelaksanaannya adalah di kandang hewan salah satu masyarakat desa setempat, di Kandang Sapi Amaq Beng. Adapun tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan pengolahan kotoran ternak mencakup beberapa kegiatan, yaitu sebagai berikut: Pembuatan kompos dilakukan dengan menggunakan Kotoran hewan yang merupakan Limbah ternak yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan lahan, dan meningkatkan kualitas hasil pertanian. Adapun tahapan pembuatannya yaitu sebagai berikut: Diawali dengan pengumpulan bahan. Bahan yang dikumpulkan adalah Limbah kandang ternak dan campurannya (Seresah tanaman, gulma, dan limbah pertanian Setelah terkumpul, kemudian diaduk-aduk, lalu dilakukan pembersihan dan penyortiran terutama dari limbah industri . ogam dan plasti. Apabila bahan terlalu kering, sebaiknya disiram secukupnya agar bahan lebih lembab dan tidak berdebu. Tahap berikutnya, yaitu pengomposan bahan. Tahap ini dilakukan dengan teknik mencampur bahan secara merata dengan cara diaduk secara berulang dengan cangkul dan sekop. Setelahnya, bahan yang telah merata dibenam di dalam lubang tanah sedalam 1m kubik yang akan ditutup dengan jerami, daun pisang, daun kelapa atau terpal plastik. Setiap 7 hari sekali, bahan diaduk dan diberi kapur gamping, lalu ditutup kembali sampai terbentuk kompos. Tahap berikutnya, yaitu Sortasi, pembersihan dan penghalusan kompos. Proses pengomposan pada tahap awal akan dihentikan apabila kompos yang dihasilkan secara organoleptik kenampakan aromanya, tidak berbau busuk dan menyengat. tekstur halus dan homogen. penampakan Kotoran Hewan sudah tidak Nampak. Proses kompos yang telah terbentuk selanjutnya disortasi dan dibersihkan dengan cara diayak dengan ayakan 2,5 mess kemudian disimpan dalam karung goni atau ditumpuk merata dan sisa ayakan dikomposkan kembali. Tahap selanjutnya, yaitu dekomposisi kompos dengan decomposer. Kompos yang telah dihaluskan dikomposisikan kembali dengan decomposer biakan murni EM-4 selama 14 Pengaplikasian biakan murni EM-4 dan air secukupnya lalu disemprotkan ke kompos yang telah dibuat. Setelah itu, kompos tersebut dimamsukkan ke dalam karung goni ditumpuk rapi dan ditutup dengan terpal plastik. Bahan ini dapat juga dipendam kembali ke dalam lubang tanah tempat dekomposisi pertama. Panen dan pengujian secara organoleptik secara analitik di laboratorium. Pada tahapan ini, panen dan pengujian dapat dilakukan setelah proses pengomposan selama 14 hari atau lebih bila bahan baku utama dan limbah kandang ternak sapi. Sedangkan bila bahan baku dominan dari limbah ternak ayam potong dan petelur, panen dapat dilakukan setelah 5-6 minggu. Teknik pengomposan ini mampu meningkatkan kualitas kompos menjadi pupuk organik lebih cepat, yang ditandai dengan terjadinya penurunan kadar C dan C/N-Ratio kompos 25-30% pada lama proses dekomposisi 10 hari untuk bahan baku limbah kandang sapi dan 6 Minggu untuk limbah kandang ayam. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari pelaksanaan kegiatan Pemanfaatan limbah kandang ternak menjadi Kompos dapat dilihat dalam tabel-tabel berikut ini: Tabel Rangkaian Proses Pemanfaatan Limbah Kandang Ternak Tahap Kegiatan Peralatan Foto Hasil TAHAP Sekop, cangkul Bahan baku yang PENGUMPULAN dan Karung telah terkumpul BAHAN: Bahan berupa Kotoran Hewan dengan teknik dikumpulkan dari dicampur merata tempat ternak salah secara berulang satu warga di Desa dengan sekop. Sukarara. Setelah itu bahan yang telah merata dibenam di dalam lubang sedalam 1 m kubik yang akan ditutup dengan jerami, daun pisang, daun kelapa atau terpal Kemudian, setiap 7 hari sekali bahan diaduk dan diberi kapur gamping, lalu tutup kembali sampai terbentuk Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. TAHAP Sarung tangan Bahan-bahan PENYORTIRAN: plastik, masker Tahap ini sebagaimana yang telah disebutkan bagian-bagian sebelumnya yang dalam bahan antara telah terpisah dari yang organik sampah anorganik. dengan yang TAHAP Ayakan, karung Bahan baku PEMBERSIHAN DAN kompos menjadi PENGHALUSAN bersih, dan KOMPOS: kontaminan yang Tahap pembersihan dan berbeda dengan bahan baku kompos dilakukan dengan cara diayak dengan ayakan 2,5 mess kemudian disimpan dalam karung goni. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. TAHAP Decomposer Kompos (Masih DEKOMPOSISI EM-4. Sarung dalam tahap KOMPOS: tangan, masker, pada tahap ini, dan Semprotan kompos yang telah (Wadah cairan EM-4 dan ai. decomposer biakan murni EM-4. Dilakukan dengan cairan EM-4 yang telah dicampur air secukupnya pada TAHAP PANEN: Sarung tangan. Kompos siap kegiatan yang plastik, logo dilaksanakan pada KKN (Untuk tahap panen yaitu pada kemasa. kompos yang telah jadi, lalu menaruhnya dalam Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. Produk jadi KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa, dalam pelaksanaan kegiatan KKN Tematik di Desa Sukarara, para peserta telah melaksanakan observasi terhadap masyarakat sekitar, dan berdasarkan hasil observasi, ditemukan bahwa masyarakat sekitar sebagian besarnya merupakan Petani dan Peternak. Dan setelah dilaksanakannya observasi. Jurnal PEPADU e-ISSN: 2715-9574 Vol. 3 No. Oktober 2022 https://doi. org/10. 29303/pepadu. diketahui bahwa masyarakat Desa Sukarara belum memanfaatkan limbah ternak, dalam hal ini adalah kotoran hewan . , karena pada tahap pelaksanaan observasi, ditemukan kotoran hewan . dalam jumlah yang lumayan banyak di Kandang ternak warga. Dan sebagaimana dalam pembahasan yang ada pada pendahuluan, kotoran hewan ternak yang menumpuk dapat menimbulkan masalah. Sehingga, berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan limbah ternak sebagai bahan baku dalam membuat pupuk organik . merupakan kegiatan yang tepat saat dilaksanakan di Desa Sukarara, karena selain mengurangi limbah ternak yang tertumpuk, kegiatan ini juga dapat membantu masyarakat, karena dengan adanya pelatihan ini, maka diharapkan warga paham akan manfaat dari pupuk organik yaitu dapat memperbaiki, atau bahkan dapat meningkatkan kualitas tanah, dan juga diharapkan masyarakat paham tentang teknik pengolahan limbah ternak yang tepat. Selain itu, pembuatan pupuk organik juga sangatlah bernilai ekonomis, karena bahan-bahan yang diperlukan sebagian besar sudah tersedia di kandang ternak. (Catatan: Satu-satunya bahan yang perlu dibeli adalah EM-. DAFTAR PUSTAKA