Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 8. No 2. Novenber 2024 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: 10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Psikoedukasi Bullying Pada Siswa Madrasah Aliyah Berbasis Pesantren Sri Muliati Abdullah1*. Narastri Insan Utami2. Malida Fatimah3 Prodi Magister Psikologi Profesi. Univesitas Mercu Buana Yogyakarta. Bantul. Indonesia Prodi Psikologi. Univesitas Mercu Buana Yogyakarta. Bantul. Indonesia Prodi Psikologi. Univesitas Mercu Buana Yogyakarta. Bantul. Indonesia *Korespondensi : . rimuliati@mercubuana-yogya. Abstrak Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Bullying merupakan masalah perilaku yang saat ini marak terjadi dikalangan remaja. Adapun pemberian psikoedukasi bertujuan agar para santri mengetahui dan memahami gambaran perilaku bullying di lingkungan teman sebaya sehingga dapat mencegah munculnya bullying yang terjadi di Madrasah Aliyah AuXAy. Hasil analisis dari perhitungan Wilcoxon Signed-Rank Test pada pengukuran pretest dan posttest didapatkan nilai Z= -5,110 dan p= 0,000 . <0,. Hal ini menunjukan perbedaan skor tingkat pengetahuan partisipan kelompok eksperimen sebelum dan sesudah mendapatkan psikoedukasi. Pengetahuan para siswa setelah diberikan psikoedukasi meningkat (M=7,. dibandingkan sebelum diberikan psikoedukasi tentang Bullying (M=6,. Kata kunci: Bullying. Madrasah Aliyah. Teman Sebaya. Abstract Bullying is the act of using power to hurt a person or group of people verbally, physically or psychologically so that the victim feels depressed, traumatized, and helpless bullying is a behavioral problem that is currently widespread among teenagers. The aim of providing psychoeducation is so that the students at least know and understand the description of behavior bullying in a peer environment so that it can prevent bullying at madrasah aliyah "X". Analysis results from calculations Wilcoxon SignedRank Test on measurement pretest and posttest the obtained value of Z= -5. 110 and p= 0. <0. This shows the difference in the knowledge level scores of experimental group participants before and after receiving psychoeducation. The studentAos knowledge after being given psychoeducation increased (M=7. compared to before (M=6,. Keywords: Bullying. Madrasah Aliyah, peers. Submit: Oktober 2024 Diterima: November 2024 Publis: November 2024 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 Di dalam pesantren para santri belajar hidup bermasyarakat. Mereka juga dituntut untuk dapat mentaati kiai dan meneladani kehidupannya dalam segala hal, menjalankan tugas apa pun yang diberikan oleh kiai (Sholihin, 2. PENDAHULUAN Pondok semata-mata lembaga pendidikan yang mengajarkan, mengembangkan dan menyebarkan ilmu agama islam, kemasyarakatan yang memiliki pranata sendiri dan memiliki fungsi amal terhadap masyarakat serta hubungan tata nilai dengan kultur masyarakat, khususnya yang ada dalam lingkungan Idealnya, pesantren pendidikan bagi para santrinya, namun sekitarnya serta menggerakkan rodaroda sekitarnya (Ibrahim, 2. Bullying yang terjadi di sekolahsekolah, juga terjadi di ruang lingkup Padahal merupakan salah satu wadah untuk menanamkan dan mengajarkan nilainilai moral dan keislaman. Anak yang mengenyam pendidikan di pesantren berbeda dengan anak yang bersekolah di asrama karena setiap harinya anak diajarkan untuk menanamkan sikap berbudi luhur, sifat terpuji, dan diarahkan untuk berperilaku seperti Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, tujuan dari pesantren yang menanamkan nilai keislaman pada anak didik bertentangan jika terjadinya tindakan bullying yang dilakukan oleh santri (Ernawati, 2. Pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia menjadi penting, karena terjadi kemerosotan moral. Dalam hal ini, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik dan memiliki ciri khas yang sangat kuat dan lekat. Selain itu pendidikan pesantren memiliki tujuan bahwa pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid, tetapi untuk meningkatkan moral santrinya (Ernawati, 2. Bullying merupakan masalah perilaku yang saat ini marak terjadi dikalangan remaja. Perilaku ini dapat kemampuan sosialisasi dan kesehatan jiwa baik untuk pelaku maupun korban (Ernawati, 2018. Aisyah, 2. Bullying merupakan intimidasi atau tindakan seseorang secara sengaja untuk mendominasi, menyakiti atau menyingkirkan baik secara fisik, verbal dan mental yang dilakukan secara berulang hingga membuat korban yang lemah merasa takut dan terancam (Wiyani, 2. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) telah merilis data kasus bullying atau perundungan di sekolah tahun 2023. Sejak Januari hingga September, tercatat ada 23 kasus bullying. Dari 23 kasus tersebut, 50% terjadi di jenjang SMP, 23% di jenjang SD, 13,5% di jenjang SMA, dan 13,5% di jenjang SMK. Kasus paling banyak terjadi di jenjang SMP Kebanyakan menggunakan asrama dalam upayanya membentuk generasi yang berakhlak Asrama atau tempat pondok sebagai tempat tinggal bersama sekaligus tempat belajar para santri di bawah bimbingan kyai. Asrama untuk para santri berada dalam lingkungan komplek pesantren di mana kyai beserta keluarganya bertempat tinggal serta adanya masjid sebagai tempat untuk beribadah dan tempat untuk mengaji bagi para santri (Khaulani. Para Santri yang belajar satu pondok biasanya memiliki rasa solidaritas dan kekeluargaan yang kuat, baik antara sesama santri maupun antara santri dan kiai mereka. Situasi sosial yang berkembang di antara para santri menumbuhkan sistem sosial Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 dan dilakukan oleh sesama siswa maupun dari pendidik (Rosa, 2. kelompok tersebut. Kouklari et al. mengatakan remaja yang memiliki tingkat konformitas yang tinggi akan lebih banyak bergantung pada aturan dan norma yang berlaku di kelompok, sehingga remaja cenderung mengatribusikan setiap aktivitasnya sebagai usaha kelompok, bukan usaha sendiri walaupun tindakan tersebut Bullying berarti proses, cara, perilaku seseorang yang menggunakan kekuatannya untuk menyakiti atau mengintimidasi orang yang lebih lemah (Adiyono. Irvan, & Rusanti. Bullying juga merupakan perilaku langsung seperti menggoda, mengancam, mengkritik, memukul dan mencuri dari korban atau anak lain oleh satu orang atau lebih (Bete & Arifin. Bullying dapat diamati ketika seseorang atau sekelompok orang berulang kali mencoba menyakiti orang yang lemah, misalnya dengan menggunakan nama panggilan yang buruk, mengejek, menghina dan menggoda atau mengejek secara seksual, menyebarkan desas-desus, atau mencoba menggertak seseorang untuk membuat marah orang lain yang menolak seseorang (Fathonah, 2. Menurut Manafe et al. , . bullying terbagi menjadi dua bentuk yaitu, . Bullying fisik mengacu pada tindakan yang dilakukan pelaku terhadap korban, menggigit korban, menendang, memegang dan menakutnakuti korban di ruangan dengan memutar-mutar, memukul korban, meremas, mencakar, meludah dan . Bullying non fisik terbagi menjadi dua bentuk, yaitu verbal dan non-verbal. Bullying verbal dilakukan dengan cara mengancam untuk berkata kasar kepada korban, pelaku bully membully korban dan menyebarkan kejelekan korban (Nursalim, 2. Bullying non-verbal dilakukan dengan menakut-nakuti melakukan gerakan kekerasan seperti memukul, menendang, mengancam korban, membuat wajah mengancam, menghina korban dalam persahabatan (Firdaus, 2. Efek dari tindakan ini sangat luas jangkauannya. Remaja yang menjadi korban bullying berisiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan fisik dan mental. Dampak bullying terhadap korban antara lain munculnya berbagai masalah seperti rendahnya rasa percaya diri/rendah diri, depresi, rasa malu dan kesepian, prestasi akademik yang buruk, perasaan terasing dalam masyarakat (Usman, 2. Menurut Safitri . bullying merupakan hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang. Sebagaimana yang telah dikemukakan para ahli, kecenderungan perilaku bullying terbentuk dari banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor pengaruh kelompok. Di dalam mengalami perubahan penyesuaian dengan lingkungan di luar keluarga, seperti lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sehingga akan meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya. Hal ini membuat kelompok sebaya. Di dalam kelompok teman sebaya memiliki aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh para anggotanya, sehingga faktor pengaruh teman sebaya akan memunculkan terjadinya konformitas di dalam suatu Penelitian oleh Oktaviani et al. menyebutkan bahwa perilaku bullying terjadi di lingkungan pesantren meliputi kekerasan fisik, memerintah secara paksa. Mawarni Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 penelitiannya menyebutkan Bullying di pesantren terjadi akibat santri yang jauh dari pengawasan orang tua, berasal dari berbagai daerah yang memiliki adat dan budaya yang Selain itu kurangnya pengawasan dari pihak pesantren serta banyaknya aturanAe aturan yang Pesantren merupakan tempat bagi pelajar untuk menimba ilmu, mendapatkan pendidikan baik pendidikan umum dan agama. Pendidikan pesantren saat ini banyak dipilih orang tua sebagai tempat Namun sayangnya, perilaku bullying juga banyak terjadi di dalam lingkungan Yani et al. , . menjelaskan bahwa bullying sering terjadi di lingkungan pesantren dan seperti lingkaran setan yang tak terputus dan bullying di pesantren terjadi dan sulit untuk dihentikan. Psikoedukasi bertujuan agar para santri mengetahui dan memahami gambaran perilaku bullying di lingkungan teman sebaya sehingga dapat mencegah dan mengurangi perilaku bullying yang terjadi di Madrasah Aliyah AuXAy. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan agama islam yaitu penanaman nilainilai Islam yang berkesesuaian dengan etika sosial atau moralitas sosial. Jadi, dimensi moral atau akhlak menjadi sisi penting obyek tujuan dalam dunia pendidikan di Madrasah Aliyah yang berbasis pesantren. METODE PELAKSANAAN Penelitian ini merupakan jenis kuantitatif eksperimen dengan desain one group pretest-posttest design. Penelitian ini melibatkan 85 partisipan yaitu siswa mengintegrasikan kegiatan pembelajaran keagamaan dengan pondok pesantren dan mayoritas siswa tinggal di asrama serta menjalani kehidupan di dalam Instrument dalam penelitian ini yaitu skala pengetahuan yang rancang oleh peneliti untuk mengetahui perubahan pengetahuan antara pre-test dan post-test atas psikoedukasi yang diberikan. Kemudian hasil tersebut di analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test untuk melihat apakah ada perbedaan skor antara sebelum dan setelah diberikan psikoedukasi. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan di Madrasah Aliyah AuXAy mengintegrasikan kegiatan pembelajaran keagamaan dengan pondok pesantren, sehingga dari pagi hingga siang siswa melakukan pembelajaran secara umum dan siang hingga malam melakukan pembelajaran keagamaan di pondok Psikoedukasi ini berjalan selama 2 hari mengingat keterbatasan Hari pertama kelas X dan hari kedua kelas XI dan XII. Psikoedukasi berjalan selama sekitar 4 jam. Pembelajaran yang diajarkan dalam pondok pesantren seharusnya menerapkan pembelajaran islam untuk mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat sehari-hari. Di dalam pondok pesantren diajarkan nilai-nilai baik pada diri para santri sehingga kelak para santri akan mempunyai bekal untuk hidup di tengah masyarakat (Sutrisno, 2. Dalam kehidupan asrama santri diajarkan untuk hidup bersama dalam suasana Permasalahan yang terjadi pada Madrasah Aliyah pembelajaran keagamaan dengan pondok pesantren dan mayoritas siswa tinggal di asrama serta menjalani kehidupan di dalam asrama, sehingga dampak yang mungkin ditimbulkan dengan adanya tindakan bullying kepada santri lainnya, yang mungkin itu mereka tidak menyadari telah melakukan intimidasi sesama santri. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 kelompok eksperimen sebesar 6,80, sementara nilai rata-rata posttest untuk kelompok eksperimen adalah 7,48. Selanjutnya tabel 2 menunjukan hasil uji beda dengan Wilcoxon Signed Rank Test. Tabel 2. Hasil Analisis Wilcoxon Signed-Rank Test Pengukuran PretestPosttest Adapun metode yang dilakukan masyarakat menggunakan kegiatan kesadaran para siswa terkait bullying. Metode penyampaikan materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ceramah interaktif dan diskusi yang terbagi menjadi 2 tahap pelaksanaan, yaitu . menjelaskan mengenai dunia sekolah dan pertemanan, . menjelaskan mengenai bullying. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis data deskriptif tingkat pengetahuan remaja menunjukan skor minimum, maksimumn rerata dan deviasi standar dapat ditinjau pada tabel Tabel 1. Hasil Analisis Deskriptif Pengetahuan Kelompok Eksperimen Min Max Mean Pretest 6,80 1,213 Posttest 7,48 ,825 Berdasarkan tabel di atas terlihat rata-rata skor pretest yang diperoleh Kelompok Eksperimen Kesimpulan Asymp. Sig 0,000 Ada perbedaan Hasil analisis dari perhitungan Wilcoxon Signed-Rank Test di atas menunjukan perbedaan skor tingkat eksperimen sebelum dan sesudah pengukuran pretest dan posttest didapatkan nilai Z= -5,110 dan p= 0,000 . <0,. Hasil psikoedukasi terkait bullying pada siswa Madrasah Aliyah keagamaan di pondok pesantren untuk mengatasi permasalahan bullying yang terjadi di sekolah tersebut menunjukan hasil bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah diberikan psikoedukasi. Pengetahuan psikoedukasi meningkat (M=7,. psikoedukasi (M=6,. Kegiatan pengabdian masyarakat pemahaman siswa terhadap perilaku bullying yang memiliki 2 tahapan yaitu . menjelaskan mengenai dunia sekolah dan pertemanan, . menjelaskan mengenai bullying. Tahap pertama yaitu menjelaskan Pertama tahap ini di mulai dengan siswa diminta menjelaskan mengenai kesan 1-2 tahun berada di dunia sekolah dan pesantren. Kedua, siswa diminta menjelaskan mengenai kesan berteman apakah sudah cukup baik atau belum baik. Ketiga, peserta Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 diminta mengidentifikasi hal apa yang akan dilakukan atua ucapkan ketika ada teman yang membuat kesal atau marah. Keempat, mengenai ciri-ciri teman yang baik untuk menghindarkan dari perilaku Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha membina dan membentuk pribadi santri agar bertaqwa kapada Allah SWT, cinta kepada orang tua dan sesama, dan tanah airnya, sebagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmani, pikiran, maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nurani (Ernawati 2. biasanya mempunyai kesulitan dalam membangun pertemanan yang sejati, sulit mengontrol emosi, mempunyai problem perilaku dan prestasi akademik yang buruk. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, ada suatu perilaku yang sering digunakan oleh remaja dalam hal ini adalah siswa untuk menindas temannya yang lebih lemah. Perilaku ini dikenal dengan istilah bullying, merujuk pada perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa atau siswi lain yang lebih lemah, mudah dihina dan tidak bisa membela diri sendiri, dengan tujuan menyakiti orang tersebut (Bees & Prasetya, 2. Tahap kedua yaitu menjelaskan mengenai bullying. Pertama tahap ini di mulai dengan memaparkan materi mengenai bullying. Kedua yaitu memaparkan materi mengenai bentukbentuk Ketiga memaparkan materi tempat dimana bullying dapat terjadi. Keempat yaitu memaparkan materi mengenai penyebab Kelima yaitu memaparkan materi peran dalam bullying. Keenam yaitu memaparkan cara mengatasi bullying pada diri sendiri dan terakhir memaparkan materi mengenai hal apa yang dapat dilakukan jika melihat perilaku bullying yang terjadi di lingkungan sekitar. Pada masa remaja, terjadi proses pencarian jati diri dimana remaja banyak melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya dan sekolah merupakan salah satu tempat yang terdekat dari remaja untuk bersosialisasi sehingga remaja banyak menghabiskan waktu di sekolah, mulai dari memahami pelajaran yang diberikan guru sampai memenuhi kebutuhan bersosialisasi dengan teman-teman (Oktaviana & Hertinjung, 2. Beberapa menunjukan bahwa dampak bullying mengakibatkan korban mengalami kecemasan, perasaan takut, marah, sedih, rasa malu dan mengalami ketidakberdayaan yang merupakan suatu kondisi akibat adanya gangguan motivasi, proses kognisi dan emosi. Selain dampak psikologis bullying dapat mempengaruhi kondisi fisiologis seperti sulit tidur, nafsu makan menurun, mual, keringat dingin, pusing, dan sakit perut (Tumon, 2014. Nwufo et al. , 2019. Okoth, 2014. Asimopoulos et al. , 2. Bullying kerap kali membuat korbannya merasakan dan mengalami perasaan tertekan, tidak berdaya, bahkan sampai mengalami trauma. Hal tersebut masih saja dilakukan oleh pelaku dengan mengatasnamakan senioritas. lama-lama bullying dan tindakan semacam ini dianggap wajar. Hampir semua orang tidak menyadari dampak jangka panjang yang ditimbulkan pada korban dan pelaku (Masitah and Minauli, 2. Bullying merupakan penghambat besar mengaktualisasikan diri. Bullying tidak memberikan rasa aman dan nyaman, membuat para korban bullying merasa takut terintimidasi, rendah diri serta tak berharga, sulit berkonsentrasi dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. Salah satu sumber permasalahan di lingkungan sekolah, yaitu adanya tindakan agresif ringan antar siswa seperti saling mengejek, memukul, mendorong, atau mengancam. Siswa yang suka melakukan hal tersebut Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) enggan bersekolah, pribadi yang tidak percaya diri dan sulit berkomunikasi, sulit berpikir jernih hingga prestasi akademiknya merosot (Ernawati, 2. Vol. 8 No. November 2024 mengesampingkan efek dari faktor individu faktor umum masa remaja merupakan masa pencarian jati diri dan pembentukan kelompok referensi sendiri (Liu et al. Penelitian lain menunjukkan bahwa seorang remaja yang dapat membangun hubungan yang baik dengan teman sebaya dapat bekerja sama dengan baik dalam tugas sekolah dan sebaliknya (Arif & Wahyuni, 2. Kebanyakan menggunakan sistem asrama dalam upayanya membentuk generasi yang berakhlak mulia. Dengan menggunakan sistem ini kyai sebagai guru, pembimbing, pembina, dan pemberi teladan, dapat hidup dalam lingkungan yang sama dengan para santri, sehingga proses belajar dan pembentukan kepribadian bagi santri tidak hanya berlangsung saat pembelajaran di kelas, namun bisa berlangsung sepanjang hari. Metode ini sangat efektif dalam membentuk karakter santri (Masitah & Minauli, 2. Faktor sistem yang melingkupi siswa juga dimungkinkan menjadi faktor munculnya perilaku bullying sehingga dukungan sistem perlu dioptimalkan untuk mencegah dan mengatasi bullying secara sistemik. Hal ini didasari atas urgensi pendekatan/sudut pandang yang mengkaji fenomena tersebut dengan memperhitungkan faktor sistem yang menempatkan faktor individual untuk mengkaji keterlibatan siswa dalam Menurut penelitian Nassem yang menyorot bullying dari wawasan tentang pengalaman unik siswa menurut sudut pandang siswa itu sendiri, ketidaksetaraan/kesenjangan di sekolah turut menjadi penyebab keterlibatan siswa dalam tindakan bullying karena siswa merasa dipaksa untuk memperkuat kesenjangan sosial tersebut, dimana siswa yang rentan menjadi korban dapat mencapai status yang lebih kuat melalui bullying (Nassem, 2. Hal di atas sejalan dengan yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah AuXAy yang menerapkan sistem pesantren berasrama pada sekolahnya, namun pembentukan karakter di sekolah ini yang sering kali terjadi adalah senioritas. Selaras dengan hal tersebut, menurut Bees & Prasetya . penyebab bullying yang terjadi di pesantren pada umumnya disebabkan karena senioritas. Selain itu awal terjadinya bullying bermula karena antar santri seringkali mengejek satu sama lain. Penyebab pelaku melakukan tindakan bullying karena adanya rasa AumenguasaiAy junior dan berawal dari keisengan santri terhadap santri lainnya. Pengakuan diri dianggap sebagai salah satu motivasi pelaku melakukan tindakan bullying (Ernawati, 2. Dalam hal ini, sekolah perlu menciptakan sistem yang mendukung upaya meminimalkan bullying di lingkungan sekolah melalui program antibullying/antiperundungan karakteristik sekolah tersebut. Program anti-bullying diwujudkan dengan pelatihan orang tua, pengawasan yang lebih baik, metode disipliner, konferensi sekolah, video, informasi untuk orang tua, bekerja dengan teman sebaya, aturan kelas, dan manajemen kelas dapat efektif untuk menurunkan 20-23% bullying di sekolah (Farrington & Ttofi, 2. Yang lebih penting, dukungan sistem juga dapat Norma kelompok dan identitas kelompok merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku teman Arah pengaruh kelompok terhadap individu tidak hanya satu arah. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang paling sering memilih untuk bergabung dengan grup yang sesuai dengan mereka. yang berbagi nilai dan sikap yang sama (Collins et al. , 2022. Kass & MacDonald, 1. Dengan demikian, faktor kelompok tidak dapat Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Vol. 8 No. November 2024 pendekatanpendekatan positif melalui program terciptanya budaya damai di sekolah. Dan Korban Bullying. Ay Jurnal Psikologi Ulayat 4. :122Ae40. Asimopoulos. Charisios. Ioanna BibouNakou. Theologos Hatzipemou. Eugenia Soumaki. And John Tsiantis. AuAn Investigation Into StudentsAo And TeachersAo Knowledge. Attitudes And Beliefs About Bullying In Greek Primary Schools. Ay International Journal Of Mental Health Promotion 16. :42Ae52. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan sebelumnya, ditemukan perbedaan pengetahuan sebelum dan setelah diberikan psikoedukasi terkait perilaku bullying pada siswa Madrasah Aliyah AuXAy. tingkat pengetahuan setelah diberikan psikoedukasi meningkat psikoedukasi, sehingga tujuan dari pengabdian masyarakat ini untuk Madrasah Aliyah AuXAy mengenai perilaku bullying tercapai karena tingkat pengetahuan siswa meningkat. Adapun saran terkait pengabdian lebih lanjut dapat dilakukan dengan tindak lanjut untuk melihat bagaimana perubahan perilaku bullying yang terjadi di setelah diberikan psikoedukasi, sehingga pengukuran jangka panjang dapat dilakukan untuk mengetahui Bees. Elyona. And Berta Esti Ari Prasetya. AuHubungan Kelekatan Ibu Dan Anak Dengan Perilaku Bullying Anak Remaja Di Sma Negeri 3 Kota Kupang. Ay Jurnal Psikologi Perseptual 1. Bete. Maria Natalia. And Arifin Arifin. AuPeran Guru Dalam Mengatasi Bullying Di Sma Negeri Sasitamean Kecamatan Sasitamean Kabupaten Malaka. Ay Jurnal Ilmu Pendidikan (Ji. :15Ae25. Collins. Andrew. Eleanor E. Maccoby. Laurence Steinberg. Mavis Hetherington. And Marc H. Bornstein. AuContemporary Research On Parenting: The Case For Nature And Nurture. Ay Parenting: Selected Writings Of Marc H. Bornstein 89Ae116. REFERENSI