Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Original Article Perancangan Board Infografis Gizi Anak untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan di Kawasan Posyandu Melati Bitung Dewi Intan Kurnia1. Eka Putri Jayanti2*. Erdy Erlangga3. Fitzy Satria4. Raka Wibisana5. Daffa Fadil Shobihan6 1,2,3,4,5,6 Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif. Universitas Muhammadiyah Tangerang. Indonesia *Email Correspondent: eka. putri56786@gmail. ABSTRACT Editor: AL Received: 2025/07/10 Reviewed: 2025/12/18 Published: 2025/12/29 Hak Cipta: A 2025 This access and may be distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction any medium, provided that the original author. and source are properly cited. This work is licensed a Creative Commons Attribution-ShareAlike International License. Introduction: In Indonesia, child nutrition problems, particularly stunting, remain a major challenge in public health development. According to the World Health Organization (WHO, 2. , 2 million children under the age of five experience developmental disorders, with 94% residing in low- and middleincome countries. Indonesia continues to face a relatively high prevalence of child developmental disorders, with 7. 51% of children affected and an estimated 1Ae3% of children under five experiencing developmental delays. In Bitung Jaya Village. Tangerang, limited community nutrition literacy remains a significant concern, with nearly 40% of residents demonstrating insufficient knowledge and awareness regarding child nutrition. Barriers such as limited access to health information and low educational attainment further exacerbate this issue. Objectives: This study aims to design an effective child nutrition education infographic tailored to the needs of the Bitung Jaya Village community as a creative strategy to improve public knowledge and awareness of child nutrition. Methods: This study employed a mixed methods research design. Data were collected from mothers attending Posyandu Melati through surveys and observations, as well as from Posyandu-related information sources, to identify community needs, knowledge gaps, and appropriate content for infographic development. Results: The findings indicate that the majority of mothers had limited understanding of balanced child nutrition and stunting The development of child nutrition infographics, designed using simple language and visual elements and displayed on the Posyandu bulletin board, was considered appropriate and accessible for the community. The infographic design addressed key nutrition topics relevant to local needs and was perceived as an effective educational medium. Conclusion: The child nutrition infographic developed in this study demonstrates potential as an effective health education tool to improve community nutrition literacy in Bitung Jaya Village. The use of visually engaging and contextually relevant educational media can support Posyandu activities and contribute to efforts to prevent child nutrition problems, including stunting, at the community level. Keyword: child nutrition, health, infographic DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Pendahuluan Di Indonesia, masalah gizi anak balita khususnya stunting, masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Menurut World Health Organization (WHO 2. mencatat 149,2 juta anak-anak di bawah 5 tahun mengalami gangguan perkembangan, dengan 94% di antaranya berada di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Angka gangguan perkembangan anak di Indonesia cukup tinggi 7,51% mengalami gangguan perkembangan dan sekitar 1-3 % anak dibawah 5 tahun mengalami keterlambatan perkembangan. Dalam studi yang berjudul "Micronutrients and Nutrition Status of School-Aged Children in Indonesia". 1 menemukan bahwa 9,2 persen anak sekolah kurus dan 11,4 persen stunting. Selain itu, terbukti kekurangan mikronutrien yang signifikan, seperti kalsium . ,2 %), vitamin A . %), zinc . ,7 %), dan vitamin D . ,7 %). Kadar vitamin A dan zinc anak stunting lebih rendah daripada anak normal. Stunting, kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi yang berkelanjutan, berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak-anak, berdampak pada kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. 2 Stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk status sosial ekonomi yang rendah, pendidikan keluarga, khususnya tingkat pendidikan ibu yang rendah, pendapatan keluarga yang rendah, kebiasaan buang air besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun, jamban yang tidak memadai, air minum yang tidak diolah, dan paparan pestisida yang tinggi. 3 Kemenkes RI . mencatat bahwa stunting pada anak sekolah usia 5-12 tahun adalah sebesar 27,7% dengan prevalensi pendek sebesar 19,4% dan sangat pendek 8,3%. 4 Ditemukan bahwa anak usia 6Ae59 bulan dengan keanekaragaman diet yang rendah memiliki risiko stunting 2,18 kali lebih tinggi dibandingkan yang dietnya lebih beragam. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, 21,6% anak balita stunting, yang berarti satu dari lima anak balita mengalami masalah gizi kronis. AuGizi merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan dalam perkembangan tubuh dalam proses tumbuh kembang fisik, sistem saraf dan otak serta tingkat intelektualitas dan kecerdasan manusia. Penelitian tersebut menegaskan bahwa pola makan bergizi akan meningkatkan kinerja otak dan kesehatan anak secara keseluruhan, sedangkan kekurangan gizi dapat mengganggu kesehatan serta perkembangan kecerdasannya. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting. Namun, tugas Posyandu seringkali terbatas pada penimbangan berat badan dan tinggi badan serta tidak memberikan instruksi gizi yang cukup kepada orang tua atau pengasuh anak. Salah satu penyebab utama orang tua tidak memahami pentingnya asupan gizi seimbang bagi anak adalah literasi gizi yang rendah, edukasi gizi yang lebih baik dapat memengaruhi pola makan anak, terutama pada balita yang kekurangan gizi. Oleh karena itu, orang tua harus memastikan bahwa anak mereka tumbuh dan berkembang sebaik mungkin selama masa golden age mereka, terutama dengan memenuhi kebutuhan gizi mereka. Ini karena usia balita adalah usia yang rentan untuk masalah kesehatan dan kekurangan gizi dapat menyebabkan masalah gizi dan infeksi. Desain infografis yang menarik dan informatif dapat menjadi alat edukasi yang efektif dalam meningkatkan literasi gizi di masyarakat. 8 Infografis yang dipasang di papan mading Posyandu dapat menyampaikan informasi secara visual dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk mereka dengan tingkat pendidikan yang rendah Hal ini sejalan dengan hasil. 9 yang menyatakan bahwa bahan visual seperti leaflet dan video edukasi dapat meningkatkan pemahaman ibu tentang nutrisi yang sehat untuk anak balita mereka. Literasi kesehatan juga mempengaruhi kemampuan individu dalam membuat keputusan yang tepat terkait pencegahan pengelolaan penggunaan kesehatan, layanan penyakit, dan Kesehatan. 10 Literasi kesehatan anak usia dini sangat dipengaruhi oleh peran ibu dan pengasuh dalam menerima serta menyampaikan informasi yang akurat dari fasilitas kesehatan seperti posyandu. Pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap keputusan ibu untuk mengikuti kunjungan posyandu bersama anaknya, karena seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik akan berperilaku dengan baik juga. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Desa Bitung Jaya di kawasan Tangerang masih memiliki masalah dengan literasi gizi masyarakat. Tercatat hampir 40% masyarakat minim tentang pengetahuan dan literasi gizi. Dalam upaya untuk meningkatkan status gizi anak, ada beberapa hambatan, termasuk kurangnya akses ke informasi dan tingkat pendidikan yang rendah. Oleh karena itu, diharapkan bahwa desain infografis tentang edukasi gizi anak yang dipasang di papan mading Posyandu Melati akan menjadi cara kreatif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat desain infografis gizi anak yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Bitung Jaya. Desain board infografis gizi anak bertujuan menyajikan informasi nutrisi secara visual yang mudah dipahami dan menarik, sehingga efektif meningkatkan literasi kesehatan masyarakat di Posyandu, media infografis secara signifikan dapat meningkatkan pengetahuan. Penggunaan media cetak seperti infografis sebagai media edukasi memiliki keunggulan yaitu informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan dapat dibaca kembali. 12 Selain itu, untuk mengevaluasi pengaruh desain ini terhadap peningkatan literasi kesehatan di Posyandu Melati. Diharapkan metode ini dapat membantu mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak di tingkat komunitas ataupun lainnya didaerah tersebut. Metode Penelitian ini menggunalan alur dan beberapa metode pengumpulan data dalam melakukan perancangan. Alur Penelitian: Metode Kualitatif Mixed Method Explanatory. Menurut ahli Creswell & Tashakkori, 13 Studi metode campuran ini mencangkup adaptasi quisioner, dengan menggabungkan kuantitatif dan kualitatif menjadi temuan kuantitatif pengumpulan data, dan kualitatif menerjemakan kedalam tulisan. penelitian di mana penggabungan data kualitatif dan kuantitatif sebagai hasil penelitian. 14 Dalam hal ini, metode kualitatif berasal dari sudut pandang partisipan karena hasil penelitian dapat berasal dari wawancara, kuisioner, dan poling. Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat digunakan dalam pembuatan Board infografis sesuai judul tersebut. Metode Mixed Methods penelitian yang digunakan di jurnal ini bertujuan untuk pengumpulan data ibu-ibu posyandu dan informasi dari posyandu. Metode Pengumpulan Data yang diambil terdiri dari hasil observasi, wawancara dan pengisian kuisioner. Selanjutnya penulis menggunakan metode 5W 1H untuk mengadaptasi pertanyaan wawancara ibu-ibu posyandu, metode ini salah satu pendekatan sistematis yang digunakan untuk menganalisis suatu permasalahan atau fenomena dengan menjawab 30 pertanyaan dasar: What. Where . , when. , why. , dan How. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Hasil Hasil penelitian ini terdiri dari hasil implementasi mixed methods dilapangan sebagai berikut. Tabel 1. Tabel Hasil Quisioner Pertanyaan Jumlah Apakah Ibu memahami pentingnya gizi untuk anak usia dini dan Dari mana Ibu biasanya mendapat informasi soal gizi anak? Apakah Ibu pernah melihat poster atau papan informasi gizi di Posyandu? Apakah informasi yang disampaikan mudah dipahami? Bagaimana kondisi fisik papan informasi yang ada saat ini? dan Dimana biasanya papan informasi dipasang . i dinding, papan khusus, meja, dl. ? Apakah Anda merasa perlu evaluasi rutin terhadap konten infografis? Dan Apakah ada potensi infografis dijadikan media interaktif . lip, geser, dl. ? Topik apa saja yang sering disampaikan dalam literasi kesehatan? Dan Bagaimana metode penyampaian informasi Jawaban Ya. Rutin tiap bulan tapi Kadang datang tergantung waktu luang juga, kalo informasi Dari petugas Posyandu atau bidan Ada juga yan Dari media sosial (TikTok. Instagra. Pernah, memperhatikan dan cukup jelas. Terlalu banyak tulisan. Gambarnya kurang menarik untuk Tidak ada papan informasi. Biasanya di dinding dekat ruang tunggu supaya semua bisa lihat sambil duduk atau didepan Supaya terus sesuai kebutuhan Evaluasi membuang waktu dan biaya. Media interaktif membuat ibu Biasanya MPASI, imunisasi, dan gizi seimbang. Topiknya itu-itu saja, tidak pernah Kader ceramah lalu ada sesi tanya jawab. Tabel berikut menunjukkan hasil kuisioner yang berisi tanggapan ibu tentang pemahaman dan penyampaian informasi gizi anak, terutama melalui Posyandu. Tabel ini dibagi menjadi tiga kolom utama, yaitu Pertanyaan. Jumlah, dan Jawaban. Setiap baris memuat pertanyaan khusus tentang pengetahuan ibu, kondisi papan informasi, efektivitas poster, dan teknik literasi kesehatan yang paling umum digunakan. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Sebagian besar responden mendapatkan informasi gizi secara rutin dari Posyandu atau bidan, tetapi banyak yang bergantung pada media sosial seperti TikTok dan Instagram. Selain itu, beberapa ibu menganggap poster informasi gizi di Posyandu tidak menarik karena terlalu banyak tulisan dan gambar yang tidak mendukung. Tabel ini juga menunjukkan bahwa papan informasi fisik seringkali tidak tersedia atau tidak menarik bagi ibu-ibu. Akibatnya, infografis harus lebih interaktif untuk menarik perhatian ibu-ibu. Dalam hal literasi kesehatan, topik yang paling sering dibicarakan hanyalah MPASI, vaksinasi, dan gizi seimbang, dengan pendekatan ceramah yang jarang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi harus diubah agar lebih menarik dan efektif. Pembahasan Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Posyandu memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat penimbangan anak. Posyandu berfungsi sebagai pusat edukasi kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan, di mana berbagai kelompok masyarakat dapat memperoleh informasi serta layanan kesehatan secara langsung dan berkala. Namun, berdasarkan hasil wawancara dan pengisian kuesioner, sebagian besar masyarakat masih memandang Posyandu sebagai sarana layanan teknis, seperti imunisasi dan penimbangan balita. Persepsi ini menyebabkan potensi Posyandu dalam memberdayakan masyarakat belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan fungsi edukatif Posyandu melalui pengembangan kelas-kelas komunitas yang terstruktur. Salah satu bentuk penguatan tersebut adalah penyelenggaraan kelas ibu hamil, yang berperan dalam memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi selama kehamilan, persiapan persalinan, pemberian ASI eksklusif, serta perawatan bayi baru lahir. Edukasi sejak masa kehamilan ini menjadi bagian dari intervensi gizi dini yang penting untuk menurunkan risiko stunting melalui peningkatan pemahaman dan kesiapan ibu. Selain itu. Posyandu juga dapat mengembangkan kelas lansia yang berfokus pada penerapan pola makan sehat, pengendalian penyakit degeneratif, serta kegiatan fisik dan mental yang sesuai untuk menjaga kesehatan dan produktivitas lansia. Melalui pendekatan ini, lansia tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga dapat berperan sebagai sumber pembelajaran dan teladan kesehatan dalam lingkungan keluarga. Penguatan fungsi edukatif Posyandu juga dapat dilakukan melalui kelas balita dan keluarga, yang bertujuan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Kelas ini berfokus pada pemantauan asupan gizi harian, peningkatan pengetahuan keluarga mengenai pencegahan penyakit, serta pembiasaan pola hidup bersih dan sehat. Dengan demikian. Posyandu dapat berperan lebih aktif sebagai DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 pusat pemberdayaan masyarakat yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan keluarga secara berkelanjutan. Posyandu memiliki kemampuan untuk membentuk ekosistem edukasi yang lebih dinamis dan Untuk mendukung materi yang disampaikan, infografis gizi yang dirancang dapat ditempatkan dengan tepat di setiap ruang kelas komunitas. Penggunaan infografis sebagai alat bantu visual telah terbukti efektif dalam menjangkau orang-orang dari berbagai latar belakang pendidikan, terutama ibuibu yang bertanggung jawab sebagai pengasuh utama anak-anak balita. Dokumentasi Observasi wawancara Awal Penguatan ini dapat memperluas tujuan Posyandu selain berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan utama dan sebagai tempat pembelajaran masyarakat yang mendorong perubahan perilaku jangka panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi gizi masyarakat masih rendah, terutama di Posyandu Melati Bitung. Hal ini ditunjukkan oleh hasil survei dan wawancara yang menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ibu menyadari pentingnya menjaga kesehatan anak mereka, mereka belum memahami sepenuhnya materi yang disampaikan melalui poster atau papan informasi di Posyandu. Sejalan dengan hasil penelitian1, tidak memahami mikronutrien seperti vitamin A, vitamin D, dan zinc juga memengaruhi status gizi anak dan meningkatkan risiko stunting. Dokumentasi Penimbangan anak Dokumentasi Pemeriksaan anak DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Minimnya media edukasi visual yang menarik membuat penyampaian informasi menjadi tidak Penelitian. 8 menegaskan bahwa media visual seperti infografis mampu meningkatkan perhatian dan daya ingat informasi di kalangan masyarakat awam, terutama dalam konteks edukasi kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa perancangan infografis gizi bukan sekadar estetika, tetapi juga strategi komunikasi visual yang mampu menjembatani kesenjangan pengetahuan masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ibu sangat penting dalam meningkatkan literasi gizi anak. Keputusan ibu untuk menggunakan Posyandu dan menerapkan diet sehat untuk anak mereka sangat bergantung pada literasi kesehatan mereka. 10 mendukung temuan ini dengan mengatakan bahwa literasi kesehatan ibu dan self-efficacy terkait dengan perawatan kesehatan yang konsisten pada keluarga. Selain itu, topik penyuluhan tidak berbeda. Sebagian besar penyuluhan hanya berfokus pada MPASI, vaksinasi, dan gizi seimbang, tanpa materi yang diperbarui atau pendekatan yang lebih interaktif untuk 9 menyatakan bahwa edukasi yang disampaikan melalui media video atau digital dapat meningkatkan keterlibatan audiens dan membuat konsep kesehatan lebih mudah dipahami. Meskipun Posyandu dapat berfungsi sebagai pusat edukasi masyarakat, perlu ada penguatan konten dan media. Media interaktif seperti slide, flip papan infografis, atau teknologi sederhana akan sangat membantu. Selain itu, model pendidikan berbasis komunitas seperti "Kelas Ibu Hamil", "Kelas Lansia", dan "Kelas Balita dan Keluarga" telah terbukti efektif dalam memberikan pendidikan masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh. 11, yang menyatakan bahwa perilaku pengasuhan dan kesehatan anak secara signifikan dipengaruhi oleh pengetahuan ibu. Dokumentasi Wawancara Bidan Posyandu Dokumentasi Tim Posyandu Melati Secara keseluruhan, literasi kesehatan masyarakat akan meningkat dengan menggunakan media infografis yang tepat, interaktif, dan kontekstual dengan lingkungan lokal. Hal ini sangat penting untuk menurunkan secara signifikan prevalensi stunting, yang masih menjadi masalah utama di Indonesia hingga saat ini. DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Sketsa dan Karya Perancangan Board Infografis : Sketsa Desain Infografis Infografis Gizi sehat Mockup Infografis Gizi sehat DOI: 10. 53801/jphe. Journal of Public Health Education eISSN 2807-2456 pISSN 2807-2464 Vol. No. Desember 2025 Poster ini menggunakan skema warna analog dengan perpaduan warna kuning, oranye, dan cokelat yang berdekatan dalam roda warna. warna kuning mendominasi latar untuk menarik perhatian dan memberi nuansa ceria. warna oranye digunakan pada elemen teks penting untuk menambah energi dan semangat. dan warna cokelat dan krem digunakan pada elemen makanan dan meja untuk menciptakan kesan alami dan nyaman. Kombinasi warna ini mendukung tema edukasi gizi dengan cara yang menyenangkan, ramah lingkungan, dan mudah dipahami. Komposisi segitiga, atau komposisi segitiga, digunakan dalam poster ini. Ini tercermin dari penempatan elemen visual secara seimbang dan terarah. Gambar ibu dan anak di tengah segitiga membentuk puncak segitiga. Elemen teks di kanan dan kiri bawah mengarah ke dasar segitiga. Alur pandangan yang stabil dan terstruktur dibuat oleh komposisi ini. Ini memudahkan pembaca mengikuti informasi dari visual utama ke informasi tambahan. Selain itu, penggunaan komposisi segitiga menciptakan kesan yang tenang dan terkonsentrasi, yang membantu menyampaikan pesan edukatif tentang nutrisi dengan efektif. Gaya desain poster ini bersih, sederhana, dan komunikatif, dengan elemen visual yang terorganisir sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Kesan edukatif yang tidak terlalu kaku diperkuat dengan ilustrasi yang ramah dan warna-warna yang hangat. Pemilihan font yang jelas dan mudah dibaca serta tata letak yang terstruktur dengan baik, yang membedakan gambar, teks utama, dan data pendukung, mendukung kejelasan informasi. Pesan gizi dapat disampaikan secara langsung dengan cara ini, menarik perhatian, dan membuat masyarakat mudah memahaminya dengan cepat. Dengan ukuran huruf yang cukup besar, jarak antar huruf yang proporsional, dan kontras warna yang baik dengan latar belakang, tipografi pada poster ini menggunakan font sans serif yang memberikan kesan formal, tradisional, dan kredibel. Ini terlepas dari fakta bahwa font sans serif umumnya digunakan dalam media cetak. Dengan menggunakan font serif, pesan penting tentang nutrisi anak tampak lebih serius, sehingga lebih mudah dibaca dalam konteks visual yang informatif. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa literasi gizi masyarakat di wilayah Posyandu Melati Bitung masih rendah, meskipun sebagian besar ibu sudah menyadari pentingnya gizi untuk anak. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya media edukasi yang menarik dan mudah dipahami, seperti papan informasi atau poster gizi yang efektif. Penggunaan infografis visual yang menarik dan interaktif terbukti mampu meningkatkan pemahaman ibu tentang pentingnya nutrisi anak, terutama dalam pencegahan stunting. Desain infografis yang tepat, berbasis kebutuhan masyarakat lokal, berpotensi membantu mengatasi kesenjangan pengetahuan gizi serta memperkuat fungsi edukatif Posyandu sebagai pusat literasi kesehatan masyarakat. Konflik Kepentingan Penelitian ini penting dilakukan kareka beberapa hal seperti untuk media edukasi tentang gizi di posyandu dan juga untuk memenuhi kepentingan mata kuliah metodologi penelitian. References