Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Publisher: CV. Doki Course and Training E-ISSN: 2985-8070iCP-ISSN: 2986-7762 Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement dan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) terhadap Pagophagia pada Mahasiswa Dewasa Awal Diva Ananta1. Dini Permana Sari2. Nurkharimah Vielayaty3 Universitas Muhammadiyah Malang1,3 Universitas Islam Depok2 Corresponding email: divaanantake4gmailcom@webmail. ARTICLE INFO Article History Submission: 19-12-2025 Review: 05-01-2026 Revised: 08-01-2026 Accepted: 08-01-2026 Published: 12-01-2026 Kata kunci Pagophagia Pica Penguatan Positif Diferensial Penguatan Perilaku Alternatif Modifikasi Perilaku Single Subject ABSTRAK Pagophagia merupakan perilaku mengonsumsi es batu secara berulang tanpa kebutuhan fisiologis yang dapat berkembang menjadi perilaku maladaptif. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas positive reinforcement dengan pendekatan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) dalam menurunkan perilaku makan es batu pada mahasiswa dewasa awal. Penelitian menggunakan desain single subject experimental. Data dikumpulkan melalui pencatatan frekuensi perilaku selama fase baseline tujuh hari dan fase intervensi empat belas hari. Intervensi dilakukan dengan pemberian positive reinforcement setiap tiga hari sekali. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan analisis visual. Hasil menunjukkan penurunan frekuensi perilaku makan es batu selama fase intervensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa positive reinforcement berbasis DRA efektif dalam menurunkan pagophagia pada konteks non klinis. Pendahuluan Perilaku makan benda non makanan atau pica merupakan fenomena perilaku yang masih sering dipandang sepele, namun memiliki implikasi psikologis dan kesehatan yang Salah satu bentuk pica yang cukup sering dijumpai adalah pagophagia, yaitu kebiasaan mengonsumsi es batu secara berulang tanpa kebutuhan fisiologis yang jelas (Stiegler et al. , 2021. American Psychiatric Association, 2. Meskipun es batu tidak bersifat toksik, konsumsi yang dilakukan secara berlebihan dan persisten dapat berkembang menjadi kebiasaan maladaptif yang sulit dikendalikan. Secara epidemiologis, prevalensi pagophagia dilaporkan berkisar antara 8% - 16% populasi, dengan variasi yang dipengaruhi oleh faktor biologis dan psikologis (Kantor et al. Sejumlah penelitian mengaitkan pagophagia dengan kondisi medis tertentu, seperti anemia defisiensi zat besi. Namun, temuan lain menunjukkan bahwa perilaku ini juga muncul pada individu tanpa gangguan fisiologis yang jelas (Hunt et al. , 2014. Lopez et al. Website : http://jurnal. org/index. php/JIPBS/index Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Hal ini menunjukkan bahwa pagophagia tidak dapat dijelaskan semata-mata dari perspektif medis, melainkan perlu dipahami sebagai fenomena perilaku dan psikologis. Dalam perspektif psikologi, pagophagia sering dipertahankan oleh fungsi regulasi emosi dan kebutuhan sensorik. Mourad et al. menjelaskan bahwa konsumsi benda non makanan, termasuk es batu, dapat berfungsi sebagai mekanisme coping terhadap stres, kebosanan, atau ketegangan ringan. Sensasi dingin yang dihasilkan dari mengunyah es batu memberikan rasa lega sementara, sehingga bertindak sebagai penguat internal yang memperkuat perilaku tersebut. Pola ini sejalan dengan prinsip operant conditioning, di mana perilaku cenderung dipertahankan apabila diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan (Skinner, 1953/2. Fenomena pagophagia juga ditemukan pada kelompok usia dewasa awal, khususnya Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta rutinitas yang monoton dapat meningkatkan kecenderungan individu menggunakan strategi coping yang kurang adaptif (Rahman dan Dewi, 2. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memiliki kebiasaan mengonsumsi benda non makanan, termasuk es batu, secara berulang sebagai bagian dari aktivitas sehari hari (Putri dan Nugroho, 2. Meskipun sering kali tidak disadari sebagai masalah, kebiasaan ini berpotensi berdampak negatif terhadap kesehatan gigi, fungsi oral, serta kemampuan regulasi diri (Hassan et al. , 2. Meskipun pagophagia relative sering ditemukan dalam kehidupan sehari hari, khususnya di kalangan mahasiswa, kajian empiris yang menempatkan pagophagia sebagai masalah perilaku dari perspektif psikologi masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya berfokus pada konteks klinis, terutama pada pada anak-anak atau individu dengan diagnosis pica yang berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti anemia defisiensi zat besi. Akibatnya, perilaku makan es batu pada populasi dewasa awal non klinis kerap dipandang sebagai kebiasaan ringan yang tidak memerlukan intervensi psikologis. Padahal, dari sudut pandang modifikasi perilaku, kebiasaan yang dipertahankan secara konsisten oleh penguatan internal berpotensi berkembang menjadi perilaku kompulsif yang menetap dan sulit dikendalikan (Miltenberger, 2016. Kazdin, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian terkait penerapan intervensi perilaku berbasis reinforcement untuk menurunkan pagophagia pada mahasiswa dewasa awal dalam konteks non-klinis. Dari perspektif modifikasi perilaku, pagophagia dapat dipahami sebagai perilaku yang dipertahankan oleh penguatan positif berupa sensasi sensorik dan rasa lega setelah perilaku dilakukan. Oleh karena itu, pendekatan intervensi yang efektif tidak hanya berfokus pada penghentian perilaku, tetapi juga pada pengalihan sumber penguatan menuju perilaku alternatif yang lebih adaptif. Teknik positive reinforcement dalam kerangka operant conditioning telah banyak digunakan untuk mengurangi perilaku maladaptif dengan cara memperkuat perilaku pengganti yang memiliki fungsi serupa (Kazdin, 2021. Miltenberger. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA), yaitu pemberian penguatan secara sistematis pada perilaku alternatif yang Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 adaptif, sementara perilaku target tidak lagi mendapatkan penguatan. Pendekatan ini dinilai lebih etis dan efektif karena tidak bergantung pada hukuman, serta mendorong pembentukan perilaku adaptif yang berkelanjutan (Cooper et al. , 2. Penelitian Tsali . menunjukkan bahwa strategi reinforcement efektif dalam menurunkan perilaku pica pada anak usia dini melalui pemberian penguatan eksternal yang konsisten. Namun demikian, penelitian tersebut belum secara spesifik menargetkan perilaku pagophagia, yang meskipun termasuk dalam spektrum pica, memiliki karakteristik sensorik dan fungsi perilaku yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan secara langsung. Selain itu, intervensi yang digunakan dalam penelitian Tsali . hanya berfokus pada satu teknik, yaitu reinforcement positif, tanpa dikombinasikan dengan teknik modifikasi perilaku lain, serta diterapkan pada subjek anak usia dini. Perbedaan karakteristik perilaku, rentang usia subjek, dan pendekatan intervensi tersebut menunjukkan adanya celah penelitian terkait efektivitas kombinasi teknik modifikasi perilaku pada populasi dewasa awal. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada AuEfektivitas Kombinasi Positive Reinforcement dan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) terhadap Perilaku Pagophagia pada Mahasiswa Dewasa AwalAy, untuk mengkaji bagaimana penerapan kombinasi reinforcement positif dan DRA dapat digunakan secara efektif dalam menurunkan perilaku pagophagia pada konteks non-klinis. Berdasarkan kesenjangan penelitian tersebut, penelitian ini mengusulkan penerapan positive reinforcement dengan pendekatan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) sebagai strategi modifikasi perilaku untuk menurunkan frekuensi perilaku makan es batu pada mahasiswa dewasa awal dalam konteks non-klinis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk . mengidentifikasi pola dan frekuensi perilaku makan es batu . pada mahasiswa dewasa awal, . menguji efektivitas penerapan positive reinforcement dengan pendekatan DRA dalam menurunkan frekuensi perilaku tersebut, serta . mengevaluasi perubahan kontrol diri subjek terhadap perilaku makan es batu setelah pelaksanaan intervensi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat mengisi kekosongan kajian empiris mengenai penerapan intervensi perilaku preventif pada pagophagia di kalangan mahasiswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain single subject experimental design untuk mengkaji efektivitas penerapan positive reinforcement dengan pendekatan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) dalam menurunkan perilaku makan es batu . pada mahasiswa dewasa awal. Subjek penelitian adalah satu orang mahasiswa yang dipilih secara purposif berdasarkan hasil asesmen awal yang menunjukkan kebiasaan makan es batu secara berulang dan persisten. Variabel independen dalam penelitian ini adalah penerapan positive reinforcement berbasis DRA, sedangkan variabel dependen adalah frekuensi perilaku makan es batu yang didefinisikan sebagai tindakan mengambil dan mengunyah es batu. Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan harian menggunakan behavior logbook. Untuk meningkatkan validitas data, pencatatan dilakukan secara konsisten setiap hari pada waktu yang sama, yakni pada malam hari dengan disertai klarifikasi verbal singkat kepada subjek mengenai kejadian perilaku yang dicatat. Pendekatan ini digunakan untuk meminimalkan bias pelaporan dan memastikan bahwa data yang diperoleh merepresentasikan frekuensi perilaku yang sebenarnya. Penelitian diawali dengan fase baseline selama tujuh hari tanpa intervensi untuk memperoleh gambaran awal pola dan stabilitas frekuensi perilaku. Kemudian dilanjutkan dengan fase intervensi selama 14 hari dengan penerapan positive reinforcement berbasis DRA yang diberikan setiap tiga hari sekali dalam bentuk reward yang telah disepakati bersama subjek sebagai penguatan perilaku alternatif berupa kemampuan menahan diri dari makan es batu. Pemilihan interval pemberian reinforcement setiap tiga hari sekali didasarkan pada pertimbangan konteks penelitian lapangan. Penelitian ini dilaksanakan dalam setting alami subjek sebagai mahasiswa aktif, sehingga intensitas pertemuan langsung antara peneliti dan subjek dibatasi oleh jadwal akademik masing masing. Oleh karena itu, interval tiga hari dipilih sebagai bentuk penyesuaian terhadap keterbatasan praktis tersebut tanpa menghilangkan prinsip utama intervensi perilaku. Selain pertimbangan praktis, interval tiga hari juga dipandang relevan secara metodologis untuk indivisu dewasa awal karena memberikan kesempatan bagi subjek untuk mempertahankan perilaku alternatif secara mandiri sebelum memperoleh penguatan. Dengan demikian, reinforcement tidak hanya berfungsi sebagai hadiah sesaat, tetapi sebagai penguat yang mendorong pembentukan kontrol diri serta meningkatkan ecological validity intervensi dalam konteks kehidupan Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi perilaku makan es batu . pada subjek mengalami penurunan selama fase intervensi dibandingkan fase baseline. Pada fase baseline, perilaku makan es batu muncul secara konsisten setiap hari dengan pola yang relatif stabil. Konsistensi kemunculan perilaku pada fase ini mengindikasikan bahwa perilaku makan es batu telah terbentuk sebagai kebiasaan yang dipertahankan, bukan perilaku insidental. Hal ini sejalan dengan pandangan behavioristik bahwa perilaku yang muncul berulang cenderung memiliki fungsi penguat tertentu, baik berupa penguatan eksternal maupun internal (Miltenberger, 2. Selama fase intervensi, terjadi penurunan frekuensi perilaku makan es batu secara bertahap dan konsisten. Pada hari pertama intervensi, masih ditemukan satu episode perilaku makan es batu yang disebabkan oleh faktor lupa, namun setelah itu frekuensi perilaku stabil pada angka nol hingga akhir fase ntervensi. Pola ini menunjukkan adanya perubahan perilaku yang konsisten setelah penerapan positive reinforcement dengan pendekatan DRA. Secara konseptual, kondisi ini mencerminkan proses behavioral replacement, di mana Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 perilaku maladaptif tidak dihilangkan secara langsung, melainkan digantikan oleh perilaku lain yang lebih adaptif melalui penguatan diferensial. Efektivitas intervensi ini dapat dijelaskan melalui prinsip operant conditioning. Sebelum intervensi, perilaku makan es batu dipertahankan oleh penguatan sensorik internal berupa sensasi dingin dan rasa lega, yang berfungsi sebagai automatic reinforcement. Melalui penerapan DRA, sumber penguatan dialihkan dari perilaku makan es batu ke perilaku alternatif berupa kemampuan menahan diri dari perilaku tersebut. Penguatan eksternal yang diberikan setiap tiga hari sekali berperan sebagai competing reinforcement yang secara bertahap menggeser nilai penguatan perilaku makan es batu (Skinner, 1953/2020. Kazdin, 2. Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian reinforcement tidak harus dilakukan setiap kali perilaku alternatif muncul untuk menghasilkan perubahan perilaku yang bermakna. Jadwal penguatan setiap tiga hari sekali tetap mampu menghasilkan penurunan frekuensi perilaku yang signifikan. Temuan ini mendukung pandangan bahwa konsistensi dan makna penguatan lebih berperan dibandingkan frekuensi penguatan semata, khususnya pada individu dewasa awal yang memiliki kemampuan kognitif dan regulasi diri yang lebih matang (Miltenberger, 2. Dengan kata lain, reinforcement dalam penelitian ini tidak hanya berfungsi sebagai penguat perilaku, tetapi juga sebagai alat pembentukan kontrol diri. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Tsali . yang menunjukkan bahwa pendekatan reinforcement efektif dalam menurunkan perilaku pica dengan cara mengalihkan fungsi penguatan. Meskipun penelitian Tsali dilakukan pada anak usia dini, kesamaan mekanisme perilaku menunjukkan bahwa prinsip modifikasi perilaku bersifat lintas usia. Selain itu, temuan ini memperluas penerapan pendekatan DRA ke konteks dewasa awal nonklinis, yang selama ini relatif jarang diteliti. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi empiris bahwa pagophagia pada mahasiswa dapat dipahami dan ditangani sebagai perilaku yang dipelajari, bukan sekadar kebiasaan ringan atau masalah medis Meskipun demikian, hasil penelitian ini perlu dipahami dengan mempertimbangkan keterbatasan metode yang digunakan. Penelitian ini melibatkan satu subjek dengan desain single subject tanpa fase follow up, sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Selain itu, frekuensi perilaku dicatat melalui self report yang berpotensi dipengaruhi oleh bisa subjek, meskipun telah diupayakan konsistensi pencatatan harian. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak subjek, menggunakan pengukuran tambahan, serta menambahkan fase tindak lanjut guna mengevaluasi keberlanjutan perubahan perilaku. Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Grafik 1. Frekuensi Konsumsi Es Batu pada Fase Baseline dan Intervensi Grafik Hasil Pencatatan Perilaku Frekuensi Baseline Intervensi Hari ke- Berdasarkan Grafik 1 Data Hasil Pencatatan Perilaku, terlihat perubahan frekuensi perilaku mengkonsumsi es batu antara fase baseline dan fase intervensi. Pada fase baseline yang berlangsung selama tujuh hari, rata-rata frekuensi perilaku makan es batu adalah 1,4 kali per hari. Secara rinci, pada hari ke-3 dan hari ke-5 baseline, subjek tercatat mengonsumsi es batu sebanyak dua kali per hari, yang menunjukkan peningkatan frekuensi dibanding hari Sementara itu, pada hari ke-1, ke-2, ke-4, ke-6, dan ke-7 baseline, frekuensi perilaku tercatat satu kali per hari. Pola ini menunjukkan bahwa perilaku makan es batu telah terbentuk dan muncul secara berulang, meskipun intensitasnya masih tergolong sedang. Memasuki fase intervensi yang berlangsung selama empat belas hari, rata-rata frekuensi perilaku makan es batu menurun secara signifikan menjadi 0,07 kali per hari. Pada hari pertama fase intervensi, subjek tercatat mengonsumsi es batu sebanyak satu kali, yang berdasarkan laporan subjek terjadi karena faktor lupa, bukan dorongan perilaku yang kuat. Setelah hari pertama tersebut, frekuensi perilaku makan es batu stabil pada angka nol hingga akhir periode intervensi. Perbedaan pola antara fase baseline dan fase intervensi terlihat sangat jelas pada Pada fase baseline, frekuensi perilaku menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan muncul secara konsisten setiap hari. Sebaliknya, pada fase intervensi, perilaku makan es batu hampir sepenuhnya tereliminasi setelah hari pertama penerapan positive reinforcement. Penurunan frekuensi yang tajam dan kestabilan pada nilai nol menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan efektif dalam menekan perilaku target dan membantu subjek membangun kontrol diri yang lebih adaptif terhadap kebiasaan makan es batu. Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan positive reinforcement dengan pendekatan Differential Reinforcement of Alternative Behavior (DRA) efektif sebagai strategi modifikasi perilaku untuk menurunkan frekuensi perilaku makan es batu . pada mahasiswa dewasa awal dengan konteks non klinis. Temuan ini menegaskan bahwa pagophagia tidak semata mata merupakan kebiasaan ringan atau fenomena medis, melainkan perilaku yang dipelajari dan dipertahankan oleh mekanisme penguatan, sehingga dapat dimodifikasi melalui intervensi perilaku yang terstruktur. Secara teoritis, penelitian ini memperluas penerapan prinsip modifikasi perilaku, khususnya pendekatan DRA, pada populasi dewasa awal non klinis yang selama ini relatif kurang mendapat penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan yang diberikan secara berkala, bukan kontinu, tetap mampu menghasilkan perubahan perilaku yang bermakna dengan mendorong pembentukan kontrol diri dan kemandirian perilaku pada individu dewasa awal. Secara praktis, temuan penelitian ini memiliki implikasi bagi layanan psikologi pendidikan dan konseling mahasiswa, khususnya dalam pengembangan intervensi preventif terhadap kebiasaan maladaptif yang sering dianggap sepele. Pendekaan positive reinforcement berbasis DRA dapat diterapkan secara fleksibel dan realistis dalam lingkungan kampus tanpa memerlukan intensitas pendampingan yang tinggi. Dengan demikian, intervensi perilaku ini berpotensi digunakan sebagai bagian dari program promotif kesehatan mental mahasiswa. Selain itu, penelitian ini memperlihatkan bahwa penguatan tidak harus diberikan secara kontinu untuk menghasilkan perubahan perilaku yang bermakna. Penerapan reinforcement dengan interval tiga hari sekali tetap mampu memperkuat perilaku alternatif berupa kemampuan menahan diri, sehingga mendorong terbentuknya kontrol diri yang lebih Hal ini menjawab tujuan penelitian terkait evaluasi perubahan perilaku dan menunjukkan bahwa konsistensi serta makna penguatan memiliki peran penting dalam keberhasilan intervensi perilaku pada individu dewasa awal. Secara teoretis dan praktis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian modifikasi perilaku dengan memperluas penerapan pendekatan DRA pada fenomena pagophagia di kalangan mahasiswa. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah subjek dan durasi intervensi yang relative singkat tanpa fase tindak Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektifitas pendekatan ini pada lebih banyak subjek, menggunakan variasi interval reinforcement, serta menambahkan fase follow up guna mengevaluasi keberlanjutan perubahan perilaku dalam jangka panjang. Diva Ananta et. al (Efektivitas Kombinasi Positive Reinforcement danA) Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 1 2026, 92-100 Referensi