Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DAN EFEKTIFITAS PENGOBATAN MELALUI NILAI HbA1C PADA PASIEN DIABETESMELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS SEGIRI KOTA SAMARINDA Intan Wandilla*. Juliyanti. Alfin Anwar Fakultas Farmasi. Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur. Indonesia Jl. APT. Pranoto Samarinda. Kalimantan Timur. Indonesia Korespondensi Penulis: intanwandilla@gmail. ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is caused by blood sugar levels exceeding normal values. If DM is not treated properly, it can cause various complications, thus endangering. This study aimed to determine the relation between medication adherence and treatment effectiveness through HbA1C values, in patients with diabetes mellitus at the Segiri Community Health Centre. The research method employed a quantitative approach with cross-sectional observations. The search sample used primary data in the form of a questionnaire distributed to diabetesmellitus patients at the Segiri Community Health Centre. Data analysis was descriptive using SPSS 23. The data analysis technique is the Chi-square The research results showed that 14 . ,5%) respondents had a compliance level of AuCompliantAy, 19 . ,5%) respondents had a compliance level of AuMediumAy, and 22 . %) respondents had a compliance level of AuNot CompliantAy. Based on data from research conducted at the Segiri Community Health Center, there were 14 patients . %) with HbA1C values <7%. These results show that treatment carried out for 8-14 weeks has quite good effectiveness. Keywords: DM Type 2. Relationships. Compliance. Treatment Effectiveness. HbA1C Values ABSTRAK Diabetes mellitus disebabkan kelebihan kadar gula darah dari batas normalnya. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi sehingga membahayakan jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat dan efektifitas pengobatan melalui nilai HbA1C pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Segiri. Metode penelitian merupakan penelitian kuantitatif dengan observasi cross sectional. Sampel penelitian menggunakan data primer berupa kuesioner yang dibagikan kepada pasien diabetes mellitus di Puskesmas Segiri. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan dan uji ChiSquare di SPSS 23. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 14 . ,5%) responden dengan tingkat kepatuhanAuPatuhAy, 19 . ,5%) responden dengan tingkat kepatuhan AuSedangAy, dan 22 . %) responden dengan tingkat kepatuhan AuTidak PatuhAy. Berdasarkan data pada penelitian yang dilakukan di Puskesmas Segiri terdapat 14 pasien . %) dengan nilai HbA1C <7%. Berdasarkan uji statistic chi square didapatkan nilai p-Value 0,439 . >0,. yang menunjukan bahwa kepatuhan minum obat tidak memiliki hubungan secara signifikan pada efektifitas terapi. Kata Kunci : DM Tipe 2. Hubungan. Kepatuhan. Efektifitas Pengobatan. Nilai HbA1C PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) meningkat dari tahun ke tahun dengan jumlah pasien lebih banyak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah jika dibandingkan dengan negara-negara Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi Diabetes Melitus tahun 2013 adalah 6. 9% dan meningkat pada tahun 2018 sebesar 8. dengan jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki (Ramadhani, 2. Perlakuan khusus seperti pengobatan perlu dilakukan untuk transform Vol. No. April 2025: 105-111 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. mengurangi dan sebagai bentuk pencegahan. Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit yang disebabkan kadar glukosa melebihi batas normal yang seharusnya. Secara umum penyakit ini disebabkan oleh pola hidup yang kurang baik, seperti kurang berolahraga, lebih banyak melakukan hal yang statis, pola dan menu makan yang kurang baik, serta edukasi dalam menjaga pola hidup. Perilaku patuh Namun, penerapan perilaku tidak patuh dapat mempercepat risiko masalah kesehatan dan (Ningrum, 2. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa nilai HbA1C pada pasien DM dapat berbeda, tergantung pada riwayat pengobatan DM, apakah pasien menggunakan antidiabetika oral atau insulin. Signifikasi dari tes HbA1C terletak pada diagnosis dan prognosis pasien DM dalam memberikan pemahaman tentang resistensi insulin (Yuliani, 2. Hubungan antara kepatuhan minum obat pasien DM dengan kadar gula darah telah dilakukan pada penelitian lain dengan hasil bahwa pasien yang mencapai target nilai GDP dan HbA1c memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi (Kartono, 2. Kepatuhan minum obat yang rendah meyebabkan lemahnya kontrol kadar gula darah yang rendah. Tatalaksana intervensi pada pasien DM Tipe 2 dengan komorbiditas harus berfokus pada peningkatan kepatuhan pengobatan (Sendekie, 2. Adapun faktor yang berpengaruh positif secara statistik terhadap pendidikan, durasi penyakit, status pekerjaan, dukungan sosial, tingkat pengetahuan, kepuasan pengobatan dan konseling apoteker. Semakin baik faktor-faktor tersebut, maka semakin baik kepatuhan minum obatnya. (Wibowo, 2. Medication Adherence Scale-8 (MMAS-. Sampel pada penelitian ini adalah pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Segiri kota Samarinda sebanyak 55 pasien. Pengumpulan data dilakukan secara tatap muka yaitu peneliti melakukan wawancara dan berdampingan langsung dengan pasien pada saat pembagian kuesioner. Peneliti mengumpulkan data berdasarkan kuesioner dengan mencatat data yang diperoleh, selanjutnya analisis data pasien menggunakan SPSS 23. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran karakteristik sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, riwayat penyakit dan jenis obat yang dikonsumsi, serta tingkat kepatuhan minum obat. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan berobat pasien DM Tipe 2 dan nilai HbA1C dengan menggunakan uji statistik ChiSquare. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengambilan dilaksanakan di Puskesmas Segiri Kota Samarinda pada bulan Juni Ae Juli 2023 dengan jumlah pasien DM Tipe 2 yang rutin berobat sebanyak 55 pasien dan sebanyak 25 pasien yang diteliti memiliki nilai HbA1C. Data yang diambil berdasarkan rekam medis dari Ruang Pemeriksaan Umum dan Ruang Pemeriksaan Lansia dan kuesioner MMAS-8. ANALISIS UNIVARIAT Tabel 1. Karakteristik Responden Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Segiri . Validitas METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Puskesmas Segiri kota Samarinda dengan target pasien DM tipe 2 dengan kriteria inklusi pasien umur >25 th dan rutin melakukan pemeriksaan selama 1 tahun Penelitian ini menggunakan metode observasi cross sectional. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kepatuhan minum obat, sedangkan variabel dependennya yaitu efektifitas pengobatan. Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner Morisky transform Vol. No. April 2025: 105-111 Karakteristik Frekuensi Percent Laki-Laki Perempuan Jenis Kelamin Valid Umur Valid Pendidikan Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Valid Tidak Sekolah SMP SMA Pekerjaan Valid Valid Valid Pensiunan Wirausaha PNS IRT Karyawan Buruh Dosen Lama Menderita 1 th-5 th 6 th-10 th >10 th Komplikasi Neuropatik Retinopati Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 55 responden, jenis kelamin paling banyak menderita DM Tipe 2 adalah perempuan sebanyak 36 pasien . 5%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Pratiwi, 2. yang menunjukkan jenis kelamin perempuan sebanyak 10 lebih banya menderita DM Tipe 2 dibandingkan laki-laki. Namun hasil ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan Maymuna . yang memperoleh jenis kelamin laki-laki lebih banyak menderita DM Tipe 2 . ,8%) dibandingkan Perempuan . ,5%). Rentang umur paling tinggi adalah 41- 60 th sebanyak 36 pasien . 5%). Hal ini dikarenakan usia diatas 40 tahun merupakan usia yang beresiko terjangkit DM Tipe 2 disebabkan adanya intoleransi glukosa serta proses penuaan yang mengakibatkan berkurangnya sel beta pankreas dalam menghasilkan insulin. Tingkat pendidikan yang paling banyak dalam peneliatian ini adalah pendidikan tingkat SMA sebanyak 17 pasien . 9%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Rismawan, 2. , dengan data jumlah pendidikan terakhir terbanyak adalah SMA . ,1%). Rentang pekerjaan paling tinggi terkena DM tipe 2 yaitu pekerjaan ibu rumah tangga (IRT) yaitu sebanyak 34. Hasil ini sebanding dengan penelitian Saragih . bahwa jenis pekerjaan yang paling rentang terkenaDM Tipe 2 yaitu Ibu Rumah Tangga (IRT). Rentang lama menderita DM Tipe 2 paling tinggi yaitu 1-5 tahun . 5%). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Sammulia, 2. responden yang lama menderita 43 penyakit DM Tipe 2 yang terbanyak dengan kategori lebih dari 1 tahun . ,3%). Sebagian besar penderita DM Tipe 2 didiagnosa DM Tipe 2 selama kurang dari 5 tahun. Waktu lamanya seseorang menderita DM Tipe 2 dapat memberikan gambaran mengenai patogenesitas penyakit Selain itu, semakin lama seseorang menderita DM Tipe 2, maka akan sangat mudah mendapatkan resiko komplikasi. Komplikasi paling banyak terjadi adalah pasien dengan neuropatik sebanyak 20 pasien . 4%). Komplikasi dapat menyerang penderita dari berbagai usia dikarenakan fungsi tubuh yang semakin menurun khususnya kemampuan sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. Lama menderita DM Tipe 2 dapat mempengaruhi terjadinya komplikasi neuropati diabetik, hal ini terjadi karena kerusakan dan melemahnya dinding pembuluh darah kapiler sehingga terjadi kerusakan saraf seperti penurunan sensitivitas pada kaki yang menyebabkan penderita diabetes tidak menyadari mengalami trauma kaki yang dapat menyebabkan ulkus diabetik (Pratiwi, 2. Tabel 2. Gambaran Kepatuhan Minum Obat Diabetes Melitus Tipe 2 Secara Umum Kepatuhan Minum Frekuensi Persen Obat Valid 8 AuPatuhAy < 7 AuSedangAy < 6 AuTidak patuhAy Tabel 2 menunjukan bahwa responden yang tidak patuh dalam meminum obat sebanyak 22 pasien . %). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Pratiwi, 2. , diperoleh tingkat kepatuhan terbanyak yaitu AusedangAy sebanyak 8 pasien . ,67%). transform Vol. No. April 2025: 105-111 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Pengoptimalan dalam kepatuhan keberhasilan dalam terapi pengobatan penyakit kronis dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Penelitian ini sejalan dengan (Efriani, 2. yang sama memiliki kepatuhan yang rendah. Tabel pengelompokan berdasarkan jenis kelamin paling banyak menderita DM. Berdasarkan data yang diperoleh, pasien perempuan sebanyak 36 responden dengan 14 responden pada katagori tingkat kepatuhan AuPatuhAy, sedangkan responden laki-laki sebanyak 19 pasien dengan tingkat kepatuhan AuSedangAy berjumlah 10 responden. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 hasil uji Chi-Square diperoleh hasil p-value = 0,186 sehingga . >0,. yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengnkepatuhan minum obat diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Hal ini sejalan dengan (Mayang Aditya Ayuning Siwi, 2. dengan hasil p= 0,521 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan minum obat diabetes melitus tipe 2. Tabel pengelompokan berdasarkan pendidikan yang lebih banyak menderita DM adalah pada pasien dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 17 pasien dengan tingkat kepatuhan tertinggi yaitu AyPatuhAy sebanyak 7 pasien. Pada penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi mempunyai pengetahuan yang lebih luas dalam menangani penyakitnya, sedangkan pasien dengan tingkat pendidikan yang lebih rendahmemiliki kepatuhan AuTidak PatuhAy yang tinggi yang disebabkan dari tingkat kesadaran atas pentingnya kesehatan dengan alasan sibuk bekerja, tidak ada waktu minum obat karena harus menjaga anak dan seringnya lupa minum obat. Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 hasil uji chi-square diperoleh hasil p-Value 0,178 sehingga . >0,. yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan minum obat diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Penelitian ini sejalan dengan (Vivi Nurmalita, 2. Mayoritas pendidikan responden adalah SMA . endidikan sedan. dengan hasil yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memiliki hubungan dan berbanding lurus dengan kemampuan seseorang dalam mencari kualitashidup lebih baik. Tabel pengelompokan berdasarkan pekerjaan yang lebih banyak menderita DM adalah pada kelompok IRT (Ibu Rumah Tangg. sebanyak 19 dengan tingkat kepatuhan terbanyak yaitu AyPatuhAy sebanyak 8 pasien. Hasil ini sebanding dengan penelitian yang sebelumnya penyebab dari sebagian besar IRT ada yang tidak patuh dalam mengikuti dosis yang berikan oleh dokter dikarenakan sibuk mengurus pekerjaan rumah pada umumnya seperti mencuci, memasak, bersih-bersih serta menjaga anak, karena lingkungan yang sibuk membuat pasien kurang menikmati waktu luang mereka untuk beristirahat sehingga menyebabkan tingkat stres pasien menjadi tidak stabil. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 3 hasil uji Chi-Square diperoleh hasil p-value=0,299 sehingga . >0,. yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kepatuhan minum obat diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Segiri Kota Samarinda. Tabel pengelompokan berdasarkan lama menderita yang lebih banyak menderita DM adalah pada rentang umur 1 th Ae 5 th sebanyak 25 pasien dengan tingkat kepatuhan tertinggi yaitu AyPatuhAy sebanyak 10 pasien. Hal ini dikarenakan kurangnya aktivitas fisik sehingga membuat tubuh semakin malas bergerak yang menyebabkan kerusakan sel- sel pada tubuh, semakin lama pasien menderita DM maka akan menyebabkan komplikasi dan akan berdampak pada beberapa aspek yaitu psikologis, fisik, hubungan sosial, dan lingkungan. Tabel 4 menunjukan hanya 25 pasien dari 55 pasien DM yang memiliki data kadar HbA1C dengan 14 pasien dengan nilai HbA1c yang terkontrol (<7%). transform Vol. No. April 2025: 105-111 Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Tabel 3. Gambaran Kepatuhan Minum Obat Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Hasil Uji ChiSquare Patuh Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Usia Total Pendidikan Pekerjaan Lama Menderita Tidak Sekolah SMP SMA Total Pensiunan Wirausaha PNS IRT Karyawan Buruh Dosen Total 1 th Ae 5 th 6 th Ae 10 th >10 th Total 3 . Kepatuhan Minum Obat Sedang Tidak Patuh 6 . ,8%) transform Vol. No. April 2025: 105-111 0 . P-Value 7 . Journal of Sustainable Transformation Vol. 03 No. ISSN: 2963-5349 DOI: 10. 59310/jst. Tabel 4. Gambaran HbA1C Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Segiri dan Uji Chi Square Kepatuhan Minum Obat Kadar HbA1c Terkontrol (<7%) Tidak Terkontrol (>7%) Total Frekuensi Persen Valid Persen Persentase Kumulatif Penelitian ini sejalan dengan (Rawung, 2. bahwa penggunaan obat golongan SGLT-2 khususnya empagliflozin dapat menurunkan nilai HbA1C pada pasien DMT2. Berdasarkan hasil survei, pasien dengan nilai HbA1C terkontrol memiliki motivasi untuk sembuh dari penyakitnya sehingga rutin memeriksa nilai HbA1C setiap 6 bulan sekali. Pada penelitian ini terdapat 11 pasien . %) pasien dengan nilai HbA1C yang tidak terkontrol (>7%). Hal ini bisa disebabkan dari kelalaian pasien dalam meminum obat, karena jarak rumah terlalu jauh atau jarang melakukan kontrol HbA1C setiap 6 bulan sekali. Berdasarkan hasil uji chi-square pada penelitian ini diperoleh hasil p-Value 0,439 . >0,. yang menunjukan bahwa kepatuhan minum obat tidak memiliki hubungan secara signifikan pada efektifitas terapi. Kepatuhan minum obat tidak akan cukup dalam mempengaruhi hasil dari P-Value yang diketahui karena karakteristik pasien juga dapat mempengaruhi hasil pada status glikemik seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, komplikasi yang dialami pasien dan lama menderita penyakit DM (Viona, 2. Kombinasi farmakoterapi yang tepat, kepatuhan pengobatan dan perawatan diri dapat membantu mengendalikan glukosa darah. Pada penelitian ini diperoleh bahwa kepatuhan minum obat tidak cukup dalam mengkontrol status glikemik. Adapun faktor lainnya yaitu farmakoterapi yang Penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian sebelumnya (Hizam Zulfhi, 2. berdasarkan hasil analisis bivariate menggunakan Mann-Whitney didapatkan hasil nilai p- Value =0,000 < 0,05. H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat ditarik kesimpulan terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat dengan terkendalinya kadar gula darah. transform Vol. No. April 2025: 105-111 P-Value KESIMPULAN DM Tipe 2 di Puskesmas Segiri Kota Samarinda termasuk baik dari 25 pasien yang mengikuti tes HbA1C, 14 diantaranya memiliki kadar gula darah yang terkontrol. Kepatuhan minum obat pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang terbanyak adalah responden AuTidak PatuhAy, yaitu sebanyak 22 . %) yang dapat dilihat masih belum cukup efektif berdasarkan nilai HbA1C. Berdasarkan uji statistic chi square didapatkan nilai p-Value 0,439 . >0,. sehingga disimpulkan kepatuhan minum obat tidak memiliki hubungan secara signifikan pada efektifitas terapi DAFTAR PUSTAKA