eISSN 3090-7985 & pISSN 3090-5125 org/10. 63822/r3e09w93 Vol. No. Tahun 2025 Hal. Homepage https://ojs. id/index. php/ib Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari Minarti Usman1. Wa Ode Saktila Mayang Sari2*. Fitrianingsih3. Ridwan Tahir4. Muhammad Fadillah5. Arni Nur Laili6 Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Halu Oleo. Kendari. Indonesia 1,2,3,4,5,6 Email Korespodensi: saktylawaode@uho. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel: This community service program aims to enhance the competencies of Guidance and Counseling teachers in using non-test instruments to comprehensively analyze studentsAo needs. Based on preliminary observations at SMA Negeri 5 Kendari, it was found that most Guidance and Counseling teachers had not yet fully mastered how to design, utilize, and interpret non-test instruments such as problem checklists, needs assessment questionnaires, interviews, and observations. In fact, these instruments are essential for supporting the development of targeted and effective guidance and counseling programs. This community engagement activity was conducted through an intensive six-week training program involving lectures, discussions, and practical simulations. Evaluation results showed an improvement in participantsAo knowledge and skills in using non-test instruments, as evidenced by their active involvement, understanding of the material, and success in producing student needs analysis worksheets. This initiative not only provides practical benefits for BK teachers in carrying out their professional duties, but also represents a concrete contribution by academics in bridging the gap between educational theory and practice in schools. Diterima Disetujui Diterbitkan 20-06-2025 25-06-2025 28-06-2025 Keyword: non-test instruments, guidance and counseling teachers, needs analysis, guidance and counseling, training Bagaimana Cara Sitasi Artikel ini: Usman. Sari. Fitrianingsih. Tahir. Arni Nur Laili, & Muhammad Fadillah. Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari. Indonesia Berdampak: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 1. , 82-89. https://doi. org/10. 63822/r3e09w93 Copyright A 2025 The Author. This article is distributed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. s 82 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. PENDAHULUAN Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dalam menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan. Salah satu tantangan utama yang dihadapi guru SMA adalah mengenali dan memahami permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran, baik dari aspek akademik, sosial, maupun emosional. Dalam praktiknya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah tenaga pendidik yang memiliki keahlian di bidang bimbingan dan konseling untuk membantu individu mencapai perkembangan optimal dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan kariernya (Prayitno dan Amti, 2. Guru Bimbingan dan Konseling memiliki tugas khusus untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa di Salah satu tugas dan kewajiban guru bimbingan konseling ialah memberikan pelayanan bimbingan konseling yang harus diberikan berdasarkan kebutuhan, masalah, dan tugas perkembangan siswa (Herlinda et al. , 2. Untuk dapat memahami karakteristik, kebutuhan, serta permasalahan siswa secara lebih komprehensif, guru BK membutuhkan alat asesmen yang akurat dan relevan. Selain tes psikologis yang bersifat formal dan terstandar, instrumen non-tes menjadi alternatif penting karena lebih fleksibel, kontekstual, dan mudah diterapkan di lingkungan sekolah. Instrumen non-tes merupakan salah satu jenis kegiatan pendukung yang digunakan untuk mengungkap kondisi siswa sebagaimana adanya (Suryani et al. , 2. Instrumen non-tes seperti angket, wawancara, observasi, skala sikap, dan studi dokumentasi sangat bermanfaat untuk menggali data kualitatif maupun kuantitatif mengenai peserta didik (Mutiah. Sayangnya, berdasarkan observasi awal dan hasil komunikasi dengan beberapa guru BK di SMA, masih banyak di antara mereka yang belum memahami secara optimal bagaimana merancang, menggunakan, dan menginterpretasikan hasil dari instrumen non-tes secara profesional. Akibatnya, pengambilan keputusan dalam layanan bimbingan dan konseling menjadi kurang tepat sasaran. Penggunaan instrumen oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK) diatur oleh berbagai regulasi dan pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan di Indonesia. Berdasarkan Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah Pasal 9 menyebutkan bahwa layanan BK harus didasarkan pada pengumpulan data yang komprehensif, termasuk melalui penggunaan instrumen asesmen dan Instrumen tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta didik dan mengembangkan program BK yang relevan. Pentingnya pemahaman dan kemampuan guru BK dalam penggunaan aplikasi instrumentasi di sekolah merupakan bimbingan utama bagi peserta didik untuk dapat diarahkan potensinya secara tepat. (Devianti & Sari, 2. Asesmen merupakan proses mengumpulkan, menganalisis, dan menginter-pretasikan data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya (Komalasari. Gantina, 2. Hal tersebut dilakukan untuk mendapat gambaran berbagai kondisi individu dan lingkungannya sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai kebutuhan. Assessment dalam kerangka kerja bimbingan dan konseling memiliki kedudukan strategis, karena posisi sebagai dasar dalam perencanaan program bimbingan dan konseling yang sesua kebutuhan, dimana kesesuaian program dan gambaran kondisi konseli dan kondisi lingkungannya dapat mendorong pencapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling (Wahidah et al. , 2. Menurut Rahardjo dan Gunantodaftar cek masalah (DCM) merupakan daftar cek yang khususdisusun untuk mengungkap suatu permasalahan yang sedang dialami siswa maupun masalah yang pernah dialami oleh siswa. (Divinubun et al. , 2. Daftar cek masalah adalah salah satu instrumen sederhana yang dapat membantu guru mengidentifikasi permasalahan siswa secara cepat dan akurat a 83 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. (Mugiharso, 2. Daftar cek ini berisi serangkaian indikator atau pertanyaan yang terkait dengan berbagai aspek perkembangan siswa, seperti konsentrasi belajar, hubungan sosial, motivasi, serta masalah Dengan menggunakan daftar cek masalah, guru dapat: Mengidentifikasi masalah siswa secara sistematis: Instrumen ini memungkinkan guru mencatat gejala atau perilaku siswa secara obyektif, sehingga mempermudah proses analisis. Meningkatkan pemahaman terhadap siswa: Data yang diperoleh dapat memberikan wawasan tentang kondisi siswa, baik secara individu maupun kelompok. Mengambil tindakan yang tepat: Setelah masalah teridentifikasi, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai, bekerja sama dengan orang tua, atau merujuk siswa ke pihak berwenang, seperti konselor sekolah. Namun, kendala yang dihadapi oleh banyak guru adalah kurangnya pelatihan dan pengetahuan dalam menggunakan instrument non tes seperti daftar cek masalah. Selain itu, tidak semua guru menyadari pentingnya pendekatan berbasis data dalam menangani masalah siswa. Oleh karena itu, pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pelatihan penggunaan daftar cek masalah bagi guru SMA menjadi sangat relevan. Berdasarkan hasil analisis situasi yang telah diuraikan sebelumnya, teridentifikasi beberapa kondisi yang di alami oleh para pendidik atau guru, khususnya guru bimbingan dan konseling terkait upaya meningkatkan keprofesionalan mereka dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling yang berkualitas. Beberapa kondisi tersebut adalah: Sebagai bagian dari insan akademis, guru bimbingan dan konseling memiliki tanggung jawab dalam mengaplikasikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya bidang ilmu bimbingan dan Melaksanakan penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah untuk setiap tahunnya. Untuk dapat menyusun program bimbingan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan siswa maka perlu ada data dasar yang dapat dijadikan acuan dalam pelaksanaan penyusunan program bimbingan dan konseling yang baik. Secara Umum, tujuan dari Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes Bagi Guru BK di SMA Negeri 5 Kendari untuk Menganalisis Kebutuhan Peserta Didik adalah untuk meningkatkan kualitas guru bimbingan dan konseling sebagai profesi yang aktif dalam pelaksanaan pengembangan keprofesionalannya sebagai guru dalam bidang bimbingan dan konseling, dengan demikian profesi guru mampu menjadi profesi yang mampu bersaing secara kompetitif saat ini maupun di masa yang akan Secara khusus, tujuan yang dicapai dalam kegiatan ini adalah: Memberikan pemahaman dan keterampilan kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam menggunakan instrumentasi non-tes secara efektif untuk mendukung proses analisis kebutuhan peserta didik. Membantu guru BK dalam mengidentifikasi kebutuhan psikologis, sosial, akademik, dan karier siswa secara lebih komprehensif melalui pendekatan non-tes, seperti angket, observasi, wawancara, atau catatan anekdot. METODE PELAKSANAAN Khalayak sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah guru bimbingan dan konseling di SMA Negeri 5 Kendari dengan dengan jumlah 6 guru. Pemilihan dan penetapan sasaran kegiatan ini a 84 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. memunyai pertimbangan rasional-strategis. Selain sebagai pengajar, guru merupakan insan akademis yang memiliki tanggung jawab dalam memanfaatkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan tentang pendidikan agar mampu memberi dampak positif seluas luasnya pada masyarakat umum. Pelaksanaan tanggung jawab profesional tersebut adalah melalui asesmen kebutuhan peserta didik yang merupakan dasar dalam penyusunan program bimbingan dan konseling di sekolah. Pengabdian kepada masyarakat ini merupakan Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes Bagi Guru BK di SMA Negeri 5 Kendari untuk Menganalisis Kebutuhan Peserta Didik. Sebelum mengikuti pelatihan, peserta diberikan pre-test untuk mengukur kemampuan awal peserta dan pada akhir kegiatan peserta di berikan post-test untuk ketercapaian tujuan pelaksanaan kegiatan. Beberapa tahapan dalam kegiatan pelatihan ini antara lain sebagai berikut: Tahapan Persiapan Kegiatan Tahapan persiapan kegiatan yang dilakukan oleh tim pelaksana kegiatan meliputi: Publikasi kegiatan pelatihan kepada guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 5 Kendari. Pemantapan dan penetuan lokasi dan sasaran. Penyusunan bahan/ materi pelatihan. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Tahapan pelaksanaan Pelatihan instrument non-tes meliputi: Penjelasan umum mengenai arti penting penyusunan program bimbingan dan konseling berbasis AKPD. Penjelasan mengenai jenis-jenis instrumen Non-Tes. Pelaksanaan praktik/ simulasi oleh peserta pelatihan melakukan praktik penyusunan dan penggunaan instrument non-tes Materi Kegiatan Materi kegiatan dalam kegiatan ini adalah Penyusunan instrumen Non Tes. Penggunaan Instrumen non-tes dan cara menganalisisnya Metode Pelaksanaan Kegiatan Metode yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan ini adalah metode ceramah, metode tanya jawab dan metode praktik/ simulasi: Metode Ceramah Metode ceramah dipilih dalam memberikan penjelasan mengenai arti penting pelaksanaan penelitian dan publikasi hasil penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi guru pada umumnya, khususnya guru bimbingan dan konseling. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab sangat penting bagi para peserta peserta, baik di saat menerima penjelasan umum materi pelatihan maupun saat peserta melaksanakan praktik/ simulasi. Metode ini memungkinkan peserta menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang materi pelatihan. Metode Praktik/ Simulasi Metode ini digunakan kepada peserta pelatihan untuk memberikan kesempatan mempraktekan tahapan tahapan yang akan dilalui pesertasaat mengaplikasikan instrumen non tes Kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan ini secara teknis melibatkan guru bimbingan dan konseling SMA Negeri 5 Kendari Kesuksesan kegiatan ini didukung oleh sumber daya tim pengabdian kepada masyarakat yang akan bertindak sebagai instruktur pelatihan yang bermutu dan a 85 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. profesional sesuai dengan bidangnya, serta sarana prasarana yang lengkap dan memadai untuk mendukung kelancaran kegiatan pelatihan. Beberapa hal yang berkaitan dengan sumber daya dosen serta sarana dan prasarana yang ada di antaranya adalah sebagai berikut: Tim pelaksana pengabdian pada masyarakat merupakan dosen pada Jurusan Bimbingan dan Konseling. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo, sehingga mampu memahami substansi pelaksanaan berbagai jenis asesmen pada bidang keilmuan bimbingan Guru bimbingan dan konseling sebagai peserta pelatihan diyakini memiliki kemauan yang serius dalam mengikuti kegiatan pelatihan. Hal-hal yang akan dievaluasi dari kegiatan ini adalah . sejauh mana respon dan antusias dari peserta pelatihan dengan penyelenggaraan kegiatan ini, . seberapa besar pemahaman peserta pelatihan terhadap keseluruhan materi yang diberikan. Sehubungan dengan hal tersebut, pada akhir kegiatan pelatihan ini akan dilakukan evaluasi berupa: Melakukan wawancara terbatas dengan peserta pelatihan sekitar manfaat yang diperoleh dari kegiatan Memberikan tes unjuk kerja/ simulasi kepada peserta pelatihan untuk mengetahui penguasaan terhadap materi yang telah disampaikan selama kegiatan berlangsung Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini membutuhkan alokasi waktu selama 6 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan tujuan dan pelaksanaan kegiatan, maka hasil yang dicapai adalah sebagai berikut: Secara umum para peserta telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai instrument non tes yang digunakan dalam bimbingan konseling seperti Daftar Cek masalah, angket kebutuhan layanan dan lain-lain Para peserta belum menggunakan angket kebutuhan layanan dan daftar cek masalah dalam melakukan menyusun program layanan bimbingan dan konseling Melalui penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini, para peserta telah mampu menyerap dan menguasai materi yang disajikan dalam kegiatan workshop. Hal ini dapat terlihat dari: Ketekunan serta keaktifan peserta dalam setiap tahapan kegiatan pelatihan yang telah susun oleh tim pelaksana kegiatan. Kemampuan peserta dalam memahami konsep instrument non tes untuk menyusun progam layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Peserta telah memiliki pemahaman tentang penggunaan instrumen tes Produk yang dihasilkan oleh peserta dalam kegiatan pelatihan ini adalah lembaran kerja hasil analisis instrument yang berupa data excel Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes Bagi Guru BK di SMA Negeri 5 Kendari untuk Menganalisis Kebutuhan Peserta Didik dapat dikatakan berjalan dengan baik, hal ini dapat diukur melalui beberapa indikator berikut ini: Tingkat kehadiran peserta pelatihan yang mencapai angka 100% sejak dimulai sampai berakhirnya pelaksanaan kegiatan. a 86 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. Keaktifan peserta mengikuti kegiatan serta kemampuan mereka dalam memahami tata penggunaan instrument non tes dalam menyusun program layanan bimbingan dan konseling Kemampuan peserta dalam menyelesaikan lembar kerja yang diberikan dengan baik dan benar yang mencapai persentase sebesar 85% dari total keseluruhan peserta yang terdaftar. Pembahasan Instrumentasi Non-Tes adalah instrumen pengukuran untuk mengumpulkan data yang luas. Ini menunjukkan bahwa instrumentasi non-tes dapat digunakan untuk mengevaluasi elemen emosi, psikomotorik, dan kognitif responden selain fitur kognitif mereka. Bentuk-bentuk instrument non tes Wawancara adalah cara menghimpun keterangan yang dilaksanakan dengan cara tanya jawab secara lisan berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. (Dachliyani, 2. Daftar Cek MAsalah merupakan seperangkat daftar pernyataan kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang atau memancing pengutaraan masalah, yang pernah atau sedang dialami oleh DCM digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang dialami oleh individu dengan merangsang atau memancing individu untuk mengutarakan masalah yang pernah atau sedang Angket. Angket atau kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan pertanyaanpertanyaan yang telah disusun secara sistematis (Ardiansyah et al. , 2. Angket dalam bimbingan dan konseling disusun dengan tujuan untuk menghimpun sejumlah informasi yang relevan dengan keperluan bimbingan dan konseling, seperti identitas pribadi konseli, keterangan tentang keluarga, riwayat kesehatan, riwayat pendidikan, kebiasaan belajar di rumah, ataupun informasi lainnya yang dibutuhkan dalam bimbingan dan konseling. Tujuan penyebaran angket adalah mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan serta Alat yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa daftar pentanyaan/ pernyataan dibuat dalam bentu angket dengan menggunakan skala Likert. (Syarifuddin et al. , 2. Angket atau kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data dari sampel yang lebih besar(Creswell, 2. Observasi. Fungsi observasi dalam konseling yaitu sebagai alat kontrol dalam proses layanan, bisa juga dijadikan validitas terhadap informasi yang disampaikan konseli. melalui kegiatan observasi dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan sosial yang sukar diperoleh dengan menggunakan metode lain (Mania, 2. Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang . -10 sisw. , berdasarkan preferensi antara anggota kelompok satu sama lain (Dan & Uhamka, 2. Hal tersebut dianggap penting mengingat adanya kemungkinan yang kuat terhadap permasalahan dalam suatu kelompok, baik itu kelompok kecil maupun dalam satu kelompok besar seperti setiap dalam satu kelas. (Siregar et al. Instrumen non-tes sangat bermanfaat bagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Berikut adalah beberapa manfaat utama instrumen non-tes bagi guru BK: Memperoleh Data Kualitatif: Instrumen non-tes membantu guru BK mendapatkan data kualitatif tentang siswa, seperti sikap, minat, nilai-nilai, motivasi, dan kepribadian. Data ini memberikan a 87 Pelatihan Penggunaan Instrumentasi Non-Tes bagi Guru Bimbingan dan Konseling di SMA Negeri 5 Kendari (Usman, et al. gambaran mendalam tentang aspek emosional dan sosial siswa yang tidak dapat diukur dengan instrumen tes. Mengidentifikasi Masalah Siswa: Dengan instrumen seperti wawancara, observasi, atau angket, guru BK dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di luar Hal ini memungkinkan guru BK memberikan layanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan Meningkatkan Pemahaman tentang Siswa: Instrumen non-tes memungkinkan guru BK memahami kondisi individual siswa secara lebih menyeluruh. Misalnya, melalui teknik observasi, guru BK dapat mengenali pola perilaku siswa di lingkungan belajar dan sosial mereka. Memberikan Layanan yang Personal: Data dari instrumen non-tes membantu guru BK merancang program intervensi atau layanan konseling yang lebih spesifik dan relevan dengan kebutuhan individu atau kelompok siswa. Mendukung Evaluasi Program BK: Instrumen non-tes, seperti skala sikap atau kuesioner, dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas program BK yang telah dilaksanakan, termasuk mengukur perubahan sikap, perilaku, atau pola berpikir siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pelaksan kegiatan Pelatihan yang telah dilakukan, beberapa kesimpulan yang dapat diambil antara lain para peserta telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai instrument non tes yang digunakan dalam bimbingan konseling seperti Daftar Cek masalah, angket kebutuhan layanan dan lain-lain, para peserta belum menggunakan angket kebutuhan layanan dan daftar cek masalah dalam melakukan menyusun program layanan bimbingan dan konseling dan melalui penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini, para peserta telah mampu menyerap dan menguasai materi yang disajikan dalam kegiatan workshop UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Terima kasih disampaikan kepada pihak sekolah SMA Negeri 5 Kendari yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk melaksanakan program ini, serta kepada para guru Bimbingan dan Konseling yang telah berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Halu Oleo atas dukungan administrasi dan pendanaan yang diberikan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Semoga hasil pengabdian ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kompetensi guru serta pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. DAFTAR PUSTAKA