Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Prodi Pendidikan Sosiologi Sosiologi Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 http://journal. id/index. php/equilibrium Moving Class: Eksplorasi Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Sosiologi di SMAN 4 Makassar Sri Utami Wulansari1. Darman Manda2. Supriadi Torro3. Najamuddin4 Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: sriutamiwulansari@gmail. Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: darmanmanda@unm. Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: supriaditorro@unm. Pendidikan Sosiologi. Universitas Negeri Makassar Email: najamuddin@unm. Abstract. This research aims to . describe the implementation of the moving class method in sociology education, . identify the supporting and inhibiting factors in the implementation of the moving class method in sociology education, and . analyze the impact of the moving class method in sociology education at SMAN 4 Makassar. This type of research is qualitative, using a phenomenological approach. The informants were determined using purposive sampling, with a total of 14 informants consisting of 8 males and 6 females, including the vice-principal, sociology teachers, and 3rd-grade students who were class leaders, diligent students, and students who often skipped classes. The data collection techniques used in this research were observation, interviews, and documentation. The results of this research indicate that . the description of the implementation of the moving class method at SMAN 4 Makassar includes . the planning stage, which involves identifying learning objectives, . the implementation stage, which involves creating a transformation emphasizing room transitions as the main strategy, and . the evaluation stage, which is carried out systematically to measure the achievement of competencies determined by the teachers. The supporting factors for implementing the moving class method in sociology education include school regulations and teacher training implementation. Meanwhile, the inhibiting factors are the lack of facilities and infrastructure, as well as students who cannot be conditioned, such as student indiscipline. The impact of the moving class method in sociology education includes positive impacts such as . increased independence, cooperation, and social awareness, . increased student motivation and achievement, . social interaction during class transitions, . development of social skills, and . freedom to choose seating. Negative impacts include . increased opportunities for students to skip classes and . loss of time used during class transitions. Keywords: Moving Class Method. Sociology Learning. Independent Curriculum Abstrak. Penelitian ini bertujuan . menggambarkan penerapan metode moving class dalam pembelajaran sosiologi, . mengetahui faktor pendukung dan penghambat penerapan metode moving class dalam pembelajaran sosiologi, . menganalisis dampak penerapan metode moving class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposisive sampling, informan sebanyak 14 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 6 perempuan memiliki kriteria, wakil kepala sekolah, guru sosiologi dan siswa kelas 3 yaitu ketua kelas, siswa yang rajin masuk dan siswa yang sering membolos. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa . gambaran penerapan metode Moving Calss di SMAN 4 Makassar yaitu . tahap perencanaan dengan cara mengidentifikasi tujuan pembelajaran, . tahap pelaksanaan yaitu menciptakan suatu transformasi yang menekankan perpindahan ruangan sebagai strategi utama dan . tahap evaluasi itu dilakukan secara sistematis untuk mengukur pencapaian kompetensi yang telah ditentukan oleh guru. Faktor pendukung penerapan metode moving class dalam pembelajaran sosiologi yaitu regulasi sekolah dan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 penerapan pelatihan guru. Sementara itu, faktor penghambatnya seperti minimnya sarana dan prasarana, serta siswa yang tidak bisa dikondisikan seperti ketidakdisiplinan siswa. Dampak penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi yaitu dampak positif mencakup, . peningkatan kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial, . meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa, . terjadinya interaksi sosial ketika perpindahan kelas, . pengembangan keterampilan sosial, . kebebasan memilih tempat duduk. Selanjutnya dampak negatif, . peningkatan peluang siswa untuk membolos lebih besar dan . terpotongnya waktu yang di gunakan ketika perindahan kelas. Kata Kunci: Metode Moving Class. Pembelajaran Sosiologi. Kurikulum Merdeka PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu institusi sosial yang memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat dan kebudayaan. Menurut Syaiful Bahri Djamarah . , pendidikan adalah usaha dasar yang bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia sebagai suatu kegiatan yang sadar akan Oleh karena itu, pendidikan sangat dibutuhkan dalam kelangsungan dan kesejahteraan hidup Pendidikan juga sebagai usaha terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar siswa dapat secara aktif mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan dalam upaya untuk mendukung terciptannya manusia yang cerdas dan mampu bersaing dalam menghadapi suatu perkembangan di bidang ilmu pengetahuan, maka pemerintah berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dalam UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam konteks Indonesia, kurikulum pendidikan senantiasa mencerminkan nilai-nilai, normanorma, dan harapan sosial yang diidamkan oleh masyarakat. Sejalan dengan perubahan zaman, kurikulum pendidikan terus bertransformasi sebagai respons terhadap dinamika sosial, ekonomi, dan Perjalanan ini telah menyaksikan beragam perubahan dan penyempurnaan, mulai dari tahun 1947 hingga kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004, dan kurikulum tingkat satuan pendidikan Kemudian, pada tahun 2013, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mengadopsi Kurikulum 2013 (Kurtila. , yang kemudian mengalami revisi pada tahun 2018 menjadi Kurtilas Revisi. Transformasi ini mencerminkan suatu komitmen untuk selalu menjaga relevansi pendidikan dengan kebutuhan masa kini, memastikan bahwa pendidikan tetap menjadi instrumen penting dalam mencapai aspirasi masyarakat. Selain itu, perlu juga dicatat bahwa Kurikulum Merdeka telah menjadi langkah terbaru dalam menghadirkan inovasi pendidikan, menekankan kreativitas dan pemberdayaan siswa untuk meraih kebebasan belajar yang lebih luas (Ulinniam et al. Dengan demikian, kurikulum pendidikan terus berkembang untuk mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat serta mencerminkan tekad untuk menghasilkan lulusan yang lebih siap berperan dalam masyarakat yang semakin kompleks. Menurut Solehudin . , dalam jurnalnya konsep pembelajaran kurikulum merdeka berfokus kepada pembelajaran yang berbasis projek dengan acuannya adalah profil pelajar pancasila, dari kurikulum ini diharapkan peserta didik dapat memiliki karakter, karena karakter merupakan hal yang penting dimiliki peserta didik untuk hidup bermasyarakat nanti dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sementara itu, dalam pandangan Solehuddin dkk . Kurikulum Merdeka adalah salah satu perubahan terbaru dalam pendidikan yang mencerminkan dinamika sosial yang sedang berlangsung. Hal ini menggambarkan pergeseran paradigma dari kurikulum yang bersifat sentralistik menjadi lebih desentralistik. Di tengah perubahan ini. SMAN 4 Makassar, sebagai salah satu sekolah menengah atas, telah mengadopsi Kurikulum Merdeka sebagai langkah penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Namun, perubahan ini tidak hanya mencakup perubahan pada konten dan metode pembelajaran, tetapi juga memengaruhi dinamika sosial di ruang kelas. Berdasarkan hasil observasi langsung, dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar, ada tantangan dalam menjaga minat dan keterlibatan siswa. Sebelum menerapkan Kurikulum Merdeka, metode pengajaran yang konvensional cenderung membuat siswa menjadi pasif dan kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Selain itu, kurangnya interaktivitas dalam pembelajaran Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 membuat siswa sulit untuk memahami materi dalam sosiologi dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menghambat pengalaman belajar secara menyeluruh dan menyebabkan kurangnya motivasi dalam mempelajari mata pelajaran sosiologi. Oleh karena itu, salah satu implementasi nyata dari Kurikulum Merdeka adalah metode pembelajaran Moving Class, yang menekankan partisipasi siswa dan kolaborasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran sosiologi. Metode ini menciptakan lingkungan di mana guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat, berdiskusi, dan berkolaborasi dalam memahami materi sosiologi. Dengan demikian, metode Moving Class mengubah interaksi sosial dalam ruang kelas menjadi lebih dinamis, di mana otoritas guru lebih bersifat mengarahkan daripada mengatur, dan siswa memiliki peran yang lebih aktif dalam proses Selain itu, mengubah persepsi siswa terhadap pembelajaran sosiologi dari sesuatu yang monoton menjadi sesuatu yang menarik dan relevan bagi kehidupan mereka. Berdasarkan penelusuran dokumen, hingga saat ini kajian seputar Moving Class dalam Kurikulum Merdeka dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, studi yang mengkaji implementasi Moving Class, dilihat (Sumindar dkk, 2012. Ana Fitria dkk, 2013. Didik, 2014. Nur Azizah dkk, 2016. Picha. Muflihatun dkk, 2020 dan Siti Maqnunah 2. Kedua, kategori pengembangan Moving Class, seperti yang dikaji oleh Yurni Suasti . Ketiga, kajian yang melihat Moving Class dari sudut pandang mahasiswa diulas Rahmadanni . dan Annezsa . Sementara riset yang akan peneliti lakukan juga masuk dalam kategori pertama. Akan tetapi letak kebaruan . riset ini lebih fokus memotret aspek sosiologis dengan menilik gambaran penerapan metode Moving class dalam pembelajaran sosiologi, faktor pendukung dan penghambat metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi dan dampak penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan studi fenomenologi yang bertujuan untuk memberikan gambaran Moving Class, eksplorasi dan penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar (Ghony & Fauzan, 2012: . Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposisive sampling, informan sebanyak 14 orang yang terdiri dari 8 laki-laki dan 6 perempuan memiliki kriteria, wakil kepala sekolah, guru sosiologi dan siswa kelas 3 yaitu ketua kelas, siswa yang rajin masuk dan siswa yang sering membolos. Proses pengumpulan data melalui tiga cara yaitu pertama, observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan sistematis dari fenomenafenomena yang diselidiki (Agustang, 2. , kedua, wawancara terstruktur secara berhadap-hadapan dan ketiga, dokumentasi yang berupa hasil dokumen publik seperti buku, skripsi, jurnal, artikel, blog atau web (Arikunto, 2. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Gambaran Penerapan Metode Moving Class dalam Pembelajaran Sosiologi pada Konteks Kurikulum Merdeka di SMAN 4 Makassar Moving Class adalah pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan yang menekankan pada kegiatan penuh dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Dalam sistem ini, guru memiliki ruang kelas yang fleksibel di mana siswa dapat berpindah antar kelas sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan jadwal yang telah ditetapkan. Konsep ini tidak hanya mengubah paradigma tradisional ruang kelas tetap, tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengalami berbagai lingkungan belajar yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka. Dengan adanya Moving Class, siswa juga memiliki kesempatan untuk memperluas pengalaman belajar mereka di luar batas ruang kelas konvensional. Mereka tidak hanya terpaku pada satu tempat belajar, tetapi dapat mengeksplorasi berbagai ruang pembelajaran yang disesuaikan dengan beragam mata pelajaran. Hal ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan menarik, di mana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran untuk pengembangan berbagai keterampilan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Oleh karena itu, adapun gambaran penerapan metode Moving Class pada pembelajaran sosiologi sesuai yang disampaikan oleh Sagala . adalah sebagai berikut: Tahap Perencanaan Perencanaan penerapan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar merupakan tahapan yang krusial untuk memastikan keberhasilan implementasi metode tersebut. Tahap pertama dalam perencanaan ini adalah sebelum dilaksanakannya pembelajaran Moving Class diadakan rapat yang membahas mengenai pelaksanaan Moving Class yang disetujui oleh pengawas dan selanjutnya diadakan sosialisasi kepada seluruh civitas akademika seperti guru, siswa, seluruh pegawai dan juga komite sekolah yang disosialisasikan penjelasan berupa perpindahan siswa yang direncanakan secara matang, penggunaan ruang kelas, sistem pembelajaran yang digunakan pengelolaan administrasi yang digunakan untuk guru dan juga siswa, tidak lupa mengenai kegiatan remidial serta pengayaan dan juga sistem penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa. Selanjutnya, secara spesifik penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar dalam tahap perencanaan mencakup berbagai aspek, mulai dari tata letak ruang kelas hingga manajemen waktu. Guru sosiologi selalu menciptakan suasa kelas yang memungkinkan siswa merasakan keterkaitan dengan materi pelajaran yang dipelajari dengan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, perencanaan menjadi fondasi untuk menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis dan relevan bagi siswa. Perencanaan pembelajaran juga mencakup pemilihan materi dan contoh kasus yang tepat sesuai kebutuhan siswa di SMAN 4 Makassar. Guru sosiologi selalu memastikan bahwa materi yang dipilih tidak hanya memenuhi persyaratan kurikulum, tetapi juga dapat membangun pemahaman yang dalam tentang dunia sosial di sekitar siswa. Dengan demikian, pembelajaran sosiologi tidak hanya menjadi proses akademis, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan analisis kritis siswa. Selain itu, dalam tahap perencanaan, guru juga harus mempertimbangkan pengaturan waktu yang efisien untuk memfasilitasi perpindahan antar kelas tanpa mengganggu alur pembelajaran. Oleh akrena itu, peran guru dalam mengarahkan siswa ketika berpindah kelas juga sangat penting untuk memastikan efisiensi waktu dan keamanan selama proses perpindahan. Guru harus memastikan bahwa siswa memahami prosedur perpindahan dan dapat berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya dengan tertib dan efisien. Dengan demikian, tahap perencanaan tidak hanya mencakup aspek akademis, tetapi juga aspek berkaitan dengan pelaksanaan Moving Class. Hal ini selaras berdasarkan dengan yang disampikan oleh Maskur yang dijelaskan dalam buku karya Widiasoro . , ada beberapa cara yang dilakukan dalam pengelolaan perpindahan siswa yaitu berpindah dari kelas ke kelas lain sesuai dengan jadwal pelajaran diikuti dan ditetapkan. Siswa dapat pindah antar kelas dengan waktu 5 menit. Siswa bebas menentukan tempat duduknya sendiri. Siswa diberi toleransi jika terlambat dengan waktu 10 menit. Jika siswa terlambat berturut-turut selama 3 kali maka akan mendapat sanksi dari guru. Dalam tahap perencanaan, evaluasi juga merupakan komponen penting yang harus Guru melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan, baik secara formal maupun informal, untuk mengidentifikasi keberhasilan dan area yang perlu Dengan melakukan evaluasi secara berkala, guru dapat terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyesuaikan pendekatan mereka sesuai dengan respons dan kebutuhan siswa. Selain itu, partisipasi siswa dalam tahap perencanaan juga dapat meningkatkan rasa memiliki dan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan dalam pembelajaran sosiologi dengan menerapkan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar membawa transformasi yang signifikan dalam proses pendidikan. Strategi utama yang menekankan perpindahan ruangan sebagai sarana pembelajaran dinamis telah menciptakan suasana yang lebih terbuka dan inklusif. Siswa tidak lagi terpaku pada dinding kelas yang kaku, melainkan mengalir secara dinamis melintasi berbagai lingkungan pembelajaran. Hal ini Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 sejalan dengan penelitian terdahulu yang menyoroti pentingnya lingkungan belajar yang fleksibel dan dinamis dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa (Misra, 2. Metode Moving Class juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjelajahi sudut pandang baru dan mengaitkan konsep yang dipelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari. Selain itu, interaksi antar-siswa yang diperkuat oleh metode Moving Class telah membentuk ikatan sosial yang kuat di antara siswa. Diskusi, kolaborasi, dan aktivitas kelompok di setiap ruangan tidak hanya memperluas jaringan sosial siswa, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal dan membangun rasa saling percaya. Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam konteks pendidikan dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memperbaiki hasil belajar (Cohen & Lotan, 2. Lebih lanjut, partisipasi siswa dalam proses pembelajaran yang diperkuat oleh metode Moving Class juga telah diamati oleh peneliti terdahulu sebagai faktor yang berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik (Freeman et al. , 2. Meskipun terdapat beberapa tantangan, seperti perpindahan ruangan yang memakan waktu, antusiasme siswa dalam proses pembelajaran tetap tinggi. Penelitian sebelumnya telah menggarisbawahi pentingnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil yang optimal (Fredricks et al. , 2. Oleh karena itu, meskipun metode Moving Class memerlukan penyesuaian dan kesiapan fisik dalam melakukan perpindahan ruangan, manfaatnya yang dirasakan oleh siswa dan dukungan yang kuat dari guru serta staf sekolah telah membantu mengatasi hambatan tersebut. Sehingga penerapan metode Moving Class telah memberikan hasil positif dalam meningkatkan partisipasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyoroti peran penting guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang merangsang dan inklusif (Hattie, 2. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dalam metode Moving Class di SMAN 4 Makassar merupakan aspek penting dalam memastikan efektivitas dan relevansi pembelajaran dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan secara sistematis oleh guru sosiologi untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa dan efisiensi proses pembelajaran. Salah satu metode evaluasi yang digunakan adalah observasi langsung terhadap interaksi siswa selama perpindahan ruangan. Melalui pengamatan ini, guru dapat mengevaluasi sejauh mana siswa terlibat dalam pembelajaran dan sejauh mana konsep yang dipelajari tercermin dalam interaksi mereka. Selain itu, evaluasi juga dilakukan melalui penugasan atau proyek yang mengintegrasikan materi sosial dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menilai pemahaman siswa dalam mengaplikasikan materi tersebut dalam situasi nyata. Penggunaan tes formatif dan sumatif juga menjadi bagian dari tahap evaluasi. Tes formatif memberikan umpan balik secara berkala kepada siswa, sehingga mereka dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki atau diperdalam. Sementara tes sumatif memberikan gambaran keseluruhan tentang pencapaian siswa pada akhir periode pembelajaran (Hattie, 2. Pendapat siswa juga menggambarkan pentingnya tahap evaluasi dalam metode Moving Class. Mereka mengungkapkan bahwa metode ini membuat mereka lebih termotivasi dan terlibat dalam pembelajaran, karena memberikan kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitar dan melibatkan kolaborasi antara siswa dan guru. Dari sudut pandang guru sosiologi. Ade Handayani, evaluasi dilakukan secara konsisten dengan menggunakan berbagai metode seperti observasi langsung, penugasan, dan tes. Hal ini menunjukkan komitmen guru untuk memastikan kualitas pembelajaran yang terus meningkat. Pentingnya evaluasi dalam metode Moving Class juga ditekankan oleh Muhammad Yusuf. Wakasek SDM, yang mengamati bahwa evaluasi yang terintegrasi dalam proses pembelajaran membantu untuk mengukur pencapaian siswa dan efektivitas metode pembelajaran yang digunakan. Dengan demikian, tahap evaluasi dalam metode Moving Class tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengukur pencapaian akademis, tetapi juga sebagai sarana untuk memperbaiki dan mengembangkan proses pembelajaran yang lebih efektif dan bermakna bagi siswa. Hal ini sejalan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 dengan temuan penelitian terdahulu yang menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran (Hattie, 2. Jadi, gambaran penerapan Metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar dimulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan hingga tahap evaluasi memiliki korelasi yang relevan dengan teori struktural fungsional Talcott Parsons, yang dikenal dengan skema AGIL. Skema AGIL merujuk pada empat fungsi dasar dalam sistem sosial. Adaptation . , tahap perencanaan dalam penerapan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar mencakup upaya untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan relevan dengan kebutuhan siswa. Guru-guru merencanakan adaptasi dalam proses pembelajaran dengan memperhitungkan perpindahan ruangan sebagai strategi utama. Ini mencakup pemilihan materi yang sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa dan pengaturan waktu yang efisien untuk memfasilitasi perpindahan kelas. Goal Attainment . encapaian tujua. , perencanaan pembelajaran juga bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Integration . , tahap Pelaksanaan dalam metode Moving Class menggambarkan integrasi antara siswa, guru, dan lingkungan Selanjutnya tahap evaluasi dalam metode Moving Class menunjukkan proses latensi, di mana pembelajaran dan interaksi siswa berdampak pada perubahan yang berkelanjutan dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Evaluasi yang terintegrasi membantu guru untuk memperbaiki dan mengembangkan proses pembelajaran yang lebih efektif. Pembahasan Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Metode Moving Class dalam Pembelajaran Sosiologi pada Konteks Kurikulum Merdeka di SMAN 4 Makassar Penerapan metode Moving Class sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di SMAN 4 Makassar sejalan dengan arahan Kurikulum Merdeka menandakan komitmen SMAN 4 Makassar dalam menyajikan pendekatan inovatif bagi siswa. Langkah tersebut memberikan peluang untuk memperkaya pengalaman belajar siswa dengan melibatkan mereka secara aktif dalam proses Namun, kesuksesan penerapan metode Moving Class tidak seperti membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, faktor pendukung dan penghambat memainkan peran penting dalam perjalanan penerapan metode Moving Class pada pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar. Faktor Pendukung Regulasi Sekolah Regulasi sekolah yang mendukung memiliki peran vital dalam memperkuat penerapan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar. Dengan regulasi yang terstruktur dan komprehensif. SMAN 4 Makassar memberikan fondasi yang kuat bagi guru dan siswa untuk mengadopsi metode Moving Class secara efektif. Pedoman yang jelas memastikan konsistensi dalam pelaksanaan Moving Class, sehingga memberi guru kesempatan untuk merencanakan pembelajaran dengan lebih teratur sesuai prinsip-prinsip yang ditetapkan. Selain itu, regulasi sekolah memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran. Aturan yang jelas memungkinkan interaksi yang lancar antara guru, siswa, staf administrasi, dan pihak terkait lainnya, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kolaborasi dan pertukaran ide. Peran pengawasan yang dimainkan oleh regulasi sekolah juga Dengan evaluasi dan monitoring teratur, potensi masalah dalam implementasi metode Moving Class dapat diidentifikasi dan ditangani dengan cepat, menjaga agar proses pembelajaran tetap optimal. Regulasi sekolah memberikan pedoman tentang ekspektasi bagi guru dan siswa, menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur. Dengan pemahaman yang jelas tentang prosedur dan ekspektasi, guru dan siswa dapat fokus pada pembelajaran tanpa terganggu oleh ketidakpastian. Standar kualitas yang ditetapkan oleh regulasi sekolah di SMAN 4 Makassar memastikan bahwa metode Moving Class diterapkan dengan baik. Ini menciptakan akuntabilitas bagi semua Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 pihak yang terlibat, sambil memberikan panduan tentang pengaturan waktu yang tepat selama perpindahan kelas, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Regulasi juga memfasilitasi umpan balik berkelanjutan dari guru dan siswa, mendukung perkembangan metode Moving Class. Selain itu, regulasi sekolah bisa menjadi sarana untuk mempromosikan budaya pembelajaran inklusif dan kolaboratif, serta menjadi sumber inspirasi bagi guru untuk meningkatkan praktik pembelajaran Dengan demikian, regulasi sekolah yang mendukung membentuk fondasi yang kokoh bagi keberhasilan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar, menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, progresif, dan berorientasi pada inovasi. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu dari Surahman . bahwa metode Moving Class tidak selamanya berjalan dengan lancar olah karena itu cara untuk mensukseskan Moving Class yaitu membuat regulasi sekolah. Penerapan Pelatihan Guru Pelatihan guru menjadi pilar utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMAN 4 Makassar, terutama dalam konteks penerapan metode Moving Class. Dalam proses pelatihan ini, guru tidak hanya diberikan pemahaman mendalam tentang konsep dan praktik metode Moving Class, tetapi juga dibekali dengan keterampilan teknis dan strategis untuk menjadi fasilitator pembelajaran yang efektif. Fokus pelatihan tidak hanya terbatas pada aspek teknis, tetapi juga menekankan kreativitas dalam menyampaikan materi pembelajaran. Pentingnya pelatihan guru tercermin dalam upayanya untuk mengelola kelas secara dinamis dan mendorong diskusi yang memfasilitasi interaksi antar siswa. Dengan memahami cara optimal memanfaatkan ruang kelas, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Mereka juga dilatih untuk mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul, seperti manajemen waktu dan pengelolaan interaksi siswa. Keunggulan dari pelatihan guru terletak pada kesempatan untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam menerapkan metode Moving Class. Melalui diskusi dan kolaborasi antar sesama guru, mereka dapat mendapatkan inspirasi dan dukungan dalam menghadapi tantangan. Selain itu, pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan siswa juga menjadi fokus penting dalam pelatihan ini. Penerapan pelatihan guru juga memberikan penekanan pada pengembangan keterampilan kreatif dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran sangatlah penting. Guru perlu mampu merancang aktivitas yang menarik dan bervariasi untuk mempertahankan minat Pelatihan juga menjadi momen penting untuk membangun kohesi dan kolaborasi di antara staf pengajar, melalui saling berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, pelatihan guru bukan hanya tentang pengembangan individu, tetapi juga tentang membangun komunitas pembelajaran yang dinamis di SMAN 4 Makassar. Faktor Penghambat Sarana dan Prasarana Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar menawarkan pendekatan inovatif yang bertujuan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Metode ini mengubah paradigma pembelajaran dengan menciptakan lingkungan yang dinamis dan interaktif, di mana siswa dan guru berpindah-pindah ruangan sesuai dengan materi yang dipelajari. Dukungan penuh dari sekolah terhadap metode ini menunjukkan komitmen untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran siswa. Meskipun demikian, implementasi metode Moving Class dihadapkan pada beberapa faktor penghambat, terutama terkait dengan minimnya sarana dan Salah satu kendala utama adalah ketidaksesuaian ruangan dengan karakteristik mata pelajaran sosiologi, yang memengaruhi efektivitas pembelajaran. Ruangan yang belum sesuai dapat mengganggu proses pembelajaran dan membatasi kemampuan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Selain itu, adanya kebutuhan ruangan yang harus digunakan secara bergantian atau bahkan digunakan oleh mata pelajaran lain juga menjadi kendala serius. Hal ini mengakibatkan siswa dan guru harus beradaptasi dengan kondisi ruang yang mungkin tidak selalu sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sosiologi. Kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi siswa dan mempengaruhi efektivitas proses belajar mengajar. Pemahaman siswa tentang pentingnya lingkungan pembelajaran yang kondusif juga menjadi faktor penting dalam mengevaluasi efektivitas metode Moving Class. Beberapa siswa menyatakan ketidaknyamanan mereka karena ruangan yang digunakan juga oleh mata pelajaran lain, mengganggu fokus dan semangat belajar mereka. Kesadaran atas pentingnya alokasi ruangan yang lebih baik untuk setiap mata pelajaran menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Jika dikorelasikan dengan penelitian terdahulu ditemukan hasil yang sejalan yang ditemukan oleh Widiasworo E . dan Zuhrian . bahwa metode Moving Class merupakan kegiatan yang full activity maka sarana dan prasarana harus yang memadai serta kelangkapan ruang kelas dan media pembelajaran juga harus memadai bahkan setiap ruangan harus memiliki kelengkapan media pembelajaran dan alat yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran yang diampunya. Hal inilah yang membuat metode Moving Class membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Ketidakdisiplinan Siswa Dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran yang inovatif menjadi sorotan penting dalam upaya meningkatkan efektivitas dan kualitas proses belajar mengajar. Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah metode Moving Class, yang mengusung konsep interaktif dalam Namun, dalam konteks pembelajaran di SMAN 4 Makassar, penerapan metode Moving Class seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama terkait dengan tingkat ketidaksiplinan siswa. Salah satu faktor penghambat dalam penerapan metode Moving Class adalah tingkat ketidaksiplinan siswa, yang tercermin dalam kebiasaan bolos saat perpindahan kelas. Siswa yang tidak disiplin cenderung tidak memanfaatkan waktu perpindahan kelas dengan baik dan bahkan tidak hadir sama sekali saat proses perpindahan kelas berlangsung. Hal ini tidak hanya mengganggu alur pembelajaran, tetapi juga mengurangi efektivitas metode Moving Class dalam menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis dan interaktif. Tingkat ketidaksiplinan siswa juga tercermin dalam kebiasaan nongkrong di kantin selama proses perpindahan kelas. Siswa yang tidak mematuhi aturan atau tidak memiliki kesadaran akan pentingnya kehadiran dan partisipasi dalam proses pembelajaran cenderung mencari cara-cara untuk menghindari kelas, termasuk dengan nongkrong di tempat-tempat seperti kantin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tantangan ketidakdisiplinan siswa yang dihadapi dalam penerapan metode Moving Class di SMAN 4 Makassar mencerminkan beberapa kekurangan yang telah diidentifikasi oleh Djola . , seperti proses perpindahan ruangan yang memakan waktu dan kesulitan dalam mengawasi kehadiran siswa. Dampak Penerapan Metode Moving Class dalam Pembelajaran Sosiologi pada Konteks Kurikulum Merdeka di SMAN 4 Makassar Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar menekankan pengembangan kreativitas dan kemandirian siswa sesuai dengan era Kurikulum Merdeka, metode Moving Class menjanjikan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh. Melalui partisipasi dan interaktif dalam menjelajahi lingkungan pembelajaran, siswa tidak hanya duduk diam di dalam kelas, tetapi mereka juga terlibat secara langsung dalam proses belajar. Dampak positifnya mencakup peningkatan kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial, serta meningkatkan motivasi belajar dan prestasi siswa. Sementara itu penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosisologi juga memiliki dampak negatif seperti peningkatan peluang siswa untuk membolos lebih besar dan terpotongnya waktu yang digunakan dalam perpindahan kelas. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Melatih Kemandirian. Kerjasama, dan Kepedulian Sosial Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan siswa di berbagai aspek. Salah satu dampak utamanya adalah peningkatan kemandirian siswa dalam memecahkan masalah. Dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran aktif dan interaktif, metode Moving Class mendorong mereka untuk mencari solusi secara mandiri, sehingga meningkatkan kemampuan problem-solving mereka. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai materi secara pasif, tetapi juga memiliki keterampilan yang berguna dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, metode Moving Class juga memperkuat kerjasama antar siswa. Melalui tugas-tugas kelompok dan diskusi kelas, siswa belajar bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka tentang materi, tetapi juga membentuk keterampilan kolaboratif yang penting dalam lingkungan kerja dan sosial di masa depan. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar untuk menjadi individu yang mandiri, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim dengan efektif. Selanjutnya, penerapan metode Moving Class juga membawa dampak positif dalam membentuk rasa peduli terhadap sesama di antara siswa. Melalui interaksi dalam pembelajaran, siswa belajar untuk menghargai dan memperhatikan kebutuhan serta perasaan orang lain. Mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi teman-teman mereka dan bersedia memberikan dukungan saat diperlukan. Hal ini menciptakan iklim sosial yang hangat dan mendukung di kelas, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung oleh temantemannya. Jika dikorelasikan dengan penelitian terdahulu maka terdapat kesamaan dengan penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar di mana. Sumindar dkk . menunjukkan bahwa penerapan metode Moving Class dalam mata pelajaran seni budaya juga menghasilkan peningkatan kemandirian siswa, yang sejalan dengan temuan pada penerapan di SMAN 4 Makassar yaitu Melatih Kemandirian. Kerjasama, dan Kepedulian Sosial. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar telah membawa dampak yang signifikan bagi siswa. Langkah ini menghadirkan interaksi antara siswa. Dalam proses ini, siswa tidak lagi menjadi penonton pasif dalam ruang kelas, melainkan menjadi bagian integral dari pengalaman belajar. Partisipasi aktif ini menciptakan pengalaman yang lebih berarti bagi siswa, yang tidak hanya menerima informasi dari guru tetapi juga berkontribusi secara langsung dalam membangun pengetahuan mereka sendiri. Dengan demikian, mereka tidak merasa terjebak dalam kebosanan atau monoton seperti yang mungkin terjadi dalam metode tradisional yang hanya menekankan pada peran guru sebagai sumber utama informasi. Penggunaan metode Moving Class juga menciptakan atmosfer pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif di ruang kelas. Dengan berpindah-pindah antara tempat duduk, siswa di SMAN 4 Makassar memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai teman sekelas dan berbagai sudut ruangan, yang mengurangi rasa kaku yang mungkin terjadi dalam pengaturan kelas yang statis. Hal ini menciptakan ruang bagi siswa untuk merasa lebih nyaman dalam menyatakan pendapat mereka, bertanya, berdiskusi, dan bereksplorasi secara aktif. Dalam lingkungan yang mendukung ini, siswa merasa lebih dihargai dan didorong untuk mengembangkan pemikiran kritis mereka. Teori struktural fungsional Talcott Parsons dalam Ritzer . , yang dikenal dengan skema AGIL, dapat memberikan pandangan yang menarik tentang dampak metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar. Pertama, dalam dimensi Adaptasi, metode ini senantiasa melakukan penyesuaian terhadap tuntutan pembelajaran yang berubah dengan cepat. Kedua, dalam dimensi Goal Attainment, metode ini membantu mencapai tujuan pendidikan dengan meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Selanjutnya, dalam dimensi Integrasi, metode ini memperkuat integrasi sosial di antara siswa dengan menciptakan kesempatan untuk kolaborasi dan interaksi yang lebih luas di dalam ruang kelas. Ini membantu membangun solidaritas dan kerjasama di antara siswa, yang merupakan aspek penting dari pembentukan sosial Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 mereka di sekolah. Terakhir, dalam dimensi Latensi, metode Moving Class menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menyenangkan, serta meningkatkan rasa nyaman dalam menghadapi tantangan pembelajaran. Terjadinya Interaksi Sosial Antar Siswa Ketika Perpindahan Kelas Penerapan metode Moving Class dalam konteks Kurikulum Merdeka di SMAN 4 Makassar telah membawa dampak yang signifikan dalam transformasi pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sosiologi seperti terjadinya interaksi sosial antar siswa ketika terjadi perpindahan ruang pembelajaran. Hal ini membuat siswa untuk tidak hanya menjadi penerima pasif informasi, tetapi juga aktif terlibat dalam proses pembelajaran melalui diskusi dan kolaborasi. Dampak positif ini terlihat dari observasi serta pendapat dari para siswa seperti Muh Afsal. Febriansyah, dan Jane Astianti yang menyatakan bahwa metode Moving Class membuat mereka lebih berkolaborasi, memahami materi dengan lebih baik, dan melihat relevansi pembelajaran dengan kehidupan seharihari. Pendapat dari para siswa tersebut sejalan dengan temuan penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Sumindar dkk . mengenai metode pembelajaran Moving Class dalam mata pelajaran seni budaya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode ini tidak hanya meningkatkan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga membantu dalam pembangunan karakter siswa, terutama dalam aspek kemandirian. Dalam konteks pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar, hal ini juga terlihat dari testimoni para siswa yang lebih aktif dan mandiri dalam proses Selanjutnya, penelitian Ana Fitra dkk . menyoroti pengaruh sistem pembelajaran Moving Class terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sistem ini efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, yang juga sejalan dengan pengalaman siswa di SMAN 4 Makassar dalam pembelajaran sosiologi. Mereka merasa lebih termotivasi dan antusias dalam belajar karena berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Nur Azizah dkk . mengenai pengaruh pelaksanaan Moving Class terhadap peningkatan hasil belajar ekonomi juga relevan dengan konteks pembelajaran sosiologi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa, yang sejalan dengan temuan bahwa metode Moving Class di SMAN 4 Makassar telah berhasil meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran sosiologi. Kemudian, penelitian Picha . mengenai penerapan Moving Class terhadap hasil belajar geografi juga mendukung argumen bahwa metode ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik penerapan Moving Class, maka semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh oleh siswa, yang juga relevan dengan pengalaman siswa di SMAN 4 Makassar dalam pembelajaran sosiologi. Pengembangan Keterampilan Sosial Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar memberikan pijakan yang kokoh untuk pengembangan keterampilan sosial siswa. Pengembangan keterampilan sosial bukan sekadar menjadi tambahan, melainkan menjadi aspek integral dalam proses pembelajaran. Dengan interaksi langsung antara siswa dan guru serta sesama siswa, metode Moving Class ini menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif. Salah satu aspek kunci dari pengembangan keterampilan sosial dalam metode Moving Class adalah kemampuan berkomunikasi. Siswa diajak untuk berbicara, mendengarkan, dan memahami sudut pandang orang lain. Ini bukan hanya berlaku dalam konteks akademis, tetapi juga mencakup keterampilan komunikasi interpersonal yang penting dalam kehidupan sehari-hari para Selain itu, kerja sama juga menjadi fokus utama dalam metode Moving Class. Melalui kegiatan yang melibatkan kerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok, siswa belajar untuk bekerja bersama-sama, menghargai kontribusi masing-masing, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Kemampuan ini tidak hanya bermanfaat di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi modal berharga dalam karir dan kehidupan bermasyarakat di masa depan untuk siswa di SMAN 4 Makassar. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan sosial juga berdampak pada kemampuan empati siswa. Dengan terlibat langsung dalam interaksi antarindividu, siswa menjadi lebih peka terhadap perasaan dan perspektif orang lain. Mereka belajar untuk menghargai keberagaman dan memahami kompleksitas hubungan sosial dalam masyarakat. Selain itu, metode Moving Class juga menciptakan kesempatan bagi siswa untuk memperluas jaringan sosial mereka. Dalam lingkungan belajar yang inklusif dan kolaboratif, siswa di SMAN 4 Makassar memiliki kesempatan untuk menjalin hubungan yang positif dengan teman sekelas dan Ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan sosial siswa, tetapi juga membantu mereka membangun koneksi yang sangat berharga. Tidak hanya itu, melalui interaksi langsung dengan sesama dan guru, siswa juga belajar untuk menghargai keragaman budaya. Mereka diperkenalkan dengan beragam latar belakang dan pengalaman hidup, yang memperluas wawasan mereka tentang dunia dan membantu mereka menjadi individu yang lebih toleran dan terbuka terhadap perbedaan. Jika dikorelasikan dengan penelitian terdahulu maka terdapat beberapa temuan yang secara konseptual sejalan dengan penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar. Pertama, penelitian Sumindar dkk . menyoroti pengembangan kemandirian siswa melalui metode pembelajaran Moving Class pada mata pelajaran seni budaya. Implikasi ini sejalan dengan konsep pengembangan keterampilan sosial dalam konteks Moving Class, di mana interaksi langsung antara siswa dan guru, serta kerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok, tidak hanya meningkatkan keterampilan sosial tetapi juga membangun karakter siswa, termasuk Selanjutnya, penelitian Ana Fitra dkk . menyoroti pengaruh sistem pembelajaran Moving Class terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah. Temuan ini juga mendukung gagasan bahwa metode Moving Class menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan mendorong partisipasi aktif siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar. Kebebasan Memilih Tempat Duduk Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar menunjukkan dampak positif yang signifikan terhadap interaksi aktif antara siswa dalam proses Salah satu faktor kunci yang mendukung keberhasilan metode ini adalah kebebasan bagi siswa untuk memilih tempat duduk. Dengan memberikan kebebasan ini, suasana kelas menjadi lebih lebih nyaman dan terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kemampuan siswa untuk memilih tempat duduk sesuai dengan preferensi pribadi dan gaya belajar mereka membuat mereka lebih fokus dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi yang diajarkan oleh guru Dengan adanya kebebasan memilih tempat duduk, siswa memiliki kontrol lebih besar atas lingkungan belajar mereka. Mereka dapat memilih tempat yang mereka anggap paling nyaman dan menginspirasi untuk belajar, baik itu dekat dengan papan tulis, di kelompok dengan teman-teman tertentu, atau di tempat yang lebih tenang. Hal ini membantu meningkatkan konsentrasi dan minat siswa terhadap pembelajaran sosiologi. Selain itu, kebebasan memilih tempat duduk juga menciptakan suasana kelas yang interaktif. Dengan siswa tersebar di seluruh ruang kelas, interaksi antar siswa menjadi lebih mudah terjadi. Mereka dapat saling bertukar pendapat, bertanya, atau membantu satu sama lain tanpa terkendala oleh batasan tempat duduk yang tetap. Hal ini memperkaya pengalaman belajar siswa dan memungkinkan mereka untuk belajar tidak hanya dari guru, tetapi juga dari sesama mereka. Selanjutnya, kebebasan memilih tempat duduk juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka. Dengan berpindah-pindah tempat duduk dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya, siswa dapat berinteraksi dengan beragam teman sekelas dan memperluas jaringan sosial mereka. Mereka belajar untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan menghargai perbedaan pandangan dengan orang lain, keterampilan yang sangat berharga dalam kehidupan sehari-hari siswa di SMAN 4 Makassar. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Peluang Siswa untuk Membolos Lebih Besar Penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran Sosiologi di SMAN 4 Makassar mencerminkan upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui inovasi pembelajaran yang lebih interaktif. Konsep perpindahan kelas memberikan suasana pembelajaran yang dinamis dan memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan beragam materi dan teman sekelas. Namun, dampak negatif yang muncul, seperti peluang siswa untuk membolos, tidak bisa diabaikan. Terdapat kesadaran yang kuat dari pihak sekolah akan potensi ini, sebagaimana tercermin dari pernyataan Muhammad Yusuf bahwa rapat-rapat telah dilakukan untuk merancang strategi mengatasi masalah Dari perspektif siswa, beberapa ungkapan menyoroti realitas bahwa sebagian dari mereka memanfaatkan perpindahan kelas sebagai kesempatan untuk tidak hadir, terutama saat mereka merasa mata pelajaran selanjutnya kurang penting bagi mereka. Pernyataan dari beberapa siswa, seperti Muh Afsal. Velesia. Nurhalisa Miswat. Jane Astianti, dan Ummu Kalsum, menegaskan bahwa beberapa teman memilih untuk membolos demi bersenang-senang di kantin atau di luar kelas. Meskipun demikian, pandangan dari Amalia dan Ikal Herlambang menunjukkan bahwa tidak semua siswa mengikuti arus tersebut. Beberapa siswa menolak ajakan untuk membolos dan kembali ke kelas masing-masing dengan kesadaran akan pentingnya kehadiran dalam proses pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa pendekatan individual dan pemahaman akan nilai pendidikan masih kuat di kalangan beberapa siswa. Tanggapan Ade Handayani, seorang guru sosiologi, menyoroti kompleksitas dalam mengelola metode Moving Class. Meskipun diakui bahwa metode ini memberikan kesan segar dalam pembelajaran, penting bagi guru untuk terus memantau kehadiran siswa dan mengantisipasi potensi masalah, termasuk ketidakdisiplinan siswa. Oleh karena itu, keputusan SMAN 4 Makassar untuk menerapkan metode Moving Class menunjukkan komitmen sekolah dalam berinovasi untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Namun, kesadaran akan risiko membolos menjadi fokus utama dalam perencanaan strategi sekolah. Melalui rapat-rapat dan kolaborasi antara pihak sekolah, guru, dan orang tua, sekolah berusaha untuk meminimalisir peluang siswa membolos dan menjaga disiplin siswa di lingkungan pembelajaran. Terpotongnya Waktu yang digunakan dalam Perpindahan Kelas Terpotongnya waktu yang digunakan dalam perpindahan kelas merupakan salah satu faktor penghambat yang perlu dipertimbangkan dalam penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi di SMAN 4 Makassar. Meskipun metode Moving Class bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan interaktivitas dalam proses belajar-mengajar, namun keterbatasan waktu yang terjadi saat perpindahan kelas dapat mengurangi efisiensi waktu yang tersedia untuk Perpindahan dari satu ruang kelas ke ruang kelas lainnya membutuhkan waktu yang signifikan, terutama jika lingkungan sekolah memiliki infrastruktur yang kompleks atau ruang kelas yang Hal ini dapat mengakibatkan waktu yang terpotong dan berkurangnya waktu yang seharusnya digunakan untuk proses pembelajaran langsung. Dampaknya, guru sosiologi dihadapkan pada tantangan untuk mengelola waktu dengan lebih efisien agar dapat menyelesaikan materi pembelajaran sesuai rencana. Keterbatasan waktu yang terpotong secara langsung juga memengaruhi fleksibilitas guru sosiologi dalam mengembangkan materi pembelajaran yang lebih kreatif dan mendalam. Sehingga dalam situasi terbatas ini, guru terpaksa memotong atau mempercepat materi pembelajaran untuk memastikan bahwa semua materi dapat ditangani dalam waktu yang terbatas. Selain itu, terpotongnya waktu dapat pula memengaruhi alur pembelajaran yang Guru sosiologi harus mengurangi waktu untuk diskusi, kegiatan kelompok, atau pengajaran langsung, yang merupakan komponen penting dalam metode Moving Class. Sehingga hal ini dapat mengurangi interaktivitas dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, karena waktu yang terpotong mengarah pada pembelajaran yang lebih terfokus pada penyampaian materi. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Berdasarkan pandangan Djola . mengenai kelebihan dan kekurangan metode Moving Class, secara langsung berkorelasi dengan masalah terpotongnya waktu dalam perpindahan kelas. Perpindahan kelas yang memakan waktu dapat mengganggu alur pembelajaran yang direncanakan dan mengurangi efektivitas waktu yang tersedia untuk proses pembelajaran langsung. Dampaknya, guru mungkin terpaksa mempercepat atau memotong materi pembelajaran untuk menyesuaikan dengan waktu yang tersedia, sehingga mengorbankan kedalaman dan kualitas pembelajaran yang KESIMPULAN Gambaran penerapan metode Moving Calss di SMAN 4 Makassar memiliki langkah-langkah yang sangat terstruktur sehingga menjadi kunci utama dalam mensukseskan proses pembelajaran yang dimulai pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Selanjutnya, faktor pendukung dan penghambat penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi. Faktor pendukung yaitu regulasi sekolah dan penerapan pelatihan guru demi meningkatkan keterampilan guru dalam pelaksanaan metode Moving Class. Sedangkan, faktor penghambatnya adalah sarana dan prasana, dimana dalam proses pembelajaran sosiologi belum sesuai dengan karakteristik mata pelajaran serta siswa yang belum bisa dikondisikan seperti ketidakdisiplinan siswa. Adapun dampak penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosiologi yaitu berdampak positif mencakup peningkatan kemandirian, kerjasama, dan kepedulian sosial, meningkatkan motivasi belajar siswa, terjadinya interaksi sosial ketika perpindahan kelas, pengembangan keterampilan sosial dan kebebasan memilih tempat duduk. Sementara itu penerapan metode Moving Class dalam pembelajaran sosisologi juga memiliki dampak negatif seperti peluang siswa untuk membolos lebih besar dan terpotongnya waktu yang digunakan ketika perpindahan kelas. DAFTAR PUSTAKA