Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Pengembangan Nilai Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah MTs Hidayatullah Kecamatan Pringsurat Kabupaten Temanggung Fatkhur Rohman Program Studi Pendidikan Agama Islam. Pascasarjana Universitas Islam Negeri Salatiga fatkhurrohamn1406@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan nilai moderasi beragama di MTs Hidayatullah. Kecamatan Pringsurat. Kabupaten Temanggung, serta mengidentifikasi tantangan dalam pengembangan nilai moderasi beragama serta strategi dan upaya dalam menanamkan nilai moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penelitian lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Subjek dari penelitian ini adalah Kepala Sekolah. Waka Kurikulum. Waka Kesiswaan. Pendidik Pendidikan Agama Siswa MTs Hidayatullah Kecamatan Pringsurat Kabupaten Temanggung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa moderasi beragama yang berlandaskan prinsip wasathiyah . alan tenga. , tawazun . , dan iAotidal . menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter peserta didik, mencegah ekstremisme, serta menanggulangi berbagai krisis moral seperti kekerasan dan cyber crime. Upaya ini ditopang oleh payung hukum yang kuat, seperti UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dan Perpres No. Tahun 2023 tentang Penguatan Moderasi Beragama. Implementasinya dilakukan secara holistik melalui lima jalur utama yaitu integrasi kurikulum . enyisipan nilai moderasi dalam PAI. SKI, dan mata pelajaran lain serta penguatan P5RA), kebijakan dan kepemimpinan . isimisi yang menegaskan tolerans. , penguatan pendidik . deologi moderat, profesionalisme, dan keteladana. , budaya sekolah . klim inklusif dan anti-diskriminas. , serta kegiatan ekstrakurikuler . ramuka dan OSIS sebagai media pembentukan nasionalisme dan keterampilan sosia. Meskipun demikian, implementasi moderasi beragama di sekolah menghadapi tantangan internal seperti pembelajaran yang masih bersifat teoretis dan resistensi pendidik, serta tantangan eksternal berupa pengaruh media digital yang tidak terfilter dan lingkungan sosial yang eksklusif. Oleh karena itu, strategi pengembangan moderasi beragama perlu dilakukan secara terpadu, berkelanjutan, dan partisipatif untuk membentuk siswayang toleran, religius, dan berwawasan kebangsaan. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Wasathiyah. Pendidikan Islam. Karakter Peserta Didik PENDAHULUAN Negara Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman. Tidak hanya hanya keragaman agama, tetapi juga keragaman ras, suku, dan budaya. Keragaman ini mendorong Indonesia untuk selalu menjunjung keadilan sosial, keamanan dan kerukunan antar umat Konsep moderasi yang ditekankan menjadi langkah untuk menyeimbangkan, memberikan keadilan, dan rasa kasih sayang dalam konteks beragama, serta menjaga stabiltas nasional agar terhindar dari perilaku ekstrem dan membahayakan. Penguatan moderasi beragama menjadi kepentingan nasional yang selalu dikawal penuh tanpa terkecuali di lembaga pendidikan, termasuk sekolah di berbagai tingkatan. Hal ini berkaitan erat dengan sekolah yang menjadi salah satu lembaga strategis yang menjadi tempat untuk pembentukan karakter generasi muda serta menanamkan nilai-nilai moderasi bergama (Aluf dkk. , 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penanaman moderasi beragama sejak dini ini menjadi salah satu langkah preventif dalam menanggulangi maraknya kasus pelajar yang terjerat kasus pembulian, kekerasan, cyber crime dan berbagai kasus yang mengancam keselamatan pribadi dan kelompok (Putri & Nurmal, 2. Pengembangan nilai-nilai moderasi di lingkungan sekolah diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar dan program sekolah lainnya, seperti diintegrasikan dalam mata pelajaran, program ekstrakurikuler dan intrakurikuler, pembiasan budaya positif di sekolah dan program lainnya yang mendukung penerapan nilai-nilai moderasi beragama. Tentu dalam melaksanakan seluruh rangkaian pembelajaran dan program ini membutuhkan banyak sarana dan prasarana yang memadahi latar belakang siswa yang beranekaragam (Albana, 2. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk membentuk individu yang berkarakter dan berakhlak mulia, tetapi juga untuk memperkuat tatanan kebangsaan dengan adanya kesadaran terhadap pentingnya toleransi sehingga akan tercipta masyarakat yang damai dan berperadaban tinggi. Dengan adanya hal tersebut, perlu adanya strategi yang tepat dan tentunya sistematis agar internalisas nilai-nilai moderasi beragama dapat tercapai dengan baik dan kuat pada diri peserta didik. Moderasi beragama menjadi hal penting dalam konteks pendidikan di Indonesia yang multikultural dan majemuk. MTs Hidayatullah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam berupaya menginternalisasi nilai moderasi beragama untuk menumbuhkan sikap toleran, inklusif, dan bertanggung jawab di kalangan siswa. Artikel ini mengkaji konsep, urgensi, strategi, dan tantangan pengembangan nilai moderasi beragama melalui pendekatan penelitian kualitatif di MTs Hidayatullah. METODE Artikel ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan penelitian lapangan. Penelitian kualitatif adalah pendekatan dalam melakukan penelitian yang menitikberatkan pada peristiwa atau gejala yang bersifat alami. Penelitian kualitatif bersifat fundamental dan naturalististik, serta harus dilakukan di lapangan (Yusanto, 2. Penelitian kualitatif menurut pendapat Bog dan Tailor yang dikutip oleh (Dita, 2. dalam penelitianya mengartikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan perilaku yang dapat diamati. Data-data tertulis atau lisan tersebut berupa hasil observasi penulis dan hasil wawancara penulis kepada subjek penelitian tersebut. Tujuan peneliti menerapkan metode kualitatif pada penelitian ini yaitu untuk menemukan serta menafsirkan fenomena yang terjadi di lingkungan sekolah terutama untuk mendeskripsikan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan pengembangan nilai moderasi beragama di lingkungan MTs Hidayatullah Kecamatan Pringsurat. Kabupaten Temanggung secara mendalam. Data yang didapatkan dari penelitian ini berbentuk kata-kata yang berasal dari laporan sehingga, dapat melihat langsung keadaan secara langsung dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap fokus yang diteliti meliputi bagaimana bentuk pengembangan nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah Mts Hidayatullah. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Nilai Moderasi Beragama dalam Konteks Pendidikan Menurut definisi yang diberikan oleh Kementerian Agama dalam buku panduan resminya, moderasi beragama sebagai sebuah konsep dimaknai dengan keyakinan kokoh terhadap esensi ajaran agama yang dianut, sekaligus menunjukkan kesediaan untuk berbagi kebenaran, khususnya dalam ranah tafsir keagamaan. Hal ini berimplikasi pada sikap terbuka, penerimaan, dan sinergi antar kelompok agama yang berbeda. Secara etimologi, istilah moderasi berasal dari bahasa Latin moderytio . esedangan atau penguasaan dir. dan bahasa Inggris moderation . ata-rata, inti, baku, atau ketidakberpihaka. Secara umum, moderat menekankan pentingnya keseimbangan antara keyakinan, moral, dan perilaku (Kementerian Agama, 2. Dalam Agama Islam, moderasi dikenal dengan istilah wasath atau wasathiyah atau sama dengan tawassuth yang mempunyai arti tengah-tengah atau bisa dikatakan adil . Aotida. dan berimbang . (Maula, 2. Pengertian moderasi ini menekankan pada sikap berimbang yang tidak memihak antara ekstrem kanan dan kiri. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa wasathiyah adalah sifat pertengahan diantara dua sifat tercela. Seperti halnya sifat dermawan di antara sifat boros dan kikir. Karena sifat tengah-tengah tersebut sangat erat dengan kebaikan maka pelaku tersebut disebut dengan orang baik, karena selalu adil dalam memberikan sebuah kesaksian dan keadilan (Shihab, 2. Dengan hal ini, moderasi beragama perlu dipahami sebagai prinsip keseimbangan dialektis antara dimensi eksklusif . enguatan identitas dan pengamalan agama pribad. dan dimensi inklusif . enghargaan atas keberagaman dan praktik keagamaan pihak lai. Praktik beragama yang berimbang ini secara inheren menolak segala bentuk sikap ekstrem, fanatisme, dan revolusioner, sekaligus menawarkan resolusi terhadap polarisasi antara ultranasionalisme konservatif dan liberalisme tanpa batas (Mahendra, 2. Dalam konteks pendidikan, nilai moderasi beragama diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan. Bukti adanya integrasi tersebut yaitu dengan adanya unsur unsur yang mencakup tentang urgensi moderasi beragama, kerukunan antar umat beragama, serta adanya penghargaan terhadap sebuah Nilai-nilai moderasi tersebut kemudian diinternaslisasikan oleh siswayang merupakan bagian dari pendidikan karakter. Adapun yang termasuk nilai-nilai moderasi sebagai berikut: Komitmen kebangsaan Nilai ini menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai inspirasi yang berkontribusi pada menjaga persatuan bangsa, sejalan dengan komitmen untuk setia dan menghormati dasar-dasar negara, yakni Pancasila. UUD 1945, dan NKRI. Toleransi . Nilai ini diwujudkan melalui sikap toleransi, yaitu menghormati berbagai pandangan, keyakinan, dan cara ibadah penganut agama lain. Hal terpenting adalah memberikan kebebasan dan ruang bagi mereka untuk menjalankan keyakinannya tanpa ada pemaksaan (Sihombing et al. , 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Anti kekerasan Nilai ini mewajibkan adanya penolakan terhadap kekerasan, anarkisme, dan ekstremisme yang dilakukan atas dasar agama. Dengan kata lain, agama harus diposisikan sebagai sumber utama kedamaian, bukan konflik (Suprianto, 2. Akomodasi terhadap budaya lokal Sikap menerima dan menghargai tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama. Agama menyatu dengan budaya (Faiz, 2. Dalam bukunya. Quraish Shihab . menyampaikan bahwa ada tiga prinsip wasathiyah yaitu keseimbangan . , keadailan (Aoadala. dan keutamaan . Sedangkan beliau juga menyebutkan ada sembilan nilai moderasi beragama yaitu sikap tengah . , adil (Aoad. , toleran . , musyawarah . , perbaikan . , teladan . , cinta tanah air . ubbul watha. , non-kekerasan . a Aoun. , serta ramah budaya . Meskipun menuai banyak tantangan dalam proses internalisasi nilai-nilai tersebut, tetapi berbagai upaya dilakukan oleh lembaga pendidikan agar terciptanya pembelajaran dan pengajaran yang berlandas kebangsaan, pluralis dan multikultural (Wahidah & Kasidi, 2. Dasar hukum pegembangan nilai-nilai moderasi beragama di MTs Hidayatullah, yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. menetapkan bahwa fungsi utama pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi individu, membentuk watak, dan membangun peradaban bangsa yang bermartabat demi mencerdaskan kehidupan seluruh rakyat. Secara rinci tujuan pendidikan Indonesia adalah . mencetak siswamenjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, . memiliki akhlak mulia, . menjadi individu yang sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri, . menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Nilai-nilai moderasi beragama memiliki keselarasan erat dengan tujuan dari pendidikan Indonesia, terutama dalam hal mencetak indivudu atau siswayang berakhlak mulia dan warga negara yang bertanggung jawab di tengah kondisi masyarakat yang majemuk (Undang-Undang Sisdiknas, 2. Tantangan Pengembangan Nilai-Nilai Moderasi Beragama di Lingkungan MTs Hidayatullah Tantangan pengembangan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan MTs Hidayatullah salah satunya ada pada internal sekolah dan kurikulum yaitu: Implementasi yang bersifat tekstual dan top down Nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah sering kali mengalami kesenjangan antara teori dan praktik di dalam kelas MTs Hidayatullah. Penyampaiannya, khususnya dalam PAI, cenderung terhenti pada level konsep kognitif yang diukur melalui nilai mata pelajaran, bukan pada penerapan nyata dalam perilaku siswa sehari-hari. Implementasi ini bersifat instruktif dari atasan . op-dow. dan kurang menekankan aspek aplikatif (Pabbajah et al. , 2. Keterbatasan Integrasi dan Budaya Sekolah dengan Materi Moderasi Beragama Keterbatasan integrasi dan budaya sekolah materi moderasi beragama sering kali kurang terintegrasi secara holistik dengan budaya, tradisi, dan aktivitas sehari-hari di mts Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Hal ini menyebabkan nilai-nilai tersebut kurang melekat pada perilaku siswa (Pabbajah et al. , 2. Resistensi dari guru dan tenaga pendidik Adanya resistensi atau penolakan dari sebagian kelompok guru atau staf yang belum sepenuhnya memahami atau meyakini pentingnya moderasi beragama, yang diperkuat dengan kurangnya pelatihan yang memadai bagi para pendidik (Raharjo & Miftahuddin, 2024. Munif et al. , 2. Kesenjangan teori dan praktik siswa Terkadang, perilaku dan sikap siswa di lingkungan MTs Hidayatullah belum sepenuhnya mencerminkan ajaran moderasi yang telah diajarkan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman teoritis dengan praktik nyata di lapangan (Hadirman, 2. Selain dari internal sekolah dan kurikulum adapun dari sisi ekternal dan sosial kultural Pengaruh media digital dan informasi tidak terfilter Perkembangan teknologi informasi yang cepat dan arus informasi yang tidak terfilter . ermasuk konten keagamaan yang eksklusif atau ekstre. di media sosial sangat memengaruhi persepsi dan cara pandang siswa MTs Hidayatullah terhadap ajaran agama, yang berpotensi mendorong sikap yang intoleran (Subiantoro, 2. Pengaruh lingkungan sosial dan latar belakang siswa MTs Hidayatullah Perilaku dan sikap siswa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat mereka berasal, yang terkadang bertentangan dengan nilai inklusif moderasi beragama. Dalam konteks sekolah yang majemuk, siswa minoritas sering kali merasa terpinggirkan (Hadirman, 2024. Munif et al. , 2. Munculnya sikap eksklusif dan ekstrimisme Sekolah harus berjuang menanamkan nilai-nilai toleran dan inklusif di tengah pandangan keagamaan yang ekstrem dan eksklusif yang berpotensi merusak sendi kebangsaan (Yanto, et al, 2. Strategi dan Upaya dalam Menanamkan Nilai Moderasi Beragama di Lingkungan MTs Hidayatullah Integrasi kurikulum . onten insertio. Strategi ini menjadi landasan utama dalam mengintegrasikan dan memadukan nilainilai moderasi beragama dalam materi pembelajaran. Seperti misalnya, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu beralih dari model pembelajaran yang eksklusif menjadi inklusif. Perubahan ini diwujudkan dengan menyisipkan nilai-nilai Moderasi Beragama ke dalam materi seperti Akidah Akhlak. Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), menekankan pada prinsip toleransi (Tasamu. dan anti-kekerasan . l-la 'un. (Kemenag, 2019. Abidin & Fitriana. Kemudian, untuk menanamkan moderasi beragama, nilainya perlu diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, tidak terbatas pada PAI/PPKn saja. Contohnya adalah pemanfaatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan lil AoAlamin (P5RA) sebagai sarana untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan menghargai keberagaman (Muttaqin, 2. Selain itu, metode pembelajaran harus dioptimalkan untuk Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 memicu dialog interaktif dan pemikiran kritis, misalnya melalui teknik problem-solving dan Tujuannya adalah melatih siswa untuk menghargai perbedaan pandangan dan mengembangkan sikap demokratis (Ariyanto, 2014. Baroroh, 2. Kebijakan dan kepemimpinan sekolah . hole-school polic. Berbagai hal yang menjadi aturan dan pedoman dan penyelenggaraan kegiatan di sekolah, itu semua tidak terlepas dari kebijakan sekolah. Kebijakan sekolah menjadi sebuah aturan formal dan mengikat bagi seluruh warga sekolah. Sekolah perlu menetapkan visi, misi, dan motto yang secara jelas mencerminkan penguatan toleransi, kerukunan, dan sikap menghargai keberagaman. Penetapan ini merupakan langkah mendasar untuk membentuk moderasi beragama sebagai karakteristik atau jati diri sekolah (Ni'mah, 2020. Albana, 2. Visi dan misi sekolah harus dikomunikasikan secara luas . kepada semua pihak, termasuk siswa, guru, staf, dan masyarakat, sebagai upaya penting untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif dan harmonis (Ni'mah, 2. Penguatan pendidik . eacher empowermen. Pendidik menjadi kunci yang kuat dalam mendukung kesuksesan dalam pengintegrasian moderasi beragama. Sekolah juga wajib menjamin bahwa seluruh pengajar, khususnya guru agama dan pendidik lain, memiliki pandangan ideologis yang moderat. Langkah ini krusial untuk membendung infiltrasi paham ekstrem, terutama melalui kegiatan ekstrakurikuler (Albana, 2. Tidak hanya itu, untuk memastikan efektivitas penanaman moderasi beragama, guru harus secara rutin mengikuti program pengembangan profesional yang membahas substansi dan teknik pengajaran moderasi beragama. Ini penting agar guru memiliki wawasan yang memadai untuk menyelaraskan konten pembelajaran dengan pembentukan karakter siswa yang moderat (Sari dkk. , 2. Setelah itu, sesuai prinsip keteladanan . , guru bertanggung jawab menunjukkan dan mengamalkan nilai-nilai moderasi beragama melalui sikap adil dan inklusif dalam interaksi di sekolah, tanpa pernah membedakan siswa berdasarkan latar belakang apa pun (Azis, 2. Pembentukan budaya sekolah . chool cultur. Sekolah sebagai tempat untuk mendidik generasi muda harus membangun dan menciptakan budaya sekolah yang ramah lingkungan dan ramah terhadap keberagaman. Dan tentunya komitmen sekolah terhadap kerukunan dan moderasi harus termanifestasi secara jelas dalam visi, misi, dan mottonya. Komitmen ini diperkuat dengan adanya peraturan sekolah yang melarang segala bentuk diskriminasi keagamaan (Albana, 2. Untuk membangun budaya sekolah yang moderat perlu mengadakan kegiatan yang mempertemukan siswa dari berbagai latar belakang, seperti bakti sosial bersama, kunjungan edukasi ke rumah ibadah . engan pendampingan yang tepa. , atau general day yang bersifat inklusif (Hafiz, 2. Sekolah dapat menyelenggarakan forum diskusi dan kultum yang berfokus pada Moderasi Beragama. Selain itu, sekolah perlu menyediakan literatur dan buku bacaan yang mendorong pemikiran konstruktif dan mencegah pandangan yang meremehkan atau merendahkan keyakinan agama lain (Mustafa, 2. Kegiatan ekstrakurikuler . Nilai-nilai moderasi beragama hadir dan dinternalisasikan ke dalam berbagai macam ekstrakurikuler tidak hanya di bidang agama saja, tetapi juga melalui ekstrakurikuler yang Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Contoh yang paling konkrit adalah ekstrakurikuler pramuka. Melalui kegiatan praktis seperti kemah, gotong royong, dan upaya menumbuhkan rasa kebangsaan, pramuka terbukti menjadi sarana yang kuat untuk menanamkan moderasi beragama. Nilai-nilai inti moderasi beragama yang diperkuat di sini adalah nasionalisme dan penghargaan terhadap kebhinekaan (Ilham, 2. Ektrakurikuler lainnya adalah berbasis pengembangan keterampilan sosial. Ekstrakurikuler yang bersifat umum lainnya, seperti olahraga, seni, atau organisasi siswa (OSIS), sangat membantu siswadalam membangun keterampilan sosial . isalnya kepemimpinan, kerja sama, dan empat. Keterampilan ini berfungsi sebagai modal dasar yang diperlukan untuk mengembangkan sikap toleran (Tangahu & Muda, 2. KESIMPULAN Pengembangan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah merupakan sebuah kebutuhan mendesak di Indonesia, yang memiliki keragaman ras, suku, budaya, dan Moderasi beragama yang dipahami sebagai sikap jalan tengah . , keseimbangan . , dan keadilan . Aotida. menjadi langkah strategis untuk menanamkan karakter, mencegah ekstremisme, dan menanggulangi berbagai krisis moral pelajar seperti kekerasan dan cyber crime. Upaya ini berlandaskan pada dasar hukum yang kuat, seperti UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Perpres No. 58 Tahun 2023. Strategi implementasinya dilakukan secara holistik melalui lima jalur utama: . Integrasi kurikulum yaitu, menyisipkan nilai moderasi beragama ke dalam materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan mata pelajaran lain, termasuk melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan lil AoAlamin (P5RA). Kebijakan dan kepemimpinan yaitu menetapkan visi, misi, dan motto sekolah yang secara eksplisit mencerminkan toleransi dan . Penguatan pendidik dengan memastikan guru memiliki ideologi moderat, mendapatkan pengembangan profesional, dan menjadi teladan . Budaya sekolah dengan menciptakan iklim sekolah yang inklusif melalui peraturan anti-diskriminasi, dialog, dan penyediaan literatur moderat. Ekstrakurikuler dengan memanfaatkan kegiatan seperti pramuka untuk menanamkan nasionalisme dan OSIS untuk melatih keterampilan Meskipun demikian, implementasi ini menghadapi tantangan internal, seperti pembelajaran yang masih bersifat teoretis . op-dow. dan kurang praktis, minimnya integrasi dengan budaya sekolah, dan adanya resistensi dari pendidik. Tantangan eksternal meliputi pengaruh negatif media digital yang tidak terfilter dan paparan lingkungan sosial yang DAFTAR PUSTAKA