JURNAL VASTUKARA e-ISSN 2798-1703 Volume 2 No 1 Maret 2022 PENERAPAN LAYOUT MEBEL SISWA PADA INTERIOR KELAS DI SMA NEGERI 3 KABUPATEN TANGERANG Fitri Meliyani Rahayu1. Agus Dody Purnomo2 1,2Program Studi Desain Iinterior. Fakultas Industri Kreatif. Universitas Telkom E-mail : 1fitrimeliyanirhy@student. id, 2agusdody@telkomuniversity. Abstrak Penataan tempat duduk merupakan hal penting dalam pengelolaan ruang kelas. Pada umumnya di Indonesia masih menerapkan formasi tradisional yakni bangku disusun berbaris dari depan ke belakang. Sementara siswa menghabiskan waktu cukup lama dalam kegiatan belajar di kelas. Penerapan formasi tradisional, dirasa kurang ideal diterapkan dalam kegiatan belajar karena dianggap terlalu kaku dan tidak dapat mendukung segala kegiatan siswa di dalam kelas. Dengan banyaknya kebutuhan siswa di dalam ruangan, maka diperlukan adanya penataan tempat duduk yang variatif seperti formasi grup yang dapat memudahkan kegiatan berdiskusi siswa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pengaruh formasi tempat duduk dalam mendukung konsentrasi belajar. Metode yang akan digunakan yaitu metode kuantitatif berupa kuesioner yang disebarkan melalui media online. Kuesioner berisikan pendapat siswa mengenai pengaturan tempat duduk berdasarkan pengalaman mereka. Mayoritas responden beranggapan bahwa formasi tradisional lebih sesuai diterapkan di ruang kelas. Alasan mayoritas siswa memilih formasi tradisional karena sudah nyaman dan terbiasa dengan penerapan formasi tradisional yang sudah sejak lama diterapkan. Meski mayoritas beranggapan bahwa formasi tradisonal dapat membuat siswa lebih fokus saat menyimak penjelasan guru dibandingkan dengan formasi grup, sebagian siswa lainnya mengaku bahwa formasi grup lebih mendukung dalam upaya penerapan kurikulum Oleh karena itu, pemilihan formasi tempat duduk perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran siswa di kelas dan memaksimalkan tingkat kenyamanan dan kemudahan siswa dalam bergerak, dengan memperhatikan dalam pemilihan penggunaan perabot yang dapat mempermudah akses gerak siswa. Kata kunci : belajar, formasi duduk, kurikulum, siswa Abstract Seating arrangement is important in classroom management. In general. Indonesia still applies the traditional formation, namely the benches are arranged in a row from front to back. Meanwhile, students spend quite a long time in learning activities in class. The application of traditional formations is considered less ideal to be applied in learning activities because it is considered too rigid and cannot support all student activities in the classroom. With the many needs of students in the room, it is necessary to have varied seating arrangements such as group formations that can facilitate student discussion activities. The purpose of this study was to determine the extent of the influence of seat formation in supporting learning concentration. The method that will be used is a quantitative method in the form of a questionnaire distributed through online media. The questionnaire contained students' opinions about seating arrangements based on their experiences. The majority of respondents think that the traditional formation is more suitable to be applied in the classroom. The reason the majority of students choose traditional formations is because they are comfortable and familiar with the application of traditional formations that have been applied for a long time. Although the majority thought that traditional formations could make students more focused when listening to the teacher's explanations compared to group formations, some other students admitted that group formations were more supportive in implementing the 2013 curriculum. and maximize the level of comfort and convenience of students in moving, taking into account the selection of the use of furniture that can facilitate student access to movement. Keywords: learning, sitting formation, curriculum, students Artikel ini diterima pada : 10 Januari 2022 dan Disetujui pada : 22 Februari 2022 PENDAHULUAN Penataan mebel dalam ruang kelas di Indonesia pada umumnya masih menerapkan formasi tradisional, dimana meja dan kursinya disusun secara berbaris ke belakang. Sementara dalam pelaksanaan kegiatan belajar, siswa cenderung menghabiskan waktu mereka di dalam ruang kelas dengan jangka waktu yang lama. Penerapan formasi tradisional dirasa kurang ideal untuk diterapkan pada sekolah yang kini sudah menerapkan sistem pembelajaran kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 2 belajar dan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Proses pembelajaran kurikulum 2013, dimana prosesnya menekankan kepada siswa untuk memiliki kemampuan bertanya dan wawancara, mengumpulkan informasi/data, juga kemampuan observasi, bernalar, dan kemampuan komunikasi . , kesemuanya diarahkan pada pembelajaran saintifik (Kurniasih, 2. Belajar kelompok merupakan bagian dari cooperative learning yang sangat penting untuk dilakukan dalam pembelajaran siswa. Menurut Vygotsky . , keterampilanketerampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Dengan menggunakan formasi berkelompok, siswa akan belajar untuk mengetahui kemampuan dasarnya, melatih kepercayaan diri, membangun solidaritas tim, meningkatkan sikap toleransi, dan melatih siswa untuk mengontrol diri dari efek negatif dalam persaingan. Untuk mendukung kegiatan siswa maka dibutuhkan variasi baru dalam pengelolaan kelas terutama dalam penataan formasi mebel dalam ruang kelas. Salah satu formasi mebel yang bisa dijadikan alternatif yaitu formasi mebel berkelompok. Dengan menerapkan formasi mebel berkelompok, siswa akan menjadi lebih mudah dalam berkomunikasi dan berdiskusi dengan teman lain untuk belajar, dan tentunya menjadikan setiap anak akan mudah berpartisipasi dalam belajar kelompok. Desain interior kelas sangat penting untuk diperhatikan karena mampu mempengaruhi suasana pembelajaran. Desain interiornya mencakup pemilihan warna dinding, warna perabotan, dan penataan tempat duduk siswa (Hamid, 2. Penataan tempat duduk adalah sebuah pengelolaan kelas yang bertujuan untuk memposisikan meja dan kursi belajar dalam sebuah formasi tertentu sehingga dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari berbagai macam formasi tempat duduk. Dengan melakukan penataan tempat duduk maka dapat menghasilkan suatu formasi yang nyaman bagi siswa. Menurut Loisell . alam Winataputra, 2. mengemukakan tujuh bentuk pengelolaan tempat duduk dalam kelas yaitu : Formasi huruf U, kelas tradisional, formasi corak tim, meja konferensi, lingkaran, susunan chevron. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan pada pasal 25 yang membahas mengenai Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. Sarana merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat dan perlengkapan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu sarana dan prasarana yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana ruang kelas dikelola. Pengelolaan kelas yang baik sangat menentukan kualitas siswa dalam belajar dan juga kualitas guru dalam mengajar. Dalam pengelolaan kelas harus disesuaikan dengan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh siswa dan kebutuhannya agar dapat mencapai suasana kelas yang efektif dan efisien. Menurut Maria Istiqomah dan Tutut Nani Prihatmi . alam Luwesty, 2017:. Pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh pengajar dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif melalui kegiatan pengaturan pembelajar dan barang atau fasilitas pembelajaran sebagai upaya untuk menciptakan, memelihara tingkah laku siswa yang dapat mendukung proses pembelajaran. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbedaan yang dirasakan oleh siswa ketika berada dalam formasi mebel tradisional dan formasi berkelompok baik saat proses kegiatan belajar, berdiskusi, dan akses gerak terhadap jarak antar mebel agar menghasilkan suasana yang nyaman dan aktif saat proses pembelajaran berlangsung. METODE Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode kuantitatif berupa kuesioner. Kuesioner berisikan pertanyaan mengenai pengaturan tempat duduk yang dapat dijawab berdasarkan pengalaman mereka. Target responden yaitu siswa mulai dari kelas 10 hingga kelas 12 baik jurusan IPA maupun IPS. Penyebaran kuesioner dilakukan menggunakan media online berupa tautan Google Form. Pertanyaan Ae pertanyaan yang diajukan terdiri dari empat bagian, bagian pertama berisikan mengenai data diri responden seperti nama, jenis kelamin, usia, tinggi badan, berat badan, nama sekolah, kelas, penjurusan yang diambil, dan kurikulum yang diterapkan di Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 3 Bagian kedua berisikan pertanyaan yang berfokus pada penataan tempat duduk dengan formasi tradisional dan didukung dengan pertanyaan lainnya mengenai kemudahan dalam berinteraksi antar siswa dan guru, kemudahan dalam bergerak dan berkonsentrasi dalam belajar, pemilihan tingkat kenyamanan, dan faktor dalam pemilihan posisi duduk. Pada bagian ketiga berisikan pertanyaan yang berfokus pada penataan tempat duduk dengan formasi grup, dan didukung dengan pertanyaan lainnya mengenai kemudahan dalam berinteraksi antar siswa dan guru, kemudahan dalam bergerak dan berkonsentrasi dalam belajar, pemilihan tingkat kenyamanan, dan faktor dalam pemilihan posisi duduk. Terakhir, pada bagian keempat berisikan pertanyaan kesimpulan yang membahas mengenai pemilihan formasi yang cocok digunakan sesuai dengan kurikulum yang diterapkan pada sekolah, pemilihan formasi tempat duduk yang lebih nyaman, pemilihan formasi duduk yang cocok untuk kegiatan berdiskusi dan melatih kreatifitas dan keaktifan siswa serta pemilihan formasi tempat duduk yang dapat memudahkan siswa lebih fokus dalam menyimak penjelasan guru. Objek penelitian yaitu SMAN 3 Kabupaten Tangerang yang berlokasi di l. Raya Curug No. KM. Kadu Jaya. Kec. Curug. Tangerang. Banten 15810. Sekolah ini menerapkan sistem pembelajaran Kurikulum 2013 dan terdiri dari dua penjurusan yaitu IPA dan IPS. Secara keseluruhan, bangunan sekolah ini menggunakan organisasi terpusat yang alur sirkulasinya berpusat pada lapangan sekolah. Sementara penataan ruang kelas disusun secara linier. Layout ruang kelas di sekolah ini menerapkan formasi tradisional dimana bangku disusun berbaris dari depan ke belakang dan setiap meja diisi oleh dua siswa. Ruang kelas dilengkapi fasilitas berupa meja dan kursi siswa, meja dan kursi guru, papan tulis, layar dan proyektor, speaker, kipas angin, dan beberapa ruang dilengkapi dengan AC. Gambar 1. Tampak SMAN 3 Kabupaten Tangerang (Sumber : https://sman3kabupatentangerang. id/data-sarpras/) Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 4 Gambar 2. Ruang Kelas SMAN 3 KABUPATEN TANGERANG (Sumber : Dewi Yuni Marfiah, 2020. https://youtu. be/V2G7bbM0WrU) Dari hasil pengumpulan data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner online berupa Google Form, telah terkumpul 143 responden. Seluruh responden adalah siswa SMA Negeri 3 Kabupaten Tangerang. Berikut data hasil penelitian dan responden dari 143 data yang telah . Data Diri Responden Dari penyebaran kuesioner yang telah dilakukan, telah terkumpul sebanyak 143 responden yang telah berpartisipasi dalam mengisi kuesioner. Data penelitian ini diisi oleh 104 siswi dan 39 siswa. Berdasarkan dari data hasil penelitian tersebut, diketahui bahwa siswa/i yang duduk di bangku kelas 12 merupakan responden terbanyak dengan total 94 responden dan persentase 65,7%. Usia Responden Total Tabel 1: Usia Responden (Sumber : Data Pribadi, 2. Jumlah Persentase Berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Responden diketahui berasal dari kelas 10, kelas 11, kelas 12. Kelas Total Tabel 3: Persebaran Kelas Responden (Sumber : Data Pribadi, 2. Jumlah Persentase Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 5 . Data Responden Terhadap Pertanyaan Mengenai Penataan Tempat Duduk Formasi Tradisional Berdasarkan Data yang telah dikumpulkan, dapat diketahui bahwa sebanyak 83,2% penataan tempat duduk dengan formasi tradisional paling banyak diterapkan pada sekolah. Kiri Kanan Gambar 3. Ilustrasi Posisi Duduk Pada Formasi Tradisional (Sumber : Fitri, 2. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, dapat diketahui bahwa mayoritas siswa memilih duduk pada area sebelah kanan. Sementara untuk posisi yang paling banyak dipilih yaitu posisi duduk nomor 19 dengan responden pemilih sebanyak 19 Mayoritas siswa mengatakan bahwa mereka selalu duduk di posisi tempat duduk tersebut dengan alasan kenyamanan, kemudahan dalam melihat ke papan tulis dan mudah dalam memahami penjelasan guru, kemudahan dalam berinteraksi dengan teman, posisi yang strategis . aik dekat dengan akses pintu maupun jendel. Tabel 4. Posisi Duduk Pilihan Responden (Sumber : Data Pribadi, 2. Area Posisi Duduk Kiri Kanan Beripindah Tidak Mengisi Nomor Posisi Duduk 1 - 4. 9 - 12. 17 - 20. 25 - 28. 33 - 36 5 - 8. 13 - 16. 21 - 24. 29 - 32. 37 - 40 Total Responden Jumlah Responden Dengan penerapan penataan tempat duduk dengan formasi tradisional, sebagian siswa mengaku tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan siswa lainnya, juga dalam bergerak dan berkonsentrasi dalam belajar. Namun sebagian siswa juga mengungkapkan bahwa penerapan formasi tradisional kurang nyaman diterapkan terutama bagi siswa yang duduk di posisi duduk bagian belakang. Dengan alasan kesulitan dalam melihat papan tulis dan jauh dari jangkauan guru sehingga membuat siswa kurang berkonsentrasi saat belajar. Kemudian, penerapan formasi tradisional cukup menyulitkan siswa saat melakukan kegiatan berdiskusi dengan kelompok, karena penempatan meja dan kursi yang padat sehingga sulit untuk Selain itu, penataan tempat duduk dengan formasi tradisional yang padat cukup menyulitkan dalam pembersihan seperti menyapu atau mengepel ruang Meski banyak ditemukan permasalahan dalam penerapan formasi tradisional, mayoritas siswa memilih cukup nyaman berada di posisi duduk tersebut dengan alasan kenyamanan dan sesuai dengan pilihan mereka. Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 6 . Data Responden Terhadap Pertanyaan Mengenai Penataan Tempat Duduk Formasi Grup Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, sebanyak 132 responden mengatakan bahwa sekolah mereka tidak menerapkan penataan tempat duduk dengan formasi grup. Namun pernah merasakan posisi duduk dengan formasi grup saat melakukan kegiatan berdiskusi secara kelompok. Dengan penerapan formasi grup, sebagian siswa mengaku bahwa penataan tempat duduk formasi grup dapat menyulitkan siswa dalam bergerak. Terutama pada siswa yang duduk di kursi bagian tengah, dan juga akses keluar masuk tempat duduk. Selain itu juga siswa memikirkan adanya kesulitan saat melihat papan tulis dan penjelasan guru. Namun sebagian siswa lainnya mengaku bahwa penerapan penataan tempat duduk dengan formasi grup ini memudahkan mereka dalam berinteraksi dengan antar siswa. Terutama saat kegiatan berdiskusi secara kelompok, dan memudahkan siswa dalam belajar. Dengan formasi grup dapat memudahkan siswa saat bertukar pemahaman dengan teman. Penerapan formasi grup juga dapat memudahkan guru dalam mengontrol kinerja siswa dan menjadi lebih intens dalam memberi bimbingan belajar. Gambar 4. Ilustrasi Posisi Duduk Pada Formasi Tradisional (Sumber : Fitri, 2. Data Responden Terhadap Pertanyaan Kesimpulan Dalam Pemilihan Formasi Tempat Duduk Dari hasil data responden yang telah dikumpulkan, diketahui bahwa kurikulum yang diterapkan pada sekolah mereka yaitu Kurikulum 2013 atau Kurikulum 2013 Revisi. Sebanyak 99 dari 143 responden beranggapan bahwa formasi tradisional menjadi pilihan yang lebih sesuai diterapkan di dalam kelas untuk mendukung kegitatan siswa. Alasan mayoritas siswa memilih formasi tradisional karena sudah nyaman dan terbiasa dengan penerapan tempat duduk formasi tradisional yang sudah sejak lama diterapkan di ruang kelas. Sebagian lainnya berpendapat bahwa formasi grup sangat bagus untuk dicoba. Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk aktif dan bersosialisasi dengan antar siswa, dan memudahkan siswa saat berdiskusi maupun berinteraksi dengan murid lainnya. Jurnal Vastukara. Volume 2 No 1 Maret 2022 | 7 Mayoritas siswa beranggapan bahwa formasi tradisonal dapat membuat siswa lebih fokus saat menyimak penjelasan guru dibandingkan dengan formasi grup. Namun siswa juga mengaku bahwa formasi grup lebih mendukung dalam upaya penerapan kurikulum 2013. Dengan menerapkan kurikulum 2013 yang dimana siswa dituntut untuk aktif, penataan tempat duduk dengan formasi grup dapat memudahkan siswa dalam kegiatan belajar berupa praktik dan berdiskusi serta dapat meningkatkan kreatifitas siswa. SIMPULAN Baik formasi tradisional dan formasi grup memiliki kelebihan dan kekurangannya masing Ae masing yang mana dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam belajar. Penerapan formasi tradisional dalam penataan tempat duduk di ruang kelas dapat menghasilkan tingkat kenyamanan yang cukup baik. Posisi duduk siswa yang menghadap lurus ke depan papan tulis dapat memudahkan siswa dalam menyimak penjelasan materi yang disampaikan oleh guru. Namun bagi siswa yang duduk di posisi bagian belakang dapat mengalami kesulitan dalam melihat ke papan tulis. Karena jarak pandang yang jauh, sehingga dapat mengakibatkan daya konsentrasi siswa dalam belajar menjadi berkurang. Dalam kasus penerapan formasi grup pada penataan tempat duduk di ruang kelas, mungkin sebagian siswa beranggapan dapat menyulitkan siswa. Baik dalam akses keluar masuk tempat duduk serta menyulitkan siswa dalam menyimak penjelasan guru di depan Namun, dengan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah yaitu kurikulum 2013, dimana kegiatan pembelajaran lebih dipusatkan kepada siswa yang lebih berperan aktif dalam kegiatan belajar. Siswa dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih baik dengan melakukan kegiatan seperti observasi, bertanya . , bernalar. atau mempresentasikan apa yang telah diperoleh atau mereka ketahui, dan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Penerapan formasi grup sangat cocok untuk diterapkan di ruang Dimana dengan formasi grup dapat memudahkan siswa dalam berinteraksi dengan antar murid, dapat memudahkan siswa dalam beridiskusi maupun praktik sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan kreatifitas siswa dalam belajar. Oleh karena itu, pemilihan formasi tempat duduk perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran siswa di kelas. Pihak sekolah perlu memperhatikan dalam penataan tempat duduk siswa. Untuk kemudahan dan kenyamanan akses gerak siswa, pemilihan mebel juga perlu diperhatikan. Seperti penggunaan kursi belajar yang memiliki roda dan kursi duduknya dapat diputar sesuai dengan kebutuhan siswa, serta pengaturan sirkulasi yang baik dalam penempatan perabot di ruang kelas. DAFTAR PUSTAKA