Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 ANALISIS PENDAPATAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI KARETDI DESA TANAH BEKALI KECAMATAN PANGEAN KABUPATEN KUANTAN SINGINGI 1 Yuses Hidro Dolis1, Haris Susanto2 dan Jamalludin2 Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNIKS 2 Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNIKS ABSTRACT Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan analisis pendapatan dan kesejahteraan berdasarkan pendapatan setara beras pertahunnya menurut sayogyo 1997, Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata pendapatan petani karet sebesar Rp. 1.613.358,86/ bulan/luas lahan garapan dengan rata-rata total penerimaan sebesar Rp. 2.479.168,75/bulan/ luas lahan garapan dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani karet sebesar Rp. 865.809,89/bulan/luas lahan garapan. Ratarata tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi berada kategori miskin dengan rata-rata pendapatan setara beras petahunnya sebesar 380,71 kg/kapita/tahun. Kata Kunci: Petani Karet, Pendapatan, Penerimaan, Total Biaya, dan Tingkat Kesejahteraan INCOME AND WELFARE ANALYSIS OF RUBBER FARMERS IN TANAH BEKALI VILLAGE, PANGEAN DISTRICT, KUANTAN SINGINGI REGENCY ABSTRACT The purpose of this study was to determine the income and welfare level of rubber farmers in Tanah Bekali Village, Pangean District, Kuantan Singingi Regency. The method used in this research is a survey method using income and welfare analysis based on rice equivalent income per year according to Sayogyo 1997. Based on the research results, it is found that the average income of rubber farmers is Rp. 1,613,358.86/month/area of arable land with an average total revenue of Rp. 2,479,168.75/month/area of arable land and the average total cost incurred by rubber farmers was Rp. 865,809.89/month/area of arable land. The average welfare level of rubber farmers in Tanah Bekali Village, Pangean District, Kuantan Singingi Regency is in the poor category with an average annual rice income of 380.71 kg/capita/year. Keywords: Rubber Farmers, Income, Revenue, Total Cost, and Level of Welfare. PENDAHULUAN Sejak awal pembangunan peranan sektor pertanian dalam pembangunan Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pembangunan sektor pertanian diarahkan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani, memperluas kesempatan kerja serta mendorong kesempatan berusaha (Soekartawi, 1993). Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan dengan nilai ekonomis tinggi. Oleh karena itu, tidak salah jika banyak yang beranggapan bahwa tanaman karet adalah salah satu kekayaan Indonesia. Karet yang diperoleh dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks) dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet (Suwarto, 2010). Kabupaten Kuantan Singingi hingga saat ini masih mengandalkan tanaman perkebunan sebagai sumber pendapatan yang utama, ada dua jenis tanaman perkebunan sebagai mata pencaharian tetap bagi petani yaitu kelapa sawit dan karet. Meskipun lahan perkebunan yang luas banyak permasalahan yang timbul dari segi 726 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 pendapatan terutama petani karet. Melihat potensi yang cukup besar dari kegiatan perkebunan karet maka pembangunan pertanian melalui pengembangan komoditas karet dapat menjadi alternatif yang baik untuk melakukan pembangunan sub sektor perkebunan di Kuantan Singingi. Kecamatan Pangean merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi, dilihat dari penduduknya yang mayoritas petani karet. Bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan oleh petani di Kecamatan Pangean digolongkan dalam kualitas rendah, harga yang juga rendah di tingkat petani hal ini di sebabkan panjangnya rantai pemasaran penjualan bokar.. Pemotongan penjualan basah dan kering, selisih pemotongan penjualan keret antara basah dan kering sangat jauh berbeda. akan berpengaruh pada pendapatan petani. Begitu juga dalam mensejahterakan kehidupan rumah tangga, ketika kemiskinan sudah menggauli kehidupan rumah tangga tidak menutup kemungkinan tingkat kesejahteraan petani rendah. Tujuan pada penelitian ini adalah Untuk mengetahui tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini dilakukan di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini hanya melihat seberapa besar tingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan petani karet menurut tingkat pendapatan berdasarkan harga setara beras sayogyo 1997 dalam satu bulan produksi/luas garapan. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean. Dengan pertimbangan bahwa di Desa tersebut mayoritas penduduknya sebagai petani karet. Penelitian ini selama 5 bulan dari Juni 2020 sampai dengan Oktober 2020 yang diawali dengan persiapan, pembuatan proposal, pengumpulan data, analisis data, pembuatan laporan, dan ujian komprehensif. 𝑛 = = 31,99 ≈ 32 sampel Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh oleh peneliti langsung dengan petani karet dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Sedangkan data sekunder adalah mer upakan data pelengkap yang diperoleh dari berbagai instansi. Penentuan Responden Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan cara sampel acak sederhana (Simple Random), Menurut Arikunto (1996), untuk populasi lebih dari 100 dapat diambil sampel sebesar 10-15 % atau lebih disesuaikan dengan tingkat kemampuan tenaga, biaya dan waktu yang tersedia bagi peneliti. Dalam penelitian ini menetapkan menggunakan tingkat presisi sebesar 17%. Cara pengambilan sampel dapat menggunakan rumus dengan persamaan sebagai berikut : n= 425 425(0,17)2 +1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi dan teknik wawancara terhadap sampel dalam penelitian ini. Metode Analisis Data Analisis Biaya Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Secara umum biaya tetap dapat di hitung dengan rumus sebagai berikut: 𝐍 𝐍𝐝𝟐 +𝟏 Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah Populasi d2 = Tingkat presisi (17%) Berdasarkan persamaan rumus di atas, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah: TFC = Fx1 + Fx2 + Fx3 + Fx4 Keterangan: TFC = Total Biaya Tetap (Rp/Bulan) Fx1 = Pisau Sadap (Rp/Unit) Fx2 = Ember (Rp/Unit) Fx3 = Tempurug (Rp/Unit) 727 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Fx4 = Talang (Rp/Unit) Untuk menghitung penyusutan peralatan dapat menggunakan rumus berikut: NP = Analisis pendapatan digunakan untuk mengetahui pendapatan kotor dan pendapatan bersih melalui pengurangan antara pendapatan kotor dan total biaya untuk satu bulan produksi, secara sistematis dapat dihitung dengan rumus berikut: Pendapatan Kotor Pendapatan kotor dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: TR = Y.Py 𝐍𝐁−𝐍𝐒 𝐔𝐄 Keterangan: NP = Nilai Penyusutan (Rp/Unit/Bulan) NB = Nilai Beli Alat (Rp/Unit) NS = Nilai Sisa (Rp/Unit) UE = Usia Ekonomis Alat (Tahun) Keterangan: TR = Total Pendapatan Kotor(Rp/Bulan) Y = Jumlah Produksi (Kg/Bulan) Py = Harga Bokar (Rp/Kg) Biaya Tidak Tetap (Total Variable Cost) Secara umum biaya tidak tetap dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: Pendapatan Bersih Pendapatan bersih dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: TVC = X1.Px1 + X2.Px2 + X3.Px3 + X4.Px4 Keterangan: TVC = Total Biaya Variabel (Rp/Bulan) X1 = Cuka (ml) Px1 = Harga Cuka (Rp/ml) X2 = Berat Susut (Kg) Px2 = Nilai Berat Susut (Rp/Kg) X3 = Tenaga Kerja Sadap (HOK) Px3 = Upah Tenaga Kerja Sadap (Rp/HOK) X4 = Tenaga Kerja panen (HOK) Px4 = Upah Tenaga Kerja Panen (Rp/HOK) π = TR – TC Keterangan: π = Total Pendapatan Bersih (Rp/Bulan) TR = Pendapatan Kotor (Kg/Bulan) TC = Total Biaya Produksi (Rp/Bulan) Tingkat Kesejahteraan Pada tahun 1997, Sayogyo mencoba mengukur tingkat kesejahteraan di Indonesia. Kesejahteraan ditetapkan menggunakan metode ekuivalensi daya beli beras berdasarkan dugaan pengukuran pendapatan. Suatu penduduk dikatakan sejahtera apabila pendapatannya sama dengan atau diatas ekuivalen harga beras sebanyak 480 kg per kapita per tahun untuk penduduk yang tinggal didesa dan 720 kg per kapita pertahun untuk penduduk yang tinggal dikota. Berdasarkan metode ini, individu atau rumah tangga dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: nyaris cukup makan, miskin sekali, miskin, dan sejahtera atau tidak miskin. Untuk lebih rinci, kriteria pengelompokan sejahtera ini diperlihatkan pada Tabel 1 adalah sebagai berikut: Biaya Total Total biaya digunakan dengan menjumlahkan biaya tetap (total fixed cost) dan biaya tidak tetap (total variable cost). Secara matematis biaya total dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: TC = TFC + TVC Keterangan: TC = Total Biaya (Rp/Bulan) TFC = Total Biaya Tetap (Rp/Bulan) TVC = Total Biaya Tidak Tetap (Rp/Bulan) Analisis Pendapatan Tabel 1. Kategori Pengelompokan Penduduk Menurut Tingkat Pendapatan Berdasarkan Harga Setara Beras Sayogyo, 1997. Pendapatan Perkapita No Kategori Di Desa Di Kota 1 Nyaris Cukup Makan P< 240 kg P< 360 kg Miskin Sekali 240 kg 360 kg - 540 kg 2 360 kg 3 Miskin 360 kg – 540 kg – 720 kg 728 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 480 kg > 480 kg Sejahtera/ 4 Tidak Miskin (Sumber: Sayogyo, 1997) HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Tanaman Karet Luas Lahan Luas lahan merupakan salah satu faktor produksi dalam suatu usahatani, semakin luas lahan karet yang di miliki petani maka semakin tinggi produksi yang di hasilkan. Berdasarkan hasil temuan dilapangan luas lahan tanaman karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean kurang dari 1 Ha, hal ini akan mempengaruhi pendapatan petani karet itu sendiri. Dalam penelitian ini dapat di ketahui rata-rata luas lahan yang di miliki petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean 0,82 ha. Menurut Hernanto (1998) luas lahan garapan petani berpengaruh terhadap distribusi pendapatan petani karet sehingga berpengaruh pula terhadap kesejahteraan petani karet tersebut. > 720 kg kali proses produksi atau biaya yang tidak bergantung pada produksi yang di hasilkan. Biaya tetap yang dihitung antara lain biaya penyusutan alat berupa pisau sadap, ember, tempurung, talang. Menurut Martani (2012) penyusutan adalah metode pengalokasian biaya tetap untuk menyusutkan nilai aset secara sistematis selama periode manfaat dari aset tersebut. Rata-rata biaya tetap (biaya penyusutan alat) yang di keluarkan petani karet di Desa Tanah Bekali adalah Rp 12.925,46 /luas lahan garapan/bulan. Terdiri dari biaya penyusutan pisau sadap sebesar Rp. 10.070,47/bulan, ember sebesar Rp. 1.546,41, tempurung sebesar Rp. 604,69 dan talang sebesar Rp. 703,88. Menurut Soekartawi (2002), biaya tetap adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluakan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi, besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada besarkecilnya produksi yang diperoleh. Jumlah Tanaman Pokok Jumlah tanaman pokok merupakan banyaknya jumlah tanaman yang di sadap petani karet di Desa Tanah Bekali untuk menghasilkan bahan olah karet (Bokar) yang lebih baik. Semakin banyak tanaman karet yang dimiliki oleh petani karet, maka akan semakin banyak pula lateks yang dihasilkan dari penyadapan dengan ketentuan jarak tanam yang dianjurkan. Tanaman pokok petani karet di dareah penelitian tersebut rata-rata berjenis unggul yang di usahakan sampai saat ini, kemudian jarak tanam yang berbeda antara patani satu dengan yang lainnya. Adapun jarak tanam tanaman karet tersebut adalah 3m x 5m, 3m x 6m dan ada yang menggunakan 3m x 7m. Rata-rata jumlah tanaman pokok karet di daerah penelitian adalah 456 batang. Menurut Cahyono (2010) pada lahan yang relatif datar jarak tanam adalah 7m x 3m (476 batang/ hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur Barat berjarak 7 meter dan arah Utara - Selatan berjarak 3 meter. Hal tersebut supaya intensitas cahaya matahari yang masuk ke pertanaman karet lebih besar. Lahan bergelombang atau berbukit jarak tanam 8m x 2,5m (500 batang/ha). Biaya Tidak Tetap (Variable Cost) Menurut Raharja (2008) biaya variabel merupakan biaya yang secara total berubahrubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan. Artinya, biaya variabel berubah menurut tinggi rendahnya output yang dihasilkan, atau tergantung kepada skala produksi yang dilakukan. Yang termasuk biaya variable dalam penelitian ini seperti biaya pembelian cairan pengeras lateks (cuka), potongan berat susut serta termasuk ongkos tenaga kerja yang dibayar berdasarkan perhitungan volume produksi. Cuka merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan saat pemanenan atau mengumpulkan lateks tanaman karet. Salah satu hasil bentuk hasil dari panen tanaman karet yang telah dikeraskan menggunakan cuka adalah bokar. Potongan berat susut yang diterima petani karet itu beragam. Hal ini tergantung pada kadar karet kering (K3) yang dihasilkan petani. Semakin tinggi K3 yang dihasilkan petani semakin rendah potongan berat susut yang diperolehnya, dan begitu pula sebaliknya semakin rendah K3 yang dihasilkan petani semakin tinggi potongan berat susutnya. Biaya Produksi Biaya Tetap (Fixed Cost) Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan yang jumlah tidak habis dalam satu 729 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 Dari hasil olahan data primer dalam penelitian ini maka diperoleh rata-rata biaya pembelian cuka sebesar Rp. 15.246,75/bulan, rata-rata biaya pemotongan berat susut sebesar 238.043,94/bulan, rata-rata biaya tenaga kerja penyadapan sebesar Rp. 538.781,25/bulan dan biaya tenaga kerja pengumpulan (panen) sebesar Rp. 60.812,50/bulan. Menurut Hernanto (1998), besar kecilnya pendapatan petani yang diperoleh tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti luas lahan, populasi tanaman, tingkat produksi dan identitas petani, dalam melakukan kegiatan usahatani, petani berharap dapat meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan sehari-hari petani karet dapat terpenuhi dengan baik. Total Biaya (Total Cost) Total biaya adalah semua ongkos yang dikeluarkan untuk menjalankan suatu usaha. Seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani karet dalam memproduksi bahan olah karet (bokar) sebagai biaya produksi. Biaya yang dihitung dalam penelitian ini terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani karet di Desa Tanah Bekali sebesar Rp. 865.809,89/bulan. Kesejahteraan Petani Karet Untuk mengukur tingkat kesejarahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali sesuai setara beras menurut Suyogyo 1997, petani karet di Desa Tanah Bekali pada umumnya mengkonsumsi dua jenis beras yaitu beras lokal dan beras bola naga, rata-rata harga beras lokal di daerah penelitan berkisar 10.000.00/kg sedangkan beras bola naga berkisar 13.000.00/kg. Rata-rata pendapatan petani karet di Desa Tanah Bekali sebesar Rp. 1.613.358,86/bulan/luas lahan garapan. Pendapatan petani karet kemudian di konversikan ke pendapatan per tahunya, sedangkan untuk mengatahui pendapatan per kapita petani karet di bagi dengan banyaknya jumlah tanggungan/anggota keluarga petani karet.salanjutnya dihubungkan dengan harga setara beras di dearah penelitian. Maka diperoleh 15 sampel tergolong miskin sekali, 11 sampel tergolong miskin dan 6 sampel tergolong sejahtera menurut indikator Sugyoyo 1997. Dalam Analisis kesejahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi tergolong dalam kriteria miskin, karena pendapatan rata-rata petani karet sebesar Rp 1.613.358,86/bulan/luas lahan garapan, dengan rata-rata jumlah tanggungan petani karet sebanyak 4,63 atau 5 orang dan rata-rata pendapatan setara beras petani karet sebanyak 380,71 kg/kapita/tahun. Petani karet di Desa tanah Bekali tergolong dalam kreteria miskin, hal ini di sebabkan banyaknya tanggungan angota keluarga petani karet dan pendapatan petani yang rendah. Tingkat kesejahteraan ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jumlah tanggungan keluarga, karena semakin banyak tanggungan keluarga petani karet, maka a kan semakin rendah kesejahteraan petani tersebut. Faktor lainnya yaitu pendapatan petani karet itu sendiri, semakin tinggi pendapatan petani karet, maka akan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan petani karet. Tingkat kesejahteraan petani karet Pendapatan Pendapatan Kotor Hermanto (2012) menyatakan bahwa pendapatan kotor adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan merupakan hasil kali dari jumlah produksi total dengan harga satuan. Pendapatan kotor adalah hasil produksi petani karet di Desa Tanah Bekali yang dijual dengan harga pada saat penelitian ini yang belum dikurangi oleh total biaya. Ratarata pendapatan kotor petani karet sebesar Rp. 2.479.168,75/bulan. Dengan rata-rata produksi petani karet di Desa Tanah Bekali 350,94 kg/bulan dan rata-rata harga karet pada saat penelitian sebesar Rp. 7.064,36/kg. Pendapatan Bersih Pendapatan petani karet rakyat dipengaruhi oleh penerimaan keluarga dan biaya keluarga yang dikeluarkan petani. Besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh petani karet rakyat dapat dikatakan dipengaruhi oleh ketrampilan petani dalam mengatur pengeluarannya untuk penyediaan faktor-faktor produksi dan kebutuhan hidup petani karet tersebut, Septianita (2009). Pendapatan bersih adalah pendapatan kotor dari hasil penjualan bahan olah karet (bokar) yang dikurangi total biaya yang dibayarkan oleh petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean. Besar rata-rata pendapatan bersih petani karet di Desa Tanah Bekali sebesar Rp. 1.613.358,86/bulan/luas lahan garapan. 730 Jurnal Green Swarnadwipa ISSN : 2715-2685 (Online) ISSN : 2252-861x (Print) Vol. 10 No. 4 Oktober 2021 menurut Sayogyo 1997 setara beras, pendapatan petani karet yang dikonversikan ke- tahun kemudian membagi dengan harga beras yang dikonsumsi petani sehari-hari. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa rata-rata pendapatan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi adalah sebesar Rp. 1.613.358,86/bulan /luas lahan garapan. Dengan rata-rata total pendapatan kotor sebesar Rp. 2.479.168,75/ bulan/luas lahan garapan dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani karet sebesar Rp. 865.809,89/bulan/ luas garapan. Tingkat kesejahteraan petani karet di Desa Tanah Bekali Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi berada di kategori miskin, dengan rata-rata pendapatan setara beras petani karet sebanyak 380,71 kg/kapita/tahun. menurut Sayogyo (1997). Kesimpulan Kabupaten Kuantan Singingi yang banyak diusahakan oleh rakyat rata-rata tanaman karet yang dimiliki petani adalah tanaman pada usia tua. Serta bantuan sarana produksi difungsikan agar petani dilokasi penelitian dapat melakukan pemupukan pada tanaman karetnya agar produksi yang dihasilkan dapat meningkat dan dapat mempengaruhi peningkatan pendapatan yang diterima petani dan memperhatikan harga jual sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani. Bagi petani untuk meningktakan jumlah produksi yang nantinya akan meningkatkan pendapatan, maka perlunya dilakukan perawatan terhadap tanaman sesuai dengan petunjuk budidaya yang telah dianjurkan seperti melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran teknis budidaya. Kemudian perlu dilakukannya replanting pada tanaman tua yang sudah kurang menghasilkan untuk meningkatkan jumlah produksi dan pemanfaatan lahan yang dimiliki juga digunakan secara produktif. Saran Bagi pemerintah dalam upaya pengembangan potensi sumberdaya ekonomi lokal yang berbasis komoditi unggulan dalam rangka mengurangi tingkat kemiskinan maka perlu dilakukan peningkatan bantuan dana dan sarana produksi untuk petani karet, karena tanaman karet merupakan komoditi unggulan di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Jurnal Agronobis DAFTAR PUSTAKA Arikunto, 1996, prosedur penelitian, Rineka Cipta, Jakarta. Soekartawi, 2003. Teori ekonomi produksi dengan pokok bahasan analisis cobbdouglas, jakarta: PT raharjaGrapindo prasada. , 1993. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Cahyono, B. 2010. Cara Sukses Berkebun Karet. Cetakan Pertama. Hernanto, 1998. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta. , 2012. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta. Suwarto Martani. 2012. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Jakarta: Salemba Empat. Rahardja dkk, 2008 Teori Ekonomi Makro, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sajogyo. 1997. Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan. LPSB-IPB. Bogor. Septianita. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi petani karet rakyat melakukan peremajaan karet di 731 dkk. 2010. Budidaya Tanaman Perkebunan Unggulan. Penebar Swadaya. Jakarta.