Education Achievment: Journal of Science and Research Volume 6. Issue 3. November 2025 Journal Homepage: http://pusdikrapublishing. com/index. php/jsr Peran Inteligensi Spiritual dan Pemikiran Islam Moderat dalam Mencegah Radikalisme Impun Siregar STAI Al-Hikmah Medan Corresponding Author: Impun Siregar. ARTICLE INFO Article history: Received 18 Sept. Revised 30 Sept 2025 Accepted 25 Oktober 2025 Kata Kunci Keywords How to cite Email: impunsiregar70@gmail. ABSTRACT Radikalisme keagamaan masih menjadi ancaman yang signifikan bagi keharmonisan sosial, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran inteligensi spiritual dan pemikiran Islam moderat dalam mencegah radikalisme melalui pendekatan kualitatif berbasis studi Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan teknik analisis isi untuk mengidentifikasi pola-pola tematik dari berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inteligensi spiritual memiliki kontribusi penting dalam memperkuat ketahanan psikologis individu melalui pengembangan kesadaran transendental, kemampuan pengendalian diri, empati, serta pemaknaan hidup yang positif. Pada saat yang sama, pemikiran Islam moderat berperan sebagai kerangka teologis yang menolak kekerasan, menjunjung nilai keadilan dan keseimbangan, serta menghargai keberagaman sebagai prinsip dalam beragama. Integrasi keduanya dalam praktik pendidikan menunjukkan efektivitas dalam membangun karakter peserta didik yang religius, inklusif, dan antiradikalisme, terutama melalui peran strategis lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kecerdasan spiritual dan pemikiran Islam moderat merupakan strategi preventif yang esensial dalam upaya deradikalisasi yang bersifat humanis dan berkelanjutan. Inteligensi spiritual. Islam moderat, radikalisme, moderasi beragama, pendidikan Islam. https://pusdikra-publishing. com/index. php/jsr PENDAHULUAN Radikalisme keagamaan hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi ketahanan nasional dan keharmonisan sosial, termasuk di Indonesia yang memiliki keragaman etnis dan agama (Kominfo, 2. Fenomena radikalisme tidak hanya hadir dalam bentuk tindakan kekerasan fisik, tetapi juga dalam narasi keagamaan eksklusif dan intoleransi yang mengakar di berbagai lini kehidupan masyarakat (Hakim, 2. Kondisi ini menuntut pendekatan pencegahan yang lebih komprehensif, bukan hanya melalui kebijakan keamanan semata. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 Radikalisme merupakan persoalan multidimensional yang berkaitan dengan pemahaman agama, kondisi psikologis, dinamika sosial-politik, dan pengaruh lingkungan digital (Dodego & Witro, 2. Ketika pemahaman teks agama dilakukan secara literal dan terlepas dari konteks sosial-keagamaan, maka potensi lahirnya sikap ekstrem akan semakin besar (Azra, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi preventif yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual individu. Ranah pendidikan menjadi ruang strategis untuk internalisasi nilai-nilai keberagamaan yang penuh toleransi. Penelitian menunjukkan bahwa pendidikan perdamaian mampu membangun budaya dialog dan menolak kekerasan atas nama agama (Mustafa et al. , 2. Strategi ini dipandang efektif dalam memperkuat pola pikir moderat peserta didik sejak usia dini. Dalam perspektif psikologi, kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence merupakan faktor penting dalam pembentukan karakter religius yang sehat dan inklusif. Zohar dan Marshall . menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan memberi makna terdalam pada pengalaman hidup melalui nilai transendental. Kecerdasan ini membimbing manusia untuk hidup secara bijaksana dan menjaga harmoni dengan sesama (Buzan, 2. Penguatan kecerdasan spiritual terbukti mampu memperkuat kontrol diri dan penyelesaian masalah secara positif (Uyun, 2. Individu dengan kecerdasan spiritual tinggi memiliki pemahaman keberagamaan yang lebih reflektif dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan ekstrem atau ideologi kekerasan (Fudin, 2. Sehingga SQ menjadi Aufilter batinAy dalam menghadapi ideologi radikal. Sejumlah riset di Indonesia menunjukkan korelasi negatif antara kecerdasan spiritual dengan potensi radikalisme, terutama pada remaja (Ariyanto & Saragih, 2. Semakin kuat kecerdasan spiritual seseorang, semakin kecil kecenderungannya menerima narasi kekerasan agama. Dalam konteks ini, pendidikan spiritual memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan psikologis individu dari radikalisasi. Selain pendekatan psikologis, pemikiran Islam moderat atau Islam wasathiyah menjadi landasan teologis penting dalam pencegahan radikalisme. Moderasi beragama merupakan cara beragama secara seimbang dan adil tanpa ekstrem kanan atau ekstrem kiri (Kementerian Agama RI, 2. Konsep ini juga mencakup penghargaan terhadap keberagaman, toleransi, dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara (Azra, 2. Penelitian Dodego dan Witro . mempertegas bahwa moderasi Islam dapat menjadi solusi efektif dalam meredam radikalisme karena menyebarkan dakwah yang damai dan menolak kekerasan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan prinsip Islam rahmatan lil-Aoalamin yang telah lama hidup dalam tradisi Islam Indonesia (Mustakim. Program pendidikan yang mengintegrasikan moderasi beragama terbukti mampu memperkuat karakter kritis dan toleran pada peserta didik (Fithriyah, 2. Di beberapa Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 pesantren, penerapan nilai moderasi melalui pembiasaan dan pembinaan karakter telah menurunkan kecenderungan perilaku keagamaan radikal (Saebani et al. , 2. Oleh karena itu, pendidikan Islam moderat menjadi langkah konkret deradikalisasi berbasis nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Seiring berkembangnya era digital, pencegahan radikalisme membutuhkan pendekatan baru yang relevan dengan generasi muda. Primarni dan Aminah . menemukan bahwa pendidikan moderasi berbasis komunitas urban sangat efektif dalam mencegah radikalisasi yang bersumber dari media sosial. Artinya, strategi moderasi beragama harus adaptif dan dekat dengan kultur sosial generasi milenial dan Gen-Z. Meski demikian, studi-studi sebelumnya lebih banyak membahas kecerdasan spiritual dan moderasi beragama secara terpisah (Sesmiarni, 2. Masih terbatas penelitian yang mengkaji kedua variabel tersebut secara simultan sebagai kerangka komprehensif dalam mencegah radikalisme (Mustafa et al. , 2. Padahal, secara konseptual keduanya saling melengkapi dan memberikan pengaruh yang saling menguatkan (Zohar & Marshall, 2. Integrasi kecerdasan spiritual dengan moderasi beragama berpotensi melahirkan pribadi yang tidak hanya religius tetapi juga inklusif, kritis, dan mampu menafsirkan ajaran agama dalam konteks kehidupan berbangsa (Uyun, 2. Sinergi keduanya juga dapat menjadi model pendidikan karakter yang relevan dalam menumbuhkan harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia (Azra, 2. Berdasarkan pemaparan tersebut, kajian tentang Peran Inteligensi Spiritual dan Pemikiran Islam Moderat dalam Mencegah Radikalisme menjadi penting secara ilmiah maupun praktis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pendidikan, strategi dakwah, dan program moderasi beragama yang lebih integral dalam menangkal radikalisme sejak akar permasalahan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif-analitis. Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam konsep peran inteligensi spiritual dan pemikiran Islam moderat dalam mencegah radikalisme melalui analisis teori-teori dan temuan penelitian sebelumnya (Creswell & Creswell. Dengan demikian, penelitian ini tidak menguji hipotesis secara statistik, tetapi menafsirkan data konseptual secara sistematis. Teknik penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan . ibrary researc. , karena objek penelitian lebih bersifat teoritis dan berkaitan dengan gagasan konseptual (Zed, 2. Studi kepustakaan memungkinkan peneliti untuk memperdalam kajian tentang radikalisme, inteligensi spiritual, dan moderasi beragama berdasarkan literatur ilmiah yang relevan, seperti buku, artikel jurnal terakreditasi, dan dokumen resmi Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari teori dan kerangka pemikiran tentang kecerdasan spiritual yang dikemukakan oleh Zohar & Marshall . serta Uyun . , dan konsep Islam moderat dari Kementerian Agama RI . dan Azra . Sementara data sekunder diperoleh dari penelitianpenelitian terdahulu mengenai pencegahan radikalisme dalam konteks pendidikan Islam (Mustafa et al. , 2023. Saebani et al. , 2. Proses pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi ilmiah, yaitu menelusuri, memilih, dan mengkompilasi referensi yang relevan dengan topik penelitian (Sugiyono, 2. Semua literatur yang digunakan disaring berdasarkan tingkat kredibilitas sumber, keterbaruan, dan kesesuaian konten dengan fokus penelitian, sehingga analisis yang dibangun memiliki dasar akademik yang kuat (Zed, 2. Teknik analisis data menggunakan analisis isi . ontent analysi. Analisis ini dilakukan untuk memilah informasi kunci, membandingkan argumen antarpeneliti, dan menemukan pola-pola tematik mengenai hubungan antara inteligensi spiritual, pemikiran Islam moderat, serta pencegahan radikalisme (Krippendorff, 2. Pola-pola tematik tersebut selanjutnya ditafsirkan untuk menghasilkan pemahaman baru yang lebih komprehensif. Keabsahan data diperkuat dengan triangulasi sumber, yakni membandingkan berbagai hasil penelitian dan pendapat ahli untuk memastikan bahwa kesimpulan yang diambil tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Moleong, 2. Prosedur ini penting untuk menjaga objektivitas dan memastikan bahwa analisis tidak terjebak pada satu pandangan tertentu. Dengan metode analisis ini, penelitian diharapkan mampu memberikan konstruksi teoritis yang integratif mengenai kontribusi inteligensi spiritual dan pemikiran Islam moderat dalam pencegahan radikalisme. Model analitis yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi pijakan konseptual bagi pengembangan kurikulum, pembinaan karakter, serta praktik moderasi beragama dalam pendidikan Islam di Indonesia (Azra, 2020. Uyun, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan psikologis peserta didik terhadap paparan Berdasarkan analisis literatur, individu yang mampu memaknai ajaran agama secara mendalam dan transendental cenderung tidak mudah menerima interpretasi agama yang sempit dan penuh kebencian (Zohar & Marshall, 2. Kecerdasan spiritual mengarah pada kemampuan refleksi diri, sikap bijaksana, dan kesadaran akan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan dan sesama, sehingga narasi radikal yang menjustifikasi kekerasan sulit diterima oleh individu dengan karakter spiritual yang matang (Uyun, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 Lebih jauh lagi, hasil analisis menunjukkan bahwa salah satu ciri kecerdasan spiritual adalah kemampuan memandang kesulitan sebagai bagian dari proses pemaknaan hidup dan bukan sebagai alasan untuk melakukan aksi destruktif. Peserta didik dengan SQ tinggi mampu mengelola emosi negatif seperti marah, kecewa, dan ketidakpuasan sosial secara positif dan bukan dengan pembenaran kekerasan (Buzan. Kondisi ini menjadikan inteligensi spiritual faktor protektif bagi munculnya sikap Literatur juga memperlihatkan bahwa keterhubungan seseorang dengan nilai-nilai spiritual yang luhur dapat membantu membangun rasa empati dan kepedulian sosial (Uyun, 2. Empati merupakan aspek penting yang membuat seseorang menolak tindakan ekstremisme, karena mampu melihat nilai kemanusiaan yang melekat pada setiap individu tanpa membeda-bedakan latar belakang keagamaan (Hakim, 2. Ini berarti semakin tinggi empati yang tertanam melalui pendidikan spiritual, semakin kuat penolakan terhadap radikalisme. Selain aspek psikologis, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Islam moderat (Islam wasathiya. memiliki kontribusi teologis dan sosiologis dalam pencegahan radikalisme. Islam moderat menekankan nilai keseimbangan, keadilan, toleransi, dan anti kekerasan sebagai pedoman beragama (Kementerian Agama RI, 2. Pemahaman agama yang inklusif ini mengarahkan peserta didik untuk menerima keberagaman sebagai kenyataan Ilahi, bukan ancaman ideologis (Azra, 2. Narasi Islam moderat dalam banyak penelitian terbukti efektif dalam membendung penyebaran ideologi ekstrem, terutama di lembaga pendidikan Islam dan pesantren (Dodego & Witro, 2. Strategi deradikalisasi berbasis moderasi agama mampu membangun kesadaran bahwa Islam mengajarkan kasih sayang universal dan menolak segala bentuk kekerasan yang merusak perdamaian sosial (Mustakim, 2. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi fondasi penting dalam benteng pemikiran antiradikalisme. Temuan lain menunjukkan bahwa peran guru, kyai, dan pendidik sangat krusial dalam melakukan internalisasi nilai moderasi beragama melalui proses pembelajaran yang dialogis dan kontekstual. Pesantren yang menerapkan kurikulum pembinaan karakter berbasis wasathiyah mampu menghasilkan santri yang berakhlak baik dan jauh dari kecenderungan ekstrem (Saebani et al. , 2. Pendidikan agama yang inklusif terbukti menjadi ruang terbaik untuk menumbuhkan sikap toleran sejak dini (Fithriyah. Dalam konteks milenial dan Gen-Z, media sosial menjadi ruang potensial untuk radikalisasi intelektual karena bersifat bebas dan sulit dikontrol (Kominfo, 2. Karena itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan Islam moderat di platform digital menjadi kebutuhan strategis agar generasi muda tidak mudah terpapar ujaran kebencian Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 Hal ini juga mendukung terciptanya ekosistem dakwah yang ramah, positif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman (Primarni & Aminah, 2. Ketika data hasil analisis dikaitkan antara kecerdasan spiritual dan Islam moderat, muncul temuan penting bahwa kedua konsep ini saling menguatkan. Nilai-nilai spiritual yang membentuk kebijaksanaan batin bertemu dengan nilai wasathiyah yang mengokohkan moderasi berpikir. Kombinasi keduanya menghasilkan pribadi beragama yang sadar akan tujuan ibadah, menjaga keadilan, dan menghargai kemanusiaan universal (Azra, 2. Selain itu, hasil penelitian mengonfirmasi bahwa radikalisme agama tidak hanya ditolak melalui argumentasi teologi moderat, tetapi juga melalui kekuatan karakter spiritual yang matang. Keduanya membentuk pendekatan pencegahan yang bersifat internal . dan eksternal . emahaman agama dan sosia. , sehingga menjadi model pencegahan radikalisme yang lebih menyeluruh. Penelitian juga mengungkap bahwa keberhasilan pencegahan radikalisme sangat dipengaruhi oleh peran keluarga dan komunitas keagamaan. Keluarga yang menerapkan nilai spiritual dan toleransi dalam pendidikan anak terbukti lebih berhasil membentuk karakter inklusif yang tidak mudah terpengaruh ideologi radikal (Sesmiarni. Intervensi pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat peserta didik. Hasil penelitian menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam, terutama madrasah dan pesantren, memiliki posisi strategis dalam membangun sistem pembinaan spiritual dan moderasi beragama yang terstruktur. Kurikulum yang memperkuat intelektualitas, spiritualitas, dan akhlakul karimah dapat menjadi benteng ideologis dan moral terhadap radikalisme (Mustafa et al. , 2. Temuan selanjutnya menunjukkan bahwa pendidikan agama yang tidak kontekstual dan cenderung tekstualistik berpotensi menjadi pintu masuk bagi radikalisme (Hakim, 2. Oleh sebab itu, pembelajaran agama harus selalu memperhatikan kondisi sosial-budaya, sehingga ajaran dapat dicerna secara objektif dan tidak kaku. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa inteligensi spiritual berperan sebagai fondasi kepribadian antiradikalisme, sedangkan pemikiran Islam moderat bertindak sebagai kerangka ideologis dan teologis penangkal radikalisme. Kombinasi keduanya menjadikan proses preventif lebih efektif dan berkelanjutan dalam menjaga lingkungan pendidikan dari infiltrasi paham radikal. Temuan ini memberikan gambaran bahwa langkah pencegahan radikalisme terhadap generasi muda harus dilakukan dengan pendekatan yang menyentuh aspek moral, spiritual, dan pemahaman agama yang inklusif secara bersamaan. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara spiritual dan moderat dalam cara berpikir serta bertindak (Uyun, 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara inteligensi spiritual dan pemikiran Islam moderat dalam mencegah radikalisme bersifat saling komplementer. Inteligensi spiritual memberikan kekuatan mental untuk menolak ajakan radikal melalui kesadaran transendental dan pengendalian diri, sementara Islam moderat menyediakan paradigma keagamaan yang menjunjung kedamaian dan toleransi (Zohar & Marshall, 2000. Kementerian Agama RI, 2. Analisis kajian menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya lahir dari kesalahan pemahaman agama, tetapi juga dari krisis spiritualitas yang memunculkan kekosongan makna hidup (Buzan, 2. Ketika agama dipahami hanya sebatas ritual tanpa kedalaman spiritual, ideologi ekstrem menjadi lebih mudah memengaruhi individu yang emosional, defensif, dan tidak stabil secara psikologis (Hakim, 2. Implementasi nilai Islam moderat dalam konteks pendidikan terbukti berperan sebagai benteng ideologis yang mengarahkan peserta didik untuk menghormati keberagaman dan menjadikan agama sebagai jalan perdamaian (Dodego & Witro, 2. Hal ini konsisten dengan prinsip Islam rahmatan lil-Aoalamin yang secara tegas menolak kekerasan sebagai ekspresi keberagamaan (Azra, 2. Pembahasan juga menunjukkan bahwa pendidikan merupakan ruang paling strategis dalam memadukan penguatan karakter spiritual dan pendidikan moderasi Pendidik harus memiliki kemampuan merancang pembelajaran agama yang kontekstual, reflektif, dan sensitif terhadap isu radikalisme di sekitar lingkungan peserta didik (Saebani et al. , 2. Dalam era digital, tantangan pencegahan radikalisme semakin kompleks karena ideologi ekstrem dengan mudah menyasar generasi muda melalui media sosial. Oleh karena itu, pendekatan deradikalisasi harus dilakukan secara adaptif dengan memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan narasi agama yang sejuk dan damai (Primarni & Aminah, 2. Pembahasan menegaskan bahwa keberhasilan integrasi inteligensi spiritual dengan Islam moderat sangat bergantung pada kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan komunitas keagamaan untuk menciptakan ekosistem sosial yang anti-radikalisme. Pencegahan harus dilakukan secara terus-menerus dan bukan hanya ketika gejala radikalisasi sudah terlihat (Sesmiarni, 2. Akhirnya, hasil pembahasan memberikan pemahaman bahwa pencegahan radikalisme membutuhkan strategi yang tidak hanya represif melalui penegakan hukum, tetapi lebih utama adalah langkah preventif dan humanis melalui pembinaan spiritual dan pemikiran Islam yang moderat. Dengan fondasi ini, peserta didik tidak hanya terlindungi dari radikalisme, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian di masyarakat (Mustafa et al. , 2. Education Achievment : Journal of Science and Research Volume 6 Issue 3 November 2025 Page 992-1001 KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis deskriptif-analitis mengenai peran inteligensi spiritual dan pemikiran Islam moderat dalam mencegah radikalisme, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang bersifat substantif dan komprehensif. Pertama, inteligensi spiritual berperan sebagai sistem kontrol internal yang mampu membentuk ketahanan psikologis peserta didik dalam menghadapi narasi ekstrem. Melalui penguatan kesadaran transendental, pemaknaan hidup yang bijaksana, kemampuan regulasi emosi, serta sikap empati dan kasih sayang, kecerdasan spiritual mendorong individu untuk menolak kekerasan dan membangun kedamaian (Zohar & Marshall, 2000. Uyun, 2. Karena itu. SQ menjadi filter batin yang menghalau ajakan radikal yang memanfaatkan sentimen keagamaan. Kedua, pemikiran Islam moderat (Islam wasathi. memberikan kerangka teologis dan ideologis yang menegakkan nilai keseimbangan, keadilan, toleransi, serta penghargaan terhadap keberagaman (Kemenag RI, 2019. Azra, 2. Pemikiran ini menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmat dan perdamaian, sehingga segala bentuk kekerasan atas nama agama merupakan penyimpangan dari nilai keislaman itu Dengan demikian, moderasi beragama berfungsi sebagai benteng pemikiran dalam menangkal radikalisme. Ketiga, integrasi pendidikan spiritual dan pendidikan moderasi beragama dalam sistem pendidikan Islam terbukti menjadi pendekatan preventif yang efektif. Lembaga pendidikan seperti madrasah dan pesantren memiliki posisi strategis dalam internalisasi nilai-nilai anti-radikalisme melalui kurikulum, budaya sekolah, dan keteladanan pendidik (Mustafa et al. , 2023. Saebani et al. , 2. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat tumbuh sebagai pribadi religius yang cerdas secara spiritual, moderat secara pemikiran, dan berkarakter kebangsaan yang kuat. Sehingga dapat ditegaskan bahwa pencegahan radikalisme harus dilakukan secara komprehensif, menyentuh aspek psikologis . piritualitas dir. , teologis . emikiran Islam modera. , dan sosial-edukatif . ingkungan pendidika. Sinergi ketiga aspek tersebut menjadi fondasi untuk menciptakan generasi beragama yang inklusif, toleran, dan siap berkontribusi dalam menciptakan perdamaian serta menjaga keutuhan bangsa. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan program deradikalisasi yang bersifat preventif, humanis, dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA