Studi Hubungan antara Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Pelajar SMA Jakarta Ocberta & Monika STUDI HUBUNGAN ANTARA AUTONOMY-SUPPORTIVE TEACHING DAN MOTIVASI BELAJAR PELAJAR SMA JAKARTA Natalie Ocberta1. Monika2 Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: natalie. 705210009@stu. Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: monika@fpsi. Masuk: 01-12-2024. Revisi: 20-01-2025. Diterima untuk diterbitkan: 01-05-2025 ABSTRAK Guru memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran siswa di sekolah. Selain menjadi pemberi pembelajaran, guru pun diharapkan dapat memberi motivasi kepada siswa dalam semangat mengikuti pembelajaran. Salah satu cara guru memotivasi siswa adalah dengan menerapkan metode autonomy supportive teaching yang dapat meningkatkan keterlibatan belajar siswa di kelas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan autonomy supportive teaching dengan motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang melibatkan 393 siswa SMA di Jakarta sebagai partisipan penelitian. Pengambilan data dengan menyebarkan kuesioner secara luring di sekolah. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur yaitu alat ukur Learning Climate Questionnaire yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Salsabila . untuk mengukur autonomy supportive teaching yang dirasakan melalui persepsi siswa dan Academic Motivation Scale yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Marvianto dan Widhiarso . untuk mengukur motivasi belajar. Pengolahan data menggunakan metode korelasional untuk melihat hubungan antara variabel autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar siswa. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara autonomy supportive teaching dengan motivasi belajar siswa SMA . = 0. p = 0. 000 < . Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi autonomy-supportive teaching yang diterapkan oleh guru maka dapat meningkatkan motivasi belajar siswa SMA di Jakarta. Kata Kunci: Autonomy supportive teaching. Motivasi Belajar. Pelajar SMA. ABSTRACT Teachers play a crucial role in the learning process of students at school. In addition to delivering lessons, teachers are also expected to motivate students to actively engage in learning. One-way teachers can motivate students is by implementing autonomy-supportive teaching methods, which can enhance students' learning engagement in the This study aimed to investigate the relationship between autonomy-supportive teaching and students' learning motivation. It was a quantitative study involving 393 high school students in Jakarta as research participants. Data collection was conducted by distributing questionnaires offline at schools. The study utilized two measurement tools: the Learning Climate Questionnaire, adapted into Indonesian by Salsabila . , to measure perceived autonomy-supportive teaching based on studentsAo perceptions, and the Academic Motivation Scale, adapted into Indonesian by Marvianto and Widhiarso . , to measure learning motivation. Data analysis employed a correlational method to examine the relationship between autonomy-supportive teaching and students' learning The results indicated a significant relationship between autonomy-supportive teaching and high school students' learning motivation . = . p = . 000 < . Based on these findings, it can be concluded that the higher the autonomy-supportive teaching implemented by teachers, the greater the learning motivation of high school students in Jakarta. Keywords: Autonomy supportive teaching. Learning Motivation. High School Students. phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 42-49 E-ISSN: 3032-7202 Sekolah Menengah atau biasa disingkat SMA merupakan jenjang pendidikan formal dasar di Indonesia yang ditempuh dalam waktu 3 tahun dimulai dari kelas 10 sampai kelas 12. berdasarkan Santrock . , fase remaja merupakan masa peralihan dan perkembangan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, periode tersebut dimulai sekitar usia 10 hingga 12 tahun sampai akhir masa remaja sekitar usia 19 atau 20 Pada periode remaja, mereka akan secara intens mengejar kemandirian dan mencari identitas diri mereka, serta pemikiran yang menjadi lebih abstrak, logis, dan idealis. Sebagai seorang remaja, terdapat tugas perkembangan yang perlu dipenuhi juga seperti menempuh pendidikan. Keterikatan pelajar pada interaksi teman sebaya maupun guru menjadi salah satu bentuk sosialisasi (Oktaviani & Dewi, 2. Seorang pelajar tentu menghabiskan besar waktunya di sekolah, terutama di kelas. Oleh karena itu, interaksi oleh pelajar dan guru merupakan sesuatu yang paling dekat dan hal tersebut dapat memicu potensi pengaruh pada motivasi pelajar dalam belajar atau berada di sekolah (Youngs dalam Rohinsa et al. , 2. Pada proses pembelajaran, motivasi berperan secara aktif sebagai daya penggerak keinginan bekerja seseorang dalam mencapai suatu tujuan. Hasil penelitian oleh Ahmed et al. alam Oktaviani & Dewi, 2. menunjukkan bahwa dukungan sosial melalui motivasi dan perhatian dapat berhasil menjadi pemicu pencapaian hasil belajar dari pelajar. Dukungan tersebut dapat berasal dari lingkungan terdekatnya yaitu lingkungan sekolah dan guru mengambil peran dalam hal tersebut. Menurut UU nomor 14 tahun 2005, guru adalah pendidik profesional yang memiliki tugas utama dalam mendidik, memberi pengajaran, membimbing, mengarahkan, serta mengevaluasi peserta didik pada seluruh jalur pendidikan. Perkembangkan baru memberikan konsekuensi kepada guru agar dapat meningkatkan peran dan kompetensi sepenuhnya kepada pelajar karena proses pembelajaran dan hasil yang diperoleh pelajar ditentukan dari peranan dan kompetensi seorang guru. Guru yang memiliki kompeten dalam mengajar akan mampu mengelola kelasnya sehingga mendapat hasil yang optimal dalam hasil belajar pelajar (Arianti, 2. Peran guru diharapkan bukan hanya sebagai pemberi materi atau pembelajaran di sekolah, tetapi juga dapat memberikan motivasi kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran seperti mendorong perkembangan intelektual, personal, dan sosial. Menurut Stipek . alam Randa et al. banyak pelajar yang tidak dapat berhasil di sekolah dikarenakan memiliki interaksi atau hubungan negatif dengan guru mereka di sekolah. Sedangkan, guru harus dapat membangun hubungan baik dengan pelajar sehingga guru dapat menciptakan lingkungan yang memotivasi, menantang, dan efektif untuk memfasilitasi pelajar dalam keterlibatannya dalam pembelajaran (Hanaris, 2. Berdasarkan hasil penelitian oleh Azizah et al. menunjukkan bahwa peran guru berpengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar pelajar dengan memberikan suasana pembelajaran yang menyenangkan kepada pelajar sehingga pelajar dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut sejalan dengan salah satu upaya dalam menyediakan lingkungan kelas dan hubungan antara guru dengan pelajar yang dapat mendukung otonomi pelajar yang disebut dengan autonomy-support (Reeve dalam Aliviani, 2. Metode pengajaran dengan autonomy supportive adalah pendekatan di mana guru menerima perspektif pelajar, mendengarkan pendapat mereka, memberi kesempatan mengambil keputusan, memberikan alasan rasional dalam pemaparan materi, dan menetapkan aturan dalam tugas (Rohinsa, 2. Pendekatan menggunakan autonomy-support juga dapat membuat pelajar merasa dirinya kompeten . ense of competenc. Perlakuan guru yang dapat menghargai pendapat pelajar juga dapat memfasilitasi terpenuhinya rasa dihargai dan diterima dalam lingkungan . ense of relatednes. (Aliviani, 2. Hasil penelitian lainnya oleh Stefani dan Monika . , penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat dampak positif dari autonomy-supportive teaching dalam memengaruhi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar hingga motivasi berprestasi pelajar. Hal yang mempengaruhi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar seperti hubungan yang positif, harmonis, serta hangat yang berlangsung antara guru dan pelajar (Efendy et al. , dalam Stefani & Monika, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin membahas lebih lanjut mengenai apakah terdapat hubungan antara autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar pelajar SMA yang dilihat berdasarkan persepsi para pelajar. Studi Hubungan antara Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Pelajar SMA Jakarta Ocberta & Monika METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan bentuk non-eksperimental yang menggambarkan hubungan pengajaran berbasis dukungan otonomi dengan motivasi belajar pada pelajar SMA. Teknik yang digunakan dalam penelitian adalah non-probability sampling, yaitu purposive sampling. Teknik ini dilakukan dengan menyebarkan link secara offline kepada partisipan yang bersekolah di SMA serta telah mendapat persetujuan dari pihak kepala sekolah. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian adalah Learning Climate Questionnaire oleh Salsabila . untuk mengukur autonomy supportive teaching yang dirasakan melalui persepsi pelajar dan Academic Motivation Scale oleh Marvianto dan Widhiarso . untuk mengukur motivasi belajar. Partisipan Partisipan pada penelitian ini adalah pelajar-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta yang terdiri dari pelajar kelas 10, 11, dan 12 dengan rentang usia 15-18 tahun. Pada penelitian ini juga tidak dibatasi baik ras, status ekonomi, sosial, maupun jenis kelamin. Berdasarkan kategori jenis kelamin, jumlah partisipan dengan jenis kelamin pria lebih sedikit daripada Partisipan pria sebanyak 156 orang atau 39,7% sedangkan perempuan sebanyak 237 orang atau 60,3%. Tabel 1 Gambaran Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-Laki Perempuan Jumlah Berdasarkan kategori usia, partisipan dalam penelitian ini memiliki rentang usia antara 15 hingga 18 tahun. Partisipan paling banyak yaitu partisipan dengan usia 16 tahun yaitu sebanyak 140 orang atau 35,6%, sedangkan partisipan paling sedikit yaitu partisipan dengan usia 18 tahun yaitu sebanyak 42 orang atau 10,7%. Tabel 2 Gambaran Partisipan Berdasarkan Usia Usia Jumlah Frekuensi Persentase (%) phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 42-49 E-ISSN: 3032-7202 Pengukuran Pengukuran autonomy-supportive teaching diukur menggunakan Learning Climate Questionnaire (LCQ). Alat ukur LCQ ini merupakan adaptasi dari Health-Care Climate Questionnaire oleh Williams et al. dalam Schmidt et al. dan telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Salsabila . Learning Climate Questionnaire mencakup enam aspek perilaku menurut Reeve . , yaitu: . take the studentAos perspective. vitalize inner motivational resources. provide explanatory rationales. acknowledge and accept affect. use informational and non pressuring language. displays Dari keenam aspek perilaku tersebut memiliki satu faktor yang mendasari dengan konsistensi internal yang tinggi yaitu tertuang dalam skala Perceived Autonomy Support yang bersifat unidimensional (Williams et al. , 1. Alat ukur Learning Climate Questionnaire ini juga telah dilakukan uji reliabilitas oleh peneliti menggunakan aplikasi SPSS dengan menggunakan Uji Reliabilitas Alpha Cronbach dengan hasil sebesar 0. Contoh butir positif Ausaya merasa guru sangat memahami sayaAy, dan untuk contoh butir negatif yaitu Ausaya kurang suka cara guru saya dalam menyampaikan materi pembelajaranAy. Dalam pengukuran motivasi belajar, peneliti menggunakan alat ukur motivasi siswa dalam belajar yang dibuat oleh Vallerand et al. bernama Echele de Motivation en Education (EME). Selanjutnya pada tahun 1992. Vallerand mengadaptasi alat ukur EME tersebut ke dalam bahasa Inggris menjadi Academic Motivation Scale (AMS). Selanjutnya, alat ukur tersebut diadaptasi kembali oleh Marvianto dan Widhiarso . ke dalam bahasa Indonesia. Alat ukur AMS merupakan alat ukur motivasi yang berlandaskan pada teori self-determination oleh Ryan dan Deci (Vallerand et al. dalam Marvianto et al. Alat ukur AMS terdiri atas 28 butir pernyataan untuk mengukur tujuh jenis motivasi yang merupakan tujuan dari jenis motivasi intrinsic motivation, extrinsic motivation dan amotivation yang berasal dari self-determination Adapun jenis motivasi tersebut yaitu . intrinsic motivation to know, . intrinsic motivation toward accomplishment things, . intrinsic motivation to experience stimulation, . identified regulation . introjected regulation, . external regulation, dan . Berdasarkan hasil uji reliabilitas semua dimensi variabel mendapatkan nilai alpha cronbach > 0. 060 yang berarti semua dimensi reliabel. Contoh butir positif yaitu Ausaya merasa senang ketika menambah pengetahuan saya tentang sesuatu yang menarik bagi sayaAy dan butir negatif yaitu Ausaya tidak menemukan alasan untuk bersekolah dan sejujurnya, saya tidak peduliAy Prosedur Pada tahap pelaksanaan, peneliti mulai menyebarkan tautan kuesioner yang dipersiapkan dan dirancang kepada partisipan penelitian yang memenuhi kriteria penelitian. Peneliti mulai menyebarkan kuesioner secara langsung ke 2 sekolah menengah atas di Jakarta pada tanggal 25 September dan 9 Oktober 2024. Sebelumnya peneliti sudah meminta izin melalui pesan whatsapp terkait langkah awal untuk perizinan pengambilan data. Setelah diizinkan untuk datang secara langsung, peneliti menyampaikan hari dan waktu perkiraan untuk pengambilan data, serta melampirkan surat perizinan pengambilan data dari Universitas. Setelah mendapat izin untuk melakukan penelitian, peneliti kembali ke sekolah pada waktu dan hari yang telah ditentukan untuk pengambilan data. Langkah pertama dalam proses yang dilalui oleh partisipan adalah partisipan penelitian akan membaca informasi penelitian dan mengisi lembaran informed consent, setelahnya mengisi identitas atau data diri. Kemudian, partisipan penelitian akan beralih ke halaman berikutnya yaitu menjawab butir-butir pertanyaan mengenai variabel penelitian sesuai dengan skala likert yang tersedia. Setelah mengisi seluruh butir pernyataan, partisipan akan sampai pada lembar terakhir yaitu tombol AukirimAy untuk mengumpulkan hasil dari jawaban mereka dan akan diperlihatkan lembar ucapan terima kasih. Dikarenakan penyebaran dilakukan secara luring di sekolah, peneliti juga telah menyiapkan sebuah pulpen sebagai ucapan terima kasih kepada siswa yang telah berpartisipasi dan diberikan kepada partisipan jika sudah menekan tombol AukirimAy dan telah menyelesaikan pengisian kuesioner. Setelah partisipan telah memenuhi jumlah yang dibutuhkan, peneliti menutup akses pengisian google form. Studi Hubungan antara Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Pelajar SMA Jakarta Ocberta & Monika HASIL Pengujian normalitas data untuk mengidentifikasi data penelitian yang menggunakan uji statistika One sample Kolmogorov-Smrinov. Berdasarkan hasil pengujian, menunjukkan hasil variabel autonomysupportive teaching memperoleh nilai Z= . 053 dan nilai p = . 010 < . 05 yang artinya penyebaran data tidak terdistribusi normal. Sedangkan, data hasil pengolahan variabel motivasi belajar memperoleh nilai Z = 085 dengan nilai p = 0. 000 < 0. 05 yang artinya penyebaran data tidak terdistribusi normal. Tabel 3 Uji Normalitas Variabel Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Variabel Kolmogorov-Smirnov Autonomy-Supportive Teaching Motivasi Belajar Keterangan Terdistribusi tidak Terdistribusi tidak Penelitian menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak terdistribusi normal. Berdasarkan uji korelasi, didapatkan hasil nilai r = 0. p = 0. 000 < 0. 05 yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara variabel autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi autonomy-supportive teaching yang diterapkan oleh guru, maka semakin tinggi juga motivasi belajar yang dirasakan oleh siswa. Begitu pun sebaliknya, semakin rendah autonomy-supportive teaching yang diterapkan, maka semakin rendah juga motivasi belajar yang dirasakan oleh siswa. Tabel 4 Uji Korelasi Spearman Variabel Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Variabel Autonomy-Supportive Teaching dengan Motivasi Belajar Keterangan Terdapat hubungan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi gaya pengajaran autonomy supportive dari guru maka semakin tinggi tingkat motivasi belajar pelajar di sekolah. Hal tersebut berlaku juga sebaliknya, semakin rendah gaya pengajaran autonomy supportive maka semakin rendah motivasi belajar pelajar di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hal tersebut sejalan dengan yang dilakukan oleh Stefani dan Monika . yang menyatakan bahwa autonomy supportive teaching atau gaya pengajaran dukungan otonomi dari guru memiliki hubungan positif yang signifikan dengan motivasi prestasi pelajar. Hal tersebut dapat diberikan oleh guru dengan cara seperti memberikan penjelasan yang lebih mudah dipahami mengenai pengerjaan tugas, membuka kesempatan bagi pelajar untuk berpendapat, menciptakan suasana kelas dan belajar yang menyenangkan bagi pelajar, memberikan hadiah dan pujian agar pelajar dapat lebih bermotivasi dan memiliki rasa ingin menghasilkan yang terbaik. Penelitian sejalan lainnya oleh Hanaris . menyatakan bahwa strategi yang efektif memotivasi pelajar untuk belajar yaitu dengan memberikan otonomi dan pilihan kepada pelajar karena guru merupakan kunci penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang dapat memotivasi dan menantang bagi pelajar. Dengan phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 2, 42-49 E-ISSN: 3032-7202 bantuan dari guru, pelajar diyakini dapat mengembangkan motivasi intrinsik serta mencapai penuh potensi mereka dalam menjalankan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tujuh dimensi motivasi belajar memiliki hubungan secara positif dan signifikan dengan autonomy-supportive teaching. Selain itu, peneliti juga melakukan uji beda untuk melihat hubungan variabel autonomy supportive teaching yang ditinjau berdasarkan jenis kelamin menggunakan uji Mann-Whitney U karena data tidak terdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji beda, diperoleh Z. = -2. p = 0. 023 < 0. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara autonomy-supportive teaching dengan jenis kelamin. Pada variabel autonomy supportive ditinjau dari perbedaan jenis kelamin menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara persepsi antara pelajar laki-laki dan perempuan. Pelajar laki-laki menunjukkan bahwa mereka lebih tinggi dalam merasakan pengajaran dengan basis autonomy supportive atau dukungan otonomi daripada perempuan. Menurut Meece dan Jones . alam Kwarikunda et al. , 2. , pelajar perempuan lebih suka menggunakan strategi menghafal sementara pelajar laki-laki lebih suka menggunakan strategi elaborasi dan mereka cenderung mengembangkan strategi pembelajaran otonom dan keinginan dalam mengambil alih kendali strategi pembelajaran mereka. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan oleh Codina et al. , . yang menjelaskan bahwa gaya mengajar guru dengan memberikan otonomi kepada pelajar dapat menciptakan lingkungan yang dapat mengembangkan kompetensi para Tabel 5 Uji Beda Autonomy Supportive Teaching berdasarkan Jenis kelamin Jenis Kelamin Mean Rank Keterangan Laki-laki Terdapat Perempuan DISKUSI Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan positif signifikan antara autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar. Berdasarkan pengujian hipotesis melalui korelasi spearman menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima sehingga dapat disimpulkan jika gaya pengajaran autonomy-supportive teaching diterapkan oleh guru tinggi, maka akan semakin kuat juga hubungan terhadap motivasi belajar pelajar di sekolah. Hal tersebut berlaku sebaliknya, jika autonomy-supportive teaching yang diterapkan oleh guru rendah, maka motivasi belajarnya juga akan rendah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, hal tersebut sejalan dengan yang dilakukan oleh Stefani dan Monika . yang menyatakan bahwa autonomy supportive teaching atau gaya pengajaran dukungan otonomi dari guru memiliki hubungan positif yang signifikan dengan motivasi prestasi pelajar. Hal tersebut dapat diberikan oleh guru dengan cara seperti memberikan penjelasan yang lebih mudah dipahami mengenai pengerjaan tugas, membuka kesempatan bagi pelajar untuk berpendapat, menciptakan suasana kelas dan belajar yang menyenangkan bagi pelajar, memberikan hadiah dan pujian agar pelajar dapat lebih bermotivasi dan memiliki rasa ingin menghasilkan yang terbaik. Penelitian sejalan lainnya oleh Hanaris . menyatakan bahwa strategi yang efektif memotivasi pelajar untuk belajar yaitu dengan memberikan otonomi dan pilihan kepada pelajar karena guru merupakan kunci penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang dapat memotivasi dan menantang bagi pelajar. Dengan bantuan dari guru, pelajar diyakini dapat mengembangkan motivasi intrinsik serta mencapai penuh potensi mereka dalam menjalankan proses pembelajaran. Studi Hubungan antara Autonomy-Supportive Teaching dan Motivasi Belajar Pelajar SMA Jakarta Ocberta & Monika KESIMPULAN Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan antara autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar siswa sekolah menengah atas atau disingkat SMA. Dalam penelitian ini mendapat kesimpulan melalui uji korelasi yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara autonomy-supportive teaching dengan motivasi belajar. Berdasarkan pengujian hipotesis melalui korelasi spearman menunjukkan bahwa hipotesis penelitian diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi gaya pengajaran autonomy-supportive teaching diterapkan oleh guru, maka akan semakin kuat pula hubungan terhadap motivasi belajar siswa di sekolah. Berlaku juga sebaliknya, jika autonomy-supportive teaching yang diterapkan oleh guru rendah, maka motivasi belajarnya akan rendah. REFERENSI