Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 PERENCANAAN GEDUNG REHABILITASI SOSIAL ANAK JALANAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR TROPIS DI SAMARINDA Warlia1. Faizal Baharuddin2 & Lisa Astria Milasari3 1Mahasiswa Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda 2&3Dosen Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Email : warlia@gmail. com, lisaastria71@gmail. ABSTRAK Perkembangan anak jalanan di berbagai daerah semakin meningkat salah satunya di Kota Samarinda. Pada tahun 2013 memiliki jumlah anak jalanan sebanyak 187 orang, kemudian ditahun 2015 jumlah anak jalanan semakin bertambah yaitu sebanyak 200 orang. Ada tiga faktor utama penyebab timbulnya anak jalanan yaitu kurangnya perhatian dari keluarga, pengaruh lingkungan teman, serta faktor kemiskinan menjadikan anak terpaksa menanggung beban ekonomi keluarga. Pada penelitian ini bertujuan untuk membuat gedung rehabilitasi dengan pendekatan arsitektur tropis melalui deskriptif dan rancangan design bangunan gedung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan gedung rehabilitasi untuk anak jalanan berlokasi di Jalan Ruhui Rahayu, dengan luas A16. 265 m2, dengan kriteria anak jalanan mulai dari umur 4 hingga 16 tahun. Selain itu, daya tampung untuk anak jalanan dan pengelolaanya berjumlah 250 orang. Konsep bangunan berupa banyaknya bukaan dan sunshading untuk meminimalisir cahaya matahari terhadap bangunan. Kata Kunci : Rehabilitasi. Anak Jalanan. Arsitektur Tropis ABSTRACT The development of street children in various regions is increasing one of them in Samarinda City. In 2013 there were 187 street children, then in 2015 the number of street children increased by 200 There are three main factors causing the emergence of street children, namely the lack of attention from family, the influence of friends' environment, and poverty factors that make children forced to bear the economic burden of the family. In this study aims to create a rehabilitation building with a tropical architectural approach through descriptive design and building design. The results showed that the design of rehabilitation buildings for street children is located on Jalan Ruhui Rahayu, with an area of A 16,265 m2, with criteria for street children ranging from ages 4 to 16 years. addition, the capacity for street children and their management amounts to 250 people. The concept of the building in the form of many openings and sunshading to minimize sunlight on the building. Keywords: Rehabilitation. Street Children. Tropical Architecture PENDAHULUAN Perkembangan anak jalanan di berbagai daerah semakin meningkat salah satunya di Kota Samarinda. Jumlah anak jalanan yang tidak ada habisnya serta kurangnya perhatian dari instansi terkait mengakibatkan populasi anak jalanan di Kota Samarinda terus meningkat. Pada tahun 2011 hingga tahun 2013 jumlah anak jalanan mengalami penurunan, akan tetapi jumlahnya kembali Totem - 1 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 meningkat pada tahun 2015. Berdasarkan data dari Dinas Sosial Kota Samarinda menunjukkan bahwa anak jalanan di Kota Samarinda mengalami penurunan mulai dari 233 orang pada tahun 2011, menurun menjadi 197 orang pada tahun 2012, hingga menurun menjadi 187 orang pada tahun Pendekatan Pemerintah Kota Dalam Mengatasi Anak Jalanan Di Kota Samarinda tahun 2008, sebaran anak jalanan yang ada di Kota Samarinda tersentralisasi di pusat-pusat perkotaan seperti perempatan lampu merah di jantung kota, pusat-pusat perbelanjaan tradisional, dan tempat-tempat Rutinitas anak jalanan ditempat-tempat tersebut bermotif ekonomi. Berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian dari para pengguna fasilitas umum tersebut seperti penjual koran, pedagang asongan, tukang semir sepatu, pengamen dll. Karakteristik anak jalanan di Samarinda menunjukkan ciri tersendiri. Hal ini diidentifikasi dari cara bekerja berdasarkan asal mereka yakni yang berasal dari luar Samarinda . uku pendatan. pada umumnya bekerja dijalanan sebagai pengemis, guide pengemis tua dan pengamen, sementara mereka yang merupakan penduduk dan berdomisili di Kota Samarinda biasanya bekerja sebagai penjual koran, pedagang asongan dan tukang semir (Spirit Publik, 2. Perkembangan jumlah anak jalanan di Kota Samarinda kurang didukung oleh keberadaan tempat yang dapat mengakomodasi serta memberikan arahan, bimbingan, pendidikan, pengembangan bakat, wadah untuk berkarya dan bermain agar mereka dapat hidup lebih mandiri tanpa harus mencari uang dijalanan. Sehingga, perencanaan dan perancangan gedung rehabiltasi sosial harus bisa memberikan kenyamanan bagi penghuninya, sehingga mereka merasa nyaman, dihargai dan Adapun tujuan penelitian ini yaitu mendapatkan konsep perencanaan dan perancangan gedung rehabilitasi sosial untuk anak jalanan di Kota Samarinda dan membuat gedung rehabilitasi dengan pendekatan konsep arsitektur tropis. METODE PENELITIAN Metode penelitian Perencanaan Gedung Rehabilitasi Sosial Untuk Anak Jalanan Di Kota Samarinda ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang utama adalah observasi dan wawancara, ditambah kajian dokumen yang tidak hanya bertujuan untuk menggali data, tetapi juga untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam latar Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak dapat menentukan data dengan tepat dalam rancangan yang disusun sebelum melakukan penelitian, karena dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada bentuk hubungan antar variabel, tetapi pada makna yang terkandung dalam masalah penelitian pada konteks tertentu. Adapun analisa dan konsep perencanaan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisa penentuan lokasi, analisa tapak, analisa kebisingan, analisa kebutuhan ruang serta konsep perencanaan dengan pendekatan arsitektur tropis. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk pemilihan lokasi dilakukan pada 3 tempat di Kota Samarinda yaitu di Jl. Gelatik. Jl. Panjaitan, dan Jl. Ruhui Rahayu, dengan kriteria pemilihan lokasi yaitu lokasi masuk dalam kawasan permukiman, berada dekat dengan fasilitas pelayanan umum, dan wilayah tersebut memiliki jumlah anak jalanan terbanyak. Kemudian dilakukan perhitungan pembobotan penilaian lokasi dengan skoring, maka didapat lokasi di Jalan Ruhui Rahayu dengan pertimbangan luas lahan A16. 265 m2, berada dalam kawasan permukiman dan pelayanan umum, memiliki KDB 40%. KDH 20% dan GSB nya dari 10 hingga 15 meter. Analisa tapak pada lokasi penelitian digunakan sebagai mengetahui analisa arah matahari, arah angin, dan analisa fisik dasar serta kondisi lahan di site. Arah lintasan matahari yaitu dari sisi timur ke sisi barat. Panas matahari dapat dirasakan mulai pukul 08. 30 pagi singga pukul 16. 00 sore. Sedangkan untuk analisa arah angina didominasi melalui arah sisi utara dan selatan. Untuk analisa fisik dasar di site, berupa lahan datar 0-20%, dengan geologi memiliki tektonik kompleks. Sedangkan Totem - 2 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 untuk analisa hidrologi di site masih menggunakan air pdam, pada analisa klimatologi di site pada umumnya, beriklim tropik dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Untuk analisa kebisingan berada dekat dengan pusat pelayanan umum dan perdaganan, tidak mengganggu aktivitas didalam bangunan, karena di beri tanaman peredam suara. Pada analisa kebutuhan ruang rehabilitasi bertujuan untuk mengetahui aktivitas tiap ruang oleh pelaku kegiatan, diantaranya Kelompok Pengelola dan Kelompok anak jalanan dengan dibagi tiga dari mulai usia 410 thn, usia 11-16 tahun dan anak berkebutuhan khusus. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1. dibawah ini. Tabel 1. Analisa kebutuhan ruang Kelompok Pengelola Kelompok Anak Direktur Anak usia 4-10 tahun Wakil direktur Anak usia 11-16 tahun Seketaris Anak berkebutuha khusus Bendahara Staff Pelayanan Staf Pengajar Sekuriti Janitor Staff kebutuhan logistik Sumber : hasil analisa, 2016 Untuk analisa hubungan ruang pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan pada ruang satu dengan ruang yang lain. Hubungan ruang tersebut terbagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan pengelompokkan ruangnya, diantaranya: Hubungan ruang kelompok penerimaan Keterangan : Erat Cukup Erat Tidak Erat Hubungan ruang kelompok pengelola Keterangan : Erat Cukup Erat Tidak Erat Totem - 3 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 Hubungan ruang kegiatan utama Keterangan : Erat Cukup Erat Tidak Erat Hubungan ruang kegiatan penunjang & servis Keterangan : Erat Cukup Erat Tidak Erat Kemudian kebutuhan ruang dibedakan menjadi beberapa kelompok diantaranya kelompok penerimaan, kelompok pengelolaan, kegiatan utama dan kegiatan penunjang. Dari hasil tersebut, didapatkan luas total pada gedung utama 3072. 2 mA, asrama putra 1063 mA, asrama putri 988 mA dengan penambahan sirkulasi sebanyak 30 % pada masing-masing tempat, maka luas keseluruhan yang didapat ialah 5739 mA. Adapun pola hubungan ruang didapatkan dari kegiatan ruang dan pengelompokkan yaitu sebagai berikut. Totem - 4 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 Gambar 1. Pola Hubungan ruang Pada konsep perencanaan dilakukan pembagian zona yaitu zona publik, zona semi publik dan zona Konsep tata massa pada bangunan gedung rehabilitasi sosial anak jalanan ini menerapkan pola bentuk dasar dari lingkaran dan bujur sangkar. Untuk gedung utama menggunakan pola setengah lingkaran karena lingkaran merupakan sesuatu yang terpusat serta dinamis, dimana bentuk, pola ruang dan warna elemen-elemen yang dinamis mencerminkan sifat anak yang bebas Sedangkan untuk gedung asrama menggunakan pola bentuk dasar bujur sangkar. Penerapan tata massa dengan organisasi gird atau papan catur ini adalah letak bangunan gedung 1 dan bangunan gedung 2 yang memiliki hubungan aktivitas yang kurang berhubungan. Pola penempatan massa bangunan merupakan suatu yang mengungkapkan skema organisasi struktural mendasar yang mencakup suatu penataan letak massa, baik itu bangunan maupun lingkungan, yang menciptakan suatu hubungan keseimbangan dan keselarasan. Untuk jenis pola massa dapat dibagi menjadi beberapa macam diantaranya: Totem - 5 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 Gambar 2. Siteplan Keterangan: A : Pos Security. B : Parkir Motor. C : Parkir Mobil. D : Gedung Utama. E : Taman. F : Lapangan. G : Asrama Putra. H : Asrama Putri Pada konsep bentuk gedung rehabilitasi berupa analogi dari busur lingkaran pelangi. Dengan Penampilan bangunan merupakan cerminan dari penekanan konsep yang digunakan. Pada dasarnya betuk pelangi adalah lingkaran penuh, namun bagian dari lingkaran pelangi terpotong oleh horizon bumi atau objek lain yang menghalangi cahaya seperti bukit, gunung. Setengah dari lingkaran pelangi tersebut kemudian diterapkan pada bentuk bangunan rehabilitasi tersebut. Filosofi dari menggunakan analogi pelangi adalah karena pelangi memiliki 7 . warna cerah yang berbeda-beda, seperti halnya dengan anak jalanan yang memiliki karakter yang juga berbeda. Walaupun memiliki warna-warna yang berbeda, pelangi tetap terlihat indah ketika disatukan. Begitu pula dengan anak jalalnan. Walaupun masing-masing dari mereka memiliki perbedaan, tetapi dari perbedaan itulah yang dapat mengajarkan seseorang untuk lebih menghargai dan menghormati satu sama lain. Selain itu, pola setengah lingkaran merupakan sesuatu yang terpusat serta dinamis, dimana bentuk, pola ruang dan warna elemen-elemen yang dinamis mencerminkan sifat anak yang bebas bergerak. Totem - 6 Jurnal Totem | No. 1 | Vol. April 2020 Gambar 3. Ilustrasi Konsep Bentuk Gedung Rehabilitasi anak jalanan KESIMPULAN Berdasarkan studi diatas, menghasilkan beberapa kesimpulan sebagaimana berikut ini. Luas bangunan yang akan direncanakan dan dirancangkan sebagai bangunan gedung rehabilitasi untuk anak jalanan di Kota Samarinda yaitu seluas A16. 265 m2, berlokasi di jalan Ruhui Rahayu. Kelurahan Gunung Kelua. Kecamatan Samarinda Ulu. Kriteria anak jalanan yang akan di rehabilitasi yaitu anak-anak yang berusia mulai dari 4 hingga 16 tahun serta anak jalanan yang mempunyai kebutuhan khusus. Untuk fasilitas pada bangunan gedung rehabilitasi berupa kantor pengelola, ruang latihan kerja, ruang kelas, taman, asrama untuk anak perempuan, asrama untuk anak laki-laki. Konsep perancangan dilakukan dengan banyaknya bukaan dan penggunaan sunshading untuk meminimalisir radiasi panas matahari terhadap bangunan. DAFTAR PUSTAKA