Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 Kecerdasan Emosional dan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama di Merauke: Studi Korelasional dalam Konteks Pendidikan Multikultural Pulung Riyanto1*. Heri Yusuf Muslihin2 Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Universitas Musamus Magister Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Indonesia Tasikmalaya *Korespondensi : riyanto_fkip@unmus. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Merauke. Papua Selatan, dalam konteks pendidikan multikultural. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode korelasional, penelitian ini menjelaskan sejauh mana kecerdasan emosional sebagai variabel independen memengaruhi capaian akademik siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Populasi penelitian terdiri dari siswa kelas Vi di tiga SMP negeri yang merepresentasikan keberagaman sosial dan budaya. Sampel sebanyak 210 siswa diperoleh melalui teknik stratified random sampling. Instrumen pengumpulan data berupa angket tertutup berdasarkan lima dimensi kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman, dan nilai rapor PJOK sebagai indikator prestasi belajar. Analisis data dilakukan melalui uji korelasi Pearson dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa. Dimensi motivasi dan pengendalian diri terbukti memberikan pengaruh dominan terhadap capaian akademik. Konteks multikultural Merauke juga memperkuat pentingnya kemampuan adaptasi sosial dan empati dalam lingkungan belajar yang heterogen. Temuan ini menegaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan faktor psikologis strategis dalam mendukung keberhasilan belajar siswa di wilayah multikultural. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya integrasi program pengembangan kecerdasan emosional berbasis budaya dalam kurikulum sekolah sebagai strategi peningkatan kualitas pendidikan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran yang responsif terhadap dinamika sosial-budaya lokal. Kata Kunci : Kecerdasan Emosional. Prestasi Belajar. Pendidikan Multikultural Emotional Intelligence and Learning Achievement of Junior High School Students in Merauke: A Correlational Study in the Context of Multicultural Education Abstract: This study aims to analyze the relationship between emotional intelligence and student learning achievement of Junior High School (SMP) in Merauke. South Papua, in the context of multicultural education. Using a quantitative approach and correlational method, this study explains the extent to which emotional intelligence as an independent variable influences students' academic achievement in Physical Education. Sports, and Health (PJOK) subjects. The study population consisted of eighth grade students in three public junior high schools representing social and cultural A sample of 210 students was obtained through stratified random sampling technique. The data collection instrument was a closed questionnaire based on five dimensions of emotional intelligence according to Daniel Goleman, and PJOK report card scores as indicators of learning Data analysis was carried out through Pearson correlation tests and simple linear The results showed a positive and significant relationship between emotional intelligence and student learning achievement. The dimensions of motivation and self-control were proven to have a dominant influence on academic achievement. The multicultural context of Merauke also https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 strengthens the importance of social adaptability and empathy in a heterogeneous learning These findings confirm that emotional intelligence is a strategic psychological factor in supporting student learning success in multicultural areas. The practical implication of this study is the need for integration of cultural-based emotional intelligence development programs into the school curriculum as a strategy to improve the quality of education. This study contributes to the development of learning models that are responsive to local socio-cultural dynamics. Keywords: Emotional Intelligence. Learning Achievement. Multicultural Education PENDAHULUAN Di era pendidikan abad ke-21, keberhasilan pembelajaran siswa tidak lagi ditentukan sematamata oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan individu dalam mengelola emosi, berinteraksi sosial, dan beradaptasi terhadap lingkungan belajar yang kompleks(Iqbal et al. , 2. Kecerdasan emosional . motional intelligence/KE) telah menjadi aspek penting dalam menunjang keberhasilan akademik maupun perkembangan kepribadian siswa(Dong et al. , 2. Konsep ini mencakup kemampuan mengenali emosi diri dan orang lain, mengelola emosi secara konstruktif, membangun empati, serta menjalin hubungan sosial yang sehat(Chung et al. , 2. Dalam konteks pembelajaran. KE memungkinkan siswa untuk mengelola stres akademik, mempertahankan motivasi belajar, mengatasi kegagalan dengan lebih resilien, serta membangun hubungan positif dengan guru dan teman sebaya(Mohamed et al. , 2. Keberadaan KE sebagai kompetensi non-kognitif telah mendapatkan perhatian yang meningkat dalam berbagai studi pendidikan kontemporer, mengingat peranannya yang signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan. Dalam beberapa dekade terakhir, kecerdasan emosional (KE) telah menjadi salah satu aspek penting yang banyak dibahas dalam literatur pendidikan dan psikologi sebagai faktor non-kognitif yang berperan besar dalam pencapaian prestasi akademik(Halimi et al. , 2. KE mencakup kemampuan individu untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain, serta membina hubungan sosial yang sehat. Dalam konteks pendidikan, kecerdasan emosional terbukti memengaruhi proses belajar siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Siswa dengan KE yang tinggi umumnya mampu mengatur emosi saat menghadapi tekanan belajar, lebih termotivasi untuk mencapai tujuan akademik, serta lebih adaptif dalam menghadapi tantangan sosial di lingkungan sekolah. Sebaliknya, rendahnya KE dapat memicu masalah psikologis seperti kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, hingga konflik sosial dengan teman sebaya dan guru, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap prestasi belajar. Penelitian-penelitian terdahulu di berbagai negara menunjukkan bahwa dimensi kecerdasan emosional seperti kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi intrinsik, empati, dan keterampilan sosial berkorelasi positif dengan pencapaian akademik siswa(Herut et al. , 2. Siswa yang mampu memahami dan mengatur emosinya dengan baik cenderung memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih tinggi, lebih ulet dalam menyelesaikan tugas, serta memiliki hubungan interpersonal yang mendukung suasana belajar yang kondusif. Dalam situasi pembelajaran yang menuntut kerja sama dan interaksi aktif, seperti di Sekolah Menengah Pertama (SMP), peran KE menjadi semakin krusial. Hal ini sejalan dengan pendekatan pendidikan holistik yang tidak hanya menekankan penguasaan kognitif, tetapi juga aspek afektif dan sosial emosional siswa. Namun demikian, sebagian besar studi tentang kecerdasan emosional dan prestasi belajar masih terfokus pada konteks urban atau metropolitan dengan karakteristik sosial budaya yang relatif Hal ini menyisakan kesenjangan kajian pada wilayah-wilayah terpencil dan multikultural seperti Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Siswa-siswa di Merauke hidup dalam lingkungan sosial yang majemuk, dengan latar belakang etnis, bahasa, dan budaya yang sangat beragam. Kondisi ini menuntut kemampuan emosional yang lebih tinggi untuk beradaptasi secara sosial dan akademik. Sayangnya, belum banyak riset yang secara khusus mengkaji bagaimana KE berperan dalam mendukung pencapaian prestasi belajar siswa SMP di konteks seperti ini. https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 Padahal, dalam sistem pendidikan Indonesia yang semakin menekankan penguatan karakter dan soft skills melalui Kurikulum Merdeka, pemahaman mendalam terhadap hubungan antara KE dan hasil belajar sangatlah penting, terutama bagi pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan di daerah 3T . erdepan, terluar, tertingga. Kabupaten Merauke sebagai salah satu wilayah terluar Indonesia di Papua Selatan memiliki karakteristik demografis yang sangat khas, yaitu keberagaman etnis dan budaya yang tinggi, mencakup masyarakat asli Papua . eperti suku Marind. Muyu, dan Kanu. serta pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Keberagaman ini tercermin dalam dinamika sosial di sekolah, termasuk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), di mana siswa berasal dari latar belakang budaya, bahasa ibu, dan pengalaman sosial yang berbeda-beda. Dalam praktiknya, keberagaman ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan dalam proses pembelajaran. Tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi secara sosial dan emosional, baik karena hambatan komunikasi lintas budaya, tekanan lingkungan, maupun disparitas sosial ekonomi keluarga yang signifikan. Fenomena ini turut memengaruhi capaian akademik siswa, yang ditunjukkan oleh ketimpangan prestasi belajar antar kelompok siswa, rendahnya rata-rata nilai mata pelajaran inti, serta tingginya angka ketidakhadiran dan perpindahan sekolah di beberapa wilayah Dalam situasi seperti ini, kecerdasan emosional seharusnya menjadi faktor penting yang dapat membantu siswa menghadapi tekanan sosial dan akademik, sekaligus memfasilitasi pembelajaran dalam lingkungan yang multikultural. Namun, hingga kini, belum banyak penelitian lokal yang secara spesifik mengeksplorasi peran kecerdasan emosional dalam mendukung prestasi belajar siswa di wilayah seperti Merauke. Sebagian besar studi masih berpusat pada wilayah urban di Pulau Jawa atau Sumatera, dengan konteks sosial budaya yang sangat berbeda. Padahal, memahami kontribusi kecerdasan emosional dalam konteks pendidikan multikultural dapat menjadi landasan penting bagi pengembangan kurikulum, strategi pembelajaran, serta kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan relevan secara Kekosongan ini menunjukkan perlunya studi empiris yang dapat menjembatani kesenjangan antara teori kecerdasan emosional dan praktik pendidikan di daerah 3T yang penuh keberagaman seperti Merauke. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Merauke. Penelitian ini juga bertujuan untuk menggambarkan sejauh mana kecerdasan emosional memengaruhi perbedaan prestasi belajar siswa dalam konteks pendidikan multikultural. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional untuk mengkaji hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Merauke. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan analisis hubungan statistik yang obyektif dan terukur antara dua variabel utama. Penelitian ini bersifat eksplanatif, yakni bertujuan untuk menjelaskan sejauh mana kecerdasan emosional sebagai variabel independen memengaruhi prestasi belajar sebagai variabel dependen. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mendeskripsikan hubungan, tetapi juga berupaya menjelaskan kontribusi kecerdasan emosional terhadap perbedaan capaian akademik siswa dalam konteks pendidikan multikultural di wilayah Merauke yang memiliki keberagaman sosial dan budaya yang tinggi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi di tiga sekolah menengah pertama, yaitu SMP Negeri 1. SMP Negeri 2, dan SMP Negeri 3 Kabupaten Merauke. Papua Selatan. Ketiga sekolah ini dipilih karena mewakili beragam latar belakang sosial dan budaya di wilayah Merauke yang memiliki karakteristik multikultural yang khas. Untuk memperoleh sampel yang representatif, digunakan teknik stratified random sampling, dengan stratifikasi berdasarkan sekolah dan latar belakang etnis siswa. Teknik ini bertujuan memastikan setiap kelompok etnis dan setiap sekolah memiliki proporsi yang sesuai dalam sampel penelitian sehingga hasil yang diperoleh dapat mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat signifikansi 5% dan populasi sekitar 450 siswa kelas Vi dari ketiga sekolah tersebut, diperoleh jumlah sampel sebanyak https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 210 siswa. Jumlah ini dianggap memadai untuk melakukan analisis statistik yang valid dan mampu merepresentasikan keberagaman siswa SMP di Merauke. Dengan demikian, sampel yang diambil tidak hanya memperhatikan kuantitas, tetapi juga kualitas representasi terhadap keberagaman siswa SMP di Merauke, sehingga temuan penelitian ini memiliki relevansi dan validitas yang tinggi untuk konteks pendidikan multikultural di wilayah tersebut. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah angket tertutup yang menggunakan skala Likert lima poin, dengan rentang skor dari 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. , yang dirancang untuk mengukur kecerdasan emosional siswa berdasarkan model konseptual Daniel Goleman. Angket ini mencakup lima dimensi kecerdasan emosional, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Setiap item instrumen dikonstruksi secara sistematis dengan mempertimbangkan relevansi konteks pembelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Sekolah Menengah Pertama, khususnya menyesuaikan dengan karakteristik sosial budaya dan dinamika pembelajaran di wilayah Merauke. Item-item tersebut dirancang untuk menangkap aspek-aspek emosional siswa seperti kemampuan mengenali dan mengelola emosi saat menghadapi tantangan fisik, kemampuan bekerja sama dalam aktivitas kelompok, serta pengendalian stres saat evaluasi keterampilan jasmani. Validitas isi instrumen diujikan melalui metode penilaian oleh panel ahli . xpert judgmen. yang terdiri dari psikolog pendidikan dan praktisi guru PJOK berpengalaman, guna memastikan setiap butir soal secara konseptual dan kontekstual valid untuk mengukur dimensi kecerdasan emosional dalam ranah pendidikan jasmani. Reliabilitas instrumen diukur dengan menggunakan koefisien CronbachAos Alpha, di mana nilai reliabilitas minimal 0,70 menjadi standar penerimaan yang menunjukkan konsistensi internal yang memadai antar item dalam setiap dimensi. Data prestasi belajar diperoleh dari dokumentasi nilai rapor resmi siswa pada mata pelajaran PJOK semester terakhir. Pemilihan nilai rapor PJOK sebagai indikator prestasi belajar didasarkan pada relevansinya dengan kompetensi emosional dan sosial yang secara langsung memengaruhi kinerja siswa dalam aktivitas fisik dan kesehatan. Pendekatan ini memungkinkan penelitian untuk mengeksplorasi keterkaitan antara kecerdasan emosional dengan capaian akademik yang terukur dalam konteks pembelajaran jasmani secara lebih valid dan aplikatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner angket kecerdasan emosional kepada siswa SMP yang telah mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah serta izin tertulis dari orang tua atau wali siswa. Proses pengisian angket dilakukan secara langsung di sekolah dengan pendampingan untuk memastikan kejelasan pemahaman setiap item. Selain itu, data prestasi belajar diperoleh melalui dokumentasi resmi nilai rapor siswa pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) semester terakhir, yang diakses dengan izin dari pihak sekolah. Pendekatan ini menjamin keakuratan dan validitas data akademik yang digunakan dalam analisis. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode statistik kuantitatif. Pertama, analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan profil kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa secara umum, mencakup ukuran tendensi sentral dan sebaran data. Selanjutnya, uji korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan linear antara variabel kecerdasan emosional dan prestasi belajar Apabila korelasi menunjukkan hasil signifikan, analisis regresi linier sederhana dilaksanakan untuk menentukan besaran pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar, sekaligus memperkirakan kontribusi variabel tersebut dalam menjelaskan variasi prestasi akademik siswa. Seluruh analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak statistik yang sesuai untuk memastikan ketepatan dan validitas hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data sesuai dengan metode penelitian yang telah dijelaskan, tahap berikutnya adalah penyajian hasil penelitian. Bagian ini akan memaparkan deskripsi data kecerdasan emosional dan prestasi belajar siswa SMP di Merauke secara rinci, dilanjutkan dengan analisis hubungan kedua variabel tersebut. Selain itu, hasil analisis juga akan mengungkap kontribusi kecerdasan emosional dalam menjelaskan variasi prestasi belajar serta pengaruh konteks pendidikan multikultural terhadap dinamika tersebut. https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 Tabel 1. Statistik Deskriptif Skor Kecerdasan Emosional Siswa Dimensi Kecerdasan Emosional Kesadaran Diri Pengendalian Diri Motivasi Empati Keterampilan Sosial (Sampe. Skor Minimum Skor Maksimum Rata-rata (Mea. Standar Deviasi (SD) Tabel 1 menunjukkan statistik deskriptif skor kecerdasan emosional siswa SMP di Merauke berdasarkan lima dimensi utama, yaitu kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Dari 120 responden, rata-rata skor kecerdasan emosional keseluruhan adalah 115,28 dengan standar deviasi 11,40, yang menggambarkan tingkat kecerdasan emosional siswa tergolong baik. Dimensi motivasi memperoleh skor rata-rata tertinggi . , menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki dorongan dan semangat belajar yang kuat, sementara dimensi empati memiliki skor rata-rata terendah . , menandakan masih ada ruang untuk pengembangan kemampuan memahami perasaan orang lain. Secara umum, hasil ini memberikan gambaran bahwa siswa SMP di Merauke memiliki kecerdasan emosional yang memadai untuk mendukung proses belajar mereka. Tabel 2. Rata-rata Nilai Prestasi Belajar Mata Pelajaran PJOK Berdasarkan Etnis Siswa Etnis Siswa Etnis Asli Papua Etnis Jawa Etnis Bugis Etnis Makassar Etnis Ambon Jumlah Sampel . Rata-rata Nilai PJOK Standar Deviasi Nilai Minimum Nilai Maksimum Tabel 2 menunjukkan rata-rata nilai prestasi belajar mata pelajaran PJOK siswa SMP di Merauke yang dikelompokkan berdasarkan etnis. Terlihat bahwa siswa dari etnis asli Papua memiliki rata-rata nilai tertinggi dibandingkan dengan etnis lainnya, yang mencerminkan pengaruh faktor budaya dan lingkungan terhadap prestasi belajar di bidang PJOK. Perbedaan nilai antar etnis mengindikasikan variasi dalam dukungan sosial dan pemahaman materi pembelajaran yang perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah multikultural ini. Tabel 3. Model Regresi Linier Sederhana Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Prestasi Belajar Siswa Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Regresi Linier 0,650 0,423 0,417 5,639 Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa SMP di Merauke. Dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,556 dan nilai signifikansi 0,000 . < 0,. , setiap peningkatan satu poin kecerdasan emosional diperkirakan meningkatkan prestasi belajar sebesar 0,556 poin. Selain itu, nilai R Square https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 sebesar 0,423 mengindikasikan bahwa 42,3% variasi prestasi belajar dapat dijelaskan oleh kecerdasan emosional, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model ini. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kecerdasan emosional dalam mendukung keberhasilan akademik siswa di lingkungan multikultural Merauke. Tabel 4. Rata-rata Prestasi Belajar Siswa SMP di Merauke Berdasarkan Tingkat Kecerdasan Emosional dan Latar Belakang Etnis Tingkat Kecerdasan Emosional Tinggi Sedang Rendah Etnis Asli Papua Etnis Jawa Etnis Bugis Etnis Makassar Etnis Ambon Rata-rata Prestasi Belajar Keseluruhan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan prestasi belajar siswa SMP di Merauke berdasarkan tingkat kecerdasan emosional dan latar belakang etnis. Siswa dengan kecerdasan emosional tinggi secara konsisten menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang memiliki kecerdasan emosional sedang dan rendah. Hal ini berlaku di semua kelompok etnis yang diteliti, yaitu Etnis Asli Papua. Jawa. Bugis. Makassar, dan Ambon. Menariknya, siswa dari Etnis Asli Papua dengan kecerdasan emosional tinggi memiliki rata-rata prestasi belajar tertinggi, yang mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam mendukung keberhasilan akademik, khususnya dalam konteks pendidikan yang multikultural dan beragam seperti di Merauke. Temuan ini menegaskan bahwa pengembangan kecerdasan emosional dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, tanpa memandang latar belakang etnis mereka. Analisis data menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara kecerdasan emosional (KE) dan prestasi belajar siswa SMP di Merauke, dengan nilai koefisien korelasi yang menunjukkan hubungan moderat hingga kuat. Temuan ini menegaskan hipotesis bahwa peningkatan KE berkontribusi pada peningkatan prestasi akademik. Secara teoritis. KE mencakup kemampuan individu dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain, yang berperan krusial dalam regulasi diri, motivasi, dan interaksi sosial dalam konteks pembelajaran (Iqbal et al. Pendekatan ini sejalan dengan model kecerdasan emosional yang dikembangkan oleh (Getahun Abera, 2. , yang menempatkan KE sebagai variabel prediktor penting keberhasilan akademik dan Siswa dengan KE tinggi lebih mampu mengatasi tekanan emosional dan stres akademik, sehingga mampu mempertahankan fokus dan motivasi belajar yang berkelanjutan. Hal ini mendukung pemikiran bahwa KE tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif yang mendasari proses belajar efektif (Shafait et al. , 2. Dalam konteks multikultural Merauke, di mana keragaman budaya dan sosial menuntut adaptasi interpersonal yang tinggi. KE berperan sebagai mediator dalam mengoptimalkan interaksi sosial antar siswa serta meningkatkan kohesi kelompok belajar. Kecerdasan emosional membantu siswa mengembangkan empati dan keterampilan sosial yang esensial untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif (Makweya & Sepadi, 2. Temuan ini konsisten dengan hasil studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial yang positif dan keterampilan pengelolaan emosi berkorelasi erat dengan prestasi akademik yang lebih baik (Kim & Shin, 2. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memberikan kontribusi empiris yang signifikan terhadap pemahaman tentang peran KE dalam konteks pendidikan dengan latar sosial budaya yang kompleks, sekaligus menegaskan pentingnya integrasi program pengembangan kecerdasan emosional dalam kurikulum guna mendukung peningkatan prestasi belajar siswa. Kecerdasan emosional merupakan konstruksi multidimensi yang terdiri atas kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial, yang masing-masing memiliki kontribusi spesifik terhadap prestasi akademik siswa(Sook Khuan & Chai Lin, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi motivasi berperan sebagai faktor pendorong utama dalam pencapaian https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 Motivasi intrinsik yang tinggi memungkinkan siswa untuk mempertahankan fokus, ketekunan, dan inisiatif belajar yang konsisten, yang secara langsung meningkatkan efektivitas proses belajar dan hasil yang dicapai (Pelikan et al. , 2. Selanjutnya, pengendalian diri atau self-regulation terbukti esensial dalam mengelola tekanan emosional, seperti kecemasan menghadapi ujian dan gangguan belajar. Siswa yang mampu mengendalikan impuls dan mengatur emosinya secara efektif cenderung menunjukkan ketahanan psikologis yang lebih baik, sehingga mampu mempertahankan konsentrasi dan mengoptimalkan waktu belajar (Yang et al. , 2. Dimensi ini berfungsi sebagai mekanisme coping yang mendukung stabilitas emosional dalam situasi akademik yang menantang. Kesadaran diri berperan dalam membantu siswa mengenali kondisi emosional dan kebutuhan belajar mereka, sehingga memungkinkan penyesuaian strategi belajar yang lebih tepat dan adaptif. Pengetahuan akan kekuatan dan kelemahan diri mendukung pengembangan kepercayaan diri, yang berdampak positif pada pencapaian akademik (Ma & Zhou, 2. Empati, sebagai kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain, turut memfasilitasi interaksi sosial yang harmonis di lingkungan sekolah. Dimensi ini penting dalam membangun hubungan positif antara siswa dengan guru dan teman sebaya, yang berkontribusi pada iklim belajar yang suportif dan kolaboratif (Lakkala et al. , 2. Dengan adanya hubungan sosial yang baik, siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif dan meraih prestasi optimal. Terakhir, keterampilan sosial, yang mencakup kemampuan komunikasi dan resolusi konflik, memungkinkan siswa untuk beradaptasi dengan dinamika kelompok belajar dan mengelola tekanan sosial yang muncul. Keterampilan ini mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kondusif serta mempermudah akses terhadap sumber daya akademik dan dukungan emosional(Li et al. , 2. Keseluruhan dimensi kecerdasan emosional ini secara sinergis membentuk fondasi psikologis yang kuat bagi siswa dalam menghadapi tantangan akademik. Oleh karena itu, intervensi pendidikan yang berfokus pada pengembangan masing-masing dimensi KE diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya di wilayah multikultural seperti Merauke. Merauke sebagai wilayah yang kaya akan keberagaman budaya dan etnis menghadirkan tantangan dan peluang unik dalam konteks pendidikan. Keanekaragaman ini memengaruhi dinamika sosial dan psikologis siswa, khususnya dalam pengembangan kecerdasan emosional dan prestasi Dalam lingkungan multikultural, siswa dihadapkan pada kebutuhan untuk beradaptasi dengan perbedaan nilai, norma, dan bahasa yang dapat menimbulkan potensi konflik maupun peluang pembelajaran sosial(Hossain, 2. Keberagaman etnis di Merauke menuntut siswa untuk mengembangkan kemampuan adaptasi sosial yang tinggi guna membangun hubungan interpersonal yang harmonis. Adaptasi ini tidak hanya melibatkan pengendalian dan pengelolaan emosi pribadi, tetapi juga kemampuan empati untuk memahami perspektif dan pengalaman budaya lain. Empati merupakan komponen kunci kecerdasan emosional yang memungkinkan individu untuk berinteraksi secara efektif dalam konteks sosial yang kompleks(Alanazi et al. , 2. Kemampuan adaptasi sosial dan empati ini berperan penting dalam menciptakan iklim belajar yang inklusif dan suportif. Ketika siswa mampu merespon perbedaan dengan sikap terbuka dan empatik, proses pembelajaran menjadi lebih efektif karena tercipta lingkungan yang saling menghargai dan kolaboratif. Hal ini juga mendukung pengembangan keterampilan sosial yang menjadi salah satu dimensi kecerdasan emosional, sehingga membantu siswa mengelola konflik dan membangun jaringan sosial yang positif (Vila et al. , 2. Secara empiris, penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kecerdasan emosional yang baik, terutama dalam aspek empati dan keterampilan sosial, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan multikultural di Merauke dan menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan pengembangan kecerdasan emosional dengan sensitivitas budaya sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di wilayah multikultural. Dengan demikian, intervensi pendidikan yang dirancang untuk memperkuat kecerdasan emosional(Rivera-Pyrez et al. , 2. , khususnya adaptasi sosial dan empati, sangat relevan untuk diterapkan di Merauke. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga membentuk siswa yang mampu hidup dan bekerja secara harmonis dalam masyarakat multikultural yang kompleks. https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan praktik pendidikan di SMP, khususnya di Merauke, dengan menegaskan peran strategis kecerdasan emosional (KE) dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil yang menunjukkan korelasi positif antara KE dan pencapaian akademik, guru dan sekolah perlu mengembangkan program penguatan kecerdasan emosional sebagai bagian integral dari strategi pembelajaran yang holistik. Penguatan KE dapat diwujudkan melalui implementasi pembelajaran sosial-emosional (Social Emotional Learning/SEL) yang sistematis dan berkelanjutan. Program SEL yang dirancang secara khusus untuk membangun kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengelola emosi dan berinteraksi secara efektif di lingkungan sekolah(Trish. Selain itu, pendekatan ini dapat memperkuat iklim sekolah yang inklusif dan suportif, sehingga siswa merasa lebih termotivasi dan fokus dalam belajar. Lebih lanjut, mengingat konteks multikultural di Merauke, integrasi nilai-nilai multikulturalisme dalam kurikulum dan aktivitas sekolah menjadi sangat relevan. Penggabungan pendekatan pembelajaran yang mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman budaya dan pengembangan empati lintas etnis akan memperkuat keterampilan sosial siswa sekaligus memperkaya pengalaman belajar mereka(Mlodzianowska et al. , 2. Hal ini dapat diwujudkan melalui kegiatan diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan program layanan masyarakat yang melibatkan interaksi antar siswa dari latar belakang budaya berbeda. Secara praktis, pelatihan bagi guru dalam pengembangan kecerdasan emosional dan kompetensi multikultural menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan implementasi program tersebut. Guru yang memiliki KE tinggi dan sensitivitas budaya mampu menjadi model perilaku positif dan fasilitator yang efektif dalam proses pembelajaran sosial-emosional. Dengan demikian, sekolah dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi pengembangan potensi akademik dan sosial siswa secara seimbang. Oleh karena itu, implementasi program penguatan kecerdasan emosional yang terintegrasi dengan pendekatan multikultural dalam sistem pendidikan di Merauke diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan prestasi belajar sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi tantangan sosial di era Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain keterbatasan pada ukuran dan keragaman sampel yang hanya mencakup siswa SMP di beberapa sekolah di Merauke sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi ke seluruh populasi. Selain itu, variabel lain yang berpotensi memengaruhi prestasi belajar, seperti dukungan keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan gaya belajar, tidak dianalisis dalam penelitian ini. Metode pengukuran kecerdasan emosional yang digunakan juga berbasis self-report, sehingga berpotensi terdapat bias subjektif dari responden. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi variabel mediasi atau moderator yang dapat memperkaya pemahaman hubungan kecerdasan emosional dan prestasi belajar, melakukan studi kualitatif mendalam untuk menggali pengalaman siswa, serta mengembangkan dan menguji intervensi program penguatan kecerdasan emosional secara praktis di lingkungan sekolah. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Merauke. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam mengenali, mengelola, dan mengendalikan emosi, serta memotivasi diri dan membangun hubungan sosial yang baik, berkontribusi secara substansial terhadap peningkatan prestasi akademik. Analisis lebih lanjut juga mengungkapkan bahwa dimensi kecerdasan emosional seperti motivasi dan pengendalian diri memiliki peran dominan dalam mempengaruhi capaian belajar siswa. Dengan demikian, kecerdasan emosional berfungsi sebagai faktor psikologis penting yang mendukung proses belajar dan keberhasilan akademik di tingkat SMP. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa konteks pendidikan multikultural di Merauke memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antara kecerdasan emosional dan prestasi Keberagaman budaya dan latar belakang etnis yang khas di wilayah ini menuntut siswa untuk memiliki kemampuan adaptasi sosial dan empati yang tinggi agar dapat berinteraksi secara efektif dengan lingkungan belajar yang heterogen. Oleh karena itu, pengembangan kecerdasan emosional yang berorientasi pada sensitivitas budaya menjadi aspek strategis dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Merauke. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya integrasi program https://jurnal. id/2012/index. php/jpsi/index Jurnal Prestasi Vol. 9 No. Juni 2025: 1-10 p-ISSN : 2549-9394 e-ISSN : 2579-7093 pengembangan kecerdasan emosional berbasis multikultural dalam kurikulum dan kebijakan sekolah untuk mendorong prestasi belajar yang lebih optimal. DAFTAR PUSTAKA