ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya hasan@email. Febianita Eka Dewi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya febianitaekadewi@gmail. Mas Muhammad Ulul Azmi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya gusmiek29@gmail. Mario Ardiansyah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Mario. ardiansyah12@gmail. Nur Fitriatin Dosen FTK UIN Sunan Ampel Surabaya nurfitriatin@gmail. Abstract: Seorang pendidik dalam pandangan islam erat kaitannya dengan profesi yang dituntut untuk mendidik dan sekaligus di dalamnya mengajar sesuai dengan keilmuan yang dimilikinya. Secara umumnya pendidik adalah orang yang memiliki tanggungjawab Hal ini lah yang menjadi pentingnya etika untuk seorang Seorang pendidik yang baik dituntut untuk memiliki etika yang baik, entah itu dari perkataan maupun dari perbuatanya. Dalam konteks ini Kitab Bidayatul Hidayah dapat menjadi salah satu acuan untuk mengetahui etika dari seorang pendidik. Kitab Bidayatul Hidayah sendiri merupakan kitab karangan Al-Ghazali dalam bidang akhlak dan tasawuf. Kitab Bidayatul Hidayah ini juga mencakup aspek aspek penting yang harus dimiliki umat manusia mulai dari awal kehidupan hingga tutup usia dengan penuh kerahmatan. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui etika pendidik yang termuat dalam kitab Bidayatul Hidayah guna diterapkan bagi pendidik yang ada di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dimana jenis penelitiannya bersifat library reseacrch. Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi. Kemudian, sumber data diperoleh dari sumber data primer dan Data yang ditemukan menunjukan bahwa terdapat 17 etika pendidik yang termuat dalam kitab Bidayatul Hidayah. Namun disini Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 15 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin penulis merangkum dan mengkerucutkan menjadi 7 etika yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, yaitu . Sabar, . Penuh Wibawa dan tenang, . TawadhuAo, . Bertanggung Jawab,. Penyayang, . Mau menerima Hujjah dari orang lain, dan . Bertaqwa. Keywords: Etika. Pendidik. Bidayah Al-hidayah. PENDAHULUAN Etika merupakan bagian yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan umat manusia. Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral ke dalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Dalam konteks pendidikan, persoalan etika ini menjadi semakin penting. karena etika merupakan unsur pokok yang sudah seharusnya hadir di setiap aktivitas dan tujuan pendidikan. 2 Berbicara tentang pendidikan tentu ada kaitannya dengan eksistensi seorang pendidik. Apalagi dalam hal penanaman etika, peran seorang pendidik sangatlah besar. Mohammad Kholil menggambarkan bahwa peran seorang guru menjadi sangat penting dan menentukan dalam mengarahkan peserta didik serta menciptakan suasana pendidikan yang sehat, kondusif, dan tentunya etis. Selain keharusan memiliki kompetensi keilmuan yang memadai, guru juga dituntut memiliki kecakapan mendidik, menguasai metode dan strategi, dan tentunya kapasitas moral dan kredibilitas yang tinggi. Singkatnya, seorang guru dituntut mampu menggabungkan di dalam dirinya 2 . aspek sekaligus, yakni aspek ilmu pengetahuan . ompetensi pedagogik atau keilmua. dan aspek perbuatan . ompetensi moral atau kepribadia. Maka Aktivitas kegiatan proses belajar mengajar bagi guru merupakan titik sentral bagi yang berkaitan dengan fungsinya sebagai pendidik, pengajar, dan Oleh sebab itu, untuk menjadi guru profesional, guru harus memahami betul etika keguruan. dalam hal etika seorang guru. Rasulullah Saw dapat dijadikan teladan yang baik sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam AlqurAoan surat Al-Ahzab ayat 21 AIaU aE aII aEIa Oa e aA AaOA a AEacCae aEIa Ea aE eI AaO aA U AO accEEa aO eEOa eO aI eE aa a aOaE aa accEEa aEA a AO aE accEEa a aeO U aA Artinya: Sesungguhnya telah ada pada . Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu . bagi orang yang mengharap . Allah dan . hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: . 1 Cecep Triwibowo. Etika dan Hukum Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika, 2014, hal. 2 Franz Magnis Suseno. Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1. , hal. 3 Kholil. Mohamad. Kode Etik Guru Dalam Pemikiran KH. Hasyim asyAoari (Studi Kitab Adab al - AoAlim wa al -MutaAoallim ). Jurnal Risaalah. Vol . No. Desember 2015, hal. Halaman 16 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin Oleh karena itu keteladanan dari seorang guru menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Menurut Awwad posisi pendidik . memiliki peran yang sangat penting. Sebab karakter siswa dapat terbentuk setelah melihat secara langsung perilaku gurunya. 4 Oleh karena itu menyandang profesi guru, berarti harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya. Ia tidak hanya membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi siswa-siswanya. 5 Dengan ini pemahaman dan konsistensi guru tentang masalah etika ini penting diupayakan secara terus menerus, lebih-lebih dalam situasi pendidikan pada masa sekarang yang tidak sedikit guru melaksanakan tugasnya hanya sebatas mengajar, tanpa memahami bagaimana kode etik yang seharusnya diterapkan di dalam dirinya sebagai seorang guru yang profesional. Apalagi Problematika pendidikan yang semakin kompleks, salah satunya dikarenakan menurunnya etika . diukur dari segi pendidik dan peserta didik dalam tatanan pendidikan era milineal ini sangat meriskan sekali. Nisa Nurrahmah dalam penelitiannya menyebutkan bahwa didalam Al-QurAoan surah Ar-Rahman ayat 1-4 menegaskan bahwa etika pendidik yang harus dimiliki seorang pendidik yaitu meliputi: sifat kasih sayang terhadap peserta didiknya, menguasai materi pembelajaran, dapat mengarahkan dan membimbing peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengembangkan potensinya, dan memiliki kemampuan berkomunikasi serta berinteraksi. Kemudian dalam penelitian Ahmad Junaedy Abu Huraerah tentang Etika seorang guru dalam kitab sunan al-tirmidzi dijelaskan bahwa seorang pendidik dalam proses mengajar dibutuhkan etika yang baik, yaitu seorang guru harus memiliki sifat keikhlasan, rendah diri, transparansi dalam mengajarkan ilmunya dan tidak pilih kasih. Dari kedua penelitian tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji mengenai bagaimana Etika pendidik dalam Kitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Alghazali, yang diharapkan hasil dari penelitiannya dapat berpengaruh baik kepada semua orang khususnya bagi pendidik, supaya dapat dijadikan inspirasi dan petunjuk agar memperoleh keberkahan hidup dengan kegiatan mengajarkan ilmu yang bermanfaat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dimana jenis penelitiannya bersifat library reseacrch Yang ditafsirkan sebagai penelitian yang 4 Awwad. Mendidik Anak Secara Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 1996 5 Jamil. Guru Profesional. Yogyakarta. 6 Nisa Nurrohmah . Etika Pendidik dalam Perspektif Al-qurAoan (Kajian QurAoan Surah Ar-Rahman Ayat 1-. Al-Muaddib :Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Keislaman Vol. 7 No. 1, 2022, hal. 7 Ahmad Junaedy Abu Huraerah. Etika Guru dalam Perspektif al-Timidzi (Studi Atas Kitab Sunan alTirmidzi Karya Abu Isa Muhammad Bin Isa alTirmidz. jurnal IAIN Manado 2016. Vol. No. 2, hal. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 17 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin pengumpulan datanya dengan cara menelaah beberapa referensi seperti buku, catatan, atau bentuk dokumen lainnya yang sesuai dengan permasalahan yang 8 Dalam penelitian ini, objek utama yang dikaji adalah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. kemudian untuk Teknik pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dengan cara mencari, menghimpun, dan menelaah bahan pustaka seperti buku, kitab dan jurnal yang isinya masih berkaitan dengan etika pendidik dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam AlGhazali. Kemudian, sumber data diperoleh dari sumber data primer dan Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan metode analisis isi atau analisis konten (Content analysi. Content analysis adalah penelitian secara mendalam terhadap isi suatu informasi baik tertulis atau tercetak dalam media massa pada analisis isi obyek utama ialah media massa. Terutama dalam penelitian ini dilakukan pada kitab Bidayatul Hidayah juz i mengenai etika seorang pendidik. Semua obyek yang diteliti akan dipetakan dalam bentuk tulisan dan kemudian diberi interpretasi satu-persatu. Deskripsi Singkat Kitab Bidayatul Hidayah dan Pengarangnya Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali merupakan salah satu kitab yang sangat fenomenal dan sangat penting untuk dikaji dan dijadikan sebagai rujukan dalam melaksanakan aktifitas syariat ruhaniah sehari-hari. Sering kali kitab ini menjadi dasar-dasar ilmu tasawuf yang diajarkan di madrasah-madrasah atau pesantren10. Kitab Bidayatul Hidayah adalah salah satu kitab karangan Imam Hujjatul Islam Al Ghazali, kitab yg banyak diberkati oleh Allah ini merupakan Ringkasan dari kitab Ihya Ulumuddin. 11 Nama lengkap Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid at-Thusi as-SyafiAoi yang lebih dikenal dengan sebutan Imam al-Ghazali. Sang Imam merupakan seorang ahli fiqih, namun sekaligus juga ahli tasawuf. lahir di kota Thus pada tahun 450 H, dan meninggal di kota yang sama pada hari Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, pada usia 55 tahun. Di kota Nisyafur Imam Al-Ghazali berguru kepada Imam al-Haramain Abi al-MaAoali al-Juwainy karena kesungguhan dan kepandaiannya. Imam Al Harmain telah mengelarkannya sebagai "Bahrun Mughdaq" yg artinya, lautan luas 8 Sari. Milya dan Asmendri. AuPenelitian Kepustakaan (Library Researc. dalam Penelitian Pendidikan IPAAy. Natural Science: Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA, vol. 6 no. 9 Gusti Yasser Arafat. AuMembongkar Isi Pesan dan Media dengan Content AnalysisAy,Jurnal AlHadharah. Vol. No. 33, 2018, hlm. 10 Imam Al-Ghazali. Kiat Menggapai Hidayah. Achmad Sunarto, (Surabaya: Al-Misbah, 2. , 11 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. 12 Wildan Jauhari. Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali ( Jakarta : Rumah Fiqih Publishing : 2018 ) Halaman 18 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin yang tidak bertepi. Penguasaan ilmu Imam al-Ghazali pada saat berguru dengan Imam Al-haramain fokus diberbagai cabang ilmu seperti fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, filsafat, dan manthiq. 13 Pada saat Imam kembali ke kampung halamannya di Thus untuk lebih merenung, berfikir dan menulis tentang akhlaq, tasawuf dan penyucian jiwa. Kitab bidayah al-hidayah ini merupakan salah satu karya beliau dalam bidang akhlak14. Maka Sesuai dengan namanya bidayah al-hidayah merupakan kitab semacam panduan hidup dari permulaan (Bidaya. dan akan berakhir pada Hidayah . yang berarti permulaan jalan menuju petunjuk Allah. Seperti yg tertera pada mukadimah kitab Bidayatul Hidayah, bahwa Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa Bidayatul Hidayah merupakan permulaan jalan menuju hidayah. Hal tersebut agar manusia mencoba mengamalkannya dan menjadikannya sebagai uji coba terhadap isi hati manusia sendiri. Apabila seseorang hatinya sudah cenderung kepada isi kitab Bidayatul Hidayah dan nafsunya juga mau mengikuti arahannya, maka ia akan sampai pada Aunihayatul hidayahAy hingga ia mampu mengarungi lautan ilmu yang amat luas. Tetapi jika di dapati bahwa hati manusia tidak cenderung pada isinya dan nafsu manusia suka berlembat-lambat dalam menjalankan perintahnya, maka ia dalam menuntut ilmu cenderung tunduk pada perintah syaitan yang terkutuk dengan segala tipu dayanya. 16 Karena itu kitab ini banyak sekali dikaji disemua kalangan terutama dalam dunia pesantren ini Tujuannya agar manusia dapat memaksimalkan ibadahnya kepada Allah SWT dengan mendapat ridha-Nya serta dapat membina harmonisasi sosial dengan masyarakat sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat. Melihat Daftar isi dalam kitab bidayah al-hidayah pembahasannya mencakup tiga aspek, yaitu: Ketaatan . kepada Allah. Meninggalkan Maksiat dan Adab dalam Pergaulan. Bagian pertama yakni Ketaatan kepada Allah yang meliputi hal-hal: adab bangun tidur, adab masuk kamar kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayammum, adab keluar masjid, adab masuk masjid, adab ketika fajar menyingsing sampai fajar terbenam, adab persiapan melakukan salat, adab tidur, adab dalam salat, adab menjadi imam dan panutan, adab salat JumAoat,adab selama berpuasa. dan pada bagian keduanya yakni Meninggalkan Maksiat, mencakup bahasan: menjaga mata, menjaga dua telinga, menjaga lisan, menjaga perut, menjaga kemaluan, menjaga kedua tangan, menjaga kedua kaki, bahasan tentang kemaksiatan hati, bahasan tentang 13 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. 14 Wildan Jauhari. Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali ( Jakarta : Rumah Fiqih Publishing : 2018 ) 15 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. 16 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 19 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin keangkuhan dan kesombongan. Sedangkan pada bagian ketiga, yakni Etika Pergaulan mencakup bahasan adab seorang pendidik, adab seorang peserta didik, adab anak kepada kedua orang tuanya, adab bergaul dengan orang yang tidak dikenal, adab bergaul dengan sahabat, dan adab bergaul dengan kenalan. Sehingga dalam kitab ini penulis membatasi pembahasan yang kajian utamanya mengenai Adab/Etika seorang Pendidik dalam Kitab Bidayatul Hidayah karangan Imam Ghazali yg tepatnya terdapat dibagian ketiga pada aspek adab atau etika pergaulan dan persahabatan baik dengan Khaliq (Tuha. dan dengan makhluk. Etika Pendidik dalam Kitab Bidayah Al-hidayah Etika dapat dikatakan sebagai acuan dalam beradab atau berakhlak. Etika secara terminologis adalah ajaran tentang baik dan buruk, yg diterima umum tentang sikap, perbuatan kewajiban dan sebagainya. Maka Etika yg baik itu berlaku untuk semua Manusia apalagi mereka yg menyandang profesi sebagai 18 Karena Guru atau pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan murid dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensinya, baik potensi afektif . ingkah laku dan perhatia. , kognitif . , dan psikomotorik . 19oleh sebab itu Seorang Pendidik atau guru itu harus mampu menampilkan etika yang baik. Seorang pendidik merupakan teladan bagi semua orang terkhusus untuk siswanya, baik dari sikap, perkataan, maupun perbuatan. Imam Al-Ghazali membahas Etika seorang pendidik dalam kitab Bidayatul Hidayah menyebutkan ada tujuh belas . adab atau etika yang seharusnya dijaga dan dicerminkan oleh seorang ahli ilmu atau lebih dikenal dengan guru atau pendidik, berikut bahasa kitab yg disampaikan AuJika engkau seorang yang alim, maka ada tujuh belas adab orang berilmu yang harus engkau jaga. Semuanya adalah sebagai berikut: Bersabar, selalu tenang, duduk dengan terhormat, penuh wibawa dan menundukkan kepala, tidak sombong kepada siapapun kecuali kepadaorang-orang dzalim dengan tujuan memperingatkan mereka. Mengutamakan sikap rendah hati dalam berbagai acara dan majelis, tidak bergurau atau suka bermain, lemah-lembut kepada murid, halus kepada murid yang nakal, mengingatkan orang yang bodoh dengan petunjuk yang baik dan tidak marah kepadanya. Tidak gengsi berucap Auaku tidak tahuAy, mau mencurahkan perhatiannya kepada seorang penanya dan memahami pertanyaannya. Menerima dalil . ang benar walaupun dari lawa. , segera tunduk dan kembali kepada kebenaran ketika merasa bersalah, menjauhkan murid dari setiap ilmu yang berbahaya dan melarangnya dari mencari ilmu untuk tujuan 17 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. 18 Manpan Drajat & M. Ridwan E. Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta,2014, hal. 19 Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bnadung:Remaja Rosda Karya,1992, hlm. Halaman 20 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin selainAllah. Menghalangi murid dari belajar fardhu kifayah sebelum fardhuAoain dan memahamkan bahwa fardhu Aoainnya adalah memperbaiki lahiriyyah dan bathiniyyahnya dengan takwa. Hendaknya orang alim juga mengatur dirinya dengan takwa terlebih dahulu . ebelum mengatur orang lai. , agar para murid dapat meneladani tingkah lakunya terlebih dahulu sebelum mengikuti tutur katanya. Ay20 Analisis Etika Pendidik dalam Kitab Bidayatul Hidayah Karya Imam ALGhazali Dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali Pembahasan mengenai Etika Pendidik ini ada pada bagian ketiga dalam kitab tersebut, yakni pembahasan utamanya mengenai etika atau adab dalam pergaulan baik dengan Sang Khaliq (Allah SWT) dan juga dengan sesama makhluk. Berdasarka keterangan yang telah disebutkan dapat di ketahui ada 17 macam etika pendidik menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Selanjutnya akan disimpulkan mengenai 17 macam etika pendidik yang telah disebutkan di atas hanya menjadi beberapa aspek namun tetap mencakup keseluruhan etika yg ada dalam kitab bidayatul hidayah yaitu: Sabar Seorang guru pasti akan menjumpai murid yang memiliki beragam perbedaan setiap harinya, baik itu watak . , pola pikir, tingkat kecerdasan, perilaku dan persoalan di luar sekolah. Dalam menghadapi kondisi yang seperti itu, maka diperlukan bagi guru untuk selalu memiliki kesabaran agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan lancar. Maka Sabar adalah menerima segala sesuatu yang terjadi dengan senang hati. Orang yang ridha menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi itu merupakan kehendak Allah Swt. Imam Ghazali menyebutkan dalam kitab bidayatul hidayah bahwa seorang pendidik harus mempunyai sikap Sabar baik sabar dalam membimbing murid-muridnya yg kurang pandai, serta sabar . idak gampang mara. dalam menghadapi muridnya yg nakal. 22Karena orang yg bersabar akan senantiasa dibersamai Allah, berikut disebutkan dalam AlqurAoan. a a aOeIA e AaOA AcEE aI a E NA a AA a a eO acaI NA Artinya: AuBersabarlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang Ay (QS. Al-Anfal: . 20 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. 21 Fuad Thahari. Buku Siswa Al-Qur'an Hadist MA X (_ Jakarta: Kementrian Agama 2. 22Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 21 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin Hafidz Hasan Al-MasAoudi dalam kitab Taisirul Kholaq juga menyebutkan bahwa seorang pendidik hendaknya selalu bersifat sabar dan rendah diri, hal ini agar jejaknya diikuti oleh muridnya. Berdasarkan hal tersebut, maka seorang pendidik harus trrus menumbuhkan sikap sabar terlebih dalam menghadapi hal-hal yg tidak disukai dalam proses pengajaran. Karena pada hakikatnya segala suatu pekerjaan itu ada ujiannya dan ada baik dan buruknya. maka bersikap sabar sebagai seorang pendidik adalah bagian dari tanggung jawab dalam melaksanakan profesinya sebagai pendidik dengan baik. Penuh Wibawa dan Tenang Berwibawa, tenang dan santun merupakan suatu kebiasaan yang baik dan dapat dengan mudah disenangi serta dihargai oleh masyarakat pada Dan hal tersebut juga dapat dengan mudah diterima kemudian diteladani oleh peserta didik. Sebagai pendidik tentu guru banyak menjadi sosok panutan yang memiliki karakter atau kepribadian yang patut ditiru dan diteladani oleh peserta didik. Contoh keteladanan itu lebih pada sikap dan perilaku, seperti bertanggung jawab, jujur, menghargai orang lain, tenang dan sopan santun terhadap sesama. Menurut Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, menjadi seorang guru hendaklah selalu menjaga Aoiffah dengan senantiasa membawa diri dengan penuh kewibawaan dan kehormatan. 25 Sedang dalam kitab Al-Adab Fi Diin, ia mengemukakan guru harus menjaga kewibawaan dan menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan sikap takabbur. 26 Sedang dalam proses pendidikan, adanya kewibawaan termasuk syarat yang harus ada pada pendidik karena kewibawaan tersebut tentu akan digunakan oleh pendidik untuk membawa peserta didik kepada pengetahuan dan Maka seorang pendidik yg menjaga kehormatan akan terpancarlah kewibawaannya sehingga tanpa diminta banyak orang yg segan terhadap dirinya termasuk muridnya yg pasti akan menghormati dan menghargai kedudukannya sebagai guru. Selanjutnya seorang pendidik yg mampu menerapkan kesantunan dan ketenangan akan mampu menciptakan proses pengajaran yg damai terhadap peserta didiknya. Hal tersebut juga akan menjadikan peserta didik dapat memahami dengan baik apa yg diajarkan oleh gurunya. Kemudian mampu meneladani perilaku yg baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya 23 Hafidz Hasan Al-MasAoudi. Taisiirul Khalaq Terj. Achmad Sunarto, (Surabaya: AlMiftah, 2. , 24 Rina Palunga & Marzuki. Peran guru dalam pengembangan karakter peserta didik di SMP N 2 Depok sleman. Jurnal Pendidikan Karakter. No. 1, 2017, hal. 25Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Terj. Yahya Abdul Wahid ,. 26 Al-Ghazali. Al-Adab Fi Al-Din, (Ploso: Maktabah Al-Falah, t. , hlm. 43 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , hlm. 27Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati,Ilmu Pendidikan ( Jakarta: Rineka Cipta, 1. Halaman 22 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin TawadhuAo Seorang pendidik yg selalu mengutamakan sikap tawadhu . endah hat. dimanapun berada, sehingga tidak malu mengakui sesuatu yg memang belum diketahuinya. Tentunya tidak sombong kecuali kepada orang dzalim dengan tujuan untuk mengendalikan kedzalimannya. Hal itupun dijelaskan dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa seorang guru tidak boleh bersikap sombong kepada orang lain, kecuali kepada orang yang dzalim. Dengan catatan, ia melakukan hal tersebut dengan tujuan mengingatkan serta menghapuskan kedzaliman yang terjadi sehingga terciptalah kehidupan yang berjalan selaras. karena Sifat sombong merupakan salah satu bagian dari sifat tercela, yang dibenci oleh Allah. Sifat ini yakni kebanggaan seseorang terhadap diri sendiri dan kemampuannya yang dinilainya lebih unggul dari kemampuan orang lain. 29 Terlebih Allah SWT juga sudah melarang semua makhluk-Nya untuk bersifat sombong . , dalam Al-QurAoan surah al-Isra a A aOEa eI a eEa a eE aa aEA A eO UaEA a AaO aaE a eI a AaO eaEa eA a A aI a U aIacEa Ea eI ea aCa eaEa eA Artinya: AuDan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q. S al-IsraAo : . Sehingga menurut Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, seorang guru juga perlu untuk bersikap tawadhuAo atau rendah hati dalam berbagai majelis terlebih jika sedang berada dalam majelis ilmu ataupun proses 30 karena sikap tawadhuAo merupakan sikap merendahkan hati atau diri tanpa meremehkan maupun menghinakan harga diri yang dikhawatirkan dapat menjadikan orang lain meremehkan dan menghina 31 Sebagaimana Allah telah memberi peringatan dalam firman-Nya: A aE eO UIA a AO eaE sIA e AaOAa eOCa aE aE aA Artinya: AuDan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu masih ada Yang Maha TahuAy (QS. Yusuf:. Dapat disimpulkan bahwa semua manusia apapun pekerjaannya tidak pantas untuk sombong, ibarat kata diatas langit masih ada langit. Maka sekalipun ia orang yg sangat cerdas dan hebat terutama dibidang keilmuannya. Sebab seluas dan sebanyak apapun ilmu yg manusia miliki tidak akan pernah sebanding dengan kekuasaan Ilmu Allah. 28Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Terj. Yahya Abdul Wahid ,. 29Hafidz Hasan Al-MasAoudi. Taisiirul Khalaq Terj. Achmad Sunarto, (Surabaya: AlMiftah, 2. , 30 Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Terj. Yahya Abdul Wahid ,. 31Purwanto. Jazuli Suryadhi. Agus Herta Sumarto. Etika Membangun Masyarakat Islam Modern,(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2. , hlm. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 23 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin Bertanggung jawab Setiap orang harus punya rasa tanggung jawab yg besar, baik dalam suatu pekerjaan, dalam menanggung amanah ataupun dalam menyelesaikan Karena Allah SWT berfirman bahwasannya: A eINa aIeAai eO UaEA ca Ae EaEa a nN eaE UI acaI EA a AaO aaE a eCA a a a aO eEAa aa aE acE aOEOaiEa aEIA a aA eI a aO eEA a AA aI EaOA Artinya: AuDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. Ay (QS. Al-Isra': . Maka Guru sebagai pendidik juga harus bersikap serius dan profesional karena bertanggung jawab untuk mengatasi serta membantu kesulitan belajar yang dihadapi oleh para peserta didik. Hal tersebut juga telah dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa menjadi seorang guru hendaknya tidak banyak bergurau dan bermainmain. 32 Dikarenakan dalam kitab Al-Adab Fi Al-Diin ia menyebutkan bahwa seorang ahli ilmu atau guru hendaknya senantiasa belajar untuk terus mendalami ilmunya. Oleh sebab itu sebagai seorang pendidik memang harus serius dalam mengajarkan murid-muridnya. Karena salah satu tujuan pendidikan sendiri adalah menjadikan generasi yg berintelektual. Maka menjaga perkembangan murid-muridnya merupakan tanggung jawab seorang pendidik sehingga bisa tercapai dan berhasil dengan maksimal dalam memperoleh semua pembelajaran yg diajarkannya. Penyayang Sifat Kasih sayang adalah bentuk atau wujud dari afeksi . erhatian, kelembutan hati, kedekatan emosiona. yang dinyatakan oleh satu pihak ke pihak lain, atau dari personal ke personal lainnya, agar menciptakan rasa kedamaian baik individual maupun sosial. 34 Seperti yg disebutkan dalam AlqurAoan aAIa EA aAua acI EacaOIa a aIIA AE e aI aI aOUcA a AA aE aA ca AOa ea aE Ea aN aI A ca AO EA a AO aOA a AA Artinya: AuSesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka kasih sayang. Ay (QS. Maryam:. Maka seorang Guru dalam mengajar harus menjalankan tugasnya dengan menyayangi sepenuh hati, sehingga ketika ia mengajar murid yang nakal dan sulit diatur maka ia akan mengajar mereka dengan halus dan penuh perhatian. Hal ini sejalan dengan pendapat Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah bahwa seorang guru harus mempunyai rasa welas asih, 32 Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Terj. Yahya Abdul Wahid ,. 33Al-Ghazali. Al-Adab Fi Al-Din, (Ploso: Maktabah Al-Falah, t. , hlm. 43 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , hlm. 34Azam Syukur R . Konsepsi Pendidikan Kasih sayang dan kontribusinya terhadap pembangunan psikologi Pendidikan Islam, . Jurnal Literasi. Vol. VI. No. 1, 2014 Hal. Halaman 24 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin bersikap halus dan tenang ketika menghadapi peseta didik yang nakal. Membimbing murid yang bodoh dengan baik dan tidak memarahi murid tersebut, memberi perhatian kepada murid yang bertanya kemudian memahami pertanyaannya 35 Dalam kitab Al-Adab Fi Diin karya Imam AlGhazali juga menerangkan bahwa Guru harus berperilaku baik dalam mnghadapi peserta didik atau murid yang bodoh atau memiliki potensi dibawah standar . 36 Al-qurAoan pun menegaskan cU aAcEE aE eIa Ea aN eI n aOEa eO aE eIa AA a AEaOA A aaE eIacO II OEEA a AA a A eECa eEA a ca a aI ae aI s Ia IA Artinya : AuMaka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut . enyantun dan pemaa. terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu,Ay (QS. Ali Imran: Oleh karena itu. Seorang pendidik harus bisa memberikan kasih sayang, perhatian dan bijaksana kepada semua muridnya dengan tanpa membeda-bedakan. Sehingga menjadikan proses pembelajaran yg harmonis dan peserta didik merasa nyaman dan senang hati ketika diajar oleh Mau menerima Hujjah atau pendapat orang lain Sebagai manusia biasa, seorang guru tentu saja tidak selamanya benar dan sempurna. Lambat laun pasti akan ada saatnya terjatuh dalam kekurangan maupun kesalahan. Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah juga menyebutkan bahwa seorang guru hendaknya tidak malu untuk mengakui atas ketidak tahuannya dan hendaklah selalu ikhlas untuk menerima hujjah atau pendapat dari orang lain. Yang mana tentu dengan syarat bahwa hujjah tersebut memang benar adanya dan diakui Sebagaimana juga disebutkan oleh Muhammad Syakir dalam kitab Washaya Al-Abao Lil Abnao yakni apabila ada teman atau orang lain yang mengajukan pertanyaan maupun pendapatnya, maka hendaklah ia mendengarkannya, karena bisa jadi orang tersebut justru yang benar pendapat atau pemahamannya, dan ketika seperti itu maka hendaklah menjauhkan diri dari sebuah perdebatan yang salah jika hanya disebabkan untuk membela pendapat diri sendiri. Hal ini menandakan bahwa sebagai seorang pendidik hendaknya selalu berpikiran terbuka apalagi dalam menerima pendapat dan masukan orang lain dengan baik, karena mungkin pendapat orang lain memang tentu benar adanya. Kemudian sebagai seorang pendidik juga jangan sungkan untuk berkata Aobelum tahuAo karena itu sama saja ia sedang menanamkan sikap kejujuran terhadap muridnya. Bertaqwa 35Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah. Terj. Yahya Abdul Wahid ,. 36 Al-Ghazali. Al-Adab Fi Al-Din, (Ploso: Maktabah Al-Falah, t. , hlm. 43 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1. , hlm. Annual Islamic Conference for Learning and Management UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya Halaman 25 AuTransformasi Pembelajaran dan Pengelolaan Pendidikan Islam Prospektif Sustainable Development GoalsAy LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin Mengikuti sesuatu yg benar adalah keharusan. apalagi hal itu memang sudah benar-benar Perintah dari Allah SWT maka wajib hukumnya untuk mentaAoati dan melaksanakan segala perintahNya. Jika hal itu dilanggar maka Dosa akan jadi tanggungannya. Hal ini juga diterangkan dalam Al-QurAoan surat An-Nisa' ayat 59: A eO aEA a A eO aE aOaOEaO eaEa eI a Ia eI aE eI Aa eaI aIaa e a eI Aa eOA a AEA a AEA ca AcEE aOA ca AcEE aOaa eOaOA a A eOs Aa a eacONa aEaO NA a AOeaOac aN Eac aOeIa aIIa eeO aa eOaO NA n A aI a aOO UeEA a A eaI aE eI a eI ae Ia Ia eOIa a NA a eAcEE aO eEOa eO aI eaEa a EaEa aO Ue acOaA Artinya: AuWahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhamma. , dan Ulil Amri . emegang kekuasaa. di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'a. dan Rasul . , jika kamu beriman kepada Allah dan hari Yang demikian itu lebih utama . dan lebih baik akibatnya. Ay (Q. An-Nisa' : . Seperti yg disampaikan oleh Imam Ghazali dalam kitab bidayatul hidayah sebagai seorang pendidik hendaklah untuk selalu Berusaha Memperbaiki ketaqwaannya kepada Allah secara lahir dan bathin dan tunduk kepada kebenaran, memberi peringatan yg baik kepada muridnya jika ada yg melanggar syariAoat dan menjadi contoh dalam Memperaktekan ilmu didalam kehidupannya sebelum memerintahkan kepada muridnya, agar para murid meniru perbuatannya dan mengambil manfaAoat dari ucapan-ucapannya. Karena dengan ketakwaan. Seorang pendidik akan mampu memberi teladan yang baik kepada semua peserta didiknya, sehingga diperkirakan ia akan berhasil mendidik mereka agar menjadi generasi penerus bangsa yang berjiwa rabbani, baik dan mulia. KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa kitab Bidayatul Hidayah karangan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid at-Thusi as-SyafiAoi yang lebih dikenal dengan sebutan Imam al-Ghazali Sering kali menjadi dasar-dasar ilmu tasawuf yang diajarkan di madrasah-madrasah atau pesantren . Seperti yg tertera pada mukadimah kitab Bidayatul Hidayah, bahwa Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa Bidayatul Hidayah merupakan permulaan jalan menuju hidayah. Melihat Daftar isi dalam kitab bidayah alhidayah pembahasannya mencakup tiga aspek, yaitu: Ketaatan . kepada Allah. Meninggalkan Maksiat dan Adab dalam Pergaulan. Dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali Pembahasan mengenai Etika Pendidik ini ada pada bagian ketiga dalam kitab tersebut, yakni pembahasan utamanya mengenai etika atau adab dalam pergaulan baik dengan Sang Khaliq (Allah SWT) dan juga dengan sesama makhluk. 37 Abu Hamid Al-Ghazali. Bidayatul Hidayah,terj. Abu Ali Al Banjari An nadwi (Derang: khazanah banjariyah,1. ,hal. Halaman 26 Surabaya, 12 Desember 2024 UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. Yani 117 Surabaya ETIKA PENDIDIK DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH LumAoatul Hajar. Febianita Eka Dewi. Mas Muhammad Ulul Azmi. Mario Ardiansyah. Nur Fitriatin Berdasarkan keterangan yang telah disebutkan dapat di ketahui ada 17 macam etika pendidik menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah. Kemudian dianalisis penulis menjadi tujuh nilai etika namun tetap mencakup keseluruhan etika yg ada dalam kitab bidayatul hidayah, berikut etika yg harus dipegang oleh seorang pendidik: Sabar baik sabar dalam membimbing murid-muridnya yg kurang pandai, serta sabar . idak gampang mara. Berwibawa, tenang dan santun merupakan suatu kebiasaan yang baik dan dapat dengan mudah disenangi serta dihargai oleh semua kalangan karena seorang pendidik yg mampu menerapkan kesantunan dan ketenangan akan mampu menciptakan proses pengajaran yg damai terhadap peserta didiknya. Seorang guru juga perlu untuk bersikap tawadhuAo atau rendah hati dalam berbagai majelis terlebih jika sedang berada dalam majelis ilmu ataupun proses pembelajaran. Guru sebagai pendidik juga harus bersikap serius dan profesional karena bertanggung jawab untuk mengatasi serta membantu kesulitan belajar yang dihadapi oleh para peserta didik. Seorang pendidik harus bisa memberikan kasih sayang, perhatian dan bijaksana kepada semua muridnya dengan tanpa membeda-bedakan. Sehingga menjadikan proses pembelajaran yg harmonis dan nyaman. Seorang pendidik hendaknya selalu berpikiran terbuka apalagi dalam menerima pendapat dan masukan orang lain dengan baik, karena mungkin pendapat orang lain memang tentu benar adanya. Selanjunya seorang pendidik juga hendaknya untuk selalu Berusaha Memperbaiki ketaqwaannya kepada Allah secara lahir dan bathin dan tunduk kepada kebenaran. Karena dengan ketakwaan. Seorang pendidik akan mampu memberi teladan yang baik kepada semua peserta didiknya, sehingga diperkirakan ia akan berhasil mendidik mereka agar menjadi generasi penerus bangsa yang berjiwa rabbani, baik, dan mulia. DAFTAR PUSTAKA