Edukasi Perempuan Pesisir sebagai Fondasi Ketahanan Ekonomi Komunitas di GMIT Jemaat Lidamanu Batubao. Klasis Kupang Barat Trijuliani Renda*. Windynia Givens Giliary SeAou. Yorhans S. Lopis. Jetri Tampani. Santo Jefrantri Tateni 12345Prodi Sosiologi Agama IAKN Kupang Email :julianirenda@gmail. com1 windy060288@gmail. Email koresponden: julianirenda@gmail. Submit: 23-04-2025 Review: 23,27-10-2025 Diterbitkan: 13-04-2026 Keywords: Coastal Women's Education. Economic Resilience Kata Kunci: Edukasi Perempuan Pesisir. Ketahanan Ekonomi p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Abstract Women's participation in development still faces various challenges, particularly in coastal areas that are vulnerable to disparities in access and opportunities. This community service program was implemented with the aim of enhancing the capabilities of women in the coastal area of GMIT Lidamanu Batubao Congregation. West Kupang Classis, using the Participatory Action Research (PAR) methodology. Contextual learning was implemented through a series of seminars, training sessions, and group discussion forums designed to strengthen women's position in supporting community economic resilience. Based on the evaluation conducted, there was a 19. 79% increase in participants' understanding after participating in the program, with high levels of participant satisfaction regarding the content and implementation methods. This program emphasizes the significance of women's empowerment as a foundation for building resilient and sustainable coastal communities. Abstrak Partisipasi perempuan dalam pembangunan masih dihadapkan pada berbagai tantangan, khususnya di kawasan pesisir yang rawan mengalami kesenjangan dalam akses dan peluang. Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan perempuan di wilayah pesisir GMIT Jemaat Lidamanu Batubao. Klasis Kupang Barat, menggunakan metodologi Participatory Action Research (PAR). Pembelajaran kontekstual diimplementasikan melalui rangkaian seminar, pelatihan, dan forum diskusi kelompok yang didesain untuk memperkuat posisi perempuan dalam menopang ketahanan ekonomi komunitas. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, terdapat kenaikan pemahaman peserta sebanyak 19,79% setelah berpartisipasi dalam program, dengan tingkat kepuasan peserta yang tinggi terhadap konten dan metode pelaksanaan. Program ini menekankan signifikansi pemberdayaan perempuan sebagai dasar untuk membangun masyarakat pesisir yang resilient dan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 PENDAHULUAN Partisipasi perempuan dalam pembangunan masih menjadi isu yang mengemuka di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun perempuan telah mulai terlibat dalam sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga pemerintahan, tingkat keterlibatan mereka masih belum optimal. Ketimpangan gender tetap menjadi hambatan utama yang membatasi perempuan untuk berperan secara setara, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan program pembangunan. Berbagai faktor struktural seperti budaya patriarki, stereotip gender, rendahnya akses terhadap pendidikan dan sumber daya ekonomi, serta minimnya representasi perempuan dalam lembaga formal turut memperkuat ketimpangan tersebut. Temuan Komalasari et al. mengonfirmasi bahwa pembangunan di Indonesia masih mengalami ketimpangan signifikan dalam hal keterlibatan perempuan, sehingga menunjukkan bahwa peran perempuan dalam pembangunan masih memerlukan perhatian serius dan upaya perubahan yang berkelanjutan. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menegaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan partisipasi perempuan dalam beberapa program pembangunan, tingkat partisipasi tersebut masih dinilai rendah atau belum optimal. Manembu . menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural yang menghalangi mereka berpartisipasi secara penuh dalam pembangunan. Kondisi ini juga dialami oleh perempuan di desa-desa pesisir yang umumnya menghadapi tantangan yang lebih kompleks dibandingkan perempuan di wilayah daratan atau perkotaan. Wula & Anggraini . mencatat bahwa perempuan pesisir berada dalam posisi marginal karena akses yang terbatas terhadap sumber daya dan pengambilan keputusan. Ketimpangan ini semakin terlihat di banyak wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia yang masih tertinggal dalam pembangunan infrastruktur dasar. Rukin . menemukan bahwa desa-desa pesisir menunjukkan kesenjangan yang cukup tajam dibandingkan wilayah daratan, terutama dalam hal akses pendidikan, fasilitas kesehatan, teknologi informasi, transportasi, dan stabilitas ekonomi. Selain keterbatasan geografis, ketergantungan penduduk pesisir pada sektor perikananAiyang rentan terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan fluktuasi pasar globalAiturut memperburuk kondisi ekonomi dan sosial masyarakat, termasuk perempuan. Padahal, penelitian-penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa perempuan pesisir memiliki kontribusi signifikan dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendukung keberlangsungan ekonomi keluarga. Sumrin & Olii . Djuwita . , dan Anggraini . mencatat bahwa perempuan pesisir berperan penting dalam pengolahan hasil perikanan, pemasaran, hingga manajemen keuangan keluarga. Namun, kontribusi tersebut tidak diikuti oleh akses yang memadai terhadap modal, pelatihan, informasi, maupun dukungan kelembagaan. Keterbatasan akses ini menyebabkan perempuan sulit meningkatkan kapasitas dan peran mereka dalam pembangunan masyarakat pesisir. Lebih jauh, berbagai faktor seperti rendahnya tingkat pendidikan, minimnya keterampilan pengelolaan sumber daya perikanan, hingga dominasi laki-laki dalam Edukasi Perempuan Pesisir A (T. Renda. G SeAou. Lopis. Tampani. Taten. sistem sosial pesisir menjadi hambatan berkelanjutan bagi perempuan untuk Karena itu, pemberdayaan melalui pendidikan, pelatihan, dan pendampingan menjadi kunci penting untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pembangunan di wilayah pesisir (Boikh et al. , 2. Hal ini juga relevan bagi perempuan di Jemaat GMIT Lidamanu Batubao, yang sebagian besar hidup sebagai keluarga nelayan dan melakukan budidaya rumput laut. Motivasi perempuan untuk membantu perekonomian keluarga cukup tinggi, namun mereka masih kekurangan pengetahuan, keterampilan, dan akses yang diperlukan untuk memaksimalkan peran mereka. Meskipun berbagai penelitian telah menyoroti permasalahan partisipasi perempuan dalam pembangunan secara umum dan khususnya di wilayah pesisir, riset mengenai model intervensi terintegrasi berupa seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas perempuan pesisir dalam konteks budaya patriarkal masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya mendeskripsikan tantangan (Sumrin & Olii, 2015. Rukin, 2. atau peran ekonomi perempuan pesisir (Djuwita, 2. , tetapi belum banyak yang meneliti bagaimana program pemberdayaan berbasis pendidikan dapat secara langsung meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan partisipasi perempuan pesisir dalam pembangunan lokal. Selain itu, penelitian di konteks lokal Nusa Tenggara Timur, khususnya di komunitas Jemaat Lidamanu Batubao, hampir tidak ditemukan dalam literatur sebelumnya. Padahal, kondisi geografis, budaya patriarkal, dan struktur ekonomi masyarakat pesisir di Kupang Barat memiliki karakteristik lokal yang unik sehingga membutuhkan pendekatan pemberdayaan yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat. Berdasarkan kesenjangan tersebut, diperlukan suatu solusi yang tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan perubahan langsung. Penggabungan seminar dan pelatihan bagi perempuan pesisir dipandang sebagai langkah strategis untuk Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan dalam memanfaatkan sumber daya perikanan. Menguatkan posisi perempuan dalam ekonomi rumah tangga dan komunitas. Mengatasi hambatan budaya patriarkal melalui peningkatan kapasitas dan kesadaran gender. Mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam program pembangunan lokal. Dengan demikian, intervensi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan partisipasi perempuan pesisir di Jemaat Lidamanu Batubao dan menjadi contoh bagi upaya pemberdayaan di wilayah pesisir lainnya. METODE PELAKSANAAN Berdasarkan hal ini maka diperlukan solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh Perempuan pesisir di Jemaat Lidamanu Batubao. Salah satu solusinya adalah menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). PAR adalah pendekatan yang bertujuan untuk pembelajaran dalam menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan praktis masyarakat, sekaligus menghasilkan pengetahuan dan mendorong Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 proses perubahan sosial. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kritis (Afandi, 2. Kesadaran kritis yang dimaksud adalah kemampuan masyarakat untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi kehidupan mereka, serta menyadari potensi kolektif dalam melakukan perubahan. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) menjadi solusi yang relevan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi perempuan pesisir di Jemaat Lidamanu Batubao. PAR merupakan pendekatan penelitian yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis situasi, serta merancang dan melaksanakan tindakan perubahan secara kolektif. Sebagaimana dijelaskan Afandi . PAR tidak hanya bertujuan menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis, yaitu kemampuan masyarakat untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang memengaruhi kehidupan mereka, sekaligus menyadari potensi kolektif dalam mendorong perubahan. Kesadaran kritis ini sangat penting dalam konteks perempuan pesisir, karena mereka sering menghadapi beban ganda, baik dalam ranah domestik maupun produktif, namun akses terhadap pengambilan keputusan, pelatihan, dan sumber daya sering kali Melalui PAR, perempuan pesisir didorong untuk terlibat aktif, mengembangkan kepercayaan diri, memperkuat solidaritas kelompok, dan membangun rasa kepemilikan terhadap perubahan yang mereka ciptakan. Hal ini sejalan dengan gagasan Kemmis & McTaggart . yang menekankan bahwa PAR adalah siklus refleksiAeaksi yang dilakukan secara partisipatif, dan bertujuan menciptakan transformasi sosial yang nyata. Dalam kegiatan pengabdian awal . ra-pengabdia. , tim melakukan observasi lapangan untuk memetakan kebutuhan peserta dan memahami konteks sosial-ekonomi Ini merupakan tahapan penting agar program tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar relevan dengan kebutuhan perempuan pesisir. Chapin et . menegaskan bahwa partisipasi dalam tahap perencanaan meningkatkan efektivitas intervensi karena masyarakat merasa menjadi bagian dari proses perubahan. Pelaksanaan PAR di Jemaat Lidamanu dilakukan melalui tiga pendekatan utama: Seminar sebagai media peningkatan wawasan dasar. Edukasi kewirausahaan komunitas melalui pelatihan agroindustri berbasis pengelolaan pupuk rumput laut, yang relevan dengan potensi pesisir setempat. Sharing life melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk mendorong refleksi bersama, berbagi pengalaman, dan menguatkan jejaring sosial antarperempuan pesisir. Untuk memastikan efektivitas kegiatan, dilakukan pretest di awal dan posttest di akhir untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Selain itu, evaluasi kepuasan mitra juga disertakan agar proses pengabdian dapat dinilai secara objektif dan menjadi dasar untuk penyempurnaan program selanjutnya. Kegiatan ini dilaksanakan di GMIT Jemaat Lidamanu Batubao. Desa Tesabela. Kecamatan Kupang Barat. Kabupaten Kupang. Lokasi ini menjadi penting karena berada di wilayah pesisir yang sebagian besar warganya bergantung pada sumber daya laut. Dengan demikian, program PAR tidak hanya mendukung pemberdayaan perempuan. Edukasi Perempuan Pesisir A (T. Renda. G SeAou. Lopis. Tampani. Taten. tetapi juga mendorong pengelolaan sumber daya kelautan yang lebih optimal dan Target hasil yang ingin dicapai adalah integrasi antara peningkatan kapasitas intelektual . , emosional . epercayaan dir. , dan sosial-budaya . esadaran kolektif serta identitas perempuan pesisi. Melalui dua hari kegiatan yang intensif, perempuan pesisir ditempatkan sebagai subjek perubahan, bukan sekadar penerima Keterlibatan mereka dalam memaksimalkan potensi laut, menjaga kelestarian lingkungan pesisir, dan berperan dalam ekonomi rumah tangga menjadi bentuk nyata perjuangan mereka dalam menunjukkan eksistensi dan kontribusi terhadap pembangunan komunitas pesisir. Pendekatan PAR ini, sebagaimana ditegaskan oleh Reason & Bradbury . , memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui tindakan . earning-by-doin. dan menjadi aktor utama dalam proses transformasi sosial, terutama pada komunitas yang selama ini terpinggirkan. Tempat pelaksanaan kegiatan di Tempat kegiatan di GMIT Jemaat Lidamanu Batubao. Kecamatan Kupang Barat. Desa Tesabela Kabupaten Kupang. Ada pun tahapan pelaksanaan kegiatan dapat digambarkan melalui bagan berikut: Tahapan Pengabdian Kepada Masyarakat Evaluasi Laporan Kegiatan Pelaksanaan Kegiatan Pra Survey PkM Survey Seri1 Seri2 Seri3 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Sosiologi Agama ini adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal perempuan pesisir melalui seminar, pelatihan dan focus Droup Discussion tentang penguatan pemahaman dan kemampuan perempuan pesisir sebagai bagian integral dalam mendukung kehidupan keluarga dan masyrakat pesisir. Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta tentang topik yang diangkat oleh tim, diberikan pretest sebelum materi di berikan dan postest setelah materi diberikan. Terdapat 10 pertanyaan multiple choise yang digambarkan dalam bagan di bawah ini Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Tingkat Pengetahuan Peserta PkM 70,21 Pre Test Post Test Pre Test Post Test Gambar 2. Tingkat Pemahaman Pra dan Pasca Kegiatan PkM Diagram perbandingan pretest dan postest di atas menunjukkan bahwa pemahaman peserta PkM tentang PkM dengan jumlah rata-rata nilai peserta adalah 70. dan jumlah nilai rata-rata postest peserta setelah kegiatan adalah 90. Dengan demikian terjadi peningkatan pemahaman peserta tantang seminar, pelatihan dan focus Droup Discussion tentang penguatan pemahaman dan kemampuan perempuan pesisir meningkat sebanyak 19. Selain itu dalam focus group discussin perempuan pesisir melakukan sharing terkait keberadaan mereka sebagai perempuan. Peserta YS mewakili kesimpulan peserta bahwa setelah kegiatan ini peserta paham bahwa label perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak berada diposisi nomor 2 namun setara dengan laki-laki karena dalam komunitas masyarakat pesisir perempuan tidak hanya di rumah. Andil peremun juga dipantai, di atas perahu, menjaring ikan, rumput laut yang dalamnya juga terlibat dalam mengelolah hasil laut melalui kearifan local setempat untuk kebutuhan ekonomi keluarga. YS juga mengatakan, hasil pelatihan pupuk rumput laut membuka wawasan dan keahlian mereka untuk menggunakan bahan-bahan baku pembuatn pupuk rumput laut yang disediakan gratis oleh alam untuk diproduksi dalam rumah tangga perempuan pesisir untuk dijual sebagai upaya peningkatan ekomomi. KL mengatakan, ini bisa jadi ladang usaha baru karena selama ini bahan-bahan pupuk ini banyak dan disediakan oleh alam secara gratis. Edukasi Perempuan Pesisir A (T. Renda. G SeAou. Lopis. Tampani. Taten. Gambar 3. Rangkaian Pelaksanaan Kegaitan PkM Diakhir kegiatan diadakan evaluasi untuk mengetahui tingkat kepuasan mitra terkait kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Evaluasi kepuasan peserta diberikan kepada 30 orang peserta PkM. Kejelasan instrumen yang digunakan dengan menggunakan skala likert dengan keterangan 4 = Sangat Baik, 3 = Baik, 2 = Cukup, 1 = Kurang. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan angket yang memuat 14 butir pertanyaan yaitu berkaitan dengan kemanfaatan kegiatan PKM. Kepuasan PkM Oleh Mitra Alokasi waktu untukA Secara umum mitraA Kegiatan PKM berhasilA Materi terorganisasiA Mitra mendapatkanA Materi yang disajikanA SetiapA waktu yang disajikanA Kegiatan PKMA cara pemateriA Anggota PKM yangA kegiatan PKM yangA Mitra berminat untukA Materi PKM sesuaiA 66,66666667 30,0 26,7 26,7 40,0 26,7 Grafik di atas secara menjelaskan bahwa berdasarkan tingkat kepuasan materi PkM sesuai dengan kebutuhan peserta sebesar 83. 3% sangat setuju dan 16. 7% berada pada kategori setuju. Sebanyak 63. 3% menyatakan sangat setuju bahwa kegiatan PKM ini sesuai dengan harapan mereka, dan 36. 7 % menyatakan setuju. Kegiatan pengabdian meningkatkan pengetahuan mitra 66. 67% sangat setuju dan 33. 3 % setuju. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan peserta puas dengan kegiatan PKM yang Kepuasan peserta ditunjukkan dengan 73. 3% sangat setuju dan 27. setuju untuk berpartisipasi jika akan diadakan lagi kegiatan yang serupa. Secara umum mitra puas dengan kegiatan pengabdian dengan memilik kategori sangat setuju dengan 4% sangat setuju dan 32. 6% setuju. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 KESIMPULAN Pengabdian kepada Masyarakat yang dijalankan oleh tim dosen Program Studi Sosiologi Agama IAKN Kupang di GMIT Jemaat Lidamanu Batubao. Klasis Kupang Barat, telah membuktikan efektivitasnya dalam memperkuat kapasitas dan meningkatkan kesadaran perempuan pesisir sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi Data evaluasi pretest dan posttest mendemonstrasikan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta sebesar 19,79%, dengan nilai rata-rata yang meningkat dari 70,21 menjadi 90 setelah program diselesaikan. Kegiatan pembelajaran ini tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga mengkatalisasi refleksi mendalam tentang posisi dan peran perempuan dalam konstruksi sosial lokal. Dalam forum diskusi kelompok, peserta mengekspresikan kesadaran baru bahwa fungsi mereka sebagai pengelola rumah tangga bukan merupakan peran subordinat, melainkan kontribusi fundamental terhadap ekonomi keluarga dan komunitas, termasuk keterlibatan dalam aktivitas maritim seperti penangkapan ikan, pembuatan alat tangkap, dan pengolahan produk laut terutama rumput laut. Survei kepuasan menghasilkan temuan yang sangat menggembirakan, dengan mayoritas peserta . ,3%) menyatakan kesesuaian materi dengan kebutuhan riil mereka, dan 73,3% menunjukkan komitmen untuk berpartisipasi dalam program serupa di masa Tingkat kepuasan yang tinggi ini mengindikasikan keberhasilan pendekatan komprehensif yang tidak terbatas pada transfer pengetahuan teknis, namun juga berhasil membangun kohesi sosial, meningkatkan kepercayaan diri, dan menumbuhkan sense of ownership terhadap proses pembangunan komunitas. Secara keseluruhan, program ini telah memberikan kontribusi substantif bagi upaya pemberdayaan perempuan di wilayah Pendekatan edukasi partisipatif terbukti efektif dalam mendorong transformasi sosial yang menuju pada penguatan ketahanan ekonomi komunitas yang inklusif dan DAFTAR PUSTAKA