Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 2 (Februari 2. : 107-118 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Alexzander Parlindungan Manalu1. Kristina A. Panggabean2 Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat alexzandermanalu@gmail. Abstract This research uses a literature study research method, with an exegesis approach. Exegesis will be conducted on the text of Joel 2:28-29 with the help of literature and book sources as well as theological journal articles related to this article. This article examines the outpouring of the Holy Spirit prophesied by Joel in Joel 2:28-29 and its impact on the paradigm of the spiritual life of the church today. The prophecy signaled a major shift in the way God reveals Himself to His people, from an exclusive outpouring of the Holy Spirit to an inclusive outpouring to all people, regardless of social status, gender, or age. Through this research, this article aims to discover and offer the theological implications of a more inclusive outpouring of the Holy Spirit to all believers, allowing every individual to participate in the ministry and mission of the church. Based on an analysis of the text of Joel and its application in the context of today's church, this article shows how the outpouring of the Holy Spirit changes the way the church views ministry, mission, and personal relationship with God. Keywords: Outpouring. Spirit of God. Joel 2:28-29. Old Testament and New Testament. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan, dengan pendekatan eksegesis. Eksegesis akan dilakukan pada teks Yoel 2:28-29 dengan bantuan literatur-literatur dan sumbersumber buku serta jurnal artikel teologi yang berhubungan dengan artikel ini. Artikel ini mengkaji pencurahan Roh Kudus yang dinubuatkan oleh Nabi Yoel dalam Yoel 2:28-29 dan dampaknya terhadap paradigma kehidupan rohani gereja masa kini. Nubuat tersebut mengisyaratkan sebuah pergeseran besar dalam cara Tuhan menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya, dari pencurahan Roh Kudus yang eksklusif yaitu hanya bagi orang terpilih saja menjadi pencurahan yang inklusif kepada semua orang, tanpa memandang status sosial, jenis kelamin, atau usia. Melalui penelitian ini, artikel ini bertujuan untuk menemukan dan menawarkan implikasi teologis dari pencurahan Roh Kudus yang lebih inklusif yaitu kepada semua orang yang percaya, yang memungkinkan setiap individu untuk berpartisipasi dalam pelayanan dan misi gereja. Berdasarkan analisis terhadap teks Yoel dan penerapannya dalam konteks gereja masa kini, artikel ini menunjukkan bagaimana pencurahan Roh Kudus mengubah cara pandang gereja terhadap pelayanan, misi, dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Kata kunci: Pencurahan. Roh Allah. Yoel 2:28-29. Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru. Diterima Redaksi: 31-12-2024 | Selesai Revisi: 18-02-2. Diterbitkan Online: 28-02-2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Pendahuluan Alkitab menyebut Roh Kudus sebagai Roh Allah. Roh Kebenaran. Roh Tuhan. Roh Yesus, dan Roh Penghibur. Roh Kudus juga dilambangkan dengan nafas, angin, merpati, jari Allah, dan api. (Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II M-Z, 1995, hlm. Pencurahan Roh Kudus sering sekali dibicarakan di kalangan kaum Pentakostal dan Karismatik. Mereka meyakini bahwa Roh Kudus sangat memiliki peran penting dalam kehidupan orang percaya. Salah satu yang menjadi ciri utama dari teologi Karismatik adalah penekanan mereka pada pengalaman pribadi dan langsung dengan Tuhan khususnya melalui manifestasi kuasa Roh Kudus. Mereka meyakini bahwa pengalaman-pengalaman spiritual seperti berbicara dalam bahasa roh . , penyembuhan ilahi, dan penglihatan atau nubuat dianggap sebagai bentuk nyata dari intervensi ilahi dalam kehidupan sehari-hari sebagai karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya (Sulviani dkk. , 2024, hlm. Yoel 2:28-29 sering sekali menjadi acuan bagi orang Kristen mengenai pencurahan Roh Kudus (Latumanuwy & Pakpahan, 2022, hlm. Pada teks ini, kita dapat melihat bahwa Nabi Yoel bernubuat tentang akan adanya suatu hari dimana Roh Allah akan dicurahkan (Pakpahan, 2019, hlm. Hal yang menarik untuk kita perhatikan pada teks ini adalah bahwa nubuatan tentang pencurahan Roh di masa yang akan datang menurut teks ini akan dicurahkan kepada semua manusia baik laki-laki maupun juga pada perempuan bukan hanya pada individu-individu tertentu atau segelintir orang saja. Nubuatan ini kemudian akan digenapi dalam Perjanjian Baru seperti yang dirujuk oleh teks ini yaitu pada masa Pentakosta di Kisah Rasul 2. Nubuatan tentang pencurahan Roh berdasarkan pada Yoel 2:28-29 berbanding terbalik seperti yang biasa terjadi dalam Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama yang menerima pencurahan Roh hanyalah kepada segelintir orang-orang tertentu yang diurapi oleh Tuhan . isalnya seorang nabi (Bil. 11:25 & 27:. , atau hakim (Hak. 3:10, 6:34, 11:29, , raja . Sam. 10:6 & 16:. , nenek moyang atau 70 penatua (Bil. 11:16-17, . ) untuk melakukan tugas tertentu. Oleh karena itu, nubuatan dalam Yoel 2:28-29 ini belum digenapi secara sempurna dalam Perjanjian Lama. Nubuat ini hanya digenapi secara sempurna pada Perjanjian Baru. Jika kita mengacu pada Perjanjian Baru, peran Roh Kudus berubah secara signifikan, terutama setelah kedatangan Yesus Kristus dan peristiwa Pentakosta. Pencurahan Roh Kudus menjadi lebih luas dan bersifat permanen, mencakup semua manusia (Arestu , 2024, hlm. Oleh karena itu, perbedaan penyataan Roh Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang signifikan itulah yang menjadi gap pada penelitian ini. Nubuat dalam Yoel 2:28-29 tentang pencurahan Roh Allah kepada "semua manusia" perlu dipahami dengan lebih mendalam. Meskipun teks tersebut menyebutkan "semua manusia," kenyataannya, pencurahan Roh Allah tidak benar-benar terjadi kepada semua orang di dunia tanpa terkecuali. Hal ini menjadi jelas dalam Perjanjian Baru, khususnya pada peristiwa Pentakosta (Kisah Para Rasul . Saat itu. Roh Kudus dicurahkan bukan kepada semua orang di dunia, tetapi hanya kepada mereka yang percaya kepada Kristus. Dengan kata lain, istilah "semua manusia" dalam nubuat Yoel lebih mengarah kepada semua orang percaya tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status sosial. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan Roh Kudus memiliki syarat utama, yaitu iman kepada Yesus Kristus. Pencurahan Roh ini kemudian menjadi tanda bagi lahirnya gereja sebagai komunitas orang percaya yang dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan demikian, penggenapan nubuat Yoel menjadi lebih jelas dalam konteks rencana keselamatan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, dari permasalahan gap di atas, maka timbullah beberapa pertanyaan yang akan membantu proses penelitian pada artikel ini, yaitu: Apa makna dari pencurahan Roh Allah yang dinubuatkan dalam Yoel 2:28-29? Siapa yang dimaksud dengan "semua manusia" dalam konteks nubuat Yoel 2:28-29? Apa hubungan nubuat Yoel 2:28-29 dengan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya di masa kini? Berdasarkan beberapa pertanyaan di atas maka penulis akan memfokuskan pada satu pertanyaan kunci yaitu AuApakah makna teologis-biblis perubahan penyataan Roh Allah dalam Perjanjian Lama kepada Perjanjian Baru dan relevansinya bagi orang percaya masa kini? Dengan demikian, penulis menulis penelitian ini dengan judul: Dari eksklusifitas ke inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29. Ada beberapa jurnal artikel yang juga membahas Yoel 2:28-29 ini. Beberapa dari artikel yang ditulis oleh mereka membahas tentang nubuatan kepada hari Pentakosta, peran Roh Kudus dalam hidup orang percaya, ineransi kitab, dan juga fokus pada penginjilan. Oleh karena itu kebaruan yang ditawarkan oleh penulis dalam artiel ini ialah fokus pada makna teologis-biblis perubahan penyataan Roh Allah berdasarkan nubuatan Yoel 2:28-29. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi kepustakaan, dengan pendekatan eksegesis. Eksegesis akan dilakukan pada teks Yoel 2:28-29 dengan bantuan literatur-literatur dan sumber-sumber buku serta jurnal artikel teologi yang berhubungan dengan artikel ini. Hasil dan Pembahasan Hermeneutika Yoel 2:28-29 Pengantar kepada kitab Yoel Dalam bahasa Ibrani nama nabi ini berarti AuYahwe adalah AllahAy (Packer dkk. , 2014, Yoel bin Petuel berasal dari Yudea, diutus Tuhan menjadi seorang nabi bagi bangsa Israel (Kasten Situmorang dkk. , 2022, hlm. 4Ae. Pada masa itu, umat Israel mengalami penderitaan yang luar biasa akibat bencana yang datang bertubi-tubi. Negeri mereka diserang oleh hama belalang dalam jumlah besar yang datang secara berulang-ulang, bagaikan gelombang tanpa henti. Serangan ini menghancurkan tanaman dan hasil panen, menyebabkan kelaparan dan keputusasaan di tengah rakyat. Setelah serangan belalang yang memusnahkan, musim kemarau panjang menyusul, membuat tanah menjadi kering dan Air menjadi langka, dan harapan untuk memulihkan kehidupan semakin sirna. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Kehancuran yang mereka alami begitu lengkap, menyisakan gambaran negeri yang rusak, rakyat yang menderita, dan masa depan yang terlihat suram. Bencana ini bukan hanya persoalan alam, tetapi juga memiliki makna rohani yang Seperti yang telah dinubuatkan Musa dalam Ulangan 28:38-39, hukuman ini datang sebagai akibat dari ketidaktaatan umat Israel terhadap perintah Tuhan. Tuhan menggunakan bencana ini untuk memperingatkan mereka agar menyadari kesalahan mereka dan kembali kepada-Nya. Di balik hukuman ini, terkandung panggilan bagi umat untuk bertobat dan memperbarui hubungan mereka dengan Tuhan. Jika mereka bersedia kembali dengan hati yang sungguh-sungguh. Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka, memberkati tanah mereka, dan memulihkan kehidupan yang telah hancur (Boyd, 2016, hlm. Dalam artikel berjudul AuRelevansi Ineransi Kitab Yoel 2:28-32 terhadap Nubuat Masa KiniAy. Kasten Situmorang dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa tujuan penulisan Kitab Yoel adalah sebagai berikut: . mengumpulkan umat Israel dalam sebuah perkumpulan kudus di hadapan Tuhan (Yoel 1:14. 2:15-. menasihati umat Israel agar bertobat dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah, serta memohon belas kasihan-Nya (Yoel 2:12-. mencatat janji Tuhan kepada bangsa yang bertobat (Yoel 2:18Ae3:. (Kasten Situmorang dkk. , 2022, hlm. 4Ae. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa Kitab Yoel memiliki beberapa ciri khas, yaitu: . dianggap sebagai salah satu karya sastra terindah dalam Perjanjian Lama. memuat nubuat Perjanjian Lama yang terkenal tentang pencurahan Roh Kudus atas seluruh umat manusia. mencatat berbagai bencana, seperti serangan belalang, kekeringan, kelaparan, kebakaran, serbuan musuh, dan tanda-tanda di langit sebagai hukuman Allah atas kemerosotan rohani umat. menekankan bahwa Allah sering bekerja melalui bencana alam dan serangan musuh untuk membawa pertobatan, kebangunan rohani, dan pemulihan. menggambarkan sosok seorang nabi yang dekat dengan Allah dan mampu mengajak umat untuk bertobat dengan cara yang meyakinkan (Kasten Situmorang dkk. 2022, hlm. 4Ae. Eksegesis Yoel 2:28-29 Teks ini muncul di tengah situasi krisis yang dialami bangsa Israel, di mana Allah memberikan janji pemulihan yang ditandai dengan pencurahan Roh-Nya. Melalui nubuat ini. Yoel tidak hanya menyampaikan harapan bagi umat Israel pada zamannya, tetapi juga menubuatkan suatu penggenapan yang lebih besar di masa depan. Untuk memahami makna dari nubuat ini secara mendalam, diperlukan analisis terhadap kata-kata kunci, serta hubungan nubuat ini dengan penggenapannya dalam Perjanjian Baru. Eksegese teks ini akan membantu kita melihat bagaimana pergeseran dari eksklusivitas ke inklusivitas terjadi dalam karya Roh Kudus. Kata Kunci AuAkan Kucurahkan Roh-KuAy Kata Aku akan mencurahkan dalam bahasa ibrani A a A ioAdibaca espok dari kata dasar AA oA dibaca shaphak yang berbentuk kata kerja kal imperfek yang menunjukkan suatu tindakan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 mencurahkan atau menumpahkan yang belum selesai atau akan terjadi di masa depan yang akan dilakukan oleh Allah (Achenbach, 2012, hlm. Dalam Yoel 2:28, frasa Aku akan mencurahkan Roh-Ku menegaskan bahwa Tuhan adalah subjek utama dari tindakan pencurahan Roh. Kata kerja A A oAshaphak yang digunakan dalam teks ini memiliki arti positif ketika Tuhan yang menjadi pelaku untuk penggunaan kata ini, karena tujuan utamanya adalah memberdayakan seseorang melalui pemberian Roh-Nya (Botterweck dkk. , 2006, Hal ini menunjukkan adanya gerakan ruah (Ro. dari Tuhan kepada manusia, bukan semata-mata bagi individu tertentu, tetapi juga meluas secara universal. Nubuat ini mencerminkan pola dalam teks-teks profetik lain seperti masa pembuangan dan pascapembuangan, di mana konsep Roh Allah mulai diuniversalkan. Pencurahan Roh tidak lagi terbatas kepada tokoh-tokoh khusus seperti nabi, imam, atau raja, melainkan diperluas kepada semua orang tanpa membedakan usia, jenis kelamin, atau status sosial (Botterweck , 2006, hlm. Tindakan Allah ini sejalan dengan energi kreatif Yahweh yang disebutkan dalam Yeh. 11:19-20, di mana Roh Allah bekerja di dalam umat-Nya untuk memberikan pemahaman rohani, memperbarui hati, dan membawa ketaatan pada kehendak-Nya. Nubuat serupa juga ditemukan dalam Yes. 44:3 dan Yeh. 36:27. 37:14, yang menekankan karya Roh yang mendalam di antara umat-Nya. Bahkan dalam Zak. 12:10, pencurahan Roh membawa pengertian dan pemulihan dari masa lalu. Dengan demikian, dalam konteks Yoel 2:28, pencurahan Roh Allah tidak hanya berfungsi sebagai pemulihan rohani, tetapi juga sebagai pemberdayaan universal bagi semua orang untuk bernubuat dan menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah. Hal ini menandai pergeseran dari eksklusivitas di Perjanjian Lama menuju inklusivitas yang sepenuhnya digenapi dalam Perjanjian Baru (Botterweck dkk. 2006, hlm. Frasa ke atas semua manusia Frasa ke atas semua manusia dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Ibrani adalah AuuAucA AiC A al kol basar. Kata al adalah kata preposisi yang berarti atas, tentang (Kelley, 2013, hlm. Kata kol berarti semua, masing-masing, seluruh, keseluruhan (Baker & Sitompul, 1997, hlm. Kata basar adalah kata benda maskulin tunggal yang berarti daging. (Sale, t. , hlm. Achenbach menambahkan bahwa kata basar juga berarti daging, tubuh, manusia, binatang, badan (Achenbach, 2012, hlm. Maka frasa al kal basar dapat diartikan sebagai atas semua manusia. Kol basar muncul sekitar 40 kali dalam Perjanjian Lama (Botterweck & Ringgren, 1999. Secara harfiah, ksl berarti "keseluruhan" atau "totalitas. " Namun, kata ini jarang digunakan secara mutlak untuk menggambarkan "segala sesuatu" atau "seluruhnya" tanpa batasan namun semua di sini adalah semua yang memiliki batasan tertentu . ontohnya dapat ditemukan dalam Pengkhotbah 1:2. 11:5. Yesaya 29:11. Yeremia 10:16 dan 51:19. Yesaya 44:24. serta Ayub 13:. (Botterweck dkk. , 1995, hlm. Berdasarkan penggunaan kata kol tersebut, maka dapat kita pahami bahwa nubuat dalam Yoel 2:28-29 memang ditujukan untuk semua orang, tetapi tidak dalam arti mencakup setiap individu secara mutlak. Nubuat ini berlaku untuk semua orang dalam lingkup atau kelompok tertentu. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Penerima Roh: AuAnak-anakmu laki-laki dan perempuan. tua dan muda. hambahambaAy Yoel 2:28-29 menegaskan bahwa pencurahan Roh Kudus mencakup semua kelompok dalam masyarakat, tanpa memandang usia, gender, atau status sosial. Teks ini secara eksplisit menyebut anak-anakmu laki-laki (A cA Aou yAbeneke. dan perempuan (A icA iA ou cyAubenowteke. , orang tua ( A nA AouyAziqneke. , taruna (A c Aio iCuyAbahureke. , hambamu laki-laki (AA icA neoyA haabadi. dan hambamu perempuan (A i A cAiAhassepahow. serta semua kelompok lainnya. Hal ini menunjukkan inklusivitas luar biasa dalam karya Roh Kudus bahwa Roh Kudus akan dinyatakan kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali. (Pilon, 2009, hlm. Pada masa Perjanjian Lama, masa sebelum pembuagan bangsa Israel ke Babel, pemberian Roh Kudus bersifat eksklusif. Roh hanya diberikan kepada individu tertentu seperti nabi, raja, atau pemimpin yang dipilih Allah untuk melaksanakan rencana-Nya. Namun, dalam Perjanjian Baru, kita melihat pergeseran yang signifikan. Kisah Para Rasul 2:17-18 mengutip nubuat Yoel ini untuk menggambarkan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, yang mencakup semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial, usia, atau Hal ini menegaskan bahwa karya Roh Kudus melampaui batasan manusiawi seperti status sosial dan gender. Setiap orang, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka yang dianggap rendah dalam struktur sosial seperti hamba, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menerima Roh dan menjadi bagian dari karya Allah. Dengan demikian, pencurahan Roh Kudus dalam Yoel 2:28-29 menunjukkan rencana keselamatan Allah yang universal dan inklusif, menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa Teks ini diawali dengan sabda Allah. AuKemudian daripada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusiaAy (Yoel 2:. Boyd berpendapat bahwa bila mengutip ayat ini pada hari Pentakosta (Kis. 2:16-. , kita dapat melihat bahwa Petrus mengubah perkataan Yoel dengan mengatakan Aupada hari-hari terakhir,Ay yaitu suatu ungkapan untuk menunjuk kepada hari-hari Mesias atau hari-hari terakhir zaman Taurat. Akan tetapi, permulaan zaman gereja telah disertai oleh pencurahan Roh yang mulia pada hari Pentakosta. Kita percaya bahwa Allah bermaksud melangsungkan pencurahan Roh itu sampai hari ini, sepanjang zaman gereja (Boyd, 2016, hlm. Namun demikian. Dianne Bergant dkk berpendapat bahwa makna dari Aukemudian daripada itu . tidak langsung terburu-buru mengarah pada Perjanjian Baru namun ia mengartikannya berdasarkan konteks teks sebelumnya yaitu tentang janji Tuhan kepada bangsa yang bertobat sehingga menurut Bergant hal ini merupakan peralihan ke kondisi pembaruan janji-janji Tuhan terpenuhi . :1. Mereka berpendapat bahwa ini menunjuk kepada suatu waktu yang tidak pasti di masa yang akan datang ketika berkat Allah yang baru . :28-. akan direalisasikan dalam jemaat (Bergant & Karris, 2002, hlm. Mereka mengatakan bahwa kata kepada AuSemua manusiaAy menunjukkan bahwa semua manusia adalah anggota dari jemaat bait suci . :19, 3:2. Mereka berpendapat bahwa janji pada teks ini radikal, karena tradisi Yahudi membatasi Roh Tuhan kepada orang-orang dengan jabatan tertentu: hakim, seperti Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Gideon (Hak 6:. raja, seperti Saul . Sam 16:. nabi, seperti Yehezkiel (Yeh 2:. Meskipun Musa menginginkan suatu jemaat yang penuh dengan Roh (Bil 11:. Roh Allah telah dibatasi bagi tujuh puluh pemimpin (Bil 11:17, . (Bergant & Karris, 2002, hlm. Mereka juga berpendapat bahwa dalam ayat-ayat ini. Roh Allah akan memberi kuasa kepada masing-masing anggota jemaat untuk "bernubuat". Kegiatan ini dijelaskan lebih lanjut dengan istilah yang sesuai: mendapat mimpi dan mendapat penglihatan-penglihatan. Nabi-nabi disebut dengan anak anakmu laki-laki dan perempuan, orang-orangmu yang tua dan teruna-terunamu . Namun yang tidak biasa adalah penyebutan hamba-hambamu laki-laki dan perempuan (E. Meskipun hak mereka dilindungi sesuai dengan hukum untuk istirahat sabat (Kel 20:. dan hari-hari besar (Ul 12:12, 18. 16:11,. , mereka tidak dianggap sebagai anggota jemaat. Partisipasi dalam Roh Allah mengimplikasikan kedudukan yang sama bagi masing-masing orang dalam jemaat (Bergant & Karris, 2002. Adalah sangat jelas bahwa makna dari Aukemudian daripada ituAy bahwa ini berarti sementara pemberian pencurahan terletak dalam masa depan yang dekat, pemberian berupa Roh Kudus untuk segenap manusia adalah terletak di masa depan yang jauh, dilihat dari pendirian Yoel yaitu pada waktu Pentakosta. (Tafsiran Alkitab Masa Kini 2 Ayub-Maleakhi Berdasarkan Fakta-fakta Sejarah Ilmiah dan Alkitabiah, 1976, hlm. Dalam Yoel 2:2829 ini kepemilikan Roh itu merupakan tanda resmi universal bagi anak- anak Allah. Kiasan 'mencurahkan' Roh . nd Yes 32:. pastilah diambil dari hebatnya hujan-hujan musim dingin di Palestina. (Tafsiran Alkitab Masa Kini 2 Ayub-Maleakhi Berdasarkan Fakta-fakta Sejarah Ilmiah dan Alkitabiah, 1976, hlm. Carson dkk berpendapat bahwa nubuat pada teks ini berbicara tentang hubungan yang sempurna antara Allah dan umat-Nya. (Carson dkk. , 1953, hlm. Mereka berpendapat bahwa semua orang pada nubuat ini, secara harfiah 'semua daging', di sini berarti 'setiap orang di Israel', seperti yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam hal anggota komunitas . 3:1. untuk penggunaan relatif 'semua manusia' dari Yer. 12:12 AV. bandingkan penggunaan relatif 'setiap orang' dalam bahasa Inggris dan 'tout le monde' dalam bahasa Pranci. Pesan yang dibawa Yoel kepada orang-orang sezamannya adalah bahwa, seluruh orang akan bernubuat, atau bahwa karunia bernubuat akan menjadi umum dan berlaku di mana-mana di antara orang-orang Yahudi. (Carson dkk. , 1953, hlm. Hubbard berpendapat bahwa kemudian di sini tidak selalu menunjuk ke akhir zaman tetapi berfungsi untuk menetapkan urutan kronologis antara dua tahap berkat. Pada hari-hari itu, ayat 29, menunjuk ke sesudahnya dari ayat 28 tetapi juga memberi ayat-ayat ini sentuhan eskatologis . 3:1. Yer. 3:16, 18. ) Perbedaan antara kedua tahap itu bukanlah bahwa yang pertama bersifat material dan yang kedua bersifat spiritual tetapi bahwa yang pertama adalah pemulihan kerusakan lama dan yang kedua adalah peresmian era baru dalam hubungan Allah dengan umat-Nya (Hubbard, 2009, hlm. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 Pergeseran Paradigma Penyataan Roh dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru Roh Dalam Perjanjian Lama Dalam Perjanjian Lama, kata roh . ahasa Ibrani yaitu ruak. muncul sebanyak 378 Kata ruakh bisa berarti: angin nafas, atau Roh (Mangapul Sagala 2000, . Abineno menambahkan bahwa ruakh itu tidak kelihatan atau tidak tampak sehingga hadir dimanamana (Abineno, 2010, hlm. Roh Allah dapat dipahami sebagai bagian integral dari "Sejarah Keselamatan" (Heilsgeschicht. Dalam Perjanjian Lama, manifestasi Roh Allah memiliki hubungan yang erat dengan pengalaman sejarah bangsa Israel. Ketika bangsa Israel menghadapi kesulitan. Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan mengangkat orang-orang yang semula tidak dikenal atau dianggap biasa untuk memimpin dan memberi semangat. Dengan pertolongan Tuhan, mereka berhasil mengalahkan musuh dengan cara yang luar biasa, seperti Gideon (Hak. dan Yefta (Hak. Demikian pula, para nabi mengalami ekstase dan menari dalam penyembahan kepada Allah Israel. Pujian mereka tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga membawa orang-orang yang mendengarnya ke dalam kepenuhan Roh atau ekstase . Sam. 10:5-6. 2 Sam. 6:14-. (Siahaan, 2012, hlm. Dari sini kita dapat melihat bahwa dalam keadaan dapat melakukan tindakan yang mengagumkan itu, baik para hakim, maupun kelompok nabi, peranan roh . tidak lain daripada sumber kekuatan yang menakjubkan. Dengan tiba-tiba dan dengan tidak diperhitungkan atau diharapkan, ruakh menunjukkan kekuatan istimewa hadir di tempattempat tertentu, di mana "Allah menginginkan orang-orang yang dihinggapi Roh-Nya melakukan pekerjaan-pekerjaan istimewa" (Siahaan, 2012, hlm. 22Ae. Siahaan juga berpendapat bahwa Roh memperlengkapi seseorang untuk memangku jabatannya sebagai "Pesuruh" atau "Juru bicara" Allah. Hal itu terbukti dari fungsi yang diemban-Nya. Ia megutip pandangan Eichrodt yang mengatakan bahwa Allah mau mengangkat seseorang ke dalam satu tugas melalui tanda ajaib-Nya, dan diperlengkapi dengan tujuan melakukan perbuatan-perbuatan yang mengagumkan dan menggembirakan (Siahaan, 2012, hlm. Roh Dalam Perjanjian Baru Dalam Perjanjian baru istilah yang dipakai untuk kata Roh ialah pneuma. Dari istilah ini muncullah kata pneumatology yang berarti ilmu tentang roh. Istilah pneuma terdapat sebanyak 220 kali dalam Perjanjian Baru dan sebanyak 91 kali dipakai secara langsung untuk berbicara tentang Roh Kudus (Tobing, 2006, hlm. Perjanjian Baru menggambarkan Roh Kudus aktif pada setiap tahap penebusan, khususnya dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus, dari konsepsi sampai kenaikan. Yesus dikandung dari Roh Kudus. Malaikat yang diutus Tuhan memberi tahu Yusuf bahwa kehamilan Maria yang mengejutkan adalah hasil karya Roh (Mat. Gabriel memberi tahu Maria bahwa "Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Maha tinggi akan menaungi engkau. sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus. Anak Allah" (Luk. (Letham, 2011, hlm. Dalam Perjanjian Baru kita dapat melihat bahwa kehadiran Roh Allah bukan lagi dicurahkan pada Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 segelintir orang saja yang hendak dipakai Tuhan untuk tugas tertentu namun Roh Kudus hadir kepada semua orang yang percaya. Saya mengutip pandangan Henry C. Thiessen (Thiessen, 2010, hlm. 386Ae. tentang pelayanan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya dapat dikatakan secara singkat dengan beberapa istilah. Roh Kudus memperbaharui. Manusia dilahirkan kembali lewat pelayanan Roh Kudus (Yohanes 3:3-. , karena Roh Kuduslah yang memberi hidup (Yohanes 6:. Paulus berbicara tentang "pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Titus 3:. Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya. Pelayanan Roh Kudus untuk memperbaharui orang percaya berkaitan erat sekali dengan pelayanan-Nya untuk mendiami orang percaya. Mengenai kedatangan Sang Penghibur itu Kristus berkata, "Kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu" (Yohanes 14:. Perihal Roh Kudus mendiami orang percaya adalah begitu penting sehingga orang yang tidak didiami oleh Roh Kudus dianggap belum menjadi milik Kristus (Roma 8:. Paulus berkata kepada gereja di Korintus yang pecah-belah karena dosa yang ada di antara mereka, ". Roh Allah diam di dalam kamu" (I Korintus 3:16. dengan 6:. Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan dibangkitkan (Roma 8:. Roh Kudus membaptis. Kristus membaptis orang-orang percaya dengan Roh Kudus ke dalam tubuh-Nya (Matius 3:11. Markus 1:8. Lukas 3:16. Yohanes 1:33. Kisah 1:5. Paulus menulis, "sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh" (I Korintus 12:. Roh Kudus memeteraikan. Allah memeteraikan orang-orang percaya dengan Roh Kudus (Efesus 1:13, 14. Paulus menulis bahwa Allah "memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita" (II Korintus 1:. Memeteraikan berarti beberapa hal: jaminan, hak milik, dan keamanan. Roh Kudus adalah Roh yang mengangkat kita sebagai anak dan yang "bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anakanak Allah" (Roma 8:16. bandingkan dengan Galatia 4:. Keempat karya Roh Kudus ini terjadi serempak dan ketika seseorang memiliki iman yang menyelamatkan. Gordon. Fee berpendapat bahwa kehadiran Ilahi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai Roh yang diam di dalam atau di tengah umat Allah ialah kepada mereka yang percaya. Hal itu terbukti dikatakan bahwa Roh ada "di dalam kamu/kita" (I Tes. 4:8. I Kor. 6:19. 14:24-25. Ef. 5:18 . elalui kiasan "memenuhi"]). Tempat yang dimaksud dengan ungkapan "di dalam kamu/kita" adalah "hati" (II Kor. 1:22. 3:3. Gal. 4:6. Rm. 2:29. Selanjutnya, ini menjadi ungkapan dari "diam di dalam" (I Kor. 3:16. II Kor. 6:16. Rm. 8:9-11. Ef. (Fee, 2004, hlm. Oleh karena itu, berdasarkan frasa kol basar yang berarti semua namun pada batasan tertentu dan pada penggenapannya pada masa Pentakosta dalam Perjanjian Baru maka pencurahan Roh yang dimaksudkan oleh Yoel 2: 28-29 ini ialah pencurahan Roh yang Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 inklusif yang berarti tidak hanya pada pribadi tertentu namun kepada semua orang namun bukan berarti kepada semua orang tanpa terkecuali tetapi semua dalam batasan tertentu yaitu bagi semua orang yang percaya saja. Implikasi teologis bagi orang Kristen Masa Kini Implikasi teologis dari pencurahan Roh Kudus menurut Yoel 2:28-29 bagi jemaat saat ini sangat penting dan relevan dalam konteks kehidupan gereja dan iman Kristen masa Nubuat Yoel 2:28-29 tidak mengharuskan setiap orang yang menerima Roh Kudus harus berbahasa Roh. Fokusnya adalah pencurahan Roh yang mencakup semua orang tanpa memandang usia, gender, atau status sosial. Manifestasi Roh Kudus bisa berbeda-beda sesuai kehendak Allah, seperti bernubuat atau melayani . Kor. 12: 7-. Jadi, penerimaan Roh Kudus tidak dibatasi pada tanda tertentu seperti berbahasa Roh. Janji pencurahan Roh Kudus dalam nubuat ini memiliki dampak besar, baik secara individu maupun kolektif, yang mengubah cara kita memandang dan menghidupi iman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu implikasi utama dari pemahaman ini adalah bahwa Roh Allah dicurahkan kepada semua orang tanpa memandang status sosial, usia, atau jenis kelamin, yang memberdayakan mereka untuk melayani Tuhan. Sebagaimana dinubuatkan oleh Yoel, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan hamba-hamba akan menerima Roh Kudus dan dapat bernubuat, yang menunjukkan bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu. Pencurahan Roh Kudus pada seluruh umat-Nya berarti bahwa tugas pelayanan dan pemberitaan Injil bukan hanya beban pendeta atau pemimpin gereja, tetapi tanggung jawab setiap orang yang menerima Roh Kudus. Baik laki-laki maupun perempuan dipanggil untuk bernubuat dan melayani. Gereja yang melarang perempuan memimpin bertentangan dengan kehendak Tuhan, sebab Roh Kudus sendiri memberikan karunia pelayanan kepada siapa saja yang Dia kehendaki . Kor. 12:7-. Yesus pun menghormati peran perempuan dalam pelayanan-Nya, menjadikan mereka saksi pertama kebangkitan (Luk. 24:9-. dan memberi mereka posisi penting dalam gereja mula-mula, seperti Febe yang disebut sebagai diakonos atau pemimpin jemaat (Rom. 16:1-. Jika Yesus dan gereja mula-mula tidak membatasi perempuan, mengapa gereja masa kini justru menghalangi mereka? Amanat Agung dalam Matius 28:19-20 diberikan kepada semua murid, tanpa pengecualian gender. Membatasi perempuan dalam kepemimpinan bukan hanya bertentangan dengan Alkitab, tetapi juga menolak karya Roh Kudus. Gereja seharusnya tidak mempertahankan budaya patriarki yang menghambat pelayanan, melainkan membuka jalan bagi semua orang yang dipanggil Tuhan, baik laki-laki maupun Jika gereja benar-benar mengikuti kehendak Tuhan, maka mereka harus menghormati panggilan dan karunia perempuan dalam pelayanan, bukan membatasinya atas dasar tradisi manusia. Pencurahan Roh Kudus juga membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengalami kedekatan yang lebih intim dengan Allah. Roh Kudus bukan hanya hadir sebagai kekuatan untuk pekerjaan eksternal, tetapi juga sebagai penghibur, pemandu, dan penyempurna dalam kehidupan pribadi orang percaya. Ini menggarisbawahi bahwa setiap Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Februari 2025 Dari Eksklusifitas ke Inklusifitas: Pergeseran Pencurahan Roh dari PL ke PB Berdasarkan Yoel 2:28-29 orang Kristen, baik muda maupun tua, laki-laki atau perempuan, penatua ataupun jemaat, kaya atau miskin dapat memiliki pengalaman rohani yang mendalam dan pribadi dengan Tuhan. Dengan demikian, pencurahan Roh Kudus seharusnya mengubah cara pandang kita tentang misi, yang bukan hanya untuk orang Kristen atau kelompok tertentu, tetapi bagi semua orang tanpa terkecuali. Setiap orang dipanggil untuk menerima dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia, sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Gereja tidak boleh hanya berfokus pada komunitasnya sendiri, tetapi harus aktif menjangkau mereka yang belum mendengar kabar keselamatan. Selain itu, misi harus dilakukan tanpa diskriminasi berdasarkan etnis, budaya, atau status sosial, karena di dalam Kristus semua orang sama berharganya. Misi gereja harus inklusif dan melampaui batas-batas tradisional, agar setiap orang memiliki kesempatan untuk mengenal dan mengalami kasih Tuhan. Kesimpulan Pencurahan Roh Kudus dalam Yoel 2:28-29 menandakan pergeseran paradigma yang besar dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Dari segelintir orang yang dipilih untuk tugas khusus, kepada semua orang, tanpa memandang status, gender, atau usia. Berdasarkan frasa kol basar yang berarti semua namun pada batasan tertentu dan pada penggenapannya pada masa Pentakosta dalam Perjanjian Baru maka pencurahan Roh yang dimaksudkan oleh Yoel 2: 28-29 ini ialah pencurahan Roh yang inklusif yang berarti tidak hanya pada pribadi tertentu namun kepada semua orang namun bukan berarti kepada semua orang tanpa terkecuali tetapi semua dalam batasan tertentu yaitu bagi semua orang yang percaya saja. Semua orang dapat berpartisipasi dalam pekerjaan Allah melalui Roh Kudus yang dicurahkan, dan karunia kenabian serta pelayanan menjadi terbuka bagi setiap individu. Pencurahan Roh Kudus bukan hanya tanda perubahan zaman, tetapi juga penggenapan janji Allah yang menjadikan semua umat-Nya sebagai saluran untuk pekerjaan-Nya di dunia. Daftar Pustaka