HUBUNGAN HYPERTENSION KNOWLEDGE TERHADAP SELF MANAGEMENT PASIEN DENGAN HIPERTENSI GRADE II DI PUSKESMAS MAKROMAN Heni Sintyawati1. Yullia Sukawaty1. Rusdiati Helmidanora1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda Email: sukawatyyullia@gmail. ABSTARCT High blood pressure or hypertension is a chronic disease that rarely shows Around the world hypertension is a big and serious problem. It is necessary to give advice to patients with grade 2 hypertension to comply with the recommended According to several studies, it is said that knowledge will affect patient selfmanagement. Therefore, self-management programs should be developed for patients with chronic disease. This study uses a non-experimental quantitative research method which was carried out in a cross sectional manner with analytical descriptive analysis. Data were collected directly from respondents by filling out two questionnaires related to hypertention knowledge and self management. The object of this study is the knowledge of hypertension patients and patient compliance in taking antihypertension The samples in this study were hypertension patients at the PuskesmasMakroman aged 20-70 years, male and female, patients who had a doctor's diagnosis of hypertension. BPJS participant patients who had received education from PROLANIS who were willing to become research respondents. The data analysis used in this research is descriptive analysis method. In this study, 80 samples were obtained. Spearman rank test was conducted between hypertension knowledge and self The test results in this study show that there is no significant relationship between hypertension knowledge and hypertension self-management. Keywords :hypertension knowledge, self management. PuskesmasMakroman PENDAHULUAN Tekanan hipertensi merupakan suatu penyakit kronik yang jarang menunjukan gejalanya. Seseorang di diagnose hipertensi grade II jika tekanan darah sistolik Ou160 mmHg dan tekanan diastolic >100 mmHg setelah pemeriksaan berulang. Diseruluh dunia, hipertensi merupakan masalah yang besar dan serius. Disamping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di masa yang akandatang, juga karena tingkat keganasan penyakit yang diakibatkan sangat tinggi seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal dan lain-lain, juga menimbulkan kecacatan permanen dan kematian mendadak. Kehadiran hipertensi sangat membebani perekonomian keluarga, karena biaya pengobatan yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup. Menurut World Health Organisation pada tahun 2018 diseluruh dunia sekitar 40% dari orang dewasa yang berusia 25 tahun keatas telah didiagnosa hipertensi dengan prevalensi yang meningkat dari 600 juta pada tahun 1980 menjadi 1 miliyar pada tahun 2008. Prevalensi hipertensi tertinggi terjadi di wilayah Afrika sebesar 46% sedangkan prevalnsi terendah terjadi di Amerika sebesar 35%. Perlu pemberian saran pada penderit ahipertensi agar patuh terh adap pengobatan dan anjuran yang diberikan dokter untuk mencegah adanya resiko yang dapat dialami pasien. Menurut menyatakan bahwa pengetahuan sangat memodifikasi gaya hidup. Pemberian edukasi kepada pasien dapat meningkatkan pengetahuan, sehingga pasien dapat melakukan modifikasi gaya hidup dengan baik. Pemberian edukasi mengenai hipertensi juga terbukti efektif dalam anhipertensi. Tingkat pengetahuan serta pemahaman pasien hipertensi dapat menunjang keberhasilan dalam terapi sehingga tekanan darah pasien dapat terkontrol dengan baik. Jika pasien memahami penyakitnya maka pasien akan semakin perduli dalam menjaga pola hidup, teratur minum obat, dan tingkat kepatuhan pasien juga akan semakin meningkat. Dari hasil studi pendahuluan yang Puskemas Makroman pada tanggal 25 Oktober 2018, jumlah pasien hipertensi dalam tiga bulan terakhir meliputi bulan Juli. Agustus dan September sebanyak 113 orang yang terdiagnosis hipertensi. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik ingin melakukan penelitian yang berjudul Hubungan Hypertension Terhadap self management Pasien Dengan Hipertensi Grade 2 di Puskesmas Makroman. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental yang dilakukan secara cross sectional dengan analisa secara deskriptif analitik. Objek pada penelitian ini adalah pengetahuan pasien hipertensi serta kepatuhan pasien dalam konsumsi obat Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. peneliti memilih responden sesuai dengan tujuan yang sudah Slovin mendapat besar sampel minimal. Analisi Data Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dan alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner. Pada penelitian ini dilakukan analisis korelasi menggunakan korelasi spearman rank untuk mengetahui hubungan dari kedua variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Demografi Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah pasien hipertensi grade 2 dengan tekanan darah sistolik Ou 160 mmHg dan tekanan diastolik Ou 100 mmHg. Usia dewasa yakni 20 samapi 79 tahun peserta BPJS yang telah menerima edukasi dari PROLANIS dan Posyandu Lansia yang mengkonsumsi obat antihipertensi. Pada penelitian ini diperoleh 80 sampel. Data demografi pasien dalam penelitian ini adalah usia pasien, jenis kelamin, dan Hasil selengkapnya mengenai distribusi data demografi pasien dapat dilihat di bawah ini: Dalam penelitian ini pembagian kategori usia mengacu pada Riskedas tahun Usia termuda pada penelitian ini adalah 35 tahun dan usia tertua adalah 74 Tabel 1. Distribusi Pasien BerdasarkanUsia No. KategoriUs Jumlah Persentase ia . (%) 35 Ae 44 45 Ae 54 55 Ae 64 65 Ae 74 Jumlah Dapat dilihat dari tabel diatas, dari hasil penelitian didapatkan pasien dengan rentang usia 35-44 tahun 6% . , 45-54 tahun 38% . , 55-64 tahun 45% . , dan 65-74 tahun 11% . Ketika tekanan darah meningkat terjadi perubahan alami pada jantung dan berkurangnya elastistis arteri, sehingga insedensi hipertensi lebih tinggi terjadi pada usia lanjut. Dalam penelitian ini tidak dilakukan analisis antara usia terhadap pengetahuan terkait hipertensi karena jumlah sebaran data yang tidak homogeny dengan jumlah di setiap rentan usia yang berbeda-beda. Tabel 2. Distribusi Jenis Kelamin Pasien Penderita Hipertensi No. Kategori Jumlah Persentase Jenis . (%) Kelamin Perempuan Laki Ae laki Jumlah Dari hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan lebih banyak mengalami hipertensi yaitu 51 orang . %) dari pada laki-laki yaitu 29 orang . %). Sampai usia 55 tahun, laki-laki lebih beresiko terkena hipertensi dibandingkan perempuan, tetapi diatas usia tersebut perempuan yang berpeluang lebih besar terkena hipertensi. Usia di bawah 55 tahun pada wanita yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormone estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) dan setelah memasuki menopause, pravelensi hipertensi pada wanita meningkat. Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal. Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan yang menyebabkan peningkatan pelepasan renin, sehingga dapat memicu peningkatan tekanan darah. Tabel 3. Distribusi Pekerjaan Pasien Penderita Hipertensi No. Kategori Jumlah Persentase Pekerjaan (Oran. (%) IRT (Ibu Rumah Tangg. Petani Wiraswasta PNS Jumlah Pada hasil diatas menunjukan bahwa tingkat hipertensi lebih tinggi terjadi pada ibu rumah tangga yaitu sebanyak 38 orang . %). Hal ini bisa terjadi karena pengaruh psikologi terhadap lingkungan pekerjaan. Pengaruh psikolgi yang dialami dapat berupa kejadiaan stress. Hal ini sejalan dengan teori yang menyakatan bahwa strees dapat meningkatkan pembuluh darah parifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis . Faktor lain yang dapat meningkatkan tekanan darah ialah aktivitas, pada orang yang sering melakukan aktivitas akan cenderung empunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantung akan memompamakan makin besarte kanan yang dibebankan pada arteri. Uji Validasi dan Reliabilitas Kuesioner Hasil validasi yang menunjukan bahwa seluruh instrument penelitian yang memiliki nilai koefisien validasi lebih besar dari nilai r kritis 0. 220, sehingga dapat disimpulkan seluruh instrument valid dan didapatkan nilai CronbachAos Alpha dari kuesioner knowledge 0. 627 (Ou0,. dan dari kuesioner self management 0. 976 (Ou0,. maka kuesioner dinyatakan reliable. Hipertension Knowledge Questionnaire Hasil Hypertensi Knowledge Questionnaire dari 80 sampel penelitian pasien hipertensi grade 2 di kelompokan kedalam kategori dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Frekuensi Tingkat Pengetahuan Pasien Berdasarkan Kategori Baik Cukup Kurang Total (> 8,. (> 6,. (< 6,. Frekuensi Dari hasil skor pengisian kuesioner pengetahuan baik terdapat 66 orang, cukup 14 orang, dan kurang tidak ada. Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pasien hipertensi di puskesmas Makroman cukup Hypertension Self Management Questionnaire Hasil Hyepertension Self Management Questionnaire dari 80 sampel penelitian hipertensi grade 2 di kelompokan kedalam kategori dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Frekuensi Tingkat Self Management Pasien Berdasarkan Kategori Baik Cukup Kurang (> 8,. (> 6,. (< 6,. Frekuensi Dari hasil penilaian tingkat self management terdapat 40 orang dengan self management yang baik, cukup 23 orang, dankurang 17 orang. Uji Statistik Korelasi Spearman Rank Tabel 6. Hasil Uji Statistik Korelasi Spearman Rank Sig. () Keputusan Kesimpulan Tidak Dalam penelitian ini dilakukan uji korelasi spearman rank untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara hypertension kwoledge dengan self management pasien. Dari hasil penelitian didapatkan hasil signifikansi atau sig. -taille. sebesar 0,199 >0,05. Hal menyatakanbahwa H0 diterima sehingga dapat diartikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variable hypertension knowledge dengan self Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara . Pada pasien yang sudah lanjut usia mengontrol dirinya sendiri dan atau kurangnya perhatian keluarga terhadap pasien sehingga tidak dapat rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah dan saat mengkonsumsi obat antihipertensi. Semakin lama pasien menderita hipertensi makatingkat kepatuhannya makin rendah. Total hal ini disebabkan kebanyakan pasien akan merasa jenuh menjalani pengobatan sedangkan tingkat kesembuhan yang telah dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat beberapa alasan terjadinya ketidakpuasan pasien ketika pasien memeriksan tekanan darahnya kefasilitas kesehatan, yaitu interaksi antara petugas pelayanan kesehatan dengan pasien kurang baik, interaksi yang terlalu singkat, terlalu bersikap formal, dan terlalu mengontrol Komunikasi pelayanan Kesehatan dengan pasien merupakan salah satu sumber informasi khususnya untuk mengetahui tentang kondisi penyakit yang sedang dideritanya. Perilaku Self Management diupayakan dengan meningkatkan kontrol dari petugas Kesehatan professional. Perilaku self management dapat di pertahankandengan meningkatkan kontrol dari petugas Kesehatan professional. Program konsultasi dapat di dijadikan sebagai upaya strategi suntuk mencapai perilaku self management yang efektif. Pada program konsultasi yang dilakukan pada pasien diharapkan pasien dapat mengungkapkan berbagai keluhan atau hambatan-hambatan dalam pelaksanaan perilaku self management dengan lebih Program konseling yang efektif untuk mengubah perilaku pasien dapat dilakukan dengan memberikan motivasi pada pasien dan menggali kebutuhan pasien dalam memecahkan permasalahan yang Kemampuan ketrampilan komunikasi petugas kesehatan terhadap pasien memiliki peran penting dalam memfasilitasi perubahan perilaku . PENUTUP Simpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak adanya hubungan yang signifikan antara hypertension knowledge dengan self management pasien. Pengetahuan yang baik saja tidak cukup untuk pasien dapat mengubah self management pasien. Beberapa pasien merasa jenuh untuk mengkonsumsi obatanti hipertensi secara terus menerus dengan hasil yang tidak sesuai harapan pasien. Dukungan dari keluarga, teman atau tetangga dapat membantu pasien lebih patuh minum obat dan mengatur self management yang baik. Kemampuan komunikasi petugas pelayanan Kesehatan juga merupakan faktor yang penting pada pasien hipertensi. DAFTAR PUSTAKA