Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Exploring the Effectiveness of Inquiry-Based Learning in Enhancing SKI (Sejarah Kebudayaan Isla. Understanding at MTs Nurul Jadid Muhammad Baitul Ilmi1. Siti Sarniati Ahmad2 1 MTs Nurul Jadid 2 MIS Al-Ihsan Leuburi Correspondence: nurilmuhammad099@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. Inquiry-Based Learning. SKI. Islamic History. MTs Nurul Jadid. Student Engagement. Critical Thinking. Teaching Strategies ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) investigates the implementation of the Inquiry-Based Learning model to enhance students' understanding of SKI (Sejarah Kebudayaan Isla. at MTs Nurul Jadid. SKI, which focuses on the history and culture of Islam, is often perceived as a challenging subject for students to grasp due to its abstract concepts and historical The Inquiry-Based Learning model, which emphasizes studentcentered exploration, critical thinking, and problem-solving, was chosen as an approach to engage students in a deeper understanding of Islamic history and culture. The research was conducted over two cycles, with each cycle consisting of planning, action, observation, and reflection. A total of 25 students from class Vi participated in the study. Data were collected through observations, student assessments, and interviews with both students and teachers to assess the effectiveness of the approach. The first cycle focused on introducing the model and engaging students in basic inquiries about Islamic history, while the second cycle refined the approach based on the feedback from the first cycle. The findings indicate that the Inquiry-Based Learning model significantly improved students' understanding of SKI. Students became more engaged and motivated in the learning process, demonstrated enhanced critical thinking skills, and showed better retention of historical content. Furthermore, the model allowed students to connect historical events with their real-life experiences, making the subject more relevant and interesting. This study suggests that the Inquiry-Based Learning model can be an effective approach for teaching SKI, as it not only enhances cognitive understanding but also promotes active learning and student involvement. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) merupakan salah satu mata pelajaran penting dalam pendidikan agama Islam yang diajarkan di tingkat madrasah. Di MTs Nurul Jadid. SKI bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai perjalanan sejarah dan perkembangan kebudayaan Islam. Namun, meskipun SKI merupakan mata pelajaran yang kaya akan nilai sejarah dan budaya, banyak siswa yang menghadapi kesulitan dalam memahami dan mengaitkan materi dengan kehidupan mereka. Hal ini disebabkan oleh sifat materi yang lebih bersifat teoritis dan kurang menarik bagi siswa jika tidak disampaikan dengan pendekatan yang relevan dan kontekstual (Budi, 2. Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran SKI adalah cara penyampaian materi yang cenderung monoton dan tidak memfasilitasi keterlibatan aktif siswa. Banyak pengajaran SKI yang berfokus pada hafalan fakta sejarah tanpa memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi lebih dalam atau mengembangkan keterampilan berpikir kritis (Sari, 2. Selain itu, model pembelajaran tradisional yang lebih berorientasi pada ceramah membuat Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 siswa kurang tertarik dan merasa pelajaran SKI sebagai beban. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap SKI (Junaidi, 2. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa adalah Model Pembelajaran Inkuiri. Model ini menekankan pentingnya proses bertanya, mencari jawaban, dan menemukan informasi melalui eksplorasi dan penyelidikan. Dengan menggunakan pendekatan ini, siswa diberdayakan untuk aktif terlibat dalam pembelajaran dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Mereka tidak hanya diberi informasi, tetapi juga didorong untuk menggali informasi secara mandiri dan berpikir kritis dalam menghubungkan fakta sejarah dengan konteks kehidupan mereka (Rahman, 2. Dalam konteks SKI, penerapan Model Pembelajaran Inkuiri memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam menggali berbagai aspek sejarah dan kebudayaan Islam. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami fakta sejarah, tetapi juga dapat mengaitkan peristiwa-peristiwa sejarah dengan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Muslim hingga saat ini. Hal ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk melihat relevansi materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermanfaat (Fatimah, 2. Melalui model inkuiri, siswa dapat dilibatkan dalam aktivitas yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, seperti menganalisis sumber sejarah, berdiskusi, dan merumuskan pertanyaan serta jawaban atas fenomena sejarah yang mereka pelajari. Dengan cara ini. SKI tidak hanya menjadi pelajaran yang dipenuhi dengan hafalan, tetapi juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang berguna dalam kehidupan mereka (Sulastri. Proses belajar yang interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap SKI serta memperkuat karakter mereka sebagai individu yang kritis dan reflektif. Selain itu, penerapan model pembelajaran inkuiri juga mendorong kolaborasi antara siswa. Dalam kegiatan diskusi kelompok, siswa dapat berbagi pengetahuan, ide, dan perspektif mereka mengenai topik yang sedang dipelajari. Diskusi ini tidak hanya memperkaya wawasan siswa, tetapi juga membantu mereka dalam membangun keterampilan sosial dan kemampuan bekerja sama. Hal ini menjadi aspek penting dalam pembelajaran SKI, mengingat sejarah kebudayaan Islam tidak dapat dipahami hanya dari satu perspektif, melainkan melalui berbagai sudut pandang yang saling melengkapi (Sukmawati, 2. Siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran inkuiri juga lebih mudah mengembangkan rasa ingin tahu dan rasa tanggung jawab terhadap proses belajar mereka. Ketika siswa diberi kebebasan untuk mencari tahu dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan, mereka merasa lebih bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan tradisional yang cenderung membuat siswa bergantung sepenuhnya pada penjelasan guru (Zahra, 2. Pembelajaran yang berbasis pada pencarian dan penemuan ini memberikan dampak positif terhadap sikap dan motivasi belajar siswa. Namun, meskipun Model Pembelajaran Inkuiri memiliki banyak potensi, penerapannya di sekolah-sekolah madrasah masih menghadapi beberapa hambatan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan waktu yang tersedia untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif dan mendalam. Dalam banyak kasus, pembelajaran SKI seringkali terhambat oleh jadwal yang padat dan keterbatasan jam pelajaran, yang membuat guru sulit untuk menerapkan pendekatan yang lebih berbasis siswa (Mulyani, 2. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan yang matang untuk mengoptimalkan waktu yang tersedia. Selain itu, beberapa guru masih merasa kesulitan dalam mengimplementasikan Model Pembelajaran Inkuiri secara efektif. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang cara mengelola pembelajaran berbasis inkuiri, atau kurangnya pengalaman dalam menciptakan suasana yang mendukung eksplorasi dan diskusi siswa (Indah, 2. Oleh karena Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 itu, pelatihan dan pendampingan bagi guru menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan keberhasilan penerapan model ini di kelas. Keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan dalam menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri. Di beberapa sekolah, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas, fasilitas untuk mendukung pembelajaran inkuiri seperti akses ke teknologi, perpustakaan yang lengkap, dan ruang diskusi yang nyaman masih sangat terbatas. Meskipun demikian, guru tetap dapat mengatasi hambatan ini dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti menggunakan materi dari buku teks, diskusi kelompok, dan sumber daya alam sekitar (Taufik, 2. Namun, meskipun terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya, penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap SKI di MTs Nurul Jadid. Dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran yang berbasis pada eksplorasi dan pencarian informasi, diharapkan mereka akan lebih memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Islam dalam kehidupan mereka (Mujahid, 2. Selain itu, diharapkan pembelajaran SKI dapat menjadi lebih menarik dan relevan bagi siswa. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam pengembangan metode pembelajaran di MTs Nurul Jadid. Dengan menerapkan Model Pembelajaran Inkuiri, diharapkan tidak hanya peningkatan pemahaman siswa terhadap SKI yang tercapai, tetapi juga pengembangan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan keterampilan sosial yang sangat penting bagi perkembangan karakter siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang holistik, yang tidak hanya mengedepankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik (Budi, 2. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Di sisi lain, hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan pembelajaran di masa depan, baik untuk guru maupun pihak sekolah, guna menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif dan menarik. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI melalui penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di MTs Nurul Jadid. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk merancang dan melaksanakan tindakan yang dapat langsung diterapkan di kelas, serta memberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan melalui siklus-siklus refleksi dan evaluasi (Rahman, 2. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Vi MTs Nurul Jadid yang berjumlah 30 orang. Pemilihan kelas Vi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa siswa pada tingkat ini telah memiliki dasar pengetahuan yang cukup mengenai sejarah Islam dan kebudayaan Islam, namun masih memerlukan pendekatan yang lebih aktif dan kontekstual agar dapat memahami materi dengan lebih mendalam (Fatimah, 2. Selain itu, guru pengampu SKI juga terlibat dalam penelitian ini sebagai fasilitator yang mendukung dan memandu siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa teknik, yaitu observasi, wawancara, dan tes. Observasi dilakukan untuk mengamati keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan untuk menilai apakah model inkuiri mampu meningkatkan minat dan partisipasi mereka. Wawancara dilakukan dengan siswa dan guru untuk mengetahui pandangan mereka mengenai penerapan model ini, serta untuk menggali kesulitan yang mereka hadapi dalam proses belajar Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 mengajar (Sulastri, 2. Selain itu, tes dilaksanakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi SKI sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran inkuiri. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan soal tes. Lembar observasi digunakan untuk mencatat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti tingkat partisipasi mereka dalam diskusi, kemampuan mengajukan pertanyaan, dan kemampuan mereka dalam menghubungkan konsep sejarah dengan konteks kehidupan mereka. Pedoman wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran lebih dalam mengenai pengalaman dan pandangan siswa serta guru terkait proses pembelajaran yang sedang diterapkan. Sementara itu, soal tes digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi SKI setelah penerapan model inkuiri (Budi, 2. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil observasi, wawancara, dan tes akan dianalisis untuk melihat perkembangan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap SKI. Selain itu, analisis ini juga akan menilai efektivitas penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Setiap siklus akan dievaluasi, dan hasilnya akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di MTs Nurul Jadid menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Sebelumnya, siswa cenderung pasif dan lebih bergantung pada informasi yang diberikan oleh guru. Namun, setelah penerapan model ini, siswa mulai lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan terlibat dalam pencarian informasi mengenai materi yang diajarkan. Mereka tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga diajak untuk menghubungkan kejadian-kejadian sejarah dengan kehidupan sehari-hari mereka (Budi, 2. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap mata pelajaran SKI. Salah satu temuan penting pada siklus pertama adalah meningkatnya rasa ingin tahu siswa. Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis yang berkaitan dengan materi sejarah Islam, seperti "Mengapa peristiwa-peristiwa tersebut terjadi?" dan "Apa dampaknya terhadap perkembangan Islam di dunia?" Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa siswa mulai berpikir lebih kritis dan ingin memahami lebih dalam mengenai peristiwa sejarah yang mereka pelajari (Sari, 2. Proses pembelajaran yang berbasis pertanyaan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir analitis dan reflektif. Namun, meskipun ada peningkatan dalam keterlibatan siswa, tantangan yang muncul adalah adanya beberapa siswa yang kesulitan dalam menemukan informasi yang relevan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Beberapa siswa tidak tahu bagaimana cara mengakses sumber yang tepat atau tidak memiliki keterampilan dalam menganalisis sumber-sumber sejarah yang Hal ini menunjukkan bahwa meskipun model inkuiri memberikan kebebasan dalam proses pembelajaran, masih ada kebutuhan untuk melatih keterampilan siswa dalam mencari dan mengevaluasi informasi (Junaidi, 2. Pada siklus kedua, guru melakukan beberapa perbaikan untuk mengatasi tantangan tersebut. Guru memperkenalkan berbagai sumber belajar, seperti buku, artikel, dan materi online yang relevan dengan topik pembelajaran. Selain itu, guru juga memberikan panduan lebih rinci mengenai cara menganalisis sumber-sumber sejarah, seperti bagaimana cara mengevaluasi keabsahan dan relevansi informasi. Langkah ini terbukti efektif dalam membantu siswa memperoleh informasi yang lebih akurat dan relevan, serta meningkatkan kualitas diskusi dalam kelas (Rahman, 2. Dengan tambahan sumber daya ini, siswa semakin percaya diri dalam mengajukan pertanyaan dan mencari jawaban atas masalah yang mereka temui. Selama siklus kedua, peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa semakin jelas terlihat. Mereka mulai tidak hanya sekadar mencari jawaban, tetapi juga mengkaji berbagai sudut Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pandang tentang peristiwa sejarah yang mereka pelajari. Misalnya, ketika membahas mengenai penyebaran Islam di berbagai belahan dunia, siswa tidak hanya fokus pada kronologi peristiwa, tetapi juga menganalisis pengaruh budaya lokal terhadap cara Islam diterima dan berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri memungkinkan siswa untuk berpikir lebih mendalam dan mengaitkan pengetahuan dengan konteks sosial dan budaya yang lebih luas (Fatimah, 2. Selain itu, hasil observasi pada siklus kedua menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok semakin intensif. Siswa merasa lebih nyaman untuk berbagi pendapat dan saling bertukar informasi dengan teman-temannya. Proses kolaborasi ini sangat penting dalam pembelajaran inkuiri karena membantu siswa untuk saling belajar dan mengembangkan keterampilan komunikasi serta argumentasi. Diskusi kelompok ini juga mendorong siswa untuk berpikir lebih terbuka dan menghargai perbedaan pendapat, yang merupakan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari (Sulastri, 2. Di sisi lain, meskipun ada kemajuan signifikan, beberapa siswa masih merasa kesulitan dalam mengorganisir ide dan informasi yang mereka peroleh dari berbagai sumber. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun mereka telah dapat mengakses informasi, tantangan selanjutnya adalah bagaimana mereka bisa menyusun informasi tersebut secara sistematis dan Oleh karena itu, pada siklus kedua, guru juga memberikan latihan khusus dalam mengorganisir ide dan menulis laporan yang sistematis sebagai bagian dari proses pembelajaran inkuiri (Sukmawati, 2. Salah satu aspek penting yang ditemukan pada siklus kedua adalah meningkatnya rasa percaya diri siswa. Siswa yang sebelumnya ragu untuk menyampaikan pendapat kini lebih berani untuk berbicara di depan kelas dan mengemukakan argumen mereka. Mereka merasa lebih dihargai karena pendapat dan pertanyaan mereka didengarkan oleh teman-teman dan guru. Peningkatan rasa percaya diri ini sangat penting karena dapat mendorong siswa untuk terus belajar dan berusaha mencari pengetahuan lebih lanjut secara mandiri (Zahra, 2. Selain itu, penerapan Model Pembelajaran Inkuiri juga memberi dampak positif terhadap kemampuan siswa dalam bekerja sama. Dalam tugas kelompok, siswa belajar untuk saling mendengarkan, menghargai pendapat orang lain, serta bekerja sama dalam mencari solusi untuk masalah yang diberikan. Kemampuan ini sangat penting dalam pembelajaran SKI karena membantu siswa untuk memahami bahwa sejarah dan kebudayaan Islam tidak hanya dilihat dari satu perspektif, tetapi harus dilihat melalui berbagai sudut pandang yang saling melengkapi (Taufik, 2. Pada siklus kedua, hasil tes juga menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi SKI. Sebagian besar siswa mampu menjawab soal tes dengan baik, terutama yang berkaitan dengan analisis sejarah dan pengaruhnya terhadap perkembangan kebudayaan Islam. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa Model Pembelajaran Inkuiri tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membantu mereka dalam memahami konsepkonsep yang lebih kompleks dalam SKI (Indah, 2. Namun, ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam menghubungkan fakta sejarah dengan relevansi sosial dan budaya saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun model inkuiri membantu dalam memahami materi secara mendalam, masih perlu adanya penyesuaian dalam cara pengajaran untuk memastikan bahwa semua siswa dapat mengaitkan pengetahuan sejarah dengan konteks yang lebih luas (Mulyani, 2. Hal ini menjadi bahan refleksi bagi guru untuk terus mengembangkan metode pengajaran yang lebih efektif. Secara keseluruhan, penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di MTs Nurul Jadid terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap SKI dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis mereka. Pembelajaran yang berbasis pada eksplorasi dan pencarian informasi ini memungkinkan siswa untuk tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga untuk berpikir secara mendalam dan kritis tentang relevansi peristiwa sejarah dalam kehidupan mereka. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Model ini juga berhasil meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, baik secara individu maupun dalam diskusi kelompok (Mujahid, 2. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Inkuiri dapat menjadi alternatif yang efektif dalam pembelajaran SKI, khususnya di tingkat madrasah. Meskipun ada tantangan dalam implementasinya, seperti keterbatasan waktu dan variasi tingkat kemampuan siswa, penerapan model ini secara bertahap dapat memberikan dampak yang positif terhadap kualitas pembelajaran dan pemahaman siswa (Budi, 2. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan dan menyesuaikan metode pembelajaran agar dapat memenuhi kebutuhan siswa yang beragam. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian ini, penerapan Model Pembelajaran Inkuiri di MTs Nurul Jadid terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI (Sejarah Kebudayaan Isla. Selama dua siklus pelaksanaan, terlihat adanya perubahan signifikan dalam cara siswa mendalami materi SKI. Sebelumnya, siswa cenderung pasif dan lebih mengandalkan informasi yang diberikan oleh guru. Namun, dengan penerapan model inkuiri, siswa menjadi lebih aktif, terlibat dalam diskusi, dan mulai mengajukan pertanyaanpertanyaan kritis yang membantu mereka menggali informasi lebih dalam tentang topik yang sedang dipelajari. Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah peningkatan rasa ingin tahu siswa. Model pembelajaran inkuiri memungkinkan siswa untuk bertanya, mencari jawaban, dan memproses informasi dengan cara yang lebih aktif dan kritis. Siswa tidak hanya diajarkan untuk mengingat fakta-fakta sejarah, tetapi juga diajak untuk mengaitkan peristiwa-peristiwa sejarah dengan kehidupan nyata mereka, sehingga mereka dapat memahami relevansi sejarah tersebut dengan lebih baik. Pembelajaran yang berbasis pada pertanyaan dan pencarian ini mendorong siswa untuk berpikir secara mendalam dan berpikir kritis tentang materi yang diajarkan. Meskipun ada tantangan, terutama dalam hal keterampilan mencari dan mengevaluasi informasi, perbaikan yang dilakukan pada siklus kedua menunjukkan bahwa pemberian sumber daya tambahan dan panduan lebih rinci dalam mencari informasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru juga memberikan dukungan yang lebih besar dalam mengarahkan siswa untuk menganalisis sumber-sumber sejarah, serta cara mengorganisir dan menyusun informasi dengan baik. Hal ini membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan analitis dan sintesis yang sangat berguna dalam memahami materi SKI secara mendalam. Peningkatan keterlibatan siswa dalam diskusi kelompok juga merupakan temuan penting. Siswa yang sebelumnya enggan berbicara kini menjadi lebih aktif dalam menyampaikan pendapat mereka. Diskusi kelompok memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi ide dan mempertajam pemahaman mereka terhadap topik yang dipelajari. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pemahaman mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah bersama. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri tidak hanya memperhatikan aspek kognitif, tetapi juga keterampilan sosial yang sangat penting dalam pendidikan. Selain itu, hasil tes yang menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap materi SKI juga mengindikasikan bahwa model pembelajaran inkuiri memberikan dampak yang positif terhadap kualitas pembelajaran. Tes yang dilakukan pada siklus kedua menunjukkan bahwa siswa lebih mampu menjawab soal dengan baik, khususnya yang berkaitan dengan analisis dan penghubungan antara fakta sejarah dengan konteks sosial budaya. Peningkatan ini membuktikan bahwa pembelajaran yang mengedepankan pencarian dan refleksi dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih mendalam dan bermakna. Meskipun demikian, beberapa siswa masih menunjukkan kesulitan dalam menghubungkan peristiwa sejarah dengan relevansi kehidupan mereka saat ini. Oleh karena itu, meskipun Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 penerapan model inkuiri berhasil, diperlukan perbaikan lebih lanjut untuk memastikan semua siswa dapat mengaitkan pelajaran dengan konteks kehidupan mereka. Pendekatan yang lebih bervariasi dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa perlu diterapkan agar model inkuiri bisa lebih optimal. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Inkuiri dapat menjadi metode yang sangat efektif dalam mengajarkan SKI. Model ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan kolaborasi, dan rasa ingin tahu mereka. Dengan penerapan yang tepat, model ini dapat membantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik, aktif, dan bermakna bagi siswa, serta memberikan kontribusi positif dalam proses pembelajaran di MTs Nurul Jadid. REFERENCES