Jurnal Bina Akuntansi Volume 12. Number 01. Januari 2025 pp. ISSN: 2338-113 E-ISSN : 2656-951 Open Access: https://wiyatamandala. e-journal. id/JBA Determinasi Financial Distress Dalam Perbankan: Analisis Kepemilikan Manajerial. Profitabilitas Dan Leverage Yumna Bunga Ardiyanti1* Sri Layla Wahyu Istanti2 1,2 Universitas YPPI Rembang ABSTRAK Financial Distress timbul saat suatu perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban tanggungjawab keuangannya. Tujuan penelitian untuk menganalisis dampak kepemilikan manajerial, profitabilitas dan leverage terhadap financial distress pada tahun 2020-2022. Populasi penelitian terdiri dari semua perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2020-2022. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi. Kata Kunci: dengan teknik sampling yang dilakukan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini Financial Distress, melibatkan 13 perusahaan sebagai sampel, dengan total 39 observasi. Untuk menganalisis Kepemilikan Manajerial, data, digunakan teknik regresi linier berganda melalui aplikasi SPSS. Temuan studi ini Profitabilitas. Leverage menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap financial distress, sedangkan profitabilitas menunjukkan pengaruh Keywords: negatif yang tidak signifikan terhadap financial distress. Financial Distress. ABSTRACT Managerial Ownership. Profitability. Leverage Financial Distress arises when a company has difficulty fulfilling its financial obligations. The research objective is to analyze the impact of managerial ownership, profitability and DOI: leverage on financial distress in 2020-2022. The research population consists of all banking 52859/jba. institutions listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) during 2020-2022. Data collection was carried out through the documentation method, with the sampling technique carried out using purposive sampling. This research involved 13 companies as samples, with a total of 39 observations. To analyze the data, multiple linear regression techniques were used using the SPSS application. The findings of this research show that managerial ownership and leverage have a negative and significant effect on financial distress, while profitability shows an insignificant negative effect on financial distress. INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Pengajuan: 30-10-24 Revisi: 13-11-24 Penerimaan: 19-11-24 PENDAHULUAN Perekonomian Indonesia didorong sebagian besar sektor perbankan. Perbankan mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi melalui pemberian kredit. Bank Indonesia dan OJK (Otoritas Jasa Keuanga. yaitu lembaga yang bertanggungjawab untuk menjaga stabilitas keuangan dan melindungi kepentingan nasabah (Siregar, 2. Perbankan memainkan peran penting dalam menggerakkan aktivitas ekonomi dan menjaga stabilitas keuangan, seperti pembiayaan investasi, penyedia likuiditas, penghimpun dana, dan masih banyak lagi, bank memiliki dampak yang signifikan pada pertumbuhan ekonomi indonesia (Rohman, 2. Dunia perbankan, tidak selalu semua berjalan lancar. Terkadang, bank juga bisa mengalami masalah keuangan atau financial distress yang membuat bank beroperasi dalam kondisi yang kurang Suatu organisasi atau individu mengalami kondisi keuangan yang melemah dan tidak mampu memenuhi kewajiban keuangan, seperti membayar utang atau mengelola biaya operasional, disebut financial distress. Kondisi krisis keuangan disebabkan oleh kekurangan modal akibat penggunaan sumber daya modal yang tidak tepat, tabungan yang tidak mencukupi, dan pengelolaan kegiatan yang tidak efisien (Pangestu et al. Risiko kredit bank meningkat karena ada kemungkinan peminjam tidak akan mampu membayar kembali pinjaman yang dapat menyebabkan penurunan aset bank dan persaingan semakin ketat antar Selain itu, jika bank tidak dapat bersaing dengan perbankan lainnya, mereka juga akan mengalami kerugian keuangan yang cukup besar. Jika suatu perusahaan mengalami kerugian, hal tersebut juga akan merusak kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. Pada akhirnya, bisa mengalami kebangkrutan karena financial distress (Irawa & Suyanto, 2. * Penulis Korespondensi: Yumna Bunga Ardiyanti | yumnabunga12@gmail. Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 Faktor pertama yang berpengaruh pada financial distress adalah kepemilikan manajerial. Terkait porsi penguasaan ekuitas yang dimiliki pihak proses pengorganisasian dan pengendalian sumber daya Adanya penguasaan kepemilikan manajerial, pengawasan terhadap kebijakan yang diambil oleh manajemen menjadi lebih ketat (Oktantyo & Fidiana, 2. Peningkatan kepemilikan saham oleh manajemen dapat membantu menyelaraskan kepentingan manajemen sebagai pengelola aset perusahaan dengan pemegang saham, yaitu untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan (Ayem & Prabowo, 2. Faktor kedua yang berpengaruh pada financial distress adalah profitabilitas merupakan perbandingan yang diterapkan untuk mengevaluasi kapasitas entitas dalam menciptakan laba atau pendapatan selama jangka waktu tertentu (Irawa & Suyanto, 2. Kemampuan menghasilkan laba sangat penting bagi keberlangsungan perusahaan karena perolehan pendapatan digunakan ekspansi bisnis, pembayaran dividen, serta menarik investor baru. Profitabilitas ditaksir melalui Return on Assets (ROA), merupakan komparasi antara profit bersih dan total aset yang dikuasai oleh perusahaan (Detama & Laily, 2. Demi menjaga kelangsungan usahanya perusahaan dituntut untuk memikirkan bagaimana cara untuk lebih menaikkan profitabilitasnya, karena profitabilitas yang dimiliki perusahaan dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas yang nantinya dapat meningkatkan perkembangan perusahaan (Safitri & Muniroh, 2. Leverage adalah elemen ketiga yang berkontribusi terhadap kondisi financial distress. Leverage menunjukkan seberapa tergantung lembaga pada pihak yang menyediakan dana untuk membiayai pembelian aset perusahaan. Leverage yang besar menunjukkan perusahaan memiliki ketergantungan tinggi dari pinjaman pihak ketiga untuk membiayai asetnya (Marulitua, 2. Rinofah et al. , . mengatakan dengan menggunakan rasio leverage, manajer dapat memahami hubungan antara kewajiban perusahaan dan total modal asetnya. leverage menunjukkan seberapa banyak modal pribadi yang digunakan sebagai agunan untuk utang. Perusahaan perlu mengawasi rasio leverage dengan cermat untuk mencegah akumulasi utang yang berlebihan, yang dapat berujung pada risiko kebangkrutan saat jatuh tempo pembayaran (Candradevi & Alliyah, 2. Tujuan dari leverage adalah untuk menentukan entitas kemampuan untuk membayar utang permanen. Entitas yang mampu mengemban tanggung jawab untuk memenuhi kewajiban akan lebih baik dalam kinerjanya (Maulita & Dewi, 2. Mengingat pentingnya kondisi financial distress, hal ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan keuangan perusahaan di masa Alasan perusahaan perbankan menjadi pilihan yang menarik untuk dijadikan objek penelitian, karena perbankan menjadi salah satu lembaga pembiayaan yang memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Melalui restrukturisasi kredit atau pembukaan jalur kredit baru, peran perbankan sangat dibutuhkan untuk membantu bisnis di berbagai sektor yang mengalami tekanan (Luthfiana & Dewi, 2. Jika sektor perbankan mengalami kondisi financial distress maka akan mempengaruhi sektor ekonomi suatu negara. Adanya ketidak konsistenan pada penelitian sebelumnya dan perbedaan objek maka target dari kajian ini adalah untuk mengevaluasi lebih lanjut pengaruh yang ditimbulkan oleh kepemilikan manajerial, profitabilitas, dan leverage terhadap financial distress di perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama rentang waktu 2020 hingga 2022. TELAAH LITERATUR Signaling Theory Sudaryanti & Dinar, . menjelaskan bahwa teori sinyal didasari oleh keyakinan bahwa manajemen perusahaan atau pihak internal memiliki pengetahuan lebih komprehensif tentang kesehatan perusahaan daripada pihak eksternal. Teori tentang sinyal bertujuan memberikan informasi kepada manajemen dan investor tentang situasi keuangan perusahaan, baik itu dalam bentuk sinyal yang mengindikasikan hal positif maupun negatif (Maulidia & Asyik, 2. Sinyal dapat berupa data yang mengindikasikan perusahaan memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya, menyampaikan informasi mengenai kondisi yang lebih positif dari perusahaan lain (Masdiantini & Warasniasih, 2. Sinyal diinterpretasikan sebagai tanda atau pesan yang disampaikan oleh perusahaan, khususnya oleh manajer, kepada pihak eksternal seperti investor. Sinyal tersebut bisa beraneka ragam bentuknya, mulai dari yang Determinasi Financial Distress Dalam Perbankan: Analisis Kepemilikan Manajerial. Profitabilitas dan Leverage Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 dapat diamati secara langsung hingga yang memerlukan analisis mendalam untuk dipahami. Segala bentuk atau jenis sinyal yang disampaikan memiliki tujuan untuk menyampaikan pesan atau informasi tertentu, dengan keyakinan bahwa pasar atau pihak luar akan menyesuaikan penilaian terhadap entitas bisnis. Salah satu informasi yang dapat dikeluarkan perusahaan untuk memberikan sinyal adalah melalui laporan Investor dapat menggunakan laporan keuangan untuk menemukan informasi yang akurat dan relevan tentang kinerja dan kesehatan bisnis. Perusahaan akan memberikan sinyal melalui informasi tentang perkembangan dividen dan harga saham. Melalui laporan keuangan, pihak eksternal akan menjadikan kondisi keuangan sebagai sinyal untuk mengetahui tingkat kemungkinan financial distress (Muafiroh & Hidajat, 2. Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Financial Distress Kepemilikan manajerial terdiri dari ekuitas biasa yang dikuasai oleh anggota manajemen, berkontribusi langsung pada pengambilan keputusan (Darmiasih et al. , 2. Ketika terjadi kepemilikan manajerial tingkat pengawasan kebijakan yang akan diterapkan oleh manajemen menjadi lebih ketat. Apabila perusahaan mempunyai tingkat kepemilikan manajerial yang tinggi, risiko kesulitan keuangan akan Menurut teori signaling, kepemilikan manajerial yang tinggi, dianggap sebagai sinyal positif yang dapat memberikan informasi kepada pasar mengenai keyakinan manajer terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Pada penelitian Anjani & Taswan, . searah dengan kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan. Sedangkan pada penelitian Oktantyo & Fidiana, . menunjukan hasil yang berbeda yaitu kepemilikan manajerial menunjukkan dampak positif signifikan terhadap financial distress. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Financial Distress Hery, . menjabarkan rasio profitabilitas mengukur suatu organisasi menggunakan sumber daya untuk menghasilkan keuntungan atau laba. Keuntungan dari investasi angka penjualan suatu perusahaan berperan sebagai parameter yang dapat diterapkan untuk menganalisis prestasi manajerial (Nadziroh & Widodo, 2. Dalam teori signaling, tingkat profitabilitas yang tinggi dianggap sebagai sinyal positif bagi perusahaan, karena memiliki tingkat keuntungan yang besar membuat investor cenderung melihatnya sebagai peluang investasi yang baik. Penelitian oleh Anjani dan Taswan . mendukung bahwa profitabilitas menunjukkan dampak negatif signifikan terhadap kondisi financial distress. Sebaliknya, studi yang dilakukan oleh Oktantyo dan Fidiana . memperlihatkan hasil yang kontras, tingkat profitabilitas memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap kondisi financial distress. Pengaruh Leverage Terhadap Financial Distress. Jika mayoritas pendanaan perusahaan bersumber dari hutang, maka risiko financial distress perusahaan juga menjadi lebih tinggi. Leverage yang tinggi menunjukkan adanya peningkatan jumlah hutang, sehingga meningkatkan risiko kemungkinan gagal bayar. Perusahaan yang mengalami kondisi seperti itu dianggap memiliki kesehatan keuangan yang buruk dan rentan mengalami financial distress, sesuai dengan penjelasan (Antoniawati & Purwokohandoko, 2. Teori signaling menunjukkan bahwa tingginya tingkat leverage dalam suatu perusahaan membawa risiko yang meningkat, dapat dianggap sebagai sinyal negatif bagi investor untuk melakukan investasi karena meningkatkan risiko terjadinya financial distress. Pada Penelitian Antoniawati & Purwokohandoko, . mendukung bahwa pemanfaatan utang memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap keadaan financial distress. Di sisi lain, kajian Irawa & Suyanto, . mengindikasikan bahwa Leverage berpengaruh negatif secara signifikan terhadap keadaan financial Berdasarkan pengajuan hipotesis sehingga, kerangka pemikiran dari studi ini dapat diartikulasikan sebagai berikut: Gambar 1 Model Penelitian ISSN: 2338-113 E-ISSN : 2656-951 Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 METODE Populasi Populasi mencakup seluruh elemen dalam suatu area generalisasi, termasuk objek atau subjek pada jumlah serta karakteristik spesifik yang ditentukan oleh peneliti dijelaskan dan diambil putusan (Sugiyono, 2. Jumlah keseluruhan yang menjadi fokus dalam kajian ini berfokus pada entitas keuangan yang tercatat di BEI selama periode 2020-2022, dengan total 47 perusahaan. Sampel Sampel adalah sebagian dari keseluruhan jumlah atau total populasi yang memiliki karakteristik tertentu dari populasi tersebut (Sugiyono, 2. Penelitian yang dilakukan, menerapkan strategi pemilihan sampel menggunakan pendekatan purposive sampling. Terdapat 13 entitas perbankan yang menjadi unit analisis yang diterapkan dalam studi ini berdasarkan kriteria berikut: Perusahaan perbankan yang tercatat di BEI dalam rentang waktu 2020 sampai 2022. Perusahaan harus memiliki status tercatat atau terdaftar di BEI untuk memastikan data yang diperoleh sesuai dengan standar pelaporan keuangan yang berlaku. Perusahaan perbankan yang mempublikasikan laporan tahunan secara bertahap selama periode 20202022. Perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan tahunan secara konsisten selama periode tersebut dikecualikan dari sampel. Perusahaan perbankan yang mempunyai informasi yang komprehensif tentang parameter yang diimplementasikan dalam kajian ini yaitu, kepemilikan manajerial, profitabilitas, leverage dan financial Jenis dan Sumber Data Studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif, yang menyajikan informasi dalam bentuk angka. Pendekatan ini dipilih supaya mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif sehubungan dengan fokus studi ini. Data sekunder didefinisikan sebagai informasi yang diakses oleh peneliti dari referensi yang telah tersedia sebelumnya, bukan dari pengumpulan data langsung. Data ini dapat berasal dari laporan penelitian, buku, artikel, jurnal, atau data statistik yang sudah diterbitkan oleh pihak lain (Muafiroh & Hidajat, 2. Metode Pengumpulan Data Metode yang diterapkan untuk mengumpulkan data adalah metode dokumentasi, yaitu mengumpulkan dokumen laporan tahunan dari perusahaan perbankan selama periode 2020-2022 yang telah tersimpan dalam arsip. Teknik Analisis Data Kajian ini melakukan pengujian terhadap hipotesis melalui penerapan analisis regresi linier berganda yang sebelumnya data harus lolos pada uji asumsi klasik. Sasaran dari pengujian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana satu proporsi dependen dipengaruhi oleh beberapa variabel independen (Ghozali, 2. Definisi Operasional Variabel Tabel 1 Pengukuran Variabel Variabel Pengukuran Sumber 6,56 3,26 6,72 1,05 Syafri, . Financial Distress (Y) Kepemilikan Manajerial (X. KM = Total Saham yang dimiliki pihak manajemen Total Saham Beredar y100% EAT Profitabilitas (X. Return On Asset = Total Asety100% Total Utang Leverage (X. Debt to Asset Ratio = Total Aset y100% Oktantyo & Fidiana, . Irawa & Suyanto, . Antoniawati & Purwokohandoko, . Sumber: Data diolah . Determinasi Financial Distress Dalam Perbankan: Analisis Kepemilikan Manajerial. Profitabilitas dan Leverage Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Tabel 2 Hasil Uji Statistik Deskriptif Deskriptif LN_KM LN_Profitabilitas LN_Leverage LN_FD Valid N . Minimum Maximum Mean Std. Deviation Sumber: Data diolah . Tabel 2 mengindikasikan dari total 39 observasi, variabel kepemilikan manajerial dalam periode penelitian menunjukkan nilai terendah -8,15, nilai tertinggi 3,41, rata-rata . tercatat pada -2,5125, dengan deviasi standar yang mencapai 2,59480. Proporsi profitabilitas, angka terendah tercatat 0,00, nilai tertinggi 2,97, rata-rata . 1,2319, dan deviasi standar 0,47185. Sementara itu, variabel leverage selama periode penelitian memiliki angka minimum -1,14, maksimum 0,03, rata-rata . -0,2535, dan deviasi standar 0,21436. Di sisi lain, variabel financial distress pada periode penelitian menunjukkan nilai minimum -2,12, maksimum 2,03, rata-rata . 0,6083, dan deviasi standar 0,83276. Hasil Uji Asumsi Klasik Tabel 3 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Asymp. Sig. -taile. 0,200 Sumber: Data diolah . Tabel 3 menyajikan temuan dari analisis normalitas Kolmogorov-Smirnov (K-S) mengindikasikan signifikansi Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,200. Karena angka signifikan > 0,05, bahwa data memiliki distribusi yang bersifat normal. Tabel 4 Uji Autokorelasi Run Test Unstandardized Residual Asymp. Sig. -taile. 0,052 Sumber: Data diolah . Tabel 4 memaparkan hasil Pengujian autokorelasi melalui signifikansi Asymp. Sig. -taile. 0,052. Karena signifikannya > 0,05, ini menunjukkan tidak terdapat autokorelasi. Variabel Tabel 5 Uji Multikolinieritas Tolerance VIF LN_KM LN_PROFITABILITAS 0,774 0,878 LN_LEVERAGE 0,870 Keterangan Tidak ada gejala multikolinieritas Tidak ada gejala multikolinieritas Tidak ada gejala multikolinieritas Sumber: Data Diolah, 2024 ISSN: 2338-113 E-ISSN : 2656-951 Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 Tabel 5 menunjukan tidak terdapat multikolinieritas terhadap parameter yang berdiri sendiri yang diimplementasikan dalam kajian ini. Karena semua nilai toleran dari variabel kepemilikan manajerial, profitabilitas dan leverage menunjukan nilai > 0,10 serta angka VIF di bawah 10. Variabel PROFITABILITAS LEVERAGE Tabel 6 Uji Heteroskedastisitas Sig Keterangan 0,577 Tidak terdapat heteroskedastisitas 0,062 Tidak terdapat heteroskedastisitas 0,190 Tidak terdapat heteroskedastisitas Sumber: Data Diolah, 2024 Tidak ada heteroskedastisitas, karena seluruh parameter yang berdiri sendiri menunjukkan tingkat signifikansi yang melebihi 0,05, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 6. Hasil Uji Koefisien Determinasi Tabel 7 Uji Koefisien Determinasi Model Adjusted R Square 0,602 Sumber: Data Diolah, 2024 Tiga Parameter yang berdiri sendiri kepemilikan manajerial, profitabilitas dan leverage dapat memberikan kontribusi 60,2% pada variasi financial distress, dengan Adjusted R square sebesar 0,602. Sebaliknya, komponen lain yang tidak diakomodasi dalam kerangka kajian ini mempengaruhi 39,8%. Hasil Pengujian Hipotesis Variabel (Constan. LN_KM LN_PROFITABILITAS LN_LEVERAGE Tabel 8 Uji regresi Linier Berganda -0,211 -0,169 -0,293 -2,984 Sumber: Data Diolah, 2024 Sig 0,000 0,138 0,000 Keterangan H1 Diterima H2 Ditolak H3 Ditolak FINANCIAL DISTRESS = -0,211 Ae 0,169 KM Ae 0,293 ROA Ae 2,984 DAR e Konstanta sebesar -0,211 menunjukkan jika variabel independen dianggap tetap, maka angka financial distress adalah -0,211. Koefisien regresi untuk kepemilikan manajerial -0,169 menunjukkan setiap peningkatan satu satuan dalam kepemilikan manajerial dapat mengurangi kondisi financial distress sebesar 0,169. Koefisien regresi untuk profitabilitas (ROA) sebesar -0,293 mengindikasikan bahwa setiap pertambahan satu satuan dalam profitabilitas akan mengurangi kondisi financial distress sebesar 0,293. Sementara itu, koefisien regresi untuk leverage (DAR) sebesar -2,984 menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan dalam penggunaan utang akan mengakibatkan penurunan dalam keadaan financial distress sebesar 2,984. Pembahasan Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Financial Distress Temuan uji hipotesis pertama memberikan indikasi kepemilikan manajerial menunjukkan signifikansi senilai 0,00 < 0,05 dengan koefisien negatif, sehingga H1 pada ranah studi ini diterima. Artinya, jika peningkatan kepemilikan manajerial akan secara signifikan mengurangi kondisi financial distress. Peningkatan kepemilikan manajemen mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menjaga stabilitasnya, sehingga risiko kebangkrutan dapat berkurang (Anjani & Taswan, 2. Entitas perbankan Determinasi Financial Distress Dalam Perbankan: Analisis Kepemilikan Manajerial. Profitabilitas dan Leverage Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 yang dipimpin oleh manajer dengan kepemilikan saham yang lebih besar dapat dipandang lebih stabil oleh investor dan nasabah, yang meningkatkan kepercayaan dan menarik lebih banyak investasi serta simpanan. Menurut paradigma sinyal, fenomena ini berpotensi memancarkan indikasi yang menguntungkan bagi para pemodal, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan mereka untuk berinvestasi. Temuan ini konsisten dengan penelitian Anjani & Taswan . dan Fiolina et al. , . , yang mengindikasikan bahwa keberadaan kepemilikan manajerial memberikan pengaruh negatif signifikan terhadap kondisi financial Pengaruh Profitabilitas Terhadap Financial Distress Temuan uji hipotesis kedua menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,138 < 0,05 dengan koefisien negatif, menegaskan bahwa profitabilitas memberikan pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap financial distress, yang menjadikan H2 dalam kajian ini ditolak. Mengindikasikan bahwa meskipun peningkatan profitabilitas, berpotensi untuk menekan kemungkinan terjadinya financial distress, pengaruhnya relatif Taraf profitabilitas tinggi, semakin menipis peluang entitas korporasi terjerat dalam financial distress. Bahkan jika laba entitas bisnis menurun, selama perusahaan mampu memenuhi kewajibannya dan menutupi biaya lainnya melalui dana internal atau eksternal, yang memiliki kapasitas untuk memberikan sinyal positif untuk kepentingan para pemodal dalam melakukan alokasi dana. Pemahaman profitabilitas tidak selalu berbanding lurus dengan stabilitas financial. Bagi praktisi perbankan diharuskan tidak hanya fokus pada profitabilitas tetapi juga pada manajemen risiko kredit, suku bunga, dan likuiditas, serta kepatuhan terhadap regulasi. Profitabilitas dapat digunakan sebagai indikator untuk meningkatkan cadangan atau diversifikasi risiko sehingga mendorong perbankan untuk lebih memperhatikan ketahanan resiko daripada sekedar mengejar keuntungan jangka pendek. Penemuan ini sejalan dengan kajian yang diadakan oleh Antoniawati & Purwokohandoko . dan Dahruji & Muslich, . , yang mengindikasikan bahwa profitabilitas menunjukkan efek yang negatif namun tidak signifikan terhadap financial distress. Pengaruh Leverage Terhadap Financial Distress Temuan uji hipotesis ketiga mengindikasikan leverage memiliki signifikansi senilai 0,000 < 0,05 dengan koefisien negatif, sehingga H3 kajian ini ditolak. Artinya bahwa peningkatan leverage akan secara signifikan menurunkan keadaan financial distress. Tingginya leverage . ebt to asset rati. tidak selalu menunjukkan adanya peluang besar untuk terjadinya financial distress, peluang tersebut bisa saja rendah. Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi dapat memanfaatkan utang untuk membeli aset, memenuhi kebutuhan operasional, dan membiayai pembaruan aset yang berpotensi meningkatkan laba perusahaan (Irawa & Suyanto, 2. Leverage yang dikelola dengan baik dengan memanfaatkan dana tambahan untuk memperluas basis pinjaman dan investasi, yang dapat meningkatkan pendapatan. Dengan pendapatan yang lebih tinggi, bank lebih mampu memenuhi kewajiban utang, sehingga risiko financial distress menurun, jika leverage digunakan secara efektif untuk meningkatkan profitabilitas dan stabilitas keuangan. Praktisi perbankan juga perlu memastikan bahwa leverage digunakan untuk memperluas layanan keuangan dan mendukung pertumbuhan kredit yang sehat. Hal ini dapat menghasilkan indikasi sinyal yang menguntungkan bagi para pemodal, yang berpotensi memperkuat kepercayaan mereka untuk menanamkan modal di entitas bisnis tersebut. Hasil studi ini searah dengan analisis yang dilaksanakan oleh Irawa & Suyanto . dan Jannah et al. , . , yang menunjukkan bahwa leverage berperan memberikan dampak negatif yang signifikan sehubungan dengan financial distress. KESIMPULAN Berlandaskan pada informasi pemaparan temuan yang diperoleh dari investigasi ini, disimpulkan bahwa aspek kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan berkenaan dengan kondisi financial distress yang dihadapi oleh institusi perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu 20202022. Fenomena ini mengindikasikan peningkatan kepemilikan manajerial dapat mengurangi tingkat financial distress. Sebagai perbandingan, variabel profitabilitas mengindikasikan pengaruh negatif yang tidak memberikan dampak signifikan terhadap financial distress, yang menandakan peningkatan ISSN: 2338-113 E-ISSN : 2656-951 Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 01 Januari 2025 profitabilitas entitas bisnis tidak memiliki dampak atau hanya menyumbangkan efek yang relatif minim pada situasi financial distress. Sementara itu, variabel leverage berpengaruh negatif yang signifikan sehubungan dengan financial distress, menunjukkan peningkatan leverage dapat menurunkan financial distress, perusahaan dapat menggunakan pendanaan utang untuk mengelola asetnya dengan lebih efektif. Dalam penelitian ini, peneliti menghadapi keterbatasan karena hanya menggunakan data selama 3 tahun, yaitu dari 2020 hingga 2022, serta hanya melibatkan 3 variabel independen. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperpanjang jangka waktu penelitian, mengintegrasikan variabel tambahan lain yang relevan dalam konteks financial distress, akibatnya, hasil yang dicapai dapat ditentukan menjadi semakin Selain itu, perluasan sampel perusahaan dan mencakup objek lain seperti sektor makanan dan minuman, manufaktur, transportasi, dan sebagainya juga disarankan. DAFTAR PUSTAKA