Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 7. Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2721 - 4311 http://jurnal. id/index. php/JISP Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak Balita di Uptd Pelayanan Sosial Anak Balita Medan Rina Br Manik1. Hairani Siregar2 1,. Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sumatera Utara. Indonesia *E-mail: hairani@usu. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran pengasuhan dalam mendukung tumbuh kembang anak, terutama dalam aspek fisik, emosional, dan kognitif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, menggunakan observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Subjek penelitian terdiri dari lima informan utama, yakni kepala pembina, kepala seksi pengasuhan, analis pelayanan sosial, pekerja sosial, dan orang tua anak balita, sedangkan objek penelitian adalah efektivitas program pengasuhan dalam memenuhi kebutuhan dasar anak-anak yang diasuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah cukup efektif. Aspek pemahaman program dan ketepatan sasaran terlaksana dengan baik, ditunjang oleh pelatihan dan asesmen Namun, pelaksanaan belum sepenuhnya optimal dalam hal ketepatan waktu dan pencapaian tujuan, akibat keterbatasan jumlah tenaga pengasuh dan minimnya fasilitas edukatif. Meskipun demikian, program telah menghasilkan perubahan positif yang nyata, seperti peningkatan status gizi, stabilitas emosional, kemampuan sosial, dan kemandirian anak. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah efektif, meskipun masih perlu peningkatan dalam aspek tenaga pengasuhan dan fasilitas edukatif agar dampaknya lebih optimal. Kata Kunci: Program Pengasuhan. Kebutuhan Dasar Anak Balita. Efektivitas. UPTD Pelayanan Sosial Abstract This research is motivated by the importance of parenting in supporting children's growth and development, particularly in physical, emotional, and cognitive aspects. This study employs a qualitative method with a descriptive approach, using direct observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. The research subjects consist of five key informants: the head supervisor, the head of the parenting section, a social service analyst, a social worker, and parents of toddlers. Meanwhile, the research object is the effectiveness of the parenting program in meeting the basic needs of the children under care. The results indicate that the care program at UPTD has been fairly effective. Program understanding and target accuracy were well-implemented through training and multidisciplinary assessments. However, implementation was not entirely optimal in terms of timeliness and goal achievement due to limited caregiving staff and insufficient educational facilities. Nevertheless, the program produced tangible positive changes, such as improved nutritional status, emotional stability, social skills, and child independence. Thus, this study affirms that the care program at the UPTD Social Service for Toddlers in Medan has been effective, although improvements in human resources and educational support facilities are still needed to enhance its overall impact. Keywords: Caregiving Program. Basic Needs of Toddlers. Effectiveness. UPTD Child Social Service Cara citasi : Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. 5 Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak Balita di Uptd Pelayanan Sosial Anak Balita Medan. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 6 No 2 September 2025, 1-18. DOI: https://doi. org/10. 30596/jisp. Naskah diterima : 04-10-2025 Revisi akhir : 31-01-2026 Disetujui : 28-02-2026 Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar PENDAHULUAN Kesehatan anak merupakan salah satu indikator utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdampak langsung pada kemajuan pembangunan Kesehatan yang optimal memungkinkan terwujudnya manusia yang produktif, mandiri, dan kompetitif, sehingga menjadi aset penting dalam pembangunan bangsa (Anjani et al. , 2023:. Dalam konteks tersebut, pemenuhan gizi sejak usia dini menjadi aspek krusial dalam mewujudkan generasi yang sehat dan unggul. Namun, saat ini Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, masih menghadapi tantangan serius dalam mencapai target kesehatan masyarakat, terutama terkait masalah kekurangan gizi kronis dan stunting (Syafrina et al. , 2019:. Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi berkepanjangan dan infeksi berulang, terutama selama periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun (Soviyati et al. Stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif dan motorik anak, serta meningkatkan risiko penyakit dan kematian dini (Nugroho et al. , 2023:25. Asmin & Abdullah, 2021:. Lebih jauh, anak stunting cenderung mengalami keterbatasan dalam kemampuan belajar, prestasi akademik, dan produktivitas saat dewasa. Menurut Survei Status Gizi Indonesia, prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24,4%, dan pada tahun 2022 sebesar 21,6%, yang menunjukkan adanya penurunan angka stunting di Indonesia. Meskipun telah mencapai penurunan sebesar 2,8%, tetapi angka ini masih jauh dari yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Indonesia juga menjelaskan sebesar 14% pada tahun 2024 (CNBC, 2. WHO juga menetapkan enam target gizi global, yang salah satunya bertujuan untuk menurunkan jumlah anak balita stunting sebesar 40% pada tahun 2025. Angka prevalensi stunting Indonesia menempati urutan tertinggi ke-27 dari 154 negara yang memiliki data stunting, menjadikan Indonesia berada di urutan ke- 5 diantara negara-negara di Asia (Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2. Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang memiliki prevalensi status gizi Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, angka prevalensi stunting di Sumatera Utara yaitu 18,9%. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia, prevalensi stunting di Provinsi Sumatera Utara selalu menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2022, prevalensi stunting di Sumatera Utara sebesar 21,1%, angka ini penurunan dari tahun Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 2021 yaitu sebesar 25,8%. Tahun 2023 provinsi Sumatera Utara juga mengalami penurunan sebesar 2,2% menjadi 18,9% (Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, 2. BKKBN Sumatera Utara menyebutkan masih terdapat Kabupaten/Kota yang memiliki prevalensi tinggi di Provinsi Sumatera Utara. Terdapat enam kota dan kabupaten yang menjadi fokus evaluasi adalah Kota Medan. Serdang Bedagai. Batubara. Dairi. Pakpak Bharat, dan Simalungun (Keluarga Indonesia, 2. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), kini angka stunting di kota Medan tahun 2024 tercatat sebesar 5,8 % dari yang sebelumnya 15,4 % (Radio Republik Indonesia, 2. Angka ini masih jauh dari target rencana pembangunan jangka menengah nasional bidang kesehatan Indonesia yaitu sebesar 14%. Penurunan ini tentu menunjukkan adanya kemajuan, namun masih menyisakan tantangan serius terkait keberlanjutan intervensi gizi dan pengasuhan yang tepat sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Salah satu aspek penting dalam mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak adalah pengasuhan yang layak. Kualitas pengasuhan, terutama pada usia dini, sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti gizi, kesehatan, stimulasi kognitif, dan perlindungan emosional. Dilansir dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenpA, 2. , persentase anak usia dini yang pernah mendapatkan pengasuhan tidak layak mencapai sekitar 3,73 persen pada tahun 2018, kemudian menurun menjadi 3,64 persen pada tahun 2020. Secara keseluruhan, 4 dari 100 anak usia dini di Indonesia pernah mengalami pengasuhan tidak layak (Profil Anak Usia Dini, 2. Dalam Indeks Perlindungan Anak. Indonesia menargetkan penurunan angka tersebut hingga 3,47 persen pada tahun 2024. Penurunan angka pengasuhan tidak layak pada anak usia dini di Indonesia menunjukkan adanya perbaikan dalam upaya perlindungan anak. Namun, pencapaian target yang lebih rendah masih bergantung pada pola asuh orang tua, yang berperan krusial dalam memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal. Pengasuhan merupakan cara orang tua memperlakukan anaknya dengan cara menjaga, mengasuh, dan mendidiknya. Cara orang tua memperlakukan anaknya tercermin karakteristik dirinya sendiri yang mempengaruhi pola sikap anak di kemudian hari. Dalam proses pengasuhan ini, pemenuhan kebutuhan dasar menjadi aspek yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Kebutuhan dasar tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu asih, asah, dan asuh (Anjani et al. Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar 2022: . Salah satu aspek kebutuhan dasar yang sangat mempengaruhi status gizi adalah terpenuhinya kebutuhan pengasuhan karena berhubungan langsung dengan kondisi lingkungan fisik dan emosional anak (Luarsih et al, 2023:. Pendekatan Nurturing Care Framework menyebutkan hal ini merupakan layanan yang menangani komponen holistik ini . esehatan, nutrisi, pengasuhan yang responsif, keamanan dan keselamatan, dan pembelajaran din. dari pengasuhan dalam sistem multisektoral (Ahun et al. , 2023:. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan dasar anak tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengasuhan yang diberikan, karena pengasuhan yang baik berperan penting dalam memastikan anak mendapatkan asih, asah, dan asuh secara Penelitian yang dilakukan oleh Kusparlina menyebutkan adanya hubungan antara pengasuhan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar anak (Kusparlina, 2020:. Pengasuhan mencakup berbagai aspek, seperti pemberian kasih sayang, bimbingan, pendidikan, serta pemenuhan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat Ketika pola pengasuhan dilakukan dengan baikAimisalnya melalui perhatian yang cukup, pola asuh yang sesuai, serta lingkungan yang mendukungAimenjadikan anak lebih mudah mendapatkan kebutuhan dasarnya secara optimal. Menurut Widiyanto, pemenuhan kebutuhan gizi balita melalui sistem pengasuhan dapat membantu mengatasi permasalahan gizi (Widiyanto et al, 2024:1. Selain itu, program pengasuhan dapat meningkatkan pengetahuan gizi sehat bagi ibu balita stunting (Situmeang et al. , 2024:. Sehingga pola asuhan yang dimiliki orang tua dapat membantu memperhatikan kandungan makanan yang memperbaiki gizi pada anak balita. Penelitian mengenai pengasuhan dan status gizi anak balita sangat relevan untuk dilakukan di Kota Medan. Kota ini menjadi salah satu fokus perhatian pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam upaya penurunan angka stunting karena permasalahan gizi yang masih ditemukan di beberapa kelompok masyarakat. Status gizi anak usia kurang dari lima tahun sangat berpengaruh dalam proses tumbuh kembangnya (Sambo et al, 2020:. Salah satu penanganan yang dapat mencegah terjadinya stunting pada anak adalah dengan memenuhi kebutuhan dasar selama tumbuh kembang yaitu kebutuhan pengasuhan, perawatan dan kasih sayang yang terstruktur. Kebutuhankebutuhan ini memiliki kaitan langsung dengan status gizi anak (Saadah & Kp, 2020:. Salah satu pendekatan strategis dalam pencegahan stunting adalah melalui pengasuhan yang optimal, terutama bagi anak-anak yang berada dalam lingkungan sosial Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 yang rentan. Anak-anak dalam kelompok ini lebih berisiko mengalami kekurangan gizi, keterlambatan perkembangan, dan kurangnya akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Dalam konteks ini. UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan menjadi unit layanan yang relevan untuk dikaji, karena lembaga ini memiliki mandat khusus untuk memberikan pengasuhan, perlindungan, pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar kepada anak-anak yang tidak dapat diasuh oleh keluarganya akibat berbagai faktor kerentanan, seperti kemiskinan ekstrem, keterlantaran, kehilangan pengasuh utama maupun ketidakmampuan orang tua dalam memberikan pengasuhan yang layak. Hal ini berbeda dengan layanan pengasuhan berbasis komunitas seperti posyandu atau program Bina Keluarga Balita (BKB) yang berfokus pada edukasi dan pemantauan berkala. UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan mengembangkan program pengasuhan yang bersifat terstruktur dan terintegrasi, dengan pendekatan holistik yang mencakup aspek kesehatan, gizi, stimulasi perkembangan dini, serta pendidikan dasar Model layanan ini memberikan dukungan menyeluruh yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikososial dan edukatif, sesuai dengan kerangka Nurturing Care Framework yang menekankan pentingnya lingkungan yang aman, responsif, dan mendukung perkembangan optimal anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian efektivitas dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu penelitian yang berupa menghimpun data, mengelola dan menganalisa data secara kualitatif dan menafsirkannya secara kualitatif. Penelitian kualitatif adalah studi untuk menyelidiki dan memahami makna yang diasumsikan individu atau kelompok sebagai masalah sosial atau manusia. Digunakan untuk mengetahui mengapa dan bagaimana suatu fenomena sosial terjadi (Creswell, 2014:. Metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, baik dalam bentuk kata-kata maupun lisan dari individu serta perilaku yang dapat diamati. Metode ini bertujuan untuk mengungkap keunikan yang ada dalam individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi dalam kehidupan sehari- hari dengan cara yang menyeluruh, rinci, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi atau data yang dibutuhkan dalam penelitian yaitu primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari penelitian secara langsung dari lokasi penelitian yang terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data sekunder yaitu teknik Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar pengumpulan data atau informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian dengan menelaah buku, jurnal, karya tulis dan buku yang berhubungan dengan penelitian. Dalam penelitian ini, penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yaitu teknik pemilihan informan berdasarkan kriteria khusus yang relevan dengan tema penelitian. Teknik ini dipilih karena informan yang terpilih diharapkan memiliki wawasan dan pengalaman yang mampu untuk memberikan informasi yang akurat terkait keberhasilan serta tantangan yang dihadapi. Adapun informan dalam penelitian ini meliputi: informan kunci, utama dan tambahan. Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian yaitu kepala koordinator UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan. Informan utama adalah orang yang terlibat secara langsung dalam interaksi sosial dengan memberikan dampak terhadap permasalahan tersebut. Dalam penelitian ini yang menjadi informan utama adalah 1 kepala seksi pengasuhan, 1 analis pelayanan sosial dan 1 staff pekerja sosial di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan. Informan tambahan adalah orang yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti, yaitu 1 orangtua/wali anak balita penerima manfaat. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman program Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar anak balita, yaitu asuh . , asih . , dan asah . Berdasarkan hasil wawancara, staf memahami bahwa program ini bertujuan memastikan setiap anak mendapatkan nutrisi yang cukup, perhatian emosional yang memadai, serta stimulasi pendidikan dini yang sesuai dengan usianya. Pemahaman program ini sejalan dengan teori efektivitas program menurut Sutrisno, yang menyatakan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada perencanaan yang matang dan implementasi yang sesuai dengan kebutuhan sasaran (Sutrisno, 2007:. Pemahaman staf terhadap program ini diperkuat melalui pelatihan rutin yang mencakup psikologi anak, standar operasional prosedur pengasuhan, serta teknik pemantauan kesehatan dan perkembangan anak. Hal ini sesuai dengan pandangan Sutrisno bahwa keberhasilan suatu program dipengaruhi oleh sejauh mana organisasi mampu memahami dan menerapkan langkah-langkah yang benar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Sutrisno, 2007:. Dalam praktiknya, staf tidak hanya memahami Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 aspek fisik dari pengasuhan tetapi juga memperhatikan faktor emosional dan sosial anak agar proses pengasuhan lebih menyeluruh. Komunikasi yang efektif juga menjadi faktor utama dalam memastikan staf memiliki pemahaman yang seragam mengenai tujuan program. Setiap awal bulan, dilakukan rapat koordinasi untuk menyamakan persepsi, mengevaluasi kendala, dan mencari solusi bersama. Teori Sutrisno menekankan bahwa komunikasi yang baik dalam organisasi berperan penting dalam mendukung efektivitas program (Sutrisno, 2007:. Dengan adanya diskusi rutin ini, staf dapat berbagi pengalaman dan mengatasi permasalahan di lapangan dengan lebih cepat dan efektif. Anak yang akan diterima dalam program pengasuhan, dilakukan asesmen awal untuk memahami kebutuhan spesifik mereka. Proses ini melibatkan tenaga medis, psikolog, dan pekerja sosial guna merancang pola pengasuhan yang sesuai. Observasi menunjukkan bahwa asesmen ini membantu pengasuh dalam memberikan perawatan yang lebih terarah, sehingga anak-anak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan. Dalam teori efektivitas program menurut Sutrisno, asesmen awal adalah langkah penting untuk memastikan program benar-benar menjangkau sasaran yang tepat (Sutrisno, 2007:. Pemahaman staf mengenai pentingnya evaluasi rutin juga menjadi faktor pendukung keberhasilan program ini. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa kegiatan sehari-hari telah berjalan sesuai dengan kebutuhan anak. Teori Sutrisno menegaskan bahwa evaluasi yang berkelanjutan diperlukan agar program tetap relevan dan dapat beradaptasi dengan kondisi yang berkembang (Sutrisno, 2007:. Hal ini terlihat dalam program UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan yang selalu melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi bulanan, baik dalam aspek gizi, kesehatan, maupun kegiatan edukatif bagi anak. Wawancara dengan staf menunjukkan bahwa mereka memahami pentingnya keseimbangan antara pendekatan emosional dan kedisiplinan dalam pengasuhan. Anakanak tidak hanya diajarkan keterampilan kognitif, tetapi juga nilai-nilai sosial seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Untuk mendukung pemahaman ini. UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan menggunakan modul pelatihan yang diperbarui secara berkala sesuai dengan perkembangan kebijakan dan kebutuhan anak-anak yang diasuh. Sejalan dengan teori Sutrisno, pembelajaran berkelanjutan bagi staf berperan penting dalam meningkatkan efektivitas program (Sutrisno, 2007:. Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Hasil observasi menunjukkan bahwa pemahaman yang baik dari staf terhadap program ini berdampak langsung pada kualitas pelayanan yang diberikan. Anak-anak terlihat lebih sehat, aktif, dan mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhan Pengasuh tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar anak, tetapi juga berperan dalam membangun hubungan emosional yang positif dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah berjalan secara efektif, sebagaimana yang dijelaskan oleh Sutrisno, bahwa pemahaman yang baik terhadap suatu program akan mendukung pencapaian tujuan secara optimal (Sutrisno, 2007:. Observasi menunjukkan bahwa pemahaman staf tentang program ini memberikan dampak signifikan terhadap kualitas pelayanan yang Anak-anak yang diasuh mendapatkan perhatian individual, mulai dari pemberian makanan bergizi hingga aktivitas yang mendukung perkembangan kognitif dan sosial mereka. Pemahaman program di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan mencerminkan perencanaan yang matang, komunikasi yang efektif, dan penerapan teori kebutuhan dasar. Pemahaman ini memungkinkan pelaksanaan program yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar anak tetapi juga membangun fondasi untuk perkembangan mereka di masa depan. Tepat sasaran Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan dirancang untuk menjangkau anak-anak yang benar-benar membutuhkan, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu atau menghadapi kondisi darurat. Hal ini sesuai dengan konsep efektivitas program menurut Sutrisno, yang menyatakan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sejauh mana program tersebut mampu mencapai target yang telah ditentukan (Sutrisno, 2007:. Observasi menunjukkan bahwa anak-anak yang diasuh memang berasal dari latar belakang yang membutuhkan perhatian khusus, baik dari segi kesehatan, psikologis, maupun sosial. Ketepatan sasaran dalam program ini diawali dengan proses asesmen awal yang melibatkan tenaga medis, psikolog, dan pekerja sosial. Hasil wawancara dengan staf UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan mengonfirmasi bahwa asesmen ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak yang masuk ke dalam program benar- benar membutuhkan intervensi pengasuhan. Teori Sutrisno menekankan bahwa efektivitas program dapat diukur dari sejauh mana output yang dihasilkan benar- benar sesuai dengan kebutuhan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 targetnya (Sutrisno, 2007:. Observasi menunjukkan bahwa asesmen dilakukan dengan teliti, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemantauan kondisi psikologis, hingga evaluasi sosial anak-anak yang diasuh. Mekanisme rujukan dari dinas sosial dan puskesmas setempat menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan ketepatan sasaran program. Berdasarkan hasil wawancara, anak-anak yang masuk ke dalam program ini umumnya mengalami masalah gizi, keterlambatan perkembangan, atau kurangnya perhatian dari keluarga. Sejalan dengan teori sutrisno, sebuah program dikatakan efektif jika mampu menjangkau individu yang benar-benar membutuhkan layanan tersebut. Dengan adanya sistem rujukan ini, program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan berhasil menargetkan anak-anak yang paling memerlukan pengasuhan (Sutrisno, 2007:. Ketepatan sasaran juga tercermin dalam pemenuhan kebutuhan spesifik anakanak. Misalnya, anak yang mengalami masalah gizi diberikan makanan dengan menu khusus yang sesuai dengan kondisi kesehatannya, sementara anak yang membutuhkan dukungan emosional mendapatkan pendampingan psikologis. Observasi menunjukkan bahwa pendekatan personal seperti ini membuat anak lebih mudah beradaptasi dan berkembang dengan baik di lingkungan pengasuhan. Teori sutrisno menegaskan bahwa program yang efektif harus mempertimbangkan kebutuhan individu penerima manfaat agar tujuan program dapat tercapai secara optimal (Sutrisno, 2007:. Evaluasi berkala menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa program tetap berjalan sesuai sasaran. Hasil wawancara dengan staf menunjukkan bahwa evaluasi dilakukan secara rutin oleh tim multidisiplin yang terdiri dari pengasuh, tenaga medis, dan Observasi di lapangan juga menunjukkan adanya pencatatan perkembangan anak, termasuk peningkatan berat badan, perkembangan sosial, serta kemandirian dalam menjalani aktivitas harian. Sejalan dengan teori sutrisno, efektivitas program harus berorientasi pada hasil yang konkret, yang dalam konteks ini terlihat dari perkembangan positif yang dialami oleh anak-anak di bawah pengasuhan UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan (Sutrisno, 2007:. Pendekatan berbasis data juga memperkuat ketepatan sasaran dalam program ini. Setiap anak yang diasuh memiliki catatan perkembangan yang terus diperbarui dan digunakan sebagai dasar untuk memberikan intervensi yang sesuai. Sutrisno menekankan bahwa pemanfaatan data yang baik merupakan salah satu kunci dalam meningkatkan efektivitas program (Sutrisno, 2007:. Berdasarkan observasi, pencatatan administrasi Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan cukup sistematis, sehingga memudahkan pemantauan terhadap perkembangan anak dan memastikan bahwa mereka menerima perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya. Respons dari keluarga penerima manfaat juga menunjukkan bahwa program ini telah berjalan dengan tepat sasaran. Wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa mereka merasa puas dengan perhatian yang diberikan kepada anak-anak mereka, terutama dalam hal kesehatan, kasih sayang, dan pendidikan dini. Hal ini sejalan dengan pandangan sutrisno bahwa program yang efektif adalah program yang dapat memberikan dampak nyata bagi targetnya (Sutrisno, 2007:. Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah menunjukkan efektivitas tinggi dalam aspek ketepatan sasaran. Melalui asesmen awal, mekanisme rujukan, evaluasi berkala, dan pendekatan berbasis data, program ini berhasil menjangkau anak-anak yang benar-benar membutuhkan bantuan. Sejalan dengan teori efektivitas program menurut Sutrisno, ketepatan sasaran menjadi faktor kunci dalam memastikan keberhasilan suatu program, dan hal ini tercermin dalam dampak positif yang dirasakan oleh anak-anak di bawah pengasuhan UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan (Sutrisno, 2007:. Tepat waktu Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan dirancang dengan jadwal harian yang terstruktur untuk memastikan setiap kebutuhan dasar anak terpenuhi tepat waktu. Berdasarkan observasi, setiap kegiatan mulai dari pemberian makanan, pemeriksaan kesehatan, hingga kegiatan edukatif dan sosial dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Ketepatan waktu dalam pelaksanaan program ini sesuai dengan teori efektivitas program menurut Sutrisno, yang menyatakan bahwa efektivitas program dapat diukur dari sejauh mana suatu kegiatan dijalankan sesuai dengan perencanaan waktu yang telah ditetapkan (Sutrisno, 2007:. Hasil wawancara dengan staf UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan menunjukkan bahwa pengelolaan waktu menjadi salah satu aspek yang paling diperhatikan dalam menjalankan program ini. Setiap pagi dilakukan briefing untuk memastikan bahwa semua staf memahami jadwal kegiatan dan tanggung jawab mereka. Sutrisno menekankan bahwa program yang efektif harus memiliki sistem manajemen yang baik agar semua kegiatan dapat terlaksana dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan (Sutrisno, 2007:. Observasi menunjukkan bahwa meskipun Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 terdapat beberapa kendala di lapangan, seperti anak yang membutuhkan perhatian khusus atau kondisi darurat yang tidak terduga, tim pengasuh tetap berusaha menjaga kelancaran jadwal dengan melakukan penyesuaian secara cepat dan efisien. Mekanisme pemantauan berkala dalam hal ketepatan waktu juga diterapkan untuk memastikan bahwa setiap kegiatan berjalan sesuai dengan rencana. Evaluasi dilakukan oleh kepala seksi pengasuhan untuk memastikan bahwa setiap anak menerima layanan yang dibutuhkan tepat waktu. Sutrisno menyatakan bahwa evaluasi berkelanjutan merupakan bagian penting dari efektivitas program, karena memungkinkan adanya perbaikan jika terjadi keterlambatan atau hambatan dalam pelaksanaan program (Sutrisno, 2007:. Berdasarkan hasil wawancara, jika ditemukan keterlambatan dalam kegiatan tertentu, maka segera dilakukan koordinasi untuk mencari solusi agar tidak mengganggu pelaksanaan kegiatan lainnya. Tantangan terbesar dalam memastikan ketepatan waktu program ini adalah keterbatasan jumlah tenaga pengasuh dibandingkan jumlah anak yang diasuh. Observasi menunjukkan bahwa ada momen di mana tenaga pengasuh harus menangani beberapa anak sekaligus, yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam beberapa aktivitas. Namun, untuk mengatasi kendala ini, pihak UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah menerapkan sistem pembagian tugas yang lebih efisien dan fleksibel. Hal ini sejalan dengan teori Sutrisno, yang menyebutkan bahwa fleksibilitas dalam manajemen waktu sangat diperlukan agar program tetap berjalan efektif meskipun menghadapi kendala operasional (Sutrisno, 2007:. Ketepatan waktu dalam penyediaan kebutuhan dasar anak juga menjadi perhatian utama dalam program ini. Misalnya, pemberian makanan dilakukan secara terjadwal dengan menu yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak. Observasi menunjukkan bahwa jadwal makan dipatuhi dengan baik, dan anak-anak menerima makanan sesuai dengan kebutuhan mereka. Hal ini mendukung teori Sutrisno, yang menegaskan bahwa efektivitas suatu program dapat dilihat dari konsistensi pelaksanaannya dalam memenuhi kebutuhan penerima manfaat tepat waktu (Sutrisno, 2007:. Hasil wawancara dengan orang tua anak yang diasuh juga menunjukkan bahwa mereka merasa puas dengan pengelolaan waktu dalam program ini. Mereka melihat bahwa anak-anak mereka menerima perhatian yang cukup dan kegiatan yang dilakukan berjalan dengan teratur. Menurut Sutrisno, program yang efektif adalah program yang tidak hanya Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar berjalan sesuai jadwal tetapi juga memberikan dampak yang nyata bagi penerima manfaat. Respons positif dari orang tua ini menjadi bukti bahwa ketepatan waktu dalam program pengasuhan telah memberikan manfaat langsung bagi anak-anak yang diasuh (Sutrisno, 2007:. Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan dirancang untuk berjalan tepat waktu meskipun pelaksanaannya di lapangan belum sepenuhnya efektif. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah tenaga pengasuh yang tidak sebanding dengan jumlah anak balita yang diasuh. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan beban kerja pengasuh menjadi tinggi, sehingga pelaksanaan kegiatan pengasuhan, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar anak secara tepat waktu, tidak selalu dapat dilakukan secara Dalam konteks efektivitas program menurut Sutrisno, ketepatan waktu merupakan indikator penting dalam menentukan keberhasilan suatu program (Sutrisno, 2007:. Namun, jika tenaga pelaksana tidak mencukupi, maka ketepatan waktu dalam memenuhi kebutuhan anak akan terhambat, dan pada akhirnya mengurangi efektivitas program secara keseluruhan. Tercapainya tujuan Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak yang diasuh mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar secara optimal, baik dari segi fisik, emosional, maupun kognitif. Berdasarkan observasi, program ini telah menunjukkan hasil yang positif, di mana anak-anak terlihat lebih sehat, aktif, dan menunjukkan perkembangan sosial yang baik. Hal ini sesuai dengan teori efektivitas program menurut Sutrisno, yang menyatakan bahwa keberhasilan suatu program dapat diukur dari seberapa jauh tujuan yang telah dirancang sejak awal dapat tercapai melalui pelaksanaan yang efektif (Sutrisno, 2007:. Hasil wawancara dengan staf pengasuhan menunjukkan bahwa pencapaian tujuan program ini didukung oleh berbagai faktor, seperti penerapan pola asuh yang terstruktur, pemberian nutrisi yang tepat, serta bimbingan sosial dan emosional yang diberikan kepada anak-anak. Menurut Sutrisno, pencapaian tujuan dalam suatu program dipengaruhi oleh perencanaan yang matang dan implementasi yang sistematis (Sutrisno, 2007:. Observasi juga menunjukkan bahwa anak-anak yang awalnya mengalami kekurangan gizi kini mulai menunjukkan peningkatan berat badan, serta lebih aktif dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan pengasuh. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 Perkembangan emosional anak-anak juga menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan program. Hasil wawancara menunjukkan bahwa anak-anak yang sebelumnya cenderung pendiam dan kurang percaya diri mulai menunjukkan keterbukaan dan kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga pada aspek sosial dan psikologis anak-anak. Sutrisno menekankan bahwa program yang efektif harus mampu menciptakan perubahan nyata yang dapat diukur, dan dalam konteks ini, perubahan perilaku dan peningkatan kemandirian anak-anak menjadi bukti bahwa program ini telah mencapai tujuannya (Sutrisno, 2007:. Evaluasi rutin yang dilakukan oleh tim UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan juga memainkan peran penting dalam memastikan bahwa tujuan program terus tercapai. Berdasarkan hasil observasi, setiap anak memiliki catatan perkembangan yang diperbarui secara berkala untuk menilai sejauh mana mereka mengalami kemajuan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa tim pengasuh secara aktif melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap metode pengasuhan yang diterapkan, sehingga jika ada hambatan dalam pencapaian tujuan, segera dilakukan perbaikan. Sejalan dengan teori Sutrisno, evaluasi yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa program tetap relevan dan efektif dalam mencapai tujuannya (Sutrisno, 2007:. Program ini telah berjalan dengan baik secara umum, namun masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi agar tujuan dapat dicapai secara maksimal. Salah satu tantangan utama yang teridentifikasi melalui observasi adalah keterbatasan fasilitas edukatif yang tersedia. Ketersediaan sarana belajar yang masih terbatas menjadi hambatan dalam mengembangkan variasi dan kualitas kegiatan pembelajaran yang mendukung perkembangan kognitif anak secara optimal. Wawancara dengan staf menunjukkan bahwa meskipun mereka berupaya memberikan stimulasi sesuai dengan tahap perkembangan anak, keterbatasan media pembelajaran membuat kegiatan cenderung monoton dan kurang bervariasi. Akibatnya, potensi intelektual anak belum dapat dikembangkan secara maksimal. Namun, kendala ini tetap diantisipasi melalui pemanfaatan alat bantu sederhana dan pendekatan kreatif oleh staf dalam pengasuhan. Sutrisno menegaskan bahwa program yang baik harus memiliki sistem yang fleksibel dalam menghadapi kendala agar tetap dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Sutrisno, 2007:. Dalam konteks ini, fleksibilitas program pengasuhan terlihat dari Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar upaya staf dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan sumber daya yang tersedia, meskipun peningkatan sarana edukatif tetap menjadi kebutuhan yang mendesak. Respons dari orang tua dan keluarga anak-anak yang diasuh juga menjadi salah satu indikator tercapainya tujuan program. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua merasa puas dengan perkembangan anak mereka selama berada dalam pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan. Mereka mengapresiasi perhatian yang diberikan dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan pembentukan karakter anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga oleh keluarga mereka. Menurut Sutrisno, program yang berhasil adalah program yang memberikan dampak nyata dan dapat dirasakan langsung oleh penerima manfaat (Sutrisno, 2007:. Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah mencapai sebagian besar tujuan yang telah ditetapkan, meskipun masih ada beberapa aspek yang perlu terus ditingkatkan. Dengan adanya pemantauan rutin, fleksibilitas dalam menghadapi tantangan, serta dukungan dari berbagai pihak, program ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih optimal. Sejalan dengan teori Sutrisno, pencapaian tujuan dalam suatu program tidak hanya bergantung pada implementasi yang baik, tetapi juga pada kemampuan program untuk terus beradaptasi dan memperbaiki diri sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. Tabel 5. 1 Analisis Pencapaian Tujuan Pada Program Pengasuhan UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan Aspek Asuh Asih Teori Kebutuhan Dasar Gizi Kasih Kelompok A . -4 tahu. Kelompok B . -5 tahu. Kelompok C . -6 tahu. Anak menerima Pola makan yang Pemenuhan kebutuhan dan gizi bergizi sesuai teratur, pertumbuhan optimal, kebutuhan usia, pemeriksaan pengecekan kesehatan kesehatan rutin berkala, edukasi kebiasaan hidup bersih kebersihan diri dan sehat dan lingkungan bermain yang Anak Anak mulai Anak dukungan emosional Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 rasa aman Asah Stimulasi kasih untuk dari sayang, mendukung rasa aman merasa aman perhatian dan percaya diri dan nyaman di emosional yang lebih terarah Anak terlibat Anak aktif dalam Sebagian anak mulai dalam aktivitas kegiatan kreatif, berpartisipasi dalam kegiatan belajar yang dan permainan interaktif, serta terstruktur, bimbingan konsep dasar pengembangan kreativitas eksplorasi aktif Perubahan nyata Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah memberikan perubahan nyata terhadap perkembangan anak-anak yang diasuh. Berdasarkan observasi, anak-anak menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam aspek kesehatan, sosial, dan kemandirian. Mereka terlihat lebih aktif, ceria, dan mampu berinteraksi lebih baik dengan teman sebaya maupun pengasuh. Hal ini sesuai dengan teori efektivitas program menurut Sutrisno, yang menyatakan bahwa keberhasilan suatu program dapat diukur dari dampak nyata yang ditimbulkan pada penerima manfaat (Sutrisno, 2007:. Hasil wawancara dengan staf UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan menunjukkan bahwa perubahan terbesar yang terlihat adalah peningkatan kesehatan fisik anak-anak. Banyak anak yang sebelumnya mengalami kekurangan gizi kini mengalami kenaikan berat badan yang ideal sesuai usia mereka. Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin menunjukkan bahwa tingkat daya tahan tubuh anak- anak meningkat dibandingkan sebelum mereka masuk ke dalam program. Observasi juga menunjukkan bahwa pola makan anak-anak menjadi lebih teratur dan seimbang, yang merupakan hasil dari pemberian gizi yang sesuai dengan kebutuhan masing- masing anak. Sesuai dengan pandangan Sutrisno, perubahan nyata dalam program sosial harus memiliki indikator yang dapat diukur, dan dalam kasus ini, peningkatan kesehatan anak menjadi bukti konkret dari efektivitas program pengasuhan (Sutrisno, 2007:. Perkembangan sosial anak-anak juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil wawancara dengan pengasuh menunjukkan bahwa anak-anak yang sebelumnya Manik. Rina Br. Siregar. Hairani. Efektifitas Program Pengasuhan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar cenderung pendiam dan kurang percaya diri kini lebih aktif dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Mereka mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, lebih mudah beradaptasi dengan teman sebaya, serta mampu mengikuti rutinitas harian dengan lebih mandiri. Observasi juga memperlihatkan bahwa anak-anak semakin terampil dalam mengikuti kegiatan edukatif yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan motorik dan kognitif mereka. Sejalan dengan teori Sutrisno, perubahan nyata dalam suatu program harus terlihat dalam peningkatan kualitas hidup penerima manfaat, dan dalam hal ini, perkembangan sosial anak-anak menjadi indikator utama keberhasilan program (Sutrisno, 2007:. Segi emosional, perubahan nyata juga dapat terlihat dalam pola hubungan antara anak-anak dan pengasuh. Wawancara dengan staf menunjukkan bahwa anak-anak kini lebih nyaman dan percaya terhadap pengasuh mereka, yang menunjukkan adanya peningkatan rasa aman dan kelekatan emosional. Observasi mendukung temuan ini, di mana anak-anak tidak lagi menunjukkan ketakutan atau kecemasan berlebihan saat menghadapi lingkungan baru, melainkan lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan Hal ini sejalan dengan teori Sutrisno, yang menegaskan bahwa program yang berhasil tidak hanya menciptakan perubahan fisik tetapi juga memberikan dampak psikologis yang positif bagi penerima manfaat (Sutrisno, 2007:. Evaluasi yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan bahwa sebagian besar anak mengalami perkembangan yang konsisten sejak pertama kali mereka masuk dalam Berdasarkan wawancara dengan tim pengasuhan, catatan perkembangan anak yang diperbarui secara rutin menunjukkan adanya tren positif dalam pertumbuhan fisik, keterampilan sosial, dan tingkat kemandirian anak-anak. Observasi juga mengonfirmasi bahwa anak-anak semakin mampu melakukan aktivitas sehari-hari sendiri, seperti makan, berpakaian, dan menjaga kebersihan diri tanpa terlalu bergantung pada pengasuh. Menurut Sutrisno, program yang efektif harus menghasilkan perubahan yang dapat diukur secara nyata dan berkelanjutan, dan dalam konteks ini, peningkatan kemandirian anakanak menjadi salah satu indikator utama efektivitas program (Sutrisno, 2007:. Respon dari keluarga penerima manfaat juga menjadi bukti nyata dari keberhasilan program ini. Hasil wawancara menunjukkan bahwa orang tua merasa sangat terbantu dengan adanya program ini, terutama dalam meningkatkan kesehatan dan perkembangan sosial anak-anak mereka. Mereka menyatakan bahwa anak-anak mereka kini lebih ceria, aktif, dan memiliki kebiasaan hidup yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sejalan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 7. Nomor 1. Maret 2026: 1-18 dengan teori Sutrisno, program yang efektif adalah program yang memberikan dampak nyata yang dapat dirasakan tidak hanya oleh penerima manfaat langsung tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya (Sutrisno, 2007:. Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah menghasilkan perubahan nyata dalam berbagai aspek kehidupan anak-anak yang diasuh. Dengan adanya peningkatan kesehatan, perkembangan sosial, serta kemandirian anakanak, dapat disimpulkan bahwa program ini telah berjalan dengan efektif. Sesuai dengan teori Sutrisno, perubahan nyata yang dapat diukur merupakan indikator utama keberhasilan suatu program, dan dalam konteks ini, hasil yang dicapai menunjukkan bahwa program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan telah memberikan manfaat yang signifikan bagi tumbuh kembang anak balita (Sutrisno, 2007:. Perubahan nyata yang dicapai oleh program UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan mencerminkan keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan dasar anak secara Perubahan ini tidak hanya terlihat dalam jangka pendek tetapi juga memberikan dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan anak dan keluarga mereka. SIMPULAN Program pengasuhan di UPTD Pelayanan Sosial Anak Balita Medan dinyatakan efektif dalam memenuhi kebutuhan dasar anak balita. Hal ini terlihat dari pemahaman staf yang baik, ketepatan sasaran program, serta tercapainya sebagian besar tujuan, khususnya pada aspek fisik, emosional, dan sosial anak. Program juga memberikan perubahan nyata berupa peningkatan kesehatan, keterampilan sosial, dan kualitas hidup Namun, keterbatasan tenaga pengasuh dan fasilitas edukatif masih menjadi kendala, terutama dalam menjaga konsistensi ketepatan waktu dan optimalisasi perkembangan DAFTAR PUSTAKA