Jurnal Sains Geografi, 3. , 2025. DOI: 10. 2210/jsg. Estimasi serapan karbon biru pada ekosistem mangrove rhizophora mucronata di Pulau Tidung Kecil Muhammad Naufal Tamam Sartono1*. Qori Nabilla1. Adinata Wirasena1. Dian Primasari1. Nasywa Difa Kusuma1. Muhammad Syarifuddin Hidayat1. Lia Kusumawati1*. Della Ayu Lestari1* Geografi. Universitas Negeri Jakarta. Jl. Rawamangun Muka Raya. Jakarta Timur. DKI Jakarta. Indonesia *) Email Korespondensi: muhammad. tamam02@unj. id, liakusumawati@unj. id, dellaayulestari@unj. Abstract Sitasi: Sartono. Nabilla. Wirasena. Primasari. Kusuma. Hidayat. Kusumawati. Lestari D. Estimasi serapan karbon biru pada ekosistem mucronata di Pulau Tidung Kecil. Forum Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima: 23/12/2024 Disetujui: 17/04/2025 Publikasi: 25/05/2025 Mangrove forests on Tidung Kecil Island have great potential in absorbing blue carbon, so they can contribute to climate change This study aims to measure the potential for carbon absorption by the mangrove ecosystem in the area as an effort to reduce the impact of global warming. This study used a stratified random sampling method with a plot size of 1m x 1m at four designated stations. The total area of the mangrove area was estimated using Sentinel-2A satellite imagery with the supervised classification method. Biomass and mangrove carbon stocks were calculated using allometric equations. The results showed that the total area of the mangrove area on Tidung Kecil Island was 2. 31 ha-1 using supervised classification. The biomass of the entire mangrove area was estimated at 250. 96 tons, with a total carbon stock at 117. 94 tons. Based on the calculations, the mangrove ecosystem in this area is able to absorb carbon at 432. 86 tons of carbon The mangrove ecosystem on Tidung Kecil Island has very good potential in absorbing carbon and contributing to climate change The results of the observations carried out can be the basis for consideration of rehabilitation, preservation, research development, and increasing conservation efforts for the mangrove ecosystem on Tidung Kecil Island. Keyword: Biomass. Carbon absorption. Mangrove. Tidung Island Abstrak Copyright: A 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Hutan mangrove di Pulau Tidung Kecil memiliki potensi besar dalam menyerap karbon biru, sehingga dapat berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi penyerapan karbon oleh ekosistem mangrove di wilayah tersebut sebagai upaya untuk mengurangi dampak pemanasan global. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel acak terstratifikasi dengan ukuran plot 1m x 1m pada empat stasiun yang ditentukan. Luas total kawasan mangrove diestimasikan menggunakan citra satelit Sentinel-2A dengan metode supervised classification. Biomassa dan stok karbon mangrove dihitung menggunakan persamaan allometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas total kawasan mangrove di Pulau Tidung Kecil adalah 2,31 ha-1 menggunakan supervised classification. Biomassa seluruh kawasan mangrove diperkirakan sebesar 250,96 ton, dengan total stok karbon sebesar 117,94 ton. Berdasarkan perhitungan, ekosistem mangrove di wilayah ini mampu menyerap karbon sebesar 432,86 ton karbon dioksida. Ekosistem mangrove di Pulau Tidung Kecil memiliki potensi yang sangat baik dalam menyerap karbon dan berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim. Hasil observasi yang dilakukan, dapat menjadi dasar pertimbangan rehabilitasi, pelestarian, pengembangan penelitian, dan peningkatan upaya konservasi ekosistem mangrove di Pulau Tidung Kecil. Kata Kunci: Biomassa. Serapan karbon. Mangrove. Pulau Tidung Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Pendahuluan Hutan mangrove berada pada wilayah pantai yang tergenang air laut serta adanya pengaruh dari pasang surut air laut tetapi tidak dipengaruhi iklim (Alviana et al. Hutan mangrove digambarkan pada suatu komunitas pantai yang didominasi oleh beberapa jenis pohon tertentu maupun semak-semak yang bisa untuk tumbuh pada perairan asin (Permata Sari et al. Di dalam hutan mangrove, terdapat beberapa spesies yang berbeda di (Avicennia. Snaeda. Laguncularia. Lumnitzera. Conocarpus. Aegicera. Aegialitis. Rhizophora. Brugiera. Ceriops. Sonnerati. , mempunyai akar napas . , (Avicenniea. Rhizophora. Bruguiera. Ceriops. Nyp. , umumnya tumbuh di substrat yang berpasir atau berlumpur menggunakan salinitas yang majemuk (Aprianto & Romadhon, 2. Mangrove termasuk pada ekosistem yang tumbuh pada wilayah tepi pesisir dan mempunyai potensi yang besar (Kangkuso et al. , 2. Mangrove mempunyai potensi yang bisa dimanfaatkan secara tidak langsung, maupun secara langsung dalam nilai ekonomis (Aprianto & Romadhon, 2. Manfaat secara langsung yaitu untuk bahan bangunan. Secara ekologi . mangrove mempunyai manfaat untuk tempat berlindung serta tempat mencari makan bagi kehidupan hewan lahan mangrove berperan mendukung vegetasi lingkungan fisik dan lingkungan biota pada lingkungan fisik mangrove berperan untuk penahan ombak, perangkap sedimen, dan penahan intrusi air asin, adapun peran di lingkungan biota yaitu untuk tempat tinggal bagi biota laut yang terdapat di dalamnya. (Rifandi, 2. Ekosistem mangrove berperan penting dalam mengurangi laju pemanasan global yang terjadi akibat efek gas rumah kaca dengan menekan konsentrasi CO2 berlebih pada lapisan atmosfer (Permata Sari et al. , 2. Ekosistem ini mampu menjadi penyimpan blue carbon atau yang kerap disebut sebagai karbon biru dengan perputaran produksi dan penghasilan karbon pada area lautan (Easteria G et al. , 2. Persebaran kawasan mangrove di Pulau Tidung Kecil, menjadi salah satu potensi yang berperan mengatur siklus karbon biru di wilayah perairan Pulau Tidung Kecil. Mengingat peran ekosistem mangrove dalam penyerapan karbon berkontribusi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi kandungan Biomassa, penyerapan karbon pada tegakan ekosistem mangrove di perairan Pulau Tidung Kecil. Dengan mengetahui estimasi serapan karbon pada ekosistem ini, diharapkan menjadi dasar pengembangan penelitian, dan peningkatan upaya konservasi ekosistem mangrove di wilayah tersebut. Metode Penelitian 1 Lokasi dan Waktu Penelitian Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Gambar 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 dan 16 November 2024 di Pulau Tidung Kecil. Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Kabupaten Kepulauan Seribu. Jakarta. Lokasi stasiun yang dijadikan tempat observasi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Koordinat X dan Y Stasiun Nomor Stasiun Koordinat X (Longitud. Y (Latitud. *nomor stasiun dijadikan sebagai titik terdekat untuk mengambil plot ekosistem mangrove. Padat Tabel 1 lokasi penelitian dilakukan di bagian Barat Pulau Tidung Kecil dengan mengambil lokasi persebaran sebanyak 4 Pengambilan lokasi ini berdasarkan persebaran dominan ekosistem mangrove yang berada pada sisi kiri pulau ini. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Gambar 2. Lokasi Stasiun untuk Pengambilan Sampel Penentuan lokasi stasiun seperti pada Gambar 2, digunakan untuk mengambil plotting terdekat dari stasiun (Susiana. Penentuan menyesuaikan dengan keberadaan mangrove di suatu kawasan. Persebaran stasiun ini akan dijadikan perbandingan di dalam hasil penelitian . 2 Metode Penelitian meter . digunakan untuk membuat kuadran transek pada sampling lapangan. Instrumen pencatatan mangrove digunakan untuk mencatat keliling dari tegakan . , jenis individu, dan formulasi pengukuran diameter . Meteran kain digunakan untuk melakukan pengukuran keliling batang setinggi dada (Girt at Breast Heigh. atau 1,3 m dari tanah (Kangkuso et al. Metode penelitian ini menggunakan data primer melalui groundchecking pada vegetasi mangrove di Pulau Tidung Kecil . agian utara dan selata. , serta data sekunder berupa citra Sentinel 2A. World Imagery Hybrid, melakukan metode supervised dan perhitungan blue carbon. Alat yang digunakan pada penelitian di antaranya, tali tambang, instrumen pencatatan identifikasi jenis mangrove. ArcGIS Pro. Sentinel 2A. Timestamp Camera. Ms. Ecxel, dan ImageJ. Tali tambang 1x1 Buku identifikasi mangrove digunakan untuk mengidentifikasi jenis mangrove. Software ArcGIS Pro digunakan untuk melakukan pemetaan sebaran mangrove dan pembuatan peta tematik lokasi penelitian. Sentinel 2A (Sidik & Kadarisman, 2. , digunakan untuk menentukan persebaran Aplikasi Timestamp Camera digunakan untuk menentukan titik koordinat. Ms. Excel digunakan untuk mengolah data keliling ImageJ Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. digunakan untuk menentukan data yang diambil dalam penelitian ini berupa data vegetasi hutan mangrove Pulau Tidung Kecil. Data vegetasi yang dikumpulkan meliputi data jenis/spesies pohon dan Data sampel acak terstratifikasi (Rahim et al. 3 Analisis Data Kerapatan Individu Nilai berdasarkan perbandingan jumlah mangrove dengan jumlah plot di dalam suatu stasiun (E. Dharmawan et al. , 2. , yang telah disesuaikan untuk penelitian ini sebagai berikut: yayaAyaycn = yayaAyaycn yuU a. Kerapatan Kanopi Nilai ditentukan dari banyaknya tutupan yang diambil gambarnya pada ketinggian 1/3 dari tegakan pohon mangrove di dalam satu plot dan di bawah kanopi seperti pada gambar 2 (E. Dharmawan et al. , 2. menggunakan metode Hemisfer Fotografi atau metode Lengkungan Cabang. Setelah itu, gunakan software ImageJ untuk menentukan jumlah pixel kanopi dan jumlah pixel total, dengan rumus perhitungan sebagai berikut, % yaycaycuycuycyycn ycAycaycuyciycycuycyce: ycEycnycuyceyco yaycaycuycuycyycn ycEycnycuyceyco ycNycuycycayco AA. Pengukuran Diameter Mangrove Untuk mengetahui DBH (Diameter at Breast Hig. , lingkaran dari tegakan mangrove (Girth at Breast Hig. yang telah diukur, dibagi dengan nilai pi (A) (E. Dharmawan et al. yayaAyaycn = yayaAyaycn yuU a. Keterangan: DBHi : Diameter tegakan pada jenis tertentu GBHi : Lingkaran pada tegakan jenis tertentu : Konstanta Formulasi Kandungan Biomassa Berdasarkan hasil identifikasi jenis vegetasi mangrove di kawasan Pulau Tidung Kecil, hanya ditemukan satu dominasi jenis tegakan pohon yaitu Rhizophora mucronata, sehingga formulasi yang digunakan untuk menghitung biomassa mangrove seperti pada tabel 2. Tabel 2 Model Persamaan Allometrik untuk Estimasi Biomassa Mangrove Jenis Individu Ryzhopora Gambar 3. Contoh Ilustrasi Pengambilan Gambar Hemispherical Photograpghy Pengukuran kanopi mangrove dalam area seluas 1x1 meter melibatkan beberapa tahap Pertama, ukur diameter batang utama dan tinggi pohon mangrove. Kemudian, tentukan sudut kemiringan cabang dan jarak antara cabang. Untuk Mucronata Allometric Equation Wi= Referensi (S. 0,1466*DBH Dharmawan, 2,3136 Keterangan: : Biomassa . DBH : Diameter setinggi dada . Formulasi Cadangan Karbon Jumlah cadangan karbon dalam suatu biomassa dapat dihitung menggunakan formulasi (SNI 7724:2019, 2. sebagai Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. tegakan (Rifandi, 2. , sebagai berikut: Cv = Bi . y % C yaya = 3,67 ycu Cn. Keterangan: : Kandungan karbon pada Mangrove (Cyclic Voltametr. % C organik : Konstanta karbon sebesar 47% . dari biomassa pohon mangrove Bi . Biomassa Keterangan: : Serapan Karbon (CO. Elemental Carbon : Cadangan Karbon (Ind. /k. 3,67 : Rasio atom Carbon:12. Carbon Dioxide (Carbon: 12. Oxygen:. sehingga konversi unsur = . /12. (CO2/k. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Formulasi Serapan Karbon Perhitungan serapan karbon dapat dihitung menggunakan formulasi perbandingan rasio atom di dalam cadangan karbon pada tiap Kerapatan Individu dan Mangrove Pulau Tidung Kecil Kanopi Gambar 4. Lokasi Observasi Pulau Tidung Kecil Selatan Pada Gambar 4, penentuan lokasi plotting terstratifikasi pada 2 stasiun di bagian Selatan. Plotting yang tersebar secara acak, bertujuan mengetahui perbedaan diameter dengan untuk mengambil sampel pada tiaptiap stasiun yang dilakukan observasi. Persebaran plotting ditentukan berdasarkan keberadaan ekosistem mangrove sebagai Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. sampel penelitian. Sehingga, pada stasiun 1 terdapat 3 plotting yang tersebar di bagian timur stasiun sebanyak 2 titik, dan 1 titik pada bagian barat stasiun. Sementara itu, pada stasiun 2 terdapat 3 plotting yang tersebar di bagian tenggara stasiun sebanyak 2 titik, dan 1 titik pada bagian barat stasiun. Gambar 5. Lokasi Observasi Pulau Tidung Kecil Utara Pada bagian utara Pulau Tidung Kecil, pengambilan sampel dilakukan dengan memerhatikan kerapatan antar pohon dan juga persebaran ekosistem mangrove yang saling menyambung dari bagian barat Pulau Tidung Kecil sampai ke bagian timur pulau. Pengambilan sampel pada stasiun 3, berjumlah 3 titik, dengan 2 titik pada bagian barat daya stasiun, dan 1 titik pada bagian timur stasiun. Pada stasiun 4, terdapat 3 titik yang tersebar pada bagian selatan stasiun (Gambar . Tabel 3 Kerapatan Individu Mangrove plot/m2 Pulau Tidung Kecil Nomor Stasiun Kerapatan Individu . 1,67 1,83 1,75 2,33 Rata-rata 1,92 Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Hasil pengukuran dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan kerapatan individu mangrove di empat stasiun yang tertera pada Tabel 3. Setiap stasiun memberikan nilai kerapatan yang berbeda pada jumlah individu di dalam m2. Perbedaan nilai kerapatan individu di dalam transek, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perbedaan kondisi lingkungan, jenis substrat, serta tingkat gangguan antropogenik seperti sampah laut dan limbah mikro plastik di area tersebut. Pada stasiun 1, kerapatan individu mangrove tercatat sebesar 1,67 mA, yang merupakan nilai Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. terendah di antara semua stasiun yang Sementara itu, kerapatan mangrove di Stasiun 2 dan Stasiun 3 sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Stasiun 1, dengan kerapatan masing-masing sebesar 1,83 mA dan 1,75 mA. Stasiun 4 memiliki kerapatan tertinggi, yaitu 2,33 mA. Hal ini menunjukkan bahwa stasiun ini memiliki kondisi lingkungan yang paling optimal untuk pertumbuhan mangrove. dibandingkan dengan stasiun lainnya. Secara keseluruhan, rata-rata kerapatan individu mangrove di keempat stasiun mencapai 1,92 mA, yang mencerminkan kondisi kerapatan mangrove yang cukup baik. Tabel 4 Jumlah Tegakan dan Tutupan Kanopi Mangrove Pulau Tidung Kecil Nomor Stasiun Jumlah Individu Tutupan Canopy (%) 78,63 78,73 70,82 78,60 Rata-rata 76,69 Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Dengan rata-rata tutupan 76,69% dari 35 tegakan mangrove, ekosistem ini dapat dikondisikan sebagai vegetasi yang rindang dan kerapatan yang cukup memadai. Kanopi yang rapat ini memberikan perlindungan yang cukup bagi area di bawahnya, meningkatkan fotosintesis tanaman, dan erosi pada pesisir. Akar mangrove yang kokoh, didukung oleh kanopi yang padat, menciptakan perlindungan alami dari gelombang laut. Sebagai bagian dari siklus karbon biru, kawasan ini menyerap karbon dalam jumlah signifikan, menunjukkan efisiensi dalam melakukan penyerapan Berdasarkan hasil observasi, didapatkan substrat di Stasiun 4 memiliki struktur yang lebih baik dan memiliki proporsi kadar air, salinitas, serta nutrisi yang sesuai untuk mendukung pertumbuhan mangrove. Selain itu, tingkat tekanan antropogenik di stasiun ini dinilai lebih rendah depresinya Gambar 6. Sampel Kanopi Stasiun 1 Tutupan kanopi dari pohon mangrove yang terlihat pada Gambar 6, menunjukkan persentase tutupan sebesar 78,63% . Angka ini mencerminkan kondisi ekosistem mangrove yang cukup baik dan padat. Dengan tutupan yang mencapai 78,63%. Kerapatan kanopi yang tinggi ini berfungsi penting dalam mengurangi penetrasi sinar matahari ke dasar hutan, menjaga kelembapan, serta memberikan perlindungan yang optimal bagi ekosistem di bawah kanopi. Tutupan kanopi yang memadai juga mendukung siklus karbon biru, karena pohon-pohon mangrove yang tumbuh rapat lebih efisien dalam menyerap dan menyimpan Gambar 7. Sampel Kanopi Stasiun 2 Dengan tutupan kanopi mencapai 78,73% pada 11 tegakan mangrove dalam Gambar 7, ekosistem ini menunjukkan karakteristik yang Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. rapat dan padat. Kanopi yang berdekatan, berperan dalam menjaga kelembapan tanah. Kanopi yang padat mampu menahan curah hujan, mencegah air turun langsung ke permukaan tanah, dan mengurangi laju limpasan air. Kanopi yang rapat dapat berkontribusi sebagai penyerap karbon yang signifikan dalam siklus karbon biru, membantu menurunkan emisi karbon, dan menyimpan karbon dalam biomassa serta tanah, yang berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Gambar 9. Sampel Kanopi Stasiun 4 Dengan tutupan sebesar 78,60% dalam Gambar 9, kondisi mangrove terlihat rapat dan Kanopi juga hampir menutupi seluruh area pemotretan. Kanopi yang padat berfungsi dengan baik untuk mengurangi limpasan air hujan, dan menjaga stabilitas kelembaban. Kanopi ini memiliki peran penting dalam siklus karbon biru, dengan efisiensi tinggi dalam menyerap karbon dioksida dan menyimpannya dalam biomassa serta tanah. Persentase 78,60% menunjukkan bahwa ekosistem berada dalam keadaan yang baik. Gambar 8. Sampel Kanopi Stasiun 3 Tutupan kanopi sebesar 70,82% dalam Gambar 8 mencerminkan kondisi yang cukup baik, meskipun persentase tidak >75%. Tegakan ini masih berhasil menciptakan lingkungan yang teduh dan meminimalkan penetrasi cahaya matahari ke Dengan tutupan yang cukup lebat, kanopi ini mampu menahan air hujan, mengurangi dampak erosi, dan mendukung infiltrasi air ke dalam tanah. Mangrove berperan sebagai penyangga yang mencegah limpasan air secara langsung ke laut. Dengan tutupan kanopi sekitar 70%, kemampuan pohon untuk menyerap karbon tetap signifikan, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan dengan kanopi yang lebih rapat. Diameter Setinggi Dada pada Tegakan Mangrove Pulau Tidung Kecil Tabel 5 Diameter Setinggi Dada (DBH) pada Mangrove Nomor Stasiun Rerata DBH Rata-rata DBH : Diameter at Breast High (Diameter setinggi Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Diameter mangrove yang di dapatkan, memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan selisih A1-2,5 cm antar stasiun Perbedaan ini dapat disebabkan oleh Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. beberapa faktor di antaranya usia, ketersediaan nutrisi, iklim, salinitas air laut, dan adaptasi ekosistem mangrove terhadap kondisi lingkungan (Hagger et al. , 2. Secara umum ukuran diameter tegakan >10 berdasarkan tingkat perkembangan struktur hutan mangrove (Vinh et al. , 2. Pengukuran diameter mangrove setinggi dada (Diameter at Breast Hig. di empat stasiun observasi, menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan. Hasil pengukuran terbesar berada di stasiun 2 dengan rata-rata diameter 14,5 cm, sementara hasil pengukuran terkecil ditemukan di stasiun 3, yaitu 11 cm. Hasil ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mangrove bervariasi di setiap stasiun yang dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti jenis substrat, kadar salinitas, dan ketersediaan nutrisi pada pohon. Gambar 11. Sampel Tegakan Stasiun 2 Stasiun 2 mencatat DBH tertinggi di antara keempat stasiun, yaitu 14,5 cm. Besarnya diameter yang diukur menandakan stasiun ini memiliki kondisi yang paling optimal untuk pertumbuhan mangrove. Lingkungan yang kondusif di stasiun ini dapat mendukung pertumbuhan pada ekosistem mangrove dan DBH yang lebih besar mengindikasikan penyerapan karbon di Pulau Tidung Kecil. Gambar 10. Sampel Tegakan Stasiun 1 Di stasiun 1, diameter setinggi dada (DBH) mencapai 13,6 cm, menandakan bahwa mangrove di lokasi ini dapat tumbuh dengan baik dengan diameter >10 cm. Hal ini menunjukkan habitat mangrove di stasiun tersebut relatif stabil dan sehat. Secara ekologi, ukuran DBH yang lebih besar berhubungan dengan kemampuan yang lebih tinggi dalam menyerap karbon dioksida dan menyimpan karbon. Oleh karena itu, stasiun ini dapat berkontribusi secara signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim. Gambar 12. Sampel Tegakan Stasiun 3 Stasiun 3 mencatat DBH terkecil, yaitu 11 cm. Hasil pengukuran menunjukkan kondisi lingkungan di stasiun ini kurang mendukung dalam pertumbuhan optimal mangrove. Jika dibandingkan dengan stasiun lainnya, ukuran DBH yang lebih kecil juga dapat diartikan usia mangrove pada stasiun 3 relatif lebih muda. Meskipun demikian, mangrove di stasiun ini Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. memiliki pengaruh karena persebarannya yang cukup luas. yang berada di kawasan selatan. Perbedaan ini dapat dilihat dari sebaran mangrove dan ukuran diameter pada tiap tegakan pohon yang ada di Pulau Tidung Kecil. Estimasi Biomassa Mangrove Tabel 6 Estimasi Biomassa Individu Mangrove Gambar 13. Sampel Tegakan Stasiun 4 Stasiun 4 menunjukkan DBH sebesar 12,1 pertumbuhan mangrove yang relatif mendekati rata-rata dari keseluruhan stasiun. Selisih besarnya diameter dalam pengukuran DBH, menunjukkan bahwa mangrove di stasiun ini tetap memiliki peluang pertumbuhan yang baik dan mampu berkontribusi dalam penyimpanan karbon. Besarnya diameter mangrove yang berada pada stasiun 4, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kandungan lingkungan, pasang surut air laut, suhu, dan tingkat salinitas suatu perairan di dalam ekosistem mangrove (Susiana, 2. Dengan rata-rata DBH sebesar 12,8 cm, ukuran ini sudah memasuki usia dewasa dengan diameter >10cm. Mengingat variasi antar stasiun tidak terlalu signifikan, lokasi dengan nilai DBH rendah, seperti stasiun 3, rehabilitasi ekosistem untuk meningkatkan penyerapan karbon. Sebaliknya, lokasi dengan nilai DBH tinggi, seperti stasiun 2, dapat dijadikan lokasi pengelolaan sebagai upaya dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya yang cukup optimal dalam menyerap karbon. Mangrove pada bagian utara . tasiun 4 dan stasiun . memiliki kemungkinan usia mangrove yang relatif lebih muda daripada Stasiun 1 dan 2 Nomor Stasiun Biomassa . g/m. 122,94 142,58 75,24 93,82 Rata-rata 108,64 *pada setiap m2 terdapat 2 . individu mangrove berjenis Rhizophora mucronata dari observasi yang dilakukan pada transek 1m x 1m. Bi = Biomassa Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Biomassa pada pohon mangrove ditentukan berdasarkan ukuran atau diameter pohon dan akan terus bertambah seiring meningkatnya usia pohon, hal ini dikarenakan pembelahan sel dan melambatnya pertumbuhan saat memasuki usia tertentu (Mangore et al. , 2. Biomassa mangrove yang diperoleh melalui persamaan allometrik berbeda-beda dari setiap stasiun yang dilakukan observasi. Perbedaan ini menunjukkan keadaan pohon besarnya diameter tegakan yang mempengaruhi kandungan biomassa suatu individu. Pada stasiun 1, biomassa yang diestimasikan mencapai 122,94 kg/m2. Pada hasil perhitungan estimasi Biomassa rata-rata individu mangrove, didapatkan hasil seberat 108,64 kg/m2. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu pada lokasi penelitian yang berbeda. Biomassa mangrove berjenis Rhizophora mucronata terbilang lebih kecil Bruguiera gymnorhiza dengan estimasi Biomassa 456,02 kg/m2 (Mangore et al. , 2. Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Berdasarkan tabel 6, maka untuk penentuan carbon di dalam suatu tegakan, dapat dihitung menggunakan 47% . bagian Estimasi peneyrapan karbon digunakan untuk mengetahui kemampuan individu mangrove dalam m2 dalam menyerap karbon. Sehingga di dapat kandungan karbon tiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 8. biomassa kecil. Sementara itu. Stasiun 4 mencatat cadangan karbon mangrove sebesar 44,09 kg/mA, yang lebih tinggi dibandingkan dengan Stasiun 3. Meskipun masih kurang optimal jika dibandingkan dengan Stasiun 1 dan Stasiun 2, upaya peningkatan konservasi ekosistem mangrove dapat dilakukan dengan harapan meminimalisir tekanan ekologis yang terjadi di area mangrove. Estimasi Cadangan dan Serapan Karbon Vegetasi Mangrove Pulau Tidung Kecil Nomor Stasiun Cv . g/m. 57,78 67,01 Secara rata-rata cadangan karbon individu mangrove dari empat stasiun tersebut mencapai 51,06 kg/mA. Angka ini menunjukkan kontribusi penting ekosistem mangrove Pulang Tidung Kecil dalam menyimpan karbon. Sehingga hasil cadangan karbon yang sudah diketahui dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui serapan karbon yang dapat dilakukan pada tiap-tiap stasiun. 35,36 Tabel. 7 Estimasi Serapan Karbon Individu Mangrove 44,09 Rata-rata 51,06 Tabel. 8 Estimasi Cadangan Karbon Individu Cv = Jumlah cadangan karbon pada individu mangrove (Cyclic Voltametr. Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Pada Stasiun 1, cadangan karbon mencapai 57,78 kg/mA. Angka ini menunjukkan cadangan karbon yang cukup tinggi dari mangrove di lokasi ini. Tingginya cadangan karbon dipengaruhi oleh diameter tegakan yang dapat menyimpan karbon sebanyak 47% dari biomassa. Stasiun 2 menunjukkan cadangan karbon tertinggi, yaitu 67,01 kg/mA, yang menunjukkan bahwa ekosistem mangrove pada stasiun ini mencapai umur dewasa dengan kemampuan penyimpanan karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketiga stasiun lainnya. Di sisi lain. Stasiun 3 menunjukkan nilai cadangan karbon terendah, yaitu 35,36 kg/mA. Nilai yang rendah ini dapat mengindikasikan adanya tekanan ekologis, seperti degradasi habitat atau gangguan akibat aktivitas manusia, serta faktor lain seperti ekosistem mangrove yang relatif muda dan memiliki Nomor Stasiun EC . g/m2/har. 212,05 245,92 129,77 161,81 Rata-rata 187,39 EC = Jumlah serapan karbon dioksida pada individu Sumber : Olahan data Field Trip 2024 Pada Stasiun 1, estimasi penyerapan karbon mencapai 212,05 kg/mA/hari, hal ini menunjukkan kemampuan penyerapan yang sangat baik. Pada Stasiun 2 terdapat estimasi penyerapan karbon tertinggi di antara semua stasiun, yaitu 245,92 kg/mA/hari. Ini menunjukkan bahwa mangrove di lokasi tersebut mampu melakukan fotosintesis untuk melakukan penyerapan karbon. Tingginya serapan karbon di Stasiun 2 dapat dijadikan sebagai potensi pengembangan konservasi mangrove di kawasan sekitar stasiun. Sebaliknya. Stasiun 3 mencatat estimasi serapan karbon terendah, yaitu 129,77 kg/mA/hari. Hal ini hal ini menandakan tingkat Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. biomassa yang lebih rendah atau keberadaan mangrove muda yang belum mencapai kemampuan optimal dalam penyerapan Pada Stasiun 4, estimasi penyerapan karbon diketahui sebesar 161,81 kg/mA/hari, lebih tinggi daripada Stasiun 3 . ,77 kg2/m2/har. Secara keseluruhan, rata-rata estimasi penyerapan karbon dari keempat stasiun sebesar 187,39 kg/mA/hari. Rata-rata tersebut menjadi indikasi bahwa mangrove di area penelitian secara umum memiliki kapasitas yang cukup signifikan untuk menyerap karbon. Oleh karenanya dapat dilakukan beberapa upaya seperti pemeliharaan, rehabilitasi ekosistem, dan pemantauan secara spasial untuk meningkatkan penyerapan karbon. 2 Pembahasan Supervised Sentinel-2A pada Ekosistem Mangrove Pulau Tidung Kecil Gambar 14 Sebaran Mangrove Menggunakan Supervised Sentinel 2A Penentuan sebaran mangrove dilakukan dengan remote sensing pada Band 8, 4, dan 11 menggunakan ArcGIS Pro serta observasi langsung di Pulau Tidung Kecil (Rais et al. , 2. Luas kawasan hutan mangrove pulau tidung kecil menggunakan supervised yang dilakukan klasifikasi sebesar 2,31 ha-1 dan tersebar di sisi barat Pulau dengan dominasi jenis Rhizophora mucronata, sementara klasifikasi daratan hasil supervised di Pulau Tidung Kecil seluas 17,49 Dengan mengklasifikasikan tutupan lahan sebagai daratan tanpa memerhatikan jenis vegetasi . , perumahan, lahan terbuka, dan Estimasi blue carbon pada Seluruh Kawasan Pulau Tidung Kecil Jurnal Sains Geografi, 1. , 2023. DOI: 10. 2210/jsg. Tabel 9 Parameter pendugaan Blue Carbon pada Seluruh Kawasan Mangrove di Pulau Tidung Kecil Jenis Mangrove Bi SK . Bi SK . Cv SK . EC SK . on CO. Rhizophora mucronata 250,96 117,94 432,86 : Biomassa : Stok karbon : Serapan karbon : Seluruh Kawasan Rata-rata Biomassa: 108,645 . on/h-. Luas kawasan mangrove: 2,31 ha-1 Sumber: Olahan data Field Trip 2024 Berdasarkan perhitungan pada tiap individu, maka perhitungan pada seluruh kawasan didapatkan dari hasil supervised Sentinel2A. Estimasi pengukuran yang didapatkan pada seluruh kawasan seluas 2,31ha-1, didapatkan hasil biomassa sebesar 250,96 ton, cadangan karbon sebesar 117,94 ton, dan serapan karbon sebesar 432,86 . on/CO. Hasil perhitungan dikonversikan ke dalam satuan hektar . dan didapatkan biomassa rhizhopora mucronata di Pulau Tidung Kecil sebesar 108,64 ton/ha-1, cadangan karbonnya 51,06 ton/ha-1, dan serapan karbon sebesar 187,39 ton/ha-1. Hasil penelitian di Pulau Tidung Kecil terbilang lebih rendah jika dibandingkan dengan temuan pada penelitian sebelumnya di Sulawesi Tenggara, yang masing-masing parameter mencapai 189,32 ton/ha-1, 88,98 ton/ha-1, dan 326,55 ton/ha-1 (Kangkuso et , 2. Kesimpulan Peran ekosistem mangrove terhadap siklus karbon biru, memiliki pengaruh yang besar terhadap kestabilan iklim dan konsentrasi CO2 di suatu wilayah. Penelitian mengenai estimasi serapan karbon pada ekosistem mangrove Rhizhopora mucronata di Pulau Tidung Kecil, dapat diketahui total biomassa 969,95 kg atau 250,96 ton, sementara total stok karbon di seluruh kawasan yaitu sebesar 117,94 ton dengan serapan karbon sebesar 432,86 ton CO2. Dengan adanya penelitian ini diharapkan penguatan konservasi dan penyusunan kebijakan pengelolaan kawasan mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan di ekosistem mangrove Pulau Tidung Kecil. Daftar Pustaka