JEBI Vol. No. 2 pp. Copyrigt A 2025 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTS Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia GREEN BANKING. EFISIENSI BIAYA OPERASIONAL (BOPO). DAN PROFITABILITAS: BUKTI EMPIRIS PADA PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BEI PERIODE 2020Ae2024 Green Banking. Operational Cost Efficiency (BOPO), and Profitability: Empirical Evidence from Banks Listed on the Indonesia Stock Exchange 2020Ae2024 Rima Oktavia1. Dina Khairuna Siregar2. Ulfi Jefri3 1,2,3Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Bina Bangsa Email: rimaoktavia2k1@gmail. Tanggal diterima: 25 Desember 2025 ABSTRACT Environmental degradation and the increasing risks of climate change have encouraged the banking sector to integrate sustainability principles through the implementation of green banking. This study aims to analyze the effect of green banking and operational costs to operating income (BOPO) on the profitability of banks listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2020Ae2024 period. Green banking is measured using the Green Banking Disclosure Index (GBDI), while operational cost efficiency is proxied by the BOPO ratio (Operating Expenses to Operating Incom. , and profitability is proxied by Return on Assets (ROA). This study employs a descriptive quantitative approach. The results indicate that green banking has no significant effect on profitability, whereas the BOPO ratio has a negative and significant effect on profitability. However, jointly, both variables have a significant effect on profitability. These findings imply that banks need to integrate sustainability principles into their business strategies by shifting credit portfolios toward sustainable sectors rather than focusing solely on short-term profits. Furthermore, green banking should be internalized within banking operations through environmentally friendly practices to improve operational cost efficiency. In addition, banks are required to manage the BOPO ratio efficiently, as operational efficiency plays a crucial role in enhancing profitability and maintaining long-term competitiveness. Keywords: Green Banking. Operational Cost Efficiency. Profitability. Banking ABSTRAK Kerusakan lingkungan dan meningkatnya risiko perubahan iklim mendorong sektor perbankan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan melalui penerapan green banking. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh green banking dan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) terhadap profitabilitas perbankan yang terdaftar di BEI periode 2020- 2024. Green banking diukur melalui indikator Green Banking Disclosure Index (GBDI), sedangkan efisiensi biaya operasional diproksikan dengan rasio BOPO (Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasiona. dan profitabilitas diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Green Banking tidak berpengaruh terhadap profitabilitas sedangkan Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas. Namun, secara bersama-sama kedua variabel berpengaruh signifikan. Temuan penelitian ini mengimplikasikan bahwa perbankan perlu mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis dengan mengalihkan portofolio kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tanpa hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Penerapan green banking juga harus diinternalisasikan dalam operasional perbankan melalui praktik ramah lingkungan guna meningkatkan efisiensi biaya Selain itu, perbankan dituntut untuk mengelola rasio BOPO secara efisien karena efisiensi operasional tersebut berperan penting dalam meningkatkan profitabilitas dan daya saing perbankan secara berkelanjutan. Kata Kunci: Green Banking. BOPO. Profitabilitas. Perbankan PENDAHULUAN Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Kerusakan lingkungan dan dampak perubahan iklim baik secara global maupun nasional, tidak dapat dipisahkan dari intervensi aktivitas manusia. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia, seperti banjir dan longsor yang melanda pulau Sumatera pada akhir November 2025. Data yang tercatat dari Harian Kompas . /12/. selama periode 34 tahun terakhir menunjukkan bahwa kawasan hutan di Provinsi Aceh. Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah mengalami kehilangan rata-rata sebesar 36 ribu hektar per tahun. Secara kumulatif, luas hutan yang hilang telah mencapai sekitar 1,2 juta hektar, setara dengan dua kali luas Pulau Bali (Ramadhan. Krisna and Rosalina, 2. Lahan hutan yang hilang tersebut telah berubah menjadi perkebunan sawit, disusul Hutan Tanaman Industri (HTI), perluasan perkotaan, pertambangan, sementara sisanya beralih fungsi menjadi lahan pertanian, bakau, dan lain lain. pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati secara Dalam konteks ekonomi, degradasi lingkungan yang terjadi ini merupakan konsekuensi dari kegiatan usaha yang berorientasi mengejar keuntungan yang seringkali didukung oleh pembiayaan dari sektor keuangan, termasuk perbankan(Sari. Fasa and Fachri, 2. Sektor perbankan memiliki peran strategis dalam fenomena ini melalui pembiayaan yang disalurkan kepada sektor-sektor berisiko tinggi terhadap lingkungan (Sanda et al. , 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas perbankan memiliki kontribusi tidak langsung terhadap degradasi lingkungan dan berpotensi menimbulkan risiko keuangan di masa depan. Kasus banjir di pulau Sumatera menggambarkan bagaimana sumber daya alam seperti hutan, lahan serapan air, dan keanekaragaman hayati diperlakukan sebagai modal alam yang dieksploitasi, sementara nilai keberlanjutan dan ekosistem seperti pengaturan tata air dan pencegahan erosi sering diabaikan (Hanif. Ningsih and Iqbal, 2. Akibatnya, hilangnya tutupan hutan dan daya dukung lingkungan tersebut menjadi pemicu langsung meningkatnya kerentanan wilayah terhadap bencana banjir dan longsor, sekaligus mencerminkan kegagalan sistemik dalam mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dalam kebijakan pembiayaan dan pembangunan. Prinsip dasar keuangan berkelanjutan menekankan pada triple bottom line atau prinsip 3P (Profit. People. Plane. yang mengharuskan perbankan tidak hanya berfokus mencari profit atau keuntungan semata tetapi harus sejalan dengan kepentingan social dan kelestarian lingkungan dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang bukan pada keuntungan jangka pendek. Hal tersebut bertentangan dengan komitmen global dalam pengendalian kerusakan lingkungan pasca disepakati Perjanjian Paris 2015. Laporan (Forest and Finance, 2. mengonfirmasi bahwa aliran pendanaan perbankan global masih terus mengarah ke industri-industri yang berisiko terhadap kelestarian hutan. Sejak kesepakatan tersebut, total kredit yang disalurkan mencapai lebih dari US$ 395 miliar, dengan US$ 77 miliar di antaranya dikucurkan dalam waktu singkat Januari 2023AeJuni 2024. Bahkan, pada tahun 2023, nilai kredit sektor ini membengkak menjadi US$ 53 miliar. Dalam mengukur pelaksanaan Green Banking oleh perbankan yang digunakan adalah Green Banking Disclosure Index (GBDI) adalah kumpulan item yang digunakan untuk melihat sejauh mana sebuah bank atau lembaga keuangan mengungkapkan praktik dan komitmen mereka terhadap prinsip green banking atau perbankan ramah lingkungan yang terdiri dari 21 indikator dan menurut (Rina, 2. diklasifikasikan ke dalam empat domain utama, yaitu: . green product, yang berkaitan dengan pengembangan produk dan layanan perbankan berorientasi pada efisiensi energi. green operational, yang menggambarkan penerapan operasional bank yang ramah lingkungan, seperti penggunaan sistem tanpa kertas . green customer, yang berfokus pada upaya bank dalam mengedukasi nasabah agar memanfaatkan teknologi digital secara bertanggung jawab terhadap lingkungan. green policy, yang mencerminkan kebijakan perbankan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan. Di kawasan Asia Tenggara menurut data (Forest and Finance, 2. komposisi kredit perbankan berisiko hutan didominasi oleh kelapa sawit . %), diikuti pulp dan kertas . %) serta karet . %) sejak 2018. Aliran kredit tahunan di kawasan ini rata-rata mencapai US$ 11 miliar, dengan puncaknya US$ 22 miliar pada 2021. Fakta ini semakin menguat ketika bank-bank Indonesia yang memiliki kapitalisasi terbesar di Asia Tenggara tercatat berperan sebagai penyandang dana utama bagi komoditas penyebab deforestasi, terutama dengan mendanai korporasi domestik di sektor sawit, pulp-kertas, dan karet. Aliran pendanaan ini tidak hanya mencerminkan lemahnya penerapan prinsip keberlanjutan dalam praktik perbankan, tetapi juga menjadi JEBI Vol. No. 2, pp. Sebagai respons terhadap meningkatnya risiko lingkungan. Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-21/D. 01/2021 tentang Roadmap Keuangan Berkelanjutan tahap II . (Otoritas Jasa Keuangan, 2. disusun sebagai kelanjutan Roadmap Tahap I . 5Ae2. Roadmap ini bertujuan untuk mempercepat penerapan prinsip Lingkungan. Sosial, dan Tata Kelola (LST) di sektor jasa keuangan. OJK menilai bahwa keuangan berkelanjutan menjadi kunci dalam mendukung pemulihan ekonomi, mitigasi perubahan iklim, dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, yang mewajibkan bank mengintegrasikan risiko lingkungan dan sosial dalam manajemen risiko. Regulasi tersebut menegaskan bahwa risiko lingkungan telah menjadi bagian dari risiko keuangan yang dapat mempengaruhi kinerja dan stabilitas bank. Dalam kerangka penerapan Keuangan Berkelanjutan, konsep Green Banking mengintegrasikan aspek lingkungan dalam kebijakan dan aktivitas bisnis bank (Firmansyah and Kartiko, 2. Green banking adalah bentuk penerapan konsep ekonomi hijau di sektor perbankan yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan (Oktavianni and Fasa, 2. Pendekatan ini menekankan penggunaan praktik operasional yang ramah lingkungan sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka panjang (Asyura and Syahputri, 2. Salah satu pilar utama Green Banking adalah pembiayaan hijau, yaitu pembiayaan yang dialokasikan pada proyek energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia limbah, dan kegiatan usaha berkelanjutan (Siddiq. Sibarani and Wisudanto, 2. Pembiayaan hijau dinilai lebih adaptif terhadap regulasi jangka panjang dan memiliki potensi risiko kredit yang lebih rendah dibandingkan pembiayaan konvensional yang merusak lingkungan (Furqan, 2. Namun demikian, di Indonesia, porsi pembiayaan hijau masih relatif kecil dibandingkan pembiayaan pada sektor berisiko kepada lingkungan (Furqan, 2. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas implementasi Green Banking masih menjadi isu yang perlu dikaji lebih lanjut. Selain dalam aspek pembiayaan, implementasi Green Banking juga tercermin dalam operasional perbankan yang ramah lingkungan. Perbankan mulai menerapkan digitalisasi layanan melalui mobile banking dan internet banking, penggunaan sistem transaksi tanpa kertas . , serta efisiensi energi pada gedung dan infrastruktur operasional (Hendratni. Dw and Harsono, 2. Praktik ini berkontribusi pada penurunan konsumsi sumber daya dan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional (Zulfah and Khayati, 2. Dengan struktur biaya yang lebih efisien dan pemanfaatan aset yang optimal, operasional perbankan ramah lingkungan berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan bank. Meskipun implementasi green banking menunjukkan perkembangan positif, menurut (Wati and Fasa, 2. penerapannya di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang signifikan. Rendahnya tingkat kesadaran dan pemahaman tentang pembiayaan hijau, belum meratanya regulasi teknis, serta minimnya insentif fiskal menjadi hambatan utama, terutama bagi bank-bank kecil dan menengah dalam mengadopsi kebijakan keuangan Kondisi ini membuat inisiatif green banking cenderung lebih banyak dilakukan oleh bank-bank besar, sementara sebagian besar pelaku industri perbankan masih berada pada tahap awal transisi. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji sejauh mana adopsi green banking dapat menjadi determinan dalam menjaga dan meningkatkan profitabilitas sektor perbankan di Indonesia. Return on Assets (ROA) merupakan indikator utama dalam mengukur profitalitas perbankan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimiliki. Implementasi Green Banking, baik melalui pembiayaan hijau maupun operasional ramah lingkungan, berpotensi mempengaruhi ROA melalui dua mekanisme. Dalam jangka pendek, penerapan kebijakan hijau dapat menimbulkan biaya investasi awal. Biaya ini meliputi restrukturisasi sistem teknologi, pengembangan produk finansial ramah lingkungan, sertifikasi standar hijau, kapasitas sumber daya manusia, dan infrastruktur operasional berkelanjutan (Furqan, 2. Namun dalam jangka panjang. Green Banking dapat menurunkan risiko kredit bermasalah karena bank telah menyeleksi debitur lebih ketat berdasarkan kriteria lingkungan sehingga akan menurunkan resiko kredit macet (NPL) dan menurunkan biaya provisi dan kerugian kredit sehingga meningkatkan efisiensi operasional, serta penerapan green banking juga memperkuat reputasi bank di mata investor dan nasabah, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan ROA secara berkelanjutan. JEBI Vol. No. 2, pp. Berdasarkan masih tingginya pembiayaan perbankan pada sektor yang berpotensi merusak lingkungan serta belum optimalnya implementasi pembiayaan hijau dan operasional perbankan ramah lingkungan, diperlukan kajian empiris mengenai pengaruh Green Banking terhadap Return on Assets (ROA) perbankan di Indonesia. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya research gap, di mana hasil penelitian (Furqan, 2. menemukan bahwa Green Banking berpengaruh positif terhadap ROA hal ini disebabkan meningkatnya komitmen perbankan dalam penyaluran kredit hijau mendorong pertumbuhan volume pembiayaan berkelanjutan, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan profitabilitas bank. Sementara penelitian lain seperti (Asyura and Syahputri, 2. , (Mahardika and Fitanto, 2. , (Ramdani. Mawardi and Sulaeman, 2. , (Siddiq. Sibarani and Wisudanto, 2. serta (Thansania. Diana and Sari, 2. menemukan pengaruh negatif green banking terhadap ROA akibat tingginya biaya investasi awal, termasuk biaya kepatuhan, transisi teknologi ramah lingkungan, penyusunan laporan keberlanjutan, dan pelatihan sumber daya manusia yang menekan laba jangka pendek. Di sisi lain (Asfahaliza and Anggraeni, 2. , (Anggraini. Aryani and Prasetyo, 2. , (Mustika et al. , 2. , serta (Herawati and Desmiza, 2. menyatakan bahwa Green Banking tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA karena manfaatnya cenderung bersifat jangka panjang karena beban biaya dan investasi awal justru lebih dominan tercermin dalam laporan keuangan, sehingga kontribusi positif green banking terhadap peningkatan ROA belum signifikan. Perbedaan hasil tersebut menegaskan pentingnya penelitian ini untuk menguji apakah penerapan Green Banking mampu meningkatkan kinerja keuangan perbankan secara berkelanjutan. Selain Green Banking, profitabilitas bank sangat dipengaruhi oleh efisiensi biaya operasional (Mustika et al. Biaya operasional mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan bank untuk aktivitas sehari-hari seperti biaya gaji karyawan, sewa kantor, biaya teknologi informasi dan Bank dapat memaksimalkan keuntungan dan memperkuat daya saing di industri dengan mengelola biaya operasional dengan baik. Menurut (Mulyadi, 2. Efisiensi biaya operasional merupakan pencapaian output maksimum dengan input seminimal mungkin. Dalam konteks biaya, ini berarti organisasi mampu menghasilkan barang atau jasa dengan biaya serendah-rendahnya tanpa mengurangi kualitas Sehingga bank akan lebih tangguh dan fleksibel terhadap perubahan pasar dan lebih siap untuk bersaing dengan pesaing yang semakin ketat. Dalam penelitian ini, tingkat efisiensi biaya operasional direpresentasikan oleh rasio BOPO, yaitu biaya operasional dibandingkan dengan pendapatan operasional. Selama periode 2020Ae2024, nilai BOPO mengalami dinamika yang signifikan. Pada masa pandemi COVID-19 . 0Ae2. , tekanan ekonomi menyebabkan penurunan pendapatan operasional sementara beban operasional tetap tinggi, sehingga efisiensi menurun. Memasuki 2023Ae2024, berbagai langkah transformasi digital dan optimalisasi proses internal mulai memperkuat efisiensi. Bank yang mampu menekan BOPO menunjukkan efisiensi yang baik dan akan memperoleh profitabilitas yang lebih tinggi. Sebaliknya, peningkatan rasio BOPO akan menurunkan laba bersih bank. Masih terdapat hasil penelitian yang belum konsisten mengenai efisiensi biaya operasional (Mustika. Tripuspitorini Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia and Djuwarsa, 2. , (Hartati. Sudiyono and Sasono, 2. dan (Prayoga. Supriyadi and Nurhasanah, 2. menyimpulkan bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap profitabilitas (ROA), berlawanan dengan temuan (Zulfikar, 2. yang menunjukkan pengaruh positif biaya operasional terhadap profitabilitas. Perbedaan hasil ini mengindikasikan adanya ruang untuk penelitian lebih lanjut guna membuktikan hubungan antar variabel. METODE PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk menguraikan secara sistematis fakta dan karakteristik dari fenomena yang menjadi objek penelitian. Data diolah secara kuantitatif dan kemudian dianalisis agar memperoleh pemahaman objektif mengenai subjek penelitian. Populasi dan Sampel Penelitian ini menggunakan seluruh perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2020Ae2024 sebagai populasi penelitian, dengan total sebanyak 47 perusahaan. Teknik pemilihan sampel dilakukan secara purposive dengan mempertimbangkan kriteria tertentu, sehingga diperoleh 19 perusahaan yang memenuhi syarat sebagai sampel. Dengan rentang waktu pengamatan selama lima tahun, jumlah unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 95 observasi, yang berasal dari hasil perkalian antara jumlah perusahaan sampel dan periode Data yang dianalisis merupakan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Seluruh data diolah menggunakan perangkat lunak statistik SPSS versi 26, dengan tahapan analisis yang meliputi pengujian asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, serta pengujian hipotesis melalui uji parsial . dan uji simultan . ji F). Variabel Return On Asset (Y) Definisi Operasional Indikator Skala Pengukuran ROA = Laba Bersih/Total Rasio Rasio yang membandingkan Asset x 100% laba bersih terhadap total aset untuk menilai sejauh mana aset Green Banking merupakan prinsip kegiatan pada lembaga Green Banking keuangan dengan prioritas (X. Skor sustainability dalam setiap Diperoleh/Total Maksimal x 100% keseimbangan antara aspek lingkungan dapat tercapai. Menurut (Sugiono dan Efisiensi Biaya Untung, 2. Efisiensi biaya operasional (X. operasional adalah biaya yang timbul sehubungan dengan BOPO= Biaya penjualan atau pemasaran Operasional/Pendapatan barang dan jasa serta biaya Operasional yang timbul sebagai akibat dari fungsi administrasi dan umum dari perusahaan yang Rasio Yang Skor Rasio HASIL DAN PEMBAHASAN Penguji hipotesis Uji Normalitas Untuk memastikan bahwa data penelitian memenuhi asumsi normalitas, dilakukan pengujian menggunakan uji KolmogorovAeSmirnov. Ringkasan hasil pengujian normalitas disajikan dalam tabel berikut Operasional variabel Adapun variabel operasional dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Tabel 2. Uji Normalitas Tabel 1. Operasional Variabel One-Sample KolmogorovSmirnov Test Unstandardized Residual Normal Mean Paramet Std. Deviation Most Absolute Extreme Differenc Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. 200 c,d Test distribution is Normal. Calculated from data. Lilliefors Significance Correction. This is a lower bound of the true Sumber : data diolah, output SPSS 26 Berdasarkan tabel diatas hasil uji normalitas nilai Signifikan . -taile. diperoleh sebesar 0,200, karena nilai tersebut lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data penelitian berdistribusi normal. JEBI Vol. No. 2, pp. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Coefficients a Uji Regresi Linear Berganda Pengujian pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dilakukan melalui analisis regresi linear berganda, dengan koefisien regresi yang dihasilkan disajikan dalam tabel Coefficients a Standardized Coefficients Std. Error Beta Model (Constan. LN_GB LN_BOPO Dependent Variable: LN_Y (Constan. LN_GB LN_BOPO Std. Error Standardized Coefficients Sig. Beta Dependent Variable: LN_Y Tabel 3. Uji Regresi Linear Berganda Unstandardized Coefficients Model Unstandardized Coefficients Sig. Sumber : data diolah, output SPSS 26 Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, interpretasi model adalah sebagai berikut: Pengaruh green banking terhadap profitabilitas Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan SPSS, diperoleh nilai t hitung sebesar Ae0,445. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan dengan t tabel sebesar 1,985, serta didukung oleh nilai signifikansi sebesar 0,657 yang lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) diterima dan hipotesis alternatif (HCA) ditolak. Hasil ini menunjukkan bahwa secara parsial green banking tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020Ae2024. Konstanta sebesar 11,917 menunjukkan apabila semua variabel independen bernilai nol, maka profitabilitas adalah 11,917. Koefisien Green Banking sbesar -0,071 mengindikasikan setiap kenaikan 1 satuan pada Green Banking akan menurunkan profitabilitas sebesar 0,071, dan sebaliknya dengan asumsi variabel lain dalam keadaan konstan. Koefisien BOPO sebesar -2,647 menunjukkan setiap kenaikan 1 satuan rasio BOPO akan menurunkan profitabilitas sebesar 2,647, dan sebaliknya apabila terjadi penurunan Efisiensi Biaya Operasional akan menaikkan profitabilitas sebesar 2,647 dengan asumsi variabel lain dalam keadaan konstan. Uji Koefisien Determinasi (R. Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel independen secara simultan mampu menjelaskan variasi variabel dependen. Hasil pengujian koefisien determinasi (RA) dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut. Tabel 4. Koefisien Determinasi R Square Adjusted R Square Predictors: (Constan. LN_X2. LN_X1 Std. Error of the Estimate Sumber : data diolah, output SPSS 26 Mengacu pada Tabel 4, hasil uji koefisien determinasi menunjukkan bahwa green banking (X. dan efisiensi biaya operasional (X. secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 58,3% terhadap variasi profitabilitas (Y). Sementara itu, sebesar 41,7% variasi profitabilitas dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Uji T (Uji Parsia. Uji statistik t bertujuan untuk mengetahui pengaruh parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel Hasil uji statistik t disajikan pada tabel berikut : Tabel 5. Uji t Uji Simultan (Uji F) Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Hasil pengujian F disajikan sebagai berikut : Tabel 6. Uji F Model Summary Model Pengaruh BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasiona. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan SPSS, diperoleh nilai t hitung sebesar Ae11,09. Nilai tersebut lebih besar secara absolut dibandingkan dengan t tabel sebesar 1,985 dan didukung oleh tingkat signifikansi sebesar 0,00 yang lebih kecil dari 0,05. Oleh karena itu, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara parsial BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasiona. berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020Ae2024. Koefisien regresi yang bernilai negatif menunjukkan bahwa peningkatan rasio BOPO akan diikuti oleh penurunan BOPO mencerminkan peningkatan profitabilitas. ANOVAa Sum of Mean Model Squares Square Regression Residual Total Dependent Variable: LN_Y Predictors: (Constan. LN_X2. LN_X1 Sig. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan SPSS, diperoleh nilai F hitung sebesar 64,629 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,00. Nilai F hitung tersebut lebih besar dibandingkan dengan F tabel sebesar 3,092, serta didukung oleh nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HCA) diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa secara simultan green banking dan BOPO (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasiona. berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020Ae2024. PEMBAHASAN JEBI Vol. No. 2, pp. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Pengaruh Green Banking Perusahaan Perbankan Terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil pengujian t menggunakan output pengolahan data SPSS, diperoleh nilai t hitung sebesar Ae 0,445 yang lebih kecil dibandingkan dengan t tabel sebesar 1,985, serta nilai signifikansi sebesar 0,657 yang melebihi batas signifikansi 0,05. Dengan demikian, hipotesis nol (HCA) diterima dan hipotesis alternatif (HCA) ditolak. Hasil ini menunjukkan bahwa secara parsial Green Banking tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2020Ae2024. Temuan tidak signifikannya pengaruh green banking terhadap ROA terjadi kesenjangan temporal antara sifat manfaat green banking dan periode pengukuran profitabilitas. Green banking merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya bersifat tidak langsung . , seperti penguatan reputasi dan loyalitas nasabah, sementara ROA mengukur kinerja keuangan jangka pendek. Selain itu implementasi green banking pada bank-bank sampel diduga belum optimal karena dalam tahap awal pelaksanaan. Proses adopsi kebijakan hijau yang menyeluruh memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tingkat kematangan . yang mampu menghasilkan dampak finansial yang Di sisi lain, skala pembiayaan hijau yang masih relatif kecil dalam total portofolio kredit perbankan menyebabkan kontribusinya terhadap pendapatan bunga belum cukup signifikan untuk mempengaruhi ROA. Selain itu beban biaya dan investasi awal justru lebih dominan tercermin dalam laporan keuangan, sehingga kontribusi positif green banking terhadap peningkatan ROA belum Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Anggraini. Aryani and Prasetyo, 2. (Mustika. Tripuspitorini and Djuwarsa, 2. dan (Herawati and Desmiza, 2. mengatakan bahwa green banking tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hasil yang berbeda didalam penelitian (Asyura and Syahputri, 2. (Mahardika and Fitanto, 2. , (Ramdani. Mawardi and Sulaeman, 2. dan (Thansania. Diana and Sari, 2. bahwa pengaruh negatif Green Banking terhadap profitabilitas perusahan perbankan mencerminkan tingginya beban awal implementasi, seperti investasi dalam produk hijau dan proyek ramah lingkungan, yang berpotensi mengurangi laba jangka pendek. Namun, dalam perspektif jangka panjang, kebijakan ini dapat meningkatkan citra perusahaan dan loyalitas nasabah, sehingga pengaruh negatif tersebut diperkirakan akan berkurang seiring optimalisasi program. Pengaruh Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Terhadap Profitabilitas Perbankan Berdasarkan hasil perhitungan SPSS diperoleh nilai thitung > ttabel ( -11,092 > 1,985 ) dan nilai signifikan ( 0,00 < 0,05 ), maka Ho ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh negatif antara variabel BOPO terhadap profitabilitas pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh negatif antara variabel efisiensi biaya operasional terhadap profitabilitas pada JEBI Vol. No. 2, pp. perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024. Artinya, semakin besar rasio BOPO, semakin rendah tingkat efisiensi biaya operasional yang dicapai oleh bank, sehingga profitabilitas yang diperoleh menjadi semakin kecil. Sebaliknya, semakin rendah rasio BOPO menunjukkan semakin efisien pengelolaan biaya operasional, yang memungkinkan bank menghasilkan profitabilitas yang lebih tinggi. Dengan demikian, efisiensi biaya operasional berperan penting dalam meningkatkan kinerja keuangan perbankan. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Mustika et al. , 2. (Hartati. Sudiyono and Sasono, 2. dan (Prayoga. Supriyadi and Nurhasanah, 2. yang berpendapat bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap profitabilitas. Hal ini menunjukan bahwa ketika biaya operasional meningkat maka profitabilitas menurun, sedangkan biaya operasional (BOPO menuru. maka ROA akan meningkat. Sedangkan penelitian (Zulfikar, 2. dengan hasil BOPO berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, dimana biaya operasional merupakan biaya yang dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan, oleh sebab itu jika semakin meningkat tingkat aktivitasnya maka semakin meningkat biaya operasional sehingga akan berdampak terhadap laba. Hasil penelitian ini juga berbeda dengan penelitian (Thansania. Diana and Sari, 2. yang menunjukkan bahwa BOPO tidak pengaruh terhadap ROA karena meski rasio BOPO penting tetapi tidak sepenuhnya merepresentasikan profitabilitas bank syariah. Faktor lain seperti komposisi pendapatan dan fleksibilitas pembiayaan dapat lebih dominan dalam mendorong profitabilitas, bahkan ketika efisiensi biaya sudah tercapai. Pengaruh Green Profitabilitas Banking BOPO Terhadap Berdasarkan uji F output SPSS diperoleh nilai Fhitung > Ftabel . ,629 > 3,092 ) dan nilai signifikan 0,00 < 0,005, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh antara green banking dan efisiensi biaya operasional terhadap profitabilitas pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020-2024. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik implementasi green banking dan semakin efisien pengelolaan biaya operasional yang dilakukan oleh bank, maka semakin tinggi tingkat profitabilitas yang dapat dicapai. Kedua faktor ini secara bersama-sama berperan penting dalam meningkatkan kinerja keuangan bank, sehingga bank yang fokus pada praktik perbankan berkelanjutan dan pengendalian biaya operasional berpotensi memperoleh profitabilitas yang lebih optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa GreenBanking tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perbankan di BEI. Hal ini disebabkan oleh dua karena manfaat green banking bersifat jangka panjang dan tidak langsung, selain itu implementasi green banking di sektor perbankan masih dalam tahap awal, sehingga biaya investasi awal lebih dominan daripada manfaat finansialnya positif green banking terhadap peningkatan ROA belum signifikan dalam periode penelitian Selanjutnya hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa efisiensi biaya operasional berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas perbankan di BEI. Hal ini menunjukkan bahwa efesiensi biaya operasional relatif terhadap pendapatan operasional akan meningkatkan Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia profitabilitas, atau sebaliknya. Dengan kata lain, pengendalian biaya operasional merupakan faktor penting dalam mendorong kinerja keuangan perbankan. Perbankan diharapkan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam strategi bisnis dengan mengalihkan portofolio kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tanpa hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek. Selain itu, penerapan green banking juga memiliki implikasi pada operasional internal perbankan, di mana bank dituntut untuk mengadopsi praktik operasional ramah lingkungan seperti digitalisasi layanan, penerapan paperless banking, efisiensi penggunaan energi, serta optimalisasi teknologi informasi. Praktik operasional hijau tersebut tidak hanya berkontribusi pada pengurangan dampak lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang melalui penurunan konsumsi sumber daya dan beban operasional, yang pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan daya saing perbankan secara berkelanjutan. Di sisi lain Regulator berperan penting dalam menciptakan ekosistem green banking melalui penguatan regulasi, pemberian insentif, serta peningkatan pengawasan dan transparansi agar penerapan perbankan hijau berjalan efektif dan berkelanjutan. Bagi peneliti selanjutnya dapat profitabilitas, seperti tata kelola perusahaan, risiko kredit dll, serta memperluas jumlah sampel dan memperpanjang periode penelitian sehingga hasil penelitian lebih representatif dan dapat digeneralisasi untuk seluruh industri perbankan di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA